"Sajangnim?"
Baekhyun sontak menoleh, mendapati Sekretaris Jun masuk melalui ambang pintu.
"Oh—ma-maaf,"
Melihat sang sekretaris panik dan tiba-tiba membalikkan badan, Baekhyun kebingungan. Itu disusul satu lagi suara berbeda.
"Baekhyun?—Astaga!"
Kyungsoo muncul dari sana dan melakukan hal yang persis sama dengan Sekretaris Jun.
Baekhyun baru akan bertanya ketika sentuhan pada tangannya mengundang atensinya kembali pada sang direktur.
Chanyeol yang masih pucat perlahan membawa tangan Baekhyun turun dari kancing kemeja di dadanya. Hal itu menyadarkan Baekhyun tentang betapa canggungnya posisi mereka.
"Ya Tuhan.." cicitnya, lantas menarik tangannya yang telah terkepal segera setelah melepas kain kemeja Chanyeol. Bergerak mundur dan duduk bersimpuh di hadapan sang direktur.
Chanyeol bertumpu pada sebelah tangannya untuk bangkit berdiri. Dan Baekhyun secara refleks turut bangkit dan membantunya. Selepas itu, ia memungut jas milik Chanyeol yang masih teronggok di lantai, menyodorkannya pada sang pemilik.
Mengabaikan segala kesalahpahaman yang mungkin terjadi, Chanyeol memilih menggunakan tenaganya untuk lebih dulu mengatasi situasi.
"Jun," panggil Chanyeol. Sang sekretaris sigap diikuti Kyungsoo menoleh dan menghampirinya. "Tunda rapat petinggi agensi. Dan tolong katakan pada Tuan Lee ada urusan mendadak yang harus kuselesaikan."
Setelah mendapat afirmasi dari sang sekretaris, Chanyeol beralih pada Kyungsoo.
"Ada schedule di hotel ini?"
Kyungsoo membungkuk sejenak lantas menjawab, "Ya, sajangnim. Ini jadwal pertemuan dengan tim TR."
"Masih lama?"
"Tidak, pertemuan dijadwalkan hanya sampai pukul tiga." Sang manajer menengok jam yang melingkar di pergelangannya, "Sekitar setengah jam lagi."
"Bisa kau katakan pada mereka aku memanggil Baekhyun?"
"Y-ya?"
"Katakan pada mereka Direktur Park memanggil Byun Baekhyun. Sampaikan maafku karena telah mengganggu jadwal yang telah ditetapkan."
Di tempatnya, Baekhyun mengerjap tak mengerti. Terlebih, saat sang direktur meraih pergelangan tangannya dan menariknya mendekat.
"Saya mengerti." Bagaimanapun, Do Kyungsoo hanya bisa mengiyakan sebab sang direktur telah berlalu dengan menarik serta Baekhyun bersamanya.
Tanpa memakai kembali jas yang kini dijinjing di sebelah tangan, Chanyeol membawa Baekhyun menyusuri koridor yang kosong.
"Ch-chanyeol?" Baekhyun memanggil begitu menemukan keberanian untuk bertanya.
"Ikut saja," ujar Chanyeol tanpa menoleh. Ia hanya terus menarik lelaki mungil itu bersamanya. ".. tolong."
Satu kata yang diucapkan belakangan oleh sang direktur berhasil membungkam Baekhyun. Semudah itu, dan Baekhyun menurut dengan pemikiran bahwa sang direktur mungkin memiliki sesuatu yang tidak ia ketahui.
.
.
Chanyeol tidak sepenuhnya sadar saat membuat keputusan. Tetapi tidak pula ia menyesali itu.
Yang ia ingat saat memberi perintah kepada Junmyeon dan Kyungsoo hanya satu; kebutuhan akan sosok sang solois di sisinya. Kebutuhan, bukan keinginan. Chanyeol bahkan tidak bisa menemukan alasan mengapa ia membutuhkan Baekhyun. Saat ini juga.
Maka ia membawa Baekhyun bersamanya, duduk bersisian di dalam mobil miliknya yang masih terparkir di basement hotel.
"Chanyeol.." Panggilan ragu dari jok di sebelahnya membuat Chanyeol menoleh. "Apa tidak berbahaya menyetir dalam kondisi seperti ini?" tanyanya pelan. Nada segan masih kental pada intonasinya, tapi itu jauh lebih baik dari terakhir kali mereka bercakap dalam posisi dan tempat yang sama.
