Tangled

.

.

Notes: Some scenes were inspired from 2009 Kdrama "You're Beautiful" so you might be familiar if you ever watched the drama. And Im sorry because this chapter will be dominated by HunBaek so.. yea.. hehe, please bear with it.

Happy reading!

.

.

oOo

.

"Sehun-ie..,"

Sehun nyaris tersedak saat mendengar Baekhyun memanggilnya demikian. Setelah berhasil menelan makanannya dengan baik, ia tertawa kecil. "Sudah lama kau tidak memanggilku begitu," katanya, meraih gelas air minum dan menenggak isinya.

"K-kenapa?"

Meraih kembali sumpitnya, Sehun kembali melepas tawa kecil. "Tidak, hanya sedikit aneh karena belakangan kau jarang menggunakan panggilan seperti itu dan.. kau tahu, kita berkencan sekarang."

"A-ah.. kau benar." Baekhyun menggaruk sebelah pipinya yang tak gatal dengan jari tangan yang masih memegang sumpit. Mereka baru saja selesai melakukan rekaman untuk salah satu acara televisi, dan dibanding pulang bersama Kyungsoo dengan mobil van, ia diarahkan untuk pulang berdua bersama sang pemuda Oh.

"Ada apa?"

"Eh, ya. Apa aku perlu melakukan sesuatu?" tanya Baekhyun.

"Sesuatu?"

Baekhyun tampak berpikir sejenak, "Sesuatu yang memberi kesan bahwa kita memang berkencan? Maksudku.. makan malam ini juga bagian dari rencana, kan?" tanyanya lagi dengan suara kian pelan, sesekali melarikan ekor matanya ke sekitar sembari mendekatkan diri pada Sehun di hadapannya.

Sehun mengerjap. Ia sedikit bingung menjawab karena ia bahkan tak sampai berpikir demikian. Pertanyaan itu sedikit terasa lucu—Baekhyun menanyakannya seolah mereka sedang berada dalam sebuah misi rahasia. Walaupun, secara teknis mereka memang sedang menjalankan skenario yang tidak boleh diketahui orang lain.

Sehun tersenyum miring, mendapat sebuah ide untuk sedikit mempermainkan lelaki di hadapannya. "Kau bisa menyuapiku sesuatu."

Baekhyun membulatkan bibirnya. Ia menilik isi meja, begitu saja menuruti perkataan Sehun untuk mencari sesuatu yang bisa ia ambil. Ia menjepit danmuji dengan sumpitnya, mengarahkannya kepada Sehun.

"Seperti ini?" bisiknya.

Melihat itu, Sehun nyaris meledak dalam tawa. Bagaimana Baekhyun bisa percaya hal itu begitu saja?

Tetapi, Sehun membuka mulutnya. Menerima suapan. Ia mengekeh kecil, kembali merasa lucu akan sikap Baekhyun. Dibanding tertekan dengan apa yang harus dilakoninya, sejauh ini Baekhyun tampak begitu bergantung padanya agar semua berjalan dengan baik—apa yang harus dikatakan, bagaimana harus bersikap, pemuda mungil itu terus mengikuti arahannya.

Sehun memainkan sumpitnya pada makanan yang belum setengah tandas. Restoran tempat mereka makan malam diwarnai dengan hiruk-pikuk samar dari pelanggan lain. Mungkin saling membisik akan keberadaan dua idol di tempat ini. Yah, itu seharusnya cukup memberi tahu Baekhyun tentang bagaimana keberadaaan mereka pun sudah cukup mencuri perhatian, tanpa harus berbuat sesuatu yang ia maksudkan tadi.

Sekali lagi, Sehun mengulas senyum miring. Sekali lagi pula, ia merasa lucu. Tidak dengan pertanyaan polos atau sikap Baekhyun, melainkan pada keadaan yang seolah mempermainkannya. Mempermainkan hatinya.

Ia baru saja sempat merasa dunia begitu tidak adil karena menjadikannya pemeran pembantu yang terus ada untuk sang pemeran utama, yang tidak mendapatkan imbal apapun selain perasaan yang tak terbalas. Namun saat ini, ia diberikan apa yang ia inginkan, dalam bingkai skenario palsu.

Tetapi untuk saat ini, Sehun akan menganggapnya sebagai sebuah kesempatan.

.

oOo

.

Junmyeon menjadi yang pertama memasuki ruangan milik sang petinggi bermarga Lee tersebut dan memberi salam, memberi jalan pada Chanyeol yang masuk setelahnya.

