Feeling You
.
.
oOo
.
Baekhyun mengingatnya. Entah apapun yang mengendalikan reaksi tubuhnya saat itu, ia mengingatnya. Samar karena ia tak sepenuhnya awas akan apa yang terjadi, namun sekaligus terasa nyata karena bagaimanapun ia masih terjaga bersama kesadarannya hingga semua sensasinya terekam jelas. Begitu keesokan harinya terbangun sendirian di sebuah ruangan yang asing, Baekhyun langsung mengingat semuanya—termasuk dari mana tanda di lehernya yang terpampang jelas begitu ia mematut diri di depan cermin berasal.
Itu pertama kalinya. Seumur-umur, ketika orang lain mungkin telah mengecap yang jauh lebih dari pada itu, bagi Baekhyun, itu adalah pertama kalinya. Berada di bawah dominasi seseorang. Dicumbu di atas ranjang. Itu sama sekali bukan hal sepele karena, hingga tiap ritme napasnya, segalanya terekam nyata.
Anehnya, meski itu pertama kalinya, dan meski itu bermula dari ketidaksengajaan, tidak ada jejak sesal apapun dalam diri sang penyanyi.
Ia tak mengerti bagaimana cara kerjanya, tetapi satu-satunya keinginan yang muncul begitu ia membuka mata, adalah keinginan untuk bertemu seorang itu. Seorang yang semalam datang dan membawanya ke tempat ia berada sekarang.
Baekhyun ingin melihat Chanyeol.
Ketika ia hanyut dalam lelap, kepalanya tak berhenti memutar bayangan pria itu. Ketika seharusnya ia menyesali segalanya, ia tidak. Karena faktanya, pria itu tak melakukannya saat sesungguhnya ia memegang kendali penuh atas apapun malam itu.
Baekhyun ingin meragu. Pada prasangkanya tentang Chanyeol yang hanya berupaya membawanya demi menjadi salah satu alat untuk kepentingan agensi. Baekhyun ingin meragu, lantas berpikir bahwa alih-alih seperti itu, dirinya memanglah berharga bagi pria itu. Baekhyun ingin meragu, kemudian menyalahartikan perhatian yang ia terima selama ini.
Sekali saja, Baekhyun ingin mengakui bahwa ia berdebar untuk pria itu.
Bunyi ketukan di pintu menggema di kamar yang hening. Tiga kali berulang. Disusul suara seorang pria dengan intonasi yang benar telah terlatih.
"Baekhyun-ssi? Ini saya,"
Baekhyun beranjak begitu mengenali suara tersebut sebagai milik sekretaris sang direktur. Ia menarik daun pintu yang rupanya hanya dapat dibuka dari dalam.
Wajah Sekretaris Jun segera tampak. Membungkuk hormat bersama senyum sopannya yang tampak tak pernah absen. "Selamat pagi."
Baekhyun menelan ludah, secara refleks mengusap lehernya yang banyak terbubuhi tanda. "S-selamat pagi,"
"Saya datang menjemput. Sebelum itu, silahkan berbenah. Saya akan menunggu," katanya, mengulurkan sebuah paper bag pada Baekhyun yang berdiri kikuk di ambang pintu.
"Oh? Kalau begitu.. terima kasih," Baekhyun membungkuk. Sang sekretaris tersenyum ramah. Hanya selang beberapa menit setelah Baekhyun kembali menutup pintu, daun itu terbuka lagi dengan kehadiran sang penyanyi yang telah berganti pakaian. Sebuah turtleneck putih gading berbalut mantelsewarna kayu. Baekhyun tak berniat membuat Sekretaris Jun lama menunggu.
"Mari,"
Baekhyun mengikuti langkah sang sekretaris. Selama itu, tak ada yang bicara. Baekhyun sibuk menarik turtleneck-nya hingga menutup sempurna area lehernya, sembari tak henti terpikir akan sosok yang sama dengan yang terus terbayang olehnya sedari tadi.
"Itu.." Baekhyun membuka mulut, hendak mananyakan sosok yang sejujurnya ia cari-cari keberadaannya sejak mendapati Sekretaris Jun di depan pintu. "Di mana Chanyeol?"
Pertanyaan Baekhyun disambut senyum yang sama. "Direktur sedang mengurus beberapa hal di kantor salah satu perusahaan yang bekerja sama dengan agensi."
"Sepagi ini?"
"Ya. Keadaan mendesak," sahut pria yang lebih tua.
Sedikit-banyak—ah, mungkin memang banyak—Baekhyun menyayangkannya. Fakta bahwa sang direktur tidak muncul bersama Sekretaris Jun di balik pintu kamar tempat ia singgah semalam—seperti secercah harapan kecil yang terbersit kala mendengar suara ketukan—pula ia sayangkan. Hingga ia sampai ke asrama dan disambut sang manajer yang menanyainya ini dan itu tanpa henti, yang ada dalam kepala Baekhyun masihlah satu sosok yang sama. Satu sosok pria yang sama.
