The Plan - II

.

.

oOo

.

Cerdik sekali. Terlepas dari apakah Killian Wang terlibat sebagai dalang, skenario ini memang cukup menjebaknya.

Sekian menit berlalu dan Chanyeol masih berada di dalam mobilnya yang terparkir di basement gedung agensi miliknya. Tengah hari akan tiba tak lama lagi, dan Chanyeol belum mengambil satu langkah pun bahkan menghubungi sekretaris kepercayaannya. Jun haruslah mengetahui apapun itu yang berkaitan dengan dirinya sebagai presiden direktur—termasuk hal serupa saat ini yang seharusnya datang melalui pria itu, namun kali ini jalur tersebut absen karena segalanya pun telah berada di luar ekspektasi.

Ia mungkin sempat marah begitu mengetahui Baekhyun melanggar apa yang pernah ia perintahkan pada pemuda itu tentang bepergian ke luar, namun lebih dari itu, dirinya sendiri lah yang membuat ini semua jadi sebuah masalah.

'... dan, kurasa, ini akan menguntungkan juga bagimu, kan?'

Chanyeol mengernyit tak suka. Ia menggenggam kemudi semakin erat, menatapnya seolah benda itulah objek penyebabnya.

Perkataan pria blasteran itu pula mengganggunya. Ia tidak suka pada cara pria itu terus berbicara dan menyiratkan berulang-ulang menegaskan bahwa Baekhyun adalah artisnya, juga mengenai posisinya sebagai presiden direktur dari agensi yang mengakuisisi Baekhyun.

Chanyeol tidak tahu apa yang membuatnya begitu marah tentang itu meski memang demikian kenyataannya.

Waktu bergulir. Tentu tidak akan berhenti hanya untuk memberi waktu bagi sang direktur berpikir lebih lama.

Byun Baekhyun, dan keuntungan agensi. Chanyeol tanpa sadar melupakan bahwa memang hal itulah yang membuatnya membawa Baekhyun kepadanya. Dan seharusnya tetap begitu. Agar tidak ada barang satu hal yang berubah rumit di luar kepentingan bisnis itu sendiri.

Namun sejak awal, memang kerancuan rasa yang memunculkan keinginan akuisi itu. Antara visi kesuksesan yang tergambar dalam kepala, atau sesuatu asing yang hadir di dalam hati sejak pandang pertama.

Chanyeol meraih ponsel di atas kompartemen mobil. Terburu sekaligus ragu membuat panggilan.

"Jun,"

.

.

"Kau benar-benar tidak akan memberitahuku?" Baekhyun mencoba membujuk, atau lebih kepada memanas-manasi karena ia telah melontarkan pertanyaan itu lebih dari tiga kali selama beberapa menit terakhir, berpikir Kyungsoo mungkin setidaknya akan memberi respon daripada menjadi diam seperti saat ini.

Tapi manajernya itu tampak tak terganggu. Sejak menerima panggilan dari Sekretaris Jun di tengah latihan, Baekhyun menangkap perubahan pada air muka pria itu. Kyungsoo hanya mengatakan bahwa malam ini juga seusai latihan, mereka perlu pergi menemui Direktur di kantornya, tanpa benar-benar menjelaskan keperluan yang dimaksud. Kyungsoo terus bungkam bersama raut tak terbaca setiap kali Baekhyun bertanya.

Hingga lift bergerak naik semakin dekat pada tujuan mereka, Baekhyun tidak lagi mencoba bertanya. Sudah kepalang mereka sampai.

Sebab Kyungsoo pula tak memberi penjelasan apapun, Baekhyun tidak memiliki bayangan tentang apa yang akan dihadapinya. Tidak juga ia berusaha menebak-nebak. Pikirnya, tidak akan ada yang mengejutkan dari sebuah pertemuan mendadak di ruang sang direktur. Mereka terbiasa akan itu. Maka mendapati tiga sosok lain yang dikenalnya di ruangan selain sang direktur dan sekretarisnya adalah sebuah pertanyaan besar.

Langkah sempat melambat sembari kepala berpikir akan kemungkinan. Direktur Wang, Sekretaris Han, dan Sehun?

