Disclaimer : Masashi Kishimoto

Summary : Kisah Naruto Uzumaki, seorang anggota pasukan elit Ranger AD Amerika Serikat yang sangat mecintai Negara nya, suatu hari ia ditugaskan ke Ukraina sebagai pasukan perdamaian, disanalah ia bertemu seorang Wanita yang kelak akan mengisi hatinya.

Warning : Military Topic, Konten kekerasan.

.

.

.

Pagi itu Naruto bangun dari tempat tidurnya dengan wajah berseri – seri. masih tergiang ngiang di ingatannya bahwa Sakura Haruno telah resmi menjadi pacarnya setelah ia menyatakan perasaanya pada Sakura kemarin di Akimichi's Restaurant. tak disangka perempuan Cantik dan Kaya seperti Sakura mau menerima cintanya seorang Prajurit tingkat satu yang baru saja lulus dari akademi Militer.

"Pagi Ibu, Ayah!" salam Naruto pada kedua orang tuanya. Ayahnya sedang duduk di meja makan sambil membaca Harian Seattle, koran Favoritnya. sedangkan sang ibu sedang berada di dapur, menjalankan rutinitasnya sebagai seorang ibu rumah tangga di pagi hari yaitu menyiapkan sarapan. Naruto yang sudah mandi dan mengenakan seragam Militernya pun langsung duduk di kursi meja makan, duduk bersebrangan dengan sang ayah yang masih sibuk dengan korannya.

"Pagi juga Naruto!" balas sang ibu singkat dari ruang Dapur, nampaknya Kushina masih sibuk menyiapkan sarapan bagi anggota keluarga Namikaze tersebut.

"Hn, pagi juga Naruto" kini giliran sang Ayah yang membalas sapaan Naruto. "Kenapa kau senyum senyum tak jelas begitu Naruto? kau habis mimpi Jorok ya? dasar mesum" sambung Minato, dia heran melihat Naruto yang terus terusan tersenyum tidak jelas seakan akan dia habis bermimpi tentang suatu hal yang benar benar indah. Mimpi bertemu artis perempuan idolanya misal.

"A-ah.. aku tidak bermimpi mesum kok!" balas Naruto terbata bata. enak saja dia dibilang mesum, justru kalau soal mesum, ayahnya jauh lebih mesum darinya. ibunya dulu pernah bercerita tentang ayahnya ketika masih muda dan sudah berpacaran dengan Kushina. Minato ternyata seorang yang memiliki hobi mengintip Gadis gadis muda ketika mandi di sungai di Okinawa. bahkan Minato sering mengintip Kushina ketika sedang mandi di sungai padahal mereka sudah resmi bertunangan.

"Lalu kalau tidak bermimpi jorok, lalu kau habis mimpi apa sampai tersenyum sendiri seperti itu?" tanya Minato lagi sambil menyesap kopinya perlahan masuk ke tenggorokannya.

"Aku bermimpi soal Sakura-.. ah bukan mimpi jorok lho ya! aku bermimpi saat aku menyatakan perasaanku padanya kemarin di Restoran tempat aku berkencan dengannya" terang Naruto pada Ayahnya agar tidak terjadi kesalahpahaman di pikiran orangtuanya itu.

"Ah benar juga Naruto, ibu lupa bertanya padamu. bagaimana? apa Sakura menerima pernyataan cintamu atau-"

"Aku diterima bu, Sakura menerimaku sebagai pacarnya!" balas Naruto bersemangat. membuat Kushina dan Minato menghela nafas lega. mereka takut kalau Naruto patah hati jika sampai ditolak oleh gadis berambut pink itu. untungnya Sakura menerima lamaran Naruto untuk menjadi kekasihnya.

"Syukurlah, ibu turut senang Naruto, akhirnya kau punya pacar. ingat, jaga dia baik baik Naruto. kalau kau sampai menyakiti perasaannya-" Kushina menggeretakkan tangannya sejenak sebelum melanjutkan omongannya "Ibu sendiri yang akan memberimu pelajaran, MENGERTI?"

"A-a..ku mengerti, siap bu!" balas Naruto ketakutan sambil melakukan sikap hormat pada ibunya. Kushina sendiri hanya tersenyum kemudian kembali lagi ke Dapur untuk menyelesaikan kegiatan memasaknya.

"Huh ibu selalu saja menyeramkan ketika mengancam seseorang" ucap Naruto dalam hati. ia kemudian melihat hidangan yang tersaji diatas meja, hanya ada Roti bakar dan selai, ibunya mungkin belum selesai memasak sehingga yang ada di Meja hanya Roti bakar saja. "Ibu aku sarapan pakai Roti bakar saja, biar praktis, ini kan hari pertamaku untuk bertugas. aku tidak mau terlambat!" teriak Naruto pada ibunya yaang masih sibuk memasak di Dapur. sedangkan yang diteriaki hanya menyahut "Iya,boleh!". langsung saja Naruto mengambil satu potong Roti dan mengoleskannya dengan selai coklat kesukaannya dan tanpa basa basi langsung memakannya.

"Oh ya Naruto ayah mau bertanya tentang pacarmu, boleh?" Tanya Minato pada putranya yang masih mengunyah potongan rotinya itu. "Ehm begini, -uhuk, ayah ingin tahu Sakura itu orangnya seperti apa, mungkin kau punya foto dirinya atau semacamnya?"bisik Minato pada Naruto yang kini memandangnya dengan aneh. mimik muka Minato yang awalnya kalem berubah menjadi mesum.

"Pu-punya sih, tapi untuk apa ayah ingin melihat foto Saku-.." sebelum menyelesaikan kalimatnya ,Handphone yang awalnya Naruto pegang kini berpindah ke tangan Minato. Minato tampak semangat mencari foto Sakura di Galeri Handphone putranya itu. sebelum akhirnya ia berhasil menemukan foto Sakura yang tengah mengenakan Yukata berwarna Biru itu Sakura nampak anggun dan cantik, membuat Minato sampai menenggak ludahnya kasar ketika melihat foto itu.

"Sialan, kau sungguh beruntung Naruto. dia sangat cantik dan seksi. rambut pinknya begitu mempesona, ayah membayangkan seperti apa ya wangi rambutnya? pasti baunya seperti permen kapas, manis dan harum. gila kau Naruto bisa mendapatkan tangkapan besar seperti ini!" tanpa sadar Minato meninggikan suaranya saking kagumnya dengan sosok Sakura. tak menyadari bahwa tidak hanya Naruto yang bisa mendengar suara itu melainkan sang istri yaitu Kushina juga mendengar dengan jelas setiap kata yang barusan keluar dari mulut suaminya itu mengenai Sakura.

"Hei Naruto, kapan kapan bawa Sakura main kesini, perkenalkan pada Ayah. pasti dia langsung kagum mengetahui kalau pacarnya punya Ayah yang sangat tampan dan gagah, HAHAHAHAHAHA" Tawa Geer Minato meledak membuat Naruto semakin ketakutan, apalagi ia melihat ibunya yang tadinya masih sibut memasak sekarang tengah menghampiri meja makan sambil membawa panci besar dan sendok sup yang tadi ia gunakan untuk memasak kaldu Sapi "Gila, Ayah benar benar membuat ibu marah besar" teriak Naruto dalam hati.

"A-ah Ayah, aku harus segera pergi bertugas, pasti Komandan kompiku sudah menunggu." ucap Naruto sambil merebut Handphone dari tangan ayahnya dan segera berlari meninggalkan ruang makan untuk segera berangkat ke Markas AD tempat ia bertugas. ia tidak mau terlibat atau menyaksikan pertumpahan darah yang akan segera terjadi di keluarganya karena masalah yang dibuat oleh sang Kepala keluarga itu sendiri.

"Dasar pelit kau Naruto!" Teriak Minato pada Naruto yang kini sosoknya telah menghilang dari ruang makan. "Untung fotonya sudah ku kirim ke Kontak Chatku, hehehehe, kau benar benar cerdik Minato!" ucap Minato lagi dengan suara cukup keras, seolah olah hanya dia yang berada di rumah itu.

"Sakura sangat Cantik dan seksi ya? kalau dibandingkan denganku kau pilih siapa Minato-kun?"

"Tentu saja aku pilih Sakura, dia masih muda, Cantik, Seksi lagi. kalau kau sih kan sudah tu-" ucapan Minato terputus ketika baru menyadari siapa lawan bicaranya saat ini. dengan gerakan patah patah ia menengok ke arah istrinya yang kini menatapnya dengan, lembut? "a-aah bukan sayang, bukan begitu maksutku, aku hanya bercanda dengan Naruto. kau tahu kan kami orang Amerika sering melempar guyonan seperti ini, it just a joke. bukan maksut sebenarnya, su-sungguh,aku hanya kagum dengan Sakura saja. kaulah wanita paling cantik yang pernah kukenal selain ibuku. Sakura tidak ada apa apanya kok dibanding dirimu" terang Minato gugup sambil menatap Kushina yang masih memasang ekspresi yang sama : tersenyum lembut.

"Aku tidak marah kok Minato-kun, aku bisa paham kok kalau kau kagum dengan sosok Sakura. kau kan laki laki, justru bagus kalau kau masih mengagumi keindahan tubuh perempuan, itu artinya kau masih normal." balas Kushina masih dengan senyum lembutnya.

"Benarkah? kupikir kau marah karena perkataanku tadi Kushina. kau memang benar benar pengertian!"

"Terima kasih Minato-kun, oh iya kau mau mencoba sup daging buatanku? agar kau bisa menilai apakah sup daging ini enak atau tidak" balas Kushina pada Minato yang menatap heran pada panci dan sendok sup yang dipegang Kushina. "Aku suapi ya, buka mulutmu lebar lebar, aaaaaaa." sambung Kushina sambil memegang sendok sup berisi kuah dan daging kearah mulut Minato.

"Tunggu Kushina, kelihatannya sendok sup itu terlalu be-.. hummmppppfff" sebelum Minato menyelesaikan perkataannya Kushina sudah keburu menjejalkan sendok sup berisi potongan besar daging dan lemak itu kedalam mulut Minato. membuatnya tersedak dan kesulitan bernafas karena daging dan lemak yang memenuhi mulutnya.

"Huuuummmmmpppppffff-.. Haiiirr, Haiiirrr, kHusiha... Haiiirrrr" ucap Minato dengan mulut penuh dengan daging dan lemak. meminta air pada Kushina.

"Ooohh kasihan suamiku ini saking lahapnya sampai tersedak ya? sini kuambilkan minum untukmu" balas Kushina pada Minato. kemudian ia mengambil gelas besar dan mengisinya dengan Kopi Panas, lalu tanpa basa basi langsung meminumkannya secara paksa pada Minato. yang tampak semakin tersiksa akibat perbuatan Kushina padanya.

"Arrrgghhhh. tHooolong, KHusina! Hwajahku!" teriak Minato sambil mengusap wajahnya yang terkena semburan kopi yang Kushina jejalkan padanya. wajahnya kini memerah akibat kesulitan bernafas, ditambah cairan Kopi yang terciprat ke wajah dan pakaiannya membuat kondisinya semakin menyedihkan.

"Wah belepotan ya? sebentar kuambilkan lap dulu, tunggu sebentar Minato!" Kushina berlari untuk mengambil sebuah lap yang akan ia gunakan untuk membersihkan wajah Minato. Kushina mengambil sebuah lap untuk mengepel yang bentuk dan rupanya sudah benar benar berantakan dan tentunya sangat kotor dan penuh dengan kuman. seakan belum puas, ia lalu menjejalkan lap itu ke wajah Minato. membuatnya semakin sulit untuk bernafas atau bahkan tidak bisa bernafas karena wajahnya ditutup dan ditekan menggunakan kain oleh Kushina.