.
.
"Aku akan membuatnya jelas. Kerja sama ini akan berakhir segera setelah produksi proyek terbaru selesai."
"Anda bisa mendiskusikannya langsung dengan Direktur Lee, Tuan Park,"
Chanyeol memejam. Menahan diri untuk menuding keras seorang sekretaris wanita yang sejak tadi terus mengujarkan kalimat dengan bunyi serupa. Hari memang masih terbilang pagi, tetapi seharusnya tak cukup dini sampai ia tidak dapat menemukan seorang penting pun untuk ditemui. Seseorang yang ia cari belum diketahui keberadaannya. Tidak di bar mewah tempat pesta diselenggarakan semalam, tidak pula di kantor agensi tempat pria paruh baya itu biasa berada.
"Aku tidak akan mengulang lagi. Silahkan kau beritahu padanya." Chanyeol bangkit dari sofa tempat ia dijamu. Menandakan bahwa segalanya telah sampai di titik final baginya.
Tetapi sebelum itu, seorang sekretaris wanita yang sejak tadi mengambil alih pertemuan dengannya membuat sebuah panggilan. Terlibat pembicaraan singkat lantas membungkuk sopan memberikan ponsel di tangannya pada sang direktur bermarga Park.
Chanyeol mengambilnya meski enggan. Ia tahu siapa yang akhirnya dihubungi wanita itu setelah berkali-kali memerintah namun tak juga dilakukan.
"Park Chanyeol?"
"Kuharap sekretaris payahmu ini sudah memberitahu kepentingan apa yang membawaku datang sepagi ini. Dan, semoga kau cukup pintar untuk menyadari sebabnya." Chanyeol berujar tanpa jeda. Tak repot-repot menyahuti sapaan seorang di seberang panggilan, atau sekadar menjaga sopan santun.
Sebelah tangannya mengepal saat mendengar tawa dari pria paruh baya itu. Demi Tuhan, Chanyeol membencinya dan itu menjadi berkali-kali lipat lebih besar karena hal yang baru saja terjadi karena ulah pria itu.
"Ketahuan, ya. Sayang sekali."
Kerutan di dahi Chanyeol semakin dalam. Respon orang itu benar-benar menakjubkan untuk ukuran seorang yang baru saja tertangkap basah melakukan kesalahan.
Hening sejenak. Chanyeol menunggu. Pria itu terdiam di seberang sana tetapi tidak juga mematikan panggilan.
"Kau mungkin sudah menduganya. Aku berniat menggunakan anak itu untuk mengancammu."
Kepalan semakin kuat. Ponsel di tangan tergenggam makin erat.
"Aku tahu kau telah memiliki niat untuk mengakhiri kerja sama jauh sebelum ini dan anak itu menjadi sasaran empuk untuk kujadikan ancaman melalui skandal. Selain karena dia anak emasmu.."
"—kau menyukainya, kan?"
Chanyeol tak merespon. Rahangnya benar mengeras mendengar betapa congkak dan percaya dirinya nada bicara itu. Terlebih, ia mengungkit sesuatu yang sama sekali bukan urusannya.
"Tapi walaupun rencanaku semalam gagal, kau tetap tidak akan bisa memutus apapun, Nak."
"..."
"Aku tetap akan menggunakan cara yang sama untuk menahanmu, sebagai kacung perusahaanku."
"Yah.. sayang juga, kan, kalau bakat musikmu tidak kau gunakan untuk menghasilkan lebih banyak uang?" Pria itu kembali tertawa atas sesuatu yang tak seorang pun mampu pahami. "Kututup."
Mulut mengatup. Mata sang pria Park mulai memerah karena pria di seberang panggilan baru saja sepenuhnya menyulut amarah dan memupuk bencinya. Chanyeol nyaris membanting ponsel di tangannya sebelum pria itu kembali bicara.
"Ah, satu lagi. Sebagai orang yang lebih tua darimu, aku akan berbaik hati memberikan saran. Dia memang sangat potensial untuk menghasilkan uang. Sebaiknya tidak perlu melibatkan perasaan apapun. Kau bisa mendapatkan keuntungan yang tak terkira darinya."
Panggilan diputus. Dengan sisa kesabaran amat tipis Chanyeol meremat kuat benda persegi itu dan melemparnya asal ke pemiliknya.
Lebih dari sekadar melindungi artisnya dari skandal, Chanyeol tidak ingin seorang pun menyentuh Baekhyun.
Lebih dari seorang yang mengatakannya, Chanyeol lebih membenci kenyataan bahwa, pria itu menyerang titik yang sama sekali tepat.
.
oOo
.