Saat semua mata tertuju padanya, Baekhyun menyadari hanya dirinya lah yang tidak mengetahui apa-apa pada situasi ini. Semua tahu, kecuali dirinya.

Sehun melempar senyum kecil padanya, menyapa, sebelum kembali menatap lurus ke depan dengan ujung kaki yang terus bergerak-gerak di atas pangkuan.

Baekhyun merasakan tangannya ditarik cepat agar segera menduduki sofa. Ia tanpa sadar benar-benar terpaku pada kakinya selama beberapa saat, dan akan terus begitu kecuali sang manajer menyadarkannya. Begitu menempati tempatnya yang tepat berseberangan dengan Sehun, Baekhyun mulai merasakan prasangka buruk yang kian dekat menjadi nyata. Kedua telapak mulai saling meremat di pangkuan, menunggu.

Tidak ada yang memulai hingga beberapa saat berlalu. Baekhyun melirik Chanyeol yang menduduki satu sofa single di sisi kanannya. Pria itu tak tampak mengukir ekspresi apapun. Hanya duduk dengan kedua tangan bertaut, menatap ke permukaan meja. Tak berbeda jauh dari Killian yang duduk di seberangnya.

Sebelum Baekhyun membuka mulut—mungkin meminta maaf karena datang terlambat saat semua orang sudah lebih dulu berkumpul—Killian Wang lebih dulu menepuk tangannya sekali, menggaet perhatian dari keseluruhan yang ada di ruangan.

"Karena sepertinya Tuan Park tidak berminat, izinkan aku yang memulai." Killian Wang memulai dengan ringan, menjadi satu-satunya yang tampak santai di antara enam orang lainnya di sana. "Byun Baekhyun, bagaimana kabarmu?" tanyanya, mengarahkan atensi pada Baekhyun di tempatnya.

Baekhyun membungkuk, berucap sopan bahwa ia baik seperti kelihatannya.

Killian Wang mengangguk-angguk, tak berusaha menutupi rautnya yang memperjelas bahwa pertanyaan itu hanya sebatas basa-basi. Ia mengulurkan tangan pada Lu Han yang berdiri di sampingnya, disambut uluran map cokelat dari sang sekretaris.

Isi map dikeluarkan. Didorong ke tengah meja. Sebuah foto dengan Baekhyun dan Sehun di dalamnya. Tidak sampai seorang pun bahkan Baekhyun memberi reaksi, Killian Wang memulai kalimatnya kembali.

"Aku tidak tahu apa urusan yang kalian coba selesaikan saat foto itu diambil tapi yang jelas, media mendapatkannya dan dengan sekian pertimbangan, kalian akan dilibatkan ke skenario kencan setelah ini."

"A-apa?" Baekhyun tanpa sengaja menyuarakan keterkejutannya, atau ketidakhabispikirannya pada asosiasi antara fotonya bersama Sehun dengan kencan yang baginya tak masuk akal.

Melihat Sehun tak bereaksi apapun, Baekhyun memperoleh konfirmasi bahwa memang hanya dirinyalah yang belum mengetahui apa-apa.

"Kencan?" ulang Baekhyun pelan, menginginkan pengulangan namun terlalu segan meminta pada mantan atasannya tersebut. Ia menatap foto di atas meja, tidak sama sekali menemukan korelasi di antaranya dan hal yang baru saja dinyatakan sang direktur K Entertainment. "Tapi.. kami hanya bertemu sebentar—"

"Ada beberapa riwayat negosiasi antara agensiku dan media ini. Begitu pula dengan LOEY-Music. Benar begitu, kan, Tuan Park?" potong Killian. Seringai tipis dilontarkannya pada pria yang duduk tepat di seberang, yang sesungguhnya mengundang tanya yang lain tentang maksud di baliknya, namun tidak akan seorangpun sungguh bertanya.

"Benar," sahut Chanyeol setelah beberapa saat tak memberi jawab.

"Singkatnya, itu semua membuat kami memutuskan untuk mengatur skenario kencan palsu untuk kalian. Dengan orientasi profit, tentunya." Killian menopang dagu, menambahkan dengan ringan.

