The Inevitable Ending

.

.

Recommended Playlist:

Baekhyun - R U Ridin'? (Inst.)

EXO-SC - Closer to You

.

.

Notes/warning: (Maybe) typos. Also mention of a particular physical disability.

.

.

oOo

.

First Full Album Comeback Stage Preparation - 5.30 p.m.

Pantulan diri dengan riasan nyaris tuntas menjadi tambatan mata Baekhyun sejak bermenit-menit yang lalu. Seperti halnya yang selalu terjadi. Riasan yang jauh lebih tipis dari biasanya, juga pakaian yang jauh lebih nyaman—sepasang stelan hoodie dan celana putih berlapiskan oversized jacket merah menawan.

Panggung pertama untuk promosi album pertama. Panggung pertama di mana ia merasa, bahwa seperti apapun penampilannya, ia akan baik-baik saja. Panggung pertama di mana kecemasan yang biasa hinggap tak lagi terasa hadir. Panggung pertama di mana ia merasa, bahwa selama ia telah melakukan yang terbaik, ia tak perlu merasa mengecewakan siapapun.

Beberapa hal banyak berubah. Baekhyun bahkan tak percaya ia bisa sedemikian yakin.

Ini tidak seperti semua hal telah terselesaikan. Bukan begitu. Faktanya ia mungkin akan dihadapkan pada badai besar setelah ini.

Sebuah rencana sedang menunggu waktu mainnya. Rencana besar yang telah disusun dengan baik. Baekhyun tidak takut memikirkan kemungkinan-kemungkinan.

Rupanya, ini tentang pandangan dan persepsi. Bagaimana cara dia melihat apa yang ada dan akan ada di hadapannya. Mungkin juga, sebab kali ini ia telah memiliki sesuatu untuk berpegang. Secara ajaib hilang cemas meski bukan permukaan air tenang tempat ia mengarung sekarang.

Hanya akan ada dua penampilan panggung untuk promosi full album pertamanya. Baekhyun tidak akan menyia-nyiakannya. Terlepas dari apapun yang menunggu di depan sana, apa yang akan terjadi setelah semua dilaksanakan, dia akan menampilkan yang terbaik. Untuk aktualisasi dirinya sendiri, juga untuk semua orang yang dicintanya.

.

.

Lee's Agency Building, 06.00 p.m.

Chanyeol melangkah pasti. Diikuti sang sekretaris di belakangnya. Meniti lantai marmer di sepanjang lantai eksklusif milik kolega terbaiknya.

Kedatangan mereka disambut baik. Pria paruh baya yang berstatus sebagai pemilik gedung perusahaan hiburan ini berseri-seri terutama ketika Chanyeol menyampaikan perihal rampungnya produksi yang pernah dimandatkan sebelumnya.

"Hebat. Tidak salah kau dinobatkan sebagai musisi sekaligus pengusaha muda paling berbakat."

Pujian kosong. Mengalun berulang kali dengan konteks yang dilebih-lebihkan. Tetapi Chanyeol takzim mengangguki semuanya. Hanya agar sesegera mungkin ia menyuarakan apa yang telah tersusun dalam kepala.

"Ini menjadi kali terakhir kita bekerja sama, saya rasa."

Pernyataan itu sempat membuat pria paruh baya di hadapannya menghenti tawa. Namun tak lama, sebab pria itu kepalang percaya diri bahwa sangat mudah baginya untuk memukul jatuh pernyataan itu dengan kuasanya. Ia kembali tertawa. Menganggap angin lalu apa yang baru saja Chanyeol katakan.

Ia menghela napas, "Kau tahu akan seperti apa akibatnya. Jadi jangan sampai kau membuatku menganggap kalimat itu serius." Ia berkata dengan ringan, menyelipkan kekehan bersama arogansi.

Kembali Chanyeol tersenyum. Menundukkan kepala dengan sopan dan menggeser sebuah map berukir tulisan emas pada sampulnya—menandakan betapa resmi dan seriusnya sesuatu yang ada di dalamnya.

"Surat pernyataan pemutusan ikatan kerja sama," terang sang pria bersurai platina tanpa diminta. Lagi menyunggingkan senyumnya yang sarat rasa percaya diri tanpa harus terbubuh arogansi seperti apa yang dilakukan lawan bicaranya.

Tatapan yang ia terima berubah tajam.

Benar. Kau seharusnya berhenti bermain-main.

Chanyeol mengamati bagaimana semua ini mengubah drastis raut sang pria paruh baya.

Dokumen diperiksa. Teliti. Diikuti mengerasnya rahang si pembaca meski pria itu berusaha menutupinya.

Pria bermarga Lee itu menutup map. Mengangkatnya sejajar dengan wajahnya sendiri, menghadap ke sang presiden direktur muda.

"Kau tahu apa artinya ini."

Chanyeol mengangkat alis. Menelengkan kepala mengangguk pelan.

Alih-alih memberi tanggapan, satu yang paling tua di antara mereka melempar kembali map itu ke atas meja. Menyebabkannya terseret dan mendarat asal ke hadapan Chanyeol.

"Kuberi kau waktu sampai besok." Sang pria paruh baya berujar dengan wajah merah, tampak jelas menahan amarahnya. "Pikirkan sebelum kuhancurkan karir solois itu."

Tidak ada reaksi dari sang pemilik LOEY-Music. Ia hanya berusaha menahan seringai kecil yang hendak terbentuk di bibir. Bahkan perkataan yang baru saja ia dengar, sudah termasuk ke dalam perhitungannya. Menyaksikan satu per satu darinya terjadi di depan mata, mendatangkan kepuasan tersendiri baginya. Maka ia menanggapi tanpa beban.

"Tentu. Aku akan memikirkannya."

Namun map tak diambil kembali. Ia benahi letaknya agar sempurna menghadap kepada siapa surat di dalamnya ditujukan.

Sebuah senyum penuh hormat ia ulas untuk terakhir kalinya. Bangkit, membungkuk sembilan puluh derajat. Lantas kembali berdiri tegak, membenahi jasnya, dan melenggang pergi.

