Ochobot melayang tanpa tenaga. Wajah digitalnya menunjukkan ekspresi khawatir. Ruangan yang telah dihias sedemikian rupa terlihat suram dengan tubuh orang-orang yang bergeletakan. Power sphera itu terbang menghampiri mereka dan menggoyangkan salah satu dari banyak tubuh tersebut.

"K-kalian tidak apa-apa?"

Erangan lemah membalas suara elektronik yang terdengar khawatir. Kejadian ini benar-benar di luar rencana. Entah di mana letak kesalahan mereka sehingga keadaan yang seharusnya dihindari malah terjadi.

Ochobot melihat kepingan kue kering yang terjatuh. Tampilan yang terlihat lezat itu hanya tergigit di bagian ujung. Power sphera dengan dominasi warna kuning itu memberi pandangan takut pada kue kering tersebut seolah camilan kecil itu mematikan.

Makanan yang terbuat dari bahan dengan rasio tidak masuk akal itu merupakan penyebab dari semua kejadian ini. Ochobot tidak tahu bagaimana keadaan di luar melihat dalangnya dengan riang gembira mengejar yang lain untuk memberi bungkus kue kering yang telah disiapkan jauh-jauh hari.

"Aku tidak tahu harus menyebut misi ini gagal atau sukses."


Cookies © LiTFa

BoBoiBoy © Monsta

Language : Bahasa Indonesia

Rating : T

Genre : Comedy, Friendship

Warning : Typo, Canon, No Romance, click "back" if you don't like the story.

Dedicated for Our Gravity Queen's Birthday. Let's Fly Together with Another Fun Adventure Stories.


Yaya itu bisa memasak.

Masakannya secara mengejutkan mempunyai rasa yang normal, enak malah. Bisa dibilang rasa masakan gadis penyuka merah muda itu setara dengan masakan ibu. Memiliki ciri khas dan tiada tandingannya.

Namun, itu hanya berlaku pada makanan "biasa".

Semua orang tahu bahwa rasa kue kering buatan Yaya tidak ada yang bisa menandinginya. Setiap gigitan yang terkandung dalam kue kering itu akan membuat siapapun melayang hingga ke langit ke tujuh. Secara nyata.

Karena itu, keempat remaja yang tengah berkumpul bersama sebuah power sphera ini berdiskusi dengan wajah serius. Seakan-akan nyawa mereka dipertaruhkan pada hasil diskusi tersebut.

"Kita harus membuatnya sibuk sampai Yaya tidak sempat untuk memikirkan kue keringnya."

Remaja bertubuh paling besar di antara teman-temannya itu menyatakan pendapatnya dengan wajah ketakutan. Dia merinding setiap kali mengingat bentuk kue kering yang indah, cantik, dan terlihat lezat itu tidak sesuai dengan penampilannya.

"Berarti peranku sudah ditentukan ya," kata remaja perempuan berpakaian serba kuning.

"Tolong ya Ying, kamu paling dekat dengan Yaya," remaja laki-laki bertopi merasa tidak enak menyerahkan sebagian besar inti dari masalah mereka.

Ying tersenyum cerah, "Haiya, kenapa wajahmu seperti itu? Di antara kita yang paling dekat dengan Yaya adalah aku jadi itu wajar-wajar saja. Setidaknya aku bisa memudahkan kalian mendekor ruangan dan mempersiapkan makanan bersama Bu Wawa tanpa khawatir Yaya akan membuat biskuit."

"Aku akan membantu Ying mengalihkan perhatian Yaya semenjak aku hanyalah robot yang tidak memiliki indra perasa," power sphera dengan sukarela mengajukan diri.

Keempat remaja itu mengangguk setuju. Setidaknya ada yang membantu Ying jika dia dalam kesusahan.

"Lalu?"

Tiga remaja dan satu power sphera itu mengalihkan perhatian ke Sang Pengendali Bayang.

Membenarkan kacamata agar terlihat keren dia berbicara, "Kita sebut apa misi ini?"

Empat makhluk itu saling bertatapan, "Bagaimana dengan Distraction Cookies Operation? Kita bisa menyingkatnya menjadi DisCO."

Usulan dari remaja bertopi itu mendapat reaksi yang bagus. Kata "disko" berkaitan dengan pesta meskipun hal tersebut tidak masuk dalam pesta ulang tahun teman mereka.

"Itu terdengar keren," komentar remaja yang paling tua dalam kelompok mereka.

