The Turbulence
.
.
oOo
.
"Hey," Bersama guncangan pelan, Chanyeol menempatkan tangannya pada bahu Baekhyun yang masih terlelap. Beberapa detik milik lelaki itu yang Chanyeol curi untuk—uhm—sebuah ciuman, nyatanya tidak berefek apa-apa bagi tidur lelapnya.
"Baekhyun," Chanyeol memanggil lagi dengan guncangan yang sedikit lebih keras.
Suara erangan akhirnya terdengar diikuti empunya suara yang menggeliat di tempatnya.
"Hng?" Kelopak mata terbuka, namun Baekhyun jelas belum benar-benar kembali dari alam mimpi. "Chanyeol? Kenapa dia ada di sini?"
Gumaman kecil terlontar dari bibir si lelaki yang baru bangun dari tidurnya itu. Setengah sadar akan keadaan.
"Bangun. Ini sudah pukul empat pagi." Chanyeol kembali ke posisi duduknya, merapikan kain jas bersiap untuk bangkit. "Tolong beritahu aku di mana kamar mandinya," pintanya.
"..."
Chanyeol mengernyit ketika balasan tidak segera didapatkannya. Ketika menoleh, ia tepat mendapati Baekhyun mematung dengan mata terbelalak lebar.
"M-maaf! Maafkan aku! Astaga jam berapa ini—sebentar—" Baekhyun buru-buru berdiri. Sayangnya, bangkit tiba-tiba saat kau baru sadar dari alam mimpi rupanya bukanlah pilihan yang bagus. Baekhyun tergelincir oleh kakinya sendiri dan terhempas kembali ke atas sofa.
"Ck, hati-hati!" Chanyeol refleks merespon kecerobohan itu, dengan begitu saja menangkap pinggang Baekhyun dengan sebelah lengannya.
"M-maaf.." Baekhyun mengkerut di tempat, lantas menjauh begitu menyadari lengan sang direktur mendarat melingkar di pinggangnya.
"Sudahlah, tidak perlu seperti itu," Chanyeol mengibaskan tangan, "Kita akan mengejar waktu perjalanan nanti, jadi tolong tunjukkan dulu di mana kamar mandinya." Chanyeol bangkit, sekali lagi membenahi kusut kain jas akibat kegiatan tidurnya beberapa waktu yang lalu.
"Ah, iya.. k-ke sini,"
Baekhyun akhirnya bangkit melangkah menuju pintu tak jauh dari kamar sang adik di sudut ruangan tak seberapa besar itu. Setelah Chanyeol masuk, Baekhyun membenahi apapun yang ada di dapur, kembali memastikan semuanya telah kembali pada tempatnya.
Melirik jam, Baekhyun masih pula belum percaya ia dapat memperoleh tidur nyenyak dengan keberadaan orang lain dan dalam posisi yang tidak biasanya. Ia mudah terjaga pada keadaan yang ia tahu mengharuskannya untuk itu, dan berada bersama Chanyeol seharusnya termasuk pada salah satunya. Namun ia benar-benar terlelap selama itu. Memperoleh sang direktur sebagai orang yang memergokinya sungguh tidak pernah Baekhyun harapkan.
Baekhyun memukul kepala dengan kepal tangannya. Itu benar-benar bodoh dan tidak sopan.
"Kenapa memukul kepalamu sendiri?"
Baekhyun berjengit. Taunya Chanyeol telah berdiri di seberang tempatnya berada.
"Tidak—"
Sejenak, Baekhyun tertegun. Direkturnya tampak sedikit berbeda—tidak, sangat berbeda—ketika surai pirangnya tak dalam kondisi tertata rapi oleh gel rambut. Helainya dibiarkan berantakan dengan keadaan setengah basah oleh air.
"Ada apa?"