Yang baru saja dilakukan pria tua itu bukanlah memberikan waktu untuk berpikir.

Melainkan waktu untuk terlaksananya semua rencana sang pria Park secara sempurna.

.

.

The Stage - 7.00 p.m.

Confetti diletuskan. Klimaks terakhir lagu menghentak. Panggung dipenuhi penari latar dengan seorang solois sebagai sorotan. Bergerak mengeksekusi koreografi menawan tanpa satu kali pun melewatkan nada.

When my pocket is full of scent

All I want is you, my love

Kalimat demi kalimat dalam bait lagu meluncur bersama nada. Sang penyanyi tersenyum cerah. Sabit di matanya melengkung lucu. Dengan penataan sederhana, poni kecokelatannya tampak turut bergoyang.

You will be better

Tell me what you're waiting for

Tembakan confetti kedua. Menandakan lagu yang segera mencapai akhirnya. Satu, dua, hentak dan tepukan tangan juga senyuman manis dari sang penyanyi solo, musik berhenti. Kamera mengambil dua-tiga detik sorotan di wajah sang bintang. Dengan itu, lagu sempurna berhenti.

Riuh penggemar yang memenuhi venue menggelegar. Studio tempat perhelatan digelar tak besar dan tak dapat banyak menampung, namun jumlah itu lebih dari cukup untuk menggetarkan seisinya.

Sebuah tanda bagi suksesnya sebuah penampilan.

Ruang ganti pasca penampilan perdana sang solois untuk album pertamanya turut riuh. Ucapan terima kasih, pujian, juga selipan lelucon antar para penghuninya.

Kali pertama yang menyenangkan bagi Baekhyun. Kali pertama ia membawakan lagu dan menari bersama banyak orang di atas panggung. Semuanya terasa lebih hidup. Ia tak sekadar menyanyi dan menari. Karena itu juga, ia tak bisa menyangkal bahwa ternyata dirinya bukannya suka menyanyi, melainkan mencintainya.

Sensasi yang tahunya baru kali ini nyata terasa.

Nona coordi gesit menghampiri. Membantu menyeka titik-titik peluh di wajah sang penyanyi.

Atas sebuah sebab, keributan teredam. Baekhyun yang baru saja akan berucap terima kasih sedikit terbingung. Terlebih ketika para backdancer mulai terkikik kecil dan bertingkah aneh dengan membentuk barisan seperti kereta—mereka benar-benar saling memegang pundak orang di depannya—dan melipir meninggalkan ruangan.

Baekhyun menoleh segera. Mencari-cari penyebab pemandangan aneh itu.

Namun ia memang sepertinya tak sempat untuk memahami bahwa sosok tinggi yang baru saja hadir dalam ruangan itulah penyebabnya. Ia telah lebih dulu tertegun dibanding menyadari hal itu.

Pria tinggi dengan stelan jas merah yang rapi itu mendekat. Penuh wibawa dengan surai pirang platinanya yang tertata rapi juga sebuket besar bunga mawar merah muda berlapis kertas tisu kuning cerah di tangan.

Baekhyun tanpa sadar menggigit bibir dalamnya. Entah karena betapa menawan pria itu baginya, atau karena kewalahan dengan detak jantungnya sendiri.

"Selamat atas album pertamamu," kata pria itu, mengulurkan buket di tangannya pada lelaki mungil yang juga mengenakan jaket dengan warna senada dengan stelan si pria tinggi sebagai kostum panggungnya.

Hangat mulai merambati wajah. Untuk ke sekian kalinya dihadapkan dengan pria yang sama, Baekhyun masih menemukan rasa gelitik yang juga sama di perutnya.

Chanyeol tersenyum geli. Ucapan selamat itu sengaja diucapkannya dengan formal bak seorang penggemar pada idolanya. Lagipula, sudah berkali-kali kalimat serupa terlontar untuk sang penyanyi di waktu-waktu mereka bersama. Namun kali ini, tentu saja ia ingin melakukan itu di lagi di waktu yang tepat.

"Terima kasih." Menerima buket itu, Baekhyun mencicit. Oh, ia tidak bermaksud berucap sepelan itu. Hanya saja debaran di dadanya membuat ia kehilangan kontrol bahkan atas volume suaranya sendiri.

Dalam waktu yang singkat, sesuatu terlintas di kepala Baekhyun sembari tangannya merasakan betul buket yang ia genggam. Ia memantapkan diri, lantas mendongak. Berjinjit cepat mengecup sudut bibir sang direktur.

Mata bulat si pria tinggi membola. Sekilas sebelum ia mendengus geli. Tak menyangka dengan perlakuan menggemaskan itu.

"O-oh—" Selanjutnya giliran milik Baekhyun yang membola. Baru saja ingin berusaha menetralkan rasa malu akibat perbuatannya, matanya lebih dulu menangkap akibat dari ulahnya barusan.

Sedikit merah dari pemulas bibirnya meninggalkan bekas samar di sudut bibir Chanyeol.

Baekhyun refleks mengulurkan tangan. Menggunakan jemarinya untuk berusaha menghapus bekas itu.

"Chanyeol, bekasnya—"

Jemari itu ditangkap. Chanyeol sudah lebih dulu membaca situasi penyebab kepanikan Baekhyun. Ia tertawa kecil. Tentu ia tahu kecupan itu akan meninggalkan bekas.

Tanpa benar-benar berhasil melaksanakan niatnya membersihkan bekas itu, Baekhyun justru menerima kecupan juga di jemarinya yang ditangkap. Singkat, sebelum dibenahi oleh si tinggi agar saling menggenggam dengan miliknya.

Baekhyun mengembuskan napas. Sedikitnya bingung terhadap reaksi tubuhnya sendiri yang masih sedemikian gila untuk sosok sang direktur.

