Blinded
.
.
Recommended Song:
(Still) KAI - Amnesia
.
.
oOo
.
Pagi membuat kamar yang semula gelap saat malam berubah lebih terang oleh bias cahaya yang menembus tirai juga celahnya. Berat dan perlahan, Baekhyun mulai membuka mata. Kebanyakan saraf tubuhnya belum mampu menerjemahkan keadaan. Ia sedikit terbingung mendapati permukaan ranjang putih yang jauh lebih luas dari yang biasa ia lihat setiap kali terbangun di kamarnya, juga latar kamar yang berbeda.
Namun begitu kesadarannya sempurna kembali, Baekhyun baru merasakan sesuatu yang melingkari perutnya. Juga tubuh seorang yang lain, yang tepat berada di dalam rengkuhannya.
Kilas kejadian malam tadi kembali terputar. Tubuhnya juga Chanyeol yang saat ini masih terlelap bahkan masih berada pada posisi yang sama. Hanya pelukan mereka yang berubah mengendur tak seerat semalam.
Baekhyun merunduk. Melihat bagaimana Chanyeol masih berada teramat dekat dengannya dengan wajah yang menghadap dadanya. Mengembuskan napas teratur, tampak tertidur begitu lelapnya.
Setelah sempat susah payah membawa tubuh tinggi sang direktur yang nyaris tak sadarkan diri menuju kamarnya semalam, Baekhyun menemukan dirinya tak memiliki ruang untuk pergi karena tubuhnya turut ditarik untuk berbaring di atas ranjang. Dipeluk erat, dengan posisi yang lebih tinggi dari sang direktur. Chanyeol sempat meracau pelan malam itu, sebelum sepenuhnya jatuh terlelap. Baekhyun, setelah apa yang terjadi pula, memilih berdiam diri dan membalas pelukan itu. Mengabaikan apa yang mungkin terjadi begitu ia terbangun nantinya. Saat itu ia pikir, biarlah itu menjadi perkara esok hari.
Ia terlalumerindukan sosok ini.
Baekhyun mulai menggerakkan tangannya menyusuri helai rambut pirang milik pria dalam rengkuhannya. Bergerak lembut, menyingkirkan yang terlalu banyak menutupi dahinya agar dapat sebisa mungkin ia lihat wajah itu dari posisi mereka yang tak sejajar.
Perlahan, Baekhyun merasakan kelopak matanya kembali memberat. Jemarinya yang memainkan helai rambut Chanyeol beralih terkulai, seiring dirinya yang kembali terlelap dalam tidur.
.
.
Untuk kedua kalinya hari itu, Baekhyun terbangun dengan perasaan asing. Namun ia lebih cepat menguasai diri dan segera tahu di mana dirinya kini berada.
Baekhyun melenguh. Meregangkan tubuh mengendurkan sendi-sendi yang terasa agak pegal. Pikirannya belum mampu memberi jawaban tentang dari mana kaku persendiannya berasal. Dan saat itulah, ia menyadari bahwa dirinya sendirian di atas ranjang king size yang bukan miliknya tersebut. Tidak lagi berada di posisi dan bersama orang yang sama dengan yang terakhir kali diingatnya.
Ia bangkit perlahan, mengedarkan pandangan dengan mata yang sesungguhnya masih terasa cukup berat ke sekitar. Kamar itu kosong. Dengan pintu yang terbuka setengahnya. Bias cahaya dari jendela sudah semakin terang, menandakan pagi yang tidak lagi muda.
Terduduk di pinggiran kasur berlapis kain halus serba putih itu, Baekhyun mengais kesadaran agar terkumpul sepenuhnya. Ia masih berada di kamar Chanyeol. Pakaiannya masih sama pula dengan yang ia gunakan semalam saat datang ke sini.
Tetapi Chanyeol tidak terlihat di manapun di kamar itu.
