"Baekhyun?"
Di tengah suara bising angin kencang jalanan serta helm dan masker yang mereka gunakan, Baekhyun mendengar Sehun berteriak memanggil.
"Ya?" sahutnya, turut mengeraskan suara demi melawan deru angin dan mesin sepeda motor. Baekhyun memajukan wajahnya ke arah pundak Sehun, takut-takut tak mendengar apa yang Sehun katakan.
Tetapi Baekhyun tidak mendengar apa-apa lagi. Apakah angin menenggelamkan suara Sehun?
"Sehun?"
"... Kita bicara nanti saja," jawab Sehun dengan sekali memiringkan wajah ke arah Baekhyun di belakangnya.
Baekhyun menggumamkan persetujuan. Ia mengeratkan genggamannya pada kedua sisi jaket kulit yang Sehun kenakan. Motor dibawa melaju cukup kencang, dan Baekhyun merasa akan benar-benar jatuh dari posisinya yang harus sedikit membungkuk ke depan karena desain jok motor yang meninggi di bagian belakang kalau tak melakukan itu.
Sedikit-banyak Baekhyun bersyukur Sehun masih mau berteman dengannya setelah lama mereka berpisah. Sehun berangkat untuk training jauh lebih dulu daripada dirinya, dan debut lebih dulu pula.
Pertemuan terakhir mereka adalah di penghujung sekolah menengah pertama; di kelas tiga. Sejak saat itu mereka berhenti saling menghubungi sampai Baekhyun masuk ke K-Entertainment sebagai trainee baru. Keadaannya yang tidak biasa—masuk sebagai trainee dengan usia jauh lebih tua dari trainee pada umumnya—secara tidak sengaja membuat ia terhubung dengan Sehun. Entah bagaimana kehadirannya sampai ke telinga Sehun. Lelaki itu menemuinya selepas jadwal latihan dan semenjak itu pula mereka kembali berteman.
Baekhyun turun dari motor setelah sampai di tujuan. Itu sebuah persimpangan menuju satu perumahan di pinggiran kota.
"Kenapa cuma sampai sini? Kurasa tidak apa-apa pergi sampai ke rumah karena ini sudah larut," kata Sehun setelah menerima helm dari tangan Baekhyun. "Aku juga mengenakan penyamaran lengkap."
"Justru karena malam hari akan jadi lebih mencurigakan." Baekhyun tertawa kecil, mengenakan sebuah topi untuk menutupi rambut mencoloknya.
"Katakan itu pada orang yang selalu minta diantar padahal punya cukup banyak penggemar yang bisa saja mengikuti bahkan di tengah malam," kata Sehun.
Baekhyun memasang tampang berpikir main-main, "Penggemarku masih sedikit karena aku belum lama debut. Jadi sepertinya tidak apa-apa," ujar Baekhyun dengan cengiran khasnya—yang meski tidak tampak karena masker yang dia kenakan, seolah bisa terlihat dari kedua matanya yang menyipit seperti sabit.
Sehun geleng-geleng, tidak bisa sama sekali membandingkan sisi yang ditampilkan temannya itu di panggung dengan sisi kekanakan yang satu ini.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Terimakasih banyak, Sehun-ie."
"Baekhyun." Sehun menyela, sebelum Baekhyun berbalik pergi memasuki simpang jalan.
Baekhyun menghentikan langkah, menunggu Sehun melanjutkan kalimatnya.
"Kau keberatan bila aku berpendapat?" tanya Sehun. Dari mata yang menjadi satu-satunya bagian dari wajah Sehun yang terlihat, Baekhyun bisa melihat kilat serius yang ditunjukkan teman kecilnya itu.
Kening Baekhyun berkerut, "Tentang apa?"
"Adikmu."
"Uh?" Baekhyun membeo, agak tak menyangka Sehun ingin membahas perihal itu. ".. Boleh, ada apa?"
Jeda sejenak sebelum Sehun kembali berbicara.
"Kupikir kau sedikit terlalu paranoid, Baekhyun. Maksudku.. kau menerima banyak cinta dari penggemar dan termasuk rookie yang sukses. Perkara adikmu.. mungkin tidak akan menjadi masalah. Kau tidak perlu merasa kesulitan hanya untuk menyembunyikannya dari media."
Diam, Baekhyun membiarkan riuh rendah suara angin mengisi keheningan yang ia ciptakan dengan tidak segera menjawab. Perkataan Sehun memaksanya berpikir lebih jauh tentang itu.
"Kau..pikir.. begitu?" Baekhyun balik bertanya, lebih kepada meminta Sehun agar sebaiknya memberi argumen tambahan lagi. Sebab, bagi Baekhyun itu masih tetap tidak masuk di akalnya.
