Summary : Kisah Naruto Uzumaki, seorang anggota pasukan elit Ranger AD Amerika Serikat yang sangat mecintai Negara nya, suatu hari ia ditugaskan ke Ukraina sebagai pasukan perdamaian, disanalah ia bertemu seorang Wanita yang kelak akan mengisi hatinya.
Warning : Military Topic, Konten kekerasan.
Di sebuah ruangan yang luas dan megah tampak seorang Pria dengan pakaian bak seorang Raja sedang duduk di singgasananya yang berlapis emas dan berlian, di sekeliling Pria tersebut terdapat para wanita cantik bak bidadari yang sedang menghiburnya dan menggodanya. Selain itu juga terdapat puluhan pelayan yang sedang sibuk kesana kemari untuk melayani permintaan sang Pria yang juga merupakan majikan mereka tersebut.
"Wahahahahaha" suara tawa mengelegar di dalam ruangan yang luas tersebut.
"Tambah lagi yang banyak Hahahahaha!" Teriak seorang Pria berambut kuning pada para hambanya yang kini sedang menuangkan minuman Anggur pada cawan besarnya, sesekali ia tertawa keras, Minuman Anggur memang rasanya nikmat sekali, apalagi kau meminumnya bersama dengan para bidadari bidadari cantik yang dengan setia terus menghiburmu dengan berbagai atraksi yang dapat mereka berikan.
"Kau mau makan ini tuanku?" tanya salah seorang bidadari tersebut pada sang Pria berambut kuning, Naruto, bidadari tersebut tampak menawarkan semangkuk Mie Ramen berkuah kental kecoklatan dengan tumpukan potongan daging sapi ekstra diatasnya. Harum dari Ramen yang kelihatannya lezat tersebut langsung memenuhi indra penciuman Naruto yang memang sensitif terhadap makanan makanan sejenis Ramen.
"TENTU!" balas Naruto lantang, sedetik kemudian Ramen tersebut sudah berpindah dari tangan bidadari itu ke tangan Naruto. Kemudian Naruto mulai mengambil sumpit dan bersiap menyantap Ramen yang dari tadi sudah menggugah seleranya itu.
"SELAMAT MAK-"
'Bruaaakkk' tepat sebelum Naruto memasukkan helaian Ramen tersebut ke dalam mulutnya, pintu masuk menuju singgasananya telah didobrak dengan paksa oleh seorang berbaju zirah berambut merah, wajah orang itu juga ditutupi oleh helm zirah yang menutupi hampir selruh bagian kepala dan wajahnya dan hanya menyisakan bagian belakangnya kepalanya yang tidak tertutup sehingga menampilkan rambut panjang berwarna semerah darah tersebut berkibar kibar karena tertiup angin. Orang itu lalu membuka helm Zirahnya, menampilkan wujud asli dirinya yang sebenarnya.
"KAU!" tuding Naruto ke arah orang itu, "UZUMAKI KUSHINA!" lanjut Naruto setelah melihat wujud asli orang yang telah berani mendobrak masuk ke ruangannya tersebut. Siapa yang tidak kenal Uzumaki Kushina? Seorang Wanita yang telah membela Rakyat kecil dari penindasan yang dilakukan Raja zalim seperti Naruto, sudah berulang kali Naruto mengirim pembunuh bayaran kelas tinggi untuk membunuh Kushina, namun selalu saja Kushina berhasil lolos dan membunuh semua pembunuh bayaran yang Naruto kirimkan untuk membunuh Kushina. Inilah yang membuat Naruto seringkali merasa cemas akan kelangsungan kekuasaannya sebagai Raja, terancam karena adanya Pahlawan di mata Rakyat seperti Kushina.
"MINATO, HABISI DIAA!" perintah Naruto pada Jenderal kepercayaannya, Minato Namikaze untuk menghabisi Kushina mumpung Kushina hanya menyerang seorang diri.
