Refrain
.
.
oOo
.
Tidak ada yang berarti dari hubungan Baekhyun dengan Chanyeol. Bagaimanapun, Baekhyun sadar betul dirinya hanya seorang yang bekerja untuk Chanyeol. Terlebih fakta bahwa Chanyeol repot-repot melakukan banyak hal untuknya dapat berada di agensi pria itu. Seperti mempertegas prasangkanya bahwa, Baekhyun memanglah diniatkan sebagai satu mesin tambahan potensial bagi perusahaan besar setaraf LOEY-Music.
Maka ketika sesuatu yang aneh mulai ia rasakan tumbuh, Baekhyun telah lebih dulu mematikannya. Mencegahnya berkembang bahkan sebelum jelas betul artinya.
Dia tidak memiliki hak menyalahartikan kebaikan sang presiden direktur.
"Baek,"
Panggilan Kyungsoo membuat Baekhyun sejenak menghentikan kunyahannya. Hari hampir berakhir saat ia dan manajernya itu menikmati makan malam di asramanya yang tak seberapa luas.
"Ya?"
"Apa kau pernah punya kekasih?"
Baekhyun terbatuk sekali. Tidak menyangka tiba-tiba Kyungsoo menanyakan hal pribadi seperti itu. Belum lagi nada bicara dan wajah yang kelewat datar. Maka tak salah bila Baekhyun harus tersedak makanan yang hendak ia telan karena manajernya itu. Ia menyambar gelas di samping mangkuk makannya, menenggak isinya sampai makanan yang terasa tersangkut bisa tertelan sempurna.
"Kenapa tiba-tiba?"
Bukannya menjawab, mata bulat si manajer menelisik ekspresi lelaki satunya. Baekhyun yang ditatap seperti itu mengerjap. "A-ada apa?"
Menghela napas, Kyungsoo beralih mengaduk-aduk mie kacang hitamnya. "Hanya ingin tahu saja. Jadi? Pernah atau belum?"
Baekhyun menggaruk pelipis. Jawaban ragu ia lontarkan kemudian. "Tentu saja pernah. Di sekolah menengah pertama."
Sang manajer mengangkat sebelah alis, "Perempuan?"
"Perempuan." Baekhyun membenarkan, lantas mengerutkan dahi. "Kenapa?"
"Kenapa kau menyukai gadis itu?" tanya Kyungsoo lagi. "Jawab saja," tambahnya ketika Baekhyun terlihat akan memprotes.
Setelah merengut Baekhyun toh kembali menyahut. "Kurasa karena dia lucu dan menyenangkan." Ia menerawang, lantas kembali menyendok isi mangkuk dengan santai.
Di tempatnya Kyungsoo kembali mengamati. Ia menghela napas. "Sudah kuduga."
"Apanya?"
"Kau tidak mengerti."
"Tidak mengerti apa?"
"Tidak ada. Habiskan makananmu." Setelah menjawab cepat, Kyungsoo kembali sibuk dengan makanannya.
Baekhyun berdecak. Merasa dipermainkan. Ia rasa hanya Kyungsoo, manajer berperangai unik yang justru lebih mirip seorang ibu yang galak dibanding seorang manajer artis. Lelaki bermata bulat itu acap kali berujar 'habiskan makananmu' seolah Baekhyun adalah anak kecil yang akan kabur sebelum menghabiskan makanannya, serta perintah-perintah lain yang tak terhitung jumlahnya yang membuatnya semakin mirip ibu-ibu.
"Kau sedang mengataiku dalam hati, ya?"
Terbatuk lagi, Baekhyun buru-buru meraih air di meja.
"Benar, ternyata."
Nah, benar-benar seorang manajer yang unik.
"Ada jadwal pesta kolega petinggi agensi besok malam. Kau termasuk dalam jajaran artis yang akan hadir sebagai perwakilan." Kyungsoo membuat pengumuman ketika isi mangkuk keduanya hampir tandas.
Apa yang membuat Kyungsoo cukup heran, ialah fakta bahwa selanjutnya Baekhyun mengangguk dan menjawab, "Ya, aku tahu."
Mengerjap, Kyungsoo seketika memiliki dugaan kuat tentang bagaimana Baekhyun telah mengetahuinya lebih dulu, tetapi ia tetap bertanya.
"Kau sudah tahu? Dari siapa?"
"Chanyeol," jawabnya enteng.