Pertanyaan Chanyeol menyadarkan Baekhyun tentang beberapa detik yang telah ia habiskan hanya untuk terpaku pada perubahan kecil pada penampilan sang direktur. Ia menggeleng, buru-buru mengalihkan pandangan, menunduk melangkah keluar dari dapur yang hanya berbatas meja pantry dari tempat Chanyeol berdiri.
"Ayo," Chanyeol bergerak cepat ke pintu keluar, dengan Baekhyun yang mengekor patuh di belakang.
Menuju mobil, Baekhyun tidak tahu mengapa ia tak mampu melepas pandangannya dari punggung lebar itu.
.
oOo
.
Baekhyun jelas tahu ini bukan panggung pertamanya. Ia memiliki cukup kesadaran untuk sekadar ingat bahwa ia telah melewati itu beberapa bulan yang lalu. Tetapi duduk memandang pantulannya di depan cermin dengan seorang perias yang tengah memberi sentuhan akhir di sana-sini pada wajahnya bisa-bisanya membuat rasa gugup meliputi benak.
Ini pernampilan pertamanya setelah beberapa minggu persiapan yang singkat pasca kepindahannya ke agensi baru. Rasanya seperti tidak ada bedanya dengan saat ia debut pertama kali. Istilah re-debut benar-benar menggambarkan bagaimana sesungguhnya itu terasa.
Mengingat apa yang tengah dilakukan oleh perias adalah hanya menambahkan beberapa riasan finishing, sudah barang tentu Baekhyun telah lengkap mengenakan outfit panggungnya. Suit merah bercorak hitam, tanpa kain tambahan di balik jas yang ia kenakan sehingga leher serta dadanya yang telah dipasangi chest garter terpampang dengan jelas. Rambut hitamnya ditata sedemikian rupa tanpa benar-benar membuatnya terlalu kontras dari rambut aslinya, sementara wajahnya dibingkai riasan tipis dengan sedikit pengecualian untuk kelopak mata yang dibubuhi eyeshadow tebal serta garis eyeliner hitam pekat.
Ketika perias telah benar selesai dengan urusannya, Baekhyun justru merasakan demam panggungnya semakin menjadi. Ia mulai menggigiti bagian dalam bibir sementara kaki yang tersilang terus bergerak gelisah.
Astaga, Baekhyun tidak menyangka dirinya akan menjadi begitu gugup. Sekali lagi, ini bahkan bukan kali pertama ia tampil di atas panggung.
Bukan maksudnya ia takut berdiri di atas panggung. Apalagi semata nervous karena telah lama tak tampil di hadapan orang banyak. Setidaknya Baekhyun cukup paham alasan kegelisahannya karena alasan itu terus terbayang-bayang dalam pikirannya sejak semalam.
Park Chanyeol.
Apakah Baekhyun terlalu berlebihan dengan berpikir kalau dirinya takut panggungnya akan mengecewakan pria itu?
Ya, Baekhyun menjawab sendiri di dalam hati. Tapi kebenaran pernyataan itu tak sama sekali membantu. Nyatanya ia telah benar-benar cemas setengah mati. Ia berusaha sebaik mungkin mengusai lagu beserta koreografinya, mengingat betapa lagu ini memiliki konsep yang tak biasa.
Detik berikutnya, Baekhyun mencoba mengalihkan semua perasaan itu dengan mulai menggigiti ujung batang telunjuknya sendiri.
Baekhyun terlalu sibuk dengan pikirannya sembari terus menatap pantulan diri di cermin—memeriksa apakah sesuatu yang ia kenakan telah rusak atau terkacaukan. Dan kesibukan itu membuatnya luput dari memperhatikan kehadiran seorang di belakang.
"Sudah selesai?"
Baekhyun terlonjak di kursinya. Ia baru akan menoleh namun telah lebih dulu menangkap bayangan seorang yang bicara dari cermin di hadapan.
"Chanyeol.."
Chanyeol maju selangkah, dengan tetap berdiri tegap di belakang Baekhyun bersama kedua tangan tersimpan di balik kain saku celana. Ia menatap sang solois melalui perantara permukaan cermin.