"Dasar laki laki mesum dan mata keranjang!. kau pikir aku sebodoh itu sampai bisa mempercayai alasanmu yang benar benar bodoh dan tidak masuk akal itu. kau bahkan membayangkan hal yang tidak tidak pada calon menantumu sendiri? orang sepertimu harusnya mati saja dasar otak mesuuummmm breeengseekkk!" ucap Kushina gemas sambil terus menekan lap itu ke wajah Minato. sementara Minato hanya bisa meronta ronta, meminta Kushina untuk melepaskan jejalan kain lap pel itu pada wajahnya.

Dan kegiatan sarapan pagi di rumah keluarga besar Namikaze diakhiri dengan perbuatan KDRT atau bisa dibilang percobaan pembunuhan yang dilakukan sang Istri, Kushina. pada sang Suaminya sendiri, Minato Namikaze.

.

.

.

Naruto kini berlari kecil kearah Ruang kerja Kapten Asuma, komandan kompinya saat ini. dengan membawa sejumlah dokumen laporan identitas diri lengkap dengan dokumen kepindahan tugas miliknya. Naruto memang dimasukkan di kompi 2 atau kompi Bravo pimpinan Asuma, sedangkan teman temannya seperjuangannya tersebar di berbagai kompi lain di kesatuan 12th. hanya Kiba yang satu kompi dengannya, membuatnya bersyukur setidaknya ada teman dekatnya yang satu kompi dengannya. ini ia tengah mengetuk pintu ruang kerja Kapten Asuma.

Tok, Tok, Tok

"Silahkan Masuk"

Naruto lalu masuk ke ruangan Kapten Asuma, tak lupa memberikan hormat pada sang pemilik Ruangan dan melaporkan diri pada Kapten Asuma sebelum menyerahkan seluruh berkas dan dokumen yang ia bawa ke Meja kerja Asuma.

"Siap, Prajurit satu Naruto Namikaze. saya hendak menyerahkan dokumen kepindahan tugas saya pak!" ucap Naruto tegas dengan sikap siaga pada Asuma yang masih duduk di meja kerjanya sambil memandang Naruto dari atas sampai bawah.

"Hn, taruh semua dokumenmu disini, tunggu sampai aku selesai menandatanganinya, mengerti!"

"Siap laksanakan pak!" balas Naruto sambil menaruh semua dokumen yang ia bawa di atas meja kerja Asuma.

"Heeemmm, baiklah, namamu Naruto Namikaze, pangkat ; Prajurit kelas Satu kesatuan 12th . anak dari Letnan Kolonel Minato. baiklah cukup identitas dirimu. sekarang kita lihat hasil latihanmu di West Point. ucap Asuma sambil membaca Dokumen milik Naruto. dan hasilnya... hahaha-huummmffff..., maaf Naruto aku tidak bisa menahan tawaku melihat hasil latihanmu di Westpoint, sungguh buruk sekali" ucap Asuma dengan nada mengejek pada Naruto setelah melihat hasil atau nilai yang Naruto raih di West Point. sementara Naruto tampak tertunduk mendengar ejekan Asuma pada dirinya, namun segera ia kembali menegakkan badannya, ia ini prajurit, mana boleh ia menunduk dalam keadaan siaga seperi ini?

"Kalau aku boleh jujur, kau sama sekali tidak pantas masuk kompiku, prajurit. pernahkah kau berpikir untuk bertugas di unit non-kombatan? unit teknisi lapangan, atau unit kesehatan misalnya? karena aku tidak mau menugaskan Prajurit sepertimu untuk bertempur bersama kompiku, kau tahu itu? menurutku kau bahkan akan mati bahkan sebelum pihak musuh menyerang kita" ucap Asuma pada Naruto lagi.

"Aku siap menanggung resiko pak! aku siap mati demi negaraku!" balas Naruto tegas, pada Asuma yang kini menatapnya dengan remeh.

"Oh ya? tahukah kau, Prajurit? kau bisa lulus dari Akademi Militer karena pengaruh ayahmu. tanpa pengaruhnya kau tidak bisa lulus dari West Point! karena KAU tidak memiliki kemampuan untuk menjadi Tentara, PAHAM!" terang Asuma penuh penekanan pada Naruto.

Naruto kembali tertunduk, kenapa semua orang kecuali keluarganya seakan akan membencinya saat ia menjadi Tentara, padahal tidak pernah sekalipun Naruto mengusik atau jahat pada mereka. tapi kenapa mereka membenci Naruto? apakah salah jika ia menjadi Tentara?"

"Haahh, baiklah kau kuterima menjadi bagian dari kompiku, sekarang ambil perlengkapanmu dan pergi ke area latihan ke 6, aku akan menyusul satu jam lagi" Asuma lalu melempar sebuah surat persetujuan pemindahan tugas Naruto yang telah ia tanda tangani pada Naruto.

"Siap! Terima kasih pak! saya mohon undur diri" balas Naruto senang, ia lansung bergegas menuju ruang perlengkapan sesudah ia memberikan hormat pada Asuma selaku komandan kompi barunya itu. sementara itu Asuma hanya menghela nafas panjang sambil mengelus sebuah Pigura berisi foto yang menampilkan keluarga kecilnya sedang berfoto untuk keperluan dinas militernya, ia, Kurenai istrinya dan Mirai, anak perempuannya yang tampak mengenakan atribut militer walaupun ia seorang perempuan.

"Maafkan ayah nak" lirih Asuma sambil memgang erat foto itu.

.

.

.

Naruto kini berlari ke arah training Area ke 6 yang nampak sudah ramai oleh anggota anggota kompi 2 lainnya. langkahnya cukup berat karena kini ia membawa perlengkapan militernya seperti, tas, helm tempur, rompi anti peluru, senapan M-16A1, dan jangan lupakan soal Amunisi yang ia harus ia bawa di tasnya. benar benar berat.

"Hei lihat siap yang datang kawan kawan!" ucap seorang Prajurit berambut pirang dengan nametag Edward di seragam militernya pada kawan kawan satu kompinya ketika mereka melihat kedatangan Naruto. "Mau apa kau kesini anak papi? mau main perang perangan? hahahahahaha"sambung Edward kemudian menertawai Naruto, diikuti gelak tawa teman temannya yang lain.

Sementara Naruto hanya tersenyum singkat, tidak mempedulikan hinaan teman teman satu kompinya itu. ia hanya ingin segera duduk karena kakinya sudah pegal. namun saat ia hendak duduk, sling atau selempang senjatanya tersangkut di perutnya, membuat ia tidak bisa duduk atau berdiri.

"Hei lihat teman teman dia tersangkut, Hahahahaha" salah satu anggota kompi lainnya yang menyadari bahwa ia tersangkut langsung menertawainya. "begitu saja tersangkut, kembali ke Akademi Militer sana, dasar anak papi!" sambung temanya tadi.

Kini Naruto benar benar tertunduk malu, ingin sekali ia menangis karena terus terusan dihina oleh teman satu kompinya sendiri. ia hampir saja menyerah kalau saja Kiba tidak menolongnya melepaskan tali sling senjatanya yang tersangkut.

"Biar kubantu kawan, jangan bergerak oke? cara melepaskannya sederhana, lihat" ucap Kiba pada Naruto sambil mempraktekkan cara melepas tali tersebut dari perut Naruto.

"Hoi Kiba! kenapa kau membantu anak Papi itu? kau mau menjilat ya? menjijikkan sekali kau! ucap Edward menghina pada Kiba yang telah membantu Naruto.

"Apa maksudmu Edward? kau mau menantangku berkelahi? ayo kita selesaikan disini dasar brengsek!" tantang Kiba pada Edward, tidak terima kalau Edward menghinanya tadi. namun sebelum mereka memulai perkelahian mereka Kapten Asuma keburu datang bersama letnan sersan Shikamaru. membuat Kiba dan Edward harus menghentikan perkelahian mereka untuk menghindari masalah yang lebih serius, dibawa ke Mahkamah Militer misalnya.

"Berdiri, grak!"

Semua anggota Kompi 2 langsung berdiri tegap setelah mendengar perintah Shikamaru yang menjabat sebagai wakil komandan Kompi 2.

"Baiklah, semua anggota kompi 2 sudah berkumpul?"

"Siap! sudah semua pak!"

"Bagus, latihan hari ini adalah Patroli kelompok. kalian akan bersama sama melakukan Patroli menyusuri Area Latihan tempur 6, disimulasikan bahwa musuh berkekuatan 1 Battalion yang bersiap menyergap rombongan Patroli kalian. jadi berhati hati, tetap fokus pada perintah komandan Kompi kalian, jangan meleng. terus awasi dataran tinggi karena disitulah musuh akan menyergap kalian, mengerti semua?" Jelas Asuma pada seluruh anggota kompinya.

"Siap, mengerti!"

"Latihan dimulai dari sekarang!"

Perintah Asuma membuat para anggota Kompi 2 langsung bergegas menuju jalan setapak disekitar Area Latihan 6 untuk melakukan latihan. mereka semua tampak bersemangat, termasuk Naruto. dengan cepat ia mengalungkan M-16A1 miliknya di pundak dan segera menyusul anggota kompi lannya.

"Yosh! semangat!"

.

.

.

Suasana di ruang makan di Markas kesatuan 12th tampak tenang. para Prajurit yang baru saja selesai dari latihan langsung bergegas menuju ruang makan untuk mengambil jatah makan siang mereka. tak terkecuali Naruto, ia kini duduk 1 meja dengan 6 kawan atau sahabat dekatnya ; Shikamaru, Kiba, Chouji, Aburame Shino, Jones ( OC ), Rock Lee, dan Neji. mereka duduk di bangku paling pojok di Ruang makan itu. Shikamaru yang memilih meja itu alasannya untuk mencari ketenangan katanya.

"Bagaimana latihan kalian di kompi masing masing? apakah lancar?" tanya Naruto membuka perbincangan di meja itu pada teman temannya yang kini mulai memakan hidangan makan siang mereka.

"Hahu berHemangat sHekali Hahi Hini Nharutoh! tHahi Haku Jhadi Hohang pHaling cHehat hi Khomhihu!" ucap Lee dengan mulut penuh dengan makanan sehingga kata kata yang dia ucapkan tidak jelas,menanggapi pertanyaan Naruto. selama ia berbicara, makanan yang berada di mulutnya sesekali tersembur kearah Shikamaru dan Neji yang duduk disamping dan didepannya. membuat Neji tak segan menampar pipi pria berambut model mangkok itu agar berhenti berbicara saat masih mengunyah makanan.

"Kami baik baik saja kok Naruto selama Latihan, benar tidak Chouji?" kini gilran Jones yang menanggapi pertanyaan Naruto. Pria keturunan Kanada itu lalu menoleh ke arah teman satu kompinya, Chouji Akimichi. namun yang bersangkutan malah sibuk menghabiskan makan siangnya tanpa memperdulikan perbincangan mereka. membuat Jones sweatdropped seketika.

"Kau sendiri bagaimana Naruto?" kini giliran Aburame Shino yang bertanya pada Naruto. pria berambut hitam dan selalu memakai Vest anti pelurunya kemana mana itu kini memandang Naruto dengan tatapan penasaran.

"Ah, seperti biasa. mereka masih suka mengejekku. bahkan Kapten Asuma sesekali mengompori anggota kompi yang lain untuk menghinaku. tadi saja aku dihukum disuruh mengembalikan semua peralatan tempur ke gudang, alasannya hanya karena aku mengobrol sebentar dengan Kiba. aku heran, kenapa mereka selalu mengejekku? apakah aku pernah menyakiti mereka?" jawab Naruto dengan tertunduk lesu, membuat 6 teman temanya yang lain terhenyak mendengar jawaban Naruto.

