Chanyeol duduk bersandar pada sofa yang dia tempati. Meski tanpa ekspresi apapun di wajah, ia tak berhenti bergerak tak nyaman—mengetuk-ngetukkan ujung pantofelnya ke lantai. Sesuatu membuatnya terus-terusan gelisah sampai tak sedetik pun ia mengalihkan pandangan dari mulut pintu yang berada beberapa meter darinya. Menunggu kehadiran seseorang yang selama dua hari terakhir membuat ia tak fokus dengan apapun yang ia kerjakan.

.

.

"Apa?!"

Junmyeon hanya membungkuk sekali lagi menanggapi keterkejutan atasannya terhadap hal yang baru saja ia sampaikan.

"Jun, aku memintamu untuk mencari cara agar kita mendapatkannya. Apa kau pikir itu perintah main-main?" tanya Chanyeol tajam, setengah marah setelah dibuat kaget dengan laporan sekretarisnya.

Sekali lagi Junmyeon membungkuk sebelum kembali menjelaskan, "Saya rasa Tuan Wang sudah mencoba membujuknya, sajangnim. Sebab tadi malam setelah paginya Anda mengunjungi K-Tower, Byun Baekhyun dihubungkan langsung oleh K Entertainment kepada pihak kita dan menyampaikan penolakannya."

Chanyeol mati-matian menahan tangannya agar tidak melempar pena di genggamannya kepada sekretaris yang berdiri di depan meja kerjanya. Berita ini jauh di luar ekspektasi. Mengetahui dirinya kalah dan tak berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan tentu bukan hal yang bisa Chanyeol terima begitu saja. Terlebih, bayang-bayang keuntungan yang bisa diperoleh LOEY-Music melalui penyanyi itu sudah memenuhi kepalanya sejak pertama kali melihat penampilannya di atas panggung.

"Bagaimana dengan alasannya? Kau sudah memberitahu promosi yang akan dia dapatkan di sini?" tanya Chanyeol dengan alis yang berkerut dalam.

"Ya. Saya sudah memberitahu semuanya saat mencoba bernegosiasi. Tetapi dia terus mengatakan tidak bisa membatalkan kontraknya yang belum lama dijalani."

Pena yang sebelumnya digenggam erat Chanyeol banting ke meja. Ia memutar kursinya ke samping dan meraup udara kasar demi mencari lebih banyak kesabaran agar tak menghancurkan apapun yang ada di sekelilingnya.

Chanyeol membiarkan kepalanya ditopang sandaran kursi. Ia memejamkan mata.

Killian Wang tidak akan membujuk Byun Baekhyun untuk menolaknya. Pasti. Wajah haus kekayaan milik Killian sudah menunjukkan bahwa orang itu luar biasa tergiur dengan tawaran Chanyeol tempo hari. Memberikan wewenang sepenuhnya kepada artisnya untuk memberi jawaban hanya langkah yang diambil karena ketakutan kecil kehilangan sumber uang potensialnya. Tetapi Chanyeol yakin keuntungan yang ia tawarkan langsung pada pemilik K Entertainment itu berhasil membutakan Killian Wang akan potensi si penyanyi. Maka, masalah jelas ada pada si penyanyi itu sendiri.

"Bawa dia ke sini."

"Ya, sajangnim?"

Pria 29 tahun itu menatap sekretarisnya, "Katakan pada Killian aku menginginkan pertemuan langsung dengan Byun Baekhyun."

Walau mulai kepayahan dengan permintaan sang atasan, Kim Junmyeon mengangguk patuh dan mohon undur diri untuk segera melaksanakan perintah itu.

.

.

Dua cangkir kopi yang untungnya masih memiliki kepul asap di atasnya tersaji di atas meja. Memperhitungkan posisinya sebagai pemilik manajemen hiburan besar, Chanyeol rasa ia hanya perlu menunggu sekitar sepuluh menit lagi dan tamunya akan datang tepat waktu.

Satu menit, rupanya Chanyeol tak cukup sabar untuk menunggu. Dia akan menghubungi Junmyeon untuk memastikan kehadiran orang yang ditunggunya.

Baru saja ia mengusap layar ponsel untuk membuka kunci dengan kedua alis tertekuk, pintu masuk ruang kerjanya diketuk dari luar. Sekretarisnya muncul dan membungkuk kemudian menepi dari jalan masuk, membuka pintu lebih lebar. Seorang laki-laki menyusul setelahnya, turut memberi salam pada sang pemilik ruangan.

Sekilas alis Chanyeol terangkat dan matanya membesar. Reaksi yang singkat namun cukup signifikan. Detik-detik di mana sosok itu membungkuk dan mengangkat kepalanya kembali, Chanyeol tak sadar telah kehilangan fokusnya selama beberapa saat.

