The Plan - I

.

.

oOo

.

Baekhyun pikir dirinya harus segera kembali menemui dokter. Tidak, ini bukan karena kecelakaan panggung itu. Hanya saja, jantungnya benar-benar tidak bisa berhenti berdebar bahkan setelah beberapa waktu duduk di jok mobil dalam perjalanan kembali ke asrama. Matanya hanya mampu ia larikan ke luar jendela. Lampu jalan, reklame, atau dari kendaraan lainnya yang melintas, itu semua tampak seperti kilas cahaya kilat yang bahkan tak sempat terekam memori.

Sesekali, jemarinya membuat pergerakan kecil di pangkuan. Pikiran sudah barang tentu melayang kemana-mana. Perutnya bahkan mulai terasa tidak enak. Ia benar-benar tak tahu bagaimana menyikapi perasaannya sendiri. Rasanya seperti akan meledak.

Ada banyak pikiran berlalu-lalang dalam kepalanya sejak tadi. Tepatnya, sejak apa yang terjadi di rumahnya—di atas sofa rumahnya.

Tanpa bisa dikendalikan, Baekhyun merasa wajahnya kembali mendidih. Astaga, ia kira, dirinya telah mampu bersikap lebih tenang. Namun rupanya semua itu masih terekam terlalu jelas untuk sekadar dirinya berhenti membuat reaksi berlebihan.

Mengapa Chanyeol melakukannya?

Itu salah satu dari pertanyaan yang tidak Baekhyun tahu ingin ia tujukan pada siapa. Karena tidak, ia tidak akan menanyakan itu pada sang direktur. Bahkan untuk mengungkitnya kembali, Baekhyun tidak memiliki keberanian. Ia tidak ingin menuntut. Ia tidak merasa berada di tempat—atau memiliki sesuatu apapun—yang membuatnya pantas untuk melakukan itu. Tetapi, ia pun tak tahu apa jawabannya. Dan ketidaktahuan itu mungkin membuatnya tak akan pernah bisa berhenti memikirkannya entah sampai kapan.

Di malam pesta diadakan ketika kesadaran hanya separuh Baekhyun miliki dan Chanyeol melakukannya, entah bagaimana, ia bisa mengerti bahwa itu merupakan ketidaksengajaan. Tidak ada yang perlu dipertanyakan dan toh tidak ada hal lain yang terjadi.

Tapi kali ini, Baekhyun kesulitan untuk menghentikan pikirannya dari pertanyaan-pertanyaan serupa.

Mengapa?

Ia sejujurnya sangat ingin tahu. Sebab tidak ada ekspektasi apapun yang ingin ia biarkan terbentuk.

"Baekhyun,"

Si penyanyi nyaris tersedak ludahnya sendiri saat akhirnya sebuah suara terdengar pada separuh lebih perjalanan.

"Ya?" Tak sengaja, Baekhyun menjawab dengan cicitan lemah. Ia bahkan tidak bisa mengendalikan volume suaranya. Demi Tuhan, jantungnya seperti sedang berpesta di dalam sana.

Satu-dua detik berjeda.

"Kenapa kau memilih untuk bernyanyi?" tanya pria itu, masih fokus mengendalikan kemudi.

Pertanyaan itu mendistraksi seluruh fokus Baekhyun akan sekian pertanyaan tidak penting yang menghantui pikirannya sejak tadi.

'Kenapa kau memilih untuk bernyanyi?'

Pertanyaan itu, ya? Sejak hari pertamanya mengikuti audisi untuk menjadi trainee, Baekhyun telah mendengar pertanyaan yang sama ditujukan padanya. Itu bukan pertanyaan asing bagi seorang sepertinya. Seluruh trainee hingga bintang papan atas akan menerimanya entah di awal audisi, di tengah latihan melelahkan sebelum debut, atau mungkin di atas panggung penghargaan.

Baekhyun pernah menjawab pertanyaan itu dengan yakin, bahwa menyanyi adalah hidupnya—tidak, menyanyi menjadi satu cara yang ia pilih untuk hidup. Menyanyi adalah caranya membuat wujud yang nyata dari seluruh isi hati dan pikirannya. Hanya dengan itulah, Baekhyun bisa merasa tetap hidup.

Namun saat ini, ketika pertanyaan itu terlontar untuk kedua kalinya dalam keadaan yang jauh berbeda, Baekhyun lagi-lagi memiliki begitu banyak hal untuk dikatakan. Alasannya bernyanyi telah berubah lebih rumit dari sekadar satu kalimat klise seperti yang pernah ia suarakan dahulu di hadapan tim penilai audisi. Berubah karena sesuatu yang tiba-tiba datang di hidupnya, dan berpengaruh begitu banyak dalam waktu singkat.