Shikamaru menatap Naruto dengan tatapan iba. ia mengetahui penyebab Naruto dijauhi orang orang di kesatuan 12th. bukan karena Naruto pernah membuat kesalahan berat atau membuat suatu skandal yang mencoreng nama baik AD AS, melainkan karena kelulusan Naruto dari Akmil West Point menimbulkan kontroversi. ia lulus dengan nilai dibawah rata rata. bahkan pelatihnya menyebut Naruto terlalu lembut dan tidak punya nafsu membunuh sebagaimana prajurit pada umumnya. Naruto bisa lulus dari West Point karena campur tangan sang ayah yang menjabat sebagai letnan kolonel. Minato tahu bahwa anaknya tidak bisa lulus dari west point dengan nilai seperti itu, jadi dia menggunakan cara lain agar anaknya tetap bisa lulus. caranya adalah dengan mendepak keluar siswa siswi yang berpotensi menjadi pesaing Naruto di West point. mereka dikeluarkan dengan alasan alasan yang tidak masuk akal atau sepele. telat masuk, berbicara saat makan siang, atau bahkan bangun lebih lambat 5 menit bisa menyebabkan para siswa gagal lulus dari west point. sedangkan Naruto yang sering terlambat atau bangun satu jam lebih lambat dari siswa lainnya justru tak mendapat hukuman. membuat para siswa dan perwira lainnya curiga.

Sialnya, salah satu siswi yang dikeluarkan dari West Point adalah Mirai Sarutobi, putri dari Kapten Asuma Sarutobi. Mirai adalah satu saingan terberat Naruto dan siswa lain di West Point, ia pintar, jago menembak, gesit dan lincah. namun karena ia berpotensi maka ia dianggap sebagai salah satu halangan bagi Naruto. Minato pun menyuruh istruktur pelatih untuk tidak meluluskan Mirai dengan cara apapun. Mirai tidak lulus karena ketahuan mengambil selongsong peluru M-60 di area menembak sebagai oleh oleh bagi Konohamaru, sepupunya yang ingin masuk Marinir. tanpa basa basi ia langsung dikeluarkan dari West Point. membuat Mirai langsung terpukul hebat dan depresi. Asuma sempat protes soal alasan Mirai dikeluarkan dari Akmil, menurutnya alasan itu benar benar tidak masuk akal dan mengada ada. namun Ibiki, selaku kepala Akademi Militer West Point tetap keukeuh dengan pendiriannya untuk mengeluarkan Mirai dari West Point karena desakan Minato. sejak saat itulah Asuma mulai membenci keluarga Namikaze termasuk Naruto.

"Ah lupakan soal itu, aku punya berita yang lebih penting. ayo dengarkan baik baik, terutama kau Neji, pasang telingamu baik baik saat mendengarnya!" ucap Naruto mengalihkan topik pembicaraan. kini teman temannya memperhatikan Naruto, penasaran dengan berita yang akan Naruto ceritakan pada mereka.

"Cih, cepat katakan apa beritanya! awas saja kalau sampai tidak penting! kuhajar kau Naruto" ancam Neji saat Naruto menyuruhnya untuk mendengar berita penting darinya.

"Baiklah ini beritanya, dengarkan baik baik..." ucap Naruto menggantung, membuat teman temannya semakin penasaran "-Aku telah resmi berpacaran dengan Haruno Sakura, kemarin aku menembaknya di Restoran dekat taman Seattle, hehehehehe" sambung Naruto sambil tersenyum bangga, seakan akan dia habis membunuh seekor naga raksasa dan menyelamatkan satu kota dari serangan naga itu.

'BRAAKKK'

"AAAAPAAAAAAA! BAAGAIMAANAAA BISAAAA?" teriak teman temanya minus Shikamaru serentak sambil menggebrak meja. membuat mereka menjadi pusat perhatian satu ruang makan termasuk membuat para instruktur pelatih yang sedang makan siang disana merasa terganggu karena keberisikan mereka.

"MEJA PALING POJOK, MOHON DIAM!" bentak salah satu instruktur pelatih pada Naruto dan kawan kawan. merasa nyawanya terancam, merekapun langsung duduk manis di kursi masing masing namun masih merasa tidak percaya kalau Naruto mampu menaklukan Sakura dalam tempo 3 hari semenjak Neji menantang Naruto untuk mendapatkan Sakura. pakai pelet apa dia sampai Sakura bisa klepek klepek dalam waktu singkat?

"Jangan bohong kau Naruto! kau bisa saja mengarang cerita kalau kau sudah berpacaran dengan Sakura! mana buktinya kalau kau sudah pacaran dengan Sakura? tunjukkan pada kami!" ucap Neji pada Naruto, berharap kalau Naruto hanya membual soal hubungannya dengan Sakura.

"Mereka memang berpacaran, Neji" ucap Shikamaru kalem "Sahabatku Ino Yamanaka, yang juga sahabat Sakura kemarin cerita kalau Sakura baru saja ditembak oleh Naruto di Restoran Akimichi, yang tak lain tak bukan adalah restoran milik keluargamu, Choji" sambung Shikamaru membuat teman teman yang lain menatap kagum Naruto.

"Hei Neji!" panggil Naruto pada Neji yang kini mematung di mejanya. "Jangan lupakan janjimu soal traktir ramen selama 1 bulan itu ya!" sambung Naruto membuat Neji semakin lemas di mejanya.

"Maaf, janji apa? A-aku gak pernah janji apa apa kok hahahaha, kau bermimpi ya Naruto?" kilah Neji, berharap tidak ada satupun teman temannya yang mengingat janji busuknya pada Naruto.

"Tepati janjimu Neji! kau jangan berbohong pada kami ya!" ucap Kiba kesal sambil mencengkram kerah seragam Neji.

"Aku ingat kok kalau soal makanan"

"Aku juga masih ingat perjanjian mu dengan Naruto, kau sendiri yang mengadakan perjanjian itu Neji!"

"Iya benar itu"

"Jangan mencoba kabur, Neji-san"

"Yosh, karena semuanya ingat maka kau harus mentraktir kami berenam di Ichiraku nanti malam ya, Neji! jangan lupa atau kau akan merasakan akibatnya nanti PAHAM?" ucap Naruto penuh penekanan pada Neji, yang langsung disambut sorak sorai dari dari teman temannya yang lain karena Naruto menyuruh Neji untuk mentraktir mereka juga.

"Semua? Tuhan tolong aku, dompetku, dan juga tabunganku. TIDAAAAKKKKKK" teriak Neji sambil membayangkan harta bendanya yang terancam hilang karena kewajibannya untuk mentraktir Naruto Ramen selama satu bulan penuh.

"MEJA PALING POJOK, KELUAR KALIAN! LARI KELILING LAPANGAN 10 KALI, SEKAAAARAAANGGG" bentak Instruktur pelatih sambil melempar sebuah nampan besi tepat ke arah kepala Neji yang membuatnya langsung pingsan ditempat. sementara yang lain tidak ingin bernasib sama dengan Neji yang kini terkapar di ruang makan. langsung bergegas keluar untuk melaksanakan hukuman dari instruktur pelatih.

Hah..., benar benar hari yang berat untuk mereka berenam karena harus berlari mengelilingi lapangan sebanyak 10 kali di siang yang panas, dan juga hari yang sangat menyakitkan bagi Neji yang harus dirawat di rumah sakit karena luka akibat hantaman nampan besi di kepalanya itu.

.

.

.

.

Tak terasa sudah 4 bulan Naruto dan Sakura berpacaran, namun hubungan mereka bisa dibilang sama seperti saat mereka baru saja pacaran, mereka tidak pernah berciuman, hanya sebatas Sakura mengapit lengan Naruto saja. sifat Sakura pun sama saat mereka pertama kali bertemu. judes, dingin dan hanya bersikap manis setelah Naruto menuruti keinginannya. namun kembali jutek saat Naruto tidak bisa mengabulkan keinginannya. dan itu mereka lalui selama 4 bulan mereka berpacaran.

"Naruto sayang, aku benar benar ingin tas merek Gucchi yang aku tunjukkan padamu kemarin. belikan ya? aku mohoon" rengek Sakura pada Naruto sambil mengapit lengan Naruto erat saat mereka berjalan jalan di Mall Seattle Center. selama 4 bulan berpacara Naruto kini sudah naik pangkat sebagai Sersan dua, mengalahkan teman temannya yang masih berpangkat Pratu.

"Sakura, harga tas itu sangat mahal kau tahu? lagipula kemarin kan aku sudah membelikanmu tas merek baru. masa kau tidak puas sih? balas Naruto pada Sakura. Sakura yang mendengar hal itu langsung ngambek "Bilang saja kalau kau tak mau membelikannya, Naruto! kata Sakura kesal sambil melepaskan apitannya pada lengan Naruto, berniat meninggalkannya.

"Hei tunggu Sakura! baiklah akan kubelikan tasnya, tapi kau harus berjanji padaku untuk tidak ngambek lagi ya!" ucap Naruto sambil mengelus pucuk kepala Sakura dengan lembut. Sakura yang awalnya ngambek langsung memeluk Naruto lagi setelah mendengar bahwa Naruto akan membelikan tas incarannya tadi.

"Terimakasih banyak sayang, kau memang kekasihku yang paling baik dan keren, aku makin sayang padamu Naruto" balas Sakura sambil terus memeluk Naruto erat.

Naruto hanya tersenyum sambil memegang tangan Sakura untuk segera masuk ke dalam toko. tidak apa kalau Cuma tas, toh gajinya juga cukup besar dan minggu depan ia dipromosikan sebagai sersan satu. dan untuk kebutuhan hidup ia masih tinggal di rumah orang tuanya jadi ia tidak perlu pusing dengan hal itu.

Namun, yang namanya Harta juga tetap bisa habis jika digunakan secara terus menerus dan berlebihan bukan?

.

.

.

"Hei Kiba kemari!" perintah Naruto pada Kiba yang kini berstatus sebagai anak buahnya itu. Kiba yang merasa dipanggil pun langsung menghampiri komandan peletonnya itu.

"Siap pak! melapor untuk bertugas"

"Berikan dompetmu, sekarang!" perintah Naruto sambil menadahkan tangannya ke Kiba, meminta dompet miliknya.

"Tapi-

"Ini perintah! cepat laksanakan" ucap Naruto garang sambil mencengkram kerah seragam Kiba.

"Ba-baik.. ini dompetku pak" balas Kiba ketakutan melihat ekspresi marah Naruto ia lalu mengambil dompet miliknya di saku celana dan menyerahkannya pada Naruto.

Naruto segera merebut dompet itu dari tangan Kiba dan mengambil sejumlah atau sebagian besar uang yang ada di dompet itu. merasa bahwa jumlah uang yang ia ambil sudah cukup, ia pun mengembalikan dompet Kiba tanpa perasaan bersalah sedikitpun.

"Aku pinjam 700$, kapan kapan akan kukembalikan, oke?" ucap Naruto setelah mengembalikan dompet milik Kiba yang kini didalamnya hanya tersisa 200$. Kiba lalu menatap Naruto dengan perasaan kesal dan marah. sudah 2 bulan sejak Naruto menjadi pemimpin peleton 2 di kompi Bravo, yang artinya dia menjadi wakil pemimpin Kompi Bravo pimpinan Kapten Kotetsu Hagane menggantikan Asuma yang dipindah tugaskan ke Virginia barat. setiap minggu Naruto akan meminjam uang anak buahnya itu secara paksa dan tak pernah dikembalkan. membuat anak buahnya semakin benci dengan kepemimpinan Naruto.

"Tapi pak, uang itu untuk membayar uang sekolah adikku bulan ini, ini sudah akhir bulan dan aku tidak ingin adikku menjadi bahan cemoohan teman temannya karena menunggak pembayaran SPP" ucap Kiba getir, membuat anggota satu kompinya merasa iba dengan pria pemilik tato segitiga itu.

"Oh ya? suruh saja kakakmu perempuanmu melacur atau suruh adikmu mengemis saja di perempatan jalan di Missisipi agar dapat uang, gampang kan?" ucap Naruto pedas dan tanpa beban. membuat seluruh anggota kompi Bravo termasuk Shikamaru terkejut mendengar perkataan jahat Naruto pada Kiba. Kiba yang mendengar hal itu langsung Emosi dan menerjang tubuh Naruto hingga ia jatuh karena serangan tiba tiba yang dilancarkan oleh Kiba.