"Jika operasi itu gagal kita benar-benar akan "berdisko" karena rasa kue kering buatannya," ucap remaja yang pakaiannya didominasi oleh warna ungu. Kalimatnya disetujui oleh teman-temannya.

Remaja bertopi jingga itu tersenyum puas, "Itu memang arti dari operasi ini jika kita gagal."

Kesepakatan telah tercapai. Mereka berlima mengangguk secara bersamaan. Misi ini tidak boleh gagal kalau mereka masih ingin nyawa masih melekat pada raga.

"Kalau begitu, misi DisCO dimulai!"


5 Agustus.

Itu adalah tanggal lahir gadis yang memiliki kekuatan pengendali gravitasi tersebut. Setiap tahun keluarga dan teman-temannya merayakan untuk menunjukkan rasa syukur karena telah dilahirkan ke dunia. Meskipun terkadang perayaan tersebut tidak bisa dilaksanakan karena bertepatan dengan tugasnya sebagai Pahlawan Galaksi.

Gadis itu biasa dipanggil Yaya. Kekuatan pengendali gravitasi yang ia dapat dari power sphera bernama Ochobot dapat membuatnya mengangkat beban seberat apapun dengan mudah. Hal itu memudahkannya untuk menolong orang yang sudah menjadi sifatnya sebelum memiliki kekuatan super.

Yaya merupakan gadis yang lembut sampai-sampai dia meminta maaf pada musuhnya ketika terlalu berlebihan menggunakan kekuatannya untuk menyerang. Bisa dibilang itu menjadi salah satu celah yang dapat dimanfaatkan oleh musuh jika Yaya mudah terpedaya oleh akting mereka.

Selain kuat, baik hati, dan tegas, Yaya memiliki hobi memasak. Dia selalu membantu ibunya memasak ketika pulang ke bumi atau memiliki waktu luang saat libur.

Memasak kue kering merupakan salah satu kegiatan yang paling Yaya sukai. Dari kecil, gadis yang pakaiannya dominan warna merah muda itu gemar memasak kue kering dan dengan senang hati membagikannya pada teman-teman maupun warga di sekitar Pulau Rintis.

Yaya begitu heran dengan setiap wajah orang yang selalu memasang ekspresi takut ketika dia membagikan kuenya. Namun Yaya tidak memikirkannya ketika mereka mengatakan enak pada kue kering buatannya yang membuat hatinya senang meskipun wajah orang tersebut perlahan menjadi pucat.

Karena itu dia tidak akan berhenti membuat kue kering untuk membahagiakan orang-orang yang ada di sekitarnya.

Namun, ketika Yaya berencana pergi ke swalayan untuk membeli bahan kue kering karena dua hari lagi hari ulang tahunnya tiba, sekelompok orang membuat keributan.

Yaya berpikir mungkin keributan tersebut hanyalah masalah antara pelanggan tapi ia berubah pikiran saat orang-orang tersebut membawa senjata dan menyandera salah satu pelanggan. Perempuan itu secara reflek melepaskan kekuatannya ke arah orang-orang jahat tersebut.

"Gravitasi Pemberat!"

"Ugh! Apa ini? Siapa yang melakukannya!"

Salah satu orang dari kelompok penjahat itu berteriak. Tubuh mereka terasa berat hingga tidak bisa berdiri seolah-olah gravitasi menarik mereka.

"Itu aku. Beraninya kalian membahayakan orang-orang ini."

Masih fokus pada Gravitasi Pemberat yang dia arahkan ke para penjahat, Yaya kembali mengeluarkan kekuatannya untuk menyelamatkan orang yang menjadi sandera. Yaya dengan cekatan memberi perintah untuk segera keluar dari swalayan agar dia dapat fokus pada para penjahat tanpa harus mengkhawatirkan orang yang bisa saja menjadi korban.

"Kau…! Aku yakin pernah melihat kau di suatu tempat."

"Oh benarkah? Maaf tuan-tuan aku tidak ingat bahwa kita pernah bertemu."

"Bos, bukankah dia termasuk kelompok remaja yang memiliki kekuatan super itu?"

Salah satu anggota kelompok penjahat itu sepertinya tahu siapa Yaya. Itu merupakan hal wajar karena informasi tentang sekelompok remaja berkekuatan super telah tersebar di berbagai media. Singkatnya, Yaya dan teman-temannya terkenal di seluruh penjuru dunia, tidak, itu sudah mencapai galaksi sekarang.