Baekhyun kini sungguh memiliki banyak alasan untuk menyanyi. Termasuk, seorang yang baru saja memberinya pertanyaan itu sendiri.

Entah sudah berapa detik terlewati tanpa jawaban. Baekhyun tidak sadar akan itu karena isi pikirannya harus menikung tiba-tiba dan ia dibuat semakin tak menentu.

"Itu.."

Tidak ada jawaban yang terutarakan. Dari sekian banyak yang ia miliki, tidak ada satu jawaban yang ia rasa bisa ia berikan pada sang direktur. Detik-detik berikutnya berlalu, kalimat Baekhyun menggantung begitu saja.

"Baekhyun?"

Baekhyun memaksa mulutnya terbuka. Mengatakan sesuatu apapun. Tetapi kelu lidahnya tak mau bergerak. Satu sisi dari dirinya memiliki keinginan untuk mengungkap secara jujur, sementara sisi lainnya melarang habis-habisan.

Baekhyun berakhir diam, urung melontarkan jawaban apapun.

Chanyeol mengernyit. Ia beberapa kali mengalihkan sejenak pandangannya dari jalan raya demi mengecek keadaan si penyanyi.

"Baekhyun?"

Setelah sekali lagi melontar kalimat namun tak mendapat jawab, Chanyeol melirik kaca spion, memastikan tidak ada kendaraan yang hendak menyalip, lantas menepikan mobil.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya, kini menoleh sepenuhnya memusatkan atensi pada lelaki mungil di sampingnya. Satu detik tak juga melihat respon darinya, Chanyeol mulai tak sabar. Ia melepas kemudi dan beralih menggunakan tangannya untuk menarik bahu sempit itu. Memaksa menghadap padanya.

"Baekhyun."

Baekhyun menemukan dirinya lagi-lagi terkunci pada kedua mata tajam itu. Perasaan tidak enak hati semakin menyeruak. Baekhyun—lagi-lagi—disadarkan tentang betapa lancangnya ia pada sang direktur dengan sebuah remeh-temeh serupa tidak segera memberi jawaban.

"M—maaf." Meski terbata, satu kata berhasil lolos dari mulut Baekhyun. Ia masih terpaku pada sorot mendominasi milik Chanyeol. "Aku.. hanya merasa menyanyi bisa membuatku tetap hidup."

Chanyeol mengembuskan napas yang taunya sempat ia tahan. Ia bukannya memaksa Baekhyun menjawab pertanyaan itu. Ia lebih ingin memperoleh jawaban tentang apakah lelaki itu baik-baik saja. Telapak tangannya terangkat menuju dahi Baekhyun, secara naluriah mencoba mencari jawaban sendiri demi memastikan keadaannya.

Saat mendapati suhu yang normal, Chanyeol sekali lagi menghela napas.

"Kau membuatku panik," ucap sang direktur setengah bergumam, hingga gelombangnya tak sampai ke pendengaran sang penyanyi.

Chanyeol menarik tangannya. Mobil kembali dilajukan. Rambu dilarang parkir terpampang dengan jelas dan itu cukup membuat Chanyeol tidak ingin berlama-lama menepi.

Setelah kehilangan sentuhan di bahunya, Baekhyun perlahan melepas pandangannya dari wajah tersebut. Kembali memutar kepala ke arah jendela.

Akhirnya, tetap satu alasan itu yang terucap. Ia sungguh bodoh dengan tidak memikirkan jawaban lain yang jauh lebih pantas diberikan di hadapan seorang presiden direktur. Mungkin, bila orang lain yang memperoleh jawaban payah itu, keberlangsungan karirnya akan menjadi bahan pertimbangan.

Hanya saja ia tahu, tidak mungkin mengatakan pada Chanyeol bahwa—

saat ini, aku menyanyi untuk banyak orang. Termasuk untuk Jongin, dan untukmu.

.

oOo

.

Tengah hari, gedung agensi berada di jam ramainya. Beberapa project baru memang Baekhyun dengar tengah dalam masa persiapan dan itulah mengapa lebih banyak orang terlihat berlalu-lalang dari satu ruangan ke ruangan lain.

Baekhyun menopang dagu. Ia masih menunggu Kyungsoo kembali kala matanya iseng mengamati lalu-lalang orang di lobby di bawah sana. Posisinya yang menumpu lengan pada kaca pembatas balkon di lantai empat memungkinkannya untuk melihat sebagian aktivitas di beberapa lantai.