'Craasshh' suara tebasan pedang Minato terdengar cukup keras menghujam tubuh orang didepannya. Ya, dia menebas tubuh Naruto dengan pedang panjangnya, membuat Naruto tersungkur tak berdaya ke arah lantai dengan kondisi perut terbuai.
"Brengsek, kenapa kau menyerangku MINATO!" umpat Naruto pada Minato, Minato sendiri hanya tersenyum simpul kemudia menggandeng tangan Kushina untuk mendekat ke arah Naruto yang sedang memandang mereka dengan tatapan terkejut dan marah, Naruto tak menyangka bahwa Minato tega mengkhianatinya dengan bekerjasama bersama Kushina untuk menyerangnya.
"Aku muak denganmu dan segala tindakan kejimu itu Naruto!" ucap Minato dengan amarah meluap luap. "Kau bahkan tega membunuh adikku hanya karena ia pernah berteman dengan Kushina-chan" lanjut Minato sambil menekan bagian perut Naruto yang terluka dengan kakinya, membuat Naruto berteriak kesakitan. Naruto memang sering memerintahkan prajuritnya untuk membunuh orang orang yang dianggap dekat dengan Kushina agar menimbulkan rasa bersalah di diri Kushina, namun ia tak menyangka bahwa adik Minato adalah salah satu teman dekat Kushina. Tapi karena rasa paranoidnya semakin besar maka ia tetap memerintahkan pembunuhan terhadap adik Minato. Tentu saja tanpa sepengetahuan Minato.
"Ne, Minato-kun, sebaiknya kita langsung saja habisi dia, toh aku sudah muak melihat wajah menyebalkannya itu!" usul Kushina pada Minato yang langsung disetujui olehnya "Kau benar Kushina-chan, hitung hitung juga sebagai balasan atas kematian adikku" sambung Minato pada Kushina, kini ia dan Kushina telah mengeluarkan pedang mereka masing masing untuk mengeksekusi Naruto.
"MATI KAU!" teriak Minato dan Kushina bersamaan sembari menghujamkan Pedang mereka ke bagian jantung Naruto. Naruto yang sudah kehilangan banyak darah pun hanya bisa pasrah.
"AAAARRRGGGHHHH" teriak Naruto setelah kedua ujung pedang tersebut menembus jantungnya, pandangannya gelap, hanya suara Tawa kemenangan Minato dan Kushina yang bisa ia dengar.
"Aaaaarrrggghhhh" Naruto yang baru sadar dari mimpi buruknya tersebut langsung melompat ke arah samping ranjang tempat ia tidur, tentu saja membuat ia langsung terjerembab ke lantai dengan tidak elit nya.
"Sial mimpi macam apa itu barusan?" tanya Naruto pada dirinya sendiri. dia masih ingat betul isi mimpi buruknya barusan, ia bermimpi menjadi seorang Raja dan tengah bersenang senang kemudian ibu dan ayahnya menyerangnya ketika ia lengah dan kemudian memutuskan untuk membunuhnya dengan pedang. Tepat setelah pedang milik ibu dan ayahnya menusuk jantung Naruto ia langsung terbangun dari mimpi buruknya tersebut.
"Naruto, ada apa, kenapa kau berteriak teriak tadi?" Kushina memasuki kamar Naruto saat mendengar Naruto berteriak di Kamarnya, ia sendiri langsung memasuki kamar putranya dengan membawa pisau dapur di tangannya, Kushina sendiri sedang memotong sayuran sebelum pergi ke kamar Naruto.
Naruto yang sedang dalam kondisi setengah sadar dari mimpi buruknya tadi langsung bergidik ngeri melihat pisau yang dipegang oleh ibunya, ia pun langsung mundur ke arah dinding kamarnya hingga ia terpojok. Sementara Kushina mengernyit bingung melihat tingkah Putranya yang seolah sedang melihat Hantu atau Monster mengerikan.
