The Unrequited
.
.
Notes: Still will be dominated by HunBaek (so sorry for this, I think?) but dont worry this is the last before focusing on our main charas, hehe. Happy reading.
.
.
oOo
.
Pintu tertutup di balik punggung. Chanyeol berhenti tepat satu langkah jauhnya dari pintu tersebut, dari ruangan yang ingin ia tinggalkan sesegera mungkin sebelum hal sebaliknya yang terjadi. Junmyeon yang mendengar suara segera bersiap menyapa, mengira sang penyanyi lah yang muncul dari pintu ruangan sang direktur. Namun ia urung ketika mendapati hanya Chanyeol seorang yang keluar dari sana.
Chanyeol, di tempatnya, terpejam berusaha meredam sesuatu yang serasa akan meledak. Sebelah tangan yang tak tersembunyi di balik saku mengepal keras.
Ia tidak tahu apa yang membuat amarahnya tiba-tiba saja membumbung. Ia marah. Pada dirinya sendiri, pada keadaan. Pada kerumitan yang sesungguhnya ia yang memulainya.
Kemunculan Baekhyun di pintu ruangannya membuat sesuatu dalam dirinya bergolak. Sesuatu yang hampir saja membawanya kepada sosok mungil itu membawanya dekat, menguasainya sepenuhnya, dan tak lagi memperbolehkannya hilang dari jarak pandang, dari jarak kuasanya. Sesuatu yang telah ia catatkan sebagai hal yang tak lagi dapat ia lakukan.
Setelah satu tarikan napas kembali Chanyeol mengambil langkah menjauh dari pintu ruangannya. Bersama tekad yang tak pernah sempurna terbentuk. Demi membuat semua berada tepat pada tempatnya. Mencegah hal berubah semakin rumit akibat sesuatu yang bahkan tak benar ia kenali. Perasaan itu.
.
oOo
.
Denting sendok dan peralatan masak terdengar nyaring selama beberapa menit terakhir. Pelakunya jelas sengaja memperlakukan benda-benda itu dengan kasar, memberitahu secara tersirat pada dua orang lain di ruangan yang sama bahwa ia benar-benar marah saat ini.
Sehun bertukar tatap dengan Baekhyun yang tersandar pucat di kepala ranjang. Sang penyanyi kemudian tertunduk, merasa bersalah, sementara Kyungsoo di pantry kecil kamar asrama itu masih melanjutkan masakannya dengan sekian bunyi-bunyian gaduh.
Dini hari. Baekhyun siuman beberapa waktu setelah Sehun menghubungi Kyungsoo agar menyusul ke studio. Membawa Baekhyun ke rumah sakit terlalu berisiko, sehingga yang terpikir oleh rapper itu ialah menghubungi sang manajer. Mereka kembali ke asrama segera setelahnya.
Beberapa menit lagi berlalu. Kyungsoo dengan senampan makanan hangat menghampiri Sehun yang duduk di sisi ranjang sang penyanyi, memindahtangankan nampan tersebut dengan kasar kepadanya.
"Kyung—" Panggilan Baekhyun terhenti ketika Kyungsoo yang baru saja hendak berbalik meninggalkan mereka justru kembali dan menatap kedua artis itu dengan kilat marah yang tak biasa.
Baekhyun di ranjangnya mengerut takut, sementara Sehun pula belum angkat bicara.
"Dengar. Aku tidak tahu apa yang berusaha kalian sembunyikan dengan diam-diam melakukan latihan di waktu selarut ini tapi kau," Kyungsoo menatap Baekhyun, "sudah berapa kali kubilang untuk tidak memaksakan tubuhmu lebih dari jadwal yang sudah kuatur? Huh?"
"Kyungsoo maaf—"
"Kau meremehkan kesehatanmu dan kau pikir hanya kau yang akan menanggung akibatnya?"
"Manajer Do," Sehun bangkit berdiri, berusaha menghentikan Kyungsoo yang tak tampak akan segera menyudahi amarahnya.
Kyungsoo menatap Sehun sengit, terdiam sebelum berbalik pergi. Ia kembali melintasi pantry kecil kamar itu menuju pintu keluar, diikuti Sehun di belakangnya.