Kesibukan sejak awal memasuki agensi ini membuat Baekhyun tak sempat banyak memiliki interaksi dengan orang-orang di LOEY-Music. Banyak yang belum ia ketahui tentang agensi ini. Tetapi beberapa waktu belakangan, itu sudah mulai membaik karena jadwal yang sudah sedikit lebih longgar setidaknya sampai sebelum waktu perilisan albumnya.

Baru saja akan berbalik dan berniat menghubungi Kyungsoo karena manajernya itu tak kunjung kembali, Baekhyun menangkap keberadaan sosok tinggi yang mencolok—setidaknya baginya—satu lantai di atas tempatnya berada sekarang. Hair up sewarnaplatina dan tubuh tingginya kontras dengan eksekutif lain yang berada di sekelilingnya.

Gedung agensi sedang ramai-ramainya. Sekian derap kaki terdengar acak namun anehnya, Baekhyun seolah bisa mendengar ketukan sol sepatu sang direktur yang berjalan memimpin di seberang sana. Oh, tentu saja itu hanya hiperbola. Tetapi, aura pria itu mungkin memang terlalu pekat. Kombinasi fakta tersebut serta sesuatu yang—uhm—tiba-tiba saja terlintas di kepala Baekhyun, membuat si penyanyi diam-diam terpana dengan wajah yang mulai bersemu.

Bagaimana mungkin ia menyukai seorang sesempurna itu?

Baekhyun tanpa sadar terus mengikuti pergerakannya hingga waktu di mana sosok itu tak lagi mampu tertangkap netra.

"Hey,"

Baekhyun nyaris menjerit saking sebuah suara mengejutkannya. Kyungsoo hadir di sampingnya, menirukan persis posisinya yang menumpu siku pada balkon. Manajernya itu menatap penuh intimidasi—begitu yang Baekhyun rasakan dari mata besarnya yang terbingkai kacamata—seperti baru saja menangkap basah dirinya melakukan sesuatu yang salah.

Bersama rengekan kecil, Baekhyun mengeluh, "Kau mengagetkanku, tahu."

Kyungsoo menarik sesuatu dari saku jaket, memberikannya pada Baekhyun. Hangat dari kaleng kopi langsung merambat ke permukaan tangan sang penyanyi.

"Terima kasih."

Sang manajer mengalihkan pandangannya. Tepat ke arah yang baru saja menjadi pusat atensi Baekhyun di lantai atas sana.

"Akan ada rapat eksekutif, kalau kau mau tahu."

"Uh?"

Kyungsoo kembali menatap Baekhyun. Kali ini, dua kali lipat kesan intimidatifnya karena benar diniatkan oleh si pemilik mata besar. Tak berminat menanggapi dengan penjelasan, ia memilih melontarkan pertanyaan baru. "Kenapa wajahmu memerah?"

Baekhyun menurunkan kaleng yang baru saja ia teguk isinya. "A—apa?"

Sesungguhnya, itu tampak sedikit lucu melihat Baekhyun bertingkah layaknya remaja yang tengah jatuh cinta. Ia bahkan tak menyadari saat Kyungsoo kembali hadir di sampingnya, mengamati bagaimana kedua mata sipit itu terus terarah pada seseorang yang sama.

Kyungsoo berbalik. Ia hanya main-main dengan pertanyaan itu, karena, yeah, tentu saja dia tahu apa penyebabnya.

"Ayo. Produser Zhang menunggu."

"Kyung—"

"Tidak, lupakan pertanyaanku."

Membiarkan Baekhyun yang refleks merengut setiap kali ia memerintah, keduanya melangkah mantap menuju ruangan di mana pertemuan dengan Produser Zhang akan dilakukan.

Kyungsoo tidak merasa apapun itu yang terjadi di antara Baekhyun dan sang direktur adalah sesuatu yang buruk. Sama sekali tidak. Hanya saja, setelah beberapa hal yang terjadi, ia terkadang memiliki kekhawatirannya sendiri.

"Selamat pagi," sapa Kyungsoo sembari membungkuk begitu memasuki aula rapat yang lengang dengan hanya sosok sang produser dan dua pria lain hadir di dalamnya. Zhang Yixing memutar kursi, membalas salam tersebut dengan senyum singkat yang sekilas menampakkan lesung pipinya.

"Silahkan ambil tempat di mana saja. Kita akan langsung memulai pembahasan." komandonya, dan seluruh yang ada dalam ruangan patuh mengikuti.

Sejenak Yixing berkutat dengan Macbook-nya, sebelum sebuah rancangan konsep video musik yang tampak begitu detail muncul di layar proyektor di depan sana.