"Adikmu dan Manajer Do sudah menunggu," kata Chanyeol, sebelum menarik sang penyanyi agar mengikuti langkahnya menuju tempat reservasi untuk makan siang yang dijanjikannya. Nyaris Baekhyun memaksa untuk berbalik agar bisa mengucapkan terima kasih terakhir pada semua orang yang telah bekerja bersamanya hari ini, namun segera tersadar hanya tinggal mereka berdua di ruangan itu. Entah sejak kapan.

Ah, beberapa hal juga harus ia syukuri. Seperti hal itu tadi misalnya.

.

oOo

.

The Next Day, Second and Last Comeback Stage - 2.45 p.m.

Chanyeol berdiri di depan layar yang menayangkan langsung penampilan para bintang di studio tempatnya berada saat ini. Memantau dari belakang panggung. Dengan kedua tangan yang tersembunyi di balik saku celana, matanya tertuju langsung pada panggung gelap yang ditampilkan di layar. Tanda belum dimulainya penampilan.

Namun sosok itu sudah menampakkan siluetnya. Tinggal menunggu lampu sorot menyala dan terarah padanya, beriringkan title track dari album pertamanya yang akan dia bawakan.

Chanyeol menarik keluar ponselnya. Membuka mesin pencari.

Sesuai perhitungan. Berbagai headline berita dengan topik yang saling berkaitan merajai posisi atas pencarian nasional.

[Headline: Media Ungkap Hubungan CEO Agensi Hiburan Terbesar dengan Artisnya, Siapa?]

[Penyanyi Populer Pendatang Baru Jalin Hubungan Diam-Diam dengan Pemilik Agensi Tempatnya Bernaung]

Ia tersenyum miring. Headline yang payah. Artikel-artikel lain dengan judul lain pun tidak jauh berbeda.

Tapi, ini semua sesuai perhitungan.

Bergeser lagi ke peringkat berikutnya, Chanyeol menemukan nama lain yang turut terseret.

[Kim Jongin, Adik Solois Populer Byun Baekhyun yang Selama Ini Disembunyikan]

[Solois Byun Baekhyun Tutupi Identitas Sang Adik karena Disabilitas yang Dimilikinya]

Pria tua yang baru kemarin ia temui mungkin sedang mengamuk di ruangannya. Mengerahkan semua amunisi yang ia pikir ampuh dikeluarkan untuk menjatuhkan seseorang dengan membabi buta. Artikel-artikel dengan topik serupa dirilis di berbagai portal. Dengan cepat naik ke peringkat atas pencarian. Menampilkan foto-foto yang diambil diam-diam dengan efek blur seolah ingin menyamarkan identitas.

Mendecih, Chanyeol sedikit menyayangkan pula mengapa tidak ada sesuatu lain yang lebih besar yang pria itu lakukan dari sekadar melakukan hal remeh seperti itu semua.

Sebab Chanyeol memang tidak akan kembali untuk menarik pembatalan kerja sama itu. Dan inilah buahnya.

Tepat setelah itu sebuah pesan muncul di notifikasi. Menampilkan langsung isi singkatnya dengan nama pengirim bermarga Do. Sebuah pesan berisi konfirmasi.

Dengan itu, Chanyeol menekan satu angka yang langsung menghubungkannya pada seseorang.

"Rilis beritanya sekarang," pintanya.

Bak melawan arus, berita-berita lain dirilis. Di berbagai portal yang tak kalah besar.

Tak butuh waktu lama hingga topik-topik dalam peringkat tren pencarian dicampuri olehnya.

[CEO LOEY-Music Umumkan Hubungannya dengan Sang Penyanyi Pendatang Baru Byun Baekhyun]

Tidak ada penyamaran identitas. Semua dirilis sebagai pernyataan resmi.

[Emas Tersembunyi pada Sosok Adik Solois Byun Baekhyun: Talenta Sekelas Bintang]

Arus dunia maya terus bergerak. Diikuti ramainya forum-forum penggemar dan pegiat dunia hiburan.

[Tak Pernah Terekspos, Seperti Ini Hubungan Manis Byun Baekhyun dengan Adiknya]

Sementara itu, lampu sorot di atas panggung mulai menyala. Menampilkan sang penyanyi yang hari ini bagaikan bintang utama dengan riuh yang ia sebabkan.

[LOEY-Music Tak Bantah Berita yang Beredar, CEO Park dan Solois Byun Baekhyun Benar Terlibat dalam Hubungan Romansa]

Baekhyun mengambil langkah pertama dari koreografi. Mengikuti instrumen sebelum masuk bagiannya. Ia tahu bahwa mungkin detik ini, kekacauan sudah dimulai. Namun, ia memilih melanjutkan apa yang seharusnya ia lakukan.

Tampil dengan baik di atas panggung.

Di panggungnya kali ini, ia yakin dan percaya bahwa semua upayanya akan membawa hasil yang setimpal. Karena kemampuan, latihan, dan kerja kerasnya.

Tak peduli apa yang orang pikirkan tentangnya—juga tentang Chanyeol—ia akan maju dan tampil di atas panggung. Mengaktualisasi diri, mempertunjukkan apa yang pada dasarnya adalah hal yang membuatnya merasa hidup selama ini.

Sekaligus menyatakan bahwa bahkan seorang idola, berhak untuk memiliki kisah cintanya sendiri dan tetap bersinar di atas panggung.

.

.

Penampilan usai. Tak banyak waktu yang Baekhyun habiskan selepas mengucap terima kasih pada orang-orang di ruang ganti sebelum ia pergi meninggalkan gedung dengan dikawal banyak tenaga keamanan. Berusaha menerobos para pencari berita yang sudah memadati gedung. Luar dan dalam. Cukup sulit untuknya sampai ke bagian belakang gedung.

Sebuah mobil telah terparkir. Menunggu. Sama pula dikawal oleh banyak keamanan. Destinasi utama sang penyanyi yang akhirnya berhasil ia capai. Masih dibantu para petugas, pintu di samping kemudi dibuka. Baekhyun segera masuk ke dalamnya.

Seseorang di kursi kemudi yang tampak tenang di tengah situasi yang begitu kacau menoleh.

"Bagaimana menurutmu?"

Baekhyun menarik napas. Kemudian mengembuskan dengan pipi menggembung. Bibirnya mengerucut karena itu.

