Rome Wasn't Built in a Day
.
.
Recommended Song:
KAI - Amnesia
.
.
oOo
.
"Kau menyukainya, kan? Direktur Park? Park Chanyeol?"
"A-aku tidak!"
Meski sesungguhnya kalimat-kalimat itu begitu mempengaruhinya, Chanyeol berusaha tak acuh. Sekali lagi, ia akan menghentikan semua yang sempat berjalan tidak pada tempatnya. Membiarkan segalanya berjalan sebagaimana mestinya, sesuai kepentingan yang seharusnya pula.
Tak lagi melibatkan apapun yang tak perlu.
Tapi ketika hal itu terjadi, ketika sang lelaki Oh itu menarik Baekhyun untuk sebuah ciuman, Chanyeol tahu ia tidak memiliki cukup kendali lagi untuk tetap berpura-pura tak acuh. Sesuatu dalam dirinya nyata memberi reaksi.
Chanyeol, di tempatnya tanpa sadar mengepalkan tangan, merasa sesuatu mendidih hingga ke ubun-ubun, hingga merah di kedua bola matanya yang menggambarkan betapa besar emosi yang ia rasakan hanya dengan melihat apa yang dilakukan dua orang di depan sana.
Hanya dalam sekejap mata, suara blitz kamera terdengar dari mana-mana. Balkon terbuka menjadi tempat amat strategis untuk siapapun melihat apa yang terjadi di sana begitu satu saja orang berseru.
Riuh. Jeritan para penggemar melengking tinggi. Dengan jarak sekian kaki, kilatan lampu blitz terasa hingga balkon tempat pasanganbintang itu berada.
Semuanya terasa begitu cepat. Ketika Sehun melihat Chanyeol berbalik cepat pergi dari sana, ketika Baekhyun mendorongnya keras hingga keduanya sama-sama terempas saling menjauh. Saat itu seakan tersadar, Sehun menyadari ia telah berbuat kelewat batas. Ia melihat bagaimana air mata berkumpul di sudut mata sang pemuda Byun dan tampak bisa jatuh kapan saja.
"Apa yang terjadi padamu..," bisik Baekhyun. Suaranya bergetar. Sama seperti kedua kepal tangan di sisi tubuhnya.
"Baekhyun..," Sehun berusaha kembali menangkap pergelangan tangan itu, tetapi Baekhyun menolak.
Baekhyun mendadak kehabisan kata. Ia bahkan tak tahu kapan genangan di pelupuk matanya terbentuk. Jantungnya berdegup kencang. Tubuh serta pikirannya masih terkejut luar biasa.
Isi kepala terasa kacau. Pikiran-pikiran tak berkesinambungan saling membentur di dalam sana. Apakah ini bagian dari skenario yang harus di jalani, apakah Sehun bersungguh-sungguh dengan semua perkataan dan perilakunya, apakah segalanya nyata ataukah mimpi. Karena, ia pikir, hubungan mereka tidaklah seperti ini.
Tapi melihat tatapan Sehun padanya, mungkin, ia tidak bisa menghadapinya lagi. Setidaknya untuk saat ini.
Maka Baekhyun berlalu. Melewati bahu Sehun, melangkah cepat setengah berlari. Melarikan diri dari hadapan Sehun.
.
.
Sedikit-banyak—tidak, mungkin memang banyak—Sehun tahu ia telah melakukan kesalahan besar. Kesalahan yang jika saja mampu ia tahan sebelum terjadi, Baekhyun mungkin tak akan bereaksi demikian.
Ia menghela napas. Ada bagian di dalam dadanya yang terasa mencelos. Menyesal, kecewa. Dan sakit. Ia memang kehilangan kendali karena terlalu lama menyimpan perasaan itu. Kejadian di hari-hari belakangan pula turut mempengaruhi dirinya sampai hilang pertahanan.
Ia harap, kesalahan yang ia perbuat masih termaafkan karena ia sungguh tidak ingin kehilangan Baekhyun, seperti apapun posisinya nanti bagi lelaki itu. Ini mungkin memerlukan banyak waktu baginya untuk memulihkan keadaan dan meminta maaf.
Sehun mengangkat pandangan. Menarik napas dalam-dalam, meresapi udara malam yang perlahan mendinginkan isi hati dan kepalanya.
Pemandangan sungai yang sama. Sehun kembali mengunjungi tempat yang sama dengan hari kemarin. Kali ini, sendirian. Hanya menenangkan pikiran, bersama motor kesayangan serta sekaleng bir di tangan.
Baru ketika sesuatu yang selama beberapa jam terakhir ia pertimbangkan melintas di kepala, Sehun mengeluarkan ponsel dari dalam saku, membuat panggilan dengan salah satu kontak di dalamnya.
"... Halo? Sekretaris Han?"
.
oOo
.
Baekhyun kesulitan menembus kerumunan. Sejak hari kemarin, sedikit kehebohan terjadi dan entah bagaimana itu mempengaruhi intensitas penggemar yang datang ke lokasi jadwalnya. Beberapa keamanan yang berjaga bahkan kesulitan membuka jalan.
Ia mulai tidak menyukainya.
Atau mungkin ia sedikit terlalu sensitif hari ini.
Ketika semakin sulit Baekhyun menyeimbangkan langkahnya di tengah kerumunan, sebuah lengan menarik dan merengkuhnya mendekat. Dan begitu saja, tubuhnya terasa terlindungi dari benturan. Dibawa cepat diiringi para keamanan, hingga berhasil masuk ke lobby gedung.