"Lama tak jumpa," sapa sang pria paruh baya yang telah lebih dulu berada di ruangannya. Ruangan itu kosong, selain pria itu sendiri juga Chanyeol dan Junmyeon yang baru saja tiba. "Silahkan duduk," katanya. Ia tersenyum menunjuk sofa di seberangnya. Chanyeol membalas sapaan sekadarnya, melangkah lurus-lurus menuju sofa tepat di hadapan Direktur Lee.

Pria gempal itu memberi isyarat pada Junmyeon, yang langsung dipahami hingga sang sekretaris langsung membungkuk dan mohon undur diri, meninggalkan dua orang petinggi dari perusahaan hiburan berbeda tersebut di dalam ruangan.

"Apa kabar, nak?" tanyanya, masih ramah, dengan sebuah panggilan yang agaknya ditujukan untuk menciptakan suasana akrab yang dibuat-buat.

"Baik," jawab Chanyeol, tampak enggan terlibat dalam sebuah percakapan basa-basi.

Untungnya respon itu ditangkap dengan jelas oleh pria satunya. "Baiklah, kurasa kau sedang tidak berminat pada obrolan ringan."

Chanyeol membenarkan hal tersebut dengan diamnya.

"Kau bilang proyek akan selesai dalam satu minggu, benar?"

"Ya," jawab Chanyeol cepat.

"Kuharap itu tidak mempengaruhi kualitas hasilnya—"

"Kupastikan semuanya sesuai permintaanmu. Tidak perlu khawatir." Lagi, Chanyeol menjawab cepat. Ia hanya ingin pertemuan yang tidak lebih penting dari pekerjaannya yang lain ini sesegera mungkin diakhiri.

"Berita itu cukup mengejutkanku."

Chanyeol berkerut dahi, merasakan irelevansi mendadak yang dilakukan pria tua tersebut. Ia mengangkat sebelah alis, menanyakan maksud dari kalimat itu.

Pria itu mengangkat bahu, bersandar angkuh pada sofa yang didudukinya.

"Tapi kurasa ini bagian dari rencanamu dan si blasteran Wang itu, kan?" tanyanya.

Chanyeol menghela begitu menangkap maksud pria itu, jengah ketika sesuatu yang tidak ia rasa perlu untuk dibahas justru diutarakan dengan begitu ringannya.

"Pembahasan mengenai proyek sudah selesai, bukan? Kalau begitu saya pamit undur diri." Chanyeol memilih memangkas pembicaraan, berusaha tetap bertutur sopan dan mulai beranjak dari duduknya.

"Hey, hey. Santai, nak. Tidak perlu buru-buru."

Chanyeol mengernyit dalam, merasakan emosinya perlahan merangkak naik.

"Kau cukup pintar kali ini. Akhirnya menggunakan penyanyi itu untuk keuntunganmu."

Tanpa sadar kepalan mulai terbentuk di tangan Chanyeol. Tetapi, ia masih memiliki cukup pengendalian diri untuk menghadapi pria ini.

"Itu bagus. Sehingga aku bisa memastikan kau tetap menjadi seorang profesional setelah ini, dan tidak secara gegabah memutus kontrak apapun di antara perusahaan kita." Pria Lee itu kembali pada posisi duduk tegaknya, lantas berubah raut menjadi jauh lebih serius dari sebelumnya. Ia mempertemukan kedua tangannya, menatap langsung kepada pria yang lebih muda darinya itu. "Atau aku akan menggunakan penyanyi itu lagi entah bagaimana caranya," tambahnya ringan, kali ini dengan seulas senyum lebar yang sungguh tidak sama sekali relevan.

Meski mulai jengkel atas topik ini, Chanyeol mempertahankan raut datarnya. Ia pula masih tahan untuk tetap berujar dengan sopan. "Anda cukup baik mengatur sebuah pertemuan hanya untuk membicarakan hal ini."

Pria paruh baya itu tertawa. Lantang. "Terkadang kita harus melakukan hal-hal yang tidak perlu untuk memastikan sebuah rencana berjalan dengan baik," katanya. "Karena aku serius untuk tidak membiarkanmu memutus kontrak apapun."