Meski tak jelas dikatakan, Baekhyun tahu apa yang pria itu maksudkan dengan pertanyaan itu.

"Rasanya.. jantungku berdetak ratusan kali lebih cepat," jawab Baekhyun. Ia melirik kembali ke mulut pintu tempatnya keluar barusan. Lantas bergidik membayangkan ia benar-benar baru saja melewatinya.

Ramai. Blitz berkelebatan. Penuh lautan manusia.

Chanyeol menyeringai. Seperti apa yang Baekhyun rasakan, ia pun demikian. Namun, dalam rupa yang lebih mirip dengan terpacu adrenalinnya.

"Let's go, then."

Pedal gas diinjak perlahan. Jalanan di depan dibukakan. Membiarkan mobil itu melaju, menjauh. Kian cepat meninggalkan gedung beserta hiruk pikuknya. Menuju destinasi yang ditetapkan, suatu tempat yang jauh dari itu semua.

.

.

Lebih dari dua jam perjalanan dihabiskan untuk mereka sampai di tempat tujuan. Baekhyun menikmatinya, namun ia tentu tidak bisa menghentikan pikiran yang terus bertanya-tanya tentang ke mana mereka menuju.

Chanyeol tidak bersedia memberi tahu. Pria itu terus saja melempar senyum penuh arti dan jawaban yang tidak sama sekali spesifik setiap kali Baekhyun mencoba menanyakannya.

Sedekat apapun mereka kini, rupanya Baekhyun masih belum mampu menghilangkan sisi submisif dalam dirinya jika itu sudah menyangkut Chanyeol. Bahkan untuk membujuk agar pria itu mau menjawab pertanyaannya pun, ia belum berhasil. Lagipula, tanpa sedikitpun upaya intimidasi, pria itu memang sudah terlalu mendominasi dengan kehadirannya.

Sore hari ini mereka melakukan satu hal paling pengecut sekaligus paling menyenangkan yang pernah mereka lakukan; melarikan diri.

Sebuah day-off yang sudah tercakup dalam rencana. Hanya satu malam, sebelum kembali pada kekacauan yang telah mereka buat.

Pintu di sampingnya terbuka. Baekhyun mengerjap. Ah, berapa detik ia habiskan hanya untuk larut dalam pikirannya sendiri? Tapi apa boleh buat, pemandangan bintang-gemintang di atas sana benar-benar mengundang untuknya melakukan itu.

Sang pria bersurai platina yang membukakan pintu untuk Baekhyun menunduk, menyunggingkan senyum menunggu sang penyanyi sempurna keluar dari dalam mobil.

Baekhyun sedikit merona dengan perlakuan itu. Ini terasa sedikit berlebihan untuknya. Seperti, ia seharusnya tak pantas diperlakukan demikian manis.

Embusan angin meniup anak-anak rambutnya yang hanya terpoles sedikit sekali hairspray dan tanpa tetek-bengek rias rambut lain yang biasanya diberikan untuk penampilannya.

Pemandangan dataran tinggi menyambut mata. Mobil diparkir di hadapan sebuah bangunan yang tampak hangat untuk dijadikan tempat singgah, kontras dengan udara dingin yang ada di luar sini. Dari tempatnya berdiri saat ini, ketika tubuh ia bawa memutar, Baekhyun bisa melihat titik-titik cahaya dari bawah sana. Memperjelas bahwa tempatnya berdiri saat ini berada ratusan kaki lebih tinggi.

Hangat yang menyelubungi bahu membuat Baekhyun menoleh. Kembali menghadap sang direktur yang masih pula memandangnya dengan senyum yang begitu menawan. Hanya berlatarkan lampu temaram di pekarangan tempat keduanya berpijak saat ini, Chanyeol bisa tampak begitu mengangumkan.

Atau mungkin hanya Baekhyun sendiri yang terlalu terpesona.

Pipi kembali merona. Malu ditatap seperti itu, sekaligus malu menyadari dirinya seperti benar-benar jatuh cinta pada pria ini hingga setiap hal tentangnya terasa begitu istimewa. Sepertinya suasana tempat ini benar-benar berkompromi mendramatisasi keadaan.

Baekhyun tak menyadari sebuah jas telah tersampir di kedua bahunya, melapisi jaket biru yang telah lebih dulu membalut tubuhnya.

"Kita bisa melihat pemandangan dari dalam," terang Chanyeol, sembari menutup pintu mobil dan mengambil telapak tangan Baekhyun untuk ia genggam. Menjelaskan bahwa mereka tidak bisa berlama-lama di luar untuk sekadar memanjakan mata.

Pria itu memimpin langkah. Baekhyun mengekor di belakang karena langkahnya yang jauh lebih kecil.

Melintasi pintu masuk, semakin jelas di penglihatan sebuah vila beraksen kayu yang sederhana dengan lampu-lampu temaram di dalamnya. Ukurannya tak terlalu besar. Selayaknya saja sebuah rumah untuk ditinggali sehari-hari. Cokelatnya warna kayu, ditambah sinar kekuningan dari lampu-lampu yang dipasang, menciptakan kesan hangat tak tertampik bagi siapapun yang singgah.

Tak terkecuali Baekhyun, yang bahkan dibuat hanyut hanya karena aroma yang memenuhi udara. Aroma yang mampu membuatmu lupa pada rasa lelah, pada hiruk-pikuk ibukota, pada sibuknya kehidupan dunia hiburan.

Singkatnya, Baekhyun merasa seperti pulang ke rumah. Meski tentu saja, kali ini bukan rumah yang biasa ia kunjungi.

"Apa kita akan menginap di sini?" Baekhyun bertanya antusias ketika tinggal sedikit anak tangga mereka naiki agar bisa sampai ke lantai dua.

Chanyeol refleks tertawa kecil mendengar betapa antusiasnya pertanyaan itu terdengar. Ia menggumam membenarkan.

