Baekhyun menggigit bagian dalam bibirnya kencang. Ia mulai berdegup, sadar kalau perkataannya bahkan keluar dalam bentuk informal.
"Kaupikir itu sesuatu yang bisa diungkit kembali, Byun Baekhyun?"
Suara rendah Killian menyadarkan Baekhyun akan situasi yang tengah dia hadapi. Presiden direktur itu marah karena kelancangannya.
Tapi apa yang dapat Baekhyun lakukan saat dituntut memberi keputusan yang tak sesuai dengan kepentingan itu? Saat memang hal itulah satu-satunya yang menjadi kiblat dari banyak keputusan yang harus diambilnya sampai detik ini?
"Ma—maafkan saya, sajangnim." Baekhyun membungkuk. Selebihnya, ia kehabisan kata untuk dapat kembali memberikan tanggapan lain.
"Kita tidak menuliskan itu hitam di atas putih. Dan kau mengungkitnya di saat seperti ini?"
Baekhyun menunduk dalam. Ia merasakan panas pada matanya mendengar sang direktur berkata demikian. Meski tidak masuk akal untuk dipinta, namun.. Baekhyun tetap punya keinginan agar urusan pribadinya dihargai. Apa yang pernah mereka sepakati di hari-hari sebelum debutnya berhubungan dengan sesuatu yang sangat ingin Baekhyun lindungi. Apakah seorang dengan jabatan seperti direktur tidak dapat memahami itu?
"Jangan campur-adukkan pekerjaan dengan masalah sepele seperti itu, Byun."
"Itu tidak sepele!" sahut Baekhyun. Setengah tak sadar telah meninggikan suara, sekaligus sadar ingin membantah mentah-mentah ucapan Killian.
Yang dibantah mendelik. "Jaga nada bicaramu," tegurnya. Matanya menatap tajam pada Baekhyun di seberang meja.
"Sajangnim—saya.. saya mohon.." Baekhyun menghentikan sejenak kata-katanya, menahan agar suaranya tak jadi semakin bergetar, "Saya tidak bisa membiarkan lebih banyak pihak tahu mengenai dia.."
Baekhyun merasa matanya semakin panas. Itu mungkin sudah memerah dan akan segera menumpahkan genangannya bisa ia tak berhasil bertahan.
"Kurasa kau sudah cukup baik menjaganya, Byun." Killian menekankan satu kata dengan raut meremehkan. Ia berdiri dari singgasananya, mengitari meja untuk dapat berdiri di hadapan Baekhyun. "Cukup berhenti mengunjunginya. Dia bisa hidup sendiri dan kau hanya perlu mengirimkan beberapa uang untuknya."
Dengan kalimat itu, Baekhyun kehilangan kendali atas setetes air matanya. Apakah kepentingannya terlihat sesepele itu di mata mereka dengan jabatan terpegang?
"Dia adikku—"—sialan, sahut Baekhyun dengan lebih dulu menahan umpatan yang berada di ujung tenggorokan. Dan entah disengaja untuk maksud tertentu ataukah tidak, posisi sang direktur yang kini berdiri menjulang di hadapannya membuat Baekhyun merasa betapa jauhnya perbedaan kedudukan di antara mereka. Semakin detik berlalu dan Killian tak benar memberinya kalimat lagi, Baekhyun merasa semakin kecil.
"Baik, sudah diputuskan." Killian Wang menepukkan kedua tangannya seolah baru saja menyelesaikan suatu pekerjaan besar, tersenyum senang dengan gaya khasnya sembari menyambangi singgasananya kembali. "Pembatalan semua kontrakmu akan diurus segera setelah jadwal minggu ini selesai. Setelahnya, LOEY-Music akan mengambil alih."
"Apa?! Sajangnim—"
"Silahkan keluar," potong Killian, masih dengan senyum terpatri di wajah orientalnya.
Sejenak Baekhyun terpaku di tempat, menahan berbagai emosi campur aduk yang berhasil menjungkirbalikkan perasaannya. Ia tak bisa menahan satu lagi lelehan air mata ke bongkah pipinya. Tangannya mengepal kencang untuk semua itu.
"Saya—sudah berusaha keras.." Bibir Baekhyun secara tak sengaja meloloskan isakan, "..untuk mencapai target mustahil yang disepakati.." Air mata, masih berlomba-lomba turun ke kedua sisi wajah Baekhyun.
Killian Wang menghela napas tak acuh, "Tanpa permintaan konyolmu dulu, kau memang sudah seharusnya bekerja keras. Aku sudah berbaik hati membantu hanya untuk tawaran target tak seberapamu," jawab Killian santai. Ia kembali menyibukkan diri dengan berkas-berkas di atas meja.
"Silahkan keluar. Jangan membuatku mengulangi perkataanku lebih dari ini," tambahnya, berubah tajam tanpa sedikitpun kembali menatap si penyanyi.