"Manajer Do—"
"Kau jaga si keras kepala itu. Aku tidak bisa melakukannya tanpa memarahinya lebih banyak," kata Kyungsoo sambil mengenakan sepatunya. Belum sempat Sehun merespon, sang manajer telah lebih dulu pergi. Membanting pintu dan menghilang di baliknya.
Sehun menghela napas, memutar langkah kembali ke tempat Baekhyun berada. Penyanyi itu tertunduk, menyembunyikan kepala di antara kedua lengannya yang bertumpu pada lutut.
Sedikit-banyak, Sehun masih belum mampu bersikap tenang dengan segala emosi yang muncul berjam-jam belakangan. Ia tidak suka melihat bagaimana malapetaka ini terjadi karena Baekhyun yang selalu memaksakan diri, juga alasan lain di balik itu yang ia tahu pasti apa. Namun ia pula tidak mungkin memperparah keadaan dengan kembali membiarkan emosi itu mengambil alih.
"Sehun..," Suara itu terdengar samar, teredam oleh tebal kain pakaian dan selimut. "Maaf."
Sehun tak merespon hal itu. Lagi, ia memang sesungguhnya belum berhasil meredam emosinya sendiri. Kembali ke kursinya di samping ranjang, ia menarik lepas kedua lengan Baekhyun. Pelan seolah takut menyakiti.
"Kau harus makan."
Kedua mata lelaki itu sedikit sembab dan sayu, tapi tidak lagi meneteskan air mata seperti kali terakhir sebelum ia tumbang.
"Aku akan memakannya. Kau bisa pulang, Sehun. Kau perlu istirahat." kata Baekhyun. Suaranya luar biasa pelan sebagai tanda betapa tidak baik kondisi tubuhnya.
Sehun meraih nampan yang sempat ia pindahkan ke atas nakas. "Aku akan pulang setelah kau menghabiskan makananmu." Mengambil sesuap dari bubur hangat itu, ia menyodorkannya pada Baekhyun.
Alih-alih langsung membuka mulut, Baekhyun meraih sendok yang diulurkan Sehun padanya. "Biar aku saja." Tapi, ia menjatuhkan benda itu. Seluruh lengan hingga pinggang dan kakinya memang terasa nyeri segera setelah ia sadar, membuat kebanyakan aktivitas normal tak mampu ia lakukan.
Sehun menghela napas tak kentara. Ia beranjak ke pantry, mengambil satu yang baru dan dalam diam mengambil pekerjaan untuk menyuapkan satu per satu makanan ke mulut Baekhyun, mau tidak mau membuat penyanyi tersebut pasrah menerima dengan rasa bersalah yang semakin berlipat ganda.
Hingga semangkuk bubur hangat itu tandas, keduanya tak bicara. Baekhyun sesekali melirik Sehun, yang bahkan tak menampilkan ekspresi apapun selama menyuapinya dengan telaten. Sehun bangkit begitu saja setelah membantu Baekhyun minum dari gelasnya, membawa peralatan makan yang telah kosong ke wastafel dan mencucinya.
Sehun kembali dan dengan segera menghampiri jaketnya yang tersampir di kursi.
"Segeralah tidur. Kau masih perlu istirahat dan hanya punya beberapa jam sebelum jadwal hari ini dimulai. Aku pergi dulu."
"Sehun,"
Sehun terhenti sebelum sempurna berbalik, menunggu Baekhyun melanjutkan kalimatnya. Tubuh mungil itu tampak begitu lemah di mata Sehun, rambutnya sedikit berantakan dengan wajah yang masih juga pucat. Itu sesungguhnya cukup untuk membuatnya tetap tinggal. Ia ingin tetap berada di sini, dan menemani lelaki itu hingga tertidur.
Tapi Sehun tak berpikir ia dapat melakukan itu saat ini. Hal yang menguasai dirinya masihlah hal yang sama dengan saat sebelum Baekhyun ambruk; tentang kerisauannya, ketidaksukaannya pada bagaimana Baekhyun hanya memiliki pria itu sebagai seorang yang begitu mempengaruhinya.