Latihan dan berbagai persiapan album kembali pada ritmenya. Baekhyun disibukkan oleh jadwal-jadwal konstan yang mengharuskannya berada di gedung agensi seharian penuh. Itu bukan masalah, segalanya tak beda jauh dengan pengalamannya sebelum debut dengan ditambah jadwal pertemuan dengan trainer kesehatan.
"Kau tidak perlu mengantarku,"
"Omong kosong."
Respon tak terbantahkan dari Kyungsoo membungkam Baekhyun. Manajer itu tajam menolak setiap ia berkata demikian beberapa hari terakhir setiap usai menjalani jadwal yang sibuk.
"Kau bukan bodyguard," cebik Baekhyun.
"Kurasa kau belum juga paham benar tentang konsep manajer artis. Pekerjaan ini jauh lebih berat dari sekadar bodyguard," sahut Kyungsoo—yang, seperti biasa—datar. "Apalagi kalau artis yang dikawal hobi sekali protes."
"Maksudmu aku?"
Kyungsoo tak lagi menjawab. Memilih diam bersama langkah mereka yang terus bergulir meninggalkan pelataran depan gedung agensi, membiarkan sang penyanyi menyadari sendiri sindiran barusan.
Hari sudah larut. Sudah empat hari semenjak kejadian di pesta. Kyungsoo berubah semakin intens mengawal aktivitas Baekhyun. Selama penyanyi itu belum kembali ke kamar asramanya, kau akan menemukan Kyungsoo berada di sisinya.
Seperti halnya bagian dalam yang sudah sepi karena hari telah larut, jalanan di depan gedung hanya sesekali dilintasi kendaraan sampai tak sengaja Baekhyun menghitung setiap kendaraan yang lewat.
Ah, tidak. Sejujurnya, ia memang memperhatikan betul setiap mobil yang melintas. Mencari-cari satu yang familiar yang seringkali mencegat langkahnya. Kaca mobil yang diturunkan, memunculkan sosok seorang pria dengan sepasang mata tajam yang akan menyuruhnya masuk tanpa bisa ia menolak.
Tetapi ketika langkah telah jauh dari gedung agensi dan nyaris sampai ke asrama, Baekhyun tak menemukannya. Membuat jemarinya tanpa sadar meremat ujung baju bersama risau yang sama dengan yang ia rasakan selama empat hari terakhir.
"..hyun,"
"Baekhyun!"
Si penyanyi tersentak. Begitu tersadar, gedung asrama menyambut penglihatannya.
"Lihat, aku mengantarmu dan bisa-bisanya kau masih melamun. Dan kau masih saja protes."
Baekhyun menggaruk pelipis menerima omelan itu.
"Maaf, Bu,"
"Katakan lagi dan kupatahkan lenganmu,"
Sang penyanyi beringsut menghindari sang manajer yang hendak menyerangnya. Buru-buru menuju pintu gedung.
"Jangan lupa suplemenmu," kata sang manajer berkacamata ketika Baekhyun beranjak memasuki gedung.
"Mengerti, Tuan Bodyguard."
"Awas kau!"
Baekhyun tertawa kecil menanggapi ancaman kosong manajernya. Membawa langkah menuju kamar. Berbenah dan membersihkan diri.
Jam nyaris menunjukkan waktu tengah malam. Baekhyun membawa tubuhnya berbaring di atar single bed putih kamar tersebut. Menarikan jemari di atas layar ponsel, sebelum berakhir di daftar kontak tersimpan. Membuka satu di antaranya.
Ditatapnya layar ponsel yang menampilkan sebuah nama dan nomor yang telah cukup lama tersimpan di sana. Lama. Matanya berhenti pada nama itu tanpa benar-benar melakukan apapun. Kecuali, mengarahkan ujung jarinya ke atas icon telepon hijau di sana. Berkali-kali ia nyaris menekannya untuk menghubungi nomor tersebut.
'Kau boleh menghubungiku bila ada yang ingin dibicarakan.'
Baekhyun menggigit bibir. Ia tidak memiliki apapun untuk dibicarakan dengan pria itu. Selama empat hari terakhir, ia memang tidak pernah memiliki apapun untuk dikatakan. Memiliki dorongan untuk menghubunginya pula sudah terasa sangat tak masuk akal.
Chan. Yeol.
Baekhyun mengeja nama yang tetera di layar dalam hati.
Sang direktur sudah barang tentu begitu sibuk, dan menerima panggilan yang tak jelas juntrungannya sama sekali bukan hal yang cukup penting untuk dilakukan. Baekhyun pula tidak ingin menjadi alasan terganggunya pria itu.
Detik hingga menit-menit berikutnya Baekhyun habiskan untuk menatap layar yang masih menampilkan hal yang sama. Hanya menjaga itu tetap menyala tanpa benar-benar ia melakukan apapun selain memandangi dan membiarkan ujung jemarinya melayang di atas satu tombol yang mampu menghubungkannya dengan pria itu hanya dengan sekali tekan.