Dengan ragu Baekhyun beranjak turun. Di benaknya seketika terlintas banyak hal. Begitu saja. Tentang apakah Chanyeol marah saat menemukannya ada di sini ketika terbangun lantas meninggalkannya, juga apa yang harus ia lakukan bila benar seperti itu yang terjadi.
Namun saat berhenti di ambang pintu, Baekhyun menemukan pria itu. Duduk di sofa membelakanginya, tampak sudah mengenakan kemejanya meski dengan rambut yang belum tertata. Pria itu menopang kepalanya dengan tangan yang bertumpu pada lengan sofa.
"Kau bisa gunakan kamar mandi bila memerlukannya."
Baekhyun terlonjak. Nyaris saja melompat kaget mendengar kalimat itu dilontarkan Chanyeol tanpa sama sekali menoleh ke arahnya. Suara itu juga tak keras memanggil, tapi hening dalam unit mewah ini memang menghantarkannya begitu mudah menuju pendengaran.
"Chanyeol..,"
"Pakaian di depan ruang ganti juga bisa kau gunakan."
Baekhyun melipat bibir. Ia tidak tahu harus bagaimana. Ia juga ragu untuk mendekati sang direktur. Terlebih dengan sikap seperti itu, ia tidak tahu apa yang tengah Chanyeol pikirkan tentangnya, atau mungkin tentang mengapa mereka berada di ranjang yang sama saat terbangun.
Jadi Baekhyun memilih kembali dan beranjak menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar itu. Ia perlu setidaknya membersihkan diri dan berbenah. Lagipula, ia sungguh tak tahu bagaimana harus memulai hari ini.
Baekhyun melirik pintu lain yang ada di kamar itu. Mungkin itu ruang ganti yang Chanyeol maksud—sebuah walk in closet—sebab satu setel pakaian tergantung di dekatnya. Ia mendekatinya, meragu, lantas hanya menarik atasannya saja. Sebuah kemeja biru langit bermotif garis dengan ukuran yang terlalu besar untuknya.
Memejam sejenak, Baekhyun mengenyampingkan sejenak pikirannya yang melanglang buana. Ia harus membenahi diri dengan cepat. Ia bukan tamu yang bisa berlaku sesuka hati di sini.
Sementara itu, Chanyeol belum juga beranjak dari tempatnya. Entah sudah berapa lama ia duduk di sana.
Ia kembali memijat pelipisnya. Pusing di kepala masih terasa begitu memberatkan bahkan setelah ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin saat membersihkan diri tadi. Meski begitu, dengan pening yang masih bersarang, potongan-potongan ingatan akan apa yang terjadi semalam mulai kembali satu per satu. Menjawab pertanyaannya tentang mengapa ia mendapati keberadaan Baekhyun di ranjangnya saat terbangun dalam posisi memeluk tubuh mungil itu, juga mengapa ia bahkan menemukan secara tak disengaja sekian bercak samar di lehernya. Yang sial sekali ia ingat adalah perbuatannya sendiri.
Chanyeol hanya samar teringat pada waktu ia menarik Baekhyun masuk ke dalam apartemennya dan mencumbui leher penyanyi itu. Mengira sosoknya hanya ilusi semata. Selebihnya, ia lupa. Tidak ingat apa-apa yang mungkin terucap dari mulutnya. Ia tak tahu sudah sejauh atau seburuk apa ia memperlakukan Baekhyun saat bahkan tak lebih dari separuh kesadaran ia miliki.
Ia kemudian bangkit. Menghampiri pantry untuk menyeduh secangkir teh jahe yang ia harap lebih bekerja dalam meredakan hangover daripada bergelas-gelas air yang ia minum sebangunnya dari tidur.
Terlalu banyak alkohol yang ia tenggak semalam. Baru terasa dampaknya tepat setelah matanya membuka beberapa waktu lalu. Pening akibat pekerjaan tidak pernah tuntas, dan beberapa hal tak mau pergi dari pikirannya, mengusik hingga kepala terasa akan pecah. Maka sekembalinya ke apartemen, ia hanya merasa begitu ingin untuk melepas dunia barang sejenak bersama sekian gelas alkohol itu.
