Sebab Chanyeol tidak punya ide soal apa yang sebenarnya sedang ia hadapi saat ini, ia tergugu tak mampu berkata-kata. Semua emosinya padam begitu saja. Genggam kuat yang ia beri pada lengan si penyanyi Byun pun luruh. Ia berubah diam, hanya mampu mengikuti langkah Baekhyun ke dalam rumah sederhana tersebut setelah diminta untuk turut masuk.

"Silahkan duduk, sajangnim. Bila tidak keberatan, mohon tunggu sebentar di sini."

Chanyeol menerima permintaan itu dalam diam. Ia menempatkan diri ke atas sofa single yang ada di ruang tamu mungil rumah tersebut.

Byun Baekhyun berlalu setelah membungkuk padanya, menarik si lelaki tinggi berkulit tan ke satu pintu di sisi ruangan. Mereka lalu menghilang di balik pintu.

Chanyeol hanya memaku pandangannya pada pintu tersebut. Dahi berkerut memikirkan kemungkinan yang menjadi alasan di balik apa yang baru saja disaksikannya.

Atau, hanya dirinya yang salah menerka? Apa yang ia tangkap melalui inderanya tadi belum tentu benar merupakan bahasa isyarat.

Dan siapa lelaki tan itu?

Bermenit-menit Chanyeol habiskan bersama berbagai spekulasi di dalam kepalanya. Semua hal tentang Byun Baekhyun berseliweran dan Chanyeol merasa ada sesuatu penting mengenai hal ini.

Siapapun yang melihat seseorang menggunakan bahasa isyarat pada seorang yang lain, tentu akan berpikiran hal yang sama, 'kan?

Dan mengetahui ia baru saja menyaksikan itu dari seorang yang belakangan menyita perhatiannya membuat Chanyeol resah.

Tidak sepenuhnya resah dalam artian buruk, melainkan sesuatu yang lain. Sesuatu seperti keinginan tak tertahankan untuk tahu lebih jauh; untuk mengetahui segalanya tentang lelaki mungil itu. Sesegera mungkin.

Saat pintu yang ia tatap selama bermenit-menit akhirnya terbuka, Chanyeol menunggu dari tempatnya duduk dengan penuh antisipasi. Ia sungguh menunggu sesuatu datang padanya bersama seluruh penjelasan yang ia butuhkan.

Ia cukup terkejut melihat Baekhyun menggandeng serta si lelaki tinggi keluar dari ruangan. Tampak jelas enggan, laki-laki di belakangnya mengikuti dengan langkah satu-satu. Sosok tan itu lebih banyak tertunduk, dan tidak ada kata lain yang Chanyeol temukan untuk mendeskripsikan ekspresinya selain: ketakutan.

Sampai kepada keduanya duduk di sofa panjang pada tegak lurus sofa yang Chanyeol tempati, sang direktur itu masih belum pula mengeluarkan suaranya. Entah apa namanya, Chanyeol merasa berada dalam dinamika acak pemikiran yang membuatnya ragu bahkan untuk berucap.

Chanyeol tak melepas pandangan dari si penyanyi bersurai hitam. Dalam setiap gerak-geriknya per detik tanpa kecuali, Chanyeol menanti kapan serta apa kiranya penjelasan yang akan diberikan Byun Baekhyun.

Satu tarikan napas, Chanyeol akhirnya memperoleh sesuatu sebagai pembuka,

"Ini Jongin," kata Baekhyun, "Adikku."

.

.

"Kau mengajukan kesepakatan semacam itu pada Killian?" Setengah berseru sang direktur menyahut tak percaya.

Baekhyun mengerut pada tempatnya, menangkap pertanyaan bernada tinggi itu sebagai ekspresi kemarahan direkturnya.

"Dan Killian sialan itu menyetujuinya?"

Mata sipit Baekhyun membola sekilas mendengar bagaimana sang direktur memberi sematan kata sialan di belakang nama pemimpin di agensi lamanya.

Baekhyun memberi anggukan sebagai jawaban.