Baekhyun tidak bisa menahan tarikan di kedua sudut bibirnya ketika lantai dua berhasil mereka sambangi. Tidak ada ruangan atau kamar terpisah di sana. Tepat ketika anak tangga habis, hanya ada satu ruang luas yang terisi berbagai macam barang. Sofa, pengeras suara dan beberapa alat musik seperti keyboard dan gitar di sudutnya, sebuah ranjang besar yang tampak nyaman, menghadap langsung ke kaca yang mendominasi salah satu sisi dinding ruangan itu.

Penataan yang aneh, tapi sekaligus seolah melambangkan kebebasan. Vila sederhana ini seperti memang khusus dibuat sebagai tempat singgah, ruang privat bagi siapapun yang akan menempatinya. Ya, kesan seperti itulah yang ditimbulkannya. Baekhyun tidak menyangka bahwa day-off spesial yang dijanjikan Chanyeol padanya melibatkan ini semua.

Baekhyun tanpa sadar melangkahkan kakinya menuju dinding kaca. Mendekatinya tanpa sekalipun teralih dari kerlap-kerlip yang tampak di baliknya. Dari bintang di langit, juga lelampuan di kota dari kejauhan.

Rasanya jauh. Seperti berada di tempat yang terasing dari semua itu. Tapi anehnya, Baekhyun menyukai sensasi itu.

"Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku datang ke sini." Suara berat dari sampingnya membuat Baekhyun menoleh. Chanyeol telah sempurna berdiri di sisinya, turut memandang jauh ke depan sana. "Ini pertama sejak sekian lama," katanya lagi. Kali ini, pria itu menoleh pada si mungil di sisinya.

Baekhyun mungkin akan merutuki dirinya sendiri jika seseorang memberitahu, bahwa pipinya lagi-lagi merona hanya karena tatapan yang diberikan sang direktur padanya. Sebab juga, jika ini pertama kali sejak sekian lama bagi Chanyeol, maka bagi Baekhyun, ini adalah pertama kalinya. Pertama kalinya memiliki seseorang seperti Chanyeol yang memperlakukannya seperti ini. Menatapnya seperti ini. Baekhyun merasa seolah tengah berada di dalam mimpi.

"Kita harus berbenah dan istirahat." Chanyeol memutus pandangan, meregangkan persendiannya yang sedikit kaku setelah seharian ini berkegiatan. "Kamar mandinya di sebelah sana," ia menunjuk sisian ruangan yang berseberangan dengan dinding kaca di depan mereka, "dan ada beberapa pakaian yang bisa digunakan di sana," tambahnya dengan menunjuk lemari di sisi ranjang.

Baekhyun mengangguk paham. Melipat bibir mengikuti arah yang ditunjuk Chanyeol.

"Chanyeol," panggilnya kemudian. "Terima kasih."

Sang pria tinggi bersilang tangan. Berdiri bersedekap. Sekilas memandang skeptik pada sang penyanyi sebelum kembali pada pemandangan di balik kaca. Sesungguhnya ia sedikit tak suka melihat Baekhyun masih juga sedikit menundukkan kepalanya saat berucap seperti itu padanya. Karena, astaga, mereka sepasang kekasih saat ini.

"Entahlah, sepertinya terima kasih saja tidak cukup," katanya.

Baekhyun yang tak menduga jawaban itu mengerjap. Sedikit khawatir dan tersadar kalau memang tidak akan cukup sebuah kata terima kasih untuk ini semua.

Chanyeol kembali menoleh. Mendapati sorot yang sedikit bingung dari kedua mata sipit itu. Ia terkekeh kecil dibuatnya.

Kedua tangan ia bawa ke sisi tubuh, lantas beralih menangkup sisi wajah sang penyanyi dengan salah satunya.

Sebuah kecupan kilat mendarat di pipi gembil itu. Diikuti senyum miring milik sang direktur hingga menampakkan lesung pipinya.

"Sudah kubilang untuk menghilangkan kebiasaan seperti itu," kata Chanyeol.

Baekhyun yang masih berada di tengah keterkejutannya mengangguk kecil, cukup menyadari kebiasaan lakuan formal itu kembali ia lakukan tanpa sengaja. Ketika Chanyeol berkata akan berbenah lebih dulu dan berlalu, Baekhyun masih berdiam di tempat.

Setelah semua yang telah terjadi di antara mereka, sebuah kecupan singkat di pipi rupanya masih bisa-bisanya membuat ia berdebar. Picisan sekali.

Ia menggeleng cepat-cepat. Tidak mau membiarkan pikirannya asik dengan rasa meletup-letup yang muncul di dalam dadanya. Dia tidak seharusnya bertingkah seperti remaja kasmaran seperti ini.

Satu jam lagi habis untuk keduanya berbenah. Berganti dengan pakaian paling nyaman yang bisa ditemukan. Oh, itu hanya sepotong kaus dan celana training, dua macam yang mendominasi isi lemari.

Baekhyun mengenakan yang paling kecil. Meski, tetap saja ukuran yang ada membuat tubuhnya tenggelam. Ia harus menggulung beberapa kali ujung celana sebelum keluar kamar mandi agar kakinya tak tersandung.

Keduanya kini duduk nyaman berbalut selimut di tengah-tengah kasur empuk yang menghadap langsung ke dinding kaca. Diterangi hanya oleh cahaya seadanya dari dinding kaca tersebut. Dengan Baekhyun bersandar pada Chanyeol di belakangnya, yang secara ajaib, membuatnya merasa sangat nyaman dan tenang meski baru beberapa waktu lalu ia dibuat berdebar tak keruan karena pria yang sama. Dia tidak tahu posisi yang diinisiasi oleh Chanyeol ini bisa mendatangkan begitu banyak nyaman seperti itu.

Tapi hal itu sedikit-banyak menyadarkannya, bahwa hubungan mereka tidak lagi sama seperti yang lalu-lalu.

"Jongin senang sekali dengan kamar tempatnya menginap," kata Baekhyun pelan.

Ia tidak begitu memperhatikan mengapa pikirannya harus memilih topik ini untuk memulai konversasi di antara mereka, namun nyatanya memang obrolan se-random ini yang keduanya cari. Tak peduli korelasi. Bebas dan terbuka.