"Anda tidak perlu khawatir," sahut Chanyeol tenang. Sopan. Ia pikir, ini akan mempercepat segalanya; berusaha tidak melibatkan emosi pada pekerjaannya. Menempatkan apa yang seharusnya pada tempatnya. Kedua mata elangnya menatap tanpa takut pada pria itu. "LOEY-Music akan tetap melanjutkan kerja sama."

Seringkai kecil yang kemudian berubah begitu saja menjadi senyum sumringah tercipta pada wajah pria paruh baya di hadapannya.

"Hebat. Aku tahu aku memang bisa percaya padamu," katanya seolah bangga, yang, sesungguhnya terdengar begitu menjijikkan bagi Chanyeol.

"Bila tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, saya pamit undur diri," kata Chanyeol, masih dengan intonasi yang sama datarnya.

"Ya, ya, tentu. Silahkan. Kurasa sisa topik pembicaraan yang kusiapkan bisa dibahas pada pertemuan-pertemuan selanjutnya, kan?"

Tanpa membuang waktu, Chanyeol bangkit dari sofa. Merapikan jasnya, lantas membungkuk dan beranjak pergi.

Namun sebelum ia benar-benar meninggalkan ruangan itu, ia menghenti langkah. Berdiam satu-dua detik sebelum berucap singkat tanpa berbalik.

"Tolong, jangan libatkan dia lagi." katanya. Dengan itu, barulah ia melanjutkan langkah. Cepat, berharap bahwa setiap langkah yang ia ambil memang sudahlah benar.

.

.

Pemotretan dimulai sejak pagi. Cukup panjang waktu yang tersita untuk itu sebab halaman majalah yang akan menampilkan foto-foto hasil pemotretan terhitung cukup banyak. Hingga sore menjelang, sesi terakhir usai dengan sebuah komando dari sang fotografer. Setelah bertukar ungkapan terima kasih dengan seluruh staf, Baekhyun dan Sehun menempati kursi mereka, disusul para coordi yang memberikan minum sekaligus memastikan para bintang tersebut tetap merasa nyaman.

"Lelah?" Sehun bertanya, menenggak air mineralnya sembari menatap pemuda di sampingnya.

Baekhyun, dengan kedua pipi yang masih menggembung oleh air, menggeleng cepat. Ia menelan buru-buru, memberi jawab pada pertanyaan itu. "Kurasa jadwal awal debut ulangku masih jauh lebih melelahkan," katanya ringan. Ia kembali meneguk air dari botol dalam genggaman, memenuhi mulutnya lagi hingga pipi menggembung.

"Begitu, ya." Sehun mengangguk samar, kembali mengarahkan matanya kepada para staf di depan sana yang sibuk merapikan properti dan perlengkapan pemotretan.

"Sehun..,"

"Ya?"

Mata mereka bertemu. Sehun menunggu, tapi Baekhyun tak kunjung melanjutkan kalimatnya.

"Baek?"

Baekhyun menggigit bibir. Ia sesungguhnya ragu mengutarakan, namun ia rasa, hanya Sehun yang bisa ia mintai bantuan. Melihat Baekhyun ragu, Sehun berinisiatif meminta dua coordi di sisi mereka berdua untuk meninggalkan mereka.

Setelah ragu yang amat sangat, baru kemudian Baekhyun kembali bersuara.

"Bisa kau ajari aku menyetir mobil?" tanya Baekhyun, dan sebelum Sehun sempat menjawab, ia segera melanjutkan, "Aku tidak bisa meminta Kyungsoo lagi, kupikir dia sudah terlalu lelah mengurusi jadwalku dan karena kita sedang berkencan kupikir aku bisa meminta bantuanmu tapi kalau kau tidak bisa—"

Puk.

Kalimat Baekhyun terhenti ketika telapak tangan lebar milik Sehun mendarat di puncak kepalanya.

"Kau tidak perlu bicara sebanyak itu." Usakan singkat Sehun berikan. Ia menarik tangannya kemudian bersandar pada kursi. "Kita bisa melakukannya di setiap waktu luang. Atau aku akan mengajukan pada Manajer-hyung untuk menjadikannya bagian dari kencan," ujarnya ringan.

Perlahan, senyum Baekhyun mengembang. Itu menarik Sehun untuk semakin berlama-lama memandang wajah itu.

"Terima kasih, sunbae," ucap Baekhyun, setengah berkelakar dengan panggilan itu.