Untuk ke-sekian kalinya Kyungsoo menilik ekspresi Baekhyun dalam-dalam. Membuat sang penyanyi lagi-lagi kebingungan.
"A-apa lagi?"
"Ternyata kau benar-benar tidak mengerti." gumamnya.
"Astaga, apanya?"
"Tidak ada."
Dan lagi. Mungkin suatu saat ketika Baekhyun akhirnya menemukan kelemahan Kyungsoo, dia akan membalas kelakuan manajernya yang satu ini.
.
oOo
.
Pengurangan intensitas jadwal membuat hari terasa berjalan lebih cepat. Baekhyun difokuskan untuk menerima pelatihan fisik dan asupan gizi dengan bantuan trainer. Nyaris tidak terasa ketika hari telah bergulir ke malam berikutnya.
Bar tempat pesta digelar cukup megah. Kira-kira tiga kali ukuran bar biasa meski tamu yang diundang pula tak begitu banyak-sebuah pesta tertutup yang hanya dihadiri para petinggi agensi yang saling bekerja sama dan beberapa artis di bawahnya.
Dentum musik tak hentinya memenuhi pendengaran. Lantai dansa tak pernah kosong. Meja-meja bar terisi penuh gelas-gelas separuh habis. Gemerlap lampu disko di ruang redup membuat suasana dunia malam makin kental dirasa. Walaupun tak akrab, Baekhyun mungkin lebih mampu mengatasi itu semua dibanding hal yang ada di hadapannya saat ini.
Kyungsoo melirik Baekhyun yang duduk di sampingnya. Penyanyi itu masih tampak duduk tegap di kursinya, mengukir senyum sopan pada seorang yang duduk berseberangan dengan mereka. Tetapi, Kyungsoo paham betul itu tidak cukup menyamarkan kecanggungan dalam ruangan. Di salah satu bilik privasi dalam bar mewah tersebut, keduanya diundang langsung oleh pemilik agensi yang Kyungsoo ketahui telah lama menjalin kerja sama dengan LOEY-Music.
"Aku mendengarkan lagumu. Dan kurasa, adalah hal wajar Park Chanyeol begitu menginginkanmu."
Sejujurnya, kalimat itu terdengar begitu ganjil meski diucapkan dengan intonasi yang dibuat ramah. Apalagi untuk ukuran pertemuan pertama, cara bicara pria itu tidak terlalu enak didengar.
"Terima kasih banyak," Baekhyun menjawab sekenanya. Bagaimanapun ia berusaha berbaik sangka, sosok di hadapannya tampak nyata terasa mengintimidasi. Ketika ia baru saja memasuki tempat pesta bersama sang manajer, petugas mengatakan bahwa kedatangannya telah ditunggu-tunggu dan alih-alih berbaur dengan tamu pesta yang lain, ia diarahkan pada suatu bilik yang hanya diisi dua orang. Lee Sooman dan seorang wanita yang sejak awal sibuk menuangkan minuman untuk pria itu. Sesi perkenalan singkat berlalu dan Baekhyun akhirnya tahu pria tersebut termasuk orang penting di balik panggung dunia hiburan.
"Kupikir kita harus membuat kolaborasi. Kau dengan artisku. Itu pasti akan menjadi hit besar." Pria itu tertawa, melanjutkan pembicaraan yanng sejak awal terus didominasi olehnya.
Baekhyun meresponnya dengan tawa kecil, "Itu bisa dibicarakan dengan agensi, Tuan."
Pria itu mengangguk-angguk, tampak puas menerima respon Baekhyun.
"Ah, benar. Bagaimana hubunganmu dengan direkturmu? Si Park Chanyeol itu?"
"Y-ya?"
"Tuan Lee, maaf memotong pembicaraan. Tetapi Direktur Park tidak akan senang mendengar ini." Kyungsoo memotong, membungkuk di kursinya. Itu sempat membuat Baekhyun terkejut karena sang manajer benar-benar menghentikan obrolan seorang petinggi dengan begitu ringannya.
Sempat mengernyit tak suka, pria yang paling tua dalam ruangan tersebut kembali tertawa. Seolah apa yang dikatakan Kyungsoo adalah guyonan opera sabun yang begitu lucu.
"Apakah Park Chanyeol mengutusmu menjadi semacam bodyguard untuk mengawasi dan melaporkan apapun yang berkaitan dengan artisnya secara langsung kepadanya?"