"Katanya, kau pasti kaya sekali, menyewakan satu unit semewah itu hanya untuk waktu beberapa hari singgah," lanjut Baekhyun.

Chanyeol menggumam. Seakan sesuatu baru saja muncul di kepalanya begitu mendengar Baekhyun mengatakan itu.

"Haruskah kalian sungguhan pindah ke sana?"

Alis Baekhyun mengerut dalam. Matanya sekilas membola kala menoleh pada wajah Chanyeol di sisi wajahnya sendiri. Tak setuju. Ia lantas kembali menghadap ke depan dan meniupkan udara ke poninya.

"Tempat itu akan menghabiskan tabungan seumur hidupku," keluhnya.

Chanyeol menggumam lagi. Terdengar main-main.

"Kenapa harus membayar di tempat milik kekasihmu sendiri."

Baekhyun hendak menyahuti kembali, tapi ia terhenti. Mengerjap-ngerjap. Kembali menoleh pada Chanyeol dengan begitu clueless-nya.

"Huh.."

"Menurutmu kenapa gedung itu kuanggap aman untuk adikmu, atau kenapa gedung itu bebas dari jangkauan media?" tanya Chanyeol dengan nada menggoda. Melihat Baekhyun membeku dengan dua mata terbuka lebar-lebar, ia tak bisa menahan tawa.

"Memangnya semengejutkan itu, ya?" tanya Chanyeol lagi. Ia kemudian membenahi lengannya yang melingkari tubuh Baekhyun. "Karena rumah terlalu merepotkan, aku memilih tinggal di salah satu asetku."

Baekhyun tidak tahu harus bicara apa. Kata demi kata barusan itu meluncur dengan ringannya dari mulut Chanyeol. Seolah mereka tidak sedang membicarakan sebuah gedung apartemen mewah setinggi puluhan lantai.

Ia lantas mengembuskan napas yang tanpa sadar sempat tertahan, menyadari bahwa saat ini ia sedang berada dalam pelukan seorang Park Chanyeol. Seorang yang (dulu) ia panggil Tuan Park.

"Rasanya benar-benar belum terbiasa," gumamnya pelan.

"Hm? Kau mengatakan sesuatu?"

"T-tidak. Bukan apa-apa." Baekhyun menyahut cepat. Di sisi lain, Chanyeol tersenyum geli. Ia mendengarnya.

Kembali mereka memilih diam. Menikmati kenyamanan yang seperti tak bosan-bosannya meliputi.

"Uhm.. tentang adikmu," Chanyeol mengembuskan napas, kembali mengeratkan rengkuhannya.

Menyahuti dengan gumaman, Baekhyun menoleh. Menunggu Chanyeol melanjutkan.

"Aku terpikir untuk memasukkannya ke akademi di Bulgaria."

Baekhyun lagi terkesiap, "A-apa?"

"Hm?"

Yang lebih mungil merubah posisinya, tampak akan memutar untuk tidak sepenuhnya membelakangi prianya. "Kau tidak perlu—"

"Tidak, bukan begitu." Chanyeol memotong. Sekaligus menahan pergerakan Baekhyun. "Aku sedang bicara sebagai seorang dari industri ini, Baekhyun. Potensinya tidak bisa dibiarkan begitu saja." Ia melanjutkan. "Aku sudah melihat rekamannya. Manajer Do beberapa kali menunjukkan dan sulit berkata bahwa itu adalah talenta biasa."

Baekhyun masih bungkam. Belum tahu harus berkata apa. Ia baru mendengar soal Kyungsoo yang melakukan itu. Seketika, ia teringat tentang bagaimana adik remajanya itu memang senang menunjukkan kesukaannya pada seorang yang membuatnya nyaman.

Satu kecupan kilat di bibir Baekhyun membuat lelaki itu terhenyak.

"Hanya jika kau setuju," kata Chanyeol, mempertahankan jarak di antara wajah mereka pasca sebuah kecupan ia berikan di bilah bibir tipis itu. "Aku sudah mendiskusikannya dengan Manajer Do. Tentang potensi Jongin, tentang akan seperti apa ia menjadi jika saja ada di tempat yang tepat. Dan dia setuju untuk menjadi pendamping."

Bilah bibir Baekhyun terbuka. Masih belum menyesuaikan dengan apa yang baru didengarnya. Akhirnya mengatupkan bibir, ia lantas terdiam. Menjatuhkan pandangan ke lantai.

Terdengar menakjubkan bagaimana kesempatan untuk adiknya terbuka lebar-lebar. Membayangkan akan jadi sehebat apa Jongin menjadi nantinya, membayangkan akan sesenang apa adiknya itu bisa kembali mendapatkan kebebasannya untuk mengeksplor diri.

Tapi Baekhyun tak bisa begitu saja hanyut pada bayangan-bayangan yang demikian. Ada banyak pertimbangan untuk itu. Belum ada apapun langkah diambil namun ia telah lebih dulu mencemaskan adiknya.

Chanyeol tentu menyadarinya. Kebimbangan di kedua mata itu.

"Kita masih punya banyak waktu untuk bicara nanti. Dengan adikmu juga Manajer Do." Chanyeol menyudahi topik. Baekhyun, dengan segera menyetujui untuk membahas itu lain kali. Ia mengangguk.

"Sekarang istirahatlah," putus Chanyeol. Pria itu hendak melepaskan rengkuhannya agar mereka bisa bersiap untuk berbaring, namun terhenti oleh si lelaki yang kini menahan lengannya.

"Ng.. Aku.. ingin tetap seperti ini dulu," katanya. "Bolehkah?" Ia mendongak, meminta persetujuan.

Terkekeh kecil, Chanyeol mencuri satu lagi kecupan. Kali ini di pucuk hidung Baekhyun.

"Tentu."

Kembali hening yang terjadi. Ah, tidak. Kedua penghuni tempat itu memang terdiam, namun musik masih mengalun lembut dari pengeras suara di sudut ruangan.

