Kim Junmyeon menata beberapa berkas berjejeran di atas meja. Beberapa yang dianggap potensial ia letakkan paling dekat dengan sang direktur.
"Lima majalah, duapuluh brand, dua drama, dan tujuh program meminta Byun Baekhyun menjadi model dan bintang di acara mereka. Ini belum termasuk pengajuan kolaborasi dari beberapa manajemen. Datanya baru akan direkap setelah ini."
Beberapa penjelasan dan keterangan akan setiap kata yang tertera pada masing-masing kertas yang berjajar rapi tersebut Junmyeon laporan serinci mungkin. Park Chanyeol telah memintanya melaporkan apapun yang berhubungan dengan perkembangan sang solois bermarga Byun sejak peluncuran hasil pemotretan brand pertamanya dilakukan.
Dampaknya, Junmyeon membutuhkan sekitar setengah jam untuk menjelaskan satu per satu tawaran yang masuk ke pihak LOEY-Music untuk solois itu. Data yang terekap kepalang banyak. Sampai saat dimana Junmyeon tiba di ruangan sang direktur, ia tahu agensi terus-menerus menerima hal serupa dari berbagai pihak luar.
Selepas penjelasannya selesai, Junmyeon memperoleh anomali respon dari Park Chanyeol. Tidak dalam artian yang benar-benar buruk, melainkan lebih kepada memaksa Junmyeon meyakinkan diri bahwa seseorang di depannya benar merupakan direktur yang dikenalnya.
Park Chanyeol membiarkan kedua lengannya merentang bertumpu pada sandaran sofa. Menengadah, memejam sembari menyimak penjelasan dari sang sekretaris.
Yang menjadi perhatian Junmyeon adalah, bagaimana kedua sudut bibir sang direktur terus terangkat mengulas senyum penuh gurat kebanggaan harfiah. Seolah-olah semua yang keluar dari mulut Junmyeon selama setengah jam terakhir hanya merupakan penyuaraan akan apa yang telah lama ada dalam perhitungannya.
"Sajangnim?"
"Tinggalkan saja berkasnya di sini. Beritahu bagian manajerial kalau aku yang akan menyeleksi. Aku akan menghubungimu setelah selesai." Park Chanyeol bangkit dari posisinya. Masih dengan senyum separo yang menampakkan lesung di pipi kiri, ia mengotak-atik peranti tersebut.
Junmyeon mengangguk mengerti, sebelum berpamitan untuk segera melanjutkan pekerjaannya. Dengan sejuta antisipasi yang dirasakannya dari menyaksikan reaksi sang direktur, ia berdiri dari sofa melangkah meninggalkan ruangan tersebut setelah memberi hormat.
.
oOo
.
Meski telah mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan yang akan terjadi, Baekhyun tetap tidak menyangka segalanya akan terasa seberat ini. Jadwalnya luar biasa padat tanpa jeda. Rupanya jadwal persiapan single barunya diundur dan ia justru harus menjalani beberapa pemotretan dan agenda lainnya.
Jadwal ketat yang ia jalani semasa waktu singkatnya di K-Entertainment tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan semua agenda hariannya sekarang. Kyungsoo selalu punya catatan agenda mendatang yang tiada henti-hentinya disampaikan padanya. Rasanya, nyaris duapuluh empat jam ia hilir mudik ke seluruh tempat bersama manajernya itu. Mereka bahkan tak butuh waktu lama untuk menjadi dekat setelah semua kesibukan yang ada.
Pukul setengah satu dini hari, Baekhyun akhirnya menemukan tempat yang selayaknya ia gunakan untuk beristirahat. Tubuh dihempaskannya pada ranjang. Tidak melepas satupun yang melekat di tubuhnya bahkan alas kaki.
Baekhyun memejamkan mata sejenak. Merasakan baik-baik empuknya kasur yang terasa memanjakan tubuhnya. Benar-benar sesuatu yang langka baginya mengambil waktu santai untuk menikmati hal serupa saat ini.
Ia ingin sekali menyerah pada rasa kantuk. Mata terasa sangat berat dan begitu pula seluruh tubuhnya.
Namun ia memaksakan untuk tetap merangkak meraih tasnya, mencari-cari benda pipih hitam miliknya dari dalam sana. Ia mencari sebuah nama lantas membuat sebuah panggilan. Beruntung seseorang yang ia hubungi segera mengangkat.
Menahan kantuk yang luar biasa, Baekhyun menyahuti orang dari seberang telepon dengan suara seraknya,
"Sehun.. maaf, sungguh maafkan aku. Aku tahu ini kurang ajar tapi bisakah kau—"
"Dimana kau sekarang?"
"Ng? Aku di asrama,"
"Baru pulang?"