Begitu mereka aman, Baekhyun segera menjauhkan diri. Pelan. Melepaskan rengkuhan itu. Ia bahkan tak berani menatap mata lelaki tinggi yang baru saja membantunya.
Selain urusan pekerjaan, Baekhyun belum bicara apapun pada Sehun. Ia tak bermaksud, sungguh. Tetapi ia hanya tak bisa bersikap seperti biasa setelah apa yang terjadi kemarin. Setidaknya belum. Terlepas dari apakah alasan Sehun sesungguhnya, Baekhyun belum mampu mengatasi dirinya sendiri. Ia hanya merasa aneh, mengingat bagaimana ia dan Sehun, memandang satu sama lain dengan cara yang berbeda selama ini.
Menghela napas, Sehun memutuskan mengambil jarak. Ia memasukkan tangannya ke dalam saku mantel, berjalan lebih dulu melanjutkan langkah mereka menuju ruang tunggu mereka. Keduanya mengambil tempat duduk terpisah sesampainya di sana.
Saat berusaha menyibukkan diri dengan ponselnya, sekaleng minuman diulurkan ke hadapan Sehun. Ia mendapati si manajer mungil berkacamata berdiri di hadapannya.
"Sembari menunggu."
Sehun menerimanya, juga membiarkan saat Kyungsoo mengambil tempat di sampingnya. Sofa itu hanya diisi mereka berdua. Baekhyun mengambil tempat di sudut yang berbeda dalam ruang tunggu yang cukup luas itu. Hiruk pikuk dari staf yang berlalu lalang di dalam, juga koridor dan tempat-tempat lainnya cukup membuat bising suasana. Jadwal on air cukup banyak berlangsung, dan itu membuat tempat ini tampak amat sibuk.
"Kau cukup berani."
Sehun melirik sekilas kala suara datar itu terdengar dari sang manajer. Ia membuka kalengnya, mengambil satu tegukan.
"Sekarang aku kesulitan menjelaskan padanya."
Sehun tak mendengar apapun lagi dari pria di sampingnya. Yang ia tahu sosok ini memang tak suka banyak bicara. Itu memakan waktu cukup lama sebelum percakapan mereka kembali berjalan.
Hela napas tipis terdengar. Si manajer menggumam untuk dirinya sebelum berkata, "Dia benar-benar menganggapmu panutan. Jangan khawatir. Dia tak akan membencimu."
Menoleh, Sehun menatap cukup lama pria pendek itu. Ia diam-diam takjub mendengar Kyungsoo menyuarakan hal yang bahkan tak pernah ia akui secara gamblang di dalam hati.
Lebih dari sekadar menjauhi, Sehun takut Baekhyun membencinya. Seperti apapun caranya.
Sehun dengan cepat kembali menguasai diri. Disisihkannya melankoli yang sempat menyeruak. Ia menopang dagu, lantas berdecak hiperbolis dengan sedikit kilat jahil di matanya.
"Kadang kau tampak seperti cenayang, Manajer Do."
Sang manajer memutar bola mata. Menghela jengah. "Artis-artis ini memang menyebalkan sekali." gumamnya teramat pelan, sebelum berlalu meninggalkan Sehun, kembali melanjutkan bagiannya untuk jadwal hari itu.
Sehun tak sepenuhnya menelan perkataan pria itu. Tidak ada yang akan terjadi sebelum ia melakukan sesuatu. Tetapi, lagi-lagi diam-diam, Sehun mengaminkan dalam hati.
.
.
"Sajangnim,"
Chanyeol menjawab panggilan Junmyeon dengan sebuah gumam singkat, hampir sepenuhnya masih terfokus pada pekerjaannya di atas meja.
"Oh Sehun ingin bertemu dengan Anda malam ini,"
Alis sang direktur seketika berkerut dalam. Seketika itu pula, Junmyeon dapat menangkap betapa signifikannya perubahan suasana hati sang direktur saat ia menyebutkan nama itu. Ia sempat ragu melanjutkan, tetapi bahkan di luar seperti apa kewajibannya memberikan laporan untuk sekecil apapun hal yang masuk melaluinya, Junmyeon tidak berpikir ia harus mengabaikan hal ini.
"Sekretaris Han baru saja menghubungkannya kepada saya,"
Setelah sempat terhenti, Chanyeol melanjutkan kegiatannya menarikan pena di atas dokumen-dokumen di hadapannya. Ia sedapat mungkin meredakan sesuatu di dalam dirinya yang terus beranjak memuncak.
"Tolak."
"Sajangnim,"
"Sepenting apa hal itu sampai kau harus menyampaikannya saat bahkan banyak panggilan dari kolega yang lebih penting harus berada di antrean panggilan?"
Junmyeon membungkuk sebagai permintaan maaf karena ia tetap melanjutkan, "Ini tentang Byun Baekhyun."
Lagi, Chanyeol terhenti dari pekerjaannya. Menatap sang sekretaris dengan alis bertaut. Itu cukup memberi tahu Junmyeon agar memberi penjelasan lebih lanjut.
"Oh Sehun hanya mengatakan bahwa ini penting untuk Anda."
Pena di antara jemari terhenti dari pergerakan sepenuhnya. Chanyeol taunya diam menimbang, saat seharusnya ia mentah-mentah menolak karena ia sedikitnya memiliki gambaran akan konteks penting yang dimaksudkan di sana. Dan kalaupun itu benar, maka ia tidak berminat sama sekali kepadanya.
"Tolak, kubilang."