"BERANINYA KAU BERKATA SEPERTI ITU TENTANG KAKAK DAN ADIKKU NARUTO! teriak Kiba sambil memukuli wajah Naruto yang tadi ia telah jatuhkan ke tanah. namun tidak lama kemudian Kiba ditangkap oleh Polisi Militer datang setelah mendengar keributan di area latihan tempat Kompi Bravo berlatih.

"Hah-hah-hah, berani sekali kau memukulku Kiba" ucap Naruto terengah enggah sambil mengusap ujung bibirnya yang mengeluarkan darah karena pukulan Kiba. "sebagai gantinya kau dihukum bertugas membersihkan Toilet selama 2 bulan penuh, ijin cutimu dibatalkan semua dan rasakan ini!" sambung Naruto sebelum ia memukul perut Kiba dengan keras membuat Kiba mengalami muntah darah dan pingsan. Kiba yang pingsan langsung dibawa oleh Polisi Militer ke rumah sakit kesatuan 12th untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

"DENGAR SEMUANYA" kini pandangan Naruto beralih ke anggota kompi bravo lainnya yang masih menatap Kiba yang digotong oleh pihak Polisi Militer. "AKU TIDAK MENTOLERIR SETIAP BENTUK PEMBANGKANGAN YANG MEMBAHAYAKAN KOMPI KITA, APA YANG DILAKUKAN KIBA ADALAH SALAH SATU BENTUK PEMBANGKANGAN PADA KOMPI DAN JUGA PADA KESATUAN 12th, TAPI KARENA KIBA MERUPAKAN ANGGOTA KOMPI BRAVO, KESALAHAN KIBA JUGA MERUPAKAN KESALAHAN KALIAN, JADI SEMUA IJIN CUTI KALIAN DICABUT, KALIAN MENGERTI?"teriak Naruto pada anak buahnya yang lain.

"SIAP MENGERTI!" balas seluruh anggota kompi lainnya menanggapi perintah Naruto.

"Baiklah Shikamaru lanjutkan latihannya, dan ingat satu hal, jika ada anggota kompi lain yang melakukan pembangkangan seperti tadi, langsung bawa dia ke Mahkamah Militer, oke? aku mau pulang duluan" perintah Naruto pada Shikamaru yang hanya menatapnya datar, Naruto benar benar berubah semenjak ia naik pangkat dan berpacaran dengan Sakura pikirnya.

'Cih dasar merepotkan'

.

.

.

"Aku pulang!" ucap Naruto setelah memasuki rumah orang tuanya, ia segera mencopot sepatunya dan meletakkan sepatunya di rak. Kushina yang mendengar kepulangan Naruto pun langsung menyambutnya di depan pintu.

"Selamat datang, tumben kau pulang cepat Naruto? baru juga jam 5 sore, apa tidak ada latihan di kompimu?" tanya Kushina heran, biasanya Naruto baru pulang jam 7 atau jam 8 malam, maklum anaknya baru naik pangkat, sehingga ia harus sering mengawasi anggota kompinya itu.

"Tidak ada latihan bu, Kapten Kotetsu sedang dipanggil ke Markas Besar oleh Kolonel Harry, jadi tidak ada latihan, hanya pemanasan dan briefing singkat saja" terang Naruto pada ibunya.

"Oh begitu? ngomong ngomong wajahmu lebam lebam begitu kenapa? apa kau habis berkelahi? ya Tuhan Yesus, kau berkelahi dengan siapa Naruto?" ucap Kushina khawatir setelah melihat beberapa luka lebam di muka Naruto.

"Ah ini karena aku sparring dengan Kiba di area latihan tadi, ia terlalu bersemangat sampai memukul wajahku, untung saja ketampananku tak lenyap, hehehe" balas Naruto sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, berusaha untuk membohongi ibunya, mana mungkin ia bilang jika ia barusan menghina Kiba dan membuatnya dipukuli olehnya, bisa gawat jika ibunya tahu apa yang terjadi. pasti ia akan dimarahi habis habisan.

"Huh? begitu rupanya, cepat mandi sana lalu bersihkan lukamu, ibu mau menyiapkan makan malam. ayahmu mungkin akan pulang larut, jadi kita makan malam berdua saja"

"Baik Jenderal!" balas Naruto sambil melakukan hormat ke arah Kushina, membuat Kushina tersenyum lebar "Sudah ah, cepat mandi sana" ucap Kushina sambil mendorong tubuh Naruto masuk ke ruang keluarga.

"Sial, uangku masih tidak cukup untuk membeli tas ini, sial, sial. apa kata Sakura kalau dia tahu aku tidak bisa membelikannya tas? dia pasti akan minta putus padaku, sial!" gerutu Naruto. setelah mandi dan membersihkan lukanya Naruto memutuskan untuk menghitung uang tabungannya dan uang hasil 'meminjam' dari Kiba, dan mencocokannya dengan harga tas kulit rusa merek ternama yang Sakura minta sebagai hadiah ulang tahunnya besok. namun sayangnya uang yang ia punya saat ini masih jauh dari kata cukup, harga tas itu sendiri seharga 20000 dollar sedangkan uang Naruto Cuma 3000 dollar tentu masih sangat kurang. Naruto kini memijat mijat pelipisnya, kepalanya sedang pusing karena mencari cara agar bisa membeli tas yang Sakura minta sebagai hadiah ulang tahunnya itu.

'Tok, Tok, Tok' suara ketukan pintu membuyarkan pikiran Naruto yang masih mencari cara untuk bisa membelikan tas untuk Sakura. Naruto segera menyimpan uang uang itu di bawah bantal dan segera membukakan pintu kamarnya.

"Naruto! dari tadi ibu memanggilmu tapi kau tidak menjawab, kau ini tuli atau bagaimana sih?, cepat pergi ke ruang makan, makan malam sudah siap." ucap Kushina kesal. sementara Naruto langsung menganggukkan kepala tanda setuju. bersama sama, ibu dan anak itu pergi menuju ruang makan untuk makan malam.

"Ibu, bolehkah aku bicara sesuatu?" tanya Naruto pada Kushina yang tengah membereskan piring sisa makan malam mereka. membuat Kushina menolehkan kepalanya kearah Naruto untuk mendengarkan pertanyaan putranya itu "Ya, mau bicara apa" Kushina menghentikan aktivitas membersihkan piringnya sejenak kemudia duduk untuk mendengarkan Naruto.

"Bo-bolehkah aku pinjam uang bu?"

"Astaga Naruto ibu pikir kau mau bilang apa, mau pinjam uang toh. tentu saja boleh. gajimu pasti sudah habis untuk menabung dan mengajak Sakura jalan jalan kesana kemari. tidak usah pinjam, minta saja pada ibu. kau mau minta uang berapa?" balas Kushina sambil tersenyum lega. ia pikir Naruto akan bilang kalau Naruto telah menghamili Sakura dan berniat mengugurkannya, atau Naruto ternyata penyuka sesama jenis. hiiii.. kelihatannya ia harus berhenti menonton Drama Telenovela yang biasa ia tonton saat siang hari.

"Ah benarkah bu? kalau begitu bolehkah aku minta 20.000 dollar ?" ucap Naruto dengan Watados/Wajah tanpa dosa.

"Oh hanya 20.000 dollar, sebentar ibu akan sia- AAAAPPPAAAAAAA? 20.000 DOLLAAAARRRRRR?" teriak Kushina saat menyadari jumlah nominal uang yang diminta oleh Naruto. ia segera menatap Naruto tajam dengan tatapan menyelidik. "Mau kau apakan uang sebanyak 20.000 dollar itu Naruto! oh ibu tahu.. kau pasti berjudi ya? mengaku kau!" tuduh Kushina pada Naruto yang kini duduk di lantai akibat jatuh dari kursinya tadi.

"Aku tidak berjudi bu, sumpah demi Tuhan. aku hanya ingin membelikan Sakura sebuah tas untuk hadiah ulang tahunnya" ucap Naruto, kemudian ia segera berlari menuju kamarnya untuk mengambil sebuah tabloid Fashion yang ia pinjam dari Sakura dan menunjukkannya pada Kushina "tas yang ini bu yang ingin aku hadiahkan pada Sakura" sambung Naruto seraya menunjuk salah satu model tas yang ingin ia beli.

"Ya Tuhan, Naruto. harga tas itu mahal sekali. 20.000 dollar itu uang nak, bukan daun. ibu yakin Sakura lah yang meminta tas itu, bukan kau yang ingin menghadiahkannya. kau kan orang yang hemat. tolong katakan pada Sakura untuk meminta hadiah yang harganya wajar saja. jangan sampai Sakura menjadi wanita matre karena kau selalu menuruti keinginannya." terang Kushina pada Naruto.

"Maksut ibu apa? kalau memang tak mau meminjamkan uang padaku ya tidak usah menghina Sakura seperti itu. seakan akan ibu lebih baik dari Sakura." ucap Naruto kesal karena ibunya menghina Sakura sebagai wanita matre.

"Lho, kenapa kau sewot? Ibu kan hanya memberitahumu saja. kenapa justru kau membela Sakura sih, aku ibumu Naruto, yang melahirkanmu dan merawatmu selama ini!" balas Kushina

"Kalau kau benar-benar ibuku kau harusnya memberikan 20.000 dollar sesuai permintaanku, bukan malah menghina pacarku seakan akan kau adalah wanita paling suci di dunia ini. aku heran kenapa ayahku mau menikahimu. mungkin saja ayahku hanya kasihan padamu karena tidak ada laki laki yang mendekatimu di Okinawa" tuduh Naruto kejam pada Kushina yang kini benar benar terkejut dengan perkataan Naruto yang benar benar kelewat batas. ia bahkan berbicara pada ibunya seperti berbicara pada wanita penghibur yang tak punya sopan santun.

'Plaaaakkk' suara tamparan menggema keras di ruang makan keluarga Namikaze. ya, Kushina menampar pipi Naruto yang telah benar benar keterlaluan menghinanya tadi. sedangkan Naruto mengusap pipinya pelan sambil menyeringai.

"Hanya ini kekuatan tamparanmu, Kushina? huh kaupikir aku takut dengan tamparanmu hah?" Naruto kemudian memegang erat tangan Kushina yang tadi ia gunakan untuk menampar pipi Naruto. lalu meremasnya dengan kuat, membuat Kushina mengerang kesakitan.

"Aaarrrggghhh, lepaskan tangan ibu, Naruto, tangan ibu sakit arrrgghhhh!"

"Untung kau adalah Istri ayahku, kalau tidak mungkin nasibmu sama seperti Kiba yang tadi sudah kuhajar sampai masuk Rumah sakit" ancam Naruto kemudian mendorong Kushina kebelakang hingga tubuh Kushina menghantam kulkas dengan cukup keras. setelah itu Naruto langsung pergi meninggalkan Kushina yang kini meringkuk didepan kulkas menangis setelah melihat perubahan sifat putranya yang semakin arogan dan kasar itu semenjak berpacaran dengan Sakura.

"Hiks, Hiks , Hiks. apa aku salah dalam mendidiknya, ya Tuhan?" ucap Kushina sendu sambil menatap punggung Naruto yang semakin menjauh dari ruang makan.

.

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul 24.00 . Naruto kini berbaring di ranjangnya sambil menatap langit langit kamarnya. dirinya tak bisa tidur karena masih memikirkan cara mendapatkan uang untuk membelikan tas untuk Sakura, pacarnya. jelas ia tak bisa meminta pada Kushina atau Minato karena mereka pasti tak akan memberinya uang.

"Hah, memikirkannya membuat aku jadi haus. Coca Cola kelihatannya cukup menyegarkan malam malam begini" ucap Naruto kemudian bangkit dari ranjangnya lalu pergi ke dapur untuk meminum Coca Cola dingin kesukaannya.