"Oh.." Baekhyun terhenti ketika mendengar suara Chanyeol di lagu yang baru saja terputar menggantikan instrumen. Suara bass nan husky yang melantunkan lagu dengan lembutnya. Ada antusiasme yang kembali meletup karena itu.

"Ini versi demo dari lagu yang akan dirilis bulan depan," kata Chanyeol, menjelaskan lebih dulu tanpa diminta.

"Kau yang akan menyanyikannya?" Baekhyun menoleh, menatap Chanyeol yang telah sejak tadi mencondongkan dan menundukkan kepala demi bisa melihat lebih jelas wajah milik seseorang dalam rengkuhan.

"Ya."

Baekhyun tersenyum lebar. Senang mengetahui Chanyeol akan menyanyikan lagu ini. Ia menyukai melodinya. Senandung pelan tanpa sadar ia lantunkan mengikuti alunan musik yang baru pertama kali didengarnya ini.

You're better than just a singer,

when you're humming pop songs

"Apa judulnya?" tanya Baekhyun lagi. Tapi ia tak segera mendapatkan jawaban. Ia menoleh, berniat mengulangi pertanyaannya kalau-kalau Chanyeol tak mendengar. Namun repetisi pertanyaannya hanya berhenti di ujung tenggorokan. Terhenti oleh dua mata bulat yang tertangkap olehnya, menatap langsung kepadanya.

It's too loud here,

come a little closer

Ya Tuhan..

Di saat seperti ini, Baekhyun bahkan tak peduli dirinya benar-benar tampak seperti orang yang baru pertama kali jatuh cinta. Terpana oleh tatapan dari seseorang yang menjadi objek perasaan sukanya. Dia tidak peduli karena, sungguh ia berdebar oleh tatapan itu.

I can't take my eyes off you,

you shine too much

"Closer to You," Chanyeol akhirnya memberikan jawaban. Pelan. Hampir tak terdengar. Terseling hening dan lagu yang seakan berubah semakin sayup, seolah-olah waktu membiarkan keduanya saling merasa apapun itu yang muncul di masing-masing perasaan.

Tak lama, pria yang merengkuh mendekat. Meraih bilah bibir milik lelaki dalam pelukannya, mengecupi satu-satu dengan lembut. Dan dengan debum keras di dalam dadanya, Baekhyun memejamkan mata menerima itu semua.

Rasanya begitu menyenangkan. Bagi keduanya.

Mereka tak peduli ketika kecupan-kecupan itu berlangsung begitu lama. Seperti memiliki selamanya untuk itu semua. Setelah berakhir, dua pasang mata kembali bertemu. Baru saja kembali membuka.

Baekhyun menjadi yang pertama mengalihkan pandangan. Balik menatap dinding kaca dan pemandangan di baliknya. Ia menggigit bibir. Malu.

Sekian waktu yang berlalu kemudian habis untuk keduanya hanyut dalam hening. Bukan canggung, namun sekadar menikmati ketenangan, sayup-sayup alunan musik yang masih terputar dengan volume kecil, juga intimasi yang inginnya semakin mereka buat dekat dan nyaman.

"Chanyeol," Baekhyun akhirnya memanggil. Memecah hening yang sesungguhnya amat membawa kenyamanan.

"Hm,"

"Kenapa memilih tempat ini?"

Perlahan dagu yang sejak tadi bertengger di bahunya terangkat. Cukup lama dengungan tanda berpikir terdengar sebelum disusul jawaban dari sang empunya.

"Tempat ini bebas dari eksposur," katanya dengan begitu ringan. "Di sini, aku dan juga kau, bisa melakukan apapun yang dimau."

Baekhyun terdiam. Bukan karena ia berusaha mencerna, justru sebaliknya.

Baekhyun, entah bagaimana mengerti apa yang Chanyeol maksudkan. Di sini, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tidak ada media yang akan memaksa mengekspos kehidupan mereka hingga ke akar-akar, tidak ada tuntutan khalayak untuk mereka menjadi seperti ini dan itu, tidak ada ekspektasi yang dibebankan. Tidak ada siapapun yang menghakimi.

Tidak ada Presiden Direktur Park dan Solois Byun, melainkan Park Chanyeol dan Byun Baekhyun saja. Hanya ada mereka. Sebagai diri mereka sendiri.

Dan mungkin juga, sebagai dua orang biasa yang saling jatuh cinta satu sama lain.

Tak banyak lagi waktu yang mereka habiskan dalam posisi itu. Chanyeol memutus percakapan segera setelah mendengar Baekhyun menguap. Pria itu meraih remote untuk menghentikan lagu yang masih terputar.

"Sayang sekali," kata Baekhyun, ketika mereka telah berbaring berhadapan dengan Chanyeol yang merengkuhnya, membuatnya berhadapan langsung dengan dada pria itu. Berbagi hangat dari selimut yang sama.

"Hm? Apanya?"

"Pemandangan di sini bagus sekali. Sayang sekali harus tidur secepat ini."

"Mm-hm.." Seolah setuju Chanyeol menggumam, lagi mengeratkan pelukannya pada si mungil. Ia memang separuh setuju, sisanya, tidak. Mereka hanya singgah sesaat di sini. Baekhyun baru saja melakukan penampilan panggungnya dan masih ada banyak hal untuk ditangani esok hari. Ia ingin Baekhyun mendapatkan tidurnya yang cukup.

Dan ia tidak suka pada kalimat Baekhyun barusan, sebab tentu mereka memiliki banyak kesempatan lain untuk menghabiskan lebih banyak waktu di sini.

"Kau harus istirahat," kata Chanyeol, mengecup lembut puncak kepala Baekhyun. "Mengerti?"

Baekhyun membuat satu garis lurus pada bibirnya. Lantas segera mengangguk patuh. "Mengerti," sebuah kikikan singkat, "—sajangnim."

Chanyeol tertawa. Sekali lagi mendaratkan kecupan. Kali ini dengan sedikit gemas. Menyamankan posisi mereka, ia mulai memejamkan mata.