Dalam posisi tengkurapnya, Baekhyun mengangguk meski Sehun tak dapat tahu, "Ya,"
"Kau mau mengunjungi adikmu di jam seperti ini?"
Baekhyun menggigit bibir. Menerka-nerka apakah pertanyaan itu Sehun lontarkan karena ia telah begitu mengganggu waktu istirahat lelaki itu atau justru karena mengkhawatirkan dirinya.
"Aku sudah melewatkan kunjungan rutinku minggu lalu karena jadwal yang tidak bisa ditinggal," adu Baekhyun, menahan rasa tidak enak hati pada kawannya itu. Sehun bahkan langsung tahu apa yang ingin Baekhyun minta. Itu agaknya mengingatkan Baekhyun tentang betapa ia hampir selalu menghubungi Sehun ketika ingin meminta bantuan.
"..."
Sehun belum merespon lagi. Baekhyun telah bertekad untuk segera membatalkan permintaannya bila Sehun tidak juga memberi jawaban. Lagipula ia merasa sungguh lancang meminta Sehun mengantarkannya terus-terusan, terutama pada waktu seperti ini. Lelaki itu juga bukannya tidak sibuk, kan? Mungkin ia bisa pergi naik taksi sendiri atau dengan apapun untuk bisa pergi ke rumah.
"Kirimkan alamat asramamu. Kujemput."
Kantuk Baekhyun seperti diserap habis dengan kalimat itu. Ia tersenyum amat sumringah membawa tubuhnya duduk di atas kasur.
"Kau terbaik!" Baekhyun memekik tertahan, "Akan kukirimkan sekarang."
.
.
Chanyeol memarkir mobil tak jauh dari titik di mana matanya menangkap dua orang itu berpisah setelah bersama berkendara di atas motor. Ia keluar dari mobil lantas membanting pintu. Berderap cepat menyusul seorang yang telah ditinggal pergi oleh sang pengendara motor yang ditumpangi sebelumnya.
Ini lewat tengah malam. Ia sudah pernah memberi peringatan pada Byun Baekhyun mengenai hal ini. Mengapa penyanyi itu masih saja melakukannya? Chanyeol yang baru saja kembali dari perjalanan untuk beberapa pekerjaan menemukan keduanya di tengah jalanan malam Seoul.
Oh Sehun sudah pergi. Karena itu pula Chanyeol bisa keluar dari mobilnya tanpa sekali pun menghiraukan pikiran akan si rapper sialan itu lagi.
Di tengah langkah cepatnya Chanyeol dapat melihat Byun Baekhyun berhenti pada sebuah rumah. Rumah sederhana dengan cahaya lampu redup menyala pada terasnya.
Chanyeol menambah kecepatannya. Ia kepalang kesal melihat bagaimana artis di bawah perusahaannya tidak melaksanakan perintahnya baik-baik.
Dua langkah selanjutnya, Chanyeol tiba tepat di belakang Byun Baekhyun. Menarik tangannya kasar hanya sepersekian detik setelah lelaki itu menekan bel rumah hingga tubuh kecil itu tersentak menghadap dirinya.
"Apa yang pernah kukatakan tentang ini, Byun?" desis Chanyeol. Tidak mempedulikan bagaimana sepasang mata sipit itu membola dalam keterkejutan tak terkira.
"S—sajangnim?!"
"Kau mencoba bertindak sesukamu, eh?!"
Kedua telapak mungil milik Byun Baekhyun terkepal dalam kerut ketakutan. Ia memberi sorot yang tak luput sama sekali dari kejut dan takut. Kedua bola mata itu bergetar gentar namun tak juga mampu menghindari tatap yang diberikan sang direktur.
Chanyeol baru akan menumpahkan amarahnya pada si penyanyi ketika pintu rumah terbuka, memunculkan sesosok lelaki tinggi berkulit tan yang tersenyum senang menyambut seseorang yang barangkali telah ia antisipasi kedatangannya.
Chanyeol menyipitkan matanya pada sosok tersebut. Tak berbeda, ia pula menerima tatap bingung darinya.
Beberapa waktu, ketiganya terjebak dalam situasi tak tergambarkan.
Namun lebih dari rasa penasarannya terhadap lelaki tinggi di ambang pintu, apa yang dilakukan Baekhyun membuat Chanyeol justru berkerut dahi tak mengerti.
Kedua orang di hadapan Chanyeol tidak saling bertukar kata, salam, atau sapa.
Melainkan, sang penyanyi mungil yang memberikan beberapa gerak tangan kepada lelaki di ambang pintu.
Dan itu Chanyeol kenali sebagai..
..bahasa isyarat.
.
oOo
.
.
Much love for: jinahyoo | ChanBaek09 | kimbyyna | socloverqua
Maaci selalu mampir ke kotak komentar tulisan amatir saya yah mwah.
By the way, happy birthday to me~ /sing happy birthday/