"Sajangnim,"
Mendengar sikukuh sang sekretaris, kedua alis Chanyeol semakin bertaut, "Sejak kapan kau begitu bangkang seperti ini? Huh?!"
Junmyeon membungkuk dalam. Cukup lama. Menyatakan hormat dan maaf sekaligus upaya bujuknya.
Chanyeol menghardik. Semakin tak suka. Pada cara Oh Sehun memberi pinta setelah apa yang telah terjadi, juga pada Junmyeon yang entah untuk tujuan apa tampak begitu bersikukuh membujuk.
Setelah beberapa saat berlalu dan Junmyeon masih menunggunya memberi jawab, ia berdecak.
"Katakan padanya untuk menunggu. Masih ada banyak urusan yang lebih penting," kata Chanyeol. Yang meski dengan nada sempurna final, diam-diam ia ketahui betul justru diikuti bimbang pertimbangan karena samarnya bayangan akan apa yang dimaksud dengan tentang Baekhyun. Oh Sehun mungkin saja sedang mempermainkannya.
Namun hingga sehari berlalu, Chanyeol tidak juga menerima permintaan itu. Hingga sang pria Ohtaunya mengambil langkah berani dengan mendatangi sang direktur langsung ke ruangannya.
Chanyeol duduk menunggu. Keduanya berakhir di salah satu kafe dekat kantor pusat agensi milik pria tinggi itu sebab akhirnya Chanyeol menganggap ini sebagai terakhir kali ia bermurah hati. Baik ia maupun si pria Oh, keduanya bertukar tatap selama beberapa saat tanpa kata. Memandang wajah stoic itu memang tak pernah baik dampaknya bagi kestabilan emosinya. Sejak awal. Dan kejadian tempo hari di balkon terbuka sebuah stasiun televisi besar tidak sama sekali membuat apapun menjadi lebih baik.
Chanyeol tak yakin ia mampu bertahan di tempat duduknya hingga perbincangan-entah-apa-ini selesai tanpa melakukan apapun pada wajah datar itu.
"Aku tidak datang ke sini untuk menungguimu," kata Chanyeol singkat.
"Apa kau sadar kau tengah menatapku seperti seorang musuh bebuyutan yang berpotensi mengambil apa yang menjadi milikmu?"
Alis Chanyeol berkedut sekilas, cukup terganggu dengan banmal yang dilontarkan Sehun padanya, juga isi pertanyaan itu sendiri.
"Ah, maaf, kuharap kau tak tersinggung karena aku menggunakan kalimat informal padamu."
Sang direktur masih menatap lelaki di hadapannya. Apapun yang dimaksudkan orang ini, pembukaan itu sudah amat menambah kesan buruk yang membuat Chanyeol semakin tak yakin dapat duduk diam tanpa satu-dua wujud amarah.
Sehun mencondongkan tubuh. Membuat jaraknya dengan sang direktur sedikit terpangkas. Ia bertumpu pada kedua sikunya yang melipat di atas meja, menatap begitu santainya pada pria tinggi berstelan rapi di depannya.
"Jadi, kau akhirnya setuju untuk datang karena kukatakan ini tentang Baekhyun?"
"Jangan membuang waktuku. Apa yang ingin kau katakan sebenarnya?" sahut Chanyeol. Ia tak berniat membuat dirinya duduk lebih lama di sini bila memang tak perlu. Bahkan meski Sehun menyebutkan nama itu berkal-kali, ia tak ingin terpengaruh.
"Fine." Sehun menghela, mengenyampingkan keinginannya untuk membuka dengan sedikit permainan.
"Kau dan agensimu begitu sukses, kenapa kau mengakuisisi Baekhyun dari agensiku?" tanyanya.
Chanyeol mengernyit tak suka. Pertanyaan itu, dan segala hal yang telah lebih dulu bertumpuk dalam pikiran Chanyeol tentang seorang rapper sekaligus dancer di hadapannya ini, memancing dirinya untuk menatap tajam. Tak sadar mengeraskan rahang.
Mengapa bocah ini begitu ikut campur?
"Kau seharusnya tahu ini bukan urusan artis sepertimu," kata Chanyeol. Tajam sebagaimana tatapnya.
Sebelah alis Sehun terangkat. Yang lagi-lagi, menambah kesan luar biasa arogan di mata sang direktur.
Sehun menggumam, seolah memikirkan sesuatu dengan jelas sengaja menunjukkan hal itu. "Kau melihat cahayanya, ya." Ia memainkan bibir, tampak bermain-main dengan tebakan sepihak tersebut sebelum lagi melanjutkan.
"Dia memang sangat bersinar di atas panggung," katanya. "Saat hari pemilihan trainee untuk gelombang debut tahun itu, Direktur Wang juga melihatnya. Ia memutuskan mendebutkan Baekhyun meski hanya dengan enam bulan masa training."
Chanyeol tidak tahu ke mana pembicaraan ini mengarah. Intonasi main-main yang sempat ia tangkap dari Oh Sehun tak lagi terdengar. Ia tidak tahu mengapa Sehun begitu saja memulai pada topik ini.
Sehun mengarahkan matanya yang tak berkedip pada sepasang lain milik pria dengan undercut platina itu. "Kau.. mengambilnya karena alasan yang sama, atau..?" Ia menjeda. Atau sejujurnya, ia memang tak berniat menuntaskan pertanyaan itu. Karena ia tahu seharusnya itu tepat sasaran.