Menghela napas, Baekhyun berusaha menyingkirkan niat tidak penting itu. Chanyeol pastilah sangat sangat sibuk. Ia tak berada dalam posisi yang pantas untuk menjadi distraksi.
Sayangnya, jemari yang sejak tadi berhenti sepersekian senti di atas tombol panggilan terlepas dari kendali. Tombol hijau tak sengaja ditekan. Layar mulai berganti. Menunggu panggilan diangkat.
Baekhyun mengerjap. Sekali, dua kali. Napas seperti terhenti. Otaknya tiba-tiba melambat tak mampu mencerna apa yang baru saja tak sengaja ia lakukan.
Baru ketika tanda memanggil digantikan tampilan waktu yang menunjukkan panggilan telah berjalan selama satu detik, Baekhyun bangkit terduduk, memekik tertahan dan menekan icon berwarna merah di layar berulang kali.
"Apa yang kulakukan?! Astaga astaga astaga!"
Selepas panggilan akhirnya berhasil diputus, Baekhyun melempar ponselnya hingga benda itu memantul dan mendarat di dekat bantal. Ia merutuk. Mengacak rambut basahnya asal-asalan atas kebodohan yang baru saja ia lakukan.
"Bodoh.." rengeknya, menutup seluruh wajah dengan kedua telapak tangan. Merasakan betul degupan jantungnya yang menggila mengingat panggilan tak sengaja tadi sudah terlanjur tersambung sebelum sempat ia matikan.
Drrrt.
Lagi, Baekhyun mengerjap. Membuka mata. Suara getar benda memasuki pendengarannya.
Benda pipih di dekat bantal itu bergetar. Konstan. Menandakan sebuah panggilan masuk. Dan berkat ukuran ranjang yang tak terlalu besar sehingga jaraknya dengan benda itu tak terlalu jauh, Baekhyun dapat menangkap nama yang kini tertera di layarnya.
Baekhyun merasa dadanya dipukul-pukul dari dalam sana. Wajah hingga seluruh tubuhnya memanas sambil tangan meraih kembali ponselnya.
Sebuah panggilan masuk dari kontak dengan nama Chanyeol.
Bersama jantungnya yang tidak juga mampu berhasil ia buat tenang, Baekhyun mengumpulkan keberanian untuk menggeser tombol hijau di sana. Jemari gemetarnya mulai bergerak. Panggilan dimulai. Dengan degup yang semakin menggila, Baekhyun menempatkan benda itu di telinganya.
"Ha—halo?"
"Terjadi sesuatu?"
Bibir dikulum kuat. Dua kata yang diucapkan dengan suara itu memenuhi otaknya. Memunculkan bayangan pemiliknya, membentuk visualiasi seorang pria tinggi dengan undercut sewarna platina dengan begitu jelasnya.
"Baekhyun,"
Sang penyanyi mulai merasakan sesak pada napas. Jantungnya terus memukul kuat dari dalam saat pria itu menyebut namanya. Empat hari tak mendengarnya, suara yang memanggil namanya tersebut mencipta euforia tak tergambarkan. Seperti, menerima sesuatu yang tengah kau idam-idamkan begitu besarnya.
Menelan ludah, Baekhyun memaksa tenggorokannya mengeluarkan kata di tengah cekat. "Ma—maaf. Aku.. tidak sengaja—Maksudku—aku.. salah.. menekan tombol.."
"..."
Detik berlalu. Baekhyun semakin merutuki diri atas kalimat yang baru ia lontarkan dengan terbata-bata.
"Di mana kau sekarang?"
Baekhyun mulai menyentuh dadanya yang terasa akan meledak. Tubuhnya diliputi desir asing yang anehnya terasa menyenangkan. Mengalir deras ke seluruh bagian tubuh.
"Aku.. di asrama,"
Jeda sejenak lagi.
"Kau.. baik-baik saja?"
"I—iya, aku baik,"
Lagi, panggilan diisi hening. Cukup lama. Baekhyun di atas ranjangnya terus-terusan terduduk kaku dengan panas menjalari wajahnya.
"Baiklah. Kututup."
"Chanyeol—"
Panggilan berakhir. Baekhyun tidak sadar ia baru saja hendak menghentikan pria itu untuk menutup telepon. Tetapi bagaimanapun, sambungan memang telah terputus. Dan tidak seperti kata yang barusan spontan terucap, kali ini Baekhyun tahu, ada kecewa ia rasakan ketika sambungan harus terputus. Menandakan akhir dari interaksi itu.
Ia menghela napas, merebahkan diri di ranjang mencari posisi nyaman untuk tidur. Sambil meringkuk ia pandangi layar ponsel yang belum ia lepas dari genggaman bersama sisa degup kencang di dada. Menunggu. Walaupun ia tahu tidak akan terjadi, diam-diam Baekhyun masih berharap dirinya akan mendapati nama itu lagi muncul di permukaan layar.