"Kenapa lampu ruang keluarga masih menyala, apa ayah baru pulang?" tanya Naruto pada dirinya sendiri saat melihat lampu dan TV di ruang keluarga masih menyala dan terdengar. "Ah mungkin ayah sudah pulang, aku ingin cepat cepat minum Coca Cola dan kembali ke kamar" sambungnya lagi pada dirinya sendiri. ia lalu melanjutkan langkahnya menuju Dapur sebelum suara perbincangan dari ruang keluarga mengalihkan perhatiannya.

"Astaga, kau merampok Bank, Minato? kenapa tas yang kau bawa ini isinya penuh dengan uang?

"Tentu saja bukan Kushina, itu gaji bulananku, sistem perbankan di Markas Besar sedang ada masalah jadi mereka membayar gaji para perwira secara Cash, jadilah aku harus membawa 2 tas besar ini sepanjang hari tadi.

"Sudah kau cek jumlahnya? siapa tahu ada yang kurang atau terjatuh di jalan"

"Sudah, totalnya 130.000 dollar, belum ditambah hasil bisnisku yang cair besok. benar benar melelahkan menunggu Gajiku hari ini"

Wow 130.000 dollar? banyak sekali, pikir Naruto dalam hati. uang itu lebih dari cukup untuk membeli tas impian Sakura. namun bagaimana cara mengambilnya? pikir Naruto dalam hati.

"Ah aku lupa, bukankah kunci Brankas kan baru jadi besok? sekarang dimana kita akan menaruh uang uang ini?"

"Huh kau ini Minato, sini biar kusimpan di lemari kamar kita saja, lagipula aku yakin tidak ada maling yang sebodoh itu nekat merampok rumah seorang perwira tinggi."

"Bagus" kini Naruto tahu dimana orang tuanya kan menyimpan tas berisi uang itu. ia pun segera berlari menuju kamar orang tuanya untuk bersembunyi sambil menunggu ibunya yang akan datang untuk menyimpan tas berisi uang itu di lemari.

"Sembunyi di kolong ranjang saja, diini tempat paling gelap di kamar ini. membuatku semakin sulit terlihat, heheheheh" kekeh Naruto lalu segera masuk ke kolong ranjang orang tuanya.

tak berapa lama sang ibu datang diikuti sang ayah sambil membawa 2 tas penuh berisi uang itu masuk kedalam kamar. mereka lalu memasukkan 2 tas besar itu kedalam lemari Pakaian. sang ibu lalu menumpuk tas berisi uang itu dengan tumpukan tas bekas Naruto saat masih SD, SMP dan SMA sebagai kamuflase.

"Tidak kau kunci?" tanya Minato pada Kushina yang tidak mengunci pintu lemari tempat mereka menyimpan tas berisi uang.

"Tidak usah, lagipula film yang kita akan tonton hanya sebentar kok, 78 menit saja, ayo cepat kita nonton filmnya Minato, aku ingin tahu kelanjutan kisah cinta Lee Yeoung Jae dan Han ji eun saat mereka menyadari bahwa mereka mencintai satu sama lain!" teriak Kushina bersemangat sambil menggandeng tangan Minato menuju ruang Keluarga untuk menonton Seri TV Favoritnya berjudul Full House.

Setelah kedua orangtuanya pergi Naruto pun langsung menjalankan aksinya, dirinya langsung membuka pintu lemari yang tidak terkunci itu dengan mudah. selanjutnya ia menyingkirkan tumpukan tas bekas yang menutupi keberaaan tas berisi uang milik ayahnya itu. setelah mencari cukup lama akhirnya ia berhasil menemukan satu tas berisi uang itu dalam lemari orang tuanya itu.

"Yah, Cuma satu, tidak apa deh daripada tidak dapat sama sekali!" ucap Naruto, ia pun langsung membuka restleting tas itu dan menghitung jumlah uang yang ada di dalam tas tersebut.

" 10, 20, 30, 40, 50, 60, 65, sial ada 65.000 dollar di dalam tas ini" ucap Naruto. uang segini banyak sih lebih dari cukup untuk membeli sebuah tas dan sebuah rumah kecil bagi dirinya dan Sakura kelak. tanpa ragu Naruto langsung memasukkan tumpukan uang itu kedalam tas lalu membereskan kekacauan yang tadi ia buat agar orang tuanya tidak merasa curiga. setelah itu ia pun langsung mengalungkan tas berisi penuh uang itu ke punggungnya dan bersiap untuk kembali ke kamarnya sebelum orang tuanya datang.

"Hehehehe, Sakura, bersiaplah untuk kulamar besok pagi!"

Namun tiba tiba lampu kamar itu menyala. membuat ruangan yang tadinya gelap kini terlihat terang benderang. Naruto berkeringat dingin. ia memberanikan diri menoleh ke arah pintu kamar. nafasnya tercekat ketika melihat kedua orang tuanya sudah berada di depan pintu kamar. Minato dan Kushina memandang Naruto dengan tatapan yang sulit dijelaskan, antara Kecewa, terkejut, sedih dan marah bercampur menjadi satu.

"APA APAAN INI, NARUTO!" bentak sang Ayah sambil menunjuk wajah Naruto. "KAU MENCURI UANG DARI LEMARI ORANGTUAMU? APA SELAMA INI HARTA BENDA YANG KAMI BERIKAN PADAMU TIDAK CUKUP? SEHINGGA KAU SAMPAI MENCURI UANG DARI KAMAR AYAH DAN IBU? JAWAB AKU ANAK BRENGSEK!" sambung Minato murka pada Naruto yang masih mematung di tempatnya berdiri sekarang. Kushina hanya bisa menangis melihat putranya yang bahkan berani mencuri uang orang tuanya sendiri demi sang kekasih.

"APA INI KARENA SAKURA? DENGARKAN AKU! WANITA JALANG ITU SUDAH MEMPENGARUHI PIKIRANMU NARUTO! KAU SEDANG DIPERAS OLEHNYA, SADARLAH KALAU KAU HANYA DIJADIKANTAMBANG EMAS BAGINYA NARUTO! JIKA HARTAMU SUDAH HABIS, MAKA IA AKAN MENINGGALKANMU!" Ucap Minato masih dengan nada Murka pada Naruto. ia sudahbtahu kalau Naruto sering menghabiskan uangnya untuk membelikan tas dan benda benda mahal untu Sakura. namun ia tak menyangka kalau Naruto bisa berbuat nekat sampai mencuri uang orang tuanya untuk memenuhi keinginan Sakura.

"JANGAN PERNAH MENGHINA SAKURA LAGI MINATO! ATAU AKU SENDIRI YANG AKAN MEMBERIMU PELAJARAN!" entah setan apa yang merasuki Naruto sehingga ia berani membalas perkataan Minato tak kalah garang.

"KAU..!" kini Minato benar benar Murka, ia lalu mendekati Naruto bersiap untuk memberi pelajaran pada anaknya yang ia anggap sudah benar benar kurang ajar. bahkan Naruto berani memanggil orang tuanya dengan nama mereka. tangan Minato mengepal erat bersiap memberikan sebuah pukulan telak ke wajah Naruto.

Namun sebelum Minato melayangkan pukulan ke wajah Naruto. yang bersangkutan terlebih dahulu menangkap tangan Minato, membuat Minato tidak bisa menggerakkan tangan kanannya. lalu tanpa ampun ia memelintir tangan Minato ke samping, membuat Minato terjerembab ke lantai dengan keras karena tubuhnya oleng kesamping akibat pelintiran tangan Naruto.

"Hanya itu kemampuanmu Minato? kau sama saja dengan istrimu yang lemah itu, ternyata kalian berdua sama sama payah" ejek Naruto sambil memandang Minato yang masih tergeletak di lantai. seakan tak puas, Naruto lalu melayangkan sebuah tendangan keras ke arah perut Minato, membuat Minato yang akan bangkit kembali tersungkur di lantai dengan mulut mengeluarkan darah segar akibat pukulan telak Naruto mengenai organ dalamnya.

"MINATO!" teriak Kushina histeris sambil mendekati Minato yang tersungkur di lantai. dirinya menangis keras seolah tak percaya bahwa Naruto tega menyakiti ayah kandungnya sendiri. sementara Naruto tidak peduli dengan keadaan ayahnya itu dan malah mengambil kunci mobil dan dompet milik ibunya yang ada di atas meja rias kemudian segera meninggalkan kamar orang tuanya.

"NARUTO! TUNGGU, TOLONG AYAHMU, NARUTO JANGAN PERGI! IBU MOHON PADAMU!" teriak Kushina sambil menarik lengan Naruto. mencegahnya untuk pergi dari rumah. mereka kini berada di tangga dan Kushina masih tidak mau melepaskan pegangannya pada lengan baju Naruto, walau Naruto sudah mengancam Kushina agar membiarkannya pergi.

"Dasar brengsek, mati kau!" umpat Naruto pada Kushina. ia lalu menarik kerah baju wanita itu lalu mendorong tubuh Kushina kesamping sehingga ia terjatuh dari tangga. tubuhnya menggelinding ke bawah dan kepalanya menghantam dinding di dekat tangga dengan cukup keras, yang membuatnya pingsan. tampak darah mengucur deras dari pelipisnya yang menghantam dinding tadi. sementara Naruto yang melihat hal itu langsung berlari keluar rumah tanpa menolong ibunya yang pingsan itu.

"Naruto jangan lari ka-, KUSHINA! ASTAGA!" teriak Minato yang berusaha mengejar Naruto. langkahnya terhenti ketika melihat istrinya tergeletak pingsan dengan kepala mengucurkan darah. Minato langsung mengambil ponselnya untuk menelepon unit medis agar segera menolong istrinya yang masih pingsan itu. ia melupakan tujuan awalnya untuk mengejar Naruto yang telah meninggalkan rumah menggunakan mobil milikya.

"Kumohon bertahanlah Kushina. sebentar lagi unit medis akan datang, kumohon jangan tinggalkan aku..." lirih Minato sambil mengelus surai merah Kushina yang telah tercampur bercak darah.

.

.

.

Naruto mengendarai mobilnya dengan ugal ugalan. sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mengejarnya. ia sadar bahwa ia telah melakukan kejahatan besar. ia telah mencuri uang dan tega menyakiti orang tuanya sendiri. ia yakin ayahnya akan mengirim anak buahnya untuk mecarinya. jadi ia sudah memutuskan untuk menjemput Sakura malam ini dan mengajaknya kawin lari dan pindah ke kota lain yang jauh dari Seattle. Naruto sudah pasti tidak akan kembali ke rumah orang tuanya, karena itu sama saja ia bunuh diri.

"Haaaah, tidak apalah asal Sakura senang"

Naruto mengemudikan mobilnya arah pusat perbelanjaan Seattle hendak menuju apartemen Sakura. walaupun waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 keadaan pusat perbelanjaan Seattle justru semakin ramai. kebanyakan dari mereka adalah pegawai atau bos bos perusahaan yang mencari 'hiburan' disana. Klub dan Bar pun mulai ramai diserbu pengunjung. agak ironis memang karena Pusat perbelanjaan Seattle disebut ramah dengan anak. Naruto kembali mengemudikan mobilnya dengan tenang menembus ramainya kehidupan malam di kota Seattle. namun kini perhatiannya tertuju pada sosok perempuan berambut merah muda yang tengah menggandeng erat seorang pria berambut emo dengan model pantat bebek. mereka tampak akrab, di tangan wanita itu tampak sebuah tas yang modelnya mirip dengan yang diinginkan Sakura, pacarnya.

"Kenapa dia mirip sekali dengan Sakura?" tanya Naruto pada dirinya sendiri setelah menyadari kalau perempuan itu sangan mirip dengan sang kekasih.

Perempuan itu pun menolehkan wajahnya ke arah sampinng sehingga wajahnya terlihat jelas oleh Naruto.

