Struggling (But Never Been Better)

.

.

oOo

.

Hidup sering kali hanya berkisar pada hal yang sama. Klise. Itu-itu saja. Sebagian penghuni dunia menolak habis-habisan bahwa dramaturgi eksis. Terpancang pada logika, yang seringnya hanya merupakan persepsi dari diri yang keras. Menyangkal apapun yang tak berentitas, meski kehadirannya nyata berbuah dampak—senang, sakit, buntu.

Tidak ada yang pernah menyangka, Park Chanyeol menemukan kebuntuannya sesederhana karena ketidakhadiran seorang yang lain di sisinya.

Maka bagaimana ia mampu menyangkal lagi saat hati meningkah dalam dunianya yang lama tak terjamah afeksi?

"Chan. Yeol."

Baekhyun melipat bibir. Menahan cengiran yang hendak terbentuk setelah ia berucap pelan, memainkan suku kata dari nama pria yang berbaring di pangkuannya.

"Chan—"

"Mau berapa kali lagi kau mengulangi namaku, Baekhyun?"

Masih, Baekhyun mengulum bibirnya kuat-kuat menahan senyum yang ingin terkembang. Walaupun ia tahu Chanyeol tak dapat melihat wajahnya (yang tak ia sadari tampak begitu berbunga-bunga), ia tetap tak mau menunjukkannya begitu saja. Wajah mereka berhadapan karena Baekhyun yang enggan mengangkat kepala melainkan terus menunduk menatap wajah di pangkuan. Bahkan setelah lama mereka berada dalam posisi tersebut, Baekhyun masih betah memandangi wajah itu.

"Bukankah dulu kau yang memintaku menyebut namamu?" tanya Baekhyun dengan tarikan di kedua sudut bibirnya. Rasanya sedikit aneh, bicara dengan begitu beraninya pada seorang Park Chanyeol yang beberapa waktu lalu masih menjadi objek segan dan takutnya.

Tapi keanehan itu terasa menggelitik. Sebab setelah mereka berbicara begitu banyak selama jam-jam belakangan, semua negativitas luruh satu per satu.

Chanyeol bergumam aneh, seperti tak setuju, namun juga sekaligus membenarkan. "Kau sudah berani menyalahkanku, rupanya," katanya, tanpa sedikitpun membuka mata.

Baekhyun mengekeh. Sedikitnya ia merasa idiot karena terus melakukan itu. Tetapi, ia hanya sedang sangat, sangat bahagia sekarang.

Ruang tengah kembali hening. Dengan senyum tipis serta pipi merekah, Baekhyun mulai bersenandung pelan. Tangan kirinya tersimpan di sisi tubuh, sementara yang satu mulai bermain di antara helai rambut sewarna platina di pangkuannya.

Chanyeol bergerak. Baekhyun mengantisipasi namun rupanya pria itu hanya meraih tangannya yang menganggur untuk digenggam di atas dadanya.

Itu lagi-lagi membuat Baekhyun melipat—tidak, kali ini ia mulai menggigit—bibir. Ini terlalu banyak untuknya. Meski seharusnya, bila diingat-ingat, bukan kali pertama Chanyeol melakukan hal seperti ini.

Hanya saja semuanya memang tak lagi sama sekarang.

"Bagaimana dengan Manajer Do?"

Baekhyun menghentikan gumam senandungnya, namun jemarinya masih menyusuri helai-helai rambut dari pria yang masih mengistirahatkan kepala di pangkuannya itu. Ia tidak tahu sejak kapan, tetapi melakukan hal itu terasa seperti salah satu kegiatan yang mulai ia gemari.

"Aku akan menghubunginya nanti," jawab Baekhyun.

Keduanya kembali terdiam. Tidak dalam canggung, namun justru menikmati setiap tarikan napas yang dibagi bersama dalam ruang yang hanya dihuni mereka berdua.

"Chanyeol,"

"Hm?"

"Kau harus istirahat."

"Aku sedang melakukannya."

"Maksudku, kupikir kau butuh lebih banyak tidur."

Chanyeol menggumam seolah mengiyakan. Meski begitu, keduanya sama-sama tahu waktu ini terlalu berharga untuk sekadar dilewatkan dengan terlelap.

"Aku akan menegur Jun karena telah memberitahumu."

"Chanyeol.." Refleks, Baekhyun menyahut seolah menegur.

Masih terpejam, Chanyeol menghela napasnya lantas menutupi sebagian wajah dengan punggung tangannya.

"Dia terlalu banyak bicara."

Baekhyun mengulum senyum. Chanyeol tidak benar-benar berniat melakukan itu. Bagai tulisan dengan tinta hitam di atas kertas putih, perilaku Chanyeol jauh lebih mudah terbaca olehnya setelah mereka membagi begitu banyak cerita. Membagi begitu banyak—lebih banyak—pengakuan.

Tentang kebenaran di balik kebohongan, tentang kejujuran di balik penyangkalan. Gengsi yang bagai mendarah daging tak lagi dibiarkan mengambil alih. Lagipula, keduanya terlalu dimabuk cinta untuk mengiraukan itu.

"Baekhyun,"

"Ng?" Baekhyun menyahuti panggilan Chanyeol. Namun, pria itu tidak lantas melanjutkan. Kedua mata bulatnya telah terbuka, langsung bersirobok dengan sepasang lain yang lebih sipit, yang tepat berada di atasnya.

Menunggu, Baekhyun turut diam sebagaimana Chanyeol. Ia membalas tatapnya, sembari tanpa henti mengagumi, persis seperti setiap kali ia memperoleh kesempatan untuk melihat dengan begitu dekat paras menawan itu.