"Maaf, dan terima kasih." kata Baekhyun pelan, berusaha membuat suaranya tetap jelas meski ia masih terlalu lemas untuk bicara.
Sehun membalas dengan sebuah gumaman singkat. Baekhyun dapat melihat lelaki jangkung itu segera melanjutkan langkahnya menuju pintu hingga kini ia benar-benar sendirian di kamar asramanya.
Baekhyun menarik selimutnya, perlahan berusaha menggerakkan tubuhnya yang begitu linu untuk berbaring menyamping. Ujung selimut ia bawa hingga bawah dagu, menahannya di sana.
Ia tahu dirinya telah begitu ceroboh. Menimbulkan masalah beruntut dan akhirnya kembali menyusahkan orang lain. Terlebih, orang lain tersebut lagi-lagi adalah mereka yang telah banyak membantunya.
Baekhyun merasa bersalah. Rasa bersalah itu seharusnya cukup besar untuk membuatnya berhenti menyusahkan Kyungsoo, juga Sehun. Tapi ia tidak tahu. Ia tidak tahu apa yang membuatnya begitu kehilangan arah, seolah-olah ia tak lagi bisa melihat ke depan sehingga yang ia lakukan tidak lagi pernah terasa tepat. Ia merasa kehilangan pegangan meski di saat yang sama ia berpikir ia bahkan tak penah memilikinya.
Mata ia pejamkan. Berharap seluruh rasa sakit di tubuhnya mampu mengundang kantuk untuk datang dengan segera.
.
oOo
.
Waktu istirahat siang. Baekhyun menghampiri Kyungsoo di sudut ruangan, mendudukkan diri dengan susah payah akibat beberapa bagian tubuhnya yang masih terasa nyeri. Sebotol air mineral di antara beberapa porsi makanan disodorkan Kyungsoo padanya.
Saat bertemu di depan dormitori agensi, Baekhyun tak melihat ekspresi yang semalam ia lihat tersisa pada raut manajernya itu. Mereka melalui jadwal seperti biasa. Melupakan begitu saja seolah tak ada yang terjadi di dini hari tadi.
"Kau sudah diperbolehkan keluar asrama."
Baekhyun menghentikan usahanya membuka tutup botol, sepenuhnya teralih untuk perkataan sang manajer.
"Keluar asrama?"
"Ya, seperti artis lainnya. Rookie yang tidak lagi dianggap perlu tinggal di asrama diperbolehkan memiliki tempat tinggal mereka sendiri," kata Kyungsoo. Baekhyun kembali menatap botolnya. Belum memberi angguk tanda mengerti, melainkan terpikir akan suatu hal yang seharusnya tidak.
"Bukankah.. LOEY-Music baru memperbolehkan itu untuk idol yang sudah debut setidaknya dua tahun?" tanyanya pelan.
"Kau pengecualian—mungkin. Popularitasmu jauh lebih baik dibanding rookie lain di—"
"Apa Chanyeol yang mengatakannya padamu?" Masih memainkan botolnya, Baekhyun kembali melontar tanya dengan sama pelannya. Setelah beberapa detik, hanya hiruk pikuk samar ruang latihan yang menjawab.
"Kapan kau mau pindah? Akan kubantu. Aku sudah punya beberapa rekomendasi lokasi apartemen yang sesuai untukmu," kata Kyungsoo, tanpa menatap Baekhyun turut meneguk air dari botol miliknya seolah sang penyanyi tidak baru saja memberikan pertanyaan.
Baekhyun menepis semua prasangkanya yang tak perlu. Bila memang ia tak berhak tahu, ia akan berhenti. Ia tak akan melewati garis batas apapun lagi.
"Secepatnya."
Keduanya tak lagi membahas hal tersebut sampai latihan hari itu dilanjutkan hingga usai.
"Ada beberapa day-off minggu depan. Mungkin kita bisa menggunakannya untuk pindah ke apartemen barumu," kata Kyungsoo sambil berjalan mendampingi Baekhyun meninggalkan lantai di mana ruang-ruang latihan berada. Matahari tenggelam beberapa waktu lalu, dan keduanya beranjak keluar dari gedung segera setelah Baekhyun membersihkan diri.
