"Maaf telah merepotkan Anda, Tuan Park." Baekhyun membungkukkan badan sebelum bergerak melepaskan sabuk pengaman.

Tidak menggubris perkataan itu, sosok di balik kemudi bergeming menatap lurus ke depan. Baekhyun tidak ambil pusing, karena diberi tumpangan hingga tempatnya tinggal pun merupakan hal besar yang mungkin tidak seharusnya dia terima.

Setelah memastikan sabuk pengaman telah terlepas sepenuhnya, Baekhyun meraih gagang pintu mobil.

"Minggu depan kau akan resmi berada di bawah perusahaanku. Jadi benahi nama panggilan itu."

Kalimat yang diucapkan Direktur Park menghentikan gerak Baekhyun dan justru membuatnya terdiam tidak mengerti.

"Ye?" Baekhyun berpikir sejenak, sebelum akhirnya menyadari kalau sedari tadi ia menggunakan sapaan formal yang terlalu umum. "Ah, baik.. sajangnim—"

"Panggil aku Chanyeol."

Apa?

Baekhyun menganga bersamaan dengan sang pemilik LOEY-Music yang sepenuhnya menatap dirinya. Sorot dominan itu lagi-lagi berhasil membuat Baekhyun merasa ciut di tempat.

"T—tapi—"

Kalimatnya terhenti, kehabisan kata. Memanggil Direktur Park dengan namanya? Ia nyaris tidak pernah melakukan itu bahkan bila hanya dalam hati. Kalaupun iya, tak pernah terpikir bagi Baekhyun untuk melakukan itu secara langsung di hadapan sang direktur. Pria itu akan menjadi atasannya di agensi barunya nanti, alasan apa yang memperbolehkan Baekhyun memanggilnya dengan hanya sebatas nama?

"Sajangnim—" Entah keberanian dari mana, Baekhyun menyahut lagi, mencoba meluruskan. Mungkin ini hanya perbedaan persepsi soal sapaan? Bagaimanapun Direktur Park terbiasa berada di atas..

Sayangnya di detik berikutnya Baekhyun menyesal telah menyahut sebab pria bersurai pirang itu menghujaninya dengan tatapan tak suka.

"Aku tidak suka dibantah."

Baekhyun mengatupkan bibir rapat-rapat. Sosok itu bahkan terlihat lebih sulit diajak bicara dibanding seorang Killian Wang. Dengan itu, yang lagi-lagi terlintas dalam pikirannya adalah bagaimana cara memperoleh bantuan yang ia butuhkan demi adiknya dengan adanya peraturan tak tertulis pertama yang harus dipatuhi setelah menjadi bagian dari LOEY-Music; Park Chanyeol tidak suka dibantah.

Setelah tenggelam dalam ragu dan bingung Baekhyun membungkuk sekali lagi sebelum benar-benar keluar dari mobil. Mengumpulkan keberanian yang nyaris tinggal setipis helai kertas, ia membungkuk ke arah Direktur Park di dalam mobil.

"Sekali lagi terima kasih, sa—" Baekhyun menggigit bibir, seketika sadar ia harus mengoreksi, "—Ch—chan.. yeol,"

Seusai kalimat itu, mobil itu berlalu dari hadapan Baekhyun.

.

.

Kim Junmyeon melangkahkan kakinya di sepanjang koridor lantai teratas sebuah apartemen mewah. Ujung sepatu menapak pada lantai marmer menimbulkan bunyi konstan memenuhi koridor yang hening. Sesampainya di depan pintu terakhir di ujung koridor megah tersebut, ia menekan bel di samping pintu.

Pintu terbuka hanya selang tiga detik. Dan itu merupakan hal tak biasa yang cukup membuat Kim Junmyeon takjub. Ia setidaknya harus menunggu satu menit setiap kali berkunjung ke sini sebelum sang pemilik flat membukakan pintu.

"Selamat datang."

Junmyeon terhenti sejenak dalam posisi membungkuknya. Setelah pintu yang dibukakan segera oleh sang pemilik, kini ia menerima ucapan selamat datang yang terhitung sangat—terlalu—ramah dari seorang Park Chanyeol.

Pintu tertutup setelah Junmyeon masuk, menyusul sang atasan yang kini sibuk menyeduh kopi sambil bersenandung ringan.

Junmyeon mengamatinya lamat-lamat.

"Jun? Kau mau kopi?"

Kejanggalan ketiga; Park Chanyeol berada pada suasana hatiterlewat baik di pagi buta.

"Tidak, sajangnim. Terima kasih," jawab Junmyeon untuk tawaran yang diberikan sang atasan.

"Baiklah, ayo."

Junmyeon mengikuti langkah ringan pria yang menjadi atasan langsungnya itu ke arah sofa. Dahinya mulai berkerut bingung mengamati polah sang direktur. Namun ia mencoba tak menghiraukan.

Setelah menempati sofa dengan saling berhadapan, Junmyeon mendorong setumpuk berkas yang dibawanya ke hadapan Chanyeol.

"Ada beberapa surat persetujuan yang harus ditandatangani. Kesemuanya menyangkut ganti rugi pembatalan kontrak Byun Baekhyun di K-Entertainment," jelas Junmyeon pada atasannya itu.

Park Chanyeol mengangguk-angguk, tampak membolak-balik lembaran-lembaran tersebut. Di mata Junmyeon, hal itu sama sekali tidak terlihat seperti berusaha memahami apa yang tertera di setiap lembaran surat. Park Chanyeol hanya melihat sekilas dan langsung meraih pulpennya.

Junmyeon menelan ludah melihat bagaimana semua surat ditandatangani begitu saja dalam waktu singkat. Sang direktur bahkan masih terdengar menyenandungkan nada-nada dari beberapa lagu secara simultan.

