Beberapa kesibukan sialan memaksa Chanyeol tetap berada di kantornya hingga hari berganti. Sembari jari memijat pelipis, ia bangkit dari sofa yang selama beberapa menit terakhir ia gunakan untuk merebahkan sejenak tubuh yang nyaris remuk. Matahari sudah akan terbit dan ia baru memperoleh beberapa menit itu untuk istirahat.
Jun juga masih standby pada meja kerjanya di depan ruangan. Beberapa artis sedang berada pada masa sibuk dan itu berpengaruh pula pada jumlah beban kerja Chanyeol dan sang sekretaris. Terlebih, Chanyeol memiliki beberapa lagu di tengah proses produksi yang harus dirampungkan.
Setelah dirasa kepalanya cukup mampu memfokuskan atensi di tengah rasa pusing yang mendera, Chanyeol bangkit dari sofa. Meraih kunci mobil dan beranjak menuju pintu keluar.
Di luar, Junmyeon berdiri dari meja kerjanya begitu melihat sang direktur muncul dari pintu.
"Aku akan kembali dalam setengah jam. Kau istirahatlah sejenak," kata Chanyeol pada sang sekretaris sebelum berlalu menuju lift.
Chanyeol akan kembali ke apartemennya barang beberapa waktu untuk sekadar membersihkan diri, sekaligus mencari sedikit angin segar setelah berjam-jam tak berhenti berkutat di meja kerja.
Lift beranjak turun. Angka-angka pada panel menyala bergantian turun terus ke bawah.
Chanyeol dibuat mengernyit saaf lift berdenting dan pergerakan panel berhenti pada angka 7.
Aktivitas lantai studio tari belum dimulai dan ini pula bukan jam bagi petugas keamanan untuk melakukan pemeriksaan.
Siapa yang berada di lantai studio tari pada jam seperti ini?
Pintu lift terbuka. Dan alangkah terkejutnya Chanyeol menemukan Byun Baekhyun di hadapannya. Dengan jaket hitam tipis berdiri di depan pintu lift dalam keadaan berpeluh banyak.
"Byun Baekhyun?"
"Oh?—"
Baekhyun tampak sama terkejutnya. Keduanya masih berdiri berhadapan dalam kebingungan selama beberapa waktu yang singkat.
Dalam keterdiaman mereka, Chanyeol yang kesulitan mencapai fokusnya tidak sengaja menjatuhkan pandangan pada celah tak berbalut jaket dari tubuh seorang yang berada di depannya.
Resleting jaket yang turun sedikit terlalu rendah menampakkan pahatan tulang selangka dengan kulit putih milik penyanyi itu. Sedikit mengkilap hasil cahaya lampu lift dan peluh yang dimilikinya. Tidak tertutup apapun sebab sepertinya lelaki itu tak benar mengenakan apapun lagi di balik jaket tersebut.
Chanyeol nyaris dibuat hilang fokus. Maka, ia sesegera mungkin berusaha mengambil kembali kendali akan fokusnya.
Pintu lift nyaris tertutup sebelum Chanyeol menahannya dengan sigap.
"Kau akan masuk atau tidak?" tanya Chanyeol.
Baekhyun terlonjak, "A—ah, iya, aku masuk." Ia masuk lantas berdiri di samping Chanyeol.
Segera bilah pintu lift bergeser menutup. Pemandangan lorong lantai 7 berganti dengan permukaan pintu logam yang memantulkan bayangan siapapun yang berada di depannya.
Ia menemukan bayangan Baekhyun yang tengah memandang lantai dengan sebuah drawstring bag di genggaman tangan kanannya. Entah apakah Chanyeol hanya berprasangka, namun Byun Baekhyun tidak tampak seperti biasanya.
"Apa yang kaulakukan di kantor di jam seperti ini?" Chanyeol membuka percakapan. Menatap sang lawan bicara dari pantulan dinding lift.
Chanyeol menerima hening sebelum sebuah jawaban.
"Latihan,"
Kening Chanyeol tak ayal berkerut kembali. Ia menoleh pada sosok Baekhyun di sampingnya.
"Jangan kaukira aku tak mengetahui jam-jam latihan, Byun. Ini belum masuk dari satu pun jadwal latihan tari."
Baekhyun tampak ragu sejenak. Ia lantas menjawab dengan samar,
"Aku.. terbiasa berlatih mandiri beberapa kali seminggu. Di pagi hari seperti ini," katanya. Tanpa menatap balik pada Chanyeol di sampingnya.
Itu agaknya membuat Chanyeol bingung.
Latihan mandiri?