Baekhyun menggumamkan persetujuan. Mereka tengah melintasi lobby lantai dasar kala ponsel Baekhyun bergetar dari dalam saku hoodie hijaunya. Sebuah panggilan masuk, dari si rapper Oh.
"Halo?"
"Baek? Jadwalmu hari ini sudah selesai?"
Pertanyaan cepat dari seberang panggilan sedikit membuat Baekhyun gelagapan. "Eh? Aku? Su-sudah. Ada apa?"
"Kutunggu di depan."
Panggilan diputus. Baekhyun mengerjap, sedikit lambat memproses kata-kata Sehun barusan. Tapi ketika ia dan Kyungsoo melintasi pintu keluar, motor besar hitam itu memang benar telah terparkir di pelataran agensi bersama pemiliknya yang dengan santai menunggu dengan stelannya yang juga serba hitam.
Baekhyun bahkan belum sempat bereaksi saat Sehun telah lebih dulu mendekatinya, memakaikan helm di kepalanya dan dengan lembut menarik sebelah tangannya menuju motor yang terparkir.
"Mau ke mana?"
Sehun menaiki motornya, turut mengenakan helm yang lagi-lagi sewarna pakaiannya. "Mencari udara segar?" katanya. "Ayo."
Baekhyun ragu. Ia pikir, permintaan maafnya belum cukup kemarin. Dan harus kembali berhadapan dengan Sehun secepat ini membuatnya semakin tidak enak hati.
"Hey,"
Panggilan Sehun segera menyadarkan Baekhyun. Dengan gerak patah-patah, ia memutuskan naik setelah berpamitan pada Kyungsoo yang tentu saja lebih dari mengerti.
Sehun lantas mulai melajukan motornya. Jalanan masih cukup ramai karena malam yang belum terlalu larut. Hingga sampai di jalanan yang lebih besar dan sepi, Sehun menolehkan sedikit kepalanya, meneriakkan komando pada si mungil di belakangnya.
"Pegangan yang erat!"
Baekhyun sedikit tersentak oleh kalimat tiba-tiba itu, tapi ia benar-benar tak sempat mengonfirmasi karena segera setelah Sehun mengatakannya, kecepatan motor naik berkali-kali lipat. Baekhyun refleks menjerit kencang. Genggaman jemarinya di kedua sisi jaket kulit Sehun entah sejak kapan sudah berpindah melingkar erat di pinggang lelaki itu.
"SEHUUN!"
"YA?"
"JANGAN MENGEBUT!"
Alih-alih menjawab, Sehun justru tertawa ringan. Ia melajukan motornya lebih cepat, lagi dan lagi. Baekhyun, di sisi lain, kehilangan kendali atas dirinya dan masih menjerit keras-keras. Suaranya menyatu dengan deru mesin motor dan angin kencang, terlebih saat mereka berada di atas jalan layang.
Entah berapa menit yang mereka lalui dengan kebut-kebutan seperti itu. Baekhyun tidak sekalipun membuka matanya dan hanya berteriak, menempel erat-erat pada punggung Sehun yang seringkali terdengar melepas tawa jenaka dengan begitu entengnya. Hingga akhirnya kecepatan motor diturunkan, dan berhenti sempurna di sisi jalan temaram.
"Hey, Baek."
Baekhyun membuka matanya perlahan. Masih memeluk Sehun dengan eratnya, ia mendapati kerlip lampu yang memantul di permukaan air. Mereka berhenti di tepi sungai yang sepi pengunjung.
Baekhyun melepas pelukannya dari pinggang Sehun. Jemarinya masih gemetar, dan jantungnya masih berdentum kencang akibat takut dan kejut. Dua, tiga detik, ia berusaha meredakan detak jantungnya dengan menarik napas dalam-dalam.
Sehun menoleh, memeriksa keadaan sang penyanyi yang belum juga bersuara di belakangnya. Melihat betapa Baekhyun hanya terduduk lemas di atas jok dengan tatap mata yang entah melayang ke mana, Sehun tak tahan untuk tidak mendengus lantas tertawa kecil.