Sedikit bingung Baekhyun ketika Chanyeol bangkit dari pahanya. Pria itu beralih mendudukkan diri dan masih saja berdiam, membelakanginya yang semakin bertanya-tanya. Dan sebelum Baekhyun menyuarakan rasa penasarannya, sebuah hela napas samar terdengar.

"Maaf."

Baekhyun mengerjap. Seketika teringat betapa Chanyeol telah banyak mengucapkan kata itu.

Padahal ia pikir, setelah waktu yang mereka habiskan dalam kedamaian setelah saling bicara, kata maaf bukanlah sesuatu yang tepat untuk dikatakan lagi.

Chanyeol, telah mengatakan itu berkali-kali dalam pelukan mereka yang begitu panjang. Bersama sekian penjelasan yang bahkan tak sama sekali Baekhyun rasa perlu pria itu sertai dengan permintaan maaf. Memperoleh Chanyeol sebagai sosok yang luar biasa berbeda dari biasanya, yang memberi penjelasan begitu banyak untuknya, adalah lebih dari seperti sebuah penghargaan.

Chanyeol, mungkin, memiliki perang batin yang sama seperti dirinya hanya untuk menjadi demikian jujur.

Sebab nyatanya memang segala arogansi telah pria itu lepaskan demi Baekhyun.

Bergerak pelan, Baekhyun mengambil selangkah lebih dekat pada pria di sisinya. Sebelum batinnya sempat menimbang—ia mungkin berakhir tak melakukan apapun bila membiarkannya—ia lebih dulu beranjak melingkarkan lengan memeluk Chanyeol dari balik punggung pria itu. Bersandar kepala memejam mata, ingin merasa benar kenyamanan dari punggung itu, sekaligus berusaha membagi ketenangan yang mungkin dibutuhkan.

"Bolehkah aku memintamu untuk berhenti mengatakannya?" tanyanya pelan.

Pertanyaan itu dijawab udara kosong. Ia tak memperoleh jawaban. Namun, Baekhyun tahu bukan sesuatu yang buruk mendapati Chanyeol tidak menyahutinya.

Jemari lentik milik Baekhyun kini berselimutkan milik yang lain. Punggung tangannya terasa hangat, ketika telapak besar milik Chanyeol menggenggamnya dari sisi itu.

Semakin detik berjalan, nyaman yang bersarang seolah semakin enggan pergi. Setiap sentuhan yang tercipta selalu saja membuat keduanya nyaman sampai ingin melupa waktu. Punggung Chanyeol begitu nyaman bagi Baekhyun untuk bersandar, dan keberadaan Baekhyun yang nyata tersentuh oleh Chanyeol sudah bagaikan obat penenang bagi tuntut anonimnya yang selalu ingin merasakan keberadaan penyanyi itu dalam jarak sentuhnya.

Getar ponsel di atas meja mendistraksi. Momen terhenti. Sedikit disayangkan namun, keduanya tahu mereka tak perlu sekecewa itu.

Baekhyun melepaskan lengannya, meski sang direktur rupanya enggan melepas tautan tangan mereka. Pria itu membenahinya, sembari meraih ponsel di atas meja dengan tangannya yang lain. Suku kata nama sang sekretaristampak di layar.

"Sajangnim. Selamat siang." Di seberang panggilan, Junmyeon menyapa cepat.

"Ya. Ada apa?"

"Maaf untuk menghubungi tiba-tiba. Tuan Wang dan Oh Sehun datang dan ingin menemui Anda."

Chanyeol seketika berkerut dahi. Killian Wang dan Oh Sehun?

Meski seharusnya otaknya mampu menerjemahkan hal yang mungkin menjadi maksud kedatangan dua orang itu, ia masih sedikit menerka pula mengapa keduanya harus repot-repot datang.

Setelah sempat tercenung bersama pikirannya, Chanyeol segera menyahut, "Aku akan sampai dalam beberapa menit."

Junmyeon menyatakan tanda mengerti, yang Chanyeol kira sudahlah merupakan akhir dari panggilan yang dibuat. Namun lantas sang sekretaris kembali bersuara dengan ragu, "Sajangnim?"

"Ya?"

"Apakah.. Baekhyun-ssi ada bersama Anda?"

Begitu pertanyaan terlontar, Chanyeol secara refleks menoleh ke arah si penyanyi yang berada di sampingnya. Yang mengerjap bingung saat menyadari tatapnya.

"... Ya. Ada apa?"

Terdengar helaan napas samar dari sang sekretaris. "Manajer Do panik karena tidak bisa menemukan ataupun menghubungi Baekhyun-ssi sepagian ini. Saya pikir—"

"Aku akan datang bersamanya. Katakan pada Manajer Do untuk tidak perlu khawatir. Dia baik-baik saja."

"... Saya mengerti."

Satu gumaman, dan Chanyeol lebih dulu mengakhiri panggilan. Sejenak ia tatap layar yang telah berubah hitam. Sedikit tersita fokusnya atas pikiran mengenai kedatangan dua pria itu.

Ia memang belum mengambil tindakan apapun sejak hari itu. Pikirnya, adalah baik untuk menunda dan menimbang sedikit lebih lama karena hubungan antara Byun Baekhyun dan Oh Sehun menyangkut kepentingan dua agensi. Juga banyak pihak lainnya. Hanya karena pria Oh itu memintanya satu kali untuk menghentikan skenario yang telah diatur, segalanya tak akan mudah. Killian Wang bahkan mungkin memiliki penolakan yang keras untuk itu.

Sesegera mungkin ia beranjak. Mengajak lelaki satunya untuk turut berbenah.