Sehun berkerut dahi, tapi lantas ia tertawa juga. Diam-diam ia teringat bagaimana Baekhyun menceritakan ketakutannya mempelajari hal-hal seperti mengemudikan mobil. Sehun tahu Baekhyun memiliki sedikit kecemasan tentang itu karena apa yang pernah menimpa adiknya.

Sehun menghela. Mengabulkan keinginan Baekhyun bukanlah hal sulit baginya. Tidak akan pernah sulit selama senyum itu terus terarah padanya.

.

oOo

.

"Kau akan pergi bersama Sehun setelah ini?" tanya Kyungsoo.

Baekhyun mengangguk antusias, menutup kembali botol air mineral yang baru saja dibukanya. "Sehun bilang ini akan jadi kelas terakhir sebelum dia bisa melepasku mengendarai mobil sendiri."

Sang manajer mendengus aneh mendengar Baekhyun menyebut pelajaran mengemudinya dengan Oh Sehun bagai sebuah kelas kursus formal. Interaksi kedua artis itu memang semakin lumrah belakangan, dan tidak akan ada yang mengejutkan lagi dari menemukan mereka berdua di berbagai tempat tanpa penyamaran.

"Sedikitnya kau membuatku terkejut karena bisa mempelajari cara mengemudi secepat ini," kata Kyungsoo tanpa menatap sang penyanyi.

Baekhyun mengangkat bahu. "Sebenarnya ini bukan pertama kalinya."

Kyungsoo menoleh, mempertanyakan kalimat itu lewat tatapan mata.

"Aku pernah belajar. Dulu." Baekhyun menjawab, sempat tampak sedikit menerawang sebelum kembali fokus kepada langkahnya. "Hanya.. saat itu aku masih sedikit takut," tambahnya.

Mendengar perubahan nada bicara sang penyanyi, Kyungsoo refleks berinisiatif mengalihkan pembicaraan.

"Orang-orang mungkin akan merasa terbodohi saat mengetahui idola yang mereka anggap pergi untuk berkencan ternyata hanya memiliki sebuah kursus mengemudi." Kyungsoo menggeleng, menggumam pelan.

Baekhyun tertawa kecil. Kedua matanya menyipit seperti sabit. "Bagaimanapun ini memang sebuah agenda kencan," katanya. Bersisian dengan Kyungsoo, ia melangkah menuruni tangga, menuju lantai dasar gedung tempat jadwal terakhir untuk hari ini dilakukan.

Sore hari. Langit masih terang pula saat keduanya meninggalkan gedung menuju mobil van di pelataran. Hampir tiga minggu sejak ia menjalani kencan palsu itu. Tidak ada yang begitu sulit selain mengingat sekian banyak script setiap kali harus berhadapan dengan kamera. Setidaknya semua menjadi lebih mudah karena ia telah lama mengenal Sehun yang jauh lebih berpengalaman dari dirinya.

Hanya saja, banyak hal yang mengganggu pikiran belakangan. Inginnya, ia tidak mengakui, bahwa sesuatu terasa begitu mengganjal hingga hari-harinya kadang hambar. Ia mengobrol dan tertawa bersama Kyungsoo, kelelahan menjalani jadwal setiap harinya, pergi berkencan dengan Sehun, namun tidak benar-benar merasakannya.

"Kyung.."

Di tengah perjalanan kembali ke asrama, Baekhyun memanggil manajernya itu, tanpa menoleh. Ia menggigit ujung jarinya, menatap kepada entah apa di jalanan sana dari balik kaca mobil di sisinya.

"Hm," Kyungsoo menyahut, masih fokus pada ponselnya.

"Tidak perlu mengantarku ke asrama. Aku.. ingin mengunjungi kantor agensi," kata Baekhyun pelan. Lagi-lagi, ia masih memandang ke luar.

"Untuk apa?" tanya Kyungsoo. Ia mulai mengernyit saat Baekhyun tidak segera menjawab. Menoleh ke belakang tempat pemuda sipit itu duduk, Kyungsoo hanya mendapati Baekhyun yang menatap risau ke luar jendela mobil.

"Sehun akan menjemputku di sana," jawab Baekhyun pada akhirnya.

Sejenak Kyungsoo berusaha menelaah. Sangsi. Jawaban itu tidak terdengar seperti jawaban yang sesungguhnya, tetapi melihat raut wajah sang penyanyi, ia seperti dapat menangkapnya begitu saja. Alasan yang sesungguhnya.

Jadi Kyungsoo mengangguk, memberitahu berubahnya destinasi pada supir di kursi kemudi.