"Brief dari keseluruhan konsep masih sama. Hanya saja ada beberapa hal yang perlu kujelaskan lebih jauh." Yixing memulai. Seisi ruangan terfokus pada layar dan apa yang pria itu paparkan.

Layar beralih menunjukkan satu per satu bagian dari langkah produksi.

"Konsep ini sudah melalui riset panjang dan teliti terhadap pasar di luaran sana. Seperti yang sudah kuberitahu sebelumnya, lagu yang akan Baekhyun bawakan seluruhnya ber-genre R&B. Future R&B untuk title track dan kombinasi hiphop pada beberapa track lain. Semua itu akan dipadankan dengan konsep video yang diprediksi menjadi tren nantinya."

Tampilan layar kembali beralih. Yixing memutar tubuhnya, menghadap seorang yang menjadi tokoh utama di ruangan tersebut.

"Dan.. Baekhyun?"

"Ya, Produser Zhang?"

"Video musik yang akan kita produksi akan jauh berbeda dengan video musik pertamamu. Ah, mungkin memang sepenuhnya berbeda. Jadi, kuharap kau bisa menangkap dengan baik seluruh brief yang akan kuberikan setelah ini."

Baekhyun merasakan luapan semangat dalam dirinya. Produser Zhang menatapnya lurus-lurus dan itu cukup menjadi tanda bahwa pria itu memiliki target yang diharapkannya dapat Baekhyun penuhi.

"Saya mengerti."

Yixing mengangguk, berputar kembali menghadap layar.

"Kita akan banyak memainkan visual dengan flirty action sekaligus setting target young-adult." Yixing menyoroti beberapa bagian. "Aku sudah menyampaikan ini pada seluruh pelatihmu dan mereka akan membantu mempersiapkan semuanya. Banyak detail yang harus dipersiapkan karena nantinya akan sangat tersorot," tambahnya, sekali lagi menoleh ke arah sang penyanyi sebelum melanjutkan pemaparan.

"Oh, ini benar-benar membuatku bersemangat. Kita seperti akan melahirkan Byun Baekhyun yang baru dan menyegarkan. Ini akan menjadi hit besar." Zhang Yixing berujar penuh antisipasi. "Kita bahkan bekerja sama dengan penulis lagu dan produser-produser kelas dunia."

Satu dari dua orang pria yang bertugas menjadi notulen sejak tadi melempar senyum pada Baekhyun, memberikan tepukan di bahunya. "Itu luar biasa, kau tahu."

Baekhyun memberikan senyum sopannya untuk itu. Bagaimanapun, segalanya terasa begitu luar biasa dan Baekhyun tahu ia perlu berusaha lebih keras.

.

.

"Tidak, kau keliru menggerakkan kakimu."

"Jangkauan tanganmu masih terlalu sempit."

"Kau melewatkan ketukannya."

Satu yang lebih tinggi dari dua orang di ruangan yang dikelilingi cermin itu mendecak samar.

"Sebaiknya kita istirahat." Oh Sehun menghentikan serentetan koreksi yang meluncur tanpa henti dari mulutnya yang mengiringi pergerakan Baekhyun mengikuti beat lagu. Langkahnya cepat namun teratur menghampiri pengeras suara di sudut ruangan, mematikan musik.

"Maaf. Aku membuat terlalu banyak kesalahan."

Sehun berbalik. Ia bersedekap dalam jarak sekian meter dari si lelaki Byun.

"Ya, tentu. Kau bergerak tanpa henti sejak berjam-jam lalu dan terus bersikeras melanjutkan. Itu sama sekali tidak akan membuat gerakanmu membaik," kata Sehun, berharap sarkasme yang dimaksudkannya dapat ditangkap dengan baik oleh Baekhyun.

Baekhyun menjatuhkan diri ke atas lantai studio tari sederhana itu, menghirup napas banyak-banyak, dan mengembuskannya bersama teriakan frustasi berharap seluruh lelah tubuhnya dapat menguap dan turut melebur ke udara.

"Maafkan aku," bisiknya kemudian. Mengambang. Matanya menatap lurus ke langit-langit studio. Tangannya terentang lebar-lebar. Ia sepenuhnya membiarkan tubuhnya bertumpu pada permukaan lantai di balik punggung.

Di saat seperti ini, kepalanya seringkali hanya dipenuhi oleh satu hal; sesegera mungkin menyempurnakan teknik menarinya di hari yang sama, agar bisa mempelajari teknik lain di kesempatan berikutnya. Itu akan sangat berpengaruh pada penguasaan berbagai jenis koreografi sekaligus fleksbilitas tubuhnya ke depannya.