Chanyeol tak menjawab. Tidak, ia tak sedang kehabisan kata. Ia tak sedang mati kutu. Hanya saja, pertanyaan yang ingin ia bantah secara langsung itu justru dibenarkan oleh sesuatu di dalam dirinya.
Dan tahunya itu lagi-lagi membuatnya semakin marah. Entah kepada siapa.
"Sesungguhnya aku tidak peduli pada niatmu." kata Sehun, beralih bersandar di kursinya tanpa melepas mata dari sang direktur. "Tapi kau begitu berpengaruh padanya—" Jeda, "—sialan."
"Kau..,"
"Ya, kau sialan."
Kalimat demikian tidak seharusnya kau lontarkan kepada seorang presiden direktur. Dan itu tentu saja berlaku sama bagi Chanyeol. Semakin detik, perilaku Sehun menyulut dirinya sampai nyaris memuncak.
Beberapa detik lagi yang dibiarkan kosong. Tatap dan bahasa tubuh sang rapper mulai mengeras. Tak lagi santai seperti yang ia usahakan sebelumnya. Chanyeol, di sisi lain, berusaha keras menahan dorongan untuk menarik kerah seseorang di hadapannya dan merealisasikan keinginan untuk melakukan sesuatu pada wajah stoic itu. Bahkan meski ia tak memiliki alasan.
"Kau mungkin berpikir hal yang sama denganku—" lanjut Sehun, kali ini dengan sedikit tarikan senyum miring di bibirnya, "—aku benar-benar ingin meninju wajahmu."
Melihat Chanyeol yang tampak bisa meledak kapan saja, Sehun membuang napas. Kasar. Ia harap dirinya mampu menyelesaikan ini semua. Apa direktur itu pikir hanya ia yang berjibaku melawan amarah?
Menunduk sejenak, Sehun mengumpulkan kendali diri. Juga keberanian untuk melanjutkan. Karena setelah semua ini, segalanya telah selesai baginya.
"Kau tahu, menjadi begitu berbakat sepertinya tidak membuat karirnya mudah." Sehun mengangkat kepala, mendapati suaranya sendiri telah jauh lebih terkendali. Dan sebab alasan tentang siapa mereka berbincang sekarang, Chanyeol tetap berada di tempatnya.
"Anak emas. Kau tahu apa artinya itu?" lanjutnya. "Banyak perlakuan buruk yang ia terima untuk itu. Dari calon-calon yang seharusnya debut karena masa pelatihan yang jauh lebih lama, dari para sunbae yang meragukan kemurnian pertimbangan debutnya."
Satu lagi senyum miring, Sehun membawa dirinya sendiri pada semua ingatan tentang Baekhyun. Tentang bagaimana ia harus sebisa mungkin berada di sisi penyanyi mungil itu, karena beban yang tak pernah mau lelaki itu bagi.
"Anehnya, seperti apapun ia redup dan terpuruk di belakang panggung, dia berubah begitu bercahaya begitu lampu panggung menyorot padanya. Setelah mengenakan kostum dan riasannya, ia seperti bisa melakukan segalanya.
"Penampilan tanpa cacat yang kau lihat di atas panggung, tidak semerta-merta hadir karena ia dilahirkan dengan semua itu. Ia terlalu baik untuk seorang pendatang baru. Ia terlalu sempurna."
Chanyeol terdiam. Seperti sebuah skak mat, Oh Sehun menjawab satu hal yang pernah begitu mendominasi pikirannya—satu hal yang membawanya pada keinginan memilikiseorang artis di bawah kuasanya untuk pertama kali, ketika ia bahkan baru satu detik menatap keindahan di atas panggung itu.
Aksi panggung itu terlalu baik untuk ukuran seorang pendatang baru.
"Dan dia.. selalu melakukan itu untuk orang lain," Sehun menerawang. Wajah datarnya tidak ada beda, namun suaranya berubah sendu meski hanya terasa setipis kelambu. "Jongin harus melihat penampilanku yang terbaik', 'Direktur Wang tidak akan mentolerir kesalahanku', 'Aku tidak ingin membuat pekerjaan Kyungsoo sia-sia'." Satu per satu, Sehun mengulangi apa yang pernah didengarnya dari sang penyanyi. Pada malam hingga dini hari yang dihabiskan untuk mengasah diri. "'Aku tidak ingin mengecewakan Chanyeol'."
Mata yang sempat ia larikan jauh kembali ia bawa menatap sang direktur. Tidak ada segan. Tidak ada takut. Karena sejak pria ini membawa Baekhyun, Sehun tidak pernah berniat berprasangka baik lagi padanya.
Chanyeol menyambut tatap itu. Sama tajamnya. Sebagaimanapun percakapan mereka mengalir, sitegang tidak ia anggap cair barang sedikitpun. Meski, kalimat itu menohoknya dalam diam.
Apa?
"Kau tahu kalau aku diam-diam begitu membencimu? Kau tahu kenapa?" tanya Sehun, sedikit-banyak menuntut. Sebuah senyum untuk ke sekian kalinya ia tampakkan. Masih sama kesan ejek dan sarkasme di dalamnya meski tak lebih dari sepersekian detik sebelum kembali pada datarnya. "Kau menjadi alasan untuk setiap pesakitan yang dia rasakan. Sejak kau membawanya."
Sehun mendengus. "Banyak hal yang tidak dia mengerti. Ia hanya berpikir tentang menjadi sempurna untuk orang lain." Matanya menyipit, merasakan rasa tidak suka itu kembali muncul, terbayang bagaimana Baekhyun selalu berlari padanya, namun tak pernah benar-benar bersamanya. "Dia bahkan tak mengerti dirinya sendiri."
