Chaos
.
.
Warning: contains a bit anxiety and depression trigger. Skip this chapter if you have unusual fear for being blamed or untrustworthied. Maybe you can skip this chapter too if you're feeling down, empty, or just mentally unwell.
.
.
oOo
.
Membuat para wartawan minggir hanya agar mobilnya dapat melintas menuju basement parkiran benar-benar menguras emosi. Chanyeol menghabiskan cukup banyak waktu hanya untuk melakukan itu. Jun telah memberi kabar bahwa sekretarisnya itu sudah siap di ruangannya dengan seluruh berkas yang ia minta. Mereka harus segera menyelesaikan bahasan sebelum pagi menjelang.
Maka begitu masuk ke ruangannya, Chanyeol segera mengajak sekretarisnya itu ke sepasang sofa di sana. Mulai memindai berkas berisi kontrak-kontrak kerjasama atas nama artisnya, Byun Baekhyun.
Diskusi dimulai. Junmyeon mengalami banyak kesulitan dalam menghadapi Chanyeol. Atasannya tersebut tampak begitu terburu-buru dan terus-terusan menyuarakan keputusan gegabah. Setidaknya, perannya sebagai sekretaris Chanyeol selama ini telah lebih-lebih merangkap sebagai penasihat. Itu sedikit memberi Junmyeon kemampuan lebih untuk mengerem kegegabahan Chanyeol.
Si pria Park berkali-kali membentak sekretarisnya, ngotot ingin membatalkan beberapa kontrak yang ia tunjuk. Tetapi Junmyeon dengan kepala dingin—yang amat diusahakannya—terus memberi pandangan. Menyebutkan poin-poin mengapa mereka lebih baik tidak melakukannya, kemudian mengarahkan sang direktur beralih pada kontrak lain yang mmeiliki fleksibilitas lebih untuk dapat dibatalkan.
Entah beberapa lama mereka menghabiskan waktu untuk itu semua. Berlembar-lembar kertas yang berserakan di atas meja telah penuh dengan coretan bolpoin di sana-sini. Ketika itu, pintu ruangan sang direktur diketuk. Cepat. Disusul suara seorang asisten wanita yang telah ditunjuk menggantikan Junmyeon sementara waktu di luar.
Junmyeon memohon diri dari hadapan sang direktur sebelum berderap menuju pintu dan menemuinya.
Hanya selang beberapa detik, pintu kembali terbanting terbuka dan Junmyeon berlari menghampiri atasannya.
"Ada keributan di bawah," lapornya. Chanyeol mengernyit dan sontak menuntut penjelasan. Perihal ribut, sejak insiden Baekhyun di atas panggung, hal itu memang sudah terjadi di gedung pusat ini. Mengapa Junmyeon harus terlihat sepanik itu?
Namun begitu sang sekretaris menjelaskan dengan satu kalimat singkat dan padat, Chanyeol terperanjat di kursinya.
"Turunkan lebih banyak penjaga. Bawa dia menjauh, lalu jemput kembali dan bawa ke ruanganku. Sekarang."
.
.
Beberapa detik Baekhyun terperangah di tempatnya. Keberadaan Jongin di ruangan Chanyeol terasa seperti mimpi. Berikutnya, ketika mata bersirobok dengan kedua mata sayu adiknya, adiknya itu bangun dan berlari ke arahnya. Menerjangnya. Baekhyun segera menangkap suara isak kecil dari sosok tinggi itu. Jongin mencoba bicara, meski yang terdengar adalah suara tanpa arti yang diselingi isakan.
"Jongin.."
Sang adik melepas pelukannya. Ia menilik tubuh kakaknya dari atas sampai bawah dengan matanya yang basah.
'Sakit? Sebelah mana? Kau baik?'
Baekhyun mendapat pertanyaan bertubi-tubi dari Jongin. Anak itu terus-terusan melontarkan pertanyaan. Gerak tangannya terkadang tak jelas karena ia seperti begitu cemas dan kehilangan konsentrasinya.
Meski tubuhnya tinggi, Jongin punya mata yang menyorot polos seperti anak-anak. Baekhyun selalu melihatnya demikian. Melihatnya saat ini terus bicara dengan sesekali mengusap mata dan hidungnya dengan punggung tangan, Baekhyun benar-benar seperti melihat adik kecilnya yang dulu, alih-alih Jongin yang sudah remaja seperti sekarang.
Baekhyun mendekati adiknya. Hendak menarik tubuh tinggi itu ke dalam pelukan, dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Tapi sebelum niat itu terlaksana, Baekhyun lebih dulu menangkap memar keunguan di sudut bibir serta pelipis kiri sang adik. Mata sipit milik yang lebih tua berguncang. Jongin terluka.
