Junmyeon mengikuti langkah Chanyeol melintasi koridor VIP menuju restoran dari hotel berbintang lima tempat mereka akan melakukan pertemuan dengan seorang kolega. Sayang sekali, seseorang yang hari ini akan berdiskusi dengan sang direktur termasuk ke dalam nama-nama yang Junmyeon catat sebagai calon potensial untuk membuat suasana hati atasannya ini memburuk.

"Kalau bukan karena keuntungan yang kita dapat, sudah sejak lama aku mengakhiri kerjasama dengan pak tua itu." Chanyeol berkata sembari mata menatap lurus ke depan, ke arah salah satu ruang yang telah direservasi khusus untuk pertemuan. "Berapa lama lagi waktu yang kita punya sebelum rapat petinggi agensi dimulai?"

Junmyeon mengecek jarum jam arlojinya sebelum memberi konfirmasi, "Dua setengah jam, sajangnim."

Sang direktur mengangguk-angguk mendengar jawaban sekretarisnya. "Bagus. Kita bisa beralasan untuk mengakhiri pertemuan lebih cepat."

Pintu ruang terservasi akhirnya sampai di hadapan. Chanyeol mendorong daun pintu demi mata menangkap seorang pria tua berperawakan gemuk dan seorang wanita yang Chanyeol kenali sebagai sekretaris pribadinya.

"Selamat malam," Chanyeol memberikan salam singkat kepada pria tersebut.

Sang pria paruh baya yang telah menempati kursinya dengan nyaman bangkit dan menghampiri Chanyeol. Menjabat tangan Chanyeol dan memberikan pelukan singkat sebagai sambutan selamat datang.

Chanyeol membalas sekenanya. Ia tidak begitu menyukai orang ini namun masih mengerti caranya bersopan santun dalam lingkup profesi.

"Apa kabar, Direktur Park? Kau semakin tampan saja, sepertinya."

Chanyeol tersenyum tipis menanggapi pujian klise tak berarti itu, "Baik. Bagaimana dengan Anda?"

"Baik, tentu saja," balas pria tersebut. Ia mengarahkan semua untuk kembali duduk ke kursi berlapis satin yang telah disediakan.

Lee Sooman. Salah satu senior yang cukup berpengaruh di dunia hiburan. Chanyeol terlibat kerjasama dengannya sejak beberapa waktu lalu. Kerja sama yang merugikan secara tenaga produksi, namun teramat menguntungkan dari segi finansial.

Beberapa pembicaraan basa-basi mengawali diskusi siang itu. Chanyeol sebagai yang lebih muda berusaha tetap memberikan respon meski sangat enggan karena seharusnya mereka segera bergerak pada pokok bahasan utama.

"Ah, benar. Sebaiknya kita langsung saja. Aku ingin memperpanjang kerjasama kita. Produksi album terbaru artisku ingin aku serahkan pada LOEY-Music lagi."

Chanyeol menyesap anggur putih miliknya. Itu permintaan yang sudah ia duga akan keluar dari mulut pria tersebut. Tentu saja hanya itu kemungkinan yang membuatnya mau repot-repot mereservasi ruang VIP restoran demi diskusi hari ini.

"Tentu saja," jawab Chanyeol singkat bersama sebuah ulas senyum tipis. "Tim kami akan melakukannya dengan baik asal kompensasinya sepadan."

Gelegar tawa memenuhi ruangan. Lee Sooman menanggapi dengan ringan,

"Tenang saja, Nak. Kau akan mendapatkan yang kau mau." Sang pria tua bermarga Lee turut menikmati cairan dari gelas anggurnya. Tersenyum senang setelah mendapatkan jawaban dari sang pemilik LOEY-Music.

"Omong-omong, artis barumu terlihat menjanjikan."

"Maaf?"

"Byun Baekhyun,"

Chanyeol mengambil satu tegukan lagi dari gelas anggurnya, berlum berniat memberi respon.

Apa maksud orang ini membawa Baekhyun ke dalam pembicaraan? Chanyeol rasa bahasan mereka mengenai perpanjangan kerjasama belum sampai pada kata selesai.

"Seperti yang diharapkan, Park Chanyeol benar-benar pandai membaca peluang."

Berusaha terlihat tersanjung, Chanyeol menundukkan sedikit kepalanya sebagai ungkap terima kasih. Nyatanya, ia justru bertanya-tanya mengapa semakin orang tua itu membahas Baekhyun, semakin berbinar kedua mata liciknya.

"Aku baru saja akan berupaya mengambilnya dari Killian Wang, namun tak kusangka kau bertindak lebih cepat."

Meski terkejut dengan pengakuan itu, Chanyeol berpura antusias menanggapi.