Tidak ada tanggapan. Sehun mengangkat cangkirnya. Mungkin ingin menyesap satu-dua teguk dari minumannya yang sudah mendingin, namun urung di satu detik berikutnya. Setidaknya, bungkamnya Chanyeol memberinya ruang untuk meredakan emosi yang diam-diam membumbung. Karena sesungguhnya, ia benci pada kenyataan bahwa ia tidak pernah bisa menolak permintaan Baekhyun meski tak sekalipun permintaan itu menguntungkannya. Dan secara tidak langsung, ia sedang menyampaikan itu pada orang yang paling tidak ingin ia biarkan tahu.
Selama ini, Sehun bertahan pada fakta bahwa ia dapat memastikan Baekhyun masih memiliki senyumnya, dan bahwa ia dapat menjaga Baekhyun dengan melakukan semua itu.
"Kau.. apa tujuanmu mengatakan ini semua padaku?" tanya Chanyeol, agaknya terukur cukup pelan pun tak terlalu sarat emosi. Ia bahkan secara mengejutkan tak lagi menatap lawan bicaranya.
Sehun kembali mendengus. Sedikit merasa lucu. Kadang, ia merasa kedua orang ini begitu cocok untuk beberapa alasan.
Keduanya sangat payah menerjemahkan perasaan.
"Menyadarkan seorang pengecut, tentu saja."
Ejek tersirat itu tidak lagi berbuah amarah untuk sang direktur. Sesuatu yang lain mengambil alih fokus pikirannya. Terutama, setelah semua ini. Titik-titik yang terkumpul tak saling terhubung. Apa yang Oh Sehun lakukan saat ini seperti berkontradiksi dengan kesimpulannya akan peristiwa tempo hari.
"Apa yang sedang kau coba lakukan?"
"Batalkan kontrak kencan palsu ini."
Kalimat itu mengundang sang direktur untuk kembali mengerutkan dahi setelah sempat mengendur. "Apa?"
Sehun menatap lurus-lurus pada pria di hadapannya. Tak berniat mengulang, karena ia tahu sang direktur hanya mencari konfirmasi.
"Jangan buat dia sakit lagi," kata Sehun. Ia harap pria itu paham. Segera. Atau ia akan benar-benar melayangkan tinju untuk wajah terhormat itu. Ia lantas melanjutkan dengan suara yang jauh lebih samar terdengar.
"Kau tahu dia sangat menyukaimu."
Kekosongan yang lain. Sehun telah selesai dengan bagiannya. Dan sang direktur tidak tampak akan mengatakan apapun lagi.
Tapi setidaknya, Sehun tahu pria itu menimbang. Dengan pikiran seperti apa hingga wajahnya demikian kalut, Sehun tak begitu peduli. Setelah ini, semuanya menjadi urusan mereka.
Satu hembusan napas dan Sehun bangkit berdiri. "Aku selesai." Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaket bomber hijau lumutnya, dan mengambil ancang-ancang untuk pergi lebih dulu. "Aku akan bicara pada Direktur Wang," katanya dalam selewat, sebelum benar-benar pergi meninggalkan sang direktur di tempatnya.
"Ah," Sekali lagi Sehun berhenti sejenak. "Ini memalukan untukku, tapi sudah tidak ada gunanya lagi kusembunyikan darimu," katanya. "Ciuman itu, aku yang melakukannya. Dia sangat terkejut untuk itu."
Sehun menghela napas untuk ke sekian kali. Hari ini mungkin rekor baginya dalam hal mengehela napas dan mendengus. "Sial sekali. Sepertinya dia benar-benar menyukaimu," tawanya, dan kali ini sempurna benar-benar pergi.
Kepalan tangan telah lama terurai. Kerut dahi pula telah mengendur. Chanyeol bahkan tak sadar sejak kapan ia hanya menatap tak fokus pada permukaan meja, dan mulai memikirkan segalanya. Dalam diam.
.
oOo
.
Di mejanya, Chanyeol bekerja bersama campuraduk pikiran yang seharusnya tak sinkron dengan apa yang tengah dilakukannya. Tangannya bekerja. Mata tak hentinya meneliti barisan kata dari sekian dokumen. Sesungguhnya apapun itu memang ia lakukan hanya untuk membuat dirinya tetap sibuk. Yang ia pikir cukup ampuh untuk menghentikan hal-hal tak perlu yang berlalu lalang di dalam kepalanya.
Tetapi memang semua hal yang belakangan dibawa ke hadapannya satu per satu tak pernah benar berhenti mengganggu.
Malam itu, Chanyeol melihatnya. Di waktu dini hari. Tepat setelah pertemuannya dengan Oh Sehun, Chanyeol hanya berusaha mencari konfirmasi atas pemikiran gilanya dan mendatangi lantai lima gedung agensi miliknya. Tempat studio-studio tari berada.
Saat itu lantai lima seharusnya sudah mati tanpa kegiatan. Tetapi satu di antaranya hidup. Digunakan. Dan di sanalah ia melihat Baekhyun.
Itu dini hari yang mendekati pagi. Bahkan tak ada yang bekerja kecuali para petugas keamanan. Tidak pula dengan dirinya. Berhenti di depan pintu ruangan tersebut, Chanyeol hanya berdiri diam, menyaksikan tanpa melakukan apapun dari celah pintu yang sedikit membuka.
Ruang kedap suara dengan pintu yang tak sengaja terbuka itu membuat dentum musik bocor ke luar. Setengah samar. Di dalamnya, sosok itu bergerak sambil melantunkan suaranya. Persis seperti di atas panggung.