Tetapi, tidak ada satu pun panggilan masuk lagi hingga ia jatuh terlelap.
.
.
Chanyeol menatap layar ponselnya. Panggilan sudah diakhiri beberapa menit lalu. Hanya saja, ia tak bisa melepas benda itu dan terus memiliki dorongan untuk membuat panggilan lainnya agar suara itu bisa didengarnya lagi.
Ia menghela napas, menghentikan sama sekali keinginan itu dengan meletakkan ponselnya jauh-jauh.
Menemui sang penyanyi atau sekadar membuat kontak dengannya membawa Chanyeol pada ingatan hari itu. Setelah apa yang ia lakukan, ia tidak mungkin mampu menghadapi Baekhyun.
Bagaimana Baekhyun memandangnya sekarang, Chanyeol tak dapat memperkirakan. Bahkan mungkin, panggilan yang disebut sang penyanyi sebagai ketidaksengajaan sesungguhnya memang diniatkan. Mungkin, untuk meminta maaf. Seperti yang biasa lelaki itu lakukan. Meski sesungguhnya, bila harus ada yang meminta maaf tanpa henti, orang itu adalah dirinya.
Pekerjaan tidak akan menunggu. Untuknya atau penyanyi itu. Yang harus mereka lakukan, hanya melakukan perannya masing-masing.
.
oOo
.
"Sudah cukup, Baek," Kyungsoo mematikan speaker di studio tari itu. Latihan koreografi selesai lebih dari satu jam yang lalu, tetapi seperti biasa, selama masih ada ruangan yang kosong, lelaki Byun itu tidak akan menghentikan latihannya begitu saja. Dan seperti biasa pula, sebelum Baekhyun melayangkan protes, Kyungsoo lebih dulu menyela.
"Tidak ada membantah. Latihan selesai dan sekarang pergi bersihkan dirimu."
"Kau ini," Baekhyun terpaksa menerima handuk dan tasnya dari sang manajer yang telah siaga beberapa menit sebelum latihan yang sesungguhnya selesai bersama dancer yang lain beberapa waktu lalu. Setidaknya, ia memberi satu jam untuk Baekhyun menuntaskan keinginannya menambah porsi latihan meski harus memperoleh rentetan omelan sebelumnya.
Baekhyun beranjak. Melakukan segalanya di bawah pengawasan Kyungsoo sudah seperti rutinitas di hari-hari belakangan. Ia akan membersihkan diri di bilik khusus dekat studio, kemudian kembali ke asrama dengan ditemani pula oleh sang manajer.
Sebelum benar-benar meninggalkan studio, Baekhyun menghentikan langkahnya. Menimbang. Sesuatu terpikir olehnya selama latihan berjalan. Dan mungkin, ia bisa mengatakannya pada Kyungsoo saat ini juga.
"Kyung," panggilnya begitu tubuh sempurna berbalik kembali menghadap sang manajer. "Kau tidak perlu mengantarku."
"Tidak—"
"Aku ingin menemuinya,"
Kyungsoo terdiam saat Baekhyun memotong kalimatnya. Entah bagaimana, sebelum pikirannya bahkan bertanya, wajah sang penyanyi menjelaskan semuanya. Ekspresi yang belakangan ini seringkali tanpa sadar ditunjukkan lelaki itu. Sendu? Rindu? Mungkin di antara itu, atau mungkin juga keduanya. Tanpa disebutkan pun, Kyungsoo tahu siapa yang dimaksud penyanyi itu.
"Jangan pulang sendirian terlalu larut," kata Kyungsoo. Setelah itu, hanya senyum sumringah yang ia lihat dari wajah sang penyanyi. Lelaki itu kemudian menghambur padanya. Mengujar terima kasih berkali-kali lantas menghilang dari balik pintu.
Tak banyak waktu yang Baekhyun habiskan di ruang ganti. Jantungnya berdegup penuh antisipasi. Memacu pergerakannya lebih cepat lagi dan lagi sampai ia sudah berdiri gugup di dalam lift yang akan membawanya ke lantai atas.
Pintu lift terbuka. Langkah terayun ragu. Pintu megah yang akan membawa siapapun yang melewatinya kepada sang presiden direktur sudah tampak di depan mata. Berjarak beberapa langkah saja. Sedekat itu, dan Baekhyun sudah bisa menemuinya.
"Baekhyun-ssi?"
Sekretaris Jun menghampiri, datang menyambut bersama senyum ramahnya. Baekhyun membungkuk dan mau tidak mau kembali berdebar karena ia harus segera mengatakan maksudnya berkunjung ke lantai eksklusif ini.
"Selamat malam. Apa.." Menelan ludah, kalimatnya harus terpotong oleh ragu. "..Chanyeol ada di ruangannya?"
"Ah, iya—"
Di waktu bersamaan, pintu ruangan terbuka. Chanyeol muncul dari sana dengan stelan rapinya. Tampak begitu prima meski hari sudah berada di ambang pergantian.