"Benarkah? Byun Baekhyun memang punya potensi besar. Sayang sekali Anda tidak bertindak cepat." Chanyeol merespon tanpa dinamika signifikan pada intonasinya. Satu sesap lagi, Chanyeol menyisakan sedikit dari anggur di gelasnya.

Pria yang sekiranya berusia nyaris dua kali dari Chanyeol itu melepas tawa, yang di telinga Chanyeol, berlipat-lipat lebih menyebalkan dari suaranya saat bicara normal.

"Kau benar. Sayang sekali. Tetapi aku bisa mengajaknya makan malam kapan-kapan, kan?"

Pertanyaan itu membuat Chanyeol mengerutkan hidungnya. Dia benar-benar tidak bisa percaya pertanyaan demikian dapat terucap dengan nada penuh kelakar dari seorang pria paruh baya.

"Dia sibuk."

Lagi, Chanyeol mendapati pria itu tertawa.

"Aku akan mencoba bicara padanya."

Chanyeol menggigit bagian dalam pipinya akibat kalimat tersebut. Pria tua ini seperti tidak tahu malu.

Satu hal yang tiba-tiba nyaris menguras habis atensi Chanyeol adalah; kalau pria ini sempat mengincar Baekhyun seperti halnya dirinya, berapa banyak lagi agensi yang menginginkan artisnya itu?

Chanyeol tidak mengetahui alasan mengapa pikiran itu terasa sedikit mengganggu.

Setidaknya, Byun Baekhyun milik LOEY-Music sekarang.

Beberapa schedule tambahan akan dikontrak beberapa hari dari sekarang dan itu berarti kemungkinan untuk siapapun dapat meminta waktu solois tersebut akan surut sampai angka nol.

Pintu ruangan terbuka. Seorang waitress masuk membawa kudapan ke atas meja.

Lee Sooman tampak telah menunggunya dan menjelaskan kedatangan kudapan tersebut,

"Aku memesankan ini khusus dari Jepang. Kupikir kolega terbaikku harus merasakannya. Silahkan."

Chanyeol sekali lagi memberi tundukan kepala, "Terima kasih."

"Silahkan, Jun."

Junmyeon turut mengangguk, dan bersamaan mereka mencicipi oleh-oleh dari Jepang tersebut.

Sayangnya, satu suap kecil yang Chanyeol bawa ke kerongkongannya bagaikan petaka siang bolong yang datang tiba-tiba.

Protein kacang.

Chanyeol tidak mungkin tahu bahwa makanan seperti ini mengandung bahan kacang-kacangan. Dan ketidaktahuan itu dengan bodohnya membawa ia pada alergi makanan terberatnya.

Alisnya berkerut merasakan makanan yang terlanjur sampai kerongkongannya itu terasa menyumbat bagian sana.

Sebelum reaksi alerginya semakin parah, Chanyeol segera berinisiatif untuk bangkit dari kursinya.

"Saya permisi sebentar."

Chanyeol menggerakkan kedua tungkainya cepat melintasi koridor menuju tikungan di ujung. Sesampainya di dalam restroom yang untungnya kosong, ia menyambar keran wastafel dan berusaha mengeluarkan apa yang telah dimakannya.

Sial, tidak mungkin dia menunjukkan sisi lemah konyolnya ini di hadapan orang lain.

Chanyeol berkali-kali menguras seisi mulutnya. Memenuhinya dengan air lantas membuangnya ke tadah wastafel. Terus hingga sisa bahan makanan itu tidak lagi terasa oleh indera pengecapnya. Namun tubuhnya jelas mengenali objek alerginya. Sedikit yang telah tertelan nyata memberi reaksi. Chanyeol berusaha menarik udara ke dalam paru-parunya namun tenggorokannya terasa tersumbat dan napasnya justru berubah satu-satu.

Ia menghempaskan punggungnya ke dinding. Matanya merah berair, tubuhnya mulai kehilangan tenaga untuk tetap berdiri sebab pasokan oksigen nyaris tidak ada lagi.

"Chanyeol?"

Suara familiar yang muncul dari arah pintu mengundang perhatian Chanyeol yang kini sudah setipis kesadarannya. Sedikit, ia menolehkan kepala demi melihat sosok yang memanggil namanya.

Byun Baekhyun.

.

oOo

.

.

I'm back! /kemana aja woy/

Saya minta maaf kalau-kalau nantinya cerita ini nggak sesuai ekspektasi atau gimana, karna saya cuma nulis apa yang ada di kepala saya aja. Just enjoy, ya?

Update lebih banyak tapi tetep di-publish per seribu kata ya /wink/

Next!