Baekhyun kira ia telah melupakan kejadian itu. Ia bahkan terlalu segan untuk mencoba memikirkan alasan di balik yang dilakukan Chanyeol terhadapnya, malam itu.

Tetapi, duduk bersama sang direktur di dalam mobil yang sama tidak mungkin tidak membawa Baekhyun untuk kembali memutar ingatan itu beserta sensasi yang ditimbulkannya. Ketika otaknya bersikeras mengatakan ingatan itu telah luput, tubuhnya justru mengingat dengan jelas.

Hanya sebuah sentuhan singkat, namun seperti membekas hingga ke urat syaraf paling tidak sensitif sekalipun.

Dan itu menimbulkan debar aneh pada jantungnya karena sang direktur kini berada tepat di sampingnya.

"Maaf telah merepotkan lagi," Di antara keheningan, Baekhyun berujar kata. Ia memberi sedikit bungkuk badan pada sang direktur.

Chanyeol mungkin mengantarnya sebagai tanggungjawab atas larangan yang telah dibuat. Baekhyun yang datang begitu saja untuk meminta izin mungkin menjadi pemicunya. Dugaan itu semakin kuat saat ia tak kunjung memperoleh respon.

"Baekhyun,"

Baekhyun merasa jantungnya nyaris melompat keluar ketika suara sang direktur memecah keheningan yang awalnya hanya didominasi deru teredam dari jalanan di luar setelah kalimatnya barusan.

"Y-ya?" Tanpa menoleh, Baekhyun menyahut. Lagi-lagi, Baekhyun merasa ciut di tempat. Itu luar biasa bagaimana kata yang diucapkan oleh suara berat itu mampu memberikan kesan yang begitu pekat tentang betapa besar kuasanya.

Perjalanan masih berjarak hampir satu jam. Jalanan sepi dengan hanya beberapa kendaraan yang melaju.

Chanyeol membelokkan stir di persimpangan. "Hentikan kebiasaan minta maaf itu."

"U-uh?"

Tetap berfokus pada jalanan di depan, Chanyeol menambahkan, "Bukan kau yang memintaku mengantarmu, jadi berhenti minta maaf."

"... Tapi.."

"Tidak ada tapi, Baekhyun."

Baekhyun mengerjap. Dia merasa aneh. Sematan namanya di akhir kalimat yang Chanyeol ucapkan tiba-tiba menimbulkan dentum kencang di dalam dadanya. Jauh lebih kencang dibanding sebelumnya. Tubuhnya lelah, dan hening bercampur deru samar dari luar mobil seharusnya cukup untuk membuat Baekhyun jatuh tertidur saat ini juga.

Tetapi Baekhyun tidak mungkin bisa tertidur dengan keadaan jantung berdetak luar biasa cepat seperti saat ini.

Sampai mobil mulai mendekati akhir dari jalan raya dan menuju persimpangan menuju deretan perumahan, Baekhyun tidak merasa detak jantungnya telah membaik. Ia mulai berpikir kalau kombinasi kelelahan serta kurang tidur membawa dampak yang demikian pada tubuhnya.

.

.

Chanyeol memperoleh tatapan serupa yang ia terima pada kali terakhir menginjakkan kaki di depan rumah yang sama dari lelaki tinggi yang menyambut di pintu. Kedua saudara di hadapannya bertukar pelukan singkat, lantas Chanyeol turut masuk setelah dipersilahkan oleh sang pemilik rumah.

"Chanyeol..? Apa kau akan tetap di sini?"

Chanyeol bersedekap menyilangkan tangan mendengar itu, "Kau mengusirku?"

"T-tidak! Maksudku.. kupikir kau sedang sangat sibuk..? Aku bisa pulang naik taksi.."

"Tidak," ujar Chanyeol cepat. "Kau tidak akan naik taksi." Selanjutnya, Chanyeol mengambil tempat di sofa, sementara Baekhyun masih berada di dekat meja pantry bersama Jongin yang telah duduk manis di sana.

".. kalau begitu akan kubuatkan kopi. Tolong tunggu sebentar."