Kyungsoo menggeleng. "Saya tidak berkata demikian. Saya hanya berusaha mengingatkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk diketahui olehnya," jawabnya. Lugas, sopan. Tampak begitu terlatih bahkan untuk menghadapi seorang dengan jabatan tertinggi sekalipun.
"Dan mengapa dia harus tidak senang mendengarnya?"
Kali ini, tanpa menjawab Kyungsoo kembali membungkuk. Ia harap pria itu cukup bijaksana untuk tidak kembali menanyakan hal yang seharusnya dapat disimpulkan dengan mudah.
Hela napas gusar terdengar. Pembicaraan berhenti sampai di sana. Tuan Lee menyeringai tak kentara, meminta gelasnya diisi kembali pada si wanita di samping.
"Silahkan nikmati makanan dan minumannya dulu kalau begitu." Sambil menikmati minumannya, pria itu sibuk dengan ponselnya.
"Terima kasih," Baekhyun menarik gelasnya. Formalitas harus tetap ia patuhi. Namun sebelum isi gelas berpindah ke mulutnya, gelas ditahan.
"Itu alkohol. Kau tidak boleh mabuk," bisik Kyungsoo.
"Aku tidak akan mabuk hanya karena satu-dua teguk, Kyung."
Tanpa mendengarkan perkataan penyanyi itu, Kyungsoo menukar gelas di genggaman Baekhyun dengan botol air mineral.
Baekhyun setengah menganga mendapati fakta bahwa manajernya itu bahkan membawakan air mineral.
Kekosongan yang sempat tercipta terinterupsi ketika pria di hadapan keduanya kembali buka suara.
"Do Kyungsoo-ssi, bisa kau temui orang agensiku di balkon lantai dua? Letaknya persis menghadap panggung utama. Ada dokumen kerja sama yang perlu diambil. Bisa kau mengambilnya?"
Kyungsoo mengernyit mendengar permintaan itu. Banyak pertimbangan tanpa jawaban yang muncul dalam kepalanya. Dan semua itu agaknya mulai memupuk subur rasa curiganya.
"Do Kyungsoo-ssi?"
Sikutan di lengan Kyungsoo terima dari Baekhyun yang duduk di sampingnya. Lelaki itu memberi kode tentang mengapa Kyungsoo tak kunjung menjawab. Hal itu membuat Kyungsoo mau tak mau mengesampingkan curiganya. Posisinya sebagai seorang manajer tidak mengizinkannya untuk bertingkah lebih tidak sopan lagi dengan menolak perintah itu. Ia hanya perlu pergi sebentar dan memenuhi apa yang pria paruh baya ini inginkan.
"Baik." Setelah menerima beberapa arahan tambahan, Kyungsoo beranjak pergi.
"Oh, apa kau tak bisa minum alkohol?"
Baekhyun mengangkat pandangannya, "Ya?"
Segera setelahnya Baekhyun tersadar tangannya masih menggenggam botol air mineral yang baru saja ia teguk isinya.
"Ah, iya. Hanya sedikit program diet yang melarang konsumsi alkohol untuk sementara waktu," kata Baekhyun, memberi hal pertama yang terlintas di kepalanya sebagai jawaban.
Pria di hadapannya mengangguk. "Begitu.."
Hanya selang beberapa lama setelah ia mengatakan sesuatu pada wanita di sisinya, seorang pelayan datang memasuki ruangan. Membawa beberapa jenis minuman di atas nampan dan memindahkannya ke meja.
"Nah, ini bebas alkohol. Silahkan,"
"E-eh, Anda tidak perlu repot-repot—"
"Tidak, tidak. Senang bisa menjamu calon bintang besar dunia hiburan," kelakar pria itu.
Baekhyun hanya mampu kembali berterima kasih, membalas tawa renyah pejabat di depannya dengan senyum formal terbaiknya.
.
.
Chanyeol membanting pintu mobil dengan gusar. Kaki panjangnya beranjak menuju tempat di mana pesta diadakan. Ia hanya tak habis pikir mengapa rapat kerja sama dan pesta yang mengharuskannya hadir diadakan bersamaan sementara baik penyelenggara pesta dan rapat ialah satu perusahaan yang sama. Pria tua yang tak pernah becus itu pastilah dalangnya. Mereka memiliki manajemen yang buruk hingga hal remeh-temeh yang demikian luput dari perhitungan. Kalau saja tak memikirkan bahwa beberapa artis perwakilan agensinya telah hadir lebih dulu, Chanyeol enggan memenuhi undangan.