"Kau ini kenapa Naruto? Kenapa samapai ketakutan seperti itu?" Kushina melangkahkan kakinya mendekat ke arah Naruto untuk meminta penjelasan putranya tersebut. Naruto yang semakin merasa terancam berinisiatif untuk mencari sesuatu benda yang bisa ia gunakan sebagai senjata, ia kemudian mengambil sebuah bantal kapuk keras yang sudah berdebu di kolong ranjang dan berniat melemparnya kearah Kushina.
"Enyah kau pemberontak brengsek!" teriak Naruto yang masih belum sepenuhnya sadar dari mimpi buruknya tersebut, melempar bantal kapuk keras dan berdebu itu dengan tenaga penuh kearah Kushina dan sukses mengenai, -wajah Kushina dengan telak hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.
Hening
Beberapa detik kemudian Naruto sudah sepenuhnya pulih dari mimpi buruknya baru menyadari bahwa wanita di depannya bukanlah Kushina seperti yang ada dalam mimpinya, melainkan Kushina yang merupakan ibu kandungnya sekaligus wanita yang paling ia sayangi di dunia ini. Dan ia dengan bodohnya melempar bantal kapuk ke wajah ibunya karena merasa terancam dengan pisau yang dipegang ibunya saat masuk ke dalam kamar.
"A-ah ibu, aku tidak sengaja melempar ibu dengan bantal aku minta maaf!" ucap Naruto sambil bersujud dan membungkukkan badan di depan ibunya, meminta ampun kepada sang ibu. "Aku mengalami mimpi buruk dan mengira ibu adalah musuh yang mau membunuhku" lanjut Naruto sambil terus meminta ampun pada Kushina.
Kushina sendiri hanya tersenyum, walaupun wajahnya kini penuh debu dan mempunyai bekas merah akibat dilempar bantal kapuk oleh Naruto. "Tidak apa Naruto, ibu bisa memaklumi kok, setiap orang pasti pasti pernah mengalami mimpi buruk kan?" balas Kushina sambil mengelus surai kuning Naruto dengan lembut, membuat Naruto terharu dan kemudian memeluk ibunya tersebut dengan erat.
"Ne, apakah kamu sudah berdoa sebelum tidur semalam, Naruto?" tanya Kushina pada Naruto yang kini sedang menikmati elusan tangan Kushina pada rambut kuning jabriknya.
"Aku lupa bu, habisnya kemarin aku lelah sekali setelah menonton TV bersama ayah" balas Naruto sambil terus menikmati elusan tangan Kushina di rambutnya, namun setelah itu elusan tangan Kushina berubah menjadi jambakan keras yang membuat Naruto memekik pelan.
"Aduh bu, itu rasanya sa-" ucapan Naruto terpotong saat ia melihat ibunya tersenyum kejam sambil menjambak rambutnya,tangan ibunya yang satu lagi tampak siap melakukan jitakan maut andalannya ke putra semata wayangnya tersebut. Kemana perginya sang ibu yang lembut dan keibuan tadi? Kenapa yang terlihat sekarang malah sosok iblis menyeramkan yang siap mencabut nyawa seseorang? Naruto sama sekali tidak mengerti.
"ITU SEBABNYA KENAPA KAU BISA MIMPI BURUK, DASAR ANAK BODOOOHHH!"
'DUAAAAKKKKK'
"AARRRRGGGHHHHH" teriak Naruto yang membahana sampai ujung komplek.
"HAHAHAHAHAHA, benar begitu Naruto?" tanya Minato sambil tertawa pada Naruto yang kini tengah duduk di meja makan dengan lesu, di kepalanya terdapat 2 benjolan besar hasil 'kreasi' ibunya tadi. Sedangkan sang Ibu kini tengah menghidangkan sarapan berupa bacoon dan telur pada Minato dan Naruto. Minato sendiri masih tertawa geli ketika mengetahui bahwa Naruto bermimpi Ia dan Kushina membunuh Naruto dengan menggunakan pedang, sangat konyol tentunya.
