(Before) Chaos
.
.
oOo
.
Chanyeol membalik lembar rekap dokumen yang diberikan Yixing pada awal diskusi mereka tadi. Menatap tabel dengan beberapa kolom yang membandingkan sekian aspek dari comeback beberapa artisnya di waktu belakangan. Termasuk panggung re-debut Baekhyun, yang kali ini menjadi pembahasan utama mereka.
Ruang rapat yang luas lengang. Hanya Chanyeol dan Yixing yang berada di sana sejak beberapa waktu lalu.
"Dari pengamatanku, tidak ada yang salah dengan penampilan Baekhyun." Yixing meletakkan berlembar-lembar kertas berisi data yang digenggamnya sejak tadi, memutar kursi hingga menyamping. Ia menatap lurus pada Chanyeol yang duduk selang dua kursi darinya.
"Grafik turun karena kesalahan kita," tambahnya.
Chanyeol yang tak sedikitpun mengendurkan kerut dahinya sejak diskusi dimulai mengikuti apa yang dilakukan Yixing. Meletakkan kertas-kertas tersebut ke atas meja dan memutar kursi. Ia diam. Kesal. Karena, setelah memikirkannya kembali ditambah data-data yang direkap langsung oleh rekan kerja sekaligus sahabatnya tersebut, Chanyeol tahu kalau perkataan Yixing sepenuhnya benar.
Hari ini, Chanyeol bisa saja kembali pergi ke stasiun televisi di mana Baekhyun tampil. Kembali mengawasi. Namun Yixing lebih dulu datang padanya bersama setumpuk informasi yang kemudian masuk pada kategori genting. Cukup genting baginya untuk mengesampingkan sejenak niat untuk mengunjungi lokasi recording karena ini menyangkut keresahannya akan popularitas artisnya yang menurun.
"Kita terlalu terburu memproduksi lagu dan konsep comeback tanpa melakukan riset lebih jauh." Yixing menghela napas, seperti menyesal akan sesuatu yang telah dikerjakannya untuk sang artis baru. "Ugh, aku benar-benar merasa bersalah padanya karena telah memproduksi lagu dan konsep yang ketinggalan zaman begini."
Tanpa mengubah posisi kursinya, Chanyeol kembali menyambar sebundel kertas di meja. Membaliknya ke halaman depan di mana grafik dengan sedikit penurunan pada garis distribusinya terlampir. Itu rekap posisi lagu di berbagai chart, serta beberapa kriteria lainnya yang menggambarkan popularitas. Tepatnya, popularitas lagu yang hari ini akan dinyanyikan Baekhyun untuk kali kedua sebagai bagian dari rangkaian re-debut-nya. Dibandingkan dengan lagu pertamanya, di agensi sebelumnya.
Yixing yang tahu betul apa yang sedang dipikirkan sang direktur itu segera bersuara.
"Tidak ada yang bisa disyukuri walau grafik hanya menurun sedikit, Chanyeol," katanya, sedikit tajam seolah memperingati. "Bahkan satu angka saja berbeda pada jumlah pendengar lagu, itu memalukan bagi LOEY-Music. Kurasa seharusnya kau lah yang paling merasakan itu."
Rahang Chanyeol sekilas mengeras. Di kepalanya, bukan semata gap popularitas antara produksi agensinya dengan agensi Killian Wang yang terasa menganggu. Melainkan suatu hal tentang si penyanyi itu sendiri. Ia tak tahu jenis perasaan apa itu, tapi ia benar-benar tak menyukainya.
Tapi, Chanyeol seperti tahu dari mana asal rasa itu.
Chanyeol sendiri yang membawa solois itu ke sini. Chanyeol sendiri yang merebutnya. Tetapi ia bahkan tak memberikan sedikit lebih banyak usaha melakukan riset hanya untuk—setidaknya—mempertahankan track record Baekhyun.
"Yah, kuharap si Wang itu tidak melakukan rekap data seperti yang kita lakukan. Atau habislah kau jadi bahan tertawaannya."