Koridor dengan lantai beralaskan beledu dan pencahayaan minim ia lintasi cepat. Kim Junmyeon mengikuti di belakang. Akan lebih baik bila acara sudah selesai ketika ia sampai sehingga ia tak perlu lagi melakukan ramah-tamah.
Bunyi musik berdentum dan hingar-bingar menjadi tanda bahwa tempat utama di mana pesta diadakan telah dekat. Sisa satu tikungan sebelum mereka sampai. Tapi tikungan koridor terakhir itulah yang mempertemukan Chanyeol dengan sesuatu yang memaksa langkahnya terhenti.
Tidak sulit mengenali sosok yang tengah dipapah oleh dua orang pria berseragam rapi itu. Rambut hingga siluet tubuhnya bisa Chanyeol kenali dengan jelas meski dengan penerangan seadanya.
Kening berkerut dalam. Chanyeol jelas tidak menyukai pemandangan itu. Byun Baekhyun, harusnya tengah menghadiri acara sebagai representasi agensi, bukannya diangkut oleh dua orang tak dikenal dalam keadaan yang entah baik ataukah tidak.
Chanyeol melangkah lebar-lebar. Berhenti menjulang tepat di hadapan orang-orang itu. Dari penampilannya, Chanyeol tahu persis mereka hanya orang suruhan.
"Apa yang kalian lakukan?"
Reaksi kedua orang tersebut semakin meyakinkan Chanyeol sesuatu sedang direncanakan tanpa sepengetahuannya. Maka tanpa basa-basi lagi, ia menarik Baekhyun ke sisinya.
"Tuan Park, kami—"
"Ah, kalian mengenalku?"
Keduanya bertukar pandang, tampak ragu sekaligus takut. Barangkali mereka tidak menduga akan bertemu dengan seorang Park Chanyeol.
"C-chanyeol?"
Lirihan dari seorang di sisinya mengalihkan atensi sang direktur. Tepat setelah itu, Baekhyun nyaris luruh ke lantai. Dengan sigap Chanyeol menahan pinggang lelaki itu.
"H-hey—Baekhyun?"
Baekhyun mendongak. Dua mata sipit bertemu dengan milik yang lebih tinggi, menyorot sayu. "P—panas.."
"Huh?"
Kernyitan di dahi sang direktur semakin menjadi. Sang penyanyi tampak linglung. Napasnya tak teratur dan tidak ada pula penjelasan lebih lanjut saat Chanyeol bertanya. Ia bahkan tampak tak bisa berdiri dengan benar di atas kedua kakinya.
Tetapi apapun itu, sang penyanyi jelas tidak sedang baik-baik saja.
Chanyeol menatap dua orang yang masih berdiri di hadapannya. "Pergi," usirnya. Perkara siapa, apa, dan bagaimana ini semua terjadi, Chanyeol bisa mengurusnya nanti. Yang terpenting untuk saat ini, ialah seseorang yang ada di sisinya. Dibantu Junmyeon, dua orang pria itu berhasil dibuat pergi dari sana tanpa berani melawan.
"Kau bisa berjalan?" tanya Chanyeol pada Baekhyun yang kini seperti semakin kesulitan menyangga tubuh di atas kedua kakinya sendiri. Chanyeol telah menahan pinggangnya, namun lelaki itu terus menggeliat gelisah. Terengah-engah dengan titik-titik peluh di dahi, pelipis, hingga lehernya.
"Ngh.."
Chanyeol menelan ludah. Baekhyun tampak berada di ambang kesadaran. Pertanyaannya tak dijawab. Kedua bola matanya tak fokus. Berlarian seperti mencari-cari sesuatu.
Dan yang membuat Chanyeol terkejut hingga kedua matanya semakin membola, adalah pergerakan Baekhyun yang beringsut mendekat padanya. Reaksi tak biasa lelaki itu tunjukkan terutama atas sentuhan Chanyeol di pinggangnya.
Tubuh itu jatuh ke pelukannya. Masih dengan geliat aneh. Napas memburu. Jelas terdengar oleh Chanyeol yang kini memperoleh lelaki itu dalam dekapannya.
"Baek—"
Baekhyun merintih. Dan tepat di saat yang sama, Chanyeol merasakannya.