"Apakah sesuatu yang genting terjadi?" tanya Baekhyun, ketika akhirnya Chanyeol keluar dari kamarnya setelah berkemas, dengan rambut yang telah tertata rapi juga jas tersampir di lengan.

Meraih kunci mobil dengan sebelah tangan dan menggandeng Baekhyun dengan tangan satunya agar mengikuti langkahnya, Chanyeol menjawab, "Ya. Mungkin."

.

.

Tepat setelah pintu lift terbuka, Chanyeol melangkah lebih dulu. Sebuah bisikan sampai jumpa telah ia berikan pada si lelaki mungil yang berada bersamanya sebelum meninggalkannya di belakang. Mengarah langsung ke arah ruangannya dengan Junmyeon yang telah sigap mengiringi. Membiarkan sang penyanyi terlebih dulu menemui manajernya.

"Yah!" Kyungsoo berseru tertahan, berderap menghampiri Baekhyun yang baru saja tiba dan tertangkap matanya. Segera ia mengoceh tentang betapa menghilangnya Baekhyun nyaris membuatnya menghubungi polisi.

Baekhyun melindungi kepalanya saat tangan Kyungsoo terangkat, hendak melayangkan satu-dua pukulan untuk artisnya itu. Tetapi ia memang hanya menggertak. Tidak benar-benar ingin melakukan karena beberapa hal yang lebih menyita perhatiannya. Day-off langka penyanyi itu seharusnya mereka gunakan untuk mengurus kepindahan. Tidak menemukan Baekhyun di dormitori juga respon untuk pesan dan panggilannya membuat Kyungsoo jelas kalang kabut.

"Mana ponselmu?" tanya Kyungsoo.

"P-ponsel?"

Baekhyun meraba saku celana panjangnya, mencari-cari peranti yang memang tidak sempat ia tengok sejak semalam itu.

Ketika tangannya tak merasakan apapun bahkan ketika mencoba merogoh, Baekhyun mengerjap. Berpikir. Mengingat-ingat bagaimana mungkin ia tak memiliki benda itu bersamanya.

Namun begitu menyadari pakaian yang sekarang melekat di tubuhnya—kemeja biru langit yang bukan miliknya—Baekhyun teringat akan fakta bahwa ia meninggalkan pakaiannya, termasuk jaket tempat ia terakhir kali menyimpan ponsel di bagian saku, di kamar mandi.

Kamar mandi apartemen Chanyeol.

Wajah mengkerut seketika. Menyesali kecerobohan luar biasa yang bisa-bisanya ia lakukan.

"P-ponselnya.. tertinggal,"

Kyungsoo menyahut dengan mata yang kian membulat juga kerut dahi yang tak kunjung pudar, "Di?"

"Di.."

Kyungsoo memicing. Menatap skeptis pada sang penyanyi. "Kau. Berhutang penjelasan padaku," katanya, sebelum menarik cepat tangan Baekhyun menuju lift.

Baekhyun merutuk dalam hati. Sambil berpikir apa-apa saja yang dapat dikatakannya untuk menjelaskan pada sang manajer, ia hanya bisa pasrah mengikuti kemana pria berkacamata itu menyeretnya.

Di ruangan sang direktur, telah duduk dua orang pria tinggi dengan didampingi seorang lain di sisi sofa tempat keduanya duduk. Chanyeol meneruskan langkah yang sesungguhnya amat diliputi keraguan, diikuti Junmyeon di belakangnya.

Ketika baru saja ia menempati sofa, Killian lebih dulu meletakkan map yang dimintanya dari Sekretaris Han.

"Beberapa MoU yang harus dibatalkan," terangnya.

Setengah tak menangkap maksud kalimat itu, Chanyeol segera menarik map tersebut dan melihat isinya.

"Sebaiknya ini jadi yang terakhir kalinya. Benar-benar merepotkan." Sang pria Wang berujar. Sekilas terdengar datar namun timbul pula kesan muak di antaranya. Lagipula, tak ia tujukan untuk siapapun kata-kata itu. Ia bersedekap, bersandar seolah sofa tempatnya duduk adalah singgasana miliknya meski nyatanya ia berada di gedung milik seorang rival.

Mengernyit dalam, Chanyeol bergantian menatap lembaran-lembaran di tangannya juga kedua orang di hadapan.

"Jangan membuatku menjelaskan," kata Killian, memutar bola mata malas-malas. Ia memberi kode pada sekretarisnya yang berdiri di sisinya, yang dengan segera dimengerti oleh pria itu.

"Dokumen itu mencakup semua MoU yang akan dibatalkan besok. Pihak K Entertainment sudah menghubungi beberapa di antaranya. Untuk sisanya kami memohon tindakan dari LOEY-Music atas pertimbangan relasi. Akan lebih baik bila semua diselesaikan oleh pihak yang memiliki hubungan paling baik dengan perusahaan terkait." Sekretaris Han menjelaskan dengan singkat. Pria yang menjadi atasannya mengangguk samar, tanda puas dengan pekerjaan sekretarisnya.

Junmyeon di tempatnya memperhatikan. Mendengarkan dengan saksama. Di satu sisi, ia cukup terkejut seorang Killian Wang dapat membuat keputusan sebagaimana yang baru saja dijelaskan. Namun di sisi lain, ada perasaan tak heran menyaksikan semua ini terjadi pada akhirnya.

Chanyeol menghabiskan beberapa waktu untuk terdiam. Matanya telah rampung menyisir isi map yang diberikan, namun belum ditutupnya benda itu melainkan tercenung memandang tanpa fokus pada baris-baris katanya.