Chanyeol belum sempat membalas perkataan Yixing ketika ponselnya di atas meja lebih dulu bergetar simultan. Nama Jun terlihat di sana sebagai yang membuat panggilan. Ia raih benda tersebut dan segera menggeser tombol hijaunya.
Suara Junmyeon dengan cepat terdengar sebelum Chanyeol sempat berujar kata.
"Sajangnim—"
Begitu kalimat pertama di mana Junmyeon melaporkan sesuatu selesai, Chanyeol melesat meninggalkan ruang rapat. Kursinya nyaris terbanting jatuh oleh gerak tiba-tibanya. Dan Zhang Yixing dibuat kebingungan ketika direktur tersebut keluar dari ruangan begitu saja dengan setengah berlari.
"H-hey! Chanyeol! Park Chanyeol!"
.
.
Chanyeol membanting tertutup pintu mobil. Melangkah lebar-lebar nyaris berlari masuk ke gedung, menyerobot lift, dan kembali berlari melintasi koridor backstage tempat pintu-pintu ruang tunggu para idol berjejer.
Tujuannya adalah ruang di ujung koridor—ruangan medis khusus sementara untuk setiap keadaan darurat yang terjadi.
Jarak beberapa meter dari ruang yang ditujunya, keramaian koridor semakin intens. Seperti memberitahu bahwa benar sesuatu darurat itu baru saja terjadi, dan objeknya berada di sana.
Beberapa orang staf Chanyeol paksa meminggir tanpa benar-benar menghentikan langkah cepatnya. Baru ketika sampai di mulut pintu, kakinya persis terhenti di sana walau hanya sepersekian detik. Menatap langsung pada sosok yang terbaring bersama alat bantu napas darurat di atas brankar sebelum melangkah cepat memasuki ruangan. Dan Chanyeol tidak lagi perlu menahan diri untuk langsung menyemprot semua orang yang ada di sana.
"Bodohkah kalian? Sudah berapa lama dia pingsan dan kalian tidak membawanya ke rumah sakit?!" Nada tinggi dari suara berat milik Chanyeol menggema di ruangan yang separuh ramai karena riuh di luar. Tinggal dua meter sebelum kakinya sampai pada sosok tersebut, seorang staf menghadang langkahnya.
"Maaf Tuan, mohon untuk tidak menganggu petugas ruang medis—"
"MINGGIR!"
"Sajangnim—"
Chanyeol menoleh cepat. Napasnya masih memburu karena emosi yang tiba-tiba naik ke ubun-ubun begitu mendapati Baekhyun hanya mendapat penanganan seadanya di ruangan tersebut.
"Jun?!" Ia bahkan baru menyadari kehadiran sekretarisnya tersebut di sana.
"Dia baik-baik saja, pertolongan pertama sudah—"
"Kau ada di sini dan membiarkan Baekhyun hanya menerima penanganan di sini?" Chanyeol memotong. Ia bertanya tajam seolah apapun yang telah Junmyeon lakukan di sana tidaklah sama sekali berguna, tidaklah sama sekali sepadan. "Ke mana perginya kesigapanmu itu, sialan!"
Seisi ruangan hingga beberapa yang menunggu di luar terkesiap mendengar umpatan tersebut. Kim Junmyeon sekilas memejam erat. Bahkan melalui sambungan telepon, Junmyeon tahu bahwa atasannya ini marah besar. Dan terlepas dari apapun itu yang membuatnya sebegini marah, Junmyeon lagi-lagi tahu, bahwa Chanyeol bisa saja memaki dan menyalahkan seisi gedung dalam mode yang demikian. Kebiasaan buruk seorang Park Chanyeol.
Beberapa staf berdiri di dalam ruangan. Sisanya memenuhi koridor di depan pintu. Suasana seramai itu bahkan tidak akan ada efeknya bagi Chanyeol.
Junmyeon mencoba tenang. Dia harus mampu meredakan amarah sang direktur sebelum semua staf di sana dijadikan samsak pelampiasannya. Ketika matanya menoleh ke arah ranjang sempit tempat Baekhyun terbaring, saat itu pula Junmyeon mendapati kedua kelopak mata sang solois membuka perlahan. Junmyeon cepat-cepat mengumumkan.