"Siapa yang memukulmu? Katakan padaku." Baekhyun menempatkan telapaknya ke rahang Jongin, mengusap pelan bagian yang memar, berharap sentuhannya dapat secara ajaib menjadi penyembuh. Matanya menelusuri pahat wajah adiknya.
Jongin menggeleng. Ia menyusut hidungnya. Bibirnya melengkung ke bawah. Kepalanya terus ia gelengkan saat air matanya terus mengalir meski kemudian cepat-cepat ia hapus.
Baekhyun tidak perlu bertanya lagi mengapa adiknya bisa berakhir di ruangan ini. Jongin menangis, menanyakan keadaannya. Ia mendapat beberapa memar. Sedikit-banyak, itu sudah cukup menjelaskan. Stage hari ini ditayangkan secara langsung. Portal berita pula telah banyak merilis artikel hanya selang beberapa detik dari insiden di atas panggung. Jongin melihat itu semua. Hanya saja, bagaimana Jongin bisa mencapai gedung agensi?
'Taksi. Dan ini.'
Jongin memperlihatkan sebuah buku catatan dan bolpoin padanya. Isinya beberapa tulisan yang tampak seperti percakapan. Baekhyun segera mengerti.
'Maaf.'
Baekhyun juga mengerti untuk apa kata maaf itu. Tetapi, ada hal lain yang harus lebih dulu dilakukan dibanding sibuk dengan urusan kakak-beradik mereka. Baekhyun beralih pada semua yang berada di ruangan tersebut. Membungkuk dalam tanpa kata. Ia harap, penyesalannya atas segala kekacauan ini tersampaikan.
Junmyeon menghampiri. Mengarahkan Baekhyun serta Jongin menempati sofa atas isyarat perintah Chanyeol. Kyungsoo mengikuti di belakang.
Beberapa detik hening. Baekhyun masih menunduk setelah sekali lagi membungkuk sebagai ungkap maaf sebab atmosfer yang tercipta begitu tak bersahabat. Terutama dari seorang dengan kedudukan tertinggi di antara mereka. Ia duduk di hadapan Chanyeol. Bersisian rapat dengan sang adik. Sebelum Chanyeol memulai, tidak ada seorang pun yang bersuara.
"Beberapa wartawan yang memulai."
Semua mata mulai tertuju pada sang direktur yang menjelaskan berdasarkan apa yang dilaporkan padanya selama rentang waktu yang amat singkat.
Saat itu penjaga yang memagari pintu masuk agensi dibuat bingung oleh seorang remaja laki-laki yang datang dengan langkah terburu. Tanpa bicara. Panik. Menerobos kerumunan wartawan dengan susah payah demi menunjukkan halaman sebuah buku catatan yang telah ditulisi besar-besar. Dan kekacauan dimulai ketika penjaga mulai berlaku kasar, tidak percaya dengan apa yang dituliskan si remaja laki-laki yang disebutnya sebagai alasan mengapa ia perlu masuk; menemui sang kakak.
Seharusnya tak sekacau itu. Tetapi wartawan tetaplah wartawan. Rumor menyebar cepat. Beberapa blind item terbit. Kantor agensi menerima semakin banyak permintaan klarifikasi dengan duduk masalah berbeda.
Sementara keadaan makin tak terkendali, si remaja lelaki masih bersikeras. Mulai menerima beberapa pukulan karena penjaga tak ingin membiarkannya masuk.
Baekhyun mengeratkan genggamannya pada tangan Jongin. Mendengar semua penjabaran itu, bagaimanapun Baekhyun tidak ingin menyalahkan apapun, siapapun. Bahkan ketika ia mulai merasa bahwa penjelasan sang direktur mulai menunjukkan kecenderungan memojokkan sang adik, Baekhyun tak ingin memperpanjang prasangka. Ia berusaha.
Satu-satunya yang tahu siapa dan seperti apa Jongin di tempat mereka berada saat ini adalah dirinya. Dan itu berarti, hanya dia yang bisa mengerti mengapa adiknya melakukan ini semua.
Baekhyun tak pernah membawa berita buruk ke rumah. Seperti apa yang ditampilkannya di atas panggung dan di depan kamera, semua adalah versi terbaik dari dirinya. Selain itu, ia tak akan membawanya ke rumah, ke hadapan sang adik. Jongin hanya memiliki Baekhyun sebagai keluarganya dan rasa remaja itu pada dirinya mungkin tak akan bisa terbayangkan oleh orang lain untuk bisa mengerti mengapa dengan keadaannya yang seperti itu, Jongin pergi begitu jauh meninggalkan rumah demi dirinya.
Sang direktur tampak gusar. Memberi penjelasan secara langsung kepada sang artis alih-alih menugaskan sekretaris atau manajer untuk melakukan itu seperti menguras habis emosinya. Bertumpuk bersama semua yang terjadi seharian ini. Hari bahkan belum berakhir dan tak terhitung jumlah masalah yang datang bertubi-tubi.