Cukup lama sampai cangkir minuman hangat yang ia butuhkan siap. Pikiran terlalu kacau untuk sekadar bergerak cekatan. Atau memang pengaruh alkohol itu sendiri masih terlalu pekat. Chanyeol pula sudah lebih dulu menghubungi Junmyeon agar menangani kantor untuk sementara waktu karena ia tahu tidak akan ada gunanya bila ia berangkat sebelum benar-benar pulih.
Juga karena bimbangnya akan meninggalkan Baekhyun atau tidak saat anak itu masih tertidur di apartemennya.
Saat berbalik hendak menikmati tehnya dengan kembali duduk di sofa, Chanyeol terpaksa menumpahkan sebagian isi cangkirnya, terperanjat akan keberadaan orang lain di belakangnya. Teh yang cukup panas itu mengenai kemeja putihnya, sekaligus terpercik pada kemeja biru langit yang dikenakan lelaki yang baru saja muncul secara tiba-tiba itu.
"M-maaf! Chanyeol, maaf—"
Chanyeol menahan tangan Baekhyun yang hendak menyentuh bagian kemejanya yang basah. Tidak kasar, melainkan sebaliknya meski Chanyeol pun tak tahu mengapa tangannya menyentuh jemari itu dengan begitu lembut saat ia tak meniatkannya.
"Maaf," kata Baekhyun lagi, berganti berupaya menarik tangannya menjauh. Tapi itu tertahan oleh genggaman sang direktur.
Chanyeol terdiam. Ia tanpa sadar lupa melepaskan tangannya. Matanya hanya tertuju pada kemeja biru langit miliknya yang tahunya benar Baekhyun kenakan. Membalut tubuh kecil sang penyanyi, tampak begitu longgar meski Chanyeol yakin itu adalah kemeja dengan ukuran paling kecil yang ia punya. Jemari Baekhyun dalam genggamannya juga turut tenggelam oleh cuff kemeja. Hanya menampakkan sedikit dari telapak Baekhyun yang kini mengepal erat.
Mengerjap, Chanyeol buru-buru melepaskan genggamannya pada pergelangan Baekhyun. Ia beralih cepat, melewati Baekhyun untuk menempatkan cangkirnya ke atas meja.
"Maaf sudah mengejutkanmu," Baekhyun membungkuk sekilas. Salahnya karena gegabah memberanikan diri menghampiri Chanyeol dan berakhir mengambil tempat terlalu dekat dengan sang direktur yang tengah sibuk berkutat di meja pantry.
Chanyeol tak menghiraukan. Setelah sebuah dengusan ia tinggalkan cangkir begitu saja di atas meja dan ia beralih masuk ke kamar, kembali tak lama kemudian dengan kemeja lain berwarna hitam melekat di tubuhnya. Saat kembali, ia menemukan cangkir lamanya telah disingkirkan. Dan melihat Baekhyun hampir selesai membuatkan yang baru.
"Maafkan aku. Ini." Baekhyun mendorong cangkir berisi teh jahe buatannya—untungnya, ia mengenali aroma cairan minuman dalam cangkir itu dan memutuskan menangani kesalahannya. Bahan yang masih tertinggal di sana memudahkannya membuat satu yang baru
Memutuskan mengabaikan dorongan kuat untuk menegur Baekhyun dengan kernyit cukup dalam di dahi—sebab ia seharusnya sama sekali tak perlu melakukan itu—Chanyeol mengambil tempat di kursi pantry. Duduk di sisi tempat cangkir berisikan teh dengan kepul samar uap panas itu diletakkan.
"Duduk."
Baekhyun sempat mengerjap akibat perintah mendadak itu, tetapi ia segera tersadar dan berjalan memutar, menuju sisi satunya dari meja dan duduk di kursi yang tersisa.