Sebuah latihan mandiri.
Frasa itu terlintas di kepalanya. Semakin membuat tertegun. Ia teringat pada hari di mana ia mendengar frasa itu dari orang yang sama.
Namun yang Chanyeol lakukan berikutnya hanya berbalik, memutar langkah, menyambangi ruangannya sendiri tanpa sempurna tahu apa yang akan ia lakukan, atau apa yang sesungguhnya sedang bergejolak di dalam hatinya. Ia kewalahan. Perasaan-perasaan itu begitu mengganggu.
Sejak saat itu Chanyeol benar tak melakukan apapun selain berkutat pada pekerjaannya. Pada yang seharusnya menjadi orientasi utamanya alih-alih perasaan aneh yang tak ada henti menjalari hatinya.
Ketuk pintu tidak menunggu sang pemilik menyahut. Junmyeon lebih dulu masuk dengan segera untuk membawakan laporan ke sekian di hari itu langsung kepada sang direktur. Keduanya bertukar dialog. Cepat. Cekatan. Dua hari belakangan, Junmyeon menyamakan kecepatan kerjanya dengan sang direktur yang tak biasa.
"Kau bisa pulang setelah ini. Tinggalkan saja sisanya," pinta Chanyeol, tanpa sedikit pun menjeda kegiatannya menyibuk di atas meja kerjanya.
"Sajangnim, Anda perlu istirahat."
"Tidak perlu memikirkan itu. Beberapa hal tidak akan menunggu," sahut Chanyeol langsung. Lempeng sekali.
Tentu saja semua pekerjaan itu bisa menunggu. Pengerjaannya mendului daftar waktu. Junmyeon seperti menemukan sosok atasan baru yang bahkan tak tampak segi emosionalnya untuk dapat ia terka suasana hatinya. Chanyeol bekerja seperti mesin. Datang lebih pagi dan bahkan sempat lembur malam sebelumnya. Saat telah banyak target pekerjaan yang berhasil selesai jauh sebelum tenggat waktu.
"Kau bisa pergi."
Sempat sejenak terdiam di tempatnya, barulah Junmyeon membungkuk dan berbalik pergi. Menutup pintu tanpa benar menimbulkan suara.
Ia tak lantas mematuhi sang direktur. Berhenti sejenak di depan pintu terpikir akan sesuatu yang mungkin belum pernah ia lakukan.
Junmyeon menghela napas. Sesekali sisi manusiawinya muncul mengusik. Dan ia kewalahan menyingkirkan hal tersebut saat berbagai hal terjadi di depan matanya. Pada sang direktur. Sosok yang sejak bulan-bulan belakangan, secara menakjubkan menampilkan dinamika yang tak pernah Junmyeon saksikan seumur ia bekerja padanya.
Memutuskan tetap berada di kantor, Junmyeon beranjak menemui seseorang di lantai yang lain.
.
.
Baekhyun tak berniat mengacuhkan hal itu. Ia bahkan berpikir untuk berpura tak terpengaruh karena ketakutannya untuk lagi-lagi melewati batas, memiliki pemikirannya sendiri sampai menyalahartikan banyak hal. Namun pikirannya tak henti-hentinya memutar percakapan dengan Sekretaris Jun sore tadi.
Sekretaris Jun menemuinya. Menanyakan kabarnya, mengajaknya berbincang cukup lama.
Dan memberitahunya keadaan Chanyeol.
Yang tak dapat Baekhyun ketahui meski sekadar menerka maksud sang sekretaris melakukannya. Ia pun tak banyak merespon kala itu.
Tapi apapun itu, rupanya, saat telah kembali ke kamar asramanya dan merapikan barang-barang untuk kepindahannya mengingat day-off -nyaakan dimulai besok, menghabiskan beberapa jam sendiri di kamarnya, fokus pada kegiatannya, Baekhyun menemukan dirinya memberanikan diri menghubungi Junmyeon. Menanyakan sesuatu, dan berakhir di depan pintu dari sebuah apartemen mewah. Lantai eksklusif. Sebuah tempat yang sempat ia sambangi di satu waktu bersama sang pemiliknya.
Nyatanya, Baekhyun menyerah berpura-pura. Walaupun Sekretaris Jun tak mengatakan apapun tentang apakah ia diperbolehkan menemui Chanyeol atau tidak, dan Baekhyun pula memang tak menanyakannya, Baekhyun berdiri di tempat ini sekarang.
Lama ia menunggu tanpa berbuat apapun. Tangannya bahkan belum terangkat untuk membunyikan bel atau mengetuk pintu. Sementara itu bagian dalam dari dirinya sibuk. Memberitahunya agar tahu diri dan memutar arah, dan detik berikutnya memaksakan keberanian muncul ke permukaan untuk wujudkan keinginan yang sejati.
Kau ingin melihatnya.
Baekhyun menggigit bibir. Bahkan untuk meyakinkan dirinya sendiri mana yang benar-benar ingin ia lakukan, ia memerlukan begitu banyak waktu.
Namun, pada akhirnya jemarinya terangkat. Membunyikan bel. Memutuskan maju alih-alih mengubah haluan.
Baekhyun meyakinkan diri. Serupa apapun hardikan yang akan ia terima nanti, ia akan menghadapinya. Ia hanya akan memastikan sang direktur baik-baik saja, mematahkan perkataan Sekretaris Jun yang sempat diberitahukan padanya. Lantas, ia akan pergi.