Lagi, hanya Baekhyun yang signifikan bereaksi. Ia refleks menoleh terang-terangan ke arah Chanyeol, namun pria itu bergeming. Bagaimana Chanyeol tak memberikan barang satu respon lagi, Baekhyun mengutuk diri karena sempat berharap pria itu memberi penjelasan lebih untuknya.

Baekhyun beralih menatap Sehun. Mereka bertukar pandang, namun Sehun pula memang sama-sama tak memiliki ruang untuk berbicara sebagaimana dirinya.

"Pertemuan ini hanya untuk mengumumkan, bukan meminta persetujuan kalian. Semua sudah diatur dan kalian cukup menjalankannya saja. Tidak akan sulit karena kalian memang cukup dekat, kan?" lanjut Killian, tanpa benar-benar meminta jawaban atas pertanyaannya di akhir kalimat.

Killian bangkit dari duduknya. Menghela, lantas kembali menepuk tangan sebagai tanda meminta perhatian.

"Baik, pengumuman selesai. Selebihnya akan dikomunikasikan melalui manajer masing-masing. Sampai jumpa di agenda pertama," ujarnya. Kalimat demi kalimat yang meluncur dari mulutnya terasa begitu ringan, seolah memberi kesan bahwa semua ini bukanlah apa-apa, yang justru ditangkap berkebalikan oleh yang lain. Semua intonasi itu hanya merupakan bagian dari karakter si pria Wang, bukannya benar-benar bertujuan mengggambarkan situasi.

Killian beranjak meninggalkan ruangan, diikuti sang sekretaris di belakangnya. Disusul Chanyeol, pria itu turut berdiri dari duduknya, kembali ke singgasana di ujung ruangan. Baekhyun tanpa sadar mengikuti pergerakan pria itu melalui matanya, perlahan bangkit dari sofa namun tetap tak mengambil langkah.

Ia ingin bicara pada Chanyeol. Diamnya pria itu membuat keinginannya semakin besar.

Tetapi ia memang terlalu takut. Dan tidak ada alasan yang jelas untuknya melakukan itu.

"Kalian bisa keluar sekarang," kata sang direktur, cukup pelan namun sarat perintah dalam balut tegas suaranya. Ia mulai sibuk dengan pekerjaannya di atas meja, membuat sisa penghuni ruangan menyegerakan diri untuk keluar dari ruangan.

Panggilan dari Kyungsoo menyadarkan Baekhyun bahwa ia menjadi satu-satunya yang masih tinggal di dalam, bersama dengan sang manajer. Ia tanpa sadar menghabiskan sekian detik hanya untuk menunduk menghadap sang direktur yang fokus melakukan pekerjaan di mejanya. Dengan enggan, Baekhyun beranjak keluar dari ruangan, mengikuti langkah Kyungsoo.

Baekhyun berhenti pada langkah terakhir sebelum memasuki lift. Kyungsoo yang hendak melangkah masuk turut tertahan, menoleh pada sang penyanyi.

Ada rasa ingin berbalik. Baekhyun ingin memutar langkahnya, kembali ke ruangan yang baru saja ditinggalkannya, dan bicara pada Chanyeol. Apapun.

Baekhyun tahu persis posisinya, pekerjaannya. Ia tahu bekerja di dunia hiburan sama dengan menerima apapun skenario yang diberikan, seperti apapun rupanya. Itu semua hanya masalah kepentingan yang sudah menjadi tugas para bintang melakoninya di atas panggung. Seharusnya tidak ada yang perlu dipusingkan, tidak ada yang perlu dirasa berat.

Tetapi ada bagian dari dirinya yang merasa aneh ketika melihat reaksi Chanyeol. Ada bagian dari dirinya yang seolah menuntut penjelasan pada pria itu. Tapi untuk apa? Semuanya sudah amat jelas; tentang skenario, alasan mengapa harus dia dan Sehun yang melakukannya, tanpa ada lagi yang tertinggal tanpa penjelasan. Lalu apa yang dia harapkan keluar dari mulut pria itu?