Seperti deja vu. Seperti keberuntungan dan kesialan yang menjadi satu karena Baekhyun dipertemukan dengan keinginannya dengan begitu cepat. Gundah yang sempat dirasa terserap habis begitu matanya menangkap keberadaan pria itu. Perasaan aneh seperti selalu merasa kurang pada dirinya selama beberapa hari ini, hilang bersama kemunculan pria Park itu.
Sang direktur melintas cepat. Melangkah lurus-lurus menuju lift setelah sempat sekilas melirik padanya. Baekhyun membuka mulut, tetapi keberaniannya benar-benar masih seujung kuku. Terbuka, menutup lagi. Baru ketika sang direktur telah menekan tombol lift, Baekhyun mengejar.
"C—chanyeol."
Yang dipanggil melirik. Tak benar menyahuti lelaki mungil ber-hoodie merah yang telah berdiri menghadapnya.
"Aku.. ingin mengunjungi Jongin," Baekhyun menggigit bibir sejenak, "..bisakah?"
Jawaban tak langsung ia peroleh. Tak berani mendongak, maka ia pun tak tahu seperti apa reaksi sang direktur dalam detik-detik yang kosong itu.
"Jun akan mengantarmu,"
"Uh? Tapi.."
"Apa?"
"Tidak bisakah.. kau.." Baekhyun menyahut, ragu, suaranya terus mengecil. Tetapi ia tidak ingin berhenti di sana. "..yang mengantarku?" cicitnya.
Hening lagi. Agaknya memakan waktu lebih lama dari yang sebelumnya. Baekhyun menerka-nerka apakah ia akan mendapat bentakan serupa waktu itu karena telah berlaku begitu lancang.
"Dua puluh menit lagi. Temui aku di basement."
.
.
Hampir dua jam kemudian, Baekhyun telah menginjakkan kaki di kediaman Byun. Menyapa Jongin, melakukan sesi makan—larut—malam seperti yang biasa mereka lakukan.
Lengan diguncang pelan. Baekhyun tersentak dari kegiatannya mengamati sang direktur di sofa sana tanpa sadar.
Kau sakit?
Baekhyun menggeleng. Menunduk mengaduk isi mangkuknya yang berporsi tak seberapa. Diam-diam, ada rasa bersalah muncul. Setelah lancang meminta Chanyeol mengantarnya, Baekhyun menjadikan Jongin sebagai alasan hanya untuk bersama pria itu lebih lama.
"Tidak, aku sudah meminum banyak vitamin belakangan ini. Aku baik-baik saja," jawab Baekhyun lambat-lambat, mengukir senyum pada sang adik.
Tapi Jongin tampak ragu. Ia menatap kakaknya lamat-lamat.
Kau tidak baik-baik saja.
Baekhyun terdiam. Tidak merespon.
Sesuatu terjadi di antara kalian, kan?
"Tidak ada, Jongin." Baekhyun menampik. Bagaimanapun, dirinya sendiri bahkan tak tahu apa yang terjadi di antaranya dengan sang direktur. Sebab meski ia mencoba tak berprasangka, Chanyeol benar bersikap berbeda. Perjalanan panjang menuju rumahnya tidak sama sekali diisi obrolan. Saat Baekhyun bertanya pun, sang direktur menjawab pendek tanpa sekalipun melihatnya.
Tanpa sadar, Baekhyun terus-terusan mengacaukan isi mangkuknya. Kunjungannya malam ini membawa kekhawatiran baru bagi Jongin, saat ia bahkan menggunakannya sebagai alibi untuk keegoisannya sendiri.
Yang tidak Baekhyun ketahui, adalah hal wajar ketika kau terus-terusan mengarang alasan untuk dapat bersama seorang yang kau sukai. Tidak ada yang salah dengan hal itu, tidak ada yang salah dengan dirinya yang memiliki perasaan seperti itu.
Tak lama, makan malam selesai. Jongin, seperti biasa memberikan kecupan di pipinya.
Jangan lupa bicara padanya.
Baekhyun mengantar kepergian Jongin yang melesat meninggalkan ruangan tersebut dengan matanya. Rasanya, ia semakin menyayangi adik bongsornya itu.
Selepas membersihkan peralatan makan, Baekhyun melangkah ragu menuju sofa. Tempat di mana sang direktur menunggu. Ia mengambil tempat di sisi sang direktur, tepat di ujung satunya dari sofa panjang tersebut. Sempat ia berpikir, sebelum membungkukkan badan pada pria itu.
"Maaf sudah lancang memintamu mengantarku," Baekhyun kembali duduk tegak di tempatnya. Mengulum bibir. "Aku pasti mengganggu kesibukanmu."
Respon tak segera Baekhyun peroleh. Ia hanya melirik dari ekor mata ketika sang direktur bergerak memasukkan ponselnya ke dalam saku.