'DEEGGG' betapa terkejutnya Naruto ketika melihat wajah perempuan itu, ya, dia adalah Sakura Haruno, kekasihnya. dan yang membuatnya semakin terkejut dan lemas di kursi mengemudinya adalah ketika lelaki berambut emo itu mengecup bibir Sakura sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam mobil. "kenapa dia berani mencium Sakura? aku saja pacarnya tidak boleh menciunya. apa jangan jangan dia itu- pikiran liar Naruto terputus saat melihat mobil yang dikendarai oleh Sakura dan pria berambut emo itu melaju meninggalkan pusat perbelanjaan Seattle. Naruto yang penasaran juga tancap gas untuk mengikuti mobil Mercedes seri terbaru itu.

Akhirnya setelah memakan waktu 30 menit berkendara. mobil mercedes hitam itu berhenti di depan Apartemen tempat Sakura tinggal. Naruto menepikan kendaraanya di agak menjauh dari tempat Mercedes Hitam itu parkir agar tidak membuat Sakura dan Pria itu curiga. Sakura dan pria berambut emo itu keluar dari mobil, mereka tampak akrab namun yang membuat hati Naruto tambah sakit adalah ketika pria berambut emo itu mengeluarkan sebuah cincin dan memasangnya di jari manis Sakura. sedangkan Sakura hanya tersenyum manis pada Pria didepannya itu. tidak ada penolakan atau semacamnya.

"CUKUP!" bentak Naruto. ia lalu turun dari mobilnya dan menghampiri Sakura dan Pria yang telah memberikannya cincin tadi. tanpa ragu Naruto langsung memukul wajah pria berambut Emo itu hingga tersungkur ke tanah. kemudian Ia menarik kerah baju Pria itu membaut tubuhnya yang awalnya tergeletak di tanah dipaksa untuk bangun.

"Berani beraninya kau mencium wanitaku, dasar kau brengsek!" bentak Naruto pada Pria berambut emo itu. namun Pria itu malah menyeringai kemudian tertawa keras. Naruto yang merasa tersinggung dengan sikap pria itu hendak melayangkan satu pukulan lagi ke wajahnya sebelum Sakura menghentikannya.

"HENTIKAN NARUTO, JANGAN SAKITI SASUKE-KUN!" teriak Sakura pada Naruto. ia kemudian mendorong tubuh Naruto. lalu menghampiri Sasuke yang tampak masih kesakitan akibat pukulan Naruto. "KENAPA KAU MEMUKUL SASUKE-KUN? KENAPA KAU MENGIKUTI KAMI?" bentak Sakura lagi pada Naruto, kini ia tampak mengusap luka pada wajah Sasuke.

"Kenapa? kau ingin tahu jawabannya? karena si brengsek ini berani menciummu Sakura! aku pacarmu dan aku harus melindungimu dari orang mesum nan brengsek seperti dia!" balas Naruto pada Sakura.

"Pacar? Hahahahahaha, jadi ini pacar yang sering kau ceritakan itu, Sakura? seorang Tentara yang naif dan sembrono? aku baru tahu kalau dia orangnya" giliran Sasuke yang membalas perkataan Naruto, ia lalu bangkit dan menatap Naruto dengan ekspresi mengejek. "Aku, Sasuke Uchiha, telah bertunangan dengan Sakura Haruno, Namikaze-san. dan nampaknya kau telah dicampakkan Sakura dari hatinya, bukan begitu Sakura sayang ?" sambung Sasuke sambil mengecup pipi Sakura. sementara Naruto membeku ditempat, syok karena mendengar pernyataan Sasuke soal hubungannya dengan Sakura. bukankah Ia dan Sakura sudah menjalin hubungan spesial selama 4 bulan? kenapa Sakura tega mengkhianatinya dengan bertunangan dengan pria lain. Sakura bahkan belum memutuskan hubungannya dengan Naruto.

"Ya itu benar Naruto, aku sudah bertunangan dengan Sasuke-kun. pria yang jauh lebih kaya, tampan, dan juga berkharisma. tidak sepertimu yang hanya seorang Tentara. Sasuke-kun adalah penerus Uchiha Corporation. masa depannya lebih cerah dibanding dirimu" ucap Sakura angkuh pada Naruto. "Sekarang lebih kau pergi dari sini sebelum aku memanggil Polisi dari sini, kau mengerti? PERGI!" usir Sakura pada Naruto yang masih berdiri tegak didepannya, memandang tajam Sakura.

"Hahaha, tak kusangka ya, Sakura. setelah berbagai hal dan pengorbanan yang kulakukan untukmu selama 4 bulan kita berhubungan, kau ternyata berselingkuh dengan Pria lain dan bertunangan dengannya. Sakura, kau memang benar benar seorang Jalang yang cerdik, Gold Digger. bahkan kau lebih rendah dari seorang Jalang. kau itu bisa dibilang binatang, ya, babi lebih tepatnya. hahahahahaha" ucap Naruto getir sambil tertawa keras.

'Plaaaakkkkk'

"PERGI KAU DARI SINI, BRENGSEK!" bentak Sakura setelah menampar Naruto. hinaan Naruto tadi benar benar keterlaluan baginya.

"Baik, baik aku pergi sesuai kemauanmu Jalang! oh iya Sasuke, selamat menikmati tubuhsi Jalang ini ya! sering sering sakiti dia. agar otaknya yang miring itu bisa lurus kembali. maafkan aku soal sikapku tadi, harusnya aku tidak usah memukulmu kalau tahu ternyata Sakura yang berselingkuh dariku" ucap Naruto sambil pergi menjauh meninggalkan mereka berdua diiringi dengan berbagai umpatan dan makian yang dilontarkan Sakura setelah Naruto kembali menghinanya tadi.

.

.

.

Waktu sudah menunjukkan pukul 03.30, namun Naruto masih setia berada di dalam mobilnya yang telah ia parkirkan di tepi jalan di alun alun kota Seattle. ia berkali kali menghantamkan kepalanya ke setir, membuat keningnya berdarah. namun ia tak merasakan sakit pada lukanya itu. sakit di hatinya lah yang benar benar menyiksanya. hari ini benar benar hari yang sangat buruk dan sial untuknya. pertama, ia telah memukul dan mengambil uang sahabatnya, Kiba, yang kini merupakan anak buahnya di kompi Bravo. yang kedua, ia telah mencuri uang gaji sang ayah dan menyakiti kedua orang tuanya sendiri hingga berdarah darah. yang ketiga, ia mendapati bahwa pacarnya berselingkuh bahkan bertunangan dengan orang lain, padahal mereka masih berstatus sebagai pacar. dan yang keempat, kini ia tidak tahu harus tinggal dimana karena ia tidak bisa pulang ke rumah orang tuannya yang notabene menjadi tempat tinggalnya selama ini.

"Sial, aku tidak bisa tidur di mobil dengan kondisi seperti ini. anak buah ayah akan dengan mudah menangkapku jika aku tidur di mobil. ini kan mobil ibu. tapi mana ada hotel atau kos kosan yang masih buka di jam segini?" ucap Naruto pada dirinya sendiri. kini ia memikirkan dimana ia kan tinggal kedepannya. apa ia harus ke luar kota? tapi ia tidak bawa ID Card, jadi ia tak bisa melintasi perbatasan negara bagian.

"Ah, Kos kosan Kiba kan ada di dekat sini, tapi apa ia mau menerimaku setelah apa yang kulakukan padanya siang tadi?" Naruto baru ingat jika kos kosan Kiba berada dekat dengan posisinya saat ini, namun apa Kiba akan menerimanya untuk tinggal sementara waktu setelah ia menghina dan mengambil uangnya?

"Ck, kalau tidak dicoba kita tidak akan tahu kan? Yosh kita pergi ke rumah Kiba!" ucap Naruto pada dirinya sendiri ( lagi ) ia lalu mengemudikan mobilnya ke Kos Kosan milik Kiba dengan percaya diri.

.

.

.

'Tok, Tok, Tok'

"Iya sebentar!" teriak Kiba pada orang megetuk pintu kamar kosnya. siapa orang bodoh yang bertamu malam malam begini. dengan jengkel ia membuka pintu kamar kosnya dengan kasar, hendak membentak orang yang bertamu malam malam ke kosannya.

"Hei, kau ini tidak punya malu ya bertamu malam ma- ucapan Kiba terputus saat menyadari siapa tamunya itu.

"E-eh, Naru- maksutku Sersan Naruto, siap Pak!" ucap Kiba gelagapan kemudian memberikan hormat pada Naruto yang dibalas anggukan kecil oleh pemuda berambut kuning itu.

"Boleh aku masuk, Kiba?"

"A-ah, Si-silahkan masuk" balas Kiba gugup, ia lalu mempersilahkan Naruto untuk masuk ke kamar kosnya. setelah dipersilahkan masuk Naruto langsung menduduki sofa kecil yang ada di pojok ruangan, menyederkan tubuhnya penuh kenikmatan setelah harus duduk berjam jam di kursi mobil yang kaku dan keras.

"Aku hendak bicara sesuatu padamu, Kiba"

"A-apa ini soal kejadian tadi siang pak? aku minta maaf, aku sungguh tidak bermaksut menyerangmu. aku hanya tidak suka anda menghina anggota keluargaku pak. aku mohon jangan pecat aku dari kesatuan, jika aku dipecat bagaimana aku bisa menghidupi keluargaku pak, adikku masih sekolah dan butuh biaya besar. kumohon akan kulakukan apapun agar aku tidak dipecat" mohon Kiba sambil bersujud di kaki Naruto, memohon agar tidak dipecat dari Militer.

"Hei aku bukan ingin memecatmu dari kesatuan, soal itu justru aku yang salah dan aku sungguh minta maaf karena sudah menghina kakak dan adikmu dan juga memukulmu. kumohon maafkan aku Kiba!" kini giliran Naruto yang memohon sambil memeluk Kiba erat. "Maukah kau memaafkanku Kiba? aku benar benar menyesal" sambung Naruto.

"Aku sudah memaafkanmu pak. tapi tolong jangan pecat aku dari Militer!"

"Aku tidak akan memecatmu. ngomong ngomong panggil namaku saja tidak usah menggunakan pangkat atau pak, kita kan sudah bersahabat sejak lama. dan juga aku ingin bertanya sesuatu padamu, boleh?"

"Tentu saja boleh, Ser- maksutku Naruto, kau mau tanya apa?" balas Kiba, senang karena Naruto tidak jadi memecatnya dari kesatuan, bahkan meminta maaf padanya soal kejadian tadi siang.

"Bolehkah aku tinggal bersamamu di kos kosan ini? tenang saja, biayanya aku yang tanggung semua, mulai dari makan hingga tetek bengek lainnya" terang Naruto, kemudian ia mengambil sejumlah uang dari tas yang ia curi dari orang tuanya. "ini, uang yang tadi aku pinjam darimu, kukembalikan. aku tambahkan 300 dollar hitung hitung sebagai permintaan maafku. aku tidak menerima penolakan,jadi terima uang ini paham?" sambung Naruto pada Kiba.

"Terima kasih banyak Naruto. kebetulan kemrin adikku minta dibelikan sepeda baru!" ucap Kiba terharu sambil memandang uang yang baru saja Naruto berikan padanya. "Ngomong ngomong kenapa kau ingin tinggal bersamaku? apa yang terjadi dengan rumah orang tuamu? apakah direnovasi?" tanya lagi Kiba pada Naruto.

Naruto pun menghembuskan nafasnya pelan, sebelum akhirnya ia bercerita bahwa Naruto mencuri uang orang tuannya kemudia menyakiti mereka hingga ibunya pingsan, lalu soal hubungannya dengan Sakura yang kandas karena Sakura telah bertunangan dengan orang lain. Naruto menceritakan semuanya pada Kiba dan Kiba mendengarkan dengan baik semua cerita Naruto.