Sehun menggumam, mengiyakan. "Bahkan mungkin citramu bisa semakin baik saat orang-orang mengetahui keadaannya. Cepat atau lambat kau akan semakin terkenal dan akan semakin sulit bagimu untuk mengunjunginya—"
"Sehun,"
Yang disebut namanya akhirnya menutup mulut. Baekhyun tampak tak suka. Matanya jelas-jelas menunjukkan itu.
"Aku tidak mau melibatkannya ke dunia ini." Sekilas, mata Baekhyun menyorot sedih. "Sebaik apapun media atau penggemar menerima, akan selalu ada celah yang justru membuatnya terluka. Kau tidak akan mengerti bagaimana satu saja pembicaraan diam-diam tentang kekurangannya bisa membuat ia murung sepanjang hari. Terserah kaubilang aku paranoid atau apa. Tapi aku yang lebih tahu seperti apa hati adikku. Dia.."
"Maafkan aku," Sehun memotong. Baekhyun menerima satu tepukan dan usap pelan di sebelah bahunya. "Maaf telah bicara omong kosong."
Melihat Sehun tampak menyesal, Baekhyun sadar ia sudah setengah membentak di kalimat-kalimat terakhirnya.
Baekhyun menarik napas. Topik ini selalu saja membuat emosinya tak stabil.
"Maaf, Sehun. Aku tidak bermaksud menyalahkanmu."
"Tidak, kurasa aku memang sedikit kelewatan. Maaf,"
Menunduk sekilas, Baekhyun kemudian mengulas senyum. "Aku pergi dulu,"
Sehun sekali lagi menahan Baekhyun, meraih pergelangan tangannya.
"Perlu kujemput?"
Baekhyun tersenyum, "Tidak usah, aku akan pulang dini hari nanti dengan taksi. Terimakasih, kau pulanglah dan hati-hati di jalan," katanya, melepas genggaman Sehun dan beranjak setelah melambaikan tangannya pada Sehun yang duduk di atas motor hitamnya.
"Hati-hati," gumam Sehun belakangan, meski Baekhyun telah beberapa langkah menjauh memasuki jejeran perumahan.
.
.
Chanyeol tidak sadar kening telah berkerut dalam sejak ia mendapati dua orang itu lagi di depan K-Tower. Ia pun tidak sadar telah melajukan mobilnya kencang mengikuti motor besar hitam itu menuju satu tempat yang cukup jauh seperti ini.
Oh Sehun.
Ia akhirnya mengenali sosok berpakaian serba hitam itu. Dan seharusnya, ia tidak perlu merasa terusik karena mereka hanyalah dua orang selebriti dari satu manajemen yang sama. Tetapi dia iya. Chanyeol terusik karena hal itu.
Dua penyanyi dan rapper yang tengah naik daun pergi hanya berdua ke satu tempat yang tak wajar. Apa mereka pikir selebriti itu status main-main?
Dia baru saja menemui Killian Wang dan mengurus beberapa hal. Negosiasi berhasil dan dia menang tanpa harus berlaku lebih jauh lagi. Rupanya Killian kepalang terlalu menginginkan keuntungan yang ia tawarkan, dan pada akhirnya membatalkan kontrak penyanyi Byun Baekhyun secara sepihak.
Itu awalnya membuat Chanyeol serasa berada di atas awan karena akhirnya niatnya tersampaikan. Namun tidak lagi saat lagi-lagi ia mendapati pemandangan yang sama dari apa yang pernah ia tangkap pada kali terakhir menginjakkan kaki di K-Tower sebelumnya.
Chanyeol semakin jengkel saat melihat lelaki yang duduk di atas motor besar itu tidak juga beranjak bahkan setelah yang satunya pergi dan menghilang di simpang jalan. Ia terlihat lama memandang ke arah perginya penyanyi itu.
Alih-alih melajukan mobilnya kembali, Chanyeol justru menunggu. Selama sosok itu masih ada di sana bersama motornya, Chanyeol tidak merasa ingin beranjak pula.
Apa orang itu tidak mengerti kalau berlama-lama di luar untuk suatu alasan tak jelas saja bisa berdampak pada karirnya? Dungu sekali.
Chanyeol luar biasa terusik dengan semua yang ia saksikan malam ini. Hanya saja, ia tak sadar kalau hal yang mengganggunya bukan sekadar fakta bahwa calon artisnya mengunjungi antah berantah itu bersama seorang selebriti yang lain. Ia tak sadar kalau rahangnya bahkan mengeras hanya dengan melihat interaksi dari keduanya.
.
oOo
.
.
Hey I just met you, and this is crazy~
Park chan-bucin-yeol akan segera eksis!
Terimakasih buat yang sudah fav/follow ini, ya!
Also special thanks buat para reviewer~: ChanBaek09 | jinahyoo | socloverqua | syalinnn88
P.s. Saya lagi kejang-kejang (lagi) gara-gara foto-foto baek untuk brand tirtir, terima kasih. Saranghaja. /cry/