"Kau akan menunggu di sini?" tanya Kyungsoo begitu Baekhyun turun dan mengambil posisi berdiri di depan pintu masuk gedung.

Baekhyun mengangguk mantap sebagai jawaban. "Kau bisa pergi," katanya.

Kyungsoo jelas ragu. Ia—selalu—mudah menangkap maksud tersirat baik dari perkataan maupun raut wajah Baekhyun, sehingga ia mungkin tahu apa yang ingin dilakukan lelaki itu. Hanya saja ada kekhawatiran tanpa sebab yang tiba-tiba hadir.

Namun ia mengangguk, bertolak meninggalkan sang penyanyi di tempatnya.

Baekhyun, setelah cukup yakin Kyungsoo telah menghilang dari jarak pandang, berbalik memasuki gedung.

Janjinya dengan Sehun baru akan tiba lebih dari setengah jam lagi. Bukan kelas mengemudi, melainkan tari sebagaimana yang sering kali ia pinta pada pemuda itu sebelumnya. Baekhyun pikir, ia masih memiliki amat banyak celah pada kemampuan menarinya. Dan alih-alih pelatih yang telah begitu sering menegurnya karena hal itu, Baekhyun merasa hanya Sehun yang dapat ia mintai bantuan. Latihan mandirinya tidak pernah cukup. Ia harus menjadi lebih baik lagi, tampil lebih baik lagi.

Pintu lift terbuka. Waktu terasa seperti baru saja berlalu sekejap mata saat Baekhyun sampai di lantai eksklusif gedung tersebut. Melangkahkan kakinya keluar, Baekhyun terhenti pada beberapa jarak sebelum mencapai pintu yang berlurusan langsung dengan pintu lift.

Baekhyun tidak tahu apakah dirinya memiliki ruang untuk melakukan ini. Hanya saja, ia benar-benar tidak kuat menahannya. Ia perlu menemui sang direktur. Ia benar-benar ingin melihatnya.

Ia ingin bertemu Chanyeol.

"Baekhyun-ssi?"

Baekhyun terhenyak kecil. Junmyeon muncul selangkah di depannya, tampak baru saja keluar dari ruangan sang presiden direktur.

"Apa kabar?"

Baekhyun membungkuk, "Baik," jawabnya.

"Ada perlu apa?" tanya sang sekretaris dengan ramah.

Memilin ujung jaketnya, Baekhyun berpikir apakah ia dapat begitu saja mengatakan maksud kedatangannya. Ia bahkan tak tahu apa tujuannya mengunjungi lantai eksklusif ini selain menemui sang direktur.

"Apa.. Chanyeol ada di ruangannya?"

Junmyeon, di tempatnya, mengulas senyum ragu. Ia sedikit berbalik seolah ingin memastikan entah apa di balik pintu yang telah tertutup sebelum menjawab, "Ya, beliau ada di dalam. Mari,"

Sang sekretaris berbalik, begitu saja membukakan pintu dan masuk lebih dulu, membungkuk memberi salam pada seseorang di dalam ruangan dan melebarkan pintu hingga sang penyanyi memperoleh akses untuk memandang langsung ke dalam, tepat lurus ke meja di mana sang direktur berada.

"Sajangnim, Baekhyun-ssi memiliki hal untuk dibicarakan," kata sang sekretaris. Sekali lagi membungkuk, Junmyeon segera pamit undur diri. Ia lantas keluar dan kembali menutup pintu setelah Baekhyun sempurna melangkah masuk.

Sang direktur tampak sedikit terkejut. Matanya membola nyaris tak kentara begitu mengenali sosok mungil yang hadir di pintu ruangannya beberapa saat lalu. Namun tak sampai dua detik, pengendalian diri kembali ia gapai, melunturkan tanpa sisa sorot mata yang sempat melembut karena kehadiran sang penyanyi.

"Ada apa?"

Baekhyun terpaku di tempatnya, ragu melangkah maju. Sebelum sempat otaknya berpikir akan sebuah kalimat, sang direktur telah lebih dulu beranjak dari duduknya. Berdiri, mendekat mengikis jarak sekian langkah yang terbentang di antara mereka di ruangan luas tersebut.

Chanyeol berhenti beberapa kaki di hadapan Baekhyun. Tidak jauh, namun tidak cukup dekat untuk setidaknya melambang intimasi.