Sesuatu yang menggembung membentur pahanya di bawah sana.
Otaknya berputar cepat. Menelaah apa yang baru saja terjadi serta keadaan sang penyanyi yang jauh dari kata normal. Dan tidak butuh waktu lama baginya menemukan jawaban untuk itu.
Seseorang dengan rencana busuk mungkin memberinya sesuatu dengan afrodisiak atau semacamnya.
Pemikiran itu sukses menyulut amarah. Darahnya terasa mendidih hingga kepala. Walaupun tak ada apapun yang bisa mengonfirmasi, kesimpulan itu dapat menjadi sangat masuk akal hanya dengan melihat keadaan Baekhyun.
"Ungh.."
"Jun, pesankan satu kamar di sini," pintanya cepat. Itu menjadi satu-satunya hal terlintas di kepalanya kala Baekhyun kembali merintih.
"..."
"Jun!"
"..Saya mengerti." Sang sekretaris akhirnya mengangguk setelah sempat ragu. Sebuah panggilan singkat dibuat, dan hanya butuh beberapa detik sampai mereka mendapatkan satu nomor ruangan untuk ditempati.
Tanpa pikir panjang lagi, Chanyeol mengangkat Baekhyun dalam gendongannya. Lelaki itu tidak benar-benar merespon—hanya menyandarkan kepalanya yang terkulai di dada sang direktur karena tampaknya efek apapun yang telah diberikan kepadanya telah nyaris mengambil alih kewarasan. Kedua mata yang sipit terpejam erat. Jemarinya meremat kuat kemeja Chanyeol.
Sialan.
Chanyeol menahan diri mati-matian untuk menghabisi semua orang yang berada di balik semua ini. Ia benar-benar berada di ambang batas kesabaran. Terlebih, ini melibatkan Baekhyun. Kalau saja ia tak kebetulan melihat, tidak ada yang bisa menebak apa yang akan terjadi pada lelaki di gendongannya. Hanya saja untuk saat ini, yang perlu ia pikirkan hanya cara meredakan Baekhyun.
Begitu sampai di ruangan yang untungnya berada di kisaran koridor yang sama, Chanyeol membaringkan Baekhyun di atas ranjang. Melepas jaketnya karena lelaki itu semakin berpeluh. Lantas, ia berdiri. Menjauh. Mengacak gusar surai pirangnya.
Pintu telah ditutup. Menyisakan ia dan sang penyanyi dalam ruangan tersebut. Sebuah bar mewah tentulah menyediakan fasilitas serupa ruangan ini untuk mereka yang memang menginginkannya, tapi tak pernah terpikir oleh Chanyeol bahwa Baekhyun nyaris saja dibawa oleh si brengsek entah siapa ke salah satu fasilitas tersebut.
"C-chanyeol—hhh,"
Panggilan di sela rintihan itu membuat Chanyeol kembali mengusap kasar wajahnya untuk ke sekian kali. Perjalanan ke asrama atau apartemennya tidaklah sebentar. Terlalu menonjol pula bila mereka tetap berada di koridor atau beralih ke mobil di parkiran. Selain membawanya ke tempat dengan privasi penuh seperti ini, Chanyeol tidak mampu memikirkan alternatif lain. Ia akan segera meminta Jun membawakan obat tidur. Karena ia tahu apa yang tengah dialami penyanyi itu.
Baekhyun terangsang habis-habisan. Kalau dugaannya benar, Chanyeol tak dapat membayangkan sebesar apa dosis yang diberikan karena efeknya tampak sangat kuat.
Chanyeol melirik. Baekhyun terus-terusan gelisah dalam baringnya. Beranjak meringkuk. Mata terpejam erat seperti menahan sakit. Kedua kakinya tak berbeda, itu menutup rapat dengan dua tangan yang menutupi sesuatu di antaranya.
Memejam sejenak, Chanyeol menarik napas panjang. Kedua tungkainya ia bawa mendekat ke ranjang, duduk di sisinya begitu sampai.
"Tidurlah," ucap Chanyeol, mengusap rambut halus milik si penyanyi, menyingkirkan helai poni yang menutupi dahi berpeluhnya. Sesaat Chanyeol menggigit bibir dalamnya, menyadari perkataannya adalah hal terkonyol yang pernah ada untuk dikatakan pada seorang yang tengah luar biasa terangsang.
Baekhyun bereaksi pada sentuhannya. Kepalanya menggeliat, terangkat dan justru balik mengusakkannya.