Pemandangan langit-langit studio beserta lampu-lampu yang menggantung di atas sana tergantikan oleh wajah stoic milik Sehun. Lelaki tinggi berkulit putih pucat itu membungkuk dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana, menyejajarkan posisi kepalanya dengan Baekhyun yang masih betah berbaring.

Kini, Baekhyun bisa melihat wajah seorang Oh Sehun versi terbalik. Berbeda dengan dirinya yang telah bermandikan keringat, Sehun hanya sedikit berpeluh meski seharusnya berat untuk terus memberi contoh sekaligus mondar-mandir memperhatikan setiap gerak yang ia buat.

"Kau tahu? Aku berpikir sesuatu telah terjadi padamu," kata Sehun.

Baekhyun mengernyit. Hidungnya berkerut karena tak dapat memahami maksud temannya itu. Tubuhnya menyentak bangkit. Tudung jaket hitam yang dikenakannya sampai terlempar hingga menutupi kepalanya.

"Sesuatu seperti apa?" tanyanya tepat setelah memutar tubuh agar berhadapan dengan si lelaki Oh.

Sehun menegakkan tubuh. Berjalan lambat mendekati Baekhyun lantas berjongkok tepat di hadapannya. Ia mengangkat bahu. "Kau selalu keras kepala untuk berlatih tanpa henti setiap kali latihan. Tapi hari ini, kau berkali-kali lipat lebih bersikeras dari biasanya."

Sehun beranjak mendekat. Menatap tepat ke mata sipit milik Baekhyun. Itu mau tak mau membuat yang lebih pendek menjauhkan wajahnya.

"Sesuatu terjadi di antara kau dan si Direktur itu?" tanyanya.

Sebanyak waktu yang mereka habiskan untuk bertemu di studio tari sewaan dua puluh empat jam ini, sebanyak itu pula Sehun tahu mengenai Baekhyun dan segala kekaguman tersiratnya pada sosok pemilik LOEY-Music itu. Maka saat ini, ia tidak bisa menghentikan pikirannya untuk berspekulasi.

Namun ketika ia mendapati Baekhyun hanya terdiam menanggapi pertanyaannya bersama semburat merah samar di wajahnya, Sehun sedikit menyesal telah menyuarakan spekulasi itu.

Rupanya, ia tidak menyukai bagaimana Baekhyun bereaksi terhadap pertanyaan asal-asalannya.

Sehun mendengus, bangkit berdiri. Ia kehilangan minat mencari tahu jawaban dari pertanyaannya—ah, ia memang tidak betul-betul ingin tahu. Sayangnya bahasa tubuh Baekhyun telah lebih dulu menjelaskan bahwa sesuatu memang terjadi.

"Sejujurnya aku memiliki jadwal pagi buta nanti," kata Sehun, menggantung.

Baekhyun segera tersadar. Ia turut bangkit dari duduknya, berdiri menghadap kepada lelaki yang lebih tinggi.

"Ap—apa?" Baekhyun melirik satu-satunya jam dinding di ruangan itu. Pukul setengah dua pagi. "Kalau begitu kenapa—"

"Kita latihan sekali lagi sepuluh menit dari sekarang dan aku akan mengantarmu pulang." Sehun memotong, memberi satu 'puk' lembut dengan telapak tangan besarnya di atas kepala Baekhyun. Ia lantas menjauh, meraih tasnya di sudut ruangan dan mengecek ponselnya di sana.

Sejenak, Baekhyun memainkan bibir dalamnya sembari menyesali mengapa ia hanya diam alih-alih menolak dan berkata pada Sehun bahwa lelaki itu seharusnya pulang sekarang juga dan membiarkannya melanjutkan latihan sendiri. Tetapi setelahnya, Baekhyun memilih turut menghampiri tasnya yang teronggok di depan cermin. Mengambil botol air mineralnya di sana dan menenggaknya banyak-banyak.

Satu lagi sesi latihan berlalu dengan cepat. Itu adalah pelajaran ke sekian yang Baekhyun dapatkan. Banyak koreksi di sana-sini—Sehun tidak hentinya menyuarakan detail yang terlewat.

"Baekhyun," Sehun memanggil sesaat sebelum yang lebih mungil naik ke jok motor di belakangnya. Perlengkapan berkendara dan penyamaran mereka sudah terpasang sempurna. Walaupun tempat tersebut biasa digunakan oleh beberapa artis papan atas, tidak ada yang ingin mengambil risiko apapun dengan begitu saja mengekspos diri.