"Ah! Bos, dia salah satu teman bocah laki-laki yang selalu menghalangi aksi kita!" salah satu bawahan yang memiliki tubuh lebih kurus di antara penjahat itu berseru.

Penjahat yang memiliki tubuh paling pendek itu mengamati wajah Yaya. "Benar juga kau Robert! Aku ingat sekarang. Lagi-lagi kau menghalangi kami hah?!"

Yaya heran dengan tiga penjahat yang terlihat mengenalnya. Tidak biasanya para penjahat mengenalnya ketika rata-rata mereka hanya mengetahui salah satu temannya yang selalu memakai topi, BoBoiBoy.

"Hei, kita kan saling kenal. Bagaimana kalau kau hilangkan kekuatanmu? Tubuh besarku ini makin bertambah berat dan rasanya susah untuk bernafas. Juga, bukankah tenagamu berkurang banyak memakai kekuatanmu terus-menerus?" tawar penjahat yang memilik tubuh paling besar di kelompok tersebut.

Rasa kasihan sempat terlintas di benak Yaya namun dia menguatkan hatinya. Yaya beralih melihat sekitarnya, sebagian besar pelanggan swalayan telah keluar.

"Aku tidak terlalu banyak memakai kekuatanku karena kalian termasuk manusia biasa. Tolong jangan berlebihan dan tenanglah sampai polisi datang," kata Yaya sambil mengeluarkan smartphonenya. Dia memilikinya karena tidak semua teknologi bumi dapat menerima komunikasi lewat powerband.

Yaya juga tidak memanggil teman-temannya melihat kejadian ini bisa ia tangani sendiri dan penjahatnya merupakan manusia biasa bukan alien atau manusia super lainnya.

"Ah, dengan Kepolisian Pulau Rintis? Saya menangkap tiga orang penjahat. Sepertinya mereka mau merampok swalayan. Saya masih menahan mereka di sini, tolong segera datang. Iya, tempatnya ada di…"

Yaya dengan cekatan menjelaskan apa yang terjadi dan memberitahu alamat swalayan pada polisi ketika panggilan tersambung. Tidak lama kemudian suara sirine mobil polisi terdengar bersama dengan Ying dan Ochobot yang datang terburu-buru ketika melihat kerumunan di depan swalayan. Mereka baru saja berlari mencari Yaya di berbagai toko untuk mencegahnya membeli bahan kue kering.

"Oh? Bagaimana kalian bisa tahu aku di sini? Aku tidak memanggil kalian."

Ying membenarkan kacamatanya dan mengambil napas sejenak sebelum menjawab pertanyaan teman sekaligus rivalnya tersebut. "Kebetulan aku sedang jalan-jalan bersama Ochobot lalu melihat swalayan ini begitu ramai. Lalu aku melihat mobil polisi yang berhenti di tempat ini jadi kami kira ada hal buruk yang sedang terjadi," jawabnya yang sebagian ucapannya merupakan kebohongan.

"Ini sudah selesai saat kalian melihat polisi datang."

"Sepertinya begitu. Kenapa kamu tidak menghubungi kami? Akan berbahaya bila musuhmu alien kuat atau orang yang kebetulan memiliki kekuatan power sphera," tanya Ochobot.

"Untungnya mereka manusia biasa, kamu tidak perlu khawatir Ochobot. Hal ini terjadi secara mendadak dan aku begitu khawatir dengan para pelanggan sampai lupa untuk menghubungi kalian. Maaf ya."

Yaya tersenyum lemah yang beruntungnya berhasil menahan amarah kekhawatiran kedua temannya.

"Karena kamu baik-baik saja kami akan maafkan. Lain kali pastikan untuk memberitahu kami."

"Mungkin aku akan mencoba memberi tambahan sistem notifikasi saat kalian mengaktifkan kekuatan jadi kejadian semacam ini bisa diketahui dengan cepat."

"Maaf membuat kalian berdua khawatir."

Mereka bertiga kemudian melihat ketiga penjahat telah dimasukan ke mobil tahan oleh polisi dan menyadari langit sudah gelap. Swalayan pun telah kembali beroperasi seolah kejadian perampokan itu tidak pernah ada.

Ying merenggangkan tubuhnya, "Bagaimana kalau kita pulang? Ini sudah hampir waktunya makan malam."

"Ah… kalian pulang saja dulu, ada yang harus kubeli."