"Bagaimana jadwalmu hari ini?" tanya Chanyeol, tanpa emosi apapun yang mampu tertangkap oleh lawan bicara.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab, "Jadwal hari ini sudah selesai. Semua berjalan baik."

"Bagaimana dengan Oh Sehun?"

"Huh?"

Chanyeol mengangkat bahu, "Hanya bertanya. Semuanya lancar, kan?"

Kembali menggigit bibir bawahnya, Baekhyun mengangguk satu-satu. Jemarinya tanpa sadar semakin acak memainkan ujung bajunya. Kegugupan yang biasa muncul untuk sebuah panggung atau penampilan di depan kamera, selalu berbeda dengan yang dirasakannya terhadap sang direktur.

"Ada yang ingin kau bicarakan?"

Baekhyun merasa memerlukan waktu untuk menemukan jawaban atas pertanyaan itu. Bodohnya ia yang dengan berani menginjakkan kaki ke lantai ini tanpa benar-benar memiliki tujuan yang jelas, membuat sang direktur harus meladeni kehadiran tanpa juntrungannya.

"Baekhyun."

Mendengar panggilan itu, Baekhyun kembali mendongak setelah sempat tak sadar melarikan pandangannya pada lantai di bawah pijakan. Matanya bertemu dengan milik sang direktur. Seperti bicaranya yang tak sedikitpun menyiratkan emosi, begitu pula raut wajah itu. Semua hal yang ia temui pada diri Chanyeol saat ini terasa begitu berbeda. Baekhyun tidak ingin membenarkan prasangkanya bahwa, itu semua mungkin berarti buruk.

"Kuharap kau tidak salah paham."

Katup bibir Baekhyun sedikit terbuka saking ia bingung terhadap perkataan itu. Ia menatap sang direktur, yang masih berdiri beberapa langkah di depannya dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celana stelan mahalnya.

"Ya?"

"Kau tidak memiliki apapun untuk dikatakan. Iya, kan?"

Baekhyun tidak mengiyakan, tidak pula membantah. Hal itu benar adanya dan Chanyeol mengatakannya seperti sebuah skakmat yang membuat rasa malu seketika membanjiri benak dirinya.

"Kau mungkin telah salah paham, Baekhyun." ulang Chanyeol.

"Salah paham?" cicit Baekhyun. Suaranya nyaris tenggelam oleh udara sekitar dan suara napasnya sendiri.

Mata saling bertemu. Saling menatap. Sedikit demi sedikit namun dalam kecepatan yang tak terduga, tatap itu membuat rasa segan kembali muncul bertumbuh hingga membumbung di dalam diri Baekhyun. Melebihi kali pertama pertemuannya dengan sang direktur.

"Kau mungkin berpikir aku memberimu keistimewaan untuk bisa datang ke ruanganku ketika tak ada satupun urusan penting yang perlu dibicarakan?" imbuh sang pria Park. Kedua mata elangnya terarah tanpa goyah pada sang penyanyi di hadapan. "Maka kau telah menyalahartikan segalanya."

Kedua tangan yang sempat meremat ujung kain pakaian luruh ke sisi tubuh. Baekhyun, untuk alasan yang bahkan tak dapat ia pahami, merasa kinerja tubuhnya berkurang saat itu juga. Seluruh bagian tubuhnya seperti melemas. Seperti kehilangan tenaga. Seperti nyaris tidak dapat merasa.

Baekhyun mungkin telah lama hidup dalam berbagai bentuk rasa takut. Takut mencipta kekacauan, takut mengecewakan, takut menjadi tidak sempurna. Tetapi satu hal yang paling tidak ingin ditemuinya adalah, ketakutan yang saat ini ia rasakan. Ketakutan di mana semua prasangka buruknya akhirnya menjadi nyata, di mana kenyataan akhirnya membenarkan bahwa ia hanya menyalahartikan semua hal yang pernah dilakukan sang direktur kepadanya.

Meski perkataan sang direktur masih begitu tersiratnya, Baekhyun tahu ke mana kalimat itu terarah. Yaitu, sama persis sebagaimana ketakutannya selama ini.

"Kau mencatat turunnya angka peminat pada single debut ulangmu. Kau membuat kekacauan dengan kehadiran adikmu di kantor agensi. Kau menjadikan sebuah skenario kencan palsu harus dilakukan karena membiarkan media menangkap gambarmu bersama Oh Sehun. Dan apa yang sedang kau coba lakukan sekarang dengan mendatangiku seenaknya?"