"Selamat tidur."

Baekhyun turut menyamankan kepalanya. Menyusul membawa mata memejam.

"Selamat tidur, Chanyeol."

"Baekhyun,"

"Ya?" Baekhyun kembali membuka matanya separuh. Suara yang keluar sedikit serak karena rupanya ia nyaris saja langsung benar jatuh terlelap.

Kedua mata bulat milik yang lebih tinggi tahunya tidak lagi terpejam. Masih cukup segar untuk membuka lebar-lebar. Netra itu menerawang. Sedikit terbawa oleh pikiran yang melayang.

Memiliki Baekhyun dalam pelukannya, membuatnya ingin—ingin sekali—menyuarakan satu hal lain yang sedang ia simpan untuk diungkapkan nanti setelah semuanya selesai.

Namun saat ini keinginan untuk tetap menyimpannya hingga saat itu tidak begitu berguna. Ia ingin sekali melakukannya saat ini juga.

Maka ia nekat mengatakan.

"Menikahlah denganku."

Itu hanya dua kata. Dilontarkan dengan suara pelan nyaris seperti bisikan. Tapi, begitu luar biasa dampaknya bagi yang lain.

Baekhyun kehilangan napasnya untuk sesaat. Ia tidak peduli pada fakta bahwa kalimat itu menginterupsi lelapnya. Ia hanya mampu terfokus seketika pada jutaan perasaan lain yang menghujan.

"C-chanyeol.."

"Aku tahu tidak seharusnya aku mengatakannya dengan cara seperti ini," lanjut Chanyeol. "Akan kulakukan sebagaimana mestinya nanti. Tapi untuk saat ini, aku hanya ingin mengatakannya padamu."

Atas sebuah alasan yang ia sendiri tak tahu, Baekhyun merasakan haru mulai berkumpul di pelupuk matanya. Jantungnya berdetak dalam bahagia.

Tidak pernah terpikir sebelumnya oleh Baekhyun, bahwa seseorang akan benar-benar mengucapkan hal semacam itu untuknya. Seorang yang sama ia sukai juga.

Ia mendongak. Bertanya dengan kalimat yang kacau, "Chanyeol.. kau.. sungguh?"

Chanyeol merunduk. Berusaha membuat mata mereka bertemu.

Pria itu menarik satu tangan yang sebelumnya ia gunakan untuk memeluk, memindahkannya untuk menangkup sebelah pipi Baekhyun. "Setelah semua ini, aku akan menikahimu. Bukankah itu sudah jelas?"

Menggigit bibir bawahnya, Baekhyun bungkam. Sebab tidak demikian yang ia pikir. Ia belum berani bahkan untuk sekadar berangan tentang itu.

Namun ia beringsut cepat. Menggeser membuat sejajar kepalanya dengan yang lebih tinggi. Dan tanpa berpikir, menekan bibir pria itu dengan miliknya. Satu, dua detik. Kemudian melepasnya. Kembali menenggelamkan diri di dada pria itu.

Ia mencicit, "Aku menunggu."

Baekhyun memilih percaya. Pada dirinya untuk pantas berharap, juga pada Chanyeol dengan kata-katanya.

Satu kecupan terakhir Chanyeol bubuhkan di kepala Baekhyun. Merasa setiap napasnya kemudian menjadi lega karena ia hanya perlu membuat resmi semuanya nanti. Telah tuntas mengungkapkan.

Untuk malam ini saja, mereka akan menghabiskan malam dengan damai berdua. Sebelum kembali esok hari, menghadap kepada dunia.

.

oOo

.

Inevitable ending [n.] an end of something that is certain to happen

.

fin.

.

.

Untuk Direktur Park dan Solois Byun, semoga bahagia selalu. Cerita kalian dari saya berhenti sampai di sini.

Heheheh.. Hello? Udah basi belum ya fic ini?

So.. yeah, Blinded officially ended here. I'm very sorry for taking this long just to give y'all a simple ending chapter like this. As I (always) said before, this is my first time to write long-fic. Ternyata susah banget sampe habis 3 semester saya kuliah /sobbing/ Saking nggak biasanya nulis yang terlalu panjang sayatu.

Trivia about this fic: Idenya muncul cuma karena satu stage UN Village baekhyun di exploration. Baek bersinar banget di atas panggung. I mean, makinmakinmakin bersinar lebih dari era sebelum2nya. Kayak, keliatan bener2 terlahir buat jadi bintang. Saya jadi mikir, gimana kalo ada pemilik agensi lain yang ngeliat 'cahaya'nya baek dan punya keinginan jadiin baek idol di bawah naungan agensinya? Hahaha dari situ langsung tanpa pikir panjang saya ketik ceritanya, dan jadilah fic ini. Mweheheheheh. Selain itu, saya ada terpikir soal struggle apa aja yang idol alami untuk bisa keliatan demikian bersinar di atas panggung. Bukan cuma baek atau exo aja. Tapi semua idol. Pasti ada banyak rahasia, beban, jatuh-bangun, dan sekian struggle lain yang nggak ditunjukin di atas panggung. Ah, pokoke banyak banget dasar pemikiran(?) fic ini. Huhu maaf ya jadi curhat gini, padahal nggak ada yang tanya asal-usul ide cerita Blinded. Maaf maaf.

Terakhir, thank you, thank you very much udah mau baca cerita sederhana ini, ya. Kata2 penyemangat, compliment, kesan atas ceritanya, fav, follow, semuanya, makasih banyak. Semoga kalian sehat selalu, dan diberikan kebahagiaan seperti yang kalian beri ke saya.Heheh.

Special mention for skyofbbh | ChanBaek09 | KlyJC | bbaekhyunfans | ByunBaeChiecy | oktaaa | lightdelight | Nitha Gaemgyu | channieraa | chanbaekboo614 | Fatihah Kim | jinahyoo | Lucyanaa | Guest614 | Kenzoevaa | freakeness | Indriyn | anotherplanets | Jiell | restikadena90

Uhm.. anyone noticed that baekhyun and jongin have different family name? .he/

See ya/?