"Baek,"

Baekhyun menoleh, mendapati manajernya masih menunggu tepat di sampingnya. Kyungsoo tampak lelah, dan karena itu, Baekhyun menyadari betapa egois pemikirannya barusan. Bukan dirinya satu-satunya yang memiliki urusan di sini. Kyungsoo pastilah memiliki lebih banyak perkara untuk dikerjakan.

Baekhyun mengulas senyum kecil, meminta maaf. Ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift, diikuti Kyungsoo, beranjak meninggalkan gedung agensi.

"Aku akan pergi mengunjungi Jongin," kata Kyungsoo, sesaat sebelum mereka mencapai pintu keluar. "Terkadang memasak atau mengobrol dengannya bisa benar-benar menghibur."

Baekhyun yang hendak memberi respon sedikit-banyak menangkap maksud tersirat dari manajernya itu. Sempat ia terdiam sebelum benar menyuarakan pikirannya.

"Maaf, kau pasti kepayahan mengurus semua ini. Sepertinya dari awal, kedatanganku ke sini selalu saja membuatmu repot—ahk!" Baekhyun memekik saat merasakan pukulan di kepalanya.

"Bicara lagi dan kau akan merasakan yang dua kali lipat lebih sakit." Kyungsoo melengos, seolah memberikan pukulan di kepala sang penyanyi bukanlah apa-apa.

"Kau memukulku.." Baekhyun refleks merengek kecil—sesuatu yang sepertinya hanya pernah ia lakukan pada pria mungil berkacamata itu—sambil mengusap kepalanya, mempercepat langkah menyusul sang manajer.

"Jangan banyak bicara. Yang perlu kau lakukan hanya pulang dan istirahat," kata Kyungsoo begitu Baekhyun kembali berada di sampingnya.

Walaupun diujarkan dengan wajah tanpa ekspresi, lagi-lagi, Baekhyun mampu menangkap maksud Kyungsoo. Karena itu yang ia lakukan berikutnya adalah mengamit lengan pria yang sedikit lebih mungil darinya itu. "Aku mencintaimu~"

Kyungsoo mengernyit, lantas mengangkat tangan hendak melayangkan pukulan berikutnya atas perilaku menggelikan itu. Namun sebuah motor hitam berhenti di depan mereka yang telah sampai di pelataran depan gedung, mendistraksi percakapan.

Oh Sehun mengangkat kaca penutup helm yang ia kenakan, membungkuk kecil pada Kyungsoo sebelum memanggil seorang yang kembali bertanya-tanya atas kehadirannya.

"Baek,"

Berkedip, Baekhyun hampir saja menyangka kemunculan Sehun hanyalah ilusi.

"Uh, ya? Ada apa?"

Sehun mengangkat bahu, "Skenarionya dimulai malam ini."

Pernyataan itu cukup untuk mengingatkan Baekhyun pada situasi. Dan entah mengapa, hal itu mampu membuatnya terdiam.

Kehadiran Sehun mengingatkan Baekhyun pada hari-hari saat Chanyeol secara mengejutkan muncul di hadapannya. Ingatan itu membuat bahunya merosot turun, tapi setelah Kyungsoo memberi tepukan pelan di punggungnya, Baekhyun menerima uluran helm dari pemuda di depannya.

"Apa helm ini perlu?"

"Yah, jaga-jaga saja. Sekaligus memberikan kesan penyamaran." kata Sehun. Melihat Baekhyun yang sejenak terdiam memikirkan entah apa, Sehun diam-diam menghela napas. "Jangan terlalu dipikirkan. Anggap saja permainan. Lagipula aku lebih berpengalaman untuk hal seperti ini, jadi kau bisa tenang mengikuti alur yang kubuat." Ia mengusak rambut si mungil sebelum helm dikenakan, lantas mempersiapkan motornya. Setelah memasangkan dengan rapi pelindung kepala itu, Baekhyun beranjak menempati sisa jok di belakang Sehun, sedikit melompat dengan berpegangan pada sang pengemudi.

"Kami pergi, Manajer Do." Sehun membungkuk sekali lagi, yang dibalas anggukan kecil dari sang manajer.

