Disclaimer : Masashi Kishimoto

Summary : Kisah Naruto Uzumaki, seorang anggota pasukan elit Ranger AD Amerika Serikat yang sangat mecintai Negara nya, suatu hari ia ditugaskan ke Ukraina sebagai pasukan perdamaian, disanalah ia bertemu seorang Wanita yang kelak akan mengisi hatinya.

Warning : Military Topic, Konten kekerasan.

.

.

.

.

Suasana Hutan nampak asri di pagi hari yang indah ini. nampak burung burung mulai meninggalkan sarang sarang mereka, hewan hewan seperti rakun dan musang mulai mencari mangsa. semua nampak indah dan normal. ketenangan hutan membuat kita seakan berada sendirian di dunia ini. tanpa tekanan, tanpa tanpa ancaman, dan tanpa beban.

Namun ketenangan Hutan itu nampaknya akan terusik, karena kini di salah satu deretan pepohonan nampak seorang pria berambut kuning tengah mengawasi sesuatu dengan Binocular militernya. pria itu tidak sendirian, ia bersama puluhan orang lain juga nampak siaga, menunggu sesuatu yang pasti akan datang pada mereka.

"Kiba, Chouji, Heffron. kemari!" panggil pria itu pada 3 nama yang tadi ia sebutkan.

"Siap Kapten!"

"Dengar! tempat ini bagus untuk penyergapan, kita berada di ketinggian sekarang. dari segi sudut evaluasi tembakan dan posisi kita jauh lebih unggul dari musuh. kita akan menyebarkan pasukan untuk mengepung daerah dibawah. kita akan membuat musuh kebingungan dan panik, jika mereka panik maka moral mereka akan jatuh dan kita dapat dengan mudah mengalahkan mereka. kalian mengerti!

"Mengerti pak!"

"Baik sekarang akan kubagi posisinya. Kiba, kau bawa 10 orang ke sayap kanan, sertakan juga 1 senapan mesin sedang sebagai penekan bagi musuh" kata pria berambut kuning itu pada Kiba. ia lalu menolehkan kepalanya ke arah Chouji. "Chouji, kau bawa 10 orang ke sayap kiri, sama seperti Kiba, kau sertakan 1 senapan mesin sedang sebagai penekan. dan kau Heffron- .kini pria itu itu menoleh ke arah Heffron. – kau bawa 5 orang penembak terbaikmu dan 1 orang Grenadier juga 1 peleton mortir ke bukit di ujung jalan itu untuk menghancurkan formasi depan musuh. sementara aku akan bersama yang lain akan menyergap mereka dari belakang. apa kalian mengerti?" sambung pria itu sambil menatap tajam ketiga orang anak buahnya itu, berharap mereka telah mengerti rencana yang tadi ia telah sampaikan.

"Siap, laksanakan pak." ucap ketiga orang itu dengan nada pelan, tidak ingin membuat musuh mengetahui posisi mereka saat ini. setelah itu mereka langsung menyebar bersama pasukan yang lain ke posisi mereka masing masing. sesuai instruksi pria berambut kuning yang merupakan komandan mereka tadi.

beberapa menit kemudian para pasukan telah menyebar sesuai instruksi pria tadi. mereka kini tengah bersiaga penuh menunggu musuh yang menurut rencana akan datang ke posisi mereka. moncong senjata api mereka kini mengarah ke ujung jalan tempat musuh akan pertama kali terlihat. pasukan mortir juga telah mengukur arah tembakannya dengan cermat. kini pasukan itu telah siap membabat habis musuh yang akan datang.

"Semua sudah siap, Kapten Naruto!" teriak seorang anak buahnya melalui Walkie Talkie nya.

"Bagus Kiba, sekarang kita tunggu mereka menggigit umpannya" ucap Naruto sambil menyeringai kejam, ia nampak begitu bersemangat kali ini. ia kemudian mengambil senapan M4 Carbine miliknya dan mengarahkan moncong senapan itu ke ujung jalan. posisi tiarap ia ambil agar musuh tidak mengetahui keberadaannya. ia masih menyeringai kejam. memprediksi apa yang akan terjadi musuhnya saat melewati jalanan ini.