"Kau ini benar-benar payah, ya."
"K-kukira.. kau mau membunuhku.." kata Baekhyun. Tampaknya, nyawanya memang tertinggal di belakang karena tidak berhasil menyesuaikan dengan kecepatan Sehun melajukan motornya.
Kalimat itu memancing tawa yang lebih keras dari lelaki yang lebih tinggi. Sehun melepas helmnya, menurunkan masker hingga tawanya dapat terdengar semakin jelas.
"Kau serius dengan pikiran itu?"
Tatap linglung Baekhyun tertuju padanya, disusul anggukan lemah dari kepalanya yang masih terlindung helm.
Terkekeh, Sehun kembali menghadap ke depan. "Turunlah. Pelan-pelan saja."
Baekhyun menurut, berpegangan pada pundak Sehun agar mampu memijak dengan baik ke atas aspal dengan kaki-kakinya yang taunya juga sedikit gemetaran sebelum menanggalkan pelindung kepalanya dengan sedikit gemetar pula. Sehun menyusul setelahnya.
"Bagaimana? Tadi itu pertama kalinya, kan?" tanya Sehun ketika mereka berdiri bersisian, menghadap tepat ke arah sungai dengan lelampuan di sekelilingnya. Setiap pantulan dari lampu-lampu tersebut di permukaan air membuat sungai tampak seperti langit bertabur bintang namun dengan golak gelombang pelan.
"Maksudmu melanggar batas kecepatan seperti itu? Ya, itu yang pertama. Kalau kita harus berakhir di kantor polisi atau rumah sakit pun, itu juga pertama kalinya," jawab Baekhyun, sedikit ketus. Tanpa sadar, ia melupakan hal lain, apapun itu, dan hanya membahas betapa jantungnya dibuat terkejut—masih hingga saat ini—oleh perilaku ugal-ugalan Sehun tadi.
Sebaliknya, Sehun menyadari perubahan itu. Baekhyun bicara lebih banyak. Tanpa beban dan jauh lebih ringan dari biasanya. Mungkin, usaha sederhananya sedikit membuahkan hasil. Ia tersenyum kecil, kembali menatap ke depan sana.
"Aku benar-benar mengira kau mau melakukan sesuatu karena marah padaku.."
"Nyatanya tidak, kan?"
"Huh?"
Sehun menoleh sempurna, menatap penyanyi yang lebih mungil darinya itu. "Nyatanya aku tidak melakukan sesuatu apapun itu yang kau maksud. Kau masih baik-baik saja saat ini."
Baekhyun menarik napas panjang sekali lagi, berharap itu benar-benar yang terakhir kalinya karena sungguh ia terlalu berlebihan untuk perjalanan singkat dengan kecepatan jauh di atas rata-rata itu.
"Ya," jawabnya membenarkan. "Dan, Sehun-ie?"
Sehun mengerling, sekilas melirik Baekhyun untuk panggilan bernada lembut itu. "Kau tahu, panggilan itu semakin membuatku benar-benar berpikir kita adalah sepasang kekasih," katanya.
Puncak hidung Baekhyun berkerut, menganggap kalimat itu mengherankan. "Memang iya, kan?"
Sehun terdiam. Sepertinya memang tak ada sedikitpun sinyal yang sampai pada lelaki di sampingnya. "Jadi, ada apa?"
Baekhyun berkedip. Ia nyaris lupa sempat memanggil Sehun tadi.
"Um.. tidak, hanya.. maaf, dan terima kasih."
Lagi, Sehun melirik. Baekhyun di sampingnya tertunduk, menggerak-gerakkan ujung-ujung jemarinya yang bertengger di atas pegangan pagar pembatas.
Sehun tentu saja tahu ke mana kalimat Baekhyun mengarah. Tapi, ia ingin mendengar apa yang sesungguhnya Baekhyun maksud dari kata maaf dan terima kasih itu.
"Untuk apa?"