Ying dan Ochobot dapat menebak apa yang akan dibeli oleh Yaya. Mereka kemudian dengan cepat memutar otak untuk mencari alasan agar dapat mencegah temannya itu membeli bahan-bahan tersebut.

Gadis pengendali waktu itu mengeluarkan smartphonenya, "Ah Halo? Ya Bu Wawa? Yaya ada bersamaku sekarang. Pulang? Baik Bu."

Bersamaan dengan benda kotak itu masuk ke saku, Ying dan Ochobot masing-masing memegang lengan Yaya. "Sepertinya kamu harus cepat pulang Yaya. Ibumu menyuruhmu untuk segera pulang karena sudah waktunya makan malam."

"Eh? Itu dari ibuku? Tapi aku tidak dengar nada dering handphonemu."

"Dah, dah benar kata Bu Wawa. Kamu harus cepat pulang Yaya, tidak baik keluar malam-malam," Ochobot mengabaikan kalimat Yaya dan menarik temannya itu bersama Ying menjauh dari swalayan.

"Tapi bahan kue ker—"

"Haiya, itu bisa kapan saja. Kasihan Bu Wawa di rumah menunggumu, masakannya nanti akan dingin."

"Eh? Eeeh? Tunggu. Ini penting…"

Yaya pada akhirnya hanya bisa pasrah ditarik oleh kedua temannya menuju ke rumahnya. Mau tidak mau dia membatalkan rencana belanjanya dan berpikir untuk membelinya besok. Sedangkan Ying dan Ochobot memikirkan rencana untuk menghalangi Yaya membuat kue kering.


"Ah, pagi Yaya," BoBoiBoy menyapa teman perempuannya berjalan dengan cepat ketika sedang menjaga toko Tok Aba.

"Pagi BoBoiBoy," Yaya kembali menyapa BoBoiBoy dengan senyuman manisnya.

"Kamu terlihat terburu-buru. Mau kemana?"

"Mau ke swalayan, bahan untuk membuat kue kering masih kurang aku ke sana untuk membelinya."

"Urk— k-kue kering?" BoBoiBoy mencoba mengendalikan ekspresi wajahnya.

"Ya… kamu tahu kalau besok hari ulang tahunku kan? Aku mau membuat kue untuk kalian dan orang-orang yang mungkin datang ke rumah."

"BoBoiBoy, kamu dipanggil Tok Aba untuk membantu— oh, pagi Yaya. Mau kemana pagi-pagi gini?"

Ochobot yang baru saja bergabung untuk memanggil BoBoiBoy menyapa Yaya yang juga membalas sapaan power sphera tersebut.

"Pagi juga Ochobot, mau ke swalayang membeli bahan kue."

"K-ku— ah, BoBoiBoy kamu dipanggil Tok Aba. Beliau butuh bantuan dari salah satu kekuatan elementalmu."

"Lalu siapa yang akan jaga toko? Sebentar lagi pelanggan yang kemarin akan datang membayar pesanannya dan itu terlalu banyak untuk menanganinya sendiri."

Ochobot yang mengerti maksud sebenarnya ucapan dari kalimat BoBoiBoy langsung mengikuti arus. "Tapi Tok Aba butuh bantuanmu secepatnya dan toko tidak mungkin ditutup. Ini masih pagi."

Kedua makhluk yang hubungannya hampir sudah seperi saudara itu membuat wajah kesusahan. Mata mereka secara diam-diam melihat Yaya untuk memastikan ekspresi yang terpasang di wajah gadis berhijab tersebut. Mereka mencoba memanfaatkan sifat menolong milik Yaya untuk menawarkan diri membantu mereka.

BoBoiBoy dan Ochobot tahu ini perbuatan yang tidak baik namun, mereka melakukan ini untuk kebaikan warga Pulau Rintis yang mungkin saja menjadi calon korban "kelezatan" kue kering buatan gadis pengendali gravitasi tersebut. Dalam hati BoBoiBoy dan Ochobot kata maaf berulang kali diucapkan.

"Um…"

Oh? Apakah mereka berhasil melempar umpannya?

"Kamu bisa pergi BoBoiBoy, sepertinya Tok Aba benar-benar butuh bantuanmu. Aku akan membantu Ochobot sebisaku."

Tertangkap!

Wajah BoBoiBoy berbinar, cahayanya begitu silau hingga Yaya melindungi penglihatannya dengan salah satu tangannya.

"Benarkah? Apa kamu tidak keberatan? Yaya harus ke swalayan kan?"