.

.

Sementara itu tidak jauh dari tempat Naruto dan pasukannya bersembunyi. sekumpulan orang yang mengenakan seragam tempur dan senjata lengkap nampak berjalan menyusuri hutan dengan tampang cemas dan kelelahan. sesekali mereka harus berhenti karena komandan mereka masih mengecek peta untuk menentukan jalan yang harus mereka lalui selanjutnya.

"Sudah kubilang kan Neji! kalau kau menerangkan Peta padaku, kau harus menjelaskannya sampai detail. gara gara mu lah perjalanan kita jadi terhambat begini, dasar bodoh!" maki seorang pria yang nampaknya komandan pasukan kompi itu pada anak buahnya yang bernama Neji. membuat pria itu mengerenyit bingung atas tuduhan yang komandannya tuduhkan padanya.

"Tapi pak, kau sendiri yang mengubah jalur perjalanan kompi kita. aku sudah menerangkan padamu jalan sesuai peta, tapi kau malah memutuskan untuk melalui jalan yang lain!" protes Neji pada komandan kompinya itu. sontak saja membuat komandannya marah lalu mencengkram kerah seragam Neji dengan erat. membuat ia tidak bisa bernafas.

"Berani sekali kau bicara begitu padaku, Letnan! kau ingin menjadi pahlawan huh? kau harusnya sadar siapa pemegang kekuasaan tertinggi di kompi ini, yaitu aku. jadi kau tidak usah ikut ikutan mengaturku. kau mengerti?" ancam Komandan Kompi nya pada Neji. Neji yang benar benar kesulitan bernafas pun mengangguk tanda mengerti. komandannya segera melepaskan cengkraman tangannya dari kerah seragam Neji dan melanjutkan perjalanannya, diikuti oleh pasukan yang lain. meningalkan Neji yang masih syok dan kesakitan di tanah.

"Kau tidak apa apa, Letnan?" tanya seorang sersan satu sambil mengulurkan tangannya. Neji kemudian mengangguk lagi dan menerima uluran tangan dari Sersan itu.

"Tidak usah dipikirkan, Neji. Kapten Sobel memang seperti itu" hibur Letnan Chuck pada Neji. "Dia orang yang perfeksionis dan punya displin tinggi, jadi mohon maklumi saja, ok?" sambung Letnan Chuck sambil mengelus punggung Neji. Letnan Chuck adalah salah satu dari sedikit perwira yang peduli dan perhatian pada anak buahnya, ia selalu menganggap anak buah dan komandannya merupakan saudaranya sendiri.

"Terima kasih, Letnan Chuck, anda selalu perhatian pada kami!" balas Neji pada Letnan Chuck sambil tersenyum.

"NEJI!" teriak Kapten Sobel

"Ah sial, aku datang Kapten!" balas Neji pada Kapten Sobel, ia pun segera menuju ke tempat Kapten Sobel berada. nampak Kapten Kompinya itu tengah mengamati seseorang yang sedang duduk di atas kayu dengan santainya. orang itu mengenakan tempur dan senjata lengkap, hampir sama dengan anggota kompinya, yang membedakan adalah, orang itu memakai ikata kain berwarna kuning di lengannya. sedangkan anggota kompinya memakai ikatan kain berwarna hijau. itu berarti orang itu merupakan...

"Musuh?" tanya Neji pada Kapten Sobel.

"Kau benar Neji, kita harus tangkap orang itu. dia pasti tahu dimana musuh berada" balas Kapten Sobel pada Neji, sambil tetap sibuk mengamati orang yang dicurigai sebagai musuh itu.

"Tapi pak- ucap Neji sambil terus mengamati orang itu dengan seksama. –bukankah aneh bila ada prajurit musuh yang seharusnya bersiaga dan bersama peleton utamanya, sekarang malah sendirian dan nampaknya dia terlihat santai sambil menunggu sesuatu?" sambungnya lagi.

"Itu hanya perasaanmu saja Neji, sekarang kumpulkan seluruh anggota, dan bersiap untuk menyergapnya, kau paham?"