Selama beberapa waktu yang cukup lama, keduanya tak memulai percakapan. Baekhyun menghadap tepat kepada meja, tak berani menyamping dan menghadap langsung pada Chanyeol.
"Kenapa kau datang ke sini semalam?"
Memainkan jemarinya yang menyatu di atas meja, Baekhyun menggigit bibir—sebuah kebiasaan yang sering kali tidak ia sadari. Pertanyaan itu sudah seperti interogasi baginya. Interogasi yang dipikirnya sulit untuk dapat ia jawab. Alasan mengapa ia datang ke sini, apakah bisa ia katakan?
"Hanya..," Baekhyun menghentikan kalimatnya. Jantungnya perlahan mulai berdegup semakin cepat. Mendadak gugup, takut, karena terlintas tiba-tiba dalam benaknya untuk sekalian saja mengungkapkan segalanya. Tak hanya alasan mengapa ia datang, namun juga seluruh perasaannya untuk pria ini. Karena memang itulah dorongan terbesarnya sebelum memutuskan memberanikan diri datang ke apartemen ini.
Pemikiran yang begitu gila.
Baekhyun berakhir diam. Kepalanya menggeleng cepat. Keberaniannya belum cukup terkumpul. Ia belum bisa mengatakannya karena seluruh rasa takut yang memang tak pernah sepenuhnya hilang dari dalam dirinya.
"Lupakan. Kuantar kau kembali ke asrama."
Atau mungkin tidak. Ada atau tidaknya rasa takut itu, Baekhyun mungkin akan menggunakan kesempatan ini untuk mengatakannya. Bahkan jika ini menjadi kali terakhir baginya.
Saat Chanyeol bangkit dari kursi dan hendak meninggalkannya, Baekhyun turut berdiri dengan cepat. Menahan lengan Chanyeol dengan kedua tangan.
"C-chanyeol, tunggu."
Pemikiran untuk melakukan itu melintas begitu saja dalam kepalanya dalam sepersekian detik. Tekadnya tiba-tiba menghujung dan tubuhnya merefleks cepat mencegat sang direktur.
Chanyeol menghenti langkah. Mengabulkan untuk menunggu. Menatap sang penyanyi yang menahannya, kini tampak menunduk dalam dengan genggaman yang semakin erat di lengannya. Ujung-ujung rambut yang masih sedikit basah menutupi kedua mata sang penyanyi, tak tampak bagi Chanyeol yang jauh lebih tinggi darinya.
"Aku.. kesini..," Baekhyun menelan ludah, menghimpun seluruh keberanian yang bisa ia kumpulkan, berujar dengan teramat pelan, "karena ingin bertemu denganmu." tuntasnya. Sama sekali ia tak menatap sang direktur. Tangannya yang tak ia sadari masih bertengger di lengan Chanyeol belum pula ia tarik.
Chanyeol tak lantas merespon. Ia merasakan sesuatu yang cukup signifikan untuk membuat napasnya tak lagi berembus seperti biasa. Dahi berkerut. Perlahan, jemari mulai menyatu membentuk kepal. Terusik. Bagaimana Baekhyun mengatakan hal tersebut dengan begitu gugup dan takutnya, membuat dirinya begitu tak habis pikir.
Chanyeol membuang napas. "Kau.. masih bisa mengatakan itu?" tanyanya, nyaris tak terdengar juga tanpa emosi bagi pemuda satunya.
"Y-ya?" Takut-takut, Baekhyun mendongak. Dan ia tak bisa menahan dirinya untuk menggigit bibir kuat-kuat begitu melihat Chanyeol merunduk, menatap langsung kepadanya. Ia tidak dapat mengartikan tatapan itu. Marah, atau sesuatu yang lain, semuanya tidak tampak seperti salah satunya.
"Kau masih bisa mengatakan hal seperti itu?" —setelah semua yang telah kulakukan padamu?
Chanyeol, mengulangi pertanyaannya dengan tak mampu menuntaskan. Hingga sayangnya, kalimatnya ditangkap berbeda oleh sang penyanyi.