"Eung?" Baekhyun menyahut, masih sibuk memasangkan kaitan helm di bawah dagunya.

Sehun melepas pegangannya dari stang, mengambil alih pekerjaan kecil yang tidak bisa diselesaikan Baekhyun. Ia membantunya mengaitkan helm itu.

"Ada apa?" tanya Baekhyun, mengulang ketika Sehun tak kunjung melanjutkan kalimatnya.

Helm sudah terpasang sempurna. Sehun menarik kedua tangannya dan sejenak menatap kedua mata sipit—satu-satunya yang tak terhalang apapun dari wajah Baekhyun—yang mengedip polos kepadanya penuh tanda tanya.

"Tidak ada. Jangan lupa vitaminmu sebelum tidur nanti," kata Sehun. Mesin motor mulai dinyalakan. Dengan itu, Baekhyun melompat naik ke atas motor sport hitam milik teman kecilnya itu.

Sehun melajukan kendaraan kesayangannya di tengah jalanan dini hari. Sementara matanya terarah pada jalur di depan, pikirannya hanya tertuju pada seorang yang tengah menggenggam kedua sisi jaketnya di belakangnya.

Bayangan saat wajah lelaki mungil itu merona karena sesosok pria lain muncul begitu saja. Sehun bahkan masih mengingat dengan jelas ketika dalam sepersekian detik binar kedua mata sipit itu semakin nyata terlihat dan bagaimana pipinya mulai disapu semburat merah samar.

Sehun mengernyit. Itu semua terasa sedikit mengganggu.

.

.

Penat mungkin menjadi satu hal yang paling menggambarkan bagaimana sekian project yang tumpah tindih menyita perhatian Chanyeol. Tepat pagi tadi, rapat besar diadakan dan itu merupakan titik awal dari puncak kesibukan LOEY-Music dalam satu periode produksi kali ini.

Chanyeol meletakkan tablet yang menampilkan softcopy dokumen yang sejak tadi menyibukkan matanya ke atas meja. Dihempaskannya punggung ke sandaran kursi, menengadah memejamkan mata berusaha meredakan pening yang mulai hadir.

Banyak project penting yang harus digarap, namun prioritasnya saat ini adalah Baekhyun. Mereka perlu mendongkrak naik grafik yang sempat menurun pada re-debut penyanyi itu. Segalanya harus diperhitungkan dengan tanpa cacat. Dibanding tenaga, itu sungguh membuat lelah pikiran.

Perlahan, kelopak mata pria Park itu membuka, menampakkan bola mata yang menatap, menerawang ke langit-langit ruangan kerjanya. Ujung jemari panjangnya mengetuk-ngetuk handle kursi, diam-diam mempertimbangkan sesuatu. Detik berikutnya, ia kembali duduk tegak. Meraih ponselnya di sudut meja dan membuka daftar kontak dalam sejurus.

Mungkin, sebuah percakapan singkat dengan suara itu akan sedikit membantu.

Begitu menemukan satu nama yang dicarinya, Chanyeol baru saja akan menekan tombol hijau saat sebuah nama muncul pada tab notifikasi ponselnya.

Killian Wang.

Kernyitan di dahi sang direktur muncul tanpa benar diniatkan. Ia mengerut tak suka. Itu reaksi refleks sebab Killian Wang yang mengiriminya pesan adalah sesuatu yang tak biasa. Dan tentunya, tidak memiliki asosiasi yang positif dengan apapun.

Chanyeol mengarahkan jemarinya pada notifikasi itu. Layar berganti tampilan ruang obrolan dengan segera.

Tiga baris pesan terlihat pada layar. Singkat.

'Ada yang perlu kita bicarakan segera. Silahkan tentukan tempatnya. Ini menyangkut artis barumu itu.'

Melihat kalimat terakhir yang dikirimkan Killian padanya, Chanyeol kepalang terpancing dan yang ia lakukan berikutnya adalah menghubungi pria itu.

"Apa maksudmu?" tuntut Chanyeol, tepat setelah pria di seberang panggilan bersuara. Hela napas yang amat tipis terdengar dari sana.

"Aku sungguh tidak berminat meladeni emosimu. Tetapi ini menyangkut kepentingan agensiku juga."

"Apa—"

"Tentukan tempatnya, Park. Aku tidak bercanda saat menyebut ini sebagai sesuatu genting yang perlu dibicarakan segera."