Baekhyun tidak tahu, ia tidak pernah tahu, bahwa dirinya sememalukan itu. Ia memang sering kali menyadari kecacatan yang ada pada dirinya—pada kemampuan menyanyi dan menarinya, pada kemampuannya tampil sebagai seorang bintang. Tetapi bagaimana Chanyeol menyebutkan satu per satu fakta itu telah menghadapkan Baekhyun pada kenyataan tentang betapa memalukannya seorang Byun Baekhyun.

Entah perasaan apa yang membuat dadanya kini terasa panas. Mungkin malu, sedih, atau marah terhadap kebodohannya sendiri. Ujung-ujung jari mulai gemetar meski tak kentara. Mata tak lagi kuat bersitatap dengan yang lebih berkuasa. Jatuh luruh ke permukaan lantai.

Baekhyun tidak tahu berapa banyak waktu berlalu tanpa dirinya sanggup membuat ucap dengan mulutnya. Hanya diam, dengan perasaan seolah ditelanjangi bersama rentetan fakta akan kekacauan yang telah diciptakannya sejak menginjakkan kaki di agensi ini.

Ia memang tidak seharusnya lancang terhadap sang direktur. Ia tidak seharusnya begitu tinggi hati hanya karena semua perlakuan yang pernah Chanyeol berikan padanya.

Ketuk sepatu menggema, melintas di sisi Baekhyun disusul suara tertutupnya pintu megah di belakangnya. Baekhyun menemukan dirinya berakhir sendiri di ruangan megah itu. Sepi. Hening. Ruangan yang seharusnya dingin tidak lagi dapat Baekhyun rasakan selain kebas. Hanya panas di dada dan pelupuk mata yang jelas terekognisi.

Setelah menahan diri selama berhadapan dengan Chanyeol, Baekhyun memasrahkan kakinya yang nyaris tidak mampu berdiri, berjongkok dan menenggelamkan kepalanya di antara kedua tempurung lutut, menutupinya dengan kedua lengan.

Seharusnya ia tahu. Seharusnya ia sadar diri lebih cepat. Seharusnya hanya pekerjaan yang dijadikannya landasan, bukan perasaan dan hubungan yang sesungguhnya hanya angan. Ia malu.

Saat ponsel di saku jaketnya bergetar, Baekhyun hanya mampu menariknya, dan menjawab panggilan masuk dari Sehun dengan keheningan, karena dirinya sibuk menahan isak yang mendesak ingin keluar dengan telapak tangannya. Membiarkan deras air mata menjadi satu-satunya jalan meluapkan perasaan.

.

.

Sehun menatap bagaimana Baekhyun terus bergerak di hadapan cermin di studio tari sederhana itu. Terus dan terus, bahkan setelah berjam-jam berlalu dan berkali-kali tersandung oleh langkah kakinya sendiri.

Sejak bertemu di pintu keluar gedung LOEY-Music sekian jam yang lalu, Baekhyun tidak sekalipun memberi penjelasan bagi pertanyaan Sehun tentang mengapa tidak ada jawaban untuk panggilannya, atau mengapa kedua mata sipit itu tampak sembab saat mereka bertemu. Baekhyun terus menolak menjawab, bahkan setelah sesi latihan mereka berjalan sekian jam lamanya.

Berkali-kali Sehun memerintah untuk berhenti, namun Baekhyun seolah tidak mendengar. Pemuda itu terus berkata gerakannya belum cukup baik, saat Sehun bahkan tak menemukan sedikitpun celah dari tariannya.

Sehun melirik jam dinding. Hari sudah larut. Ia tidak membayangkan sesakit apa otot-otot yang dipaksakan untuk bergerak tanpa henti seperti itu.

"Berhenti." Sehun menangkap tangan Baekhyun, dengan mudah kembali menghentikan pergerakannya. Baekhyun berusaha melepaskan, namun Sehun menahannya lebih kuat lagi. "Kubilang berhenti."

"Tidak, aku belum cukup baik—"

"KUBILANG BERHENTI!"

Setelah sebuah tarikan kencang pada tangannya, barulah Baekhyun berhenti. Ia tertunduk dalam, napasnya berantakan dan seluruh bagian tubuhnya yang tampak telah kuyup oleh keringat.

Sehun tanpa sadar mencengkram kuat lengan Baekhyun, merasa ingin meledak atas emosi yang muncul karena kekhawatirannya pada lelaki ini.