Seakan tersadar, Baekhyun kembali menunduk. Menarik kedua tangannya cepat-cepat. Berganti menyimpannya di kedua sisi tubuh. Agaknya hatinya mencelos karena pertanyaan itu. Entah untuk ke berapa kalinya, ia seperti diberitahu tentang betapa tak pantasnya dia dengan semua perasaan ini.
Bahkan untuk menemui Chanyeol pun, seharusnya Baekhyun tak sedemikian beraninya.
"Maaf," Baekhyun menelan paksa sesuatu yang terasa mengganjal tenggorokan, yang membuat permintaan maafnya nyaris tercekat. Ia mulai kehilangan kuasa atas suaranya karena kalimat berikutnya yang ia lontarkan sudahlah serupa bisikan. "tapi.. aku benar-benar ingin bertemu dengan Chanyeol."
Baekhyun merasakan pandangannya memburam oleh genangan yang mulai tercipta di pelupuk mata. Mengapa dirinya sangat sensitif? Ia tidak ingin menangis. Ia telah melalui banyak hal, seluruh makian dari para pelatih di masa training-nya, gunjingan orang tentang kemudahan debutnya, semua tuntut kesempurnaan penampilannya di atas panggung, atau sekian banyak hal lain yang dapat ia lalui tanpa harus menyerah pada air mata. Dia bahkan mampu menghadapi orang-orang di jagat hiburan ini dengan semua sikap dan tutur seorang bintang yang telah dibekalkan kepadanya sejak masa pelatihan. Ia tidak akan menjadi demikian lemah.
Tapi, ia pun tak mengerti mengapa Chanyeol selalu menjadi sebuah pengecualian.
"Maafkan aku," Lagi, Baekhyun melanjutkan. Suaranya kian tak stabil akibat emosi menggulung yang tak ia kenali, yang karena percakapan ini mendadak terbentuk begitu pekatnya. "Aku mungkin terlalu senang berada bersama Chanyeol," ucapnya lirih.
Meski memang benar tak ada air mata yang Baekhyun biarkan lolos, itu terang mempengaruhi suaranya. Bergetar. Pelan pula karena segan. Ia hanya ingin menjadi jujur. Kali ini tidak hanya kepada dirinya sendiri, namun juga kepada sosok yang merupakan alasan di balik semua gejolak perasaaannya selama ini.
"Aku merasakan banyak hal yang tidak seharusnya," katanya lagi. "Bahwa aku selalu ingin mencarimu. Aku selalu ingin pulang kepadamu. Bahkan meski seharusnya aku bukan siapa-siapa untukmu. Aku..," Kalimat tercekat. Baekhyun kembali memaksa menelan apapun itu yang terasa menyumbat tenggorokannya. Tidak peduli lagi, ia ingin mengatakannya. "Aku menyukai Chanyeol. Tidak tahu sejak kapan," lanjutnya, dengan sebisa mungin memerangi kecemasan dan rasa malu yang seakan menggerogoti.
"Aku hanya merasa begitu lancang.. Menyukaimu, menyalahartikan kebaikanmu, saat aku hanyalah seseorang yang harusnya bekerja untukmu..," Baekhyun menunduk dalam. Di setiap katanya, seluruh emosi tumpah dan ia tidak lagi mampu menahan bulir yang akhirnya mengalir jatuh. Kedua tangan mengepal. Menyesali ketidakmampuannya untuk menahan itu semua hingga untuk ke sekian kalinya, ia harus menjadi seorang yang begitu lemah hanya untuk masalah hati. Ia hanya, bagaimanapun, merasa begitu meledak-ledak untuk pria di hadapannya tanpa tahu betul cara mengungkapkan. "Aku malu, telah berani menyukaimu, Chanyeol. Tapi aku tidak tahu..,"
Mendengar itu, Chanyeol mengepal tangan semakin erat. Rahangnya mulai mengeras hingga urat-uratnya mulai menonjol samar di sekujur leher karena—demi apapun—ia sungguh tidak habis pikir pada pola pikir pria mungil di hadapannya. Kalimat itu seperti membuatnya marah. Tidak, ia benar dibuat marah.