"Dia sudah sadar." Tertuju kepada Chanyeol, sesungguhnya.
Junmyeon mengamati. Keras gurat wajah Chanyeol mengendur. Meski sedikit, itu lebih dari cukup.
"Keluar," titah Chanyeol. Ia menujukannya pada semua yang ada di sana. Rendah, berat. Itu bergema meski diucapkan dengan cara demikian.
Tetapi para staf bergeming. Posisi mereka jelas tidak dapat membuat mereka paham bahwa Park Chanyeol harus dipatuhi segera. Mereka tidak mengetahui seperti apa tabiatnya. Junmyeon yang menyadari bahwa sang direktur telah berniat membentak siapapun yang tak kunjung bergerak meninggalkan ruangan, buru-buru membantu menggiring semua staf untuk keluar. Mengatakan bahwa mereka hanya perlu meninggalkan ruangan barang sejenak.
Di belakang punggung Chanyeol, pintu ditutup dari luar. Dengan itu sang direktur melangkah. Emosi meledak-ledak yang sempat ia rasa begitu mendengar kabar dari sang sekretaris bahwa Baekhyun tumbang di tengah penampilan telah surut walau tak signifikan. Chanyeol masih tetap memiliki niat untuk menggendong Baekhyun saat itu juga menuju rumah sakit.
Chanyeol semakin mengernyit melihat bagaimana para petugas benar-benar membuktikan betapa tidak bergunanya mereka. Kostum panggung Baekhyun masih melekat di tubuhnya. Tidak ada fasilitas tambahan ketika jelas-jelas suit yang dikenakan sang penyanyi membuat bagian dadanya terekspos—lebih-lebih ketika kostum tersebut dilonggarkan di sana-sini.
Sebelum kedua mata sipit itu menemukannya, Chanyeol melepas jasnya. Menjadikannya pelapis di atas bagian tubuh si lelaki pendek yang terbuka.
Seiring mata sipit itu berkedip perlahan mengumpulkan kesadaran, Chanyeol mulai kembali sibuk bersama pikirannya sendiri. Chanyeol, tidak tahu apa yang membuatnya begitu marah. Apakah karena ketidakbecusan siapapun yang memberikan penanganan seremeh ini pada artisnya, pada Junmyeon yang baginya bertindak begitu lamban dengan tidak mengambil langkah apapun seperti melarikan Baekhyun ke rumah sakit dengan segera, atau hal lainnya. Namun ia rasa bukan itu. Karena, ia tak pernah mengamuk hanya karena seorang artis yang jatuh pingsan dan menerima penanganan yang memang biasa dilakukan untuk kecelakaan serupa.
Chanyeol berdiri di sisi brankar. Hanya diam menunggu kedua bola mata dengan kelopak yang baru terbuka itu sepenuhnya menggaet kesadaran.
Yang terjadi ketika Baekhyun menyadari keberadaan Chanyeol di samping tempatnya berbaring adalah lelaki itu memekik tertahan, lantas berusaha bangkit tanpa benar-benar tahu kalau kepalanya bahkan masih terlilit masker oksigen. Chanyeol mencondongkan tubuhnya cepat demi menahan gerakan itu. Menahan sebelah bahu Baekhyun agar ia tetap berbaring.
"Stay there. Kalau kau lupa, kuberi tahu kau baru saja pingsan di atas panggung," ujar Chanyeol datar. Ia mengembalikan tangan pada saku celananya setelah memastikan Baekhyun tak lagi memaksa bangun dari baringan.
Baekhyun memejam sejenak ketika merasa kepalanya kembali berputar-putar. Bersamaan dengan menebalnya kesadaran yang berhasil ia peroleh, rasa nyeri di berbagai bagian tubuhnya kembali terasa. Ia berani bertaruh nyerinya akan sangat luar biasa bahkan jika ia hanya mengangkat tangan untuk sekadar memijat kepala.