"Oh, astaga. Berhenti menimbang, Park. Kita selesaikan ini segera tanpa membuang waktu." Killian kembali berujar. Jengah. Ia kemudian menambahkan dengan serius, "Ini bukan urusanku. Tapi pastikan kau tidak menyesal dengan pura-pura tak menyetujui. Aku bisa menarik keputusan ini kapanpun bila kau tak segera turut bertindak."

Sekali menelan ludah dan dalam diam membulatkan tekadnya, dokumen di tangan berpindah kepada Junmyeon.

"Akan segera kuselesaikan," kata Chanyeol.

"Kuharap kau memang benar-benar sudah memperjelas semuanya dengan si Byun itu," ujar sang pria tinggi berdarah campuran itu. "Oh, tidak, tidak. Aku tidak peduli. Simpan saja masalah kalian sendiri. Oh, betapa menggelikannya." Ia membuang napas, mengibas sekali telapak tangannya.

Tak lagi banyak selang waktu yang dihabiskan, Killian Wang bangkit dari duduknya.

"Ini sayang sekali untuk dilewatkan. Melihatmu tak berkutik seperti ini untuk satu alasan menggelikan, menyenangkan sekali," katanya. Mendecih. Wajah arogannya tak bertahan lama, seketika justru tergantikan oleh kernyitan tak suka. "Tapi entah kenapa aku benar-benar tidak menyukai keadaan ini," gumamnya. "Nah, sudah. Ini yang kau mau 'kan?"

Sehun yang sejak tadi belum bersuara sebelum Killian menoleh padanya mengangkat kepala. Pria itu menatap seolah melempar ultimatum.

"Sebaiknya kau serius dengan janjimu."

Membuang napas, Sehun mengangguk malas-malas. "Ya, ya. Tentu. Tidak perlu menatapku seperti itu."

Chanyeol tidak dapat menerka apa arti percakapan dua orang itu. Pikirannya sedikit terlalu disibukkan—tanpa sadar—oleh kelebat rencana-rencana yang akan ia lakukan setelah ini. Terlepas dari cukup banyaknya masalah yang akan muncul juga kerugian yang harus ditanggung dengan adanya pembatalan ini, batinnya tak dapat berbohong ketika memunculkan satu perasaan sebagai respon.

Lega. Rasanya seperti sebuah pintu pada labirin gelap tak berujung telah tertutup, menyisakan sedikit untuk dipilih hingga ditemukan jalan yang tepat nantinya.

Ia masih sibuk dengan pikirannya, menempati sofa dalam ruangan bagaikan singgasana ketika Killian Wang dan Oh Sehun berlalu.

"Hey, Sekretaris Han,"

Di luar, Sehun memanggil Lu Han, berusaha menyejajarkan langkahnya dengan pria mungil itu yang betah mengekori sang direktur K Entertainment.

Refleks Lu Han menggumam sebagai respon. Menanyakan apa kiranya yang ingin Sehun katakan.

"Berkenan menemaniku minum kopi setelah ini?"

Sepasang mata dengan binar layaknya anak rusa yang biasanya memiliki sorot yakin sebagai salah satu bagian dari integritasnya kini mengerjap-ngerjap. Lucu—atau setidaknya begitu Sehun berpikir.

Melihat sang sekretaris tampak akan menyuarakan penolakan, Sehun buru-buru menambahkan, "Aku akan meminta izin padanya." Ibu jari menunjuk pada satu yang memiliki jabatan tertinggi di antara mereka, yang melangkah tegap di depan sana.

Setelah raut penuh keragu-raguan, juga sebuah kuluman singkat di bibir kecilnya tanda menimbang, Lu Han mengangguk. Berbuah senyum dari si rapper jangkung, lengkap dengan eye-smile yang menawan.

.

.

"H-hey.." Melihat mata Kyungsoo yang kian membulat setelah mendengar penjelasannya, Baekhyun gelagapan. Sebab benar, mata sang manajer sungguh tampak seperti akan keluar dari tempatnya.

"Dari mana kau mendapatkan keberanian seperti itu?" tanya Kyungsoo. Mata bulatnya sempurna terarah pada sang penyanyi tanpa teralih sedikitpun.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Pertanyaan itu membuat rasa malu kembali menyeruak. Debar yang entah disebabkan oleh apa kembali muncul. Ini bukan malu seperti ia menyesali perbuatannya, melainkan sama seperti Kyungsoo, ia pun tak percaya telah menjadi begitu beraninya semalam itu.

Kyungsoo menjauhkan wajahnya yang tanpa sadar ia bawa mendekat seiring penjelasan Baekhyun yang bergulir. Ia menghela napas tipis. Bagaimanapun, sesuatu yang baru saja ia dengar ini terasa cukup melegakan.

"Jadi, kau tetap akan meninggalkan dorm atau tidak?" tanyanya, menatap Baekhyun sembari melipat lengan di depan dada.

Baekhyun menggaruk pelipisnya yang tak gatal. Mengeluarkan suara dengung tanda berpikir. "Uh, aku akan memikirkannya kembali nanti."

Sekali lagi sang manajer menghela napas. "Terserah kau saja."

Ia baru akan melanjutkan perbincangan, saat matanya menangkap satu pesan masuk di layar ponsel yang ia letakkan di atas meja kafetaria. Jemarinya cekatan mengambil benda itu, mengetikkan balasan sesegra mungkin setelah menyadari nama si pengirim pesan. Lantas, ia kembali beralih pada Baekhyun di seberangnya.

"Kau sebaiknya bersiap."

"Untuk apa?" Baekhyun mengerjap.

Tak berselang lama sebelum sosok pria tinggi dengan langkah lebarnya muncul dan tertangkap oleh mata si manajer. Kyungsoo berdiri dari duduknya, membungkuk hingga Baekhyun dibuat semakin kebingungan.