"Y-ya… kamu bisa pergi BoBoiBoy. Ini masih pagi jadi aku punya banyak waktu untuk mempersiapkan kuenya."

"Terima kasih Yaya! Aku mengandalkanmu. Seharusnya ini tidak memakan waktu banyak, aku pergi dulu ke Tok Aba."

Remaja pengendali elemental itu menatap Ochobot. Memberi sinyal untuk mempertahankan situasi ini yang dibalas dengan kedipan dan tanda ok di tangannya.

"Oke, hati-hati BoBoiBoy."


Gagal.

Rencana Yaya untuk membeli bahan kue terpaksa harus dibatalkan karena dia tidak menyangka toko Tok Aba begitu ramai ketika matahari mencapai di atas kepala.

Melihat BoBoiBoy yang kesusahan meskipun sudah berpecah tujuh membuat sifat penolong Yaya berkobar dengan kuat. Bahkan Gopal dan Fang yang kebetulan mampir ikut membantu.

KokoTiam sebegitu ramai sampai kekurangan tenaga, bahkan sebagian pelanggan rela berdiri untuk mengantri membeli minuman spesial buatan Tok Aba.

Warna langit sudah menggelap ketika mereka menutup KokoTiam. Tubuh Yaya sangat lelah hingga ia terpaksa kembali menunda rencananya pergi ke swalayan.

"Maaf teman-teman… aku gak tahu bakal terjadi hal seperti ini. Tok Aba tiba-tiba terkena encok dan pelanggan tiba-tiba membludak. Kalian sampai membantuku hingga toko tutup."

Itu menjelaskan kenapa Ochobot kembali secara terburu-buru tadi.

"Tidak apa-apa BoBoiBoy."

"Aku kasihan melihatmu begitu kewalahan melayani pembeli. Hitung-hitung menambah kepopuleranku mumpung banyak orang yang datang ke sini."

"No problem! Kau hanya perlu memberiku Hot Chocolate Special gratis."

BoBoiBoy tertawa kecil. Meskipun sama-sama kelelahan, teman-temannya tahu bahwa tenaga BoBoiBoy lebih terkuras daripada mereka karena dampak berpecah tujuh. Itu dibuktikan dengan pakaian BoBoiBoy yang basah dan keadaan rambut lepek karena keringat.

"No comment, Fang. Gopal tenang saja, tidak hanya kamu tapi kalian semua akan mendapatkannya secara gratis."

Mereka bertiga diam sejenak untuk menurunkan rasa lelah yang tak kunjung reda.

"Ah, bukankah kamu akan ke swalayan Yaya? Aku benar-benar minta maaf menahanmu di sini sangat lama."

BoBoiBoy meminta maaf secara tulus tentang merepotkan teman-temannya dan dengan sengaja menghalangi Yaya untuk pergi ke swalayan. Tentu saja Yaya tidak mengetahui maksud dari kata maaf milik BoBoiBoy selain meminta maaf karena membuat dirinya terjebak di KokoTiam.

"Ah… tidak jadi. Aku benar-benar lelah sekarang. Sepertinya aku memakai bahan yang sudah ada di rumah."

BoBoiBoy diam-diam melakukan selebrasi dengan kepalan tangan bersama Fang dan Gopal atas pencapaian mereka mencegah Yaya membeli bahan-bahan kue kering. Mereka bertiga tinggal memikirkan masalah bahan yang tersisa di rumah Yaya. Keramaian yang terjadi di KokoTiam merupakan sebuah keberuntungan yang membantu mereka untuk menghalangi Yaya dari segala hal yang berhubungan membuat kue kering meskipun itu benar-benar menguras habis tenaga mereka.

Senyuman sendu milik Yaya membuat ketiga teman laki-lakinya merasa tidak enak hati. Mereka harus melakukan itu untuk kebaikan orang banyak. Tidak ada pilihan lain.

Sekali lagi. Mereka tidak ingin menjadi korban "kelezatan" kue buatan gadis berhijab merah muda tersebut.

"A-ah… maaf aku benar-benar merepotkanmu."

"Tidak apa-apa BoBoiBoy. Sungguh. Aku membantumu murni keinginanku sendiri."

Gopal dan Fang mengangguk setuju pada kalimat Yaya. Ekspresi tidak enak hati milik BoBoiBoy sedikit berkurang kemudian berubah senyuman yang ia buat seceria mungkin. Dia tidak punya tenaga untuk menarik sebuah senyuman sehingga harus dipaksakan.