"Sudah selesai?" ulang Chanyeol.
"Y-ya," jawab Baekhyun sekenanya. Ia tahu, ini mungkin tidak sopan karena ia tak segera membalik badan agar dapat menghadap langsung kepada sang direktur. Namun aura keberadaan Chanyeol yang pekat terasa terlalu berat bagi Baekhyun yang sedang menghadapi demam panggungnya. Maka dengan harapan sang direktur tidak mempermasalahkannya, Baekhyun bertahan pada posisi bertukar pandang secara tidak langsung yang tengah mereka lakukan.
Bertemu Chanyeol di saat seperti ini mengingatkan Baekhyun tentang betapa waktu persiapan untuk panggungnya ini sangat didominasi oleh kehadiran sang direktur—mengingat lagu itu sendiri pun adalah ciptaannya. Serta, bahwa bergabungnya Baekhyun di LOEY-Music ialah bagian dari campur tangan langsung darinya.
Itu bagaikan alarm pengingat bagi Baekhyun untuk melakukan segalanya sesempurna mungkin.
"Bagaimana perasaanmu?" Chanyeol bertanya lagi tanpa benar-benar mengukir ekspresi. Dan meski Baekhyun tahu pertanyaan itu cukup wajar terlontar dari seorang yang berperan dalam membawa karirnya ke sini, itu tetap membuat degup jantungnya semakin menggila.
"Aku.." Berpikir sejenak, Baekhyun menimbang apakah ia dapat berkata jujur ataukah tidak. ".. gugup," lanjutnya, memutuskan untuk memilih opsi pertama.
Ruang tunggu beranjak sepi. Make up artist dan stylist kebanyakan sudah menyelesaikan pekerjaannya dan kini tidak berada di tempat. Kyungsoo pula belum kembali setelah mengantarkan kostum panggungnya setengah jam yang lalu.
Kedua tangan Chanyeol beralih dari saku menuju tersilang di depan dada, "Itu bukan berita bagus," katanya dengan sedikit kerut di dahi. "Tapi juga bukan hal yang buruk," tambahnya.
Baekhyun menggigit bibir. Belum menemukan respon untuk dapat diberikan. Ia hanya mulai berpikir konyol tentang kalimat kedua Chanyeol yang terdengar seperti berusaha menghiburnya.
"Jangan lakukan itu,"
"Uh? Apanya?" Baekhyun bertanya bingung atas perkataan tiba-tiba sang direktur.
Chanyeol menunjuk dengan dagunya, "Kau menggigiti bibirmu. Itu akan merusak riasannya. Kau tidak tahu seberapa tajamnya gambar yang bisa tertangkap kamera sampai kekurangan kecil saja selalu bisa terlihat,"
"Oh, maaf." Tersadar, Baekhyun segera mematuhi apa yang Chanyeol perintahkan. Ia tidak sadar telah terlalu larut melakukan itu.
"Bersiaplah. Panggungmu dimulai beberapa menit lagi," kata Chanyeol, sebelum kembali memasukkan tangan ke dalam saku dan berbalik pergi.
Baekhyun segera membungkuk di kursinya, sementara Chanyeol telah berlalu dari ruang tunggu. Kedua telapak yang ia sembunyikan di balik saku celana terkepal kencang, sementara kakinya ia bawa melangkah cepat-cepat. Bersama itu, Chanyeol menggertakkan giginya, menahan sesuatu dalam dirinya yang mulai bergejolak dan mungkin meledak bila ia tak segera angkat kaki dari ruang tunggu artisnya.
Sialan kepada matanya yang secara tidak sengaja jatuh pada bibir tipis penyanyi itu, dan sialan kepada chest garter yang melilit leher hingga sepanjang garis dada terbuka penyanyi itu. Riasan mata yang cukup tebal bahkan membuat seorang Byun Baekhyun memancarkan aura yang begitu berbeda.
