Bahkan ketika bibirnya terlanjur menempel di sisi wajah sang penyanyi, Chanyeol masih belum percaya kalau ia benar-benar melakukannya.

Setelah melepasnya pun, Chanyeol hanya bisa mengerjap. Tidak menyangka bahwa yang memulai adalah dirinya sendiri.

Chanyeol menarik diri dalam gerak patah-patah. Cuping telinganya memerah sempurna, bersamaan dengan rasa panas yang menjalari wajah hingga seluruh tubuhnya.

Sial, apa yang telah dilakukannya?

Chanyeol hanya terbayang oleh setiap sentuhan yang diberikan lelaki itu padanya siang tadi, dan itu pun dalam intensitas yang teramat samar sebab toh dirinya nyaris tidak sadar saat itu. Namun justru ingatan akan sensasi samar itu yang menimbulkan dorongan aneh sebagaimana yang ia rasakan setiap berada di dekat si penyanyi.

Seakan tubuhnya butuh memperjelas samarnya sentuhan itu, dengan membuat sentuhan yang lain.

Begitu menemukan lebih banyak kendali atas tubuhnya, Chanyeol dengan cepat mengalihkan matanya pada arah berlawanan dari jok di sampingnya. Diam-diam menarik napas panjang demi menenangkan degup kencang yang entah sejak kapan bersarang di dalam dadanya.

"M-maaf," ujarnya terbata.

Apa yang akan Baekhyun pikirkan tentang dirinya?

Chanyeol tidak bisa menjelaskan bila pertanyaan serupa alasan di balik tindakannya terlontar dari seorang di sampingnya.

Suasana malam yang hening menyempurnakan keterdiaman dalam mobil itu. Chanyeol bahkan belum mendengar satu pun reaksi dari Baekhyun di sebelahnya. Hanya hening. Maka, ia menolehkan kepala untuk memeriksa.

Baekhyun masih mematung di tempat. Tangannya bahkan masih melayang dengan telapak terkepal meski sang direktur tak lagi menahannya.

Melihat itu, Chanyeol semakin menyalahkan kebodohannya. Ia mungkin telah menempatkan Baekhyun pada situasi amat sulit.

"Baekhyun,"

"Aku—p-pamit." Baekhyun beringsut dari tempat duduknya, melangkahkan kaki keluar. Namun fokus yang telah menguap entah kemana membuat Baekhyun harus tersandung kakinya sendiri.

Chanyeol refleks menahan Baekhyun agar tak terjatuh dengan sebelah tangan. Beruntung tubuhnya cukup tinggi hingga ia bisa menggapai pinggang lelaki itu hanya dengan sedikit mengangkat bokong dari dudukan kursi kemudi.

"H—hati-hati—"

Satu lagi kebodohan, Chanyeol mengutuk dirinya sendiri. Baekhyun membeku dalam rengkuhannya dan Chanyeol sadar itu adalah kesalahannya. Jadi setelah memastikan sang penyanyi tidak akan terjatuh, ia menarik tangannya.

Sepanjang perjalanan meninggalkan bangunan asrama, Chanyeol tak hentinya merutuki segala yang baru saja ia lakukan.

.

oOo

.

Begitu pelatih mengumumkan akhir dari sesi latihan dan saling berucap terima kasih, Baekhyun menghempas tubuh ke lantai di sudut studio tari. Napasnya terengah setelah tenaga terkuras habis untuk tiga jam latihan. Sudah tiga schedule ia lalui hari ini dan malam harus dihabiskannya di studio.

Beberapa hari telah berlalu dan rekaman telah diambil. Kini ia hanya harus menyelesaikan koreo dari lagu. Sebagaimana yang dikatakan pengarah produksi, ia memiliki jauh lebih banyak gerakan dibanding debutnya beberapa bulan lalu. Dan itu semua harus dikuasainya sesegera mungkin karena penampilan panggung pertamanya pula akan dimulai tak lama lagi.

"Ini." Sang manajer yang sejak pertengahan latihan menungguinya datang menghampiri ketika studio telah kosong, menyodorkan sebotol utuh air.

"Terima kasih," senyum Baekhyun, menerima botol tersebut.

"Cepatlah bersihkan diri. Kau harus segera istirahat," kata Kyungsoo, masih berdiri tepat di hadapan sang penyanyi yang meneguk banyak-banyak air yang diterimanya. "Aku akan mengantarmu sampai asrama."

Menelan tegukan air terakhir, Baekhyun mengibaskan tangannya pada sang manajer.

"Kau pulanglah lebih dulu, aku akan berlatih sedikit lagi,"

Kyungsoo yang mengetahui kebiasaan itu mengangguk mengerti. Ia mengambil tasnya sendiri dan memberikan wejangan terakhirnya untuk si penyanyi bermarga Byun.

"Jangan sampai drop. Aku tidak mau mengangkutmu kalau kau pingsan besok," katanya, kemudian berlalu setelah memastikan Baekhyun masih mampu melempar senyum jenaka—tanda lelaki itu masih baik-baik saja.

Sepeninggal Kyungsoo, Baekhyun masih duduk di tempatnya. Tubuhnya luar biasa lelah dan ia rasa dirinya butuh waktu sedikit lama untuk sekadar mengembalikan napas normalnya.

Kyungsoo sempat memberi kabar bahwa manajernya itu mengunjungi Jongin selepas diskusi mereka bersama pengarah produksi. Jongin mulai bicara banyak pada Kyungsoo setelah manajernya itu berhasil memahami arti dari beberapa isyarat.