Sedang si penyanyi mulai sibuk di dapur, Chanyeol menopang kepala dengan sebelah tangan, memilih menggunakan waktu untuk mengistirahatkan diri. Pulang ke apartemen mungkin akan memakan waktu jauh lebih singkat, dan Chanyeol tidak perlu berkendara selama hitungan jam untuk pulang-pergi dari tempatnya sekarang. Tapi Chanyeol tidak merasa itu sepadan dengan membiarkan Baekhyun pergi sendiri atau bersama orang lain.

Setelah meletakkan secangkir kopi untuk Chanyeol, Baekhyun kembali berkutat di dapur. Walaupun tidak bisa dibilang pandai memasak, ia selalu berusaha melakukannya karena Jongin selalu minta dibuatkan makanan. Maka Baekhyun selalu menyempatkan diri mencari tahu cara-cara memasak sampai bisa membuat setidaknya beberapa jenis menu.

Ketika makanan sudah siap dan ia menemani adiknya makan, Baekhyun memperoleh satu tanya dari adiknya itu.

Begitu otaknya mampu memproses apa arti isyarat yang Jongin berikan, Baekhyun dibuat merasakan panas di pipinya. Tanpa disadari bagian itu mulai memerah selama Jongin masih menatap padanya menunggu jawaban.

"Tidak, Jongin. Dia atasanku," jawab Baekhyun pelan. Jongin bisa menangkap perkataan singkat dengan memperhatikan gerak mulut, jadi Baekhyun dapat memastikan jawaban itu dipahami adiknya.

Setelah Jongin bahkan tidak lagi membahasnya, Baekhyun masih mengaduk-aduk makanannya, menggigit bibir karena jantungnya kembali memompa cepat hanya karena pertanyaan yang Jongin lontarkan.

'Apa Direktur itu kekasihmu?'

Pertanyaan yang konyol, tetapi Baekhyun tidak tahu kalau reaksi tubuhnya tak kalah konyol. Dengan tidak tahu malu otaknya memutar kembali kecup singkat yang ia terima malam itu. Untuk apa dia malu? Chanyeol mungkin hanya tidak sengaja melakukannya.

"Habiskan makananmu. Kau harus segera tidur," ujar Baekhyun pelan, menghabiskan segera seporsi kecil makanan di mangkuknya sendiri.

Meski selepas makan Jongin tiada henti mengajaknya mengobrol, Baekhyun tidak berniat berlama-lama berkunjung dengan pikiran Chanyeol akan membuang lebih banyak waktu untuk menungguinya. Maka setelah beberapa waktu dihabiskannya bersama sang adik, Baekhyun memastikan Jongin masuk ke kamarnya untuk segera tidur, memberitahukan bahwa ia akan segera pergi setelah membereskan peralatan makan mereka.

Buru-buru melangkahkan kaki ke arah sofa, Baekhyun terhenti tepat setelah menyadari Chanyeol telah terpejam di sana. Cangkir di meja masih penuh berisikan cairan hitam—belum tersentuh.

"Chanyeol..?" panggil Baekhyun pelan. Kenihilan reaksi membawa kesimpulan bahwa sang direktur benar telah tertidur.

Dengan berpangku kaki, kedua tangan telentang pada sandaran sofa, serta kepala yang menengadah tersandar pada bantalan di balik tengkuk, sang direktur bahkan masih tampak begitu berwibawa.

Perlahan, Baekhyun membawa kaki menuju sofa yang sama. Menempatkan diri di sudut satunya pada sofa panjang tersebut. Ia menaikkan kedua kaki ke atas sofa dan duduk bersila menghadap tepat ke pada sang direktur hingga kini ia dapat melihat dengan jelas tampak samping dari sosok yang tengah terlelap itu.

Dan sebagaimana terakhir kali Baekhyun mendapati sosok Chanyeol dalam keadaan terpejam, ia telah tanpa sadar mengagumi pahatan tegas yang dimiliki sang direktur pada rupa fisiknya. Sembari itu Baekhyun mengistirahatkan kepala sejenak pada sandaran di sisi tubuhnya.