Chanyeol hanya tidak tahu kalau lelaki itu dapat menciptakan reaksi signifikan dari tubuhnya dengan itu semua.
.
.
Lampu sorot belum dinyalakan. Namun seisi studio televisi tempat rekaman dilakukan yang telah dipenuhi oleh fans yang hadir telah dipenuhi jeritan membahana sebab mereka tahu sang idola telah berada di tengah panggung. Hanya beberapa waktu sebelum lagu dimulai.
Dan studio terasa akan pecah ketika lampu bernuansa merah telah terarah pada seorang solois yang memulai intro langsung dengan vokal yang menakjubkan. Teriakan semakin bergemuruh ketika Baekhyun memulai tariannya.
Come closer, i need you
My head feels like it might burst
Get away, keep your distance
Seperti deja vu, bagaimana Chanyeol memposisikan diri demi lamat-lamat mengamati seorang di bawah lampu sorot, seolah mengulangi hari di mana ia pertama kali menyaksikan penampilan dari sosok yang sama.
Chanyeol berdiri di sisi studio yang remang, tak jauh dari sisi panggung. Bersedekap dengan mata awas mengamati aksi panggung di atas sana. Apakah setiap nada dari lagu gubahannya dapat digapai dengan baik, apakah koreografi yang dilakukan mempengaruhi kestabilannya. Ia perlu mengamati setiap detail penampilan yang ada, karena bagaimanapun semua ini adalah bagian dari campur tangannya selama proses produksi.
Atau, sesederhana karena ia tidak mampu melepaskan matanya dari si lelaki Byun di atas panggung.
"Wow, seorang presiden direktur yang baik hati mengevaluasi comeback stage artisnya secara langsung, huh?"
Suara yang tiba-tiba hadir di sampingnya memaksa Chanyeol menoleh demi mencari tahu siapa sumbernya. Namun itu tak berlangsung lama karena ia sama sekali tidak berminat mengganti labuh atensinya dari panggung hanya untuk sosok itu.
"Aku tidak dalam kondisi memiliki waktu untuk omong kosongmu," tukas Chanyeol dengan mata yang tetap berfokus pada objek awal. Ia tidak berniat melempar atau menggunakan kalimat formal lagi terhadap pria tinggi yang kini turut berdiri cukup dekat di sampingnya. Dan ia yakin begitu pula pria itu.
Killian Wang mendengus bersama senyum miringnya, merasa lucu akan pernyataannya sendiri, melihat bagaimana pria bersurai sewarna platina itu bahkan tidak tampak seperti tengah melakukan evaluasi.
Sesuatu mencuri perhatian Killian. Bahkan sesungguhnya, itu terjadi sejak hari-hari lalu di mana Park Chanyeol secara simultan membuat kontak dengannya hanya untuk mengakuisisi seorang artis. Sebagai seorang yang selalu memonitor keadaan musuhnya, Killian tentu memiliki pemahaman sendiri tentang tabiat Park Chanyeol, termasuk wujud ego tak terbantahkannya untuk selalu ingin memenangkan apapun yang diinginkan, demi mendapatkan keuntungan yang diprediksikan.
Bukan dengan sengaja Killian mencari Chanyeol. Ia hanya memiliki beberapa urusan di stasiun televisi dan secara kebetulan menangkap eksistensi pria itu di gedung yang sama. Mau tidak mau, rasa penasarannya menyeruak dan bertambah berkali-kali lipat.
Dan semua itu seperti terjawab tepat pada saat ini. Ketika sorot mata sang direktur bermarga Park bahkan tak sama sekali mirip dengan tatapan yang diberikan seorang atasan sepertinya kepada sang artis.
In a blink of an eye
I can change my face
I feel like I'm going crazy
You probably won't understand me
All of this was you
Perpaduan sound system dan teriakan penggemar cukup menghambat siapapun yang ingin bercakap. Namun entah bagaimana, perkataan Killian yang disuarakan dengan begitu rendah masih dapat dengan jelas ditangkap oleh daun telinga Chanyeol.