Setelah satu hela napas kentara, Chanyeol akhirnya melempar jawaban. "Sudah kubilang, kau tidak diizinkan lagi untuk meminta maaf."
Kemudian hening. Baekhyun masih merasa tidak enak hati dan Chanyeol pula belum lagi bersuara.
Lama waktu habis untuk mereka saling terdiam. Tak ada yang beranjak. Keheningan yang seperti tak berujung. Tapi, sebab keduanya benar tak beranjak itulah, keduanya tahu mereka perlu bicara. Entah siapa yang akan memulai, mereka perlu bicara.
"Maaf,"
Baekhyun memberanikan diri menoleh. Bingung. Sosok yang masih tampak begitu tinggi dalam posisi duduk mereka, begitu rapi meski hari telah berganti. Baekhyun kembali mengagumi pahatan itu.
"Untuk apa?"
Pertanyaan Baekhyun berhasil mencuri atensi sang direktur untuk balik menoleh kepadanya, namun hal itu hanya berlaku sekian detik saja. Dan sesuatu yang lucu mulai Baekhyun sadari, bahwa ia kecewa kehilangan tatapan itu.
Chanyeol memijat pelipisnya, sebelah siku tertumpu pada lutut. "Aku kehilangan kendali saat itu."
Mendengarnya, Baekhyun menggigit kuat bibirnya. Perasaannya berkecamuk. Ia pikir tubuhnya mulai berlebihan dalam memberi reaksi bila sudah menyangkut pria ini. Rupanya, Chanyeol membahas malam itu. Ketika Baekhyun bahkan tak pernah mempermasalahkannya, Chanyeol masih mengungkit bahkan meminta maaf untuk sesuatu yang telah cukup lama berlalu.
"Aku.." Ragu, sebuah kalimat berhenti di ujung tenggorokan. Kepalanya beralih menunduk. Menatap lantai. Baekhyun tidak tahu apakah ia boleh mengungkapkan apa yang sesungguhnya ia rasakan atas hal itu.
"Aku.. tidak pernah merasa seaman itu, ketika seseorang datang saat aku begitu ketakutan," ucapnya pelan. Kalimatnya kembali terhenti, masih ragu untuk menuntaskan. Tetapi Baekhyun pikir, ia hanya ingin jujur, dan membuktikan kalau tidak ada kata maaf yang diperlukan, untuk apapun.
"Aku baik-baik saja.." cicitnya, "..karena itu adalah Chanyeol,"
Persetan dengan pandangan sang direktur padanya, untuk pertama kali seumur hidup, Baekhyun menjadi jujur atas apa yang dirasakannya. Kalau memang segalanya berakhir buruk, dan seluruh prasangkanya yang juga buruk adalah nyata, ia tidak apa-apa.
Hela napas lagi Baekhyun dengar. Kali ini jauh lebih kentara.
"Kau terlalu baik." Telapak besar itu mendarat di pucuk kepalanya. Memberi usapan singkat sebelum kembali ditarik oleh sang pemilik.
"Malam itu.. apa kau meminum sesuatu sebelum orang-orang itu membawamu?" Chanyeol bertanya, tanpa benar-benar menoleh pada sang penyanyi yang duduk berjarak tiga jengkal di sampingnya.
Baekhyun memutar ingatannya pada malam itu. Karena formalitas yang teguh ingin ia penuhi, Baekhyun menerima jamuan dari pemilik agensi besar itu. Ia ingat hanya menenggak beberapa teguk mocktail yang disajikan padanya sebelum merasakan aneh pada tubuhnya sendiri. Ingatan itu membawa Baekhyun pada sebuah anggukan untuk menjawab.
Chanyeol menghela napas. Sebab apa yang ia tanyakan semata konfirmasi atas apa yang sudah diketahuinya lebih dulu, setidaknya ia tak semarah sebelumnya.
"Teruslah bersama Manajer Do ke manapun kau pergi. Aku tidak bisa menaruh mata padamu setiap saat," ujar sang direktur. Bagaimanapun datar dan kakunya intonasi yang ia suarakan, entah mengapa Baekhyun justru terus-terusan memperoleh kehangatan dari itu semua.
Si penyanyi mengangguk. Atas sebuah alasan yang masih buram, Baekhyun berdebar. Ini bukan pertama kalinya Chanyeol menyiratkan perhatian seperti itu, namun efek yang ia terima masih terus sama hebatnya. Sosok sang direktur memang begitu mengagumkan baginya. Bahkan pahatan wajahnya, tampak seperti mimpi indah di musim panas. Sempurna tegas dan menawan.
Tanpa sadar, Baekhyun terpaku memandangi sosok itu.
Sang direktur menoleh. Tatap akhirnya bertemu. Seperti magnet, lekat tak mau terputus.