"Katakan. Katakan apa yang dilakukan pria itu padamu," tuntut Sehun. Tidak, ia tidak sama sekali asal menebak. Ia tahu pasti direktur itu lah penyebabnya.

Baekhyun tidak tampak awas pada sekitarnya. Pun dengan perkataan itu. Ia masih tertunduk, hingga kedua matanya bahkan tak dapat Sehun lihat karena urai poni rambut yang menutupi.

"Aku tidak cukup baik.."

Suara serupa bisikan Sehun dengar dari lelaki itu. Mengambang, entah dikatakan secara sadar ataukah tidak.

"Aku hanya seorang pembuat kacau.."

Lagi, bagaimana rasa khawatir yang menjadi-jadi semakin menyelimuti, Sehun mengeratkan cengkramannya pada lengan ramping itu. Terlebih, ketika isak tangis mulai terdengar dan satu demi satu tetes air mata mulai tampak menuruni dua bongkah pipi itu.

"Aku—tidak pernah menjadi cukup baik. Aku tidak bisa menjaga Jongin. Aku tidak—aku tidak bisa tampil dengan sempurna. Semua yang kulakukan hanya mengacau..," Baekhyun terisak hingga kedua bahunya bergetar semakin hebat meski berusaha ia tahan sebisa mungkin.

Sehun tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Baekhyun tidak akan seperti ini bila tidak ada suatu hal yang menjadi mula. Tapi sekali lagi, ia tahu.

Hanya Park Chanyeol yang belakangan menjadi penyebab dari setiap sikap Baekhyun, bahkan meski sosoknya pun tak sedang hadir.

Dan hal itu lah yang membuat Sehun marah.

"Dengar, Baekhyun." Sehun mencengkram kedua sisi pundak Baekhyun, cukup kuat dibandingkan sentuhan mana pun yang pernah ia berikan untuk lelaki mungil itu. Cengkraman itu menjadi satu-satunya hal yang dapat ia lakukan untuk meluapkan rasa marah yang begitu pekat, sebab selebihnya, ia berusaha menahan untuk tidak membentak sang penyanyi lebih jauh lagi.

"Tidak ada satupun dari semua hal ini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawabmu. Tidak untuk apa yang dialami Jongin, tidak untuk kesempurnaan apapun yang kaukira dibebankan padamu," ucapnya. Ia menatap langsung pada kedua obsidian berbingkai kelopak mungil itu, yang kini, menyiratkan linglung dan bingung di antara linangan air mata. Sehun tak peduli apakah kalimatnya akan relevan ataukah tidak, tetapi ada banyak sekali hal yang ingin ia sampaikan kepada sosok sang penyanyi, bahkan sejak awal mereka kembali saling dekat di bawah naungan perusahaan yang sama.

Sehun berhenti sejenak. Di saat masih begitu banyaknya kata-kata yang ingin ia keluarkan, sinar mata itu—terlebih, Baekhyun sedang menangis, demi Tuhan—nyaris membuat Sehun kehilangan pertahanannya.

"Kau," kata Sehun, "tidak harus.. merasa bahwa semua beban harus kau panggul di atas kedua bahu yang sempit ini.." Intimidasi melemah, dan Sehun merasakan ujung jemarinya yang masih berada di pundak Baekhyun mulai bergetar. Seperti Baekhyun, ia nyaris menangis untuk meluapkan emosinya. Keinginan untuk memeluk lelaki itu semakin besar dari waktu ke waktu. Merengkuh tubuh mungilnya, memastikan tubuh itu bertumpu dan mengandalkan dirinya sepenuhnya.

Sebelum Sehun benar membawa Baekhyun ke dalam pelukannya, tubuh itu telah lebih dulu jatuh ke lantai.

"Baek!"

.

oOo

.

Tangled [adj.] Twisted together untidilly

.

.

Thank u so much for everyone who read this fict! Always, gonna give special shoutout to reviewers: KlyJC | Jiell | Lucyanaa | someflufi | naitsyou | Nitha Gaemgyu | halunyafangirl | ByunBaeChiecy

Saya nggak selalu bisa memberikan yang sesuai ekspektasi, tapi semoga tulisan ini masih bisa dinikmati, ya! Saya cuma penulis amatir jadi-jadian, huhu /tunjuk bio ffn/ Tapi, sekali lagi makasih banyak udah baca ini. Sampai jumpa lagi!