Melirik sang direktur yang terdiam setelah mengucapkan kalimat tak beremosi, Baekhyun buru-buru mengalihkan pandangan. Kedua mata itu menatap lurus padanya. Dan posisi Baekhyun yang terbaring sedang pria itu berdiri menjulang di sampingnya semakin memperjelas betapa mengintimidasinya sosok itu. Membuat Baekhyun merutuk, merutuki kepayahannya dalam menyelesaikan stage sampai selesai alih-alih jatuh pingsan dan entah bagaimana menempatkan dirinya di ruangan ini sekarang. Baekhyun tidak bohong kalau dirinya merasa bersalah, payah, dan tidak berguna.
Jadi, Baekhyun tidak terpikir kata lain selain kata maaf.
"Maafkan saya, sajangnim." Yang diucapkannya sebegitu formal. Mengabaikan rasa nyeri pada lengan serta bahunya, Baekhyun mengangkat sebelah tangan—menarik lepas masker oksigen. Dan sekali lagi berusaha bangkit begitu sadar betapa tidak sopannya dia pada sang direktur.
Tapi ia mendapati tangan sang direktur kembali di kedua bahunya. Cepat menahan agar tubuhnya tetap terbaring.
"Kubilang, tetap di sana."
Bahunya ditahan. Chanyeol belum menarik tangannya dari sana. Seperti bahunya, Baekhyun pula merasa tatapnya terhenti. Terpancang pada bola mata bulat milik direktur bermarga Park di hadapannya.
"Apa yang kau rasakan sekarang?" Pertanyaan Chanyeol berikutnya mengirim sedikit sensasi aneh di sekujur tulang punggungnya. Kalimat itu tidak dingin, tidak dengan amarah, tapi tidak juga kosong. Baekhyun tidak tahu ada emosi apa di balik intonasi yang seperti itu.
Baekhyun lagi mengalihkan matanya. Ditatap terus-terusan oleh Chanyeol terasa sungguhan membuat subur rasa bersalahnya.
Oh Tuhan, seharusnya Baekhyun menyelesaikan panggungnya dengan baik.
"Saya baik-baik saja. Maaf,"
"Byun Baekhyun,"
Baekhyun sedikit berjengit kala sang direktur memanggil namanya dengan suara teramat rendah. Lagi, Baekhyun kesulitan mengartikannya. Seperti sebuah seruan marah, tapi tanpa peningkatan volume.
"Apa yang kukatakan tentang terus meminta maaf?"
Cara Chanyeol melontarkan tanya mengingatkan Baekhyun pada awal-awal ia membuat percakapan dengan direktur tersebut. Sarat dominasi, penuh penekanan, tak terbantah. Baekhyun tidak menjawab. Tetapi ketika ia mencoba memberanikan diri memberi respon demi memutus hening yang tiba-tiba tercipta, sang direktur lebih dulu kembali berucap.
"And about how you should call me by my name?"
Bola mata Baekhyun dipaksa kembali kepada sosok tinggi tersebut. Tepat kepada kedua mata tajam yang masih juga menatap lurus padanya.
Nada yang sama. Perintah yang sama. Entah bagaimana kerjanya, Baekhyun secara otomatis memutar kejadian saat frasa itu terucap dari bibir sang direktur untuk pertama kalinya, ketika Baekhyun terus-terusan lupa mengindahkan perintah sang direktur agar memanggilnya hanya dengan nama.
Hening kembali. Tidak satu detik pun tatap mata sang direktur teralih darinya.
"Chan.. yeol," ucap Baekhyun pelan. "Chanyeol." Ia mengulangi, saat menyebut nama itu rupanya memberi sedikit rasa nyaman bagi tubuhnya yang semula terasa dingin.
Tatapan terputus. Chanyeol memberi anggukan kecil.
"Bagus. Setelah ini kau mungkin akan membuatku benar-benar marah jika kau memanggilku tidak dengan nama itu." Chanyeol menarik tangannya, beralih menggulung kedua lengan kemeja hingga sebatas siku—gerakan paling signifikan yang ia buat sejak sang penyanyi siuman.
"Tetap berbaring. Kita ke rumah sakit setelah ini."
"Huh?"
Baekhyun terkejut dan hendak membantah, tapi sang direktur telah lebih dulu berlalu. Menuju pintu, sembari mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan membuat panggilan di sana.
.