Chanyeol yang melihat itu dibuat kembali menelan ludah. Gerakan tangannya pada surai kecokelatan itu berhenti. Pandangannya berkelana, menelusuri wajah sosok yang terbaring di hadapannya. Bibir tipis sewarna plum itu setengah terbuka. Peluh tak hentinya membanjiri pelipis dan lehernya yang masih dililit kalung rantai trendi dari brand kenamaan. Semua itu membawa sensasi aneh ke sekujur tubuhnya sendiri.
Perlahan, Chanyeol menurunkan telapaknya. Membawanya turun ke telinga, lalu ke rahang. Kulit halus yang terbubuhi basahnya peluh bisa ia rasakan jelas melalui sentuhan itu.
Usapan lembut Chanyeol berikan ke rahang penyanyi itu. Sukses menciptakan lenguhan dari empunya.
Segalanya mulai terasa berkabut bagi Chanyeol. Yang tampak jelas hanya, sosok yang terbaring gelisah di atas ranjang. Berpeluh, memejam dengan bibir separuh membuka, terlihat jelas butuh dan haus akan sentuhan. Semua itu, tanpa bisa ditahan, membuat suatu dorongan di dalam diri Chanyeol turut bangkit.
"Apa yang dapat kulakukan untuk membantumu? Hm?" tanya Chanyeol pelan. Suara beratnya menjadi satu-satunya suara berarti selain rintih tak jelas dari seorang yang tak berhenti menggeliat oleh sentuhan yang ia beri.
Baekhyun, di sisi lain, telah sejak awal kehilangan kendali atas tubuhnya. Ia tak mampu bahkan untuk sekadar merespon setiap sentuhan yang diterimanya secara waras.
Chanyeol merunduk, membawa wajah itu menghadap sempurna padanya. Sebelah tangannya menjadi penyangga agar tubuhnya tak menimpa Baekhyun di bawahnya. Kedua mata sipit itu terbuka. Memandang sayu. Berkedip lambat-lambat. Di bawah kungkungannya, napas memburu milik Baekhyun terdengar semakin jelas—sepenuhnya terpompa melalui bilah bibirnya yang membuka.
Kombinasi pemandangan yang buruk. Dan juga berbahaya.
Sebab setelah itu, Chanyeol dibuat kehilangan akal. Ia meraih bibir tipis itu. Meraup, mengecup, mengisapnya kuat. Ia dengan mudah terbakar oleh sensasi yang ia peroleh segera setelah bibirnya merasakan lembutnya milik sang penyanyi. Dorongan dalam dirinya sempurna terbangkitkan. Sebagai seorang pria, ia tak lagi bisa menahannya.
Chanyeol semakin bergerak tak sabaran. Terlebih ketika respon yang diperolehnya adalah remasan kuat di kedua bahunya alih-alih dorongan kasar. Bilah bibir yang berada dalam dominasinya mulai turut bergerak—yang, meski masih amatir, jelas menjadi tanda bahwa empunya juga menginginkan lebih.
Chanyeol mulai melesakkan lidahnya masuk. Menciptakan ciuman yang lebih dalam. Nyaris serupa french kiss penuh gairah jika saja lawannya sama mahirnya. Ia keranjingan. Bibir Baekhyun membuatnya ingin terus-terusan menjamah. Lembut, kenyal. Lelaki mungil itu pula membuka akses. Mengizinkan Chanyeol melakukan hal yang lebih.
Ciuman diputus. Benang saliva belum benar-benar terurai namun Chanyeol telah lebih dulu mendaratkan kecupan berikutnya ke rahang Baekhyun. Terus turun, sampai ke leher putih bersihnya.
"Angh,"
Suara Baekhyun semakin memancing Chanyeol. Satu desahan dan Chanyeol telah tanpa sadar mengisap kuat kulit leher Baekhyun, meninggalkan tanda yang akan segera berbekas nyata tak lama lagi. Sedikit dari kewarasan yang tersisa menyuruhnya untuk berhenti, namun bibirnya yang merasakan betapa lembutnya kulit itu tak bisa sama sekali mau berhenti.
Baekhyun mendongak. Memberi akses selebar-lebarnya bagi apapun yang tengah dilakukan sang direktur karena demi apapun, ia membutuhkannya. Lenguh dan desah ia lepas. Isi kepalanya seperti melayang-layang sampai ia tak terpikir untuk menahannya.