Sejenak Chanyeol mengamati wajah itu. Wajah yang kini hanya dibubuhi riasan tipis di bibir dan mata. Yang bagusnya, tidak terlalu banyak menutupi pancar asli dari empunya seperti pada kali pertama Chanyeol melihatnya di acara malam penghargaan waktu itu. Penampilan sederhana dengan balutan jaket suede cokelat juga tidak serta merta berkesan sederhana pula.
Apa yang memancar dari Byun Baekhyun masih sama kuatnya bahkan dalam keadaan off-stage seperti sekarang.
"Kau mau menyetir untukku?" tanya Chanyeol.
"A-apa?" Baekhyun terkejut, "Ti-tidak! Aku—tidak bisa menyetir.." Setelah menyahut cepat, volume suaranya turun di akhir kalimat.
Chanyeol mengerutkan alis mendengar itu. Ia ingin membeo demi mengonfirmasi ulang namun segera sadar itu mungkin tidak akan berkesan baik. Adalah lumrah seorang lelaki mampu mengendarai mobil bahkan jika tidak memiliki surat izin. Chanyeol pikir itu sudah seperti hal umum di kalangan pemuda Korea.
"Apa karena itu kau selalu memiliki Oh Sehun untuk mengantarmu?"
Mulut Chanyeol refleks melontarkan apa yang terlintas di kepalanya.
"... Kau tahu Sehun selalu mengantarku?" ulang Baekhyun.
Uh.
Chanyeol lupa kalau ia belum pernah terang-terangan muncul di setiap saat melihat Baekhyun bersama Oh Sehun.
"Ya." Hanya jawab singkat yang berhasil Chanyeol berikan. Tidak ada ruginya dirasa. Byun Baekhyun tidak seperti seorang yang akan menghakimi hanya karena hal demikian.
".. Aku tidak punya orang lain untuk dimintai tolong," kata Baekhyun pelan. Bersamaan dengan itu, Chanyeol mulai melajukan mobilnya. "Sehun satu-satunya teman yang tahu tempat tinggalku dan juga keadaan Jongin," tambahnya.
"Sekarang tidak lagi."
Baekhyun mengerjap, "Ya?"
"Sekarang bukan hanya Oh Sehun yang mengetahuinya." Membelokkan stir, Chanyeol memperjelas.
"Ah.. benar."
Sejenak hening. Chanyeol mengendarai pelan mobilnya sementara Baekhyun sibuk memilin jemari di pangkuan.
"Jadi.. Oh Sehun.. temanmu?" Chanyeol melontarkan satu lagi pertanyaan.
Baekhyun menoleh, menganggukkan kepala tanda pembenaran.
"Dia teman kecilku."
Kedua alis Chanyeol terangkat. Itu informasi yang tidak diketahuinya. Semua yang selama ini tertangkap oleh indera penglihatannya sekiranya memberikan kesan berbeda. Apa yang dikatakan Baekhyun tidak cukup bagi Chanyeol untuk menghilangkan rasa dongkol yang muncul setiap kali mengingat nama dan rupa rapper jebolan K Entertainment tersebut.
Sisa perjalananan habis bersama keheningan. Baekhyun terus mencuri pandang ke arah Chanyeol karena sang direktur tampak masih begitu pucat. Kalau-kalau terjadi apa-apa, ia mungkin bisa segera mengambil tindakan.
Pergerakan mobil yang melambat menyadarkan Baekhyun dari kegiatannya. Saat mendongak, ia baru sadar kalau sejak tadi ia tidak sama sekali memikirkan kemana Chanyeol menuju. Dan pemandangan jalanan telah berganti pada langit-langit semen dari ruang luas berisi mobil-mobil mewah terparkir.
"Ini.. di mana?" tanyanya.
"Apartemen." Chanyeol menjawab singkat. Pria tinggi itu keluar dari mobil begitu mobil terparkir, sementara Baekhyun masih melongo di tempat duduknya.
Apartemen?
Baekhyun terlonjak dari dudukan kursi saat pintu mobil di sisinya terbuka dan menampakkan Chanyeol yang merunduk melihat padanya di dalam mobil.
"Kenapa tidak turun?" tanyanya dengan kerut di dahi. "Ayo."
Dengan sejuta tanya di dalam hati, Baekhyun melangkah keluar ragu-ragu. Langkahnya terus mengikuti milik sang direktur hingga mereka sampai pada lantai paling atas gedung tersebut.
Baekhyun tidak bisa mengontrol diri untuk menganga lebar begitu masuk ke tempat di mana Chanyeol membawanya.
Sebuah kamar apartmen mewah yang luasnya berkali-kali rumahnya sendiri.
"Ini..?"
"Apartemenku."
.
oOo
.