Cukup lama sebelum bunyi gerendel yang dibuka terdengar. Daun pintu berangsur terbuka. Ayunnya aneh karena tak konstan. Terbuka dan nyaris tertutup kembali, kemudian bergerak terayun membuka lagi.
Sosok yang ditunggunya muncul dari balik daun pintu. Seketika, banyak hal membombardir dan membuat Baekhyun tercekat. Tentang aroma dan dominasi yang langsung menyeruak ke jarak sentuhnya—sesuatu yang terasa begitu lama tak ia temui, tentang perasaannya sendiri yang terasa meluap-luap, dan juga tentang bagaimana Chanyeol tampak begitu kacau.
"..hyun?"
Dari jarak yang harusnya tak seberapa dekat, Baekhyun dapat mencium bau alkohol yang amat kuat.
"Chanyeol..," bisiknya.
Baekhyun ragu melangkah maju.
Helai-helai rambut pirang yang biasa tertata rapi itu dibiarkan jatuh menutupi dahi. Tidak, bahkan tanpa fakta itu pun, raut wajah sang direktur jelas tidak seperti biasanya. Dia mabuk berat. Dan kacau.
Sekretaris Jun tak mengatakan apapun soal ini. Ia pikir ia hanya akan bertemu dengan Chanyeol yang menatapnya tajam seperti biasa. Bukan wajah lelah yang seolah belum mendapatkan istirahatnya, di bawah kabut perngaruh alkohol yang mungkin jauh di atas toleransi umum.
Chanyeol tertunduk, sempat terdengar tawa kecil yang amat samar sebelum matanya yang tak awas kembali bertemu dengan milik seseorang yang muncul di balik pintu apartemennya.
"Apa aku semabuk itu?" gumamnya bersama seringai remeh, entah ditujukan kepada siapa. Ia berusaha menajamkan penglihatan. Berusaha memastikan. Tetapi segalanya memang hanya tampak berbayang samar dan saling berputar.
Kesamaran itu membuatnya frustrasi.
Maka ia menarik sosok yang tampak buram dalam penglihatannya itu. Mencengkramnya erat, menarik begitu kencang hingga tubuh mungil yang ia lihat dalam wujud sang penyanyi benar-benar terseret masuk. Pintu terbanting tertutup. Terlalu cepat. Baekhyun sendiri, nyaris tidak menyadari kala ia sudah berada di sisi pintu sebaliknya dari saat sebelumnya, di ruangan temaram, terpojok pada daun pintu yang telah tertutup oleh tubuh tinggi sang direktur. Bahkan perlu waktu bagi matanya menyesuaikan pada gelapnya ruangan.
Tajam aroma alkohol tercium semakin jelas. Deru napas milik yang lain yang berembus di dahinya tak stabil.
"Kenapa kau justru muncul di sini?"
Suara berat itu, yang diucapkan begitu pelan dalam jarak kurang dari setengah jengkal dari wajahnya, seketika membuat Baekhyun bergidik. Matanya baru saja berhasil menghimpun cahaya untuk mampu melihat, dan sorot mata tak biasa dari Chanyeol lah yang ia dapati.
Dekat sekali. Semua terasa seperti mimpi bagi Baekhyun sendiri saking telah begitu lama ia tak berada demikian dekat dengan pria ini.
Namun, Chanyeol memang nyaris sempurna berbeda.
Baekhyun bahkan kehilangan kata untuk mendeskripsikannya.
Hanya sorot berkabut akibat alkohol yang dapat Baekhyun tangkap dari kedua mata itu. Menatap langsung kepadanya.
Dan Baekhyun tidak dapat mengerti, sungguh, saat dalam sepersekian detik wajah itu menelusup ke ceruk lehernya, dan seketika sensasi basah terasa di sana hingga Baekhyun tercekat kaget nyaris kehilangan napasnya.
"C-chanyeol..,"
Baekhyun mulai mengepalkan tangan. Semakin kencang, lantas berupaya mendorong tubuh tinggi di hadapannya dengan kepalan itu.
Tapi hanya basah lain di tempat lain pula yang diterimanya. Kanan, kiri, kembali lagi. Baekhyun merasakan jantungnya mulai berpacu. Panik.
"C-chanyeol!" Baekhyun terengah dalam usahanya menghindari setiap upaya yang dilakukan Chanyeol. Ia dibuat menengadah. Menoleh tak tentu. Ia tak tahu kapan kedua kakinya di bawah sana telah tertahan oleh yang lebih tinggi. Maka pergerakan dari sana pun hanya sia-sia.
Baekhyun mulai membuat pukulan. Ia tidak menyukai ini. Ia tidak berpikir ini adalah Chanyeol. Ia tidak suka.
"Chan-yeol—hhh, b-berhenti—"
Lehernya terasa diisap kuat. Sekali di satu tempat, dua kali di tempat yang lain. Menyengat terasa di bagian-bagian itu.
Baekhyun berusaha mendorong semakin kuat. Terus dan terus, namun pria ini benar jauh lebih kuat daripadanya sekalipun berada di bawah pengaruh alkohol. Ia hampir kehilangan tenaga karena kakinya melemas oleh rasa takut.
Tapi, suara isak kecil menghentikan usaha keras Baekhyun mendorong tubuh besar Chanyeol. Sensasi basah itu telah berhenti. Chanyeol berhenti menjilati dan mengisap lehernya. Pria itu berganti menenggelamkan kepala di perpotongan leher Baekhyun, menjatuhkan keningnya di sana.
"Kenapa.. terasa begitu nyata?"