"Lagipula kau ini sudah dewasa, masa bermimpi seperti anak anak?" lanjut Minato sambil menyesap kopi paginya sedikit, sementara Naruto hanya memandanginya dengan tatapan jengkel, ia merasa bahwa ayahnya baru saja menyamakannya dengan anak kecil yang masih sering bermimpi di luar logika dan akal sehat alias berkhayal.
"Ayah mau kemana? Ini kan hari libur, semua perwira harusnya diberi cuti hari ini" tanya Naruto berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Ia juga heran kenapa ayahnya memakai seragam dinas militernya padahal hari ini hari libur Nasional, ada urusan segenting apa sampai ayahnya harus pergi bekerja di hari libur Nasional, apakah negara dalam keadaan bahaya? Sebelum pikirannya berfantasi kemana mana sang ayah menjawab pertanyaannya.
"Ayah ada rapat di Pentagon mengenai usulan pengiriman pasukan perdamaian ke Ukraina, situasi disana sedang memanas katanya, apalagi ada wacana pengiriman pasukan Ranger dan Marinir ke Ukraina untuk mengamankan situasi Politik yang sedang kacau. Oh ya, mungkin Ayah akan pulang malam, jangan keluyuran dulu ya, jaga ibumu" jawab Minato sambil memasukkan potongan baccon terakhir ke mulutnya lalu segera bergegas berangkat. Tak lupa ia memberi salam dan mencium kening istrinya sebelum berangkat menuju Washington DC.
Setelah ayahnya berangkat, Naruto masih setia duduk di meja makan, jawaban ayahnya mengenai wacana pengiriman pasukan Ranger ke Ukraina sebagai pasukan penjaga perdamaian atau Peacekeeper Force membuatnya menjadi senang sekaligus khawatir. Ia merasa senang karena jika memang Ranger akan dikirimkan ke Ukraina maka ini bisa menjadi ajang pembuktian Naruto sebagai seorang Kapten dari kompi Ranger untuk menunjukkan hasil dari latihan dan pembelajarannya di Akademi Militer West Point. Namun di satu sisi ia juga khawatir, lebih tepatnya ia takut, tentu saja ia hanya seorang Manusia yang masih takut bila berurusan dengan kematian. Ia takut jika ia mati sebelum mampu menyelesaikan misi, ia takut mengecewakan Ayah dan Ibunya. Ia takut bakal kehilangan anggota tim nya. Dan berbagai rasa takut lainnya.
"Naruto, ibu sudah siap, ayo kita pergi ke Gereja sekarang!" ucapan sang Ibu membuyarkan lamunannya tenatng pengiriman pasukan Ranger ke Ukraina. tidak ingin Ibunya menunggu lebih lama ia segera mengganti bajunya dan segera mengeluarkan mobilnya dari Garasi lalu bergegas pergi ke Gereja sebelum Misa dimulai.
Dan sekarang disinilah Naruto, duduk di bangku urutan kedua dari belakang lebih tepatnya dekat dengan pintu utama Gereja, sementara sang Ibu tengah berganti pakaian di ruang ganti petugas Liturgi karena Kushina bertugas sebagai Lektor. Sebelum berganti baju Kushina pada Naruto agar tidak tidur saat Pastur membawakan Injil. Ya Naruto gak bisa jamin sih, namun dia berusaha untuk tidak tidur, toh ia belajar dari pengalaman sang Ayah yang sudah bolak balik dipukul menggunakan Alkitab oleh Kushina, karena tertidur saat mendengarkan Injil dari Pastur.
Sudah 15 menit berlalu dan kini Kushina naik menuju Podium diatas Altar untuk menunaikan tugasnya sebagai Lektor yaitu membacakan warta Tuhan. Jika Kushina yang menjadi Lektor maka satu Gereja akan langsung bersikap tegap dan mendengarkan warta Tuhan yang disampaikan Kushina dengan serius. Hal itu karena pembawaan Kushina yang begitu enerjik dalam membawakan warta Tuhan membuat jemaat lain ikut tertular semangatnya.