"Aku akan membuatkan minumannya sekarang untuk kalian bawa pulang, Anda ingin memesan apa pelanggan? Kebetulan sekali kami ada promo gratis 1 beli 2."

Teman-teman BoBoiBoy menanggapi candaannya dengan senyuman tak bertenaga.

"Dey! Promomu itu memaksa para pelanggan membeli 2 minuman. Tolong Hot Chocolate Special satu," Gopal menanggapi gurauan sahabatnya.

"Maksudmu beli 2 gratis 1 kan? Ice Chocolate Special untukku."

"Aku sama seperti Fang."

BoBoiBoy segera mengenakan celemek mendengar pesanan para sahabatnya. "Ok, mohon tunggu sebentar. Pesanan Anda akan segera dibuatkan."


Ptas!

"SELAMAT ULANG TAHUN YAYA!"

Yaya yang baru saja bangun dari tidurnya terkejut melihat teman-temannya berada di rumah. Dia baru akan ke kamar mandi untuk mencuci muka dan kejutan para sahabatnya membuat nyawanya langsung penuh.

"Ap— ini masih pagi untuk melakukan sebuah kejutan teman-teman."

Yaya mengeluh meskipun wajahnya terlihat senang. Teman-temannya tersenyum cerah menanggapi keluhannya.

"Aiya… mau pagi atau malam kejutan tetaplah kejutan ma. Mau tiup lilin?" Ying memberi kue yang sudah terhiasi dengan lilin ke depan Yaya.

"Aku akan cuci muka dulu."

"Tiup dulu saja Yaya, lilinnya akan segera meleleh," Ochobot mendesak Yaya. Sangat disayangkan bila kue yang indah terkena lelehan lilin.

"Cuci muka urusan belakang. Cepat tiup lilinnya jadi aku bisa segera memakannya."

Keempat remaja itu langsung menatap datar Gopal yang antusias, mempertanyakan siapa yang ulang tahun hari ini.

"Oi, yang ulang tahun Yaya bukan kau. Kenapa malah kamu yang bersemangat?"

"Ey, kamu sendiri juga tidak sabar untuk memakannya kan? Aku melihatmu terus memandangi donat lobak merah di meja tadi."

Wajah Fang memerah. Saat dia akan membalas ucapan Gopal, BoBoiBoy menghentikan mereka.

"Sudahlah, jangan isi hari spesial Yaya dengan pertengkaran unfaedah kalian. Kalian menarik perhatian yang lainnya juga."

Beberapa orang yang diundang memandangi kelompok Yaya dengan tatapan gemas melihat pertengkaran kecil antar sahabat. Mereka hampir melupakan kehadiran tamu undangan lainnya.

"Lupakan dua orang bodoh itu dan tiuplah lilinnya, Yaya."

Yaya akhirnya meniup lilin ketika Ying kembali menghadapkan kue tart padanya. Tepukan tangan langsung membanjiri Yaya bersamaan dengan doa agar dirinya berumur panjang dan selalu sehat. Yaya langsung berterima kasih kepada mereka yang mendoakannya lalu pamit untuk membersihkan dirinya.

Ini kejutan yang tidak Yaya sangka. Dirinya malu memperlihatkan wajah bangun tidur yang kusut, untungnya Yaya memakai hijab sebelum keluar dari kamarnya yang menjadi sebuah kebiasaan sehingga rambut layaknya diterpa badai itu tidak terlihat.

Pesta ulang tahun kemudian berlanjut, hadiah yang Yaya terima menumpuk di belakangnya. Sebagian hadiah itu berasal dari penggemar luar kota yang mengirimnya lewat pos. Itu merupakan hadiah terbanyak yang pernah Yaya terima selama ini.

Ketika Yaya melihat nampan yang seharusnya berisi kue kering telah habis segera menggantikan dengan kue kering yang baru.

Salah satu tamu undangan mengambilnya kemudian menggigit ujung kue kering tersebut. Tubuh tamu undangan itu tiba-tiba terhuyung sebelum terjatuh diikuti dengan tamu yang lain.

Para sahabat Yaya yang terkejut langsung menghampiri salah satu tamu undangan tersebut. Wajah mereka pucat namun mulut mereka tersenyum.

"Ini…!"

Ying yang mengetahui salah satu dari gejala yang ada pada tamu undangan itu terkesiap tidak percaya sedangkan Ochobot segera melakukan scanning pada kue kering yang digigit tamu tersebut.