"Kyung?"

"Baekhyun,"

Sang pemilik nama tersentak berbalik. Dalam sepersekian detik yang singkat Baekhyun tak percaya akan suara yang masuk ke pendengarannya namun begitu saja keraguan itu dipatahkan oleh keberadaan pemilik suara yang nyata berdiri di belakangnya.

"C-chanyeol?" Ia terbata. Bahkan kakinya berubah kikuk hanya untuk membantu tubuhnya bangkit dari kursi.

Kehadiran sang direktur membawa perubahan suasanya yang cukup signifikan di kafetaria. Namun, Chanyeol tak terlalu peduli dengan hal itu, dan Baekhyun pun tampak tak sama sekali awas.

"Kau keberatan bila aku membawanya lagi?" tanya Chanyeol pada Kyungsoo.

Ketika sempat ia melirik Baekhyun dan mendapati rona merah di wajah penyanyi itu, Kyungsoo tak sengaja tersenyum kecil. "Sama sekali tidak."

"Terima kasih," kata Chanyeol, dibalas sebuah bungkuk hormat lagi dari sang manajer. Sebelum sempat Baekhyun berkata apa-apa lagi, Chanyeol telah lebih dulu menggandeng tangannya. Menariknya pergi, kembali ke ruangannya di lantai eksklusif gedung.

Ia telah secara naluriah menepati perkataannya untuk selalu menemui Baekhyun lebih dulu.

Sesampainya di ruangan yang telah kosong, tautan tangan dilepas. Chanyeol berbalik, membuat mereka tepat berhadap-hadapan. Sejenak ia terdiam menatap Baekhyun. Kedua mata yang mengerjap antara bingung dan penasaran—dan oh, juga sepercik malu. Rambut hitam tanpa sentuhan tatanan apapun. Kesemuanya polos. Tanpa dibubuhi apapun.

Tidak seperti kali pertama Chanyeol menyadari keberadaan sang penyanyi dalam balutan kostum panggung, rambut merah, juga riasan lengkapnya, Baekhyun kini berdiri di hadapannya dalam rupa sebagaimana adanya. Yang—sekali lagi—entah mengapa tampak ribuan kali lebih menarik dengan pancar alaminya.

Baekhyun baru saja akan membuka mulut menyuarakan rasa penasarannya saat Chanyeol akhirnya membuka percakapan.

"Skenario kencanmu dengan Oh Sehun dihentikan. Beritanya akan dirilis segera."

Mata Baekhyun membola. Kabar itu sedikit terlalu tiba-tiba.

"Dihentikan?"

Chanyeol mengangguk sebagai jawaban.

Raut cemas seketika tampak di wajah sang penyanyi. Matanya teralih pada lantai, dan kembali lagi terarah pada Chanyeol. Kian cemas menyorot.

"Apa semua akan baik-baik saja?"

Sejenak hanya menatap dalam diam, Chanyeol menatapi wajah yang tampak begitu khawatir itu. Sebelum ia mengambil langkah maju, menarik bahu sempit milik yang lebih pendek ke dalam rengkuhannya.

Chanyeol meletakkan dagunya di puncak kepala Baekhyun, menghela napas ketika rasa lega yang begitu banyak seolah dapat ia peroleh dari upayanya memeluk si lelaki mungil.

"Bagaimana jika tidak?"

Pertanyaan itu sejenak membuat Baekhyun tertegun. Sepertinya memang bodoh untuk berharap segalanya akan baik-baik saja.

Ia balas memeluk sang direktur. Membawa naik kedua telapaknya agar mencapai punggung pria tinggi itu, dan memberi tepukan lembut berulang-ulang di sana.

Keduanya memiliki kekhawatirannya masing-masing. Tentu. Dari sudut pandang yang berbeda, ada hal besar yang harus dihadapi setelah ini.

Tetapi tanpa ada kata harus terucap, keduanya tahu perasaan identik yang sama-sama muncul di dalam hati; perasaan senang dan lega.

"Chanyeol," panggil Baekhyun, dengan suara redam karena wajah yang ia surukkan di dada yang lebih tinggi.

"Hm?"

"Apa ada sesuatu yang bisa kulakukan untukmu?"

Mendengar pertanyaan itu, Chanyeol justru melepas tawa kecil. "Memangnya apa yang ingin kaulakukan untukku?" tanya Chanyeol balik.

Sang penyanyi membuat suara dengung kecil, "Apa saja."

Tepat setelah jawaban Baekhyun, Chanyeol justru melepas pelukan mereka. Mengundang tanda tanya dari lelaki satunya.

"Kalau begitu apa kau akan memperbolehkanku mencuri sesuatu darimu?"

"A-apa? Mencuri apa?"

Baekhyun tak sama sekali menangkap maksud pertanyaan itu, namun ketika wajah sang direktur mendekat dan berhenti kurang dari setengah jengkal di depan wajahnya, Baekhyun seolah dibuat tahu apa yang Chanyeol maksudkan. Jadi ketika pria itu bertanya melalui tatap, Baekhyun menjawab dengan memejamkan matanya. Membiarkan Chanyeol mencuri sebuah ciuman dari bibirnya.

Oh, ini sebuah kejahatan yang amat menyenangkan.

Bunyi ketukan di pintu terpaksa menyudahi kegiatan yang belum seberapa lama dilakukan itu. Ketika Chanyeol menyudahi dan jarak terurai hingga dua pasang mata bertemu, Baekhyun baru merasakan panas merambati wajahnya. Malu.

"Sajangnim,"

Dengan enggan melepas tangkupannya pada rahang sang penyanyi, perhatian Chanyeol kemudian beralih pada pintu. "Masuk."