"Sudah. Ada lagi?"

Tumpukan berkas bergeser kembali kepada sang sekretaris yang menerimanya dengan setengah tak percaya. Benar-benar di luar kebiasaan saat seorang Park Chanyeol tidak menanyakan ini-itu terhadap sesuatu yang cukup krusial semacam ini. Semua berkas yang Junmyeon bawa adalah tentang uang. Tentang ganti rugi. Tetapi sang direktur memberikan persetujuannya begitu saja seolah-olah itu hanyalah surat persetujuan kerjasama biasa.

Meski ingin berspekulasi lebih lanjut, Junmyeon mengesampingkannya terlebih dulu. Selain memerlukan tandatangan sang direktur sesegera mungkin, ada yang perlu ia sampaikan.

"Brand kosmetik TR menginginkan pertemuan segera di minggu ini dengan model yang kita rekomendasikan. Tetapi teken kontrak Byun Baekhyun baru akan dilakukan minggu depan. Apa tidak sebaiknya kita berikan rekomendasi artis yang lain?"

Park Chanyeol tampak menimbang-nimbang. Tapi itu tak perlu waktu lama.

"Biar aku yang bicara pada mereka. Byun Baekhyun tetap akan mengambil itu." katanya ringan. Kopi hangat di tangan ia sesap kembali. Tenang dan resap seolah begitu menikmati cairan pahit itu. "Ada lagi?"

Sesaat terdiam. Ia menatap sang direktur yang duduk di hadapannya. Agaknya Junmyeon bertanya-tanya, bagaimana Park Chanyeol dapat menjadi seyakin ini.

Kim Junmyeon pula dapat melihat sebesar apa potensi artis itu. Ia pun tahu kalau barangkali keputusan Chanyeol memang akan membawa keuntungan besar bagi perusahaan mereka. Namun di sisi lain, saat melihat nominal ganti rugi yang harus di-cover LOEY-Music, Junmyeon meragu. Mungkin, perasaan itu hadir lantaran keawamannya dalam hal membaca peluang seperti sang direktur. Tetapi Junmyeon tidak pula sepenuhnya yakin segalanya akan berjalan mulus begitu saja. Ini sama dengan berinvestasi besar-besaran pada sesuatu yang masih amat kabur.

Ia sempat memiliki keinginan untuk melontarkan keraguannya pada kunjungan kali ini. Tapi lagi-lagi, ia meragu. Junmyeon meragukan rencana ini, pun ia meragukan keinginan menyampaikan keraguan itu.

"Jun?"

"A—ah, ya, sajangnim,"

"Ada lagi?"

Junmyeon membungkuk dalam duduknya, "Tidak ada. Saya hanya tidak menyangka pembicaraan perihal brand TR akan berakhir secepat ini." katanya.

Ia pikir Chanyeol akan menghujamnya dengan tatapan terganggu seperti biasanya, namun, kali ini, Park Chanyeol terkekeh.

"Ya sudah. Bagaimanapun, aku ingin Byun Baekhyun yang mengambilnya. Sekaligus sebagai promosi pertamanya sebelum merilis single."

Kim Junmyeon membungkuk lagi, lantas membawa berkas-berkas di meja dan beranjak berdiri.

"Kalau begitu sampai jumpa di kantor, sajangnim."

.

oOo

.

Baekhyun berusaha mengabaikan. Namun pikirannya tak berhenti sibuk berputar-putar pada satu perkara tak penting yang terjadi malam sebelumnya. Oh, maksudnya, dini hari—itu sudah lewat dari tengah malam.

Pertanyaan mengenai pertemuan dengan Direktur Park pada dini hari beberapa waktu lalu agak mengganggunya. Mungkin tak seharusnya Baekhyun memikirkan, sebab bisa jadi itu hanya sebuah kebetulan. Lagipula, ia sempat menangkap topik tentang media yang menjadi kekhawatiran sang direktur. Mungkin itu pula yang membuatnya mau repot-repot mengantarkan Baekhyun sampai ke dormitori.

Tapi semua mungkin itu lah yang justru mengganggunya. Mungkin berarti belum pasti. Dan merasakan ketidakpastian di saat dirinya berada dalam situasi di ujung tanduk kontrak seperti ini tidak bisa tidak mengganggu. Pun perkara nama panggilan—bagaimana Baekhyun bisa memanggil direkturnya hanya dengan nama?

"Chanyeol,.. ya..?"

Baekhyun mencoba menggumamkannya kembali. Staf sedang berlalu-lalang, membuat ruang rias sedikit gaduh. Sedikit gumaman tidak akan membuat siapapun mendengarnya.

"Chanyeol.." Bayangan sosok sang direktur dengan rambut pirang yang ditata rapi ke atas itu menghampiri penglihatan imajinernya.

Di kali ke sekian Baekhyun membiasakan nama itu di lidah sembari membayangkan sosoknya, Baekhyun menemukan desiran aneh di dadanya.

Baekhyun menggigit bibir. Meski ia sudah berhenti mencoba mengulang-ulang nama itu, bayangan sang direktur belum lenyap dari pikirannya. Dia merasa ada yang aneh pada tubuhnya. Mungkin.. bayangan Direktur Park yang tengah menatapnya tajam itu membuatnya takut, sampai ia berdebar dan merasakan keringat dingin mulai membanjiri telapak tangan.

Rupanya, memanggil Direktur Park hanya dengan nama depannya memang sulit dilakukan.

.

oOo

.

.

Todays' special thanks: ChanBaek09 | socloverqua | jinahyoo

.

P.s. kapan sih tanggal solonya baek dirilis? Nggak sabar:_(

.

P.s.s. Lupakan soal rencana nulis ff humor, rupanya saya bener-bener kehilangan selera humor:_(