.
Ruang sempit di dalam mobil tidak semerta-merta membuat Baekhyun cukup memiliki kendali akan sekitarnya. Nyatanya, ia lagi-lagi merasa begitu kecil. Atau sejujurnya, ia telah merasa demikian ketika dokter menjelaskan hasil check-up kondisitubuhnya beberapa waktu lalu.
Mobil masih terparkir di depan rumah sakit. Kyungsoo beserta Sekretaris Jun bahkan sudah pulang lebih dulu sejak bermenit-menit yang lalu. Tetapi Baekhyun masih duduk di jok samping kemudi, di samping Chanyeol yang sejak menyuruhnya masuk ke dalam mobil, tidak bicara sepatah kata pun. Dan Baekhyun tidak sebegitu bodoh untuk bisa menerjemahkan itu.
Chanyeol marah.
Chanyeol tampak begitu marah sejak dokter menyebutkan beberapa malnutrisi dan cidera otot pada dirinya. Baekhyun telah begitu ceroboh karena telah membuat seorang presiden direktur sekaligus pemilik agensi tempatnya bekerja harus mengetahui hal remeh-temeh seperti ini secara langsung.
Baekhyun malu sampai ke tulang-tulang. Kemasan berlogo rumah sakit berisi beberapa tab suplemen di pangkuannya bahkan menambahnya hingga berkali-kali lipat. Dia benar-benar telah bersikap kurang ajar. Masalah seperti ini tidak pernah tersentuh meski hanya sekali oleh direktur agensi lamanya. Tidak ada urusannya.
Beberapa menit lagi tanpa ada yang bersuara. Mobil belum juga dilajukan. Takut takut, Baekhyun memberanikan diri bersuara.
"Chanyeol—"
"Apa kau pernah seperti ini sebelumnya?"
"Ap—apa?"
"Jangan buat aku mengulang."
Baekhyun menelan ludah. Chanyeol berkata-kata tanpa sedikitpun menoleh. Baekhyun ragu, apakah perlu baginya untuk menjawab itu dengan jujur. Direkturnya itu terlihat sangat marah, dan Baekhyun tidak tahu apakah memberi jawaban berupa afirmasi akan membuatnya semakin marah ataukah tidak.
"H-hanya.." Sekali lagi menelan ludah, Baekhyun mengusahakan suaranya agar tidak bergetar. ".. kelelahan selama persiapan debut,.. kurasa?" jawabnya tak yakin. Ia tak berbohong, meski memang itu belum benar-benar menjelaskan.
Baekhyun dibuat kembali menelan sesuatu yang terasa mengganjal di tenggorokannya ketika didengarnya Chanyeol membuang napas kasar.
"Berikan ponselmu," pinta Chanyeol, bersamaan dengan sebelah telapaknya yang menengadah kepada si penyanyi.
Sempat berkedip bingung, Baekhyun buru-buru mengambil ponselnya dari saku. Ah, untungnya ia sempat meminta benda itu dari Kyungsoo setelah berganti pakaian.
Chanyeol menerima ponsel hitam yang disodorkannya dan mengetikkan entah apa di sana. Tak berapa lama, bunyi getar terdengar dari arah yang lain. Chanyeol mengeluarkan ponsel miliknya sendiri, lantas mengembalikan satu yang menjadi kepunyaan si penyanyi.
"Aku akan mengawasimu langsung. Nomorku sudah tersimpan di ponselmu dan begitu juga milikmu. Kau boleh menghubungiku bila ada yang ingin dibicarakan."
Dengan kedua tangan yang menggenggam ponsel di depan dada, Baekhyun hanya bisa megap-megap saking terkejutnya. Ia belum selesai mencerna maksud perkataan Chanyeol, tapi pria itu lagi-lagi lebih dulu memotong, "Langsung masuk begitu sampai asrama. Gedung agensi dan sekitarnya masih dipenuhi wartawan," ujarnya, dan pria itu telah beranjak memfokuskan diri pada kemudi. Membawanya melaju di jalanan malam tengah kota.
"Wartawan?"
