"Astaga!"

Chanyeol tidak begitu sadar akan apa yang terjadi namun saat sosok yang ia kenali sebagai Baekhyun itu menyentuh kedua lengannya dengan panik, ia menjatuhkan begitu saja kepalanya di bahu sempit itu. Kesadarannya yang tersisa tidak terasa berarti. Ia mungkin akan kehilangannya sebentar lagi.

.

.

Baekhyun panik. Ia hanya ingin menenangkan diri sejenak di tengah pertemuannya dengan tim kosmetik yang dibintanginya dengan pergi ke kamar kecil, namun ia justru menemukan seorang yang dikenalnya. Dan seorang itu jelas tidak sedang baik-baik saja.

"Astaga.. ada apa.."

Ia ingin bertanya macam-macam pada sosok tinggi itu namun hanya wajah pucat dan napas sesak yang bisa Baekhyun tangkap dari bahasa tubuhnya. Dan ia sungguh tidak menyangka tubuh itu bahkan ambruk ke arahnya.

Baekhyun tidak membawa ponselnya dan menghubungi Sekretaris Jun tidak bisa dijadikan pilihan. Ia setidaknya harus berusaha mencari cara lain yang bisa dilakukannya sendiri untuk membantu sang direktur.

Maka semua pertanyaan dalam kepalanya ia simpan lebih dulu, memilih membawa tubuh sang direktur sekuat tenaga agar duduk ke lantai, melepas jas keabuan yang dikenakan dan membuatnya setengah merebah di atas kedua pahanya yang ia bawa duduk bersimpuh.

"Bernapas, Chanyeol," Baekhyun mengomando di tengah serangan paniknya, membuka beberapa kancing teratas dari kemeja sang direktur.

Arahan itu tidak membantu. Chanyeol masih bernapas satu-satu. Baekhyun tidak mengerti, tetapi wajah itu terang menunjukkan bahwa empunya tengah menahan sakit.

Chanyeol sesekali terbatuk keras dalam pangkuan Baekhyun. Itu tidak seperti batuk biasa, dan dari sana Baekhyun tahu keadaan semakin gawat.

Baekhyun mengusahakan apapun yang ia tahu untuk mengatasi keadaan. Sebab ia tidak punya cukup tenaga untuk membawa sang direktur ke tempat yang lebih terbuka, Baekhyun mencoba alternatif lain.

"Chanyeol.." Baekhyun memanggil di tengah serangan rasa paniknya, "Chanyeol, tarik napas," Ia berusaha mendapatkan atensi Chanyeol melalui beberapa instruksi, sembari mendongakkan kepala sang direktur di atas pangkuan untuk mengurangi sesak di areal leher dan dada.

Tidak ada lagi yang terpikirkan oleh Baekhyun selain mencari cara untuk segera membuat sosok di pangkuannya membaik. Sejak memiliki Jongin dengan segala kebutuhan khususnya, Baekhyun memiliki refleks kuat untuk segera melakukan sesuatu terhadap apapun yang dapat dibantunya. Tidak peduli siapa, atau apa yang sesungguhnya ia rasakan pada dirinya sendiri, Baekhyun hanya akan menaruh tangan untuk memberikan satu-dua upaya.

Sembari terus membantu Chanyeol mengatur napas, Baekhyun melakukan beberapa gerakan memijat di dada sang direktur.

"Benar, kau bisa melakukannya."

Karena memiliki Jongin juga, Baekhyun tahu caranya untuk tetap terlihat tenang demi tidak memicu panik pada orang lain. Ia menampilkan senyum tipis sambil tangan terus memberi pijatan.

Seiring detik berlalu, Baekhyun bisa mengamati bagaimana napas satu-satu tak beraturan dari sang direktur berangsur stabil, walaupun tidak sepenuhnya pulih.

Gerakan tangannya terhenti. Tangan besar Chanyeol menyelimutinya dengan gerakan lemah.

"Cukup."

Suara rendah yang entah mengapa masih sarat akan kesan dominan tersebut mengerutkan nyali Baekhyun. Ia tiba-tiba tersadar kalau apa yang dilakukannya bukan tindakan yang pantas dilakukan terhadap seorang direktur.