"Kau jatuh cinta pada artismu,"
Bukan serupa kalimat pertamanya yang adalah pertanyaan, kali ini Killian memberi pernyataan dengan keyakinan nyaris seratur persen.
Kalimat itu mengundang kedutan pada alis pria dengan status pemilik agensi besar LOEY-Music. Chanyeol melirik Killian, menilai kalimat tersebut sebagai kalimat paling tak masuk akal yang diterimanya dari sesama pegiat dunia hiburan di tengah lingkup pekerjaan.
Lagu mulai menyentuh akhir. Ratusan penggemar yang hadir membuat riuh semakin menjadi.
Chanyeol menarik sebelah ujung bibir, mendengus sarkastik.
"Simpan hipotesis konyolmu untuk dirimu sendiri."
Butuh beberapa detik sebelum Killian dapat menjawab. Bukan kehabisan kata, melainkan menemukan bahwa kalimat yang baru ia lontarkan tentang si pria bermarga Park semakin terlihat jelas seiring matanya mengamati gurat ekspresi di sana.
Itu membuat Killian tak tahan untuk tertawa kecil. Disambung dengan senyum miring sarat ejekan untuk rival dunia hiburannya itu. Apa yang diperlihatkan Chanyeol justru membuat Killian ingin tertawa keras-keras di depan wajah pemilik LOEY-Music itu.
"Saat dimana kau menjilat ludahmu sendiri, aku sangat menantikannya," ucap sang pria Wang masih dengan sudut bibir terangkat sebelah, sebelum setelahnya pergi berlalu.
Chanyeol tidak benar memberi respon. Masih terfokus pada penampilan artisnya di atas panggung. Namun, tidak pula kata-kata itu lewat begitu saja, melainkan seolah terucap berulang-ulang di dalam kepalanya entah oleh siapa.
.
.
Dibanding hari-hari persiapannya, panggung pertama tidak lagi terasa memberatkan bagi Baekhyun—tentunya selain beban mental yang sempat ia rasakan. Pukul 8 malam, Baekhyun sudah sampai di kamarnya tanpa kesibukan tambahan lain. Tiga hari dari sekarang adalah jadwal kedua sekaligus terakhirnya untuk melakukan promosi di atas panggung, sebelum memulai kesibukan lain pada beberapa kontrak yang sudah ditandatangani.
Rambut yang basah sehabis membersihkan diri ia keringkan dengan sehelai handuk, duduk di sisi single bed miliknya. Baekhyun meraih ponselnya di atas nakas, berniat menuju aplikasi pemutar lagu untuk membuka playlist yang disimpannya agar dapat membantunya tidur lebih cepat. Memperoleh sedikit lebih banyak tidur dari biasanya mungkin menjadi pilihan yang bagus agar energinya bisa berada dalam kondisi penuh saat melaksanakan schedule berikutnya.
Punggung Baekhyun rebahkan ke atas kasur. Jemarinya mulai bergerak menjamah layar sentuh benda di genggamannya. Tetapi, alih-alih langsung membuka aplikasi yang diinginkan sebelumnya, jarinya terhenti tepat di atas logo aplikasi yang lain, yang serupa logo agensinya.
Aplikasi dibuka. Menu program pada layar berganti laman berisi konten agensi. Publikasi teratas, adalah cuplikan serta ulasan penampilan perdananya beberapa jam yang lalu. Baekhyun tidak menimbang lagi untuk menekan judul dan membukanya, lantas menggulirkan layar langsung ke kolom komentar.
'Sukses besar! Baekhyun-oppa fighting!'
'Baekhyun aku mencintaimu!'
'Sejujurnya aku tidak merasa lagu itu cocok dengan Baekhyun.'