Lagi, suara berat namun teramat pelan itu memenuhi atensi Baekhyun. Mengalihkan begitu saja atas apa yang baru saja terjadi. Sebab berkebalikan dari bagaimana ia diperlakukan barusan, suara itu terdengar lemah.
"Bahkan ilusi ini pun mengejekku," Satu cegukan, "memunculkan kehadiranmu karena aku terlalu merindukanmu."
Baekhyun kehilangan kata. Membeku setiap gerak.
Isak berikutnya. Samar sekali. Tapi lagi-lagi jarak yang tak hadir membuat semuanya secara langsung tertangkap inderanya.
Baekhyun, tanpa sadar, memindahkan telapak tangannya menuju bahu sang direktur.
"Aku merindukanmu. Sangat." Pria itu membisik.
Tercekat. Memang persis seperti mimpi, tetapi suara bisik itu tepat Baekhyun dengar dari pria di depannya, tepat di samping telinganya. Bersama isak pilu yang sungguh tak pernah Baekhyun bayangkan akan terdengar dari sosok tersebut.
Lama keduanya menetap pada posisi yang sama. Membiarkan deru napas bersahutan di ruang temaram yang hening. Baekhyun pula, masih sesekali mendengar isak samar yang diselingi cegukan. Kini dibarengi getar samar pada kedua bahu yang berada di bawah sentuh lemah telapak tangannya. Sampai Baekhyun memberanikan diri meraih dan menangkup rahang Chanyeol, menariknya lembut demi mempertemukan mata mereka.
Di tengah cahaya minim yang nyaris nihil, Baekhyun bisa menangkap sendu dari sepasang mata itu. Kesan yang mengingatkannya pada hari di mana sang direktur begitu kesakitan di pangkuannya, dulu. Kesan yang membuatnya ingin mengirim sayang untuk meluruhkan rasa sakit itu.
Sepasang mata yang biasa menyorot tajam dan penuh wibawa, kini hanya memandang sayu padanya, dengan bulir-bulir air mata di sudut-sudutnya, serta beberapa yang telah turun membasahi pipi.
Baekhyun kebingungan dengan apa yang tengah dirasakannya sekarang. Juga apa yang dilihatnya. Semua ini, memunculkan berbagai rasa meluap-luap dalam dirinya. Ia tidak ingin Chanyeol seperti ini. Ia tidak ingin mereka terjebak pada situasi tak tergambarkan ini. Tapi..
Aku merindukanmu. Sangat.
Orang bilang, perkataan orang mabuk adalah kejujuran yang sesungguhnya. Katakanlah ia naif, tapi untuk saat ini, ia begitu ingin percaya pada hal itu. Ia begitu ingin.
Jemari Baekhyun bergerak, mengusap lembut rahang itu dan menghapus jejak-jejak air mata dengan ibu jarinya. Usap lembut itu berlanjut, entah dilakukan sebagai wujud betapa sang pemuda mungil mengagumi pahatan itu, sama seperti saat-saat sebelumnya yang tak pernah berubah, atau untuk perasaan yang menyayangkan, yang tidak menginginkan wajah itu dinodai jejak air mata lagi.
Tidak ada kata terucap. Baekhyun mendongak menyelami kedua obsidian milik pria di depannya, dan begitu pula sebaliknya. Berusaha bertukar rasa meski tidak seorangpun mengungkap kata. Baekhyun tak tahu ilusi ataukah bukan, namun semua air mata itu seperti melunturkan kabut yang sempat ia lihat pada mata bulat yang begitu dikaguminya. Membuat keduanya semakin jelas dapat melihat satu sama lain.
Kali ini ketika Chanyeol mendekat, amat perlahan, Baekhyun tidak menolak. Ia justru memejam mata, menyambut apapun yang Chanyeol lakukan. Ia bahkan membalas lembut, ketika bilah-bilah bibir mereka bertemu.
Baekhyun tahu Chanyeol mabuk. Baekhyun tahu mungkin tidak akan ada yang tersisa dari semua ini karenanya. Tetapi ia hanya tak punya andil bagi tubuh dan hatinya yang berusaha abai tentang hal itu, dan memilih menjadi egois dengan bertinggi hati.
Namun, keduanya benar tidak berada di tengah kebohongan lagi. Biarlah apa yang tengah terjadi menjadikan mata hati mereka terbuka, dan untuk pertama kalinya, melepas semua dorongan tak bernama yang selama ini sama-sama tertahan.
Malam itu, setelah sebuah ciuman panjang serta Chanyeol yang nyaris tak sadarkan diri di pelukan Baekhyun, mereka berakhir di atas ranjang Chanyeol. Dengan Chanyeol yang menenggelamkan diri memeluk erat perut Baekhyun dan benar segera jatuh tertidur setelahnya, juga Baekhyun yang membiarkan segalanya terjadi, dan memeluk lembut wajah sang direktur di dadanya.
.
oOo
.
Rome wasn't bulit in a day [say.] Said to emphasize that you cannot expect to do important things in a short period of time
.
.
So dramatic yet poetic. Pls forgive me. But I love them here, huhu.
Once again, we're very close to the ending. Thank you very much for reading this cliche-dramatic fic. I dont really have the ability to create something incredible or what but yea, this is me. Just thank you—neverending thanks—for reading my works. Special mention for ttalgibaek | ByunBaeChiecy | ChanBaek09 | Fatihah Kim | Nitha Gaemgyu | lightdelight | jinahyoo | chanbaekboo614
Smpai jumpa lgii