"M-maaf,"

Baekhyun hendak menyingkirkan tangannya namun ia mendapatkan genggaman yang lebih erat hingga itu tetap berada pada tempatnya.

Sang direktur memejam, dengan sebelah telapak tangan yang seolah memaku di atas milik Baekhyun.

Melihat bagaimana napas Chanyeol berangsur normal, rasa lega terasa menyelimuti Baekhyun. Setidaknya apa yang dia usahakan berhasil membuat sang direktur membaik. Terlepas dari apapun penyebabnya.

Baekhyun membiarkan waktu berlalu dengan Chanyeol di pangkuan. Chanyeol pasti butuh waktu untuk memulihkan tenaganya.

Apa yang Baekhyun saksikan tadi sedikit menumbuhkan rasa khawatir dalam dirinya. Chanyeol mungkin memiliki sesuatu yang menjadi penyebab hal yang baru saja terjadi. Apa yang terjadi kalau ia tak secara kebetulan datang dan melihatnya?

Tanpa sadar, Baekhyun membawa tangannya yang bebas menuju rambut pirang sang direktur. Memainkan helainya tanpa benar-benar mengusik tatanannya. Baekhyun menggulirkan bola matanya mengamati detail wajah di pangkuan.

Alis tajam yang kini mengerut yang mungkin disebabkan oleh rasa sakit.

Hidung bangir dengan titik hitam kecil di pucuknya.

Tulang pipi serta rahang dengan garis tajam nan tegas.

Bibir penuh serta telinga dengan bentuk yang khas.

Baekhyun tidak tahu kalau Park Chanyeol memiliki paras sesempurna ini.

Sang direktur terbatuk kecil. Kerutan di alis serta dahinya semakin dalam tercipta.

Hal itu membuat Baekhyun refleks melakukan seseuatu lain yang biasa ia lakukan saat ingin menenangkan adiknya di rumah; mengusap lembut surai pirang Chanyeol serta menggumamkan senandung lagu bertempo lambat.

Beruntung, cara tersebut seperti memberikan efek yang sama pada Chanyeol. Napasnya semakin teratur dan segala tanda sakit dari raut wajahnya perlahan mengendur.

Tetapi saat kelopak mata sang direktur terbuka dan kedua iris kelam itu menatapnya, Baekhyun membisu.

Satu, dua, tiga detik, Baekhyun tenggelam dalam kedua bola mata yang menatap lurus kepadanya.

Chanyeol pucat. Namun tidak sedikitpun pias wajah itu melunturkan aura dominasinya.

"Kenapa berhenti?"

Suara bariton serak sang direktur semakin membuat Baekhyun terpaku. Itu hanya tatapan mata dan sebuah pertanyaan singkat dalam volume teramat rendah, namun Baekhyun merasa seluruh tubuhnya dikunci untuk sosok itu.

"Aku—"

Baekhyun merasakan gelenyar aneh ketika tangan besar yang menyelimuti miliknya memberi usapan lembut pada jemarinya.

"Terima kasih."

"Eh?"

Chanyeol mencoba bangkit, dan itu membuat Baekhyun otomatis turut berupaya membantunya. Ia mendorong punggung itu dari pangkuannya sebab sang direktur tampak tidak memiliki tenaga untuk melakukannya sendiri. Ia membantu hingga Chanyeol berhasil duduk bersandar pada dinding di belakangnya.

Baekhyun dapat melihat bagaimana Chanyeol masih belum memperoleh tenaganya kembali. Kepala tersandar ke belakang dan mata terpejam. Sebelah sikunya ditumpukan ke salah satu lutut yang menekuk, tergolek lemas di sana.

Geram kesal keluar dari mulut Chanyeol, kala tenaga tangannya bahkan tak cukup digunakan untuk mengancingkan kembali kemejanya.

Melihat itu, Baekhyun tersadar kalau itu bagian dari tanggung jawabnya.

"M-maaf, biar kubantu." Maka ia berdiri di atas kedua lutut di hadapan sang direktur, memasangkan kancing yang sebelumnya dibukanya satu per satu.

Di tengah kegiatan itu, suara lain datang menginterupsi di tengah heningnya ruang sempit itu.

"Sajangnim?"

.

oOo

.