Sejenak mengulum bibir, baru Baekhyun menjawab, "Aku telah banyak menyusahkanmu."
Sehun menatap tanpa emosi ke permukaan air yang memantulkan bayangan dari sekian banyak benda yang ada di sekitar mereka. Pantulan cahaya lampu jalan, siluet jembatan hingga pagar pembatas.
Meski sudah menebaknya, rupanya masih pula ia terusik dengan fakta itu.
Sebab bukan itu yang membuatnya tak suka. Ia tidak sekalipun merasa Baekhyun menyulitkannya. Bukan itu.
Tapi bagaimanapun, ia tidak akan membuka mulut dan menjelaskan yang sesungguhnya secara gamblang.
"Kau bisa membayarnya," kata Sehun, separuh bergurau. Secara mengejutkan, Baekhyun meresponnya serius.
"B-bayar? Berapa?"
Menoleh, Sehun mengernyit heran tentang betapa lambannya Baekhyun bisa menjadi.
"Satu kali kelas tari eksklusif denganku bisa dikenakan tarif lebih dari satu juta won."
"Apa?!"
Sehun kembali melepas tawa. Ia mengusak puncak kepala Baekhyun sebagaimana yang sering ia lakukan. "Santailah sedikit."
Si lelaki yang lebih mungil menghela napas, setengah lega sekaligus masih mengganjal karena tentu saja ia teringat betapa banyak waktu berharga seorang rapper papan atas seperti Sehun telah ia sita.
"Jadilah kekasih yang baik, kalau begitu," kata Sehun, ringan, tanpa menatap pada si mungil di sampingnya. Seulas senyum kecil masih terpatri di bibirnya. Asimetris, sedikit jeri.
Baekhyun, di tempatnya, melipat bibirnya penuh tekad. Kedua telapaknya terkepal di atas pegangan pagar pembatas. "Baiklah. Aku akan jadi kekasih yang baik," katanya.
Mendengar itu, Sehun hanya tersenyum tipis. Menyayangkan semua kalimat-kalimat barusan yang sejatinya hanya pura-pura.
Baekhyun menarik napas panjang untuk ke sekian kalinya malam itu. Udara malam cukup menyenangkan. Dingin, namun menenangkan. Ia membawa tubuhnya melakukan peregangan kecil, menghela merasakan udara segar membantu tubuhnya merasa lebih baik.
Teringat sesuatu, Baekhyun kembali mengarahkan atensinya pada Sehun. "Ah, iya. Aku akan segera keluar dari asrama. Minggu depan, aku akan pindah ke apartemenku sendiri."
Laporan itu membuat Sehun menoleh, kini sepenuhnya menghadapkan diri pada si penyanyi satunya. Dahinya berkerut, "Secepat itu?"
Sehun melihat Baekhyun mengulas senyum tipis, tampak agak miris, namun karena tak ia ketahui sebabnya, ia memilih mengabaikan kesan itu.
"Ya."
Setelah sejenak terdiam Sehun baru merespon, "Akan kubantu, kalau begitu. Hubungi aku begitu kau memutuskan tanggal kepindahanmu."
Baekhyun tersenyum kian lebar, memberi gestur mengerti dan lagi mengucap terima kasih.
Satu kali hela napas, Sehun berbalik, menyambangi kembali motor besarnya. Ia mengambil satu helm yang berwarna putih, menyodorkannya pada Baekhyun.
"Saatnya balapan ronde dua."
"Ap-apa?"
Diawali senyum menantang dari Sehun, malam itu Baekhyun mengalami kali kedua di mana ia menjerit keras-keras di atas motor besar sang rapper jangkung yang melaju lebih kencang dari sebelumnya.
.
oOo
.
Petang itu Baekhyun menyelesaikan jadwal rekaman program bersama Sehun. Stasiun televisi ternama lagi-lagi meminta mereka untuk hadir dan agensi tentu menyambut baik hal tersebut. Bahkan, sembari rekaman dilakukan, pihak agensi diketahui berada dalam negosiasi untuk sebuah kerjasama yang baru.
Sejauh ini, segalanya amat tepat sasaran.