Dengus kasar dari sang direktur agaknya semakin membuat Baekhyun ngeri. Apa yang akan diterimanya setelah ini? Setelah mengatakan semuanya melalui pertemuan yang tak diduga-duga?

Beberapa lama Baekhyun tidak mendapat respon lagi dan ia hanya bisa menunduk menerka-nerka. Apakah semua penjelasannya terdengar konyol dan kini direktur itu menyesal telah memintanya bergabung?

Jongin telah masuk ke kamarnya setelah melahap menu 'makan malam' yang Baekhyun siapkan. Meski merasa luar biasa lancang harus meninggalkan seorang tamu—yang notabene adalah atasan tertinggi dalam pekerjaannya—Baekhyun tidak pula bisa mengabaikan rutinitasnya untuk Jongin pada setiap kali kunjungan. Jongin selalu ingin memakan masakannya tidak peduli kapanpun Baekhyun sempat datang.

Maka dari itu, Baekhyun terpaksa meninggalkan sejenak sang direktur untuk dapat berkutat di pantry tak jauh dari sofa ruang tamu. Ia tidak bisa lebih berterima kasih lagi saat sang direktur tidak memperhitungkan hal itu sebagai masalah.

"Dengarkan baik-baik, Byun Baekhyun,"

Baekhyun mengangkat wajahnya begitu sang direktur akhirnya memberi kalimat—sarat nada kemutlakan. Pria tinggi itu bahkan mampu menggambarkan kuasa yang dimilikinya hanya dengan posisi duduknya pada sofa. Penampilan yang masih rapi dengan jas putih gading, serta rambut pirang tertata tampak sangat mengagumkan bagi Baekhyun mengingat jam yang seharusnya tidak lagi jadi waktu di mana orang-orang harus berpenampilan demikian profesional.

"Aku tidak akan menarik perkataan sebelumnya tentang pelarangan kunjungan seperti ini. Itu peraturan dan kau wajib taat."

Baekhyun tergugu di tempat melihat bagaimana sorot tajam sang direktur terarah tepat kepadanya.

"Tetapi memperoleh perlindungan privasi adalah hakmu sebagai seorang artis. Dan itu sesuatu yang pasti bahkan tanpa harus pihak manapun meminta. Karir seorang selebriti membutuhkan rekam jejak serta latar belakang yang bersih tanpa berita skandal apapun."

Memperhatikan bagaimana kerutan di dahi sang direktur belum sekalipun luput terbentuk, Baekhyun tahu persoalan ini membawa pengaruh tidak baik pada suasana hati pria tersebut.

"Apa yang kauajukan pada Killian Wang tidak seharusnya terjadi. Itu hakmu."

Baekhyun menemukan sedikit kelegaan pada inti dari kalimat yang diberikan sang direktur. Namun, ia tetap menemukan sebuah kesalahpahaman yang sama dari yang setiap orang miliki tentangnya.

"Sajangnim.. Maaf bila saya terkesan lancang, tetapi.." Baekhyun menggigit bibirnya kuat. Ia tidak punya pilihan lain selain mengungkapkan segalanya. "..masalah ini bukan tentang karir saya sebagai penyanyi,"

Kecorobohannya untuk terus menunda-nunda menyampaikan perihal ini kepada sang direktur lah yang membuat segalanya terasa sulit saat ini. Ia tidak punya kesempatan untuk sekadar memikirkan seperti apa dirinya harus menyampaikan.

"Apa yang saya ajukan pada Direktur Wang bukan hanya perlindungan privasi untuk melindungi karir saya. Tetapi untuk adik saya. Saya mengajukan penawaran tak masuk akal karena apa yang saya minta pun tidak masuk akal untuk kategori hak perlindungan privasi.

"Saya memintanya secara aktif memblokir segala akses dan kemungkinan penyebaran informasi mengenai Jongin. Termasuk memberikan perlindungan bila sesuatu terjadi sewaktu-waktu. Memastikan tak ada satupun yang mengekspos keadaannya. Memastikan tidak ada satu pihak pun yang membicarakan bahkan tahu tentang kekurangannya.