_[Reply] 'Benarkah? Tapi kudengar lagu itu diciptakan oleh Chanyeol-oppa.'
_[Reply] 'Kalau begitu bukankah Baekhyun-oppa yang tidak becus membawakannya?'
_[Reply] 'Kkkkk. Aku setuju!1!1 Tarian Baekhyun juga payah sekali.'
_[Reply] 'Seperti kau bisa menari saja. Jangan ganggu Baekhyun kami!'
_[Reply] 'Benar! Baekhyun-oppa telah bekerja keras!'
_[Reply] 'Bodoh. Kalian benar-benar tidak bisa membedakan mana talenta dan mana keberuntungan. Byun Baekhyun tidak akan dikenal kalau bukan karena nama besar agensinya. Hahaha.'
Terus dan terus, baik jari serta mata Baekhyun tidak berhenti bergulir pada baris-baris yang bertumpuk di kolom komentar penggemar. Itu seperti rekor melihat bagaimana kolom tersebut dipenuhi ratusan ribu komentar hanya dalam beberapa jam.
—kalau saja bukan sarkasme dan hujatan yang mendominasi isinya.
Baekhyun menghentikan ibu jarinya sejenak. Memejamkan mata dengan bibir yang diam-diam tergigit cukup keras.
Seperti halnya tampil kembali di atas panggung, memperoleh hal seperti ini bukan yang pertama kalinya. Tetapi dampak yang muncul selalu saja sama.
Hanya selang tiga detik, Baekhyun bangkit, mengurungkan niat awalnya merebah di atas kasur yang empuk. Ponsel ia hempas di atasnya lantas kaki ia bawa menuju lemari. Segera setelah mengganti baju tidurnya dengan kaus tipis dan jaket hitam serta mengenakan cap berwarna senada, Baekhyun beranjak meninggalkan kamarnya.
.
.
Empat jam berlalu. Pengeras suara masih memutar lagu yang belum selesai tapi Baekhyun telah terduduk di atas lantai studio, di hadapan cermin besar yang melapisi nyaris seluruh sisi dinding dalam ruangan.
Baekhyun beruntung memperoleh satu ruangan yang kosong untuk dirinya sendiri. Meski itu adalah satu yang dibiarkan tanpa renovasi dan sesungguhnya tidak lagi digunakan oleh artis-artis LOEY-Music.
Sambil terengah, Baekhyun berusaha mengumpulkan sisa tenaga yang ada. Kedua siku bertumpu pada lutut yang tertekuk. Kaus hingga jaket yang dikenakan telah basah oleh keringat. Baekhyun bahkan bisa melihat dari pantulan dirinya di cermin ujung-ujung rambut kuyupnya yang tertutup topi telah meneteskan air keringat.
Ini belum cukup.
Ia meraih tasnya di perpotongan lantai dan cermin beberapa langkah di depan. Mengeluarkan ponsel hitamnya dari sana. Jarinya dengan ragu mengetuk pada satu nama di daftar kontak yang tertera pada layar, sebelum melayang di atas tombol hijau untuk membuat sebuah panggilan. Meskipun berbagai pertimbangan berseliweran di benaknya, toh Baekhyun tetap melakukannya.
Tombol hijau ditekan. Nada sambung mulai terdengar selama beberapa saat.
"Halo? Ada apa?"
Baekhyun mengulum bibir. Dia tahu malam telah larut dan itu tentu menjadi hal utama yang harus dipertimbangkannya untuk memberitahu seorang di seberang telepon tentang keperluannya.
"Sehun,"
"Ya, ada apa?"
"Kau sibuk?"
"Uh.. Aku masih syuting sekarang.."
"Bagaimana dengan besok malam?"
Tanpa sadar, Baekhyun telah menggigiti ujung jari telunjuk dari tangannya yang bebas.
"Setelah jam sebelas.. kurasa kosong,"
Sekali menjilat bibir, barulah Baekhyun menyahut kembali, "Boleh aku minta bantuanmu.. lagi?"