Begitu pintu terbuka dan Junmyeon melangkah masuk, Baekhyun bertolak berniat meninggalkan ruangan itu. Selain berpikir bahwa mungkin kehadirannya akan mengganggu pekerjaan sang direktur juga sekretarisnya, malu masih terlalu pekat ia rasa hingga membuatnya salah tingkah.

Tetapi Chanyeol tak membiarkannya. Meraih tangan sang penyanyi untuk digenggam, Chanyeol menarik lelaki itu ke sisinya.

"Ada apa?"

Junmyeon sekilas menyapa Baekhyun dengan sedikit tundukan kepala sebelum menjawab, "Pihak manajemen Tuan Lee baru saja menghubungi."

Menghela napas gusar, Chanyeol lantas mendesis. Ia seharusnya tidak lupa, bahwa masih ada satu lagi pintu paling berbahaya yang belum tertutup.

"Mereka menginginkan pertemuan besok," tambah Junmyeon. Sang direktur jelas tampak tak menyukai berita ini.

Cepat membaca keadaan, Junmyeon buru-buru menambahkan, "Tetapi untuk hari ini, biarkan saya yang menangani. Anda bisa kembali dan beristirahat terlebih dulu."

Cukup besar keinginan untuk sesegera mungkin menuntaskan urusan dengan pria paruh baya itu. Namun perkataan Junmyeon memang cukup memberi pandangan. Maka, ia segera menyetujui.

"Baiklah. Tolong."

Sang sekretaris mengulas senyum tanda paham. Membungkuk, ia kembali undur diri. Meninggalkan ruangan.

"Tuan Lee, ya," gumam Baekhyun pelan.

Chanyeol turut menjawab dengan sebuah gumaman. Namun ia segera menepis pembicaraan akan hal itu.

"Kau akan kembali menemui Manajer Do setelah ini?" tanya Chanyeol, menoleh kepada Baekhyun di sisinya.

"O-oh.. itu.. ya. Tapi.. Chanyeol?"

"Hm?"

"Ponselku.."

Alis Chanyeol terangkat, menunggu Baekhyun menyelesaikan kalimatnya.

"Ponselku.. tertinggal di—apartemenmu," katanya.

Dengus tawa kecil lolos dari sang pria Park. "Kita akan mengambilnya, kalau begitu," katanya, mengusak pelan rambut halus sang penyanyi. "Dan mungkin sedikit makan siang. Meski terlambat."

Baekhyun mengangguk, menyetujui, dengan rasa membuncah yang dengan konyolnya tak mau berhenti memenuhi dadanya.

.

.

Nyatanya setelah makan siang yang terlambat dan memperoleh kembali ponsel Baekhyun yang kehabisan dayanya, keduanya berakhir menghabiskan waktu di ruang tengah unit mewah milik Chanyeol untuk beberapa obrolan lagi.

"Dia sedikit licik." Chanyeol memicing. Satu demi satu, ingatan akan urusan bisnisnya dengan pria yang tengah menjadi topik pembicaraan kembali muncul. Tentang ketimpangan beban kerja, tentang bagaimana pria itu menggunakan Baekhyun untuk menahannya.

"Lalu bagaimana?"

"Hm?"

Dengan risau yang tak dapat lagi ia tampik, Baekhyun mengeratkan genggamannya pada tangan Chanyeol. Tanpa mengangkat kepalanya yang masih dalam posisi bersandar di bahu pria itu. Mendaratkan tatapannya pada permukaan meja di hadapan.

"Kau.. tidak berniat menghentikan kerjasama itu juga?"

Terdiam, Chanyeol tidak semerta-merta menjawab. Ia turut menerawang, tidak juga memberi jawaban yang pada dasarnya memang belum ia temukan.

Sebab jawaban dari pertanyaan itu adalah karena sang penanya itu sendiri. Dan Chanyeol tak berpikir ia dapat mengatakan secara gamblang, begitu saja, bahwa ia tidak ingin lagi Baekhyun digunakan, bahkan disentuh seujung rambut pun.

"Ada kemungkinan konsekuensi yang besar bila aku menghentikannya," kata Chanyeol. Baekhyun yang tidak sama sekali menangkap maksudnya tentu bertanya.

"Konsekuensi? Seperti apa?"

Dua pasang mata masih betah saling bertambat. Sepasang yang lebih kecil menyorot penuh rasa ingin tahu, sementara yang lebih besar nan tajam menampilkan sorot tak terbaca.

"Kau."

"Huh?"

Hela napas samar terdengar bersamaan dengan Chanyeol yang kembali menatap ke depan, beralih dari sang penyanyi. Baekhyun menunggu Chanyeol menuntaskan, namun tak kunjung itu terjadi.

"Chanyeol?" Baekhyun mengangkat kepala. Memanggil.

"Kau ingat pesta malam itu?"

Baekhyun mencoba mencari yang Chanyeol maksudkan dari dalam memorinya namun belum juga mendapatkannya.

"Pesta kolega saat kau diminta datang sebagai perwakilan agensi."

Tidak teringat akan apapun, Baekhyun nyaris menyuarakan kebingungannya. Namun tidak saat akhirnya ia berhasil mengingat. Meski, potongan yang muncul adalah bagian yang tidak tepat.

Ingatan samarnya akan malam itu berkelebat. Saat tubuhnya terasa panas, gerah, dan begitu haus sentuhan tanpa ia tahu penyebabnya.

Dan saat Chanyeol memberikannya kecupan, ciuman, hingga isapan di sekujur leher dan tulang selangka yang, anehnya, begitu disambut baik oleh tubuhnya ketika itu.

