Chanyeol tidak merasa seperti dirinya yang biasanya. Hanya saja, kata biasa itu sendiri memang sudah tidak relevan setelah apa yang ia dapatkan hari ini tentang Byun Baekhyun.
Bertahun-tahun menempati posisi tertinggi dan membesarkan perusahaan yang dirintis orang tuanya, Chanyeol terbiasa pada lingkup sudut pandang dunianya. Ia tidak diajarkan untuk meleburkan diri pada perkara hidup orang lain bila tidak menyangkut dunia tempatnya berkecimpung. Semua keterlatihan itu memberinya bekal untuk dapat membaca potensi serta peluang, dari sudut pandangnya, dari kacamata dunianya.
Tidak sekalipun Chanyeol pernah berkeinginan memberi kompromi pada artisnya. Terlebih perihal duduk permasalahan pribadi. Bila sudah berada di bawah kuasanya, semua orang wajib mengikuti aturan yang dibuatnya. Chanyeol tidak punya waktu untuk mendengar barang sepotong saja penggalan kisah hidup mereka.
Orientasi Chanyeol hanya lah; profit dan dominasi di dunia hiburan. Insentif besar yang ia berikan pada seluruh artisnya tidak untuk digunakan main-main, melainkan untuk terus-menerus memuluskan proses pemerahan keuntungan dari mereka. LOEY-Music tidak berada pada posisi sekarang di atas perjuangan yang remeh.
Ketika menangkap sosok pendatang baru yang bersinar dengan ajaibnya di atas panggung, satu yang Chanyeol pikirkan adalah keuntungan yang luar biasa besar yang seakan ia tahu mampu diperolehnya melalui sosok itu. Malam itu, Chanyeol melihat potensi tak terkira yang terpancar dari si penyanyi berambut merah di bawah sorot lampu panggung.
Byun Baekhyun adalah ladang uang yang amat potensial.
Memilikinya sebagai salah satu mesin penghasil uang akan sangat menguntungkan perusahaan.
Hanya itu yang Chanyeol pikirkan di awal. Setidaknya, yang ia rasa ia pikirkan.
Lalu, seperti apa Chanyeol harus menamai hal yang dirasakannya saat ini?
Membawa seseorang ke dalam dekapannya, hanya karena sebuah getar aneh yang yang ia dapat ketika melihat seorang itu menangis karena keluarganya.
Seperti apa Chanyeol harus menamai hal ini?
Byun Baekhyun tidak tampak sama dengan sosok yang sebelumnya tercatat dalam skema Chanyeol sebagai solois potensial yang akan membawa keuntungan tak terhingga pada perusahaannya.
Dia sama sekali tidak tampak seperti itu.
Tetapi untuk apa Chanyeol harus merasa demikian? Dia seharusnya membombardir Byun Baekhyun dengan maki dan petuah atas kelancangannya mencampuradukkan kepentingan pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Bukannya menenggelamkan sosok kecil beserta tangisnya itu ke pelukan abdomennya. Merengkuh pundak sempitnya, erat pada tubuhnya sendiri yang berdiri di hadapan sang penyanyi.
Seperti apa Chanyeol harus menamai hal ini?
Chanyeol tidak menemukan benteng pembatas di antaranya dengan penyanyi ini sebagaimana yang selama ini selalu ia tempatkan di antara dirinya dengan seluruh yang bekerja di bawah kuasanya.
Ke mana perginya benteng itu?
Atau, memang sejak awal ia tak pernah membangun itu untuk seorang Byun Baekhyun?
.
.
Sudah setengah jam Chanyeol membiarkan mobilnya terparkir begitu saja di depan gedung asrama agensinya. Berdiam diri dengan kedua tangan yang masih bertengger pada stir mobil, berdiam diri membiarkan sosok di jok samping tetap damai dalam tidurnya.
Chanyeol bisa melihat bagaimana jejak tangis masih tertinggal di wajah itu. Hidungnya masih kemerahan dengan kelopak mata yang membengkak.
Baekhyun jatuh tertidur tak lama setelah mereka mulai menyusuri jalanan ibukota.
Dan tak satu kali pun Chanyeol memiliki niat untuk mengusik kedamaian dari wajah yang sempat diwarnai tangis hebat tak lama sebelumnya.
Namun tak lama setelah itu, rupanya Chanyeol mendapati kedua kelopak itu membuka. Mengerjap beberapa kali, disusul empunya yang bangkit perlahan dari posisi rebahnya.