Baekhyun pening. Amarahnya naik ke ubun-ubun tetapi sama sekali ia tak bisa membantah. Dalam situasi seperti ini, ia sungguh disadarkan tentang betapa tidak berdayanya ia pada kekuasaan.
Pikirannya tidak mampu fokus. Terutama, untuk segera memikirkan langkah berikutnya yang harus ia lakukan.
Maka ia melangkah menuju pintu keluar. Langkahnya berderap, antara untuk kemarahan, kesedihan, atau rasa tak berdayanya. Kalau memang ia tak mampu membantah, maka segala negosiasi benar telah selesai sampai di sini. Pada akhirnya seorang yang tidak punya pengaruh apapun seperti dirinya akan selalu kalah.
Setelah keluar dari ruangan sebelum sempat mencapai lift, Baekhyun luruh ke lantai. Ia berjongkok di atas kedua kakinya untuk sebentar saja meluapkan panas yang ia tahan di dalam dada. Dia membiarkan, untuk sebentar saja, menangis dalam sembunyian kedua telapak tangannya.
Wajah dari seseorang yang sejak tadi tak henti Baekhyun pikirkan selama berbicara dengan sang direktur terbayang-bayang di kepalanya. Senyum manisnya, polah lucunya, dan kebaikan hatinya. Baekhyun sangat menyayanginya.
Sempat larut pada pikiran, Baekhyun merasakan tepukan lembut di bahu. Saat mendongak, ia mendapati Sekretaris Han telah berlutut menyejajari posisinya. Berada dalam posisi yang begitu dekat, Baekhyun menyadari kalau postur tubuh Sekretaris Han mungkin lebih kecil dari dirinya.
"Byun Baekhyun-ssi," panggil sang sekretaris. Baekhyun hanya terdiam, namun benar menunggu kelanjutan kalimatnya.
"Semuanya akan baik-baik saja," katanya, kini memberi usapan lembut di bahu Baekhyun. Meski pandangannya buram karena air mata, Baekhyun bisa menangkap sinar lembur dari mata berkilauan Sekretaris Han yang ditujukan padanya. Dan entah bagaimana, binar itu memberi sedikit ketenangan bagi Baekhyun. Ia tidak pernah tahu kalau sekretaris direkturnya ini memiliki mata seindah itu.. seperti mata rusa yang cantik.
"Cukup ikuti saja sisa dari apa yang telah dijadwalkan di sini. Setelah itu, LOEY-Music akan mengambil alih untuk mengatur kontrak yang baru. Itu tidak akan berbeda jauh seperti melanjutkan karirmu sebagaimana biasanya. Percayalah padaku," ucapnya, yang di telinga Baekhyun, terdengar seperti alunan lembut yang menenangkan. Suaranya lembut, sangat tertata, dan terasa begitu ramah.
Baekhyun hanya berkedip tanpa tahu harus memberi jawaban apa. Tapi setidaknya, ia memperoleh sedikit penerangan atas apa yang sebelumnya terasa sama sekali berkabut.
Menerima uluran tangan sang sekretaris, Baekhyun membiarkan tubuhnya dibantu untuk bangkit. Ia menerima lagi satu kalimat singkat penyemangat beserta senyum ramah dari sang sekretaris sebelum melangkah menuju lift. Bagaimanapun, ia harus segera bersiap untuk agendanya hari ini.
Setelah berucap banyak terima kasih, Baekhyun membungkuk hormat pada Sekretaris Han.
Pintu lift menutup. Baekhyun meraih ponsel dari sakunya dan membuat panggilan pada salah satu nomor. Beruntung, orang di seberang segera mengangkatnya.
"Ada apa?"
Dalam hati Baekhyun telah terlebih dulu berterima kasih sebab orang yang ia hubungi selalu langsung menanyakan keperluannya, seolah ia akan selalu siap untuk apapun itu.
"Apa kau kosong malam ini? Di atas jam sepuluh?" tanya Baekhyun kepada seseorang di seberang panggilan.
"Um.. Kurasa aku memiliki beberapa jam yang kosong,"
Baekhyun sumringah di tengah sembab wajahnya, "Benarkah? Kalau begitu boleh kauantarkan aku lagi?"
"Ke sana?"
"Ya,"
"Baiklah, aku mengerti."
Tersenyum, Baekhyun membalas, "Terima kasih banyak, Sehun."
"Ya."
.
oOo
.
.
Fast up!:3
Special thanks to: Bee | Iskara hadijah aqila nasywa | jinahyoo | socloverqua
Haluhaluu makasih sudah ninggalin jejak yaah~~
Btw saya gasabar nungguin solo comebacknya baek, nih-w- He's been busy lately. Semoga baek tetep sehat dan baik-baik aja. Best wishes for him!