"Hm,"
Baekhyun memilin jari-jemarinya. Tumbangnya ia di atas panggung mungkin memang masuk akal untuk menimbulkan kekacauan, termasuk mengundang atensi banyak wartawan. Agensi akan menerima banyak permintaan klarifikasi.
Tapi lebih dari itu, Baekhyun memiliki perasaan tak mengenakkan yang lebih tentangnya.
"Datang ke ruanganku besok. Ada beberapa hal yang harus dibahas." tambah sang direktur dengan tetap berfokus ke depan kaca kemudi.
Baekhyun membungkuk sekilas, "Baik."
Sisa perjalanan kemudian dihabiskan dalam diam.
.
.
Tak disangka, perkataan Chanyeol terbukti tepat ketika mobil menepi di depan asrama. Letaknya yang tak jauh dari gedung agensi membuatnya dapat disebut berada dalam wilayah yang sama. Dan benar saja, beberapa wartawan terlihat di sekitar asrama dengan membawa kameranya masing-masing.
Baekhyun menarik masker dari sakunya. Memakai benda itu sementara mobil kembali bergerak agar semakin merapat pada pintu masuk.
"Cepatlah masuk," pinta sang direktur. Baekhyun mengangguk, berterima kasih sebelum keluar dari mobil secepat mungkin berusaha tak menarik perhatian siapapun. Ia sampai di kamar dalam waktu singkat.
Ketika tubuh menempel pada permukaan kasur di kamarnya, Baekhyun baru kembali merasakan secara jelas nyeri di banyak bagian tubuh serta kepalanya. Sejenak, ia merebahkan diri di sana.
Masih ada satu kali jadwal tampil di pertunjukan musik. Dua hari lagi. Baekhyun setidaknya harus memiliki cukup tenaga untuk bersiap besok.
Dia telah membuat kesalahan besar hari ini. Selain mengacaukan penampilan, ia lagi-lagi merepotkan Chanyeol. Park Chanyeol, orang berkedudukan paling tinggi di tempatnya bekerja. Baekhyun pasti telah membuat Chanyeol begitu marah setelah melakukan semua kekacauan itu. Ia seharusnya bersyukur Chanyeol tidak membentak langsung di depan wajahnya seperti apa yang pernah direktur agensi lamanya lakukan.
Sebelum terlalu larut pada kenyamanan tempat tidur, Baekhyun cepat-cepat bangkit. Ia harus mandi dan istirahat segera.
Usai membersihkan diri dan duduk di sisi ranjang sembari mengeringkan rambut, ponsel yang masih ada di saku celana yang dipakainya tadi bergetar panjang. Panggilan masuk. Kamar yang untungnya hening membuat suara getarnya sampai ke pendengaran pemiliknya. Baekhyun segera menariknya dan mendapati nama Kyungsoo di sana.
"Kau. Tetap di sana kecuali aku datang menjemput. Mengerti?"
Baekhyun bahkan belum sempat menyahuti panggilan ketika suara sang manajer bergulir cepat melalui panggilan. Dan mendengar kalimat tiba-tiba seperti itu, Baekhyun hanya bisa membuka mulut tanpa benar-benar mengucap apapun. Kyungsoo terdengar panik.
"Baekhyun! Kau di sana?"
"Y-ya. Ada apa? Kau membuatku—"
"Jangan tanya dulu. Dengar, tetap di kamarmu. Jangan ke mana-mana kecuali aku datang menjemputmu. Kututup."
Panggilan lantas benar-benar berakhir setelah itu. Baekhyun berkerut dahi menatap layar ponselnya.
Ada apa?
Panggilan singkat itu sudah barang tentu merenggut rasa lelah yang sempat ingin Baekhyun tuntaskan dengan segera menjemput alam mimpi. Alih-alih langsung tidur seperti niat awalnya, Baekhyun mondar-mandir di samping single bed-nya. Berulang kali mengecek layar ponsel demi mendapati pesan atau apapun di sana yang bisa memberinya penjelasan.
Dua puluh menit. Belum ada pesan atau panggilan masuk. Baekhyun mulai menarikan jarinya di permukaan layar sentuh benda yang tak lepas dari genggamannya sejak tadi, mencari nama manajernya untuk dihubungi. Sebelum nama Kyungsoo dapat Baekhyun temukan, pintu kamarnya diketuk.
