Recommended song:

EXO – Gravity

.

.

"Dia sudah terikat kontrak."

Chanyeol masih mengulas senyum penuh arti meski si lawan bicara terlihat bersikeras memberikan alasan untuk menolak tawarannya. Padahal orang itu jelas-jelas tergoda dengan kesepakatan yang Chanyeol tawarkan.

"Batalkan," tukas Chanyeol begitu saja. "Aku akan membayar kerugiannya."

Killian sedikit tersulut melihat orang di hadapannya bisa berkata sebegitu mudahnya. Di sisi lain, ia sendiri menelan ludah tentang betapa nekat orang ini untuk memberikan penawaran tak masuk akal yang jelas-jelas lebih banyak menguntungkan pihak Killian.

Sang pemilik gedung tempat keduanya berada memilih membuang pandangannya ke meja kerja.

Menerima investasi besar-besaran dari sesama agensi penguasa dunia hiburan Korea tentu membuat Killian tergiur. Yang ditawarkan Chanyeol bahkan lebih besar dari semua yang pernah ditawarkan brand ternama yang ingin memakai artisnya sebagai model. Bohong jika Killian bilang ia tak mempertimbangkan hal itu.

Selama beberapa menit, Killian belum melontarkan barang sepatah kata sebagai respon. Dan Chanyeol rupanya tak keberatan menunggu. Ia yakin dirinya akan memenangkan negosiasi ini.

"Aku akan membiarkan dia sendiri yang memutuskan," tandas Killian.

Sebelah alis dari yang berambut pirang terangkat. Senyumnya memudar. Perkataan itu membuat Chanyeol terserang panik berskala kecil untuk suatu alasan.

Membiarkan si penyanyi yang memutuskan?

Bagaimana Chanyeol yakin hal itu akan membuat niatnya terwujud?

Kali ini Chanyeol yang membisu. Ia sedikit.. takut? Bukan tidak mungkin Byun Baekhyun menolak tawaran untuk pindah agensi. Terlebih, ia baru saja didebutkan. Meski Chanyeol sudah menawarkan skenario agar hal itu tidak menjadi sebuah skandal atau berita buruk yang menurunkan pamornya, rookie mungkin memiliki kekhawatirannya sendiri.

Setelah beberapa saat berpikir, Chanyeol memutuskan untuk mengafirmasi perkataan Killian. Segala kemungkinan yang lain akan Chanyeol pikirkan nanti.

"Hanya pastikan dia setuju," tegas Chanyeol. Nada sombong yang tak ingin dibantah semakin kental dalam suaranya. "Berikan kontak sekretarisku padanya."

Chanyeol hendak berlalu, namun sebelumnya ia melontarkan sebuah pernyataan lain,

"Penawaranku tidak datang untuk kesempatan kedua."

Begitu menyelesaikan kalimatnya, Chanyeol menarik kakinya untuk melangkah meninggalkan ruangan tersebut. Ia baru saja memiliki keinginan mengakuisisi penyanyi pendatang baru itu semalam, tetapi dirinya berkecamuk memikirkan kemungkinan penolakan oleh lelaki itu. Pikirannya tiba-tiba saja tak tenang begitu sadar negosiasi hari ini belum dia menangkan.

Mengapa Chanyeol begitu menginginkannya?

.

oOo

.

Tingginya gedung K-Tower semakin mengulur waktu Chanyeol untuk segera kembali ke kantornya. Kecamuk yang menyerang pikirannya membuat mood-nya sedikit terganggu sampai ia benar-benar merasa tidak betah berada di bangunan milik rivalnya ini.

Ritme langkahnya berantakan. Ia sesekali melambat kemudian mempercepat gerak kakinya seiring dengan berbagai kemungkinan hasil negosiasinya dengan Killian berseliweran dalam kepala.

Setelah sampai di mobil, Chanyeol melajukannya terburu. Ia mulai kesal dengan kenyataan bahwa keinginannya tidak bisa terwujud hari ini juga. Perkiraannya sedikit meleset saat mengetahui Killian rupanya memilih untuk menyerahkan sepenuhnya keputusan atas negosiasi tersebut kepada artisnya. Chanyeol tidak tahu mengapa orang serakah seperti Killian perlu repot-repot melakukan hal seperti itu dibanding langsung menerima tawaran yang jelas-jelas menguntungkan dirinya.

Wajah tanpa ekspresi Chanyeol tak berubah sampai ia mulai meninggalkan area parkir K-Tower.

Nah, ia bahkan tak repot-repot memarkirkan mobilnya ke basement, alih-alih hanya menempatkannya di depan pintu masuk. Itu ia lakukan atas keyakinannya kalau negosiasi yang ia bawa hari ini akan berakhir cepat karena Killian akan menyetujuinya begitu saja.

Kenyataan yang berkebalikan membuat Chanyeol terusik. Kedua tangannya mencengkram stir mobil.

Namun Chanyeol memelankan laju mobilnya hingga nyaris berhenti saat pemandangan seseorang berambut merah beberapa meter dari pintu masuk K-Tower tertangkap retinanya.

Rambut merah, oversized sweater putih, celana jins. Itu jelas-jelas orang yang sama.

Wajah tak berekspresi Chanyeol tergantikan dengan kerutan di dahi serta tatapan penasaran. Ia tak perlu susah-susah menajamkan penglihatannya untuk memastikan siapa lelaki berambut merah itu.

Chanyeol menghentikan laju mobilnya. Ia masih menatap bagaimana sosok berambut merah itu menerima helm dari seorang pria tinggi dengan pakaian serba hitam yang menduduki motor besarnya yang juga berwarna pekat. Wajah si pengendara terhalang kaca gelap dari helm yang dikenakannya, dan posisi Chanyeol yang berada sedikit di belakang mereka pada seberang jalan membuatnya sama sekali tidak dapat melihat bagian wajah orang tersebut.

Sampai kedua orang itu duduk sempurna di atas sepeda motor dan melaju ke jalanan, Chanyeol masih mengamatinya lamat-lamat.

Siapa?

.

oOo

.

.

K-A-N-G-E-N C-H-A-N-B-A-E-K !