Chanyeol melihat angka berapa yang ditunjuk jarum jam pada arloji di pergelangan tangan.
Belum sempurna pukul 6 pagi.
"Kau—"
Bunyi denting lift menginterupsi kalimat. Mereka sampai di lobby. Pintu lift terbuka dan Chanyeol bahkan belum sempat bereaksi kala Baekhyun dengan segera berlalu setelah membungkuk padanya.
Lupa dengan apa yang sebelumnya hendak dikatakan, Chanyeol menatap punggung sempit yang menjauh itu.
Ada sesuatu berbeda pada sosok itu.
.
.
Derap langkah Chanyeol jelas tidak berada pada ritme normal. Sebagaimana itu pula, raut wajahnya tidak berada pada raut yang baik-baik saja. Siapapun yang mengenalnya akan segera tahu bahwa wajah itu bukan merupakan pertanda baik.
Ia menggerakkan tungkai panjangnya cepat menyusuri lantai basement parkir menuju lift. Ponsel menempel di telinga seiring langkah berderap mendekati dan masuk ke dalam lift.
"Jun, bawa data rekap jadwal dan seluruh tawaran masuk untuk Byun Baekhyun. Aku akan tiba di ruangan empat menit lagi dan pastikan semua data itu sudah kaubawa ke mejaku."
Panggilan ditutup.
Chanyeol memasukkan kembali perangkat tersebut ke sakunya.
Dalam setiap detik yang ia habiskan di dalam lift yang bergerak lambat menuju lantai teratas, Chanyeol tak hentinya menggertakkan gigi. Rahang mengeras dan mata lurus menatap pada apapun di depannya.
Pertemuannya dengan seorang kolega di salah satu restoran mewah di ibukota sayangnya tidak hanya berbekas kesan biasa sebagaimana pertemuan bisnis yang biasa ia lakukan. Sesuatu tertangkap matanya dan seluruh mood-nya selama diskusi bisnis yang ia lakukan hancur seketika.
Hanya jarak beberapa kursi dari tempatnya membuat pertemuan dengan rekan bisnisnya, Chanyeol melihat Baekhyun.
Duduk bersama seorang lelaki yang lain.
Lelaki tinggi, yang jelas Chanyeol tahu betul rupa dan sosoknya.
Oh Sehun.
Keduanya terlibat pembicaraan yang amat panjang, mungkin jauh lebih banyak dari isi diskusi bisnis yang Chanyeol lakukan. Chanyeol kesulitan untuk tetap fokus pada kepentingannya duduk di dalam restoran tersebut.
Sayangnya, matanya tak bisa berhenti melirik kepada bagaimana kedua orang di sudut sana saling berbagi tawa dan obrolan yang seolah tiada akhir.
.
.
Ujung pantofel yang dikenakan Chanyeol mengetuk-ngetuk permukaan lantai sejak bermenit-menit lalu. Menatap dokumen-dokumen yang digelar Junmyeon di atas meja.
"Sajangnim?"
"Diam."
Dahi Chanyeol terus berkerut dalam saat sesuatu tak berhenti menghantui isi kepalanya, bergantian dengan deretan huruf dan angka yang tercetak padat di atas kertas di meja.
Kertas sebelah kiri melampirkan keseluruhan jadwal Byun Baekhyun yang telah difiksasi. Kertas sebelah kanan berisikan daftar tawaran yang masuk untuk solois tersebut hingga pagi hari tadi.
Meski kertas di kiri telah menampilkan deretan jadwal yang nyaris tak berjeda, Chanyeol tetap menemukan beberapa yang kosong. Dan benar, hari ini menjadi salah satu hari yang luang bagi Byun Baekhyun.
Semua kepadatan itu tidak menghentikan Chanyeol dari tujuannya; masih menggulirkan matanya pada daftar di sebelah kanan, menyeleksi dari sekian nama program atau produk yang hendak ia masukkan ke tabel di sebelah kiri.
Sang sekretaris, hanya mampu menelan ludah saat melihat atasannya melingkari beberapa tawaran yang masih segar, dan memberikan tanda pada setiap jeda sempit yang ada pada tabel padat bertuliskan jadwal solois Byun Baekhyun.
Junmyeon dapat melihat bagaimana satu per satu celah terisi, menyisakan nyaris tidak ada lagi waktu yang kosong.
.
oOo
.
.
Saya mau pamit/? nggak apdet dulu selama sekitar 2 minggu. Hehe, ada yang gabisa ditinggal.
Will be back soon!
Tons of love for reviewers: jinahyoo | socloverqua | kimbyyna | ChanBaek09 | loeypark1999 | lightdelight