"Apa ini tentang Jongin?"
"... Bukan,"
Hening sejenak, dan Baekhyun berharap-harap cemas menunggu jawaban dari Sehun.
"Di mana? Kita tidak lagi berada di agensi yang sama, Baek,"
"Aku akan mencari tempat lain. Jadi.. bisakah?"
"... Tentu,"
Di antara penatnya, Baekhyun bisa merasakan penuh di dada akan rasa senangnya memperoleh afirmasi dari temannya itu.
"Thank you, Sehun. Again,"
Tidak ada jawaban lagi. Baekhyun berpikir itu tanda ia harus segera mengakhiri panggilan tapi suara Sehun kembali terdengar.
"Baek,"
"Ya?"
"Selamat atas penampilan perdanamu. You should know that you're doing great,"
Seharusnya, Baekhyun berterimakasih atas kalimat itu. Seharusnya, Baekhyun merasa senang karena seseorang memuji penampilannya.
Tetapi ia tidak. Hanya bertukar tatap dengan dirinya yang ada pada pantulan cermin besar di hadapan, hingga panggilan harus diakhiri oleh pihak yang dihubungi karena si penyanyi membisu bersama dirinya sendiri.
.
oOo
.
Panggung kedua. Satu sebelum yang terakhir bagi Baekhyun untuk mempromosikan single perdananya di bawah agensi yang baru.
Untuk ke sekian kalinya, Baekhyun berusaha mengingatkan dirinya sendiri bahwa ini bukan penampilan pertamanya. Bukan kali pertama ia bernyanyi sendiri di atas panggung, bukan kali pertama ia menari dan memiliki seluruh panggung untuk dirinya seorang.
Tetapi telapaknya mulai berkeringat. Dingin. Sensasinya puluhan kali lebih buruk dari penampilannya tiga hari lalu.
Baekhyun telah sempurna memposisikan diri di tengah panggung. Lampu sorot akan dinyalakan beberapa detik lagi. Teriakan penggemar yang terlanjur membahana telah memenuhi pendengarannya di saat in-ear belum memutar instrumen.
Kebas pada beberapa bagian tubuh membuat Baekhyun sejenak memejamkan mata, bersamaan dengan sensasi berputar-putar di kepala. Dan itu semakin hebat ketika nada instrumen memasuki indera pendengarannya.
Gerakan pertama terasa seperti siksaan bagi otot-ototnya yang terasa nyeri. Koreografi yang imbang dengan gilanya lagu yang dibawakan menambah sensasi itu hingga ke taraf tak tergambarkan. Tapi Baekhyun pikir, memasuki pertengahan lagu, ia mulai bisa mengatasinya. Ia hanya perlu mengikuti langkah-langkah yang telah dihafalnya di luar kepala, dan melanjutkan nyanyian beberapa saat lagi sebelum menyentuh akhir penampilan.
Namun tepat pada pertengahan lagu itu pula, tubuhnya limbung. Seisi studio tampak jungkir balik di penglihatannya, sebelum hitam menyambut dan sepenuhnya mengambil alih kesadarannya.
.
oOo
.
Turbulence [n.] A state of conflict or confusion
.
.
Um.. hello?
Ehehehe, sorry for late up dan justru up beberapa ff lain. Nggak nyangka masih ada yg mau baca cerita ini huhu
Tbh mood untuk ff ini sempet ilang, dan pas balik, I have to deal with sort of health problem. Asddffkgkjdkjnmnsd /banyakalasananda!/ Huhuhu, pokoknya buat yg masi bacain tulisan di sini makasih bgt! Maaf saya nggak selalu bisa kasih yg diekspektasikan.. Wuff uuuu sooo much /lovelovelove/
With neverending sincere, thank u for baekhyuneew | KlyJC | fifakna | erishiteru | ChanBaek09 | kahi19 | NLPCY | lightdelight | crescentchie | jinahyoo