Pria yang lebih tinggi menghabiskan sekian detik menelusuri wajah di hadapannya. Wajah yang ketika disapu riasan bisa tampak begitu mencuri perhatian, namun jauh lebih mempesona dalam sinar alaminya. Chanyeol tidak mengerti bagaimana mata sipit itu, pipi gembil merona itu, serta bibir kecil itu, bisa terlihat sangat menarik baginya.
Ternyata, sekeras apapun ia menyangkal, Chanyeol tak bisa lagi menolak fakta bahwa ia tak bisa berhenti. Melihatnya, menyentuhnya. Sama halnya dengan kuncian tatap mereka, Baekhyun seperti memiliki magnet yang terus menariknya mendekat.
Lama, tak ada satupun di antara keduanya yang memutus kontak. Sama-sama, terpaku teradiksi.
"Kenapa tatapanmu seperti mengizinkanku untuk menciummu detik ini juga?" Sang direktur bergumam lirih.
Dentum keras Baekhyun rasakan di dadanya. Bibir kembali ia gigit. Tanpa bisa ia tutupi, matanya menyorot penuh antisipasi. Gelombang bisik dari suara berat sang direktur seperti mengirimkan friksi aneh sampai ke aliran darahnya yang kini mengalir semakin cepat.
Perlahan, jarak wajah keduanya terpangkas. Semakin detik semakin tipis, tanpa seorang pun dari mereka mundur.
Dan ketika perkataan sang direktur terealisasi dalam wujud sentuhan bibir keduanya, Baekhyun secara sadar tak menolak. Dia tak bisa menutupi lagi, bahwa pertanyaan sang direktur adalah benar adanya. Ia mengizinkannya.
Bilah keduanya berpagut lembut. Mata terpejam sedari tadi. Satu bergerak mendominasi, satu berusaha membalas walau belum pandai lakukan.
Telapak tangan besar sang direktur mulai berpindah. Meraih rahang sang penyanyi untuk diusap lembut, sekaligus memperdalam apa yang tengah mereka lakukan. Baekhyun melemas dalam duduknya. Seluruh tubuhnya terasa seperti jeli yang tak mampu menopang. Semua yang ada pada sang direktur memenuhi seluruh inderanya. Aromanya, sentuhannya, segalanya. Kelembutan yang ia terima membuatnya seperti mabuk. Terlena. Ia pasrah ketika tubuhnya perlahan terdorong berbaring pada sofa. Baekhyun tak ingin ini berakhir.
Detik demi detik berlalu, penyatuan itu masih sama lembutnya. Sesekali terlepas demi napas, sebelum kembali saling mencari. Rasanya, dengan ciuman ini saja, keduanya dapat hidup selamanya.
Kecipak terakhir, yang lebih tinggi mengakhiri dengan satu kecupan lembut di sudut bibir sang penyanyi.
"Kau benar-benar cepat belajar," bisik sang direktur bersama sebuah seringai tipis.
Baekhyun merona hebat. Entah bagaimana caranya, ia tahu sang direktur membicarakan caranya membalas pagutan pria itu. Ia hanya mengikuti alur yang pria itu lakukan, dan begitu saja Baekhyun terhanyut dalam iramanya.
Baekhyun membawa turun pandangannya, tak mampu lagi berlama-lama bertatap. Setiap saat, aura dominasi milik pria ini begitu pekat. Berada dalam situasi seperti ini tentu saja melipatgandakannya.
"Lain kali, kuharap kau tidak memberiku tatapan seperti tadi lagi,"
Menelengkan kepala, Baekhyun mendongak bertanya lewat sorot mata.
Sang direktur mendekat, berucap tepat di samping telinga Baekhyun. "Kalau kau memberi izin lagi, aku mungkin tidak bisa menahannya."
Baekhyun menggelinjang saat merasa telinganya dikulum dalam waktu teramat singkat. Begitu tatapan keduanya kembali bersirobok, Baekhyun melawan apa yang diharapkan sang direktur.
Ia pikir, ia tak bisa menjanjikan hal itu. Baekhyun, tak mungkin bisa menolak. Ia tidak ingin Chanyeol menahannya.
.
oOo
.
Feel-ing [v.] be aware of a person or object
.
.
Hikdd gatel banget mau ngelanjutin ampe tamat tapi waktunya kejar-kejaran ama tugas huhu :") Gapapa gapapa pelan2 yyy /elus dada/ Oh ini nggak diedit juga ya maapin kalo ada typo atau apa.. Nda sempet :") Daaaannn MAKASIH YAA YANG MASIH NGIKUTIINN
Special shoutout to erishiteru | bbaekhyunfans | ChanBaek09 | someflufi | baekhyunpup | KlyJC | baechiatto | sehuniewife | Lucyana6104 | crescentchie | jinahyoo
Semoga secepetnya saya bisa up lagi! Di dalem otak udah desek2an ini/? Hehehe aamiin