"Popularitasmu memang tidak main-main, ya. Lihat, semua membawa banner bertuliskan namamu." Baekhyun menunjuk barisan penggemar di depan gedung stasiun televisi tempat mereka berada. Sekelompok penggemar memang kerap datang di setiap jadwal mereka, dan penggemar Sehun tentu selalu mendominasi.
Sehun hanya menyunggingkan senyum kecil sebagai jawaban. Daripada apa-apa yang sejak bermenit-menit belakangan Baekhyun katakan, Sehun melulu terfokus pada bagaimana penyanyi mungil itu tampak lebih baik dari waktu manapun sebelumnya. Dalam artian, ia bicara lebih banyak. Ia berkata dengan lebih lepas. Sehun pikir, adalah baik baginya untuk terus berada di sisi lelaki ini, dan memastikan wajahnya selalu berhias senyum dan bicara dengan begitu bebasnya seperti saat ini.
"Baekhyun,"
"Hm?"
"Bagaimana kalau kita menjadi sepasang kekasih sungguhan saja?" tanya Sehun. Begitu tiba-tiba, hingga yang bisa Baekhyun lakukan hanya berkedip dalam diam selama sekian detik. Begitu menguasai dirinya, ia lantas tertawa setengah hati.
"Ah, penggemar pasti akan menyukainya, ya," gurau Baekhyun, masih tertawa samar, bergantian menatap Sehun dan barisan penggemar. Beranggapan bahwa hanya dirinya yang salah kaprah terhadap kalimat Sehun adalah serius.
Sebelah tangan Baekhyun ditarik. Perlahan namun entah mengapa terasa menuntut. Tubuhnya tertarik hingga menghadap Sehun sepenuhnya. Kini, keduanya sempurna saling berhadapan.
"Baekhyun, kau menangkap maksudku. Kau mengerti."
Baekhyun melirik ratusan wartawan di bawah sana. Balkon tempatnya dan Sehun berada begitu terbuka, meski aksesnya memang amat dibatasi sehingga hanya mereka berdua yang saat ini ada di sana.
Kedua netranya tertuju langsung pada Sehun, mencari-cari sesuatu. Celah, atau apapun yang bisa ia jadikan petunjuk bahwa Sehun tidaklah seserius itu.
Tapi ia tak menemukan apapun. Selain Sehun, yang menatap dalam tepat pada matanya.
"Sehun.."
"Semuanya akan jadi lebih mudah, Baekhyun. Tidak seperti bila kau bersama direktur itu," kata Sehun. Datar. Ia menatap lurus pada Baekhyun di hadapannya, tak tampak menunjukkan ekspresi apapun. Saat ini, ia merasa memiliki kesempatan untuk ini di dalam genggam tangannya.
Dan tepat di saat yang bersamaan, ekor matanya menangkap bayangan itu. Seorang pria tinggi bersurai platina, yang secara amat kebetulan muncul di pintu di ujung sana, di belakang Baekhyun yang menghadap tepat kepadanya.
Park Chanyeol.
Para wartawan dan penggemar mulai membuat suasana penuh hiruk pikuk. Baru saja mereka menyadari keberadaan dua idol yang tengah ramai diberitakan di mana-mana di balkon terbuka gedung stasiun televisi. Ributnya cukup untuk menyamarkan suara ketuk sepatu sang pemilik LOEY-Music yang berusaha tak menghiraukan keberadaan pasangan tersebut dengan tetap melanjutkan langkahnya bersama sang sekretaris.
Sehun menatap pria itu dari tempatnya berdiri, menyeringai tipis. Itu luput dari perhatian sang penyanyi bermarga Byun saking ia masih terpaku pada apa yang dikatakan Sehun sebelumnya.
"Kau menyukainya, kan? Direktur Park? Park Chanyeol?" tanya Sehun, terdengar begitu menuntut untuk segera dijawab.
Pertanyaan yang disuarakan dengan lebih keras itu membuat langkah sang direktur terhenti.
Masih sekian langkah sebelum mereka tepat berpapasan. Chanyeol dan Junmyeon bahkan masih berada di bawah bayang kanopi sehingga mungkin tak ada seorang pun yang menyadari keberadaannya selain Oh Sehun sendiri.