Chanyeol seperti sosok yang begitu sempurna. Dia seorang musisi, dan telah berhasil membawa perusahaan sebesar LOEY-Music pada posisi saat ini di usia yang masih terbilang muda. Dan, sebab Baekhyun merasa telah menerima banyak sekali kebaikan hatinya, ia tidak ragu lagi untuk menyematkan frasa baik hati tersebut pada sosok ini—di samping segala kesan otoriter yang seringkali Baekhyun saksikan.

Baekhyun tidak menemukan apapun dalam dirinya yang mungkin menjadi alasan sang direktur untuk bersikeras mengakuisinya dari agensi sebelumnya. Seorang Park Chanyeol pasti memiliki banyak artis yang Baekhyun yakini berada jauh di atasnya.

Kalau tidak dengan melakukan yang terbaik, Baekhyun tidak tahu apa lagi yang dapat dilakukannya untuk Chanyeol, terutama untuk apa yang telah dilakukannya atas adiknya, Jongin.

Baekhyun memutuskan membiarkan sang direktur memiliki waktu istirahatnya, dan akan membangunkannya beberapa saat lagi.

.

.

Chanyeol terbangun dengan sedikit rasa sakit di leher. Ia menguap seiring mata membuka semakin lebar, berusaha menyesuaikan pandangannya pada ruangan terang tempatnya berada.

Saat menyadari di mana ia berada sekarang, Chanyeol buru-buru mengecek jam di pergelangan tangan.

Pukul 4 pagi.

Sial, dia tertidur selama itu.

Dan ia masih berada di rumah Baekhyun.

Chanyeol berupaya bangkit membenahi posisinya namun lengan kirinya menyenggol sesuatu. Begitu menoleh, ia mendapati Baekhyun di sisi kirinya, di sofa yang sama. Bersandar menyamping menghadap padanya dengan kedua mata terpejam.

Jadi, anak ini tertidur alih-alih membangunkannya.

Baru saja Chanyeol ingin meletakkan tangan di bahu Baekhyun demi membangunkannya, sebuah lenguhan terdengar dari sosok itu, dibarengi gerak tak nyaman singkat sebelum empunya kembali lelap dalam diam.

Suara itu membawa netra sang direktur pada sumbernya—menuju bilah bibir ranum milik si lelaki pendek. Terpaku, karena bibir itu bahkan masih merekah dengan warna merah muda tanpa sentuhan pewarna bibir apapun.

Entah sejak kapan, Chanyeol mempertanyakan mengapa dirinya selalu memiliki kecenderungan untuk membawa lebih dekat sosok ini. Sedekat mungkin, di bawah kuasanya. Kecenderungan yang awalnya hanya berupa dorongan untuk memiliki keuntungan besar dari sosok yang begitu potensial di atas panggung.

Tetapi kian hari dorongan itu kian memberontak.

Chanyeol bahkan merasa bergejolak hanya untuk sepasang bilah bibir merekah milik sang penyanyi.

Hening keadaan rumah membuat waktu seakan berhenti, persis seperti mata elang sang direktur yang masih pula terhenti pada objek yang sama. Naik ke kedua kelopak kecil yang tertutupi anak rambut, turun ke pahatan hidung kecilnya, lantas kembali lagi pada bibir kecil yang menjadi awal tambat matanya.

Di ambang kesadarannya, Chanyeol perlahan mendekat demi menggapai bibir itu dalam dominasi miliknya.

.

oOo

.

.

Masih mabok.. sama moment cb kemaren...

Pas itu saking senengnya mau up dobel, tapi apa daya tugas menunggu. Tapi itu pertama kalinya setelah sekian lama saya ngerjain tugas ikhlas lahir batin sambil nyanyi2 saking bahagianya hahahaha

Makasih banyak atas review dan kata2 penyemangatnya! Luuvv kimbyyna | shinwava | ChanBaek09 | raeshin | fifakna | KlyJC | lightdelight | jinahyoo | baekhyuneew | NLPCY

Ada yang bisa nebak kenapa ff ini selalu cuma update dgn jumlah kata sedikit? Ada yang kepo? Ada nggak? Nggak ada?

Hehe, si yu ai lap yu