Selama perjalanan yang amat singkat Baekhyun tahu dirinya kembali terusik oleh pikirannya sendiri yang seharusnya tak perlu—oleh perasaannya yang diam-diam menyayangkan kedatangan Sehun, saat sosok lainlah yang ia harapkan untuk datang.

.

oOo

.

"Berikan ponselmu."

Baekhyun menatap telapak tangan yang menadah di hadapan wajahnya, lantas melirik pada Kyungsoo yang muncul di samping kursi rias.

"Kyung-ie~"

Kyungsoo mengernyit dengan panggilan manja itu, inginnya melayangkan pukulan ke kepala sang penyanyi jika saja pemuda Byun itu tidak sedang dirias.

"Kau terus memandangi layar ponselmu sejak pagi, mau sampai kapan? Aku tidak tahu apa yang kau tunggu tapi konsentrasimu tidak berada di sini karena benda itu. Jadi berikan." ujar Kyungsoo cepat, tepat seperti bagaimana ia biasa mengomel.

Dengan bibir melengkung ke bawah, Baekhyun menyerahkan ponselnya pada Kyungsoo.

Seperti Kyungsoo, Baekhyun juga tak tahu apa yang ditunggunya. Hanya saja, mungkin, mungkin saja, ia akan memperoleh sesuatu dari layar ponselnya. Sesuatu dari seorang yang beberapa hari ini tak dapat ditemuinya.

Baekhyun menatap pantulan dirinya di cermin. Sepertinya hanya perlu beberapa sentuhan tambahan lagi sampai riasannya selesai.

Jadwal pertama bersama Sehun dimulai hari ini. Dua hari setelah pertemuan malam itu, hubungan mereka diumumkan ke publik. Dengan bumbu-bumbu beredarnya foto off camera yang seolah tidak sengaja diambil sebelum pernyataan resmi dari agensi. Dan sesuai perhitungan, respon negatif amat minim, berkebalikan dengan dukungan yang terus bermunculan di berbagai forum penggemar. Itu cukup mengejutkan bagi Baekhyun.

"Eh, terima kasih." Baekhyun buru-buru membungkuk saat menyadari staf yang bertugas telah selesai merias wajahnya.

"Hey."

Mendongak cepat, Baekhyun mendapati Sehun telah muncul di sisinya. Lelaki itu telah menyelesaikan riasannya lebih dulu tadi, dan sempat pergi menghilang entah ke mana.

"Bagaimana perasaanmu?" tanyanya, bersandar pada pinggiran meja di hadapan yang lebih mungil.

Baekhyun tidak lantas menjawab, sebab sial sekali, pertanyaan dan situasi ini mengingatkannya pada hari pertama panggung re-debut-nya. Sama persis seperti apa yang pernah diterimanya dari sang direktur kala itu.

Ia mungkin terlalu melankoli. Sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan. Beberapa hal yang dilakukan Sehun belakangan bahkan selalu membuatnya pada sosok sang direktur. Yang tidak pernah dilihatnya lagi sejak pertemuan malam itu.

"Baek?"

Tersentak, Baekhyun buru-buru menyahut, "A-aku.. sedikit takut? Aku takut melupakan script-nya."

"Hm? Bagianmu tidak terlalu banyak, kan?" tanya Sehun skeptik.

"Tetap saja.."

Sehun mengekeh tak kentara melihat Baekhyun menunduk dengan sedikit cemberut dan memainkan jarinya.

"Jangan terlalu takut. Justru itu yang akan membuatmu melupakan script. Aku akan mendominasi pembicaraan, kau cukup mengikuti alurnya." Ia mengusak rambut Baekhyun, yang disambut pekikan tertahan dari lelaki itu.

"Sehun kau merusak tatanannya!"

Sehun tertawa, mengangkat tangan pada seorang stylist di sana. "Tolong perbaiki rambutnya," katanya, menunjuk Baekhyun dengan santai.

Baekhyun sedikit menganga menyaksikan betapa mudahnya Sehun memerintah seperti itu.

"Benar-benar seorang sunbae." gumamnya.