"Ini bukan tentang disabilitas fisik. Ini tentang psikisnya."

Baekhyun tidak lantas menerima reaksi dari sang direktur, maka ia melanjutkan. Membeberkan segalanya bahkan apa yang tidak ia sampaikan kepada seorang Killian Wang.

Tidak tahu dorongan seperti apa yang membuat Baekhyun ingin, namun ia hanya merasa perlu menjelaskan segalanya. Tentang mengapa perihal ini selalu menjadi alasannya berbuat dan mengambil keputusan, tentang mengapa perihal ini bukan masalah sepele sama sekali.

"Jongin tidak menerima kekurangan itu dari lahir. Dia begitu setelah satu kecelakaan. Beban emosional pada mereka yang mengalami cacat bukan dari lahir jauh lebih besar dari yang terlahir dengan itu.

"Jongin tumbuh menyaksikan segala kekacauan rumah tangga orang tua kami dalam usianya yang terlampau muda. Jongin tumbuh dengan keadaan psikologis yang tidak stabil. Apa yang lebih buruk dari menerima luka baru di atas luka menganga yang tak bisa sembuh?

"Ketika akhirnya Jongin mampu mendapatkan hidupnya di sekolah seni, ia justru tidak mampu lagi mendengar musik. Tidak mampu lagi membuat nyanyian. Ia harus menerima kecacatan yang tiba-tiba saja merundung. Tidak barang sekalipun Jongin mampu terbiasa saat seorang saja membicarakan kekurangannya."

Baekhyun kehilangan kendali. Ia mendadak butuh sebuah pegangan. Semuanya terasa mengawang-awang ketika bayangan masa kecilnya terputar seiring kalimat-kalimat yang meluncur dari mulutnya. Untuk sekadar menempatkan tutur kata formal di hadapan yang lebih berkuasa, ia tidak mampu lagi.

Bagaimana beberapa pihak selalu menganggap sepele kehidupannya dan sang adik, selalu membuat Baekhyun pada keadaan emosi tak terkendali. Killian Wang, bahkan Oh Sehun..

Tak berbeda jauh dari Jongin, Baekhyun pula bukannya seorang dengan kebijaksanaan emosional tak terhingga. Hanya posisinya sebagai seorang kakak yang selalu memaksa dirinya membangun segala kesempurnaan yang banyak dituntut kehidupan.

Sekali lagi, setiap perkataan remeh temeh dari mereka yang tak mengerti duduk permasalahan hidupnya terputar ulang dalam pikiran Baekhyun.

"Aku tidak bisa menganggap semua pengalaman kami sepele saat segalanya terputar begitu jelas di dalam ingatan.. segalanya. Ayah dan Ibu, Jongin, aku melihat bagaimana semua kekacauan itu terjadi." Suara Baekhyun tenggelam dalam bisik isak tangis yang berusaha ditahannya. "Bagaimana mungkin orang-orang menilainya sesepele itu?"

Ketika wajahnya tiba-tiba tenggelam di antara sesuatu putih selembut sutra dengan aroma yang anehnya terasa begitu nyaman, Baekhyun melepas tangisnya di sana.

.

oOo

.

.

Meh, I got so emotional lately. I don't know whether the way I write this chapter was clear enough to explain what I intended to do or not. But I just tried to highlight the urgency of mental health; that every physical scar or disability could be nothing compared to the psychological one.

So.. did I make it?

Further chapters will explain more, so I'm really sorry if this chapter seems a lil bit un-understandable.

Semoga nggak pada bosen baca cerita ini, ya. It goes heavier than what I planned before. But sure we will stay in the same mood til the ending.

Oh, terima kasih atas beberapa ucapan ultah onlennya ya, hehe /xoxo/

And also for beloved reviewers: kimbyyna | socloverqua | ChanBaek09 | lightdelight | jinahyoo | Jeon Baekhee | yeolcat

Met datang buat yang baru mampir /lovelovelove/

Kita ketemu secepatnya di next chap^^