Baekhyun mengerjap. Seketika panas merambat naik ke wajah. Ia menggeleng-geleng cepat. Menampik keras-keras ingatan itu yang meski menunjuk pada garis waktu yang benar, memunculkan fokus ingatan yang sama sekali tidak tepat.

Ia mengembuskan napas yang tahunya sempat tertahan. Berusaha kembali pada kenyataan.

"I—itu.."

"Sedikit sulit menjelaskannya. Hanya.. yang jelas," Chanyeol menghenti sejenak, "dia bisa melakukan hal yang lebih buruk bila aku memutus kerjasama."

"Tapi.. aku merasa Chanyeol dibuat sangat kesulitan.." gumam Baekhyun, menyuarakan kerisauannya di luar sulitnya ia menangkap arti sebenarnya mengapa memutuskan kerjasama agensi dapat berhubungan dengan dirinya.

Chanyeol kembali menoleh. Mendapati Baekhyun yang setengah tertunduk, tampak sibuk dengan pikirannya sendiri. Bibir separuh mengerucut. Mungkin tanpa sadar.

Dan itu sedikit membuat suasana hati Chanyeol berputar, hingga sudut bibirnya tertarik membentuk seringai tipis. Ia terkekeh kecil. Mengusak gemas pucuk kepala sang penyanyi.

"Kau tidak perlu memikirkannya."

"Aku—"

"Baekhyun,"

"Ng?"

"Kau keberatan, bila suatu saat aku membuat karirmu berhenti sampai di sini?"

Baekhyun mengernyit tak mengerti, tetapi tak ada prasangka buruk sama sekali di dalam hatinya dengan kalimat yang seharusnya terdengar kejam.

Chanyeol membenahi posisi duduknya. Secara tidak langsung merubahnya menjadi lebih dekat kepada Baekhyun. Hingga tak sengaja, tubuh tingginya tampak lebih menjulang meski masih duduk di sofa yang sama.

Baekhyun sedikit mendongak. Menyesuaikan jajar pandangnya dengan sang direktur. Kesenjangan tinggi di antara mereka kembali membuatnya sedikit ciut. Tidak dalam artian buruk, hanya saja itu cukup membuatnya berdegup akibat aura yang seakan menguar kuat.

Posisi yang sama menyamping mengizinkan keduanya duduk berhadapan.

"Maksudmu..?" cicit Baekhyun. Dibanding terkejut terlebih takut, ia lebih merasa gugup dengan kemungkinan kelanjutan perkataan Chanyeol.

Tatap Chanyeol menguncinya. Ia tak tahu apa pastinya yang akan Chanyeol katakan pada akhirnya, namun tatapan itu kian membuat darahnya berdesir aneh.

Chanyeol, melanjutkan dengan pelan, mengungkapkan perlahan maksud dari pertanyaan yang sebelumnya ia lontarkan.

"Kalau aku mengumumkan pada dunia," katanya, "bahwa aku ingin membuatmu menjadi milikku," punggung telunjuknya mengusap pelan pipi gembil sang penyanyi, "aku bisa-bisa menghancurkan karirmu."

Tangan kiri Chanyeol yang tak pria itu gunakan untuk menyangga tubuh pada sandaran sofa beranjak meraih sebelah telapak milik Baekhyun. Menggenggam lembut dan mengangkatnya perlahan.

Untuk mendaratkan sebuah kecupan di sana.

"Aku tidak ingin menghentikan karirmu sebesar apapun keinginanku memilikimu," bisiknya.

Baekhyun merasa seluruh tubuhnya memanas. Seperti akan meleleh. Tak lagi sebatas pipi atau wajahnya, darah yang berdesir membuat panas menjalar hingga ke seluruh bagian.

"Chan—chanyeol.."

Ini tidak semata hanya karena perlakuan yang Chanyeol berikan padanya. Bukan kecupan yang pria itu berikan di telapak tangannya. Bukan suara lembut yang pria itu gunakan untuk bicara padanya. Namun juga apa yang pria itu katakan, tentang bagaimana Chanyeol menyatakan keinginan untuk memilikinya.

Apa yang dapat membuat jantung berdegup lebih daripada pernyataan cinta semacam itu?

Ini terlalu banyak untuk Baekhyun.

"Chanyeol—"

Ucapan Baekhyun terhenti oleh senyuman kecil yang pria itu berikan padanya. Seperti sebuah upaya implisit untuk menenangkan.

"Aku akan memikirkannya nanti. Kau lakukanlah persiapan albummu dengan baik."

Mendengar itu, Baekhyun seperti merasa sesuatu meledak-ledak dalam dirinya, hingga ia harus menggigit bibir untuk menahan. Dan yang ia dapat lakukan hanya mengangguk kecil, menerima satu usakan lagi dari sang direktur.

Aku akan memikirkannya nanti.

Tidakkah itu terdengar seperti Chanyeol yang akan memikirkan masa depan mereka?

Semakin melantur pikirannya, semakin Baekhyun merasa pipi memanas. Sepertinya dia terlalu percaya diri. Mungkin, ia hanya salah mengartikan perkataan itu saja.

Sebuah hela napas dan Chanyeol menjauhkan diri. "Kuantar kau kembali ke asrama."

Lagi, Baekhyun mengangguk. Kembali ke dormitori mungkin akan membantunya kembali memijak pada daratan. Lagipula ia telah memutuskan untuk menunda kepindahan.

Sedikit kepayahan Baekhyun menangani degup jantungnya. Terlebih, ketika melihat Chanyeol yang telah lebih dulu berdiri dari duduknya, mengulurkan tangan memintanya menyambut. Hingga Baekhyun harus memaksa diri untuk berani meraihnya, menjadikan tangan mereka bertaut.