"Semua berita kupastikan akan di-takedown segera," tandasnya di akhir. Itu kepastian yang berkonotasi positif bagi siapapun yang ada di sana. Namun bukan berarti keadaan membaik begitu saja.
"Byun Baekhyun,"
Usapan yang diberikan Baekhyun ke tangan sang adik yang terkepal kaku di atas kedua paha terhenti. Ia kembali mendongak dan menatap ragu pada sang direktur.
"Beberapa kontrak dan jadwalmu dibatalkan. Waktunya akan dialihkan untuk persiapan album pertamamu."
"Apa?" Baekhyun mengernyit. Terperangah.
Dibatalkan?
Chanyeol tak berniat mengulang, "Promosi terakhir di acara musik dibatalkan. Beberapa kerjasama mendatang juga dibatalkan. Fokus saja pada album pertamamu."
Setumpuk kertas penuh coretan di atas meja diraihnya. Dirapikan tumpukannya seolah dengan itu ia mempertegas bahwa keputusannya telah sah. Final.
Baekhyun menatap atasannya tersebut tak percaya. Semua yang telah disebutkan sang direktur kepadanya sama sekali tidak terdengar seperti berita baik.
"Bukankah membatalkan jadwal menimbulkan kerugian bagi agensi? Kenapa?" tanyanya tak habis pikir.
Chanyeol tak merespon. Ia berdiri dari sofa. Membawa serta dokumen-dokumen di tangannya menuju meja kerja utama.
"Sajangnim," Baekhyun berdiri. Suaranya meluncur tajam memanggil sang direktur. "Mohon jangan batalkan."
Tumpukan kertas telah berpindah tempat. Chanyeol berputar kembali menghadap pada artisnya yang kini berdiri dan menatap lurus-lurus padanya.
"Kau memintaku tak membatalkannya?" tanya Chanyeol, sebelah alis terangkat membalas sorot yakin milik si penyanyi.
"Ya."
"Dan membiarkanmu mengacaukannya lagi?"
Pertanyaan itu membuat Baekhyun kelu. Tepat saat itu juga, kepalanya memutar saat-saat ia begitu merasa mampu menguasai panggung, sebelum tirai hitam seakan dilemparkan kepadanya dan segera merenggut sebagian besar kesadaran. Berisik. Kacau. Ia tak melihat apapun namun mendengar begitu banyak keributan. Sampai akhirnya ia menemukan dirinya di atas brankar ruang medis darurat.
"Saya.. tidak akan mengacaukannya.." Baekhyun menjawab. Suaranya mengambang di udara. Keyakinan yang tadi sempat ia suarakan turun hingga nyaris nol persen.
"Semua akan resmi dibatalkan besok. Kau hanya perlu menjalankan jadwal yang tersisa." Chanyeol berpaling. Hendak mengakhiri diskusi.
"Sajangnim, saya akan melakukan yang terbaik. Anda tidak perlu membatalkan apapun," ucap Baekhyun dengan getar tak kentara pada suaranya.
Tak memberi jawab yang korelatif, Chanyeol berbalik hendak menempati kursi kerjanya. "Kau bisa kembali ke asrama. Jun, antar mereka."
"Tidak! Aku akan berusaha!" Seruan Baekhyun memecah hening. Bergetar. Empunya jelas tidak mampu berseru tapi ia memaksa. Formalitas lepas dari upayanya membujuk sang direktur. "Kau tidak harus membatalkannya! Aku akan melakukannya!"
"BERHENTI MEMBANTAH, SIALAN! AKU TIDAK MEMPEKERJAKANMU UNTUK ITU! KAU URUSI SAJA PESAKITANMU DAN LAKUKAN YANG KUPERINTAHKAN!"
Telapak yang semula mengepal berubah gemetar. Dan serupa itu pula bibirnya. Baekhyun tercekat oleh bentakan itu. Chanyeol tampak marah besar dengan urat-urat yang tampak jelas menonjol di pelipis, juga lehernya ketika pria itu berteriak padanya. Baekhyun tidak tahu, kalau dirinya telah membuat Chanyeol semarah itu.
Junmyeon tak mengindahkan perintah terakhir yang diberikan padanya. Ia mengisyaratkan Kyungsoo untuk membawa Jongin keluar ruangan. Remaja lelaki itu tampak shock pasca menyaksikan sang direktur membentak keras. Sepeninggal mereka, Junmyeon kembali menghadap pada sang direktur dari tempatnya berdiri di samping sofa.
"Aku bisa mengatasinya," ujar Baekhyun, berusaha yakin meski ia luar biasa goyah. Suaranya kian bergetar. "Aku mampu melakukan semuanya."