Berkat itu, Baekhyun sadar betapa ia telah begitu merindukan adiknya. Jongin tidak mengirim pesan semenjak terakhir kali Baekhyun datang berkunjung. Anak itu pasti takut mengganggunya.

Baekhyun ingin pulang.

Tetapi apakah itu diperbolehkan?

Sembari memikirkan, Baekhyun bangkit dan meraih tasnya. Menuju kamar ganti untuk sekaligus membersihkan diri.

Benaknya terus mempertimbangkan, hingga setengah jam kemudian kakinya telah menapaki lantai marmer di depan lift di lantai teratas gedung agensi. Mendekat ke arah di mana sang sekretaris utama di agensi tersebut berada.

.

.

Chanyeol memijat pelipis. Pekerjaan semakin menumpuk setiap harinya dan tetap tinggal di kantor hingga dini hari menjadi seperti rutinitas. Semenjak ia memperkenalkan Baekhyun sebagai artis di bawah perusahaannya, jumlah pekerjaan berubah berkali-kali lipat. Byun Baekhyun benar-benar menarik perhatian khalayak.

Di tengah kegiatan memindai dokumen berikutnya, Chanyeol memutuskan bangkit dari kursi. Ia perlu mendapatkan sedikit waktu di apartemennya sejenak. Satu jam tidak akan terlalu lama untuk semua pekerjaan ini menunggu.

Membuka pintu, Chanyeol berniat menginformasikan niatnya pada sang sekretaris yang selalu berada di tempatnya.

"Jun,—"

Chanyeol terhenti dalam perkataannya ketika matanya menangkap kehadiran sesosok lain tengah berbincang dengan sekretarisnya.

"Sajangnim," Junmyeon keluar dari mejanya demi menghampiri sang direktur.

Perhatian Chanyeol tersita untuk seorang lelaki lain dengan hoodie merah yang tampak terlalu besar di tubuhnya yang kini berdiri di belakang Kim Junmyeon.

"Ada apa?" tanya Chanyeol pada sang sekretaris.

Kim Junmyeon membungkuk, "Baekhyun-ssi ingin menemui Anda, sajangnim."

Chanyeol mengulangi pertanyaannya pada Baekhyun yang sejak tadi mencuri pandang ke arahnya.

"Aku.."

Melihat sang penyanyi tidak kunjung menyelesaikan kalimatnya, Chanyeol menghampirinya lebih dekat.

"Ada apa?" tanya Chanyeol lagi. Sebuah rekor bagi seseorang telah berhasil membuat Park Chanyeol mengulangi pertanyaannya tiga kali tanpa membuat direktur itu marah.

".. Bolehkah.. aku pergi mengunjungi Jongin malam ini?" tanya Baekhyun padanya dengan kepala tertunduk.

Chanyeol terdiam.

Tidak, ia bukannya tidak menyukai permintaan itu. Hanya sedikit keheranan mengapa sang penyanyi harus memintanya dengan sedemikian segan.

Mata sipit itu sesekali melirik padanya, tampak menunggu-nunggu mengapa sang direktur tidak pula memberi jawaban.

"Kalau—"

"Kau tidak lelah?" tanya Chanyeol, memotong kalimat sang penyanyi.

"Uh?"

"Jadwalmu penuh hari ini?"

"I-iya,"

Chanyeol menyilangkan kedua tangannya, bersedekap menjulang di hadapan Baekhyun.

"Dengan siapa kau akan pergi?" tanya Chanyeol skeptis.

".. Ng.. Dengan.. Kyungsoo..?"

Chanyeol menimbang-nimbang jawaban ragu tersebut. Kalau saat ini Do Kyungsoo tidak bersama lelaki ini, manajer itu kemungkinan besar justru memang tidak lagi berada di gedung agensi.

Setelah beberapa waktu dihabiskannya untuk mempertimbangkan lebih jauh, Chanyeol beralih pada sang sekretaris.

"Jun, aku akan pergi sebentar. Tolong pindai beberapa dokumen di dalam sampai aku kembali," titahnya, kemudian beranjak menuju lift.

Chanyeol menekan tombol untuk basement pada sisi pintu lift. Ia menoleh pada Baekhyun yang masih berdiri di tempat, menatapnya dari sana.

"Kau mau mengunjungi adikmu, kan? Kenapa masih berdiri di situ?" tanya Chanyeol, menatap dengan dahi berkerut kepada sang penyanyi. "Ayo."

"Eh?"

"Aku akan mengantarmu."

Pintu lift segera membuka. Dan Baekhyun tak sempat terkejut lagi sebab harus tegopoh-gopoh menyusul langkah sang direktur.

.

oOo

.

.

Alon-alon dulu ya jadinya, hehe

Untuk ke sekian kalinya mau bilang makasih sama yang dah meramaikan kolom review di lapak sepi iniw /hug/ kimbyyna | Zyumi | shazaa | fifakna | jinahyoo | baekhyunpup | shinwava | lightdelight | KlyJC | izzahnurul034 | ChanBaek09 | crescentchie

P.s.: Sebenernya walaupun seneng nulisnya, saya agak nggak pede ama cerita ini, karna saya nggak biasa nulis yang panjang dan terlalu berkonflik. Kalo ada yang baca ff2 saya yang lain, pasti tau kalau tulisan saya isinya cuma manis-manisan/? aja. Hehe, jadi begitu deh, kadang insekyur sendiri jadinyaw

P.s.s.: Kenapa ya baekhyun bisa ganteng sekaligus cantik banget? Kenapaa?! #andaiakupisiway