Baekhyun di tempatnya, entah mengapa merasa terpojok akan perkataan Sehun. Ia menggigit bibir. "A-aku tidak!" jawabnya patah-patah. Sama seperti Sehun, ia keras membantah. Namun nadanya goyah. Karena ia sendiri pun tahu—itu adalah sebuah kebohongan. Bantahan keras sejatinya adalah mekanisme pertahanan diri dari hal berkebalikan di dalam hatinya yang inginnya ia sangkal habis-habisan.
Karena ia tidak berhak untuk itu.
"Maka mari buat ini semua lebih mudah," kata Sehun. Suaranya telah kembali seperti semula. Lantas, ia melanjutkan dengan lebih pelan. "Kita jadikan semua skenario ini nyata. Kau dan aku, menjadi sepasang kekasih yang sesungguhnya."
Baekhyun merasa kehilangan suaranya. Tatapan Sehun menguncinya. Dan berbeda dari Oh Sehun yang telah lama ia kenal sebagai seorang teman yang begitu baik hati, tatapan itu terasa asing. Mereka terdiam selama beberapa waktu, seolah sama-sama mencari celah untuk mengais napas di tengah tegang keadaan.
"Aku menyukaimu, Baekhyun. Jadilah kekasihku," bisik Sehun. Sekilas, kilat matanya berubah sendu. Meski Baekhyun bahkan tak sempat menangkapnya.
"Sehun.." Baekhyun tanpa sadar membuat satu langkah kecil, menjauh mundur dari Sehun.
Sehun menyadari itu. Bagaimana tidak ada sedikitpun pertanda lampu hijau baginya, melainkan penolakan yang jelas tergambar meski belum terucap. Satu langkah kecil yang dibuat Baekhyun sudahlah bagai penolakan itu sendiri.
Kesempatan yang belum genap sehari ia rasakan berada dalam genggamannya, raib tanpa bersisa. Atau memang hanya kebodohanlah yang membuatnya merasa pernah memilikinya.
Melirik, Sehun mendapati sang direktur masih berdiri di tempatnya. Menatap balik padanya, entah dengan artian apa.
Hanya saja, satu langkah mundur berikutnya yang dibuat Baekhyun, membuat ketakutan mendadak memuncak di dalam dirinya. Jika Baekhyun berbalik, maka yang akan pria mungil itu temukan adalah sosok yang disukainya. Jika Baekhyun berbalik, maka Sehun akan semakin merasa tidak memiliki tempat bahkan untuk sekadar membuat Baekhyun melihat kepadanya lagi.
Ketakutan itu menggelapkan matanya. Sehun menarik pergelangan tangan Baekhyun. Kencang. Dan hanya dalam sepersekian detik, ia menarik tengkuk, dan mencium bibir sang penyanyi.
.
oOo
.
Unrequited [adj.] (of a feeling, especially love) not returned or rewarded
.
.
Today's (unnecessary) news: I didn't expect it took this long to publish this chapter cuz tbh I've typed almost 2k words already before new year, but the final exam preparation didn't let the mood hshshs.
The second is: we're close to the ending. Fic ini akan selesai dalam beberapa chap lagi. Hehe.
And.. Happy new year! (Ik it's january 14th already but I think it's ok) Makasih yang udah main-main ke sini selama 2020, ya! 2020 kemarin adalah tahun rekor/? di mana saya cukup sering publish cerita di sini haha, dan setiap fav, follow, dan review yang saya terima bener2 made my days throughout the year. Sekali lagi makasih banyak! Let's stay physically and mentally healthy from now on!
Special thanks for prev chap's reviewers: jinahyoo | kafthya | Flowerinyou | someflufi | baekluvs | baekhyunpup | Nitha Gaemgyu | Chanbaek09 | owenoren | SA-SMURF01 | KlyJC | ttalgibaek | Lucyanaa | bbaekhyunfans | naitsyou | ByunBaeChiecy | Jiell | ByunBaekkiehyun | halunyafangirl
See you (very soon, i wish)!