Meski dengan model tak jauh beda, rambutnya tak lagi berwarna merah. Melainkan nyaris sewarna undercut milik Chanyeol dengan sedikit lebih banyak sentuhan keemasan. Itu juga tak sepanjang terakhir kali Chanyeol melihatnya, menampakkan kedua telinga di sisi wajahnya yang pada salah satunya tersemat anting berantai kecil dengan desain unik, menjuntai hampir sepanjang batang leher. Ia nampak lebih muda dari usianya dengan turtleneck hitam berlapis kaus putih yang sedikit kebesaran pada tubuhnya.

Tanpa sadar, Chanyeol telah mengobservasi sepenuhnya penampilan laki-laki yang kini telah tiba di hadapannya bersama sang sekretaris.

"Selamat siang, saya Byun Baekhyun," sapa yang lebih muda dengan sekali lagi memberi salam tepat di depan pemilik ruangan.

Chanyeol berdeham sekilas, lantas mengulas senyum tipis sebagai ungkapan selamat datang. Ia menggeser ke depan satu dari dua cangkir pada meja di antara dua sofa panjang dan mempersilahkan tamunya untuk duduk di seberang.

"Terimakasih sudah memenuhi undanganku," katanya.

"Ah, tidak. Saya yang seharusnya merasa tersanjung dapat diundang langsung oleh Anda," jawab Byun Baekhyun. Ia tampak begitu natural di mata Chanyeol dengan segala sikap dan tutur kata formalnya, khas seorang idola. Hal itu ditambahkan Chanyeol pada daftar alasan mengapa Byun Baekhyun dapat menjadi aset bagi perusahaannya.

"Kudengar kau akan menghadiri jumpa fans hari ini, maka kita tak akan berlama-lama." Chanyeol menengadahkan tangannya pada sekretaris di sampingnya, dan sebuah map berpindah tangan padanya.

"Kau mungkin perlu melihat beberapa hal yang kami siapkan untukmu secara lebih rinci," kata Chanyeol sebelum menggeser map ke arah lelaki di hadapannya melalui permukaan meja. "Silahkan."

Byun Baekhyun tak terlihat menyembunyikan keraguannya. Meski Chanyeol melihat itu dan memahaminya sebagai kemungkinan bagi munculnya negasi, ia mencoba tak mempedulikannya. Map di atas meja diraih dan dibuka perlahan.

Tak butuh waktu lama, Chanyeol mendapati map itu kembali ke atas meja dan didorong ke arahnya. Laki-laki di hadapannya membungkuk dalam-dalam dengan posisi duduknya.

"Terimakasih banyak atas tawarannya. Saya merasa sangat tersanjung dengan semua yang manajemen Anda siapkan untuk saya," ucapnya. "Tetapi saya rasa ada banyak sunbae yang lebih pantas menerimanya dibanding saya."

Chanyeol menggigit kuat bagian dalam pipi untuk menahan decak kesalnya. Perilaku Byun Baekhyun dalam menyampaikan penolakan sangatlah sopan baginya, namun Chanyeol sama sekali tak bisa menerima hal itu.

"Pertimbangkan itu baik-baik, Byun Baekhyun." Tanpa dapat dikendalikan, suara Chanyeol berubah lebih dingin. Ia sadar akan hal itu tapi tak sama sekali peduli. Persetan dengan sikap dan tutur kata baik dari laki-laki itu, penolakan terhadap tawaran besarnya adalah hal paling tidak sopan yang pernah Chanyeol terima.

"Saya—"

"LOEY-Music ada di peringkat yang lebih tinggi dari K Entertainment."

Sang rookie yang sudah mengangkat kembali kepalanya terdiam dan terlihat menggigit bibir.

"Ada lebih dari ratusan brand yang mengajukan kerjasama untuk mencari model setiap minggunya."

Tak kunjung menerima jawaban, Chanyeol lagi menambahkan, "Insentif yang diterima semua artis LOEY-Music adalah yang paling besar di antara semua agensi."

Beberapa waktu selanjutnya hanya terisi oleh keheningan. Chanyeol seakan siap membeberkan apapun yang masuk kategori menguntungkan bagi artis-artisnya.

Tetapi kini, Chanyeol hanya mendapatkan sebuah kalimat yang sama sekali dibenci dan tak dia inginkan.

"Maafkan saya, Tuan Park."

.

oOo

.

.

Ehehe, ceritanya mulai bergerak, nih-w- Canyul tertolaq!

Jujur, ini pertama kalinya saya nulis yang seperti ini. Cuma ide ceritanya sudah terlanjur minta dimuntahin/?, jadi mohon maklumi keabal-abalannya ya, hiks.

Terimakasih yang sudah menyempatkan untuk review. Love you so much!

See you on next chapter~ T_T