"Ah!" Baekhyun merasakan kejutan listrik di seluruh tubuhnya ketika ia merasakan sesuatu menelusup ke balik kausnya. Memberikan usapan lembut sekaligus seduktif yang semakin membuat tubuhnya terasa seperti melayang. Sesuatu di antara kedua kakinya juga terasa semakin sakit. Berkedut-kedut minta dibebaskan. Terlepas dari ketidaktahuannya akan hal asing yang dirasakan tubuhnya setelah segelas minuman, Baekhyun cukup mengerti tubuhnya tengah membutuhkan pelepasan.
Chanyeol terus menarikan telapaknya di perut Baekhyun. Bergerak semakin tidak sabaran. Terus naik, hingga jemarinya menemukan tonjolan kecil di sana. Ia menekannya, dan sukses membuat Baekhyun menjerit. Sensasi kejutnya jauh melebihi yang ia terima sebelum-sebelumnya.
Bibirnya masih menghujani leher Baekhyun dengan kecupan, isapan, bahkan jilatan. Kecanduan. Ia bertanya-tanya apa yang membuatnya begitu menyukai kelembutan kulit lelaki ini.
Baekhyun mengangkat sebelah tangannya. Di ambang kesadaran meremat surai pirang seorang yang masih terus mengerjai lehernya. Sang direktur semakin membawa turun kecupannya. Ke perpotongan leher dan bahu, turun lagi hingga tulang selangka. Keduanya mabuk. Tak mau berhenti menjamah dan dijamah.
Sampai gerak gelisah kedua kaki Baekhyun menyenggol bagian selatan tubuh pria di atasnya. Mencipta geraman kasar yang memaksa Chanyeol menghentikan sejenak kegiatannya. Tepat saat itulah, Chanyeol membuka mata. Disambut pemandangan bercak-bercak merah di permukaan leher putih milik artisnya. Ia pula baru sadar bahwa tubuh tingginya telah berada di atas lelaki itu. Menindihnya entah sejak kapan.
Chanyeol menjauh. Buru-buru bangkit meninggalkan Baekhyun terbaring sendiri di atas seprai putih untuk kembali duduk membelakanginya di sisi ranjang. Menyugar kasar rambut pirang berantakannya.
Apa yang telah ia lakukan?
Miliknya bahkan telah menggembung di bawah sana—setelah bisa-bisanya mengambil kesempatan dari keadaan sang penyanyi.
"Chanyeol.." Baekhyun mencicit di tengah engah napasnya.
"Maaf,"
Chanyeol bergerak cepat. Ia berdiri dan menarik kain selimut. Setelah sempat tertegun atas apa yang diperbuatnya pada Baekhyun—kaus yang tersingkap ke atas hingga bagian perut lelaki itu terekspos serta leher yang dipenuhi bercak merah—ia menyelimuti tubuh lelaki itu.
"Maafkan aku,"
"Chan—"
Belum sempat Baekhyun berucap, Chanyeol telah berdiri. Menjauhi ranjang dan sekali lagi mengusak kasar rambut pirangnya.
Ia mengeluarkan ponselnya segera. Membuat panggilan pada sang sekretaris yang menunggu di luar.
"Bawakan obat tidur. Sekarang."
.
oOo
.
Refrain [v.] to not let yourself do something
.
.
S-saya nulis apa...
Ehe.. ehehe.. maapin kalo aneh hikdd
Btw buat yang masih baca ini maap saya late up banget ya hnngggg isi kepala lagi super random jadi mood-nya ikutan random, susah dibawa ngelanjutin ini :") Plot cerita sudah ada sampai ending, emang bener2 tinggal sayanya aja nulisnya gimana.. Mood kecampur aduk gara2 kuliah juga, padahal ada baaanyaaakk banget draf cerita yang juga blum mampu saya kelarin wkwk :")
But, as always, mau bilang makasih banyak2 sama yang ngikutin ini! Masih banyak banget kekurangannya tapi seneng ada yang mau baca hixx Special mention for reviewers crescentchie | ChanBaek09 | KlyJC | Lucyana6104 | baechiatto | jinahyoo | lightdelight | ms-din | Kato Bee
Eh iya, cuma mau bilang kalau kolom pm ku terbuka lebar2 yaak sapa tau ada yang muk ngobrol mwehehe .g
Ketemu lagi di chap depan si yuu