Nada jengah dari seorang Killian Wang setidaknya berhasil membuat Chanyeol berpikir sehingga dorongan untuk menyumpah tidak benar-benar terealisasikan. Killian tidak biasanya berlaku demikian. Maka, sembari menyatakan diri akan datang langsung ke kantor pria itu begitu pagi tiba, Chanyeol tidak bisa menghentikan pikirannya untuk berprasangka.

.

oOo

.

Langkah terburu seolah menggema di lobby agensi K Entertainment. Hari masih begitu pagi saat Chanyeol menggunakan satu-satunya waktu luang yang dimilikinya hari ini untuk datang ke sana. Ia bahkan belum mendapatkan tidurnya sejak pemilik agensi besar ini menghubunginya dini hari tadi.

Begitu tiba di ruangan orang terpenting di gedung tersebut dan membuka pintunya begitu saja, Chanyeol segera menemukan orang yang dicarinya.

"Langsung saja. Aku tidak punya banyak waktu."

Killian yang sudah terlebih dulu menyadari eksistensi pria itu segera setelah pintu terbuka hanya menoleh sekilas sebelum berbalik menuju meja kerjanya. Ia mengeluarkan isi dari amplop cokelat yang terletak di atas sana, mengempasnya ke permukaan dan kembali bertolak menjauh tanpa mengatakan apapun.

Dengan cepat Chanyeol menghampiri meja mengulur tangan meraih dua lembaran kecil yang diletakkan si pria Wang ke atas meja.

Mata sontak melebar. Itu hanya dua lembar foto namun siapa dan apa yang tertangkap di dalamnya bukanlah sesuatu yang pernah ia pikir bisa berada di tangan pemilik K Entertainment.

"Jackpot, Park. Jackpot bagi media yang berhasil mengambil gambar ini. Dari reaksimu, sepertinya aku tidak perlu mempertanyakan keasliannya," kata Killisn. Ruangan sejenak hening. "Aku tidak tahu kau sebodoh ini."

Chanyeol mengeraskan rahang. Ia tidak peduli bagaimana nada mengejek itu keluar dari mulut Killian Wang, namun lembaran foto yang kini masih tergenggam di tangannya ialah penyebab sesungguhnya dari betapa terkejut dan marahnya ia sekarang.

Seorang lelaki mungil yang sama, dengan dua pria berbeda pada masing-masing lembar. Chanyeol tidak perlu bertanya atau bahkan sekadar menyipitkan mata untuk mengetahui siapa lelaki itu. Ia mengenal tubuh mungil itu.

Kekehan samar sarat ejekan terdengar dari satu yang lebih tinggi di antara dua pria dalam ruangan itu. Killian Wang masih menatap keluar jendela saat ia kembali berujar, "'Simpan hipotesis konyolmu untuk dirimu sendiri', huh?" Ia tertawa, teringat satu kalimat yang pernah didapatkannya dari sang pemilik LOEY-Music. "Kau jelas-jelas menyukainya."

"Apa yang kau inginkan, keparat?"

Killian berbalik. Rautnya tak sama sekali menawarkan kompromi dan tidak ada jejak seolah ia benar baru saja mengeluarkan tawa ejekan.

"Tahan dirimu, sialan. Kau pikir aku menduga semua ini? Artisku terlibat dan kau membuat semuanya menjadi runyam." ujarnya tajam, menatap tepat ke kedua mata pria yang menjadi saingannya selama ini.

"Katakan siapa yang mengirimkan ini."

Seperti sudah memprediksi reaksi tersebut, Killian menunjukkan sikap yang jauh lebih terkendali dibanding sang pria Park.

"Salah satu media besar yang sejak lama menginginkan kerja sama dengan perusahaanku mengirimkannya langsung dini hari tadi. Ia memberi pilihan; mempublikasikan fotomu atau merilis skandal hubungan palsu antara Oh Sehun dan Byun Baekhyun. Mereka menginginkan yang kedua untuk pamor mereka."

Chanyeol mengerutkan dahi semakin dalam, seolah tak habis pikir dengan kalimat yang didengarnya. "Kau bisa membungkam mereka."

"Dan kau pikir mereka akan berhenti saat bukti ini ada di tangan mereka?"

"Kau bisa merilis pernyataan resmi untuk membantah bila mereka bersikeras."

Killian mendengus. Setidaknya, ia masih punya cukup kesabaran untuk tidak meledak saat ini juga. Satu dari dua lembar foto yang ada di tangan Chanyeol ia ambil, meletakkannya penuh penekanan ke permukaan meja di samping mereka.

"Bagaimana kalau kau yang merilis pernyataan tersebut, untuk mengklarifikasi sebuah foto di mana kau mencium artismu sendiri?" tanya Killian tajam, dengan seringai kecil nyaris tak kentara menatap tepat pada kedua mata pria di hadapannya.