Beberapa detik kemudian pekikan tertahan keluar darinya. Byun Baekhyun tampak panik melihat bagaimana mereka sudah berada tepat di depan gedung asrama.
"Sa—sajangnim? Ma—maafkan saya!"
Baekhyun membenahi duduk serta penampilannya.
"Astaga, apa yang kulakukan.." cicitnya. Chanyeol dapat mendengar itu. "Sajang—"
"Chanyeol," koreksi Chanyeol. "Kau membuatku mengulang perintah lagi, Byun Baekhyun."
Baekhyun ia temukan meremat sabuk pengaman yang masih melilit tubuhnya. Menatap ragu serta takut pada dirinya. Chanyeol mengamati semua itu.
Menatap kedua mata sipit itu, Chanyeol melanjutkan kalimatnya.
"Sebut namaku."
Sebagaimana ia merasakan sesuatu serupa keinginan mendesak mengetahui segala sesuatu tentang Baekhyun, ia pula seperti haus mendengar suara itu mengalunkan namanya. Chanyeol tidak sama sekali ingin suara itu memanggilnya dalam predikat formal yang sarat akan batasan kedudukan.
Chanyeol, ingin suara itu menyebutkan namanya.
"Chan.. yeol," Sebuah bisikan akhirnya Chanyeol peroleh. Tetapi itu tak dirasanya cukup.
Jadi ia berpura tak mendengar itu.
"Sebut namaku, kubilang."
Setelah ragu sesaat, Baekhyun mengeluarkan suara yang lebih lantang, "..Chanyeol,"
Meski tidak sepenuhnya menuntaskan keinginan tak bernama yang Chanyeol miliki, hal itu cukup memberi Chanyeol cukup ruang untuk bernapas setelah semua desakan tanpa wujud yang ia rasa. Hanya dengan satu nama miliknya yang terucap melalui suara merdu itu.
"Bagus. Pastikan aku tidak mendengar panggilan itu berganti lagi," kata Chanyeol, beralih menatap jalan sepi di balik kaca depan mobil. "Masuklah, kau butuh istirahat," ucapnya, pelan namun ia pastikan mampu didengar oleh sang lawan bicara.
"Y—ya, terima kasih... Chanyeol."
Chanyeol mengamati bagaimana sosok itu melepas sabuk pengaman dengan gerak kikuknya. Dan bila mungkin Chanyeol tak salah menangkap, ada semburat merah di kedua bilah pipinya.
Ia kemudian meraih kenop pintu mobil untuk dibuka.
Tepat sebelum ia melangkah keluar, Chanyeol refleks menangkap pergelangan tangan Baekhyun.
Tangan itu lagi mengerut takut, barangkali kaget dengan kontak tiba-tiba yang dibuat Chanyeol.
Sementara Chanyeol, merutuki bagaimana tubuhnya bertindak di luar kendali. Dia tidak sungguhan berniat melakukan itu. Lagi-lagi, keinginan tak bernama itu yang mengambil alih.
"Kita... akan bicarakan masalah tadi nanti siang," kata Chanyeol pada akhirnya. Ia menemukan satu dalih untuk memerangi keinginan tak bernama itu. "Jun akan menghubungimu."
Ragu, Baekhyun memberi anggukan patah-patah, "Aku.. mengerti,"
Setelah membungkuk, Baekhyun keluar dari mobil Chanyeol. Meninggalkan sang direktur bersama pikirannya yang kini memunculkan satu ide yang menjadi akibat dari hilangnya sosok itu dari sampingnya; kehampaan.
Apakah Chanyeol memang tak pernah punya keinginan membangun benteng itu sejak awal?
.
oOo
.
.
Seberapa greget kalian kalo kangen chanbaek?
Me: nulis ff & ngubek2 dunia maya demi nyari analisis cb:")
Terima kasih saya ucapkan buat kawan2 pengisi kotak komentar: socloverqua | lightdelight | kimbyyna | ChanBaek09 | jinahyoo | yeolcat | loeypark1999
As I said before, y'all lighten up my mood /lovesign/ Lop yu so mach
P.s. Semalem saya nyaris serangan jantung abis liat teasernya baek. Too much content yesterday;;;; asdjklfkjbsdcjbsckbsjhvfyucbjlerfubsjdnaahgsckzjbxsjgvzsyilovebaekhyun
Dan btw, kok saya suka banget sama cerita ini, ya? Kkkk, kepercayaan diri macam apa ini haha
Si yu neks cap