Jika Baekhyun merasa lancang, malu, atau segala kosakata insekuritas hanya karena menyukai pria sepertinya, maka Chanyeol adalah pria brengsek yang telah menjadi awal bagi segalanya. Membawa pria mungil itu menuju apapun yang menjadi hasrat pribadinya. Menjadikan urusan perusahaan sebagai tameng alasan, sedang pada kenyataannya ia hanya jatuh untuk penyanyi itu. Ia yang jatuh lebih dulu.
Chanyeol menarik tangan Baekhyun. Secara tak sadar mencengkeram pergelangannya hingga pemuda itu meringis. Mata elangnya berkilat marah pada lelaki yang kini mendongak kaget dengan kedua mata yang basah.
"Kau malu, huh? Kau merasa lancang?" tanyanya. Ia tatap dua mata sipit itu. Dua mata cantik yang, sejak pertemuan pertama, telah mencuri perhatiannya.
Genggaman semakin erat. Sang penyanyi mulai merintih.
"Lalu menurutmu bagaimana denganku?" Chanyeol menatap tajam, pada pemuda itu, pada wajah cantik yang bahkan tanpa poles rias apapun, tampak begitu menarik melebihi paras siapapun di dunia ini. "Aku membawamu padaku. Membuatmu bekerja untukku, mengatur segalanya di bawah kendaliku seolah kau hanya hadir untuk memenuhi semua itu."
Merasakan tangannya semakin sakit, Baekhyun kian merintih. Lebih dari pada cengkeraman pada pergelangannya, tatapan Chanyeol lebih kuat dalam mempengaruhinya. Menahannya tetap di tempat, tetap terdongak dan terpancang pada sepasang mata itu.
Bibir Chanyeol mengatup. Giginya menggemeretak sebagai wujud dari berangnya terhadap keadaan saat ini.
Setelah semua yang terjadi, setelah semua yang Baekhyun ungkapkan padanya, dirinya masih membuat pemuda ini menangis.
Itu membuat Chanyeol semakin marah pada dirinya sendiri.
Beberapa detik habis bagi Chanyeol tanpa ada kata lagi yang ia lontarkan. Perlahan, napasnya telah berubah lebih teratur setelah sempat memburu berkat waktu.
Juga berkat wajah yang masih mengerut takut di hadapannya, dengan mata dan dua bongkah bibi gembil yang dibasahi air mata.
Anehnya, seperti apapun ia redup dan terpuruk di belakang panggung, dia berubah begitu bercahaya begitu lampu panggung menyorot padanya.
Benar. Chanyeol telah banyak menyaksikan bagaimana Baekhyun menjadi seorang yang begitu berbeda di luar perannya sebagai seorang idola. Melihat banyak celah, sisi yang rapuh, yang mungkin dapat hancur sewaktu-waktu.
Dan setelah melihat semua itu, Chanyeol pula telah banyak memperlakukan Baekhyun tanpa memikirkan perasaan penyanyi itu. Seperti buta, ia justru menambahkan banyak luka kepadanya.
Cengkeram mengendur. Bersamaan dengan tatap yang berangsur melunak. Meski sedikit sakit membekas dari yang sebelumnya, Baekhyun dapat merasakan itu berubah serupa genggam lembut.
"Kau seharusnya mempertanyakan semua sikapku padamu," kata Chanyeol, seperti gumam rendah dengan suara rendahnya.
Ibu jari milik pria yang lebih tinggi mulai membelai lembut pergelangan tangan yang ia genggam. Secara tersirat membuktikan bahwa, seingin apapun pria itu marah, entah pada keadaan dan juga dirinya sendiri, ia tetap tak akan bisa membohongi siapapun bahwa sosok penyanyi di depan matanya adalah kelemahannya.