Chanyeol terdiam dengan rahang mengeras. Matanya sekali lagi ia bawa pada lembar foto di atas meja. Foto yang entah bagaimana caranya, berhasil menangkap momen saat ia tak sengaja bergerak di luar kendali dan menarik Baekhyun untuk sebuah kecupan singkat di pipi sebelum keluar dari mobilnya di depan asrama agensi. Itu sudah lama berlalu dan saat ini, tangkapan kamera dari kejadian itu berada di hadapannya.

"Aku tidak peduli bagaimana hubunganmu dengan penyanyi itu, Park. Tapi yang kubicarakan di sini adalah Oh Sehun. Dia salah satu pemasukan terbesar perusahaanku," ungkapnya. "Belum ada perhitungan pasti apakah sebuah skandal akan memberikan lebih banyak keuntungan atau sebaliknya, tapi, ini bisa kujadikan penawaran untukmu."

Chanyeol melirik satu foto yang masih berada di tangannya. Walaupun nyaris tertutup sempurna identitasnya, ia tahu sosok tinggi yang terlihat mengulurkan tangan melakukan-entah-apa pada lelaki yang lebih pendek itu adalah Oh Sehun. Ketidaktahuannya mengenai kapan foto tersebut diambil membuatnya semakin terpancing. Entah sebelum, atau sesudah ia menetapkan bahwa penyanyi itu tidak diperbolehkan terlalu gegabah bepergian atau melakukan apapun.

Dan si sialan Killian Wang ini, sepertinya berniat membuat sebuah kesepakatan konyol.

Decihan terdengar kembali dari Killian. Pria itu beranjak menempati sofa mewahnya. "Setidaknya aku cukup baik hati untuk memberitahu ini semua padamu sebelum mengambil keputusan," katanya, mulai menyamankan posisi duduknya di sana. "Mereka mungkin tidak repot-repot mengirimkannya padamu karena tahu pasti akulah yang akan menghubungimu." Ia menambahkan.

Beberapa waktu habis dalam hening. Keadaan sedikit rumit dan terlalu tiba-tiba bahkan bagi seorang Park Chanyeol dan Killian Wang.

"Aku akan mempertimbangkan skandal palsu itu," tegas Killian. Kalimat itu cukup untuk menarik atensi pria satunya dalam sejurus. "Banyak penggemar menyenangi interaksi mereka sebelum Byun Baekhyun pindah ke agensimu," Killian mengulas seringai kecil, "dan, kurasa, ini akan menguntungkan juga bagimu, kan?"

Chanyeol belum berkata apapun. Seluruh perkataan Killian mengisi kepalanya yang sungguh masih penat luar biasa. Sementara itu, Killian Wang meninggalkan sofa dan kembali melangkah menuju meja kerjanya.

"Mereka tidak akan menunggu lama. Putuskan siang ini dan kita akan mengadakan pertemuan dengan dua anak itu," kata Killian, sedikit menekan entah untuk tujuan apa. "Atau, tidak perlu kalau kau memang ingin meresmikan hubunganmu dengan artismu itu."

Killian nyaris saja berlalu pergi. Tetapi sebelum itu, ia menambahkan satu lagi kalimat yang agaknya cukup tepat sasaran bagi sang pria bersurai platina.

"Kuberitahu padamu, media sebesar ini tidak akan bisa kau bungkam atau bantah. Tetapi biar kuberi pandangan, bung. Citra Byun Baekhyun akan terjun bebas bila fotonya bersamamu dalam keadaan seperti itu tersebar luas."

.

oOo

.

Plan [n.] an intention about what one is going to do

.

.

Their biggest storm is comin up.

Soo sorryy for late update:"( Fic ini rasa-rasanya butuh mood tersendiri setiap mau kulanjutin huhu:( Tapitapi—tapi—makasih banyaaakk yang masih bacain apalagi ninggalin review untuk cerita ini walaupun masih payah TT I dont think I deserve you all TT Special mention for someflufi | Lil Piece of Shit | erishiteru | ChanBaek09 | jinahyoo | KlyJC | Nun4m | crescentchie | Biyunbeha | Syifa Annisa | Lucyana6104 | ttalgibaek | baechiatto | lightdelight | haliucitynite | BaetobeliCha | converiese | Nitha Gaemgyu | kafthya | kiranakaniaputri | Jiell

Thank you atas review dan kata2 penyemangatnya!

P.S.: Dont forget to support chanyeol no matter what happens:"( #ykwim