Chanyeol menggandengnya beranjak dari ruang tengah. Sekaligus mengambil kunci mobil, menuntun Baekhyun menuju pintu.

Nyaris sempurna mencapai pintu, Baekhyun menyadari sesuatu dalam dirinya yang membuatnya menghentikan langkah. Ia tak benar-benar sadar saat jemarinya mengeratkan genggaman pada tangan besar Chanyeol, meremat kuat sebagai wujud keinginan besarnya untuk berhenti.

Chanyeol menoleh. Turut berhenti sebelum tangannya meraih gagang pintu.

Ia ingin bertanya, namun urung ketika melihat Baekhyun bergeming di tempat, dengan bibir tergigit penuh keragu-raguan. Lelaki mungil itu menatap lantai di antara pijakan mereka. Dengan rematan yang semakin erat di tangan mereka yang saling bertaut.

Sepersekian menit yang singkat, Chanyeol pula, turut sadar bahwa dirinya merasakan sebab yang sama dengan yang membuat Baekhyun menahannya.

Mereka sama-sama tidak menginginkan perpisahan.

Sesuatu yang tak bernama itu, kini sama-sama dirasakan keduanya. Semakin intens dan bergolak.

"Chanyeol, aku—"

Perkataan Baekhyun terhenti. Bila sejujurnya pun ia tak tahu apa yang ingin dikatakan, Chanyeol telah lebih dulu melakukan sesuatu yang rupanya juga diinginkannya. Menarik dan membungkam bibirnya. Menangkup kedua rahang, mencium bibirnya dengan menggebu.

Dan Baekhyun tahu memang keintiman itu yang hati dan tubuhnya inginkan. Seperti sesuatu yang terkabulkan ketika akhirnya bibir mereka bertemu, tubuh saling merapat, merasakan kehadiran satu sama lain tanpa ada cela barang satu inci.

Kedua tangan Baekhyun yang menganggur tak lagi memiliki tambatan mulai merangkak naik. Menjamah sepanjang kain kemeja sang direktur, terus naik hingga berganti meremat bagian kerahnya.

Baekhyun tidak peduli bila gerakannya begitu tak terarah, tetapi upaya Chanyeol melumat miliknya dengan begitu dalam membuatnya ingin terus mengimbangi. Mewujudkan hasrat terpendam yang seringnya tak dapat terungkapkan satu sama lain.

Keduanya tak dapat berhenti. Ketika napas nyaris habis, tautan dilepas dan mata bertemu. Hanya sejenak, sebelum kembali memejam dan saling memagut bibir.

Niat mengakhiri sua hari ini menguap. Hilang tak bersisa, terganti dengan keinginan yang sesungguhnya untuk tetap saling memiliki kehadiran satu sama lain dengan nyata.

Di detik yang sama, Chanyeol mengangkat tubuh Baekhyun dalam gendongannya dan Baekhyun nyaris saja lebih dulu melompat kepada pria itu jika Chanyeol tak lebih dulu mengangkatnya.

Dengan hadirnya malam ini, sebuah kesepakatan telah terbentuk di dalam benak keduanya, bahwa mereka akan menghadapi apapun yang akan terjadi. Demi satu sama lain.

.

oOo

.

Struggling [adj.] striving to attain something in the face of difficulty or resistance

but never been better than this, I told you.

.

.

Next chap will be the last (but not real 'last' bcs there will be an epilog, tho). Buat semua pembaca cerita ini, saya bener2 minta maaf sebesarbesarbesarbesarbesarnya kalo cerita ini nggak memberikan ending atau penyelesaian yang diharapkan, ya? Ini fict pertama saya dengan length sepanjang ini dan plot pun udah diatur sejak awal. Premisnya sederhana dan kebanyakan hanya berpusat di kedua tokoh utama aja. Yah, saya biasanya nulis yang pendek2 aja, kan. It was very challenging for me to write a long-chaptered fict like this

Dengan kekurangan sana-sini, saya yang sempet bener2 nggak pede sama cerita ini dan mau berhenti (I even once cried bcs of this insecurity), berusaha commit nyelesein karna berdosa banget ya kan kalo dibiarin discontinued huhu. Saya nemu banyak banget celah waktu nyoba baca dari awal. Tapi udah terlanjur jadi.. mungkin bakal saya jadiin pelajaran aja buat tulisan selanjutnya, hehe

Makasih banyakbanyakbanyak buat semua yang udah baca. Yang mau saran atau kritik, boleh banget disampaikan. Lewat review, pm pun boleh. Siapa tau bisa jadi tolok ukur saya buat memperbaiki tulisan. If only y'all know, saya bener2 seneng dan berterima kasih (biarin ya, saya mau bilang makasih berkali2 pokoknya) sama siapapun yang baca tulisan2 di sini. Yang review, fav, follow, atau yang sekadar iseng2 baca aja. Makasih pokoknya! /kasih coklat satu2/ See you di chap depan alias chap terakhir, ya!

Special shoutout for halloinidwisa Lucyanaa lighdelight Fatihah Kim bbaekhyunfans skyofbbh kafthya ByunBaeChiecy Zyumi Nitha Gaemgyu izzahnurul034 ChanBaek09 jinahyoo oktaaa Ryu Cho freakeness Kenzoevaa

P.s.: I dont really know how to react today's news about chanyeol's enlistment. I cried a lot but I think it can be good since military will keep him away from the cruel entertainment world for a while. I wish, he will stay healthy, and is given more and more happiness from now on. Amen.

P.s.s.: Oh, Im very sorry for adding too many notes here

P.s.s.s.: Adakah sesuatu yang kalian pengen saya tambahin sebelum ending?