"Kau tidak," potong Chanyeol. Ia tak lagi membentak namun suaranya berubah jauh lebih dingin dari bentakan itu sendiri.
Samar-samar, terdengar suara Kyungsoo dari luar. Bersahutan dengan suara lain yang berseru-seru dengan pelafalan yang kacau. Baekhyun mulai merasakan panas di matanya sebab ia tahu itu suara adiknya. Jongin pasti begitu mengkhawatirkan dirinya.
"Aku mengetahui jadwalmu beberapa hari belakangan dan itu seharusnya tidak membuat seorang yang sudah pernah debut sepertimu tumbang."
Baekhyun memandang jauh. Bibirnya lagi kelu. Pikirannya benar tak henti memutar berbagai hal. Acak. Tidak berurut. Terus terlintas saat-saat dimana ia selalu mengusahakan apapun itu demi tampil baik di atas panggung.
Keributan samar di luar masih terdengar. Suara Kyungsoo yang berusaha menahan Jongin untuk kembali masuk juga masih terdengar.
"Aku akan melakukan yang terbaik." Baekhyun berujar. Kali ini lirih. Nyaris berbisik. Tapi ia berharap kalimat tanpa tenaga itu akan diindahkan oleh sang direktur.
Baekhyun tahu ia harus patuh. Baekhyun tahu perintah atasan adalah segalanya. Ia bekerja untuknya. Baekhyun hanya tak mau dirinya menjadi alasan bagi lebih banyak kerugian yang diterima Chanyeol. Tubuhnya memang sakit, tapi Baekhyun yakin ia lebih dari mampu untuk mengatasi itu.
Berhenti membantah, sialan!
Baekhyun masih termenung di tempat. Kiranya, ia berpikir bahwa dirinya tetap berdiri di sana demi melontarkan satu-dua argumen lagi untuk membujuk sang direktur.
Aku tidak mempekerjakanmu untuk itu!
Ia menolak, bahwa sesungguhnya ia hanya terlalu terkejut Chanyeol meneriakinya dengan otoritarian penuh.
Junmyeon menelan ludah. Ini kacau. Baekhyun tidak tampak baik namun Chanyeol pula tidak cukup tenang untuk bisa menyadari itu.
"Keluar." Perintah terakhir, dan Chanyeol mengambil tempat di kursinya, membelakangi meja kerja termasuk sekretaris dan artisnya.
Ruangan terasa dingin. Entah dari pengondisi udara atau suasana kaku yang tak kunjung cair. Junmyeon memilih membiarkan sang solois bernapas sejenak, sebelum mengajaknya pelan-pelan meninggalkan ruangan sang direktur.
Baekhyun keluar dengan pandangan kosong. Bola matanya bergerak tak menentu, jatuh menatap pada lantai di depan sepatunya.
Pandangannya perlahan terangkat. Tak jauh darinya, sang adik membentur-benturkan kepala ke dinding sementara Kyungsoo kepayahan menahannya. Sang manajer tampak sama kacaunya. Walaupun tak mengeluarkan air mata, Baekhyun tahu Kyungsoo menangis melihat keadaan adiknya yang seperti itu.
Ponsel di dalam saku bergetar. Baekhyun dapat merasakan itu namun ia seolah tidak memiliki kesadaran yang cukup untuk sekadar bereaksi. Bahkan ketika akhirnya Jongin menyadari keberadaannya, menghambur kepadanya dan tak henti bertanya akan keadaannya, Baekhyun masih bungkam. Satu-satunya kalimat yang berhasil ia ucapkan adalah permohonan agar sang manajer membawa adiknya pulang dengan aman saat itu juga.
Baekhyun hanya tidak mampu melihat betapa kacaunya keadaan adiknya.
Baekhyun tidak bisa membiarkan dirinya yang juga tengah kacau ini eksis di hadapan adiknya.
Baekhyun tidak ingin semakin disadarkan bahwa semua kekacauan ini adalah salahnya.
Maka setelah upaya yang sama sulitnya dengan masuk ke kantor agensi tanpa diketahui wartawan seperti halnya tadi, Baekhyun sampai di kamarnya, dan menghabiskan sisa hari bersama perasaan yang terasa kosong. Mengabaikan ponsel yang tiada hentinya bergetar dengan nama Oh Sehun tertera di layar.
.
oOo
.
Chaos [n.] A state of total confusion with no order
.
.
Hamdalah bisa up lagi, terima kasih yang dah mampir! Cerita ini jauuuh dari sempurna tapi seneng banget ada yang mau baca! LUUVVV Zyumi | shinwava | Bbhls | Lucyana6104 | crescentchie | ChanBaek09 | lightdelight | baechiatto | KlyJC and all of story followers!