"Haahhh, sungguh sial kau hari ini Naruto. sudah kuperingatkan sejak awal bahwa Sakura bukan perempuan yang baik untukmu, tapi kau malah tidak mendengarkan kami, aduduh sial perutku masih sakit" ucap Kiba setelah Naruto menjelaskan alasannya untuk tinggal bersamanya di kos kosan ini "Kau boleh tinngal disini, tapi kau harus ijin ke pemilik kos kosan ini dulu. besok akan kuijinkan, ok? soal biaya nanti kubicarakan dengannya" sambung Kiba.

"Benarkah boleh? terima kasih banyak Kiba! aku berhutang budi padamu. ngomong ngomong apa perutmu masih sakit ?. sekali lagi maafkan aku Kiba!"

"Tidak apa apa, hanya memar sedikit kok. oh ya, apa kau besok masih bertugas? Kapten Kotetsu Hagane akan memberikan Briefing untuk kompi kita besok. dan komandan peletonnya adalah kau, Naruto!" tanya Kiba pada Naruto.

"Mungkin dengan kesalahan yang telah kuperbuat hari ini membuatku dipecat dari kesatuan 12th, Kiba. Shikamaru akan menggantikan posisiku besok. oh ya Kiba bisakah kau suruh Shikamaru untuk menjadikan Pratu Jackson sebagai komandan peleton 2. kudengar ia cukup berbakat dalam mempin teman temannya. jangan lupa sampaikan pada Shikamaru. kau mengerti Kiba?

"Siap, Sersan!" kekeh Kiba pada Naruto. sedangkan Naruto hanya tersenyum ringan.

"Oh ya, aku tidur di kasurmu dan kau tidur di sofa. ini perintah, kau mengerti Kiba?" perintah Naruto pada Kiba seenaknya sendiri. lalu ia segera merebahkan diri di kasur Kiba. membuat yang bersangkutan menatap Naruto tajam kemudian berteriak lantang...

"Dasar Naruto, kau tetap saja Breeennggsseeekkkk" teriak Kiba kencang. sedangkan Naruto hanya tersenyum kecil kemudian ia segera memejamkan matanya untuk tidur.

.

.

.

Sudah 2 bulan berlalu semenjak Naruto memutuskan untuk tinggal satu kamar dengan Kiba. temannya itu kini berpangkat Sersan satu. sama seperti pangkat Naruto dulu saat masih menjadi Tentara. kini ia tengah sarapan pagi dengan Kiba di meja kecil yang Naruto belikan. ia merasa tidak nyaman harus makan di lantai dan Kiba Cuma bisa menggaruk rambutnya ketika Naruto protes soal itu. Kiba sendiri sudah berseragam Militer rapi, bersiap untuk berangkat ke Markas kesatuan 12th untuk bertugas.

"Aku berangkat dulu Naruto! aku pulang malam jadi tidak usah menungguku!" pamit Kiba pada Naruto membuat Naruto bergidik ngeri mendengar perkataan Kiba seolah olah mereka adalah pasangan Suami istri.

"Sekali lagi kau pamit padaku seperti itu, kupatahkan lehermu" ancam Naruto pada Kiba yang kini menatapnya Jahil lalu segera berangkat ke Markas kesatuan 12th. membuat Naruto kini sendirian di kamar kos kosan itu.

"Haahh, benar benar membosankan. acara TV sangat tidak bermutu. Laptop Kiba baterainya habis, Handphoneku habis pulsa. cih sialan." umpat Naruto pelan sambil membereskan piring sarapannya dengan Kiba. kegiatan yang biasa dilakukan oleh ibunya di rumah ngomong ngomong soal ibunya membuat Naruto merasa rindu pada Kushina dan Minato. ia merasa bodoh karena sudah tega menyakiti mereka secara fisik maupun perasaan karena cintanya pada si Sakura.

"Ibu masak apa ya dirumah? apa mereka sudah mengadopsi anak baru?" pikiran Naruto kini mulai liar. ia membayangkan Ibu dan Ayahnya mengadopsi anak tiri yang jauh lebih keren darinya. membuat Naruto geleng geleng kepala, membuang jauh pikiran liarnya itu dari kepalanya.

"Minum Coca Cola dan makan Ramen cup kelihatannya bagus untuk memperbaiki mood ku hari ini" ucap Naruto. ia lalu pergi ke dapur dan mengecek persediaan Coca Cola di dalam Kulkas. Habis, Ramen cup juga habis. membuat Naruto semakin kesal. "Sial nampaknya aku harus beli di Supermarket. dasar Kiba pemalas tidak mau men stock barang keperluan hidup!" gerutu Naruto. ia kemudian memakai Hoodie berwarna hitam yang menutupi seluruh bada bagian atasnya kecuali wajah, memakai masker dan kacamata hitam untuk menutupi identitasnya dan juga mengambil dompet kemudian bergegas pergi ke Supermarket sebelum kondisi kota semakin ramai.

.

.

.

" ~Ramen Cup, Ramen Cup, Ramen Cup dimana kau berada~..." senandung Naruto sambil mencari Ramen Cup kesukaannya itu di sepanjang rak Supermarket Seattle. sesekali ia harus meongokkan kepalanya keatas untuk mencari Ramen Cup yang ia ingin beli. tangannya tengah memegang keranjang kecil yang didalamnya sudah berisi 2 botol besar Coca Cola dan satu paket telur Organik.

"Ah itu dia Rak nya, kucari dari tadi ternyata ada disitu!" pekik Naruto senang ketika menemukan Rak berisi Ramen Cup kesukaannya. segera ia menjulurkan tangannya untuk mengambil beberapa buah Ramen Cup itu.

"Eh?"

Naruto melihat ada tangan lain yang juga memegang Ramen Cup yang baru saja ia ambil. Naruto menggeram kesal, enak saja mau mengambil Ramen Cup yang sudah ia cari dengan susah payah. dengan perasaan gondok ia pun menolehkan kepalanya ke arah orang yang berani mengambil Ramen Cup itu dari tangannya.

"Hei, itu Ramen Cup milikku jangan seenaknya mengambilnya dari tanganku dong dasar tidak sop-" ucapan Naruto terputus saat melihat orang yang telah mengambil Ramen Cup miliknya. orang itu adalah Wanita dengan rambut merah panjang dengan iris tak lain tak bukan adalah adalah Kushina Uzumaki. ibu dari Uzumaki Michael Naruto.

"A-ah, maaf kau bisa mengambil Ramen Cup itu kok Nyonya. hehehehe" ucap Naruto salah tingkah ketika bertemu dengan ibunya itu. sedangkan Kushina menatap Naruto dengan tatapan tajam dan menyelidik. membuat Naruto bersiap mengambil langkah seribu alias kabur sebelum Kushina menarik tangan Naruto. mencegahnya untuk pergi.

"Naruto..., apakah ini benar kau, Naruto?" tanya Kushina pada Naruto yang sekarang terkejut ketika Kushina mengenalinya padahal ia sudah mengenakan Hoodie, Kacamata, dan masker untuk menutupi identitasnya.

"Nyonya mungkin salah orang, namaku Daisuke Harada, bukan Naruto, sudah ya aku buru buru. selamat tinggal!" balas Naruto kemudian melepaskan pegangan tangan Kushina di lengannya sebelum akhirnya lari meninggalkannya.

"HEI TUNGGU JANGAN LARI!" teriak Kushina, ia mulai mengejar Naruto yang kabur meninggalkannya.

"Gawat, ibu mengejarku, sial, sial, sial mana kasirnya? mana pintu keluarnya? Tuhan tolong aku!" ucap Naruto sambil terus berlari mengitari sekeliling Supermarket sambil mencari pintu keluar dari Supermarket. karena terlalu terburu buru ia malah menabrak pengunjung lain yang tiba tiba muncul di depannya. membuat dirinya dan orang yang ia tabrak sama sama terjatuh.

"Hei jangan lari lari di Supermarket anak muda" kata Pria yang ditabrak Naruto barusan. sedangkan Naruto yang kepalanya masih pusing akibat menghantam rak supermarket itu masih terduduk lemas, mengumpulkan kesadarannya sebentar.

"MINATO TANGKAP ORANG ITU!" teriak Kushina yang masih setia mengejar Naruto. Naruto yang mendengar Kushina memanggil orang yang barusan ditabraknya dengan nama Minato pun langsung bangkit dan hendak berlari lagi namun Minato keburu memiting lehernya mencegahnya untuk Naruto untuk lari.

"Aaargghh, lepaskan aku Tuan!" pinta Naruto pada Minato yang kini memiting lehernya dengan kuat.

"Apa dia pencopet, Kushina? kenapa kau mengejarnya?" tanya Minato pada Kushina yang menghampiri mereka berdua. Minato masih memiting leher Naruto agar tidak bisa kabur. membuat Naruto meronta ronta minta dilepaskan

"Ya ampun, Nyonya. sudah kubilang kau salah orang, namaku Daisuke bukan Naruto yang kau cari" dusta Naruto mencoba bersandiwara pada orang tuanya.

"Benarkah? mari kita buktikan!" balas Kushina sambil tersenyum. ia lalu melepas Hoodie, kacamata, juga masker yang Naruto pakai. kini terlihat sosok sebenarnya dari orang yang Kushina curigai dari tadi. ternyata memang benar anaknya satu satunya. Naruto Uzumaki.

"Akhirnya kau ketemu juga, Naruto!" ucap sang ibu senang sambil mengedipkan sebelah matanya tak lupa ia juga menowel hidung putranya yang sudah lama ia cari itu. sedangkan sang ayah hanya menatapnya datar "Kita harus bicara di rumah, Naruto!" ucap sang ayah tegas. membuat Naruto semakin lemas

"Tuhan, aku mohon selamatkan aku kali ini" jerit Naruto dalam hati

.

.

.

'BRAAKKK, BUAAGGHHH, BRAAKKKK' suara suara pukulan, hantaman, dan makian terdengar dari rumah keluarga Namikaze. membuat siapapun yang mendengarnya mengira bahwa telah terjadi perkelahian atau KDRT di dalam rumah. dan memang perkiraan itu tidak salah karena memang terjadi KDRT di dalam rumah itu. namun bukan KDRT suami vs istri, melainkan Ayah vs Anak.

Entah sudah berapa kali tubuh Naruto menghantam dinding dan tersungkur ke lantai. namun yang pasti seluruh tubuhnya sudah benar benar memar dan mengeluarkan darah. sang ayah benar benar menyiksanya kali ini. sementara sang Ibu hanya bisa menangis dan mencoba menghalang halangi sang ayah untuk tidak menyiksa anaknya lagi. namun itu sia sia, karena Minato akan segera menyingkirka tubuh Kushina kemudian kembali memukuli Naruto lagi.

"BERDIRI BAJINGAN! KAU LAKI LAKI KAN? CEPAT BERDIRI DASAR ANAK TIDAK TAHU DIUNTUNG!" maki Minato sambil menyuruh Naruto untuk berdiri setelah sang anak tersungkur ke lantai akibat pukulan yang tadi ia berikan.

Naruto pun berdiri mematuhi perintah ayahnya. membuat Minato tanpa basa basi memukul perut Naruto dengan popor senjata M1 yang ia pegang. membuat Naruto kembali tersungkur sambil memuntahkan darah segar. lantai ruang keluarga yang bermotif kayu Mahoni itu pun berubah warna menjadi merah karena darah Naruto yang tercecer dan menggumpal.

"CUKUP MINATO, CUKUP! KAU BOLEH SAKITI AKU, PUKUL AKU TAPI JANGAN SIKSA NARUTO! KUMOHON. DIA ANAKKU DAN AKU IBUNYA. AKU TIDAK TEGA MELIHATNYA KESAKITAN, KUMOHON!" pinta Kushina pada Minato sambil menangis. ia bahkan bersujud sambil memeluk kaki Minato memohon agar Minato menghentikan penyiksaan pada Naruto.