"Ibuku memang luar biasa" kata Naruto pelan sambil memandangi ibunya yang masih sibuk membacakan warta Tuhan di podium.
Jalanan kota Seatlle tampak sepi, mungkin karena ini hari libur nasional sehingga banyak orang yang memutuskan untuk liburan ke daerah pedesaan ataupun ke daerah wisata Nasional seperti San Diego Zoo atau ke Monumen Nasional AS di Washington D.C. Naruto mengemudikan mobilnya seperti biasa, padahal jalanan benar benar kosong, hanya ada beberapa mobil yang lewat dari arah berlawanan, namun untuk arah menuju rumah orang tuanya, benar benar kosong. Ingin rasanya Naruto mempercepat laju kendaraannya, namun Ibunya yang cerewet itu tidak akan mengizinkannya melaju diatas kecepatan 80km/jam.
"Oh ya Naruto, Ibu tidak masak hari ini, bagaimana kalau kita makan diluar? Kushina bertanya pada Naruto, memang saat Minato tidak ada di rumah ia lebih suka membeli makanan di luar. Selain lebih praktis, makan di luar adalah salah satu bentuk refreshing bagi ibu rumah tangga sepertinya, apalagi umurnya yang sudah menginjak angka 45 tahun, tentu ia membutuhkan jalan-jalan agar pikirannya tidak stress.
"Ibu, ini hari libur Nasional, mana mungkin ada Restoran yang buka pada hari ini?" balas Naruto
"Ada kok, kita ke tempat langganan Ayah dan Ibu saja, disana pasti buka, nih sudah ibu tandai di Map Car" Kushina lalu menunjukkan lokasi Restoran langganannya dan suaminya itu di layar touchscreen di Dashboard mobil mereka. Sementara Naruto ikut saja perkataan ibunya, toh ia juga lapar.
Honda CRV yang dikemudikan Naruto pun langsung melesat menuju Restoran yang ditunjukkan Ibunya di MapCar tadi.
Dan disinilah Naruto dan Kushina, duduk di salah satu bangku dekat Jendela Restoran langganan keluarganya- Tenten's Restaurant. Sebuah Restoran yang konon selalu buka hampir setiap hari karena sang pemilik selalu memiliki semangat muda yang membara, aneh memang, apa hubungannya membuka Restoran setiap hari dengan semangat muda membara sang pemilik. Naruto benar benar tak habis pikir.
"Selamat datang pelanggan mau pesan ap- ,Woah Naruto sedang apa disini!" Pelayan berambut model mangkok itu terkejut ketika melihat Temannya datang ke Restoran tempat ia bekerja saat ini.
"Mau main catur-, ya mau pesan lah lee!" balas Naruto keki,bagaimana ia bisa lupa kalau Restoran yang saat ini dikunjunginya merupakan milik keluarga teman dekatnya, tapi tunggu perasaan nama Restorannya dulu bukan ini deh, dulu kan namanya Gai's Chinese Restaurant. Kok bisa berubah nama menjadi Tenten's Restaurant?
"Nama Restoran ini sudah berganti sejak 1 tahun yang lalu Naruto, ayahku menyerahkan aset Restoran ini pada kakak ku yang bernama Tenten, masa kau tidak tau? Padahal kau kan sering lewat sini kalau berangkat ke West Point dulu." Lee yang seakan dapat mengetahui pikiran Naruto pun langsung menjawab dengan Naruto belum bertanya sama sekali.