"Aku bahkan menciummu, mencumbuimu, tanpa membuat jelas apapun,"
Baekhyun masih bungkam. Tatapnya terguncang sejak tadi, namun ia masih berada pada posisinya, mendongak seperti mencari-cari sesuatu apapun itu di dalam mata sang direktur untuk ia jadikan pegangan. Karena kali ini, kalimat-kalimat Chanyeol menimbulkan terlalu banyak kebingungan dalam dirinya.
Basah di kedua sisi wajah Baekhyun sempat membuat Chanyeol memicing. Dua mata itu, dua mata dengan bentuk sabit yang begitu menarik, terbasuh air mata karena dirinya.
"Aku telah melakukan itu semua, dan kau masih merasa lancang dan malu untuk menyukaiku?"
"Chanyeol—"
Chanyeol menarik Baekhyun. Cepat. Juga lembut. Ia mungkin, tak pernah memiliki keinginan demikian besar untuk memeluk seseorang dengan cara yang sama seperti yang ia lakukan pada Baekhyun. Membawa ke dalam dekapan erat yang inginnya ia jadikan ungkap tentang betapa hebat perasaan yang dipunya. Napas kembali sedikit menderu akibat rasa yang meluap-luap. Tanpa sadar, ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil sang penyanyi.
"Aku hanya terlalu keras kepala untuk mengakuinya," bisik Chanyeol. "Tapi kuharap kau mengerti." Ia menunduk, dan tanpa benar-benar sadar menghirup dalam-dalam aroma si mungil dalam pelukan. "Aku tidak pernah memandangmu hanya sebagai seorang yang bekerja untukku."
Baekhyun berkedip-kedip. Genangan yang sempat tertahan di pelupuk matanya kembali mengalir turun karena itu. Seperti membalikkan telapak tangan, perasaan takutnya dengan cepat mengabur semakin samar karena peluk yang diterimanya. Tepat seperti perkataannya; ia terlalu senang berada bersama Chanyeol. Dan bagaimana sang direktur benar menempatkannya dalam sebuah pelukan erat, diam-diam dijadikan hatinya sebagai petunjuk agar berhenti menggubah ketakutan. Mencipta sedikit demi sedikit senang yang berbeda.
"Chanyeol..," panggilnya, membisik. "Kau membuatku bingung..,"
Kedua tangan Baekhyun masih terkulai di sisi tubuh, belum bereaksi terhadap pelukan itu. Ia masih berusaha mengartikan. Tetapi otaknya berproses begitu lamban untuk dapat mengerti kalimat-kalimat yang Chanyeol katakan padanya, atau arti dari perlakuan ini.
Chanyeol melepaskan pelukannya. Beralih memegang kedua bahu sang penyanyi, menjauhkan wajah agar mata keduanya dapat bertemu tanpa benar-benar mengurai jarak.
Melihat kedua mata itu menatap langsung kepadanya, Baekhyun merasa gugup tiba-tiba. Itu sorot yang sama seperti semalam. Tapi Chanyeol tidak sedang mabuk sekarang. Atau pengaruh minuman itu memang masih ada?
Ini bukan sorot dengan kemarahan seperti saat pria itu sempat mencengkeram pergelangannya, saat mendesis marah atas pengakuan yang ia buat.
Tetapi ketika wajah Chanyeol kian mendekat dan sesuatu yang lembut menyentuh pipinya dengan lembut pula tepat di mana jejak aliran air mata membekas, Baekhyun merasa dada hingga perutnya dipenuhi sesuatu yang aneh. Penuh. Menggelitik. Kecupan itu bersarang begitu lama di pipinya.
"Mengertilah," bisik Chanyeol, dan, kalimat berikutnya yang nyaris, nyaris sekali tak dapat Baekhyun dengar meski diucapkan di dekat telinganya, membuat jantungnya lebih dari sekadar berpacu cepat. Darahnya dibuat berdesir ke seluruh tubuh. Panas merambati dan berkumpul di wajah, sekaligus membuat hawa tiba-tiba saja terasa berubah membuatnya gerah.