"Kau lihat siapa ini Naruto? Wanita inilah yang selama ini mencarimu kemana mana saat kau menghilang. Wanita inilah yang rela bolak balik ke Virginia dan Arizona untuk mencarimu di rumah kakek nenekmu. Wanita yang rela tidur larut malam, berharap kau yang selalu bertanya soal keadaan dirimu padaku sampai membuatku bosan, Wanita yang telah mengandung dan melahirkanmu selama 9 Bulan, merawatmu selama 19 tahun hidupmu. Wanita yang pernah kau sakiti sampai kritis di rumah sakit selama 1 bulan. kini ia memohon padaku untuk berhenti menyiksamu, padahal kau sudah menyiksanya selama ini. enak sekali kau ya!" ucap Minato sambil mengelus lembut kepala Kushina yang masih menangis di pangkuannya.

"Ayah, Ibu..." ucap Naruto getir setelah mendengar pengorbanan dan usaha Ibunya selama hidupnya dan saat dia mencari keberadaan Naruto yang sudah menghilang selama 2 bulan lamanya. yang selalu mengkhawatirkan dirinya, yang selalu menunggunya pulang ke rumah, yang tidak menyerah untuk mencarinya.

'Braaakkk' suara kepala Naruto yang dihantamkan ke lantai. kini Naruto dalam posisi bersujud di depan orang tuanya.

"Ayah... ibu maafkan aku, aku memang anak bodoh dan tidak berguna bagi kalian. aku justru lebih mementingkan hubunganku dengan Sakura sampai aku tega menyakiti kalian hingga membuat ibu kritis di rumah sakit. tapi aku berjanji... aku akan menjadi seorang anak yang jauh lebih membanggakan kalian lagi. akau akan masuk Ranger Angkatan Darat, aku akan membantu ibu mengurus rumah, akan kulakukan apapun untuk membahagiakan kalian, tapi KUMOHON MAAFKAN AKU, KUMOHON, KUMOHON KUMOHON" ucap Naruto sambil menghantamkan kepalanya berulag kali ke lantai sebagai wujud permohonan maafnya kepada Minato dan Kushina. tak peduli bahwa keningnya mulai berdarah.

"NARUTO HENTIKAN, IBU MEMAAFKANMU NAK, IBU SELALU MEMAAFKANMU! HIKS TAPI KUMOHON, BERHENTI MENYIKSA DIRIMU SENDIRI!" jerit Kushina saat melihat kepala Naruto mulai mengeluarkan darah. namun Naruto tidak mempedulikan perkataan Kushina dan terus menghantamkan kepalanya ke lantai hingga darah kental mulai merembes ke lantai.

"NARUTO! HENTIKAN AYAH MOHON, HENTIKAN!" teriak Minato sambil memeluk Naruto erat membuat Naruto berhenti menghantamkan kepalanya ke lantai. Kushina juga ikut memeluk Naruto dan kini mereka tengah berpelukan satu sama lain sambil menangis haru. setelah 2 bulan berpusah akhirnya mereka dapat bertemu Naruto. putra kesayangan Minato dan Kushina.

"Jangan pernah meninggalkan kami lagi, kau paham Naruto!"

"Aku janji, Ayah.. Ibu.. aku janji tak akan pernah meninggalkan kalian lagi.." balas Naruto pada kedua orang tuanya itu. ia terus memeluk mereka berdua cukup lama. sebelum akhirnya...

"Ibu, Ayah, aku pusing" keluh Naruto pada orang tuanya yang kini menatapnya khawatir.

"Astaga Naruto kau kehilangan banyak darah, Minato cepat panggil ambulans, cepat!" teriak Kushina histeris melihat keadaan Naruto yang benar benar babak belur itu. ia juga menyuruh Minato untuk segera memanggil ambulans untuk mengantar anaknya ke rumah sakit.

"Baik, baik, hei bertahanlah Naruto, ambulans sebentar lagi akan datang!"

Dan semenjak itulah kehidupan Naruto berubah. ia memang telah dipecat dari kesatuan 12th, namun, kemudia mendaftar menjadi anggota Ranger. pangkatnya terus naik selama 3 tahun. hingga akhirnya dia menjabat sebagai pemimpin Kompi Delta dari Batalyon taktis Ranger 8th. dan selama itulah ia mulai melupakan yang namanya Cinta dari seorang perempuan, karena ia tidak mau mengulang kesalahan yang sama saat ia berpacaran dengan Sakura. kesalahan yang mebuat hidupnya sempat berantakan dan dibenci banyak orang karena masalah Cinta.

Flashback end

"Sial, memikirkan soal masa lalu membuat perutku lapar. makan Ramen Cup dulu ah, mumpung ibu tidak ada di rumah. hehehehehehe" kata Naruto seraya bangkit dari tempat tidurnya hendak menuju Dapur untuk membuat Ramen Cup kesukaanya yang selama ini dia sembunyikan dari ibunya selama ini. namun sebelum ia mencapai Dapur, bunyi bel rumahnya mengalihkan perhatiannya. membuat ia penasaran siapa kira kira orang yang bertamu sore sore begini?

"Siapa ya? tidak mungkin itu ibu atau ayah, atau- jangan jangan Kakek Jiraiya datang dari Arizona untuk berkunjung.. Asiiiikkkkk" pekik Naruto senang berharap bahwa Kakeknya yang juga penulis novel majalah dewasa terkenal di Amerika datang mengunjunginya.

Namun saat pintu dibuka bukan sosok Jiraiya lah yang Naruto temui, melainkan sosok Sakura yang ia temui membuat Naruto cukup terkejut karena bingung bagaimana Sakura tahu lokasi rumah orang tuanya padahal mereka sudah pindah 2 tahun yang lalu.

"Hei Naruto, ketemu lagi!" sapa Sakura dengan senyum manis andalannya. senyum yang dulu bisa membuat Naruto tidak bisa tidur saking senangnya. namun itu dulu. kini Naruto justru memandang Sakura dengan datar.

"Mau apa kau kesini? dan bagaimana kau bisa tahu rumah orang tuaku ada disini? jangan bilang kalau kau mengikuti ku dari Restoran milik ayah Lee?" tuduh Naruto pada Sakura yang kini menatapnya jahil sambil menjulurkan lidahnya keluar.

"Hehehe begitulah, bolehkah aku masuk? disini dingin tahu!" ucap Sakura sambil mengerucutkan bibirnya sambil memandang Naruto dengan tatapan memelas.

"Tidak boleh! peraturan di sini adalah setiap tamu yang berkunjung dibawah jam 3 siang harus melapor pada komandan Battalion yang tak lain tak bukan adalah Ayahku. dan kini beliau ada di luar kota, jadi intinya kau tidak bisa masuk! Dusta Naruto. mana ada peraturan seperti itu di perumahan Militer? namun karena ia sudah malas bertemu Sakura, jadilah ia mengarang peraturan tersebut agar Sakura segera pergi dari rumah orang tuanya.

"Oh begitu? kalau begitu ambillah ini, kue kering buatanku. aku bikin khusus untukmu dan keluargamu Naruto. Tupperwarenya tidak usah dikembalikan, atau kalau kau memaksa kembalikan ke rumahku saja. kau masih menyimpan alamatnya kan?" balas Sakura sambil menyerahkan setoples Kue Kering kepada Naruto.

"Hn, Terima kasih. sekarang cepat pergi sana, hush hush..." usir Naruto pada Sakura seperti mengusir anak kucing. membuat Sakura cemberut.

"Dasar, kaupkir aku anak kucing apa?" balas Sakura pada Naruto. ia lalu segera masuk ke dalam mobilnya lalu meninggalkan komplek perumahan Militer itu dengan tersenyum, setidaknya Naruto mau menerima kue kering pemberiannya. itu saja sudah cukup bagus. pikir Sakura dalam hati.

Setelah Sakura pergi, Naruto kini memandang Kue kering pemberian Sakura dengan datar. awalnya ia hendak menolak Kue kering pemberian Sakura itu. namun setelah ia pikir pikir, tidak salahnya menerimanya. toh hatinya sudah ia tutup dari Sakura dan Kue ini gratis. jadi disini ialah pihak yang paling diuntungkan.

"Oh ya, Ramen Cup ku!" teriak Naruto menyadari tujuan awalnya pergi ke Dapur untuk apa.

.

.

.

Setelah makan Malam. anggota keluarga Namikaze tampak bersantai di depan TV. Minato dan Naruto duduk bersila di karpet sambil memegang stick PS 4 di tangan mereka. Mereka tengah bermain game PES 2016 di konsol PS 4. sedangkan Kushina duduk di sofa sambil memperhatikan suami dan anaknya itu bermain.

"Kue buatan Sakura enak juga ternyata" ucap Minato sembari mengambil satu keping Kue kering itu dari toples. "Kau tidak mau Naruto?" tanya Minato lagi pada putranya yang masih sibuk mengganti formasi pemainnya itu.

"Tidak, terimakasih Ayah- sial pemain terbaikku cidera lagi!" tolak Naruto

"Kau ini Naruto. kue enak begini kau tolak, apalagi ransum Militer yang tidak enak itu" komentar Kushina sambil memakan sekeping Kue kering itu dengan lahap. ia akui Kue kering buatan Sakura memang enak, mungkin Mebuki, ibunya yang mengajarkannya membuat kue kering.

"Percayalah bu, ransum Militer Ranger lebih enak dan mengenyangkan dibanding Kue kering ini"

"Ada ada saja kau ini. Ransum Militer menjijikan itu kau bilang lebih enak dari Kue kering ini? lidahmu mati rasa atau bagaimana?" protes Kushina saat Naruto mengatakan kalau Ransum Militer lebih lezat dibanding Kue kering buatan Sakura.

"Ngomong ngomong soal Ranger, ayah sudah melakukan rapat dengan Menhan Meehan. dia setuju soal pengiriman Ranger ke Ukraina dalam waktu dekat. namun dia masih melakukan rapat dengan Konggres mengenai hal ini." terang Minato pada Naruto yang menatapnya dengan tatapan serius.

"Benarkah? aku harap Konggres bodoh itu tidak menyetujui rencana Meehan. aku heran dengan orang itu, setiap ada negara yang berperang maka ialah yang paling getol mengajukan usul pengiriman pasukan AS ke luar negeri. Panama, Somalia, Irak, Afganisthan, Libya, Suriah. pengiriman pasukan ke Negara negara itu yang sudah pernah ia ajukan ke Konggres dan herannya selalu disetujui." terang Kushina panjang lebar. Minato yang mendengar itu langsung terdiam, tidak ingin dirinya ikut disalahkan.

"Perang ya?" ucap Naruto singkat sebelum ia kembali fokus ke Game yang ia mainkan dengan sang ayah.

Ia harap apapun keputusan dari Konggres. keputusan itu harus dilaksanakan untuk meraih cita cita umat Manusia dari jaman Adam dan Hawa, yaitu perdamaian Dunia. Dunia yang tanpa permusuhan, hanya cinta kasih dan rasa toleransi antar manusia lain.

Hanya itu yang Naruto impikan, sebagai seorang Prajurit Ranger Angkatan Darat Amerika Serikat.

.

.

.

.

TBC

^Pojok Author

Fyuuuh benar benar sebuah flashback yang melelahkan. tapi ada alasan tersendiri kenapa saya menciptakan sebuah Flashback yang benar benar kompleks seperti ini. yaitu agar hubungan antar karakter di Fanfic ini semakin erat. Flashback juga nantinya akan sangat berpengaruh untuk jalan cerita kedepannya.

untuk Chapter depan, kebanyakan akan diisi dengan kegiatan Naruto di kamp pelatihan Ranger. dan bakal banyak refrensi film perang yang bakal kumasukkan di chapter itu. kayak Band of Brother dan Black Hawk Down. Penasaran? tunggu aja oke!

Mohon Kritik dan Saran Tulis di kolom komentar ya!

Salam hangat

Author : Leopard2RI