"Kue kering Yaya!" Ochobot dan Ying berseru secara bersamaan.

Kumpulan remaja itu terkejut, "Apa?!"

"Bagaimana bisa?!" adalah yang dipikirkan oleh para sahabatnya. Mereka yakin sudah menghalangi Yaya untuk membeli bahan kue, menyembunyikan bahan kue ketika membantu Bu Wawa mendekorasi ruangan, mengganti kue kering yang akan dihidangkan para tamu dengan kue kering buatan BoBoiBoy Taufan, dan segala macam hal agar mereka bisa terlepas dari kue menge— kue imut yang mematikan itu.

Gopal menangis keras-keras, "Tamat sudah hidup kita."

"Aku dan Ochobot sudah berusaha keras menghalangi Yaya dan kalian sempat membantu kami kan? Kita pasti melewatkan sesuatu."

Ying memutar otaknya, mencari apa yang mereka lewatkan. Tidak mungkin Yaya bisa membuat kue kering ketika mereka dengan ketat mengawasi Yaya.

"Huh? Kenapa mereka semua tertidur? Aku baru saja membuat sirup manis."

Pelaku dari kejadian itu keluar dari dapur sambil membawa nampan dengan gelas yang berisi sirup. Mata kelima makhluk tidak fokus pada gelas namun keranjang yang berisi penuh bingkisan.

"Um… Yaya?" BoBoiBoy memberanikan diri untuk bertanya.

"Ya BoBoiBoy, ada apa?"

Tangan BoBoiBoy menunjuk pada keranjang Yaya, "Itu… a-apa?" suaranya tanpa dia sadari tergagap.

"Ini?" Yaya menatap keranjangnya, senyum merekah pada wajah cantiknya. "Kue kering buatanku. Beberapa hari sebelum undangan pesta ulang tahun disebar aku membuat kue dengan resep berbeda. Aku penasaran dengan rasanya jadi aku berencana memberinya kepada kalian."

Rasa penasaran kelompok superhero itu terjawab.

"Kenapa kamu tidak coba dulu sebelum mengorbankan kami?"

"Sebenarnya aku tidak ingin memberi kalian ini, ada resep baru yang ingin aku coba tapi aku tidak sempat untuk membeli bahannya. Ah, ngomong-ngomong, kue kering yang ada di meja itu sama dengan kue kering yang ada di bingkisan ini. Sepertinya rasanya enak melihat mereka tertidur dengan senyuman."

"Mereka sedang dalam perjalanan menuju langit ke tujuh bukan tertidur!"

"Kalian mau?" Yaya menawarkan kue keringnya pada teman-temannya.

"A-ah, sepertinya Appaku memanggil tadi. Aku akan pe—"

"Coba rasakan dulu sebelum pergi. Aku jamin rasanya enak," dengan senyuman Yaya memasukan kue ke mulut Gopal yang kebetulan terbuka.

Rasa yang tidak dapat dijelaskan menjelajahi lidah Gopal dan tubuhnya bergetar hebat sebelum pingsan dengan senyuman karena saraf yang tidak bisa dikendalikan.

Melihat apa yang terjadi pada Gopal, teman-temannya yang lain secara perlahan berjalan mundur.

"O-Ochobot…"

Tanpa perlu penjelasan lanjut, Ochobot menganggukan kepalanya. BoBoiBoy mempercayakannya untuk menjaga tubuh-tubuh yang tergeletak di seluruh rumah yang jika dilihat sekilas akan menampilkan adegan pembunuhan besar-besaran seperti di film-film.

"Y-Yaya. Tiba-tiba aku teringat titipan Nenekku. Aku akan pulang dulu, sekali lagi selamat ulang tahun ya!" Ying langsung berlari kencang tanpa memberi kesempatan pada kedua temannya yang lain.

"E-eh? Tunggu! Ying!" panggilan Yaya tidak berguna karena temannya yang memiliki kekuatan manipulasi waktu itu sudah berlari sangat jauh.

"Sudahlah, aku bisa mengejar Ying nanti. Sekarang giliran kalian, Gopal keburu tidur sebelum aku menanyakan rasanya. Bagaimana kalau kalian mengatakannya padaku menggantikan Gopal?"

Kalimat Yaya terdengar seperti ancaman bagi Fang dan BoBoiBoy. Kedua remaja laki-laki itu saling menatap, berdebat dalam diam bagaimana untuk melarikan dari situasi ini.