"Naruto, kau itu jahat sekali, kau sering lewat sini dan lupa dengan Restoran milik keluarga teman terdekatmu? Ibu saja yang jarang keluar masih ingat dengat Restoran ini walaupun namanya berganti." Sindir Kushina. Naruto pun semakin jengkel, kenapa seolah olah ia merupakan sosok yang paling bersalah disini, padahal wajar saja ia tak tahu kalau Restoran ini berganti nama, Lee saja tak pernah memberitahu dirinya saat di Barak maupun di Pos Militer tempat ia bertugas.
"Ah jangan terlalu menyalahkan Naruto, Nyonya Kushina, ngomong ngomong anda mau pesan apa?"
"Ah, aku pesan Spaghetti bolognese dengan Seafood, untuk minumnya aku pesan Lemon ice Tea saja" Kushina mulai memesan makanan duluan.
"Kalau anda mau pesan apa Tuan?" goda Lee pada Naruto. Kushina terkikik geli melihat Naruto digoda oleh temannya tersebut.
"Daging ikan Paus kasih saus Mayo" Balas Naruto, dia juga berniat mengerjai Lee "Harus ada, kalau gak ada Paus aku pergi dari sini." Ucap Naruto dengan ekspresi datar, namun diam diam ingin ngakak melihat respon Lee.
"Mau yang dibakar atau digoreng Naruto?" tawar Lee dengan tatapan serius, kau sudah pesan jadi tidak boleh ditolak.
"Tu-tunggu, memang ada menu Paus disini?" Naruto mulai berkeringat dingin ia kan hanya ingin bercanda. "hoi Alis tebal, batalkan saja pesanannya aku Cuma bercanda kok" lanjut Naruto.
"Aku juga bercanda kok Naruto, HAHAHAHAHAHAHA/HAHAHAHAHAHA" Kushina dan Lee langsung tertawa ngakak melihat ekspresi kebingungan Naruto. Sedangkan Naruto langsung pundung di pojokan setelah tahu bahwa ia baru saja dikibuli oleh Lee dan Ibunya sendiri. 'Awas ya kau Alis tebal, akan kubalas kau besok', ucap Naruto dalam Hati.
"Ya sudah, pesanannya samakan saja Lee" ucap Kushina pada Lee setelah melihat Naruto yang masih shock karena sudah 2 kali berturut turut jadi korban tipuan dan godaan Lee, sedangkan Lee langsung mencatat pesanan mereka dan kembali ke dapur untuk membantu sang kakak memasakkan Menu yang telah mereka pesan.
"Kau mau kemana Naruto?" tanya Kushina saat melihat Naruto beranjak dari tempat duduknya
"Cari Toilet bu." Balas Naruto singkat, namun sebenarnya ia ingin membalas kejahilan si Alis tebal atau Lee yang telah lakukan padanya, namun karena tidak melihat jalan dengan benar, sesaat setelah Naruto berdiri dan hendak keluar dari bangku tempat ia duduk, seorang perempuan menabrak dirinya sehingga mereka berdua oleng da hampir terjatuh. Untungnya karena kesigapan Naruto ia segera menahan pinggang perempuan itu agar tidak terjatuh.
"Ma-maaf aku tidak melihat Jalan" perempuan tersebut nampak takut dan terkejut dengan kesigapan Naruto menangkap tubuhnya.
"Tidak apa apa lagipula aku-" ucapan Naruto terhenti saat melihat wajah perempuan itu. Wajah yang sangat familiar di matanya maupun di hatinya. Mata safir Naruto bertemu dengan iris emerald perempuan tersebut.
"Kau itu kan?"
TBC
^Pojok Author
Yo Minna, kembali lagi dengan cerita Peacekeeper Force, emang sih di chapter awal unsur militernya kurang bahkan hampir gak ada, tapi kemungkina pada chapter 4 unsur militernya akan lebih kerasa. Dan ada yang tau gak siapa perempuan yang Naruto selamatkan di chapter ini, dia lah yang nanti akan jadi salah tokoh yang berperan besar dalam cerita ini.
Mohon Kritik dan Saran Tulis di kolom komentar ya!
Salam hangat
Author : Leopard2RI