"Baekhyun." Disusul ketukan buru-buru berikutnya.
Itu suara Kyungsoo. Tidak perlu refleks khusus bagi Baekhyun untuk segera menghampiri pintu. Kyungsoo dengan topi serta masker hitamnya langsung merangsek masuk begitu daun pintu ruangan sederhana itu dibuka.
"Bawa dompet dan ponselmu. Kita ke kantor sekarang." Kyungsoo berkata cepat, secepat langkahnya menghampiri lemari di kamar itu dan menarik keluar sebuah jaket. "Pakai topi dan maskermu juga. Sekretaris Jun menunggu di bawah."
Semua yang terjadi terlalu cepat tidak memberikan ruang bagi Baekhyun untuk memproses. Ia masih berdiri di dekat pintu dengan penuh tanya.
Sang manajer menggeram tertahan. Gemas bukan main. Ia mendekat pada Baekhyun dan memakaikan penyanyi itu jaket yang diambilnya.
"K-kyungsoo, ada apa?"
"Bisakah kau tidak banyak tanya? Ini tidak bisa ditunda sampai besok, jadi bergegaslah karena kita harus segera sampai di kantor." Kyungsoo menyambar topi dan masker di atas nakas, mendahului Baekhyun yang bergerak kelewat lambat dalam bereaksi. Bukannya Kyungsoo menyalahkan, hanya saja ia terlalu kalut karena diburu waktu.
"Ayo." Ditariknya lengan Baekhyun. Pergi keluar setelah buru-buru memastikan pintu terkunci dengan benar. Kyungsoo membawa Baekhyun menuju pintu keluar yang lain. Pintu yang berbeda dari yang biasa digunakan sebagai akses keluar-masuk gedung. Baekhyun diarahkan untuk segera masuk ke dalam mobil tempat Sekretaris Jun menunggu, semakin berkerut mendapati riuh redam keramaian di sekitar gedung asrama.
Saat mobil melintasi jalan, Baekhyun dapat melihat beberapa orang dengan kamera mengalung di leher berlarian. Tepat ke jalan menuju gedung LOEY-Music.
"Menunduk," pinta Kyungsoo. Selain menurut, Baekhyun tidak melakukan hal lain lagi.
Mobil kesulitan membelah keramaian di depan gedung agensi. Malam rupanya tak cukup dijadikan alasan menyepinya tempat itu.
Riuh. Ribut. Flash berkelebatan entah untuk apa di pintu masuk sana.
Kim Junmyeon melesatkan mobil cepat menuju tempat parkir. Secepat mungkin tanpa membiarkan siapapun dari keramaian sadar siapa yang tengah melintas.
Baekhyun merasa jantungnya berdetak bertalu-talu. Seluruh keterkejutan dan kebingungannya ia simpan selama kaki berlarian bersama manajernya dan sekretaris sang direktur menuju lift VIP, bergerak langsung ke kantor di lantai teratas.
Pintu lift terbuka tepat di lantai yang dituju. Ketiganya berjalan lurus-lurus menuju ruangan sang direktur.
Baru ketika pintu itu terbuka, Baekhyun memperoleh seujung jawab dari rentetan kebingungannya.
Adiknya ada di sana. Kim Jongin, adiknya, hadir di ruangan yang sama.
.
oOo
.
Chaos [n.] A state of total confusion with no order
.
.
Halo.. Uas saya dah selesai hehehe, jd itu dia kenapa saya nggak nongol2. And tbh, selesai uas justru urusan organisasi makin menjadi-jadi. Sempet kesel juga karna itu. Parah banget ya, hampir sebulan saya nggak mampir ke sini... Hhhhh BUT THANK U YG MASIH BACA INI!
Special thanks for pengisi kolom ripiuw, lightdelight | KlyJC | fifakna | ChanBaek09 | shinwava | jinahyoo | crescentchie | vhacbhs | pinkcigarettes | Lucyana6104 | erishiteru | baechiatto | NLPCY
See you soon~