Dan yang mampu Baekhyun lakukan hanya menahan napas. Diam dengan mata yang entah menatap ke mana, dan jemari gemetar yang tanpa sadar terangkat menggenggam erat kain kemeja sang direktur di sisi-sisi pinggangnya. Mencipta kerut kusut di sana.
"Hey,"
Dengan matanya yang tak fokus Baekhyun kembali mendongak, menatap wajah sang direktur yang telah kembali berada tepat di depan wajahnya sendiri.
"Kau mendengarku?"
Mulut Baekhyun membuka. Lantas menutup lagi. Terbuka lagi, tapi tak benar-benar ia ucapkan sepatah kata apapun.
"Baekhyun,"
Suara berat yang sejak awal terkesan begitu dominan bagi Baekhyun itu semakin membuatnya berdegup saat memanggil namanya di waktu seperti ini. Kembali, bisik yang sebelumnya ia dengar terngiang dalam kepala. Lagi dan berulang.
"Kau mengatakan sesuatu tadi.. Chanyeol?" tanya Baekhyun linglung. Ia masih merasa bisikan itu hanyalah bagian dari khayalannya saja.
Chanyeol menghela napas. Mengendurkan bahunya yang entah sejak kapan menjadi kaku.
"Kau tidak mendengarnya—"
"Chanyeol..,"
"Hm?"
Masih tampak belum sepenuhnya memijak pada kesadaran, Baekhyun menyuarakan isi kepalanya, "Apa ini berarti aku boleh terus bertemu denganmu?"
Menarik napas, Chanyeol merasakan lega tak tergambarkan karena pertanyaan itu. Baekhyun mendengarnya. Mungkin salahnya karena mengatakannya terlalu pelan hingga sekilas hanya terdengar seperti angin lalu.
Perlahan, Chanyeol kembali menarik Baekhyun ke dalam pelukannya. Menenggelamkan wajah yang lebih pendek di dadanya.
"Aku yang akan menemuimu lebih dulu."
Tidak ingin menjadi hiperbolis, tetapi Baekhyun benar-benar merasa dirinya diangkat tinggi-tinggi ke atas awan. Ringan. Dadanya melapang dengan gelitik geli di perut. Kontras dengan beberapa saat lalu ketika ketakutan nyaris memakan habis dirinya. Hanya satu kalimat yang dibisikkan Chanyeol, dan Baekhyun telah cukup diberitahu bahwa mereka hanya terombang-ambing dalam laut kesalahpahaman selama ini.
Pipi Baekhyun yang masih sedikit basah kini merona. Malu, juga senang. Tangannya beranjak naik meski ragu untuk turut mendekap pria yang memeluknya, menyamankan kepala di sana, memejam mata sembari mengulang kembali kalimat yang Chanyeol minta padanya untuk mengerti.
Aku jatuh cinta padamu. Sejak awal.
.
oOo
.
Blinded [v.] deprive (someone) of understanding, judgement, or perception
.
.
Almost cried while working on this. Not bcs of the story but I MISS CHANYEOL SO MUCH HUHU /cryy/
Neeways makasih untuk semua yg udah ngikutin fic ini sampe sejauh ini ya!:""( Thank u for reading this full-of-imperfection fic.. Kayaknya masih lack of feels banget ya, ceritanya? Masih harus banyak belajar sayanya hehe. I'm considering a hiatus after finishing this fic (and another two) so.. yeah I'm trying my best!
Very much love for your feedback ChanBaek09 | baekhyunpup | Fatihah Kim | chanbaekboo614 | kafthya | ByunBaeChiecy | lightdelight | Nitha Gaemgyu | naitsyou | someflufi | jinahyoo | Lucyanaa | KlyJC
Spoiler untuk chap depan: /uhuk uhuk/ ada sesuatunya. Hahaha
See you (again) xoxo