Sehun yang mendengar itu kembali tertawa, sebelum menjauh membiarkan Baekhyun mendapatkan apa yang diperlukan untuk penampilannya.

Begitu menjauhi kursi di mana Baekhyun duduk, tawa Sehun terhenti. Ia berjalan menuju luar ruangan, mencari-cari seseorang yang sempat tertangkap ekor matanya saat ia berbicara dengan Baekhyun.

Tapi begitu keluar dari ruang tunggu, Sehun tak menemukan siapapun kecuali staf yang berlalu lalang. Ia tak yakin, namun pintasan bayangan itu memang amat mirip dengan sang pemilik LOEY Music.

.

.

"... Reputasi brand-nya meningkat. Jumlah pendaftar baru di situs resmi penggemar secara mengejutkan bertambah drastis. Beberapa brand dan majalah busana mendesak menginginkannya menjadi model mereka bersama Oh Sehun."

Chanyeol memberi angguk kecil atas laporan yang diberikan Junmyeon. Dokumen di meja kerja masih menjadi fokus utama. Semua perhitungan Killian Wang tepat sasaran. Malam ini belum genap tiga hari sejak pengumuman resmi, namun dampak signifikan terlihat di mana-mana.

Seharusnya hal seperti ini yang terjadi sejak awal.

"Ada lagi?" tanya Chanyeol, mata masih tertuju pada pekerjaan lain di tangannya.

"Jadwal pemotretan majalah Byun Baekhyun dan Oh Sehun dilakukan besok. Lokasinya—"

"Jun," Chanyeol memotong. Map di meja ia tutup, beralih ke yang lainnya. "Mulai hari ini tidak perlu melaporkan jadwal hariannya. Cukup hasilnya saja."

Sejenak, perintah itu membuat Junmyeon ragu menjawab. Walaupun telah menyadari perubahan sikap sang direktur belakangan, ia tidak menyangka sang direktur benar-benar bersikap persis seperti sebelumnya.

"Saya mengerti." Junmyeon mengangguk, melanjutkan laporannya.

"Pihak manajemen Tuan Lee menanyakan perkembangan proyek. Mereka meminta draf lagu demo secepatnya."

"Katakan semuanya akan selesai dalam satu minggu."

"Y-ya?"

Chanyeol menatap sekretarisnya, sebagai peringatan agar tidak membuatnya mengulang perkataan yang ia tahu dapat didengar dengan cukup jelas.

"Baik, maafkan saya."

"Lanjutkan."

"Tuan Lee secara pribadi menginginkan pertemuan dengan Anda, sajangnim."

Mengernyit, Chanyeol kembali mengangkat pandangannya dari lembar kerja di atas meja. "Untuk apa?"

"Beliau tidak mengatakannya."

Meski sempat tampak berpikir, sang direktur kembali melanjutkan pekerjaannya, menjawab singkat, "Kau atur harinya."

Junmyeon membungkuk, dan sebab laporannya telah selesai, ia pamit meninggalkan ruangan.

Chanyeol meletakkan penanya tepat setelah pintu tertutup. Menatap deretan huruf di atas kertas, pada dokumen yang sebenarnya telah rampung.

Kecepatannya menyelesaikan pekerjaan meningkat sekian kali lipat. Ia tidak merasa membutuhkan tidur atau sekadar waktu istirahat. Banyak target yang tercapai lebih cepat dari perkiraan—sesuatu yang bagus dan amat menguntungkan.

Mungkin, memang seharusnya semua berjalan seperti ini sejak awal.

.

oOo

.

Plan [n.] an intention about what one is going to do

.

.

Hi? Hehe, been so long since my last update (sorry for my irresponsibility /bow/) Makasih banyak atas review, fav, dan follow-nya, ya! Makasih banyak sudah baca tulisan sekadarnya ini. Semoga saya bisa apdet lebih cepet setelah ini eheheh (aamiin).

Special thanks to someflufi | kiranakaniaputri | Zyumi | ChanBaek09 | KlyJC | jinahyoo | Lucyanaa | Nitha Gaemgyu | kafthya | baechiatto | Jiell | lightdelight | calianakk

See you soon!