Fang tiba-tiba mendorong BoBoiBoy ke depan menghadap Yaya.

"Oh? Apa kamu mau mencobanya terlebih dahulu BoBoiBoy?"

"F-Fang! Sialan ka—"

"Harimau Bayang! Cepat pergi!" Fang melarikan diri dengan kekuatannya sebelum BoBoiBoy mengeluarkan protes.

"Kenapa Fang juga ikut pergi? Padahal aku ingin membagikannya pada kalian semua."

"U-um… mungkin lain kali Yaya. Aku harus membantu Tok— urk!"

BoBoiBoy tidak bisa melanjutkan kalimatnya ketika Yaya mulai mengeluarkan wajah memelas. Tangan gadis yang memegang kue kering itu berhenti tepat di depan mulut remaja bertopi tersebut.

"Tidak baik untuk menolak pemberian orang apalagi teman dekatmu BoBoiBoy…"

Gawat. Tangan BoBoiBoy dengan sendirinya menerima kue kering meskipun bergetar hebat. Dia tidak memiliki resistensi terhadap wajah memelas teman berhijabnya itu. Ditambah lagi rasa tidak enak menolak pemberian yang ia tahu bahwa orang yang memberikannya kue tersebut butuh usaha untuk membuatnya.

"T-terima kasih Yaya… hiks," BoBoiBoy tanpa sadar menangis. Entah meratapi nasib atau mengutuk kebodohannya yang tidak bisa menolak wajah imut milik temannya tersebut.

Yaya tersenyum cerah, "Sama-sama, tidak usah menangis BoBoiBoy. Nah… makanlah. Aku ingin tahu pendapatmu."

Ochobot merasa kasihan pada teman pengendali elementalnya tersebut dan berdoa untuk keselamatannya yang diambang garis.

BoBoiBoy melihat kue kering yang cantik dan "lezat" tersebut. Dia menelan ludah dengan kasar mengetahui kehidupannya mungkin akan berakhir di sini.

"Mari gigit saja sedikit terus beri respon seperti biasanya."

BoBoiBoy menutup mata ketika menggigit ujung kue kering yang keras. Dia memerlukan usaha hanya untuk menggigitnya sedangkan Yaya menatap BoBoiBoy secara antusias.

Krauk!

BoBoiBoy menelannya dengan susah payah. Rasa yang melebihi jangkauan lidah makhluk hidup manapun kini memenuhi indra perasanya. Ototnya tiba-tiba menegang dan saraf yang ada di tubuhnya tidak terkontrol.

"Bagaimana BoBoiBoy?"

Berusaha untuk tidak mengeluarkan isi perutnya BoBoiBoy tersenyum sambil berkeringat dingin. Dengan susah payah dia mengeluarkan suaranya, "E-enak. Aku rasa Fang akan sangat senang dengan kue ini."

Mata Yaya berbinar, "Benarkah?"

Karena tidak ada tenaga untuk berbicara, BoBoiBoy mengangguk. Senyumannya masih terpasang di wajahnya.

"Kalau begitu aku akan menyusul mereka berdua dan membagikannya. Aku pergi dulu BoBoiBoy."

BoBoiBoy mengantarkan kepergian temannya dengan lambaian tangan. Dia kemudian mematung, tidak bergerak sama sekali. Hal itu membuat Ochobot khawatir.

"Kamu tidak apa-apa BoBoiBoy?" tanya power sphera tersebut ragu-ragu.

Tidak ada jawaban dari teman dekatnya tersebut. Kekhawatirannya bertambah sehingga Ochobot menghampiri BoBoiBoy untuk memeriksa keadaannya.

"BoBoiBoy?"

Wajah BoBoiBoy tersenyum, namun kulitnya begitu pucat hingga menyamai warna kulit mayat. Tubuh BoBoiBoy oleng secara perlahan sebelum tangan Ochobot menyentuhnya.

Power sphera itu melayang tanpa tenaga. Melihat ke dalam dan ke luar rumah secara bergantian. Misi DisCO berakhir secara tragis dengan menimbulkan korban yang begitu banyak.

Ochobot tidak tahu apakah misi ini gagal atau berhasil. Mereka berhasil membuat kejutan namun gagal dalam mencegah Yaya untuk membuat kue kering.

"Mission failed successfully."

[COOKIES – END]


NB :

I know it's late but, Happy Birthday Our Queen!

2021.08.12