"Ba-baik, pak!"

Neji dan perwira lainnya lalu mengumpulkan pasukan sesuai perintah kapten Sobel. setelah itu mereka membentuk formasi kolom, bersiap menyergap orang yang dianggap musuh itu.

"Baiklah, kita tunggu perintah Kapten Sobel untuk menye-

"JANGAN BERGERAK, DIAM DI TEMPAT!" teriak Kapten Sobel sambil menyongsong maju kedepan mendekati prajurit Musuh yang masih duduk santai, ia lalu mengacungkan pistolnya ke arah Prajurit musuh itu, berharap ia takut dan segera menyerah. namun yang terjadi sebaliknya, Prajurit itu malah melarikan diri dari Kapten Sobel dan pasukannya.

"HEI, JANGAN LARI! SEMUANYA CEPAT KEJAR DAN TANGKAP DIA. JANGAN TEMBAK DIA KARENA DIA TAHU DIMANA MUSUH BERADA, KALIAN MENGERTI?" perintah Kapten Sobel pada seluruh anggota kompinya setelah gagal menangkap prajurit musuh tadi.

"SIAP, PAK" ucap anggota kompinya serentak. mereka lalu mulai berlari untuk mengejar prajurit musuh yang melarikan diri tadi. namun sekuat apapun mereka berlari, prajurit musuh tadi masih tak terkejar, salah satu kendala yang dihadapi oleh pasukan kompi Kapten Sobel adalah, mereka semua mengenakan perlengkapan tempur dan membawa senjata yang berat sehingga membuat mereka cepat letih. sedangkan musuh yang mereka kejar tadi hanya membawa senapan M4 Carbine dan Vest anti peluru. helm dan tas yang seharusnya ia bawa malah tidak dipakai. sehingga musuh yang mereka kejar bisa berlari lebih lebih kencang.

Neji tersadar akan sesuatu. musuh yang mereka kejar hanya membawa senjata dan vest anti peluru saja. dan dari kecepatan larinya, bisa dipastikan yang mereka kejar adalah seorang Runner. ia lalu menyadari bahwa musuh yang mereka kejar bukan prajurit yang tertinggal atau tersesat dari kompi induknya, melainkan ia memang ditugaskan disitu sebagai pengamat atau mata mata. Neji yang tersadar bahwa ini jebakan berusaha menjelaskan pada Kapten Sobel.

"Hufft...Huuffftttt, Pak- kita harus berhen-

"TERUS KEJAR SEMUANYA, TANGKAP DIA!" teriak Kapten Sobel menyemangati anak buahnya yang lain. ia tak menanggapi perkataan Neji. membuat Neji kesal dan terpaksa harus terus berlari.

"Ya Tuhan, semoga perkiraanku salah" ucap Neji dalam hati.

Tanpa mereka sadari, musuh yang dari tadi mereka kejar mulai menghilang. selain itu Kabut mulai muncul di sekeliling mereka, membuat anggota Kompi itu semakin was was. Neji melihat sekeliling, ia menyadari bahwa kompinya telah masuk jauh ke dalam Hutan. yang mereka lihat sekarang hanya kabut dan puncak pohon pinus yang tinggi. jarak pandang terbatas juga membuat para Marksman di Kompi mereka tidak dapat mengetahui keberadaan musuh.

"Kita ada dimana, Kapten?" tanya salah seorang anak prajurit pada Kapten Sobel.

"Entahlah, aku juga tidak tahu." balas Kapten Sobel, ia masih menatap sekeliling dengan perasaan cemas. keadaan Hutan yang sepi dan berkabut membuat ia khawatir.

Lalu perlahan, Kabut mulai menghilang. membuat anggota Kompi Sobel yang awalnya ketakutan menjadi lega. namun rasa lega itu tak berlangsung lama setelah mereka melihat puluhan prajurit muncul dari semak semak dan tengah membidikkan senapan mereka ke arah anggota kompi Kapten Sobel. para Prajurit – prajurit itu nampak mengelilingi mereka, mencegah mereka kabur dari penyergapan ini.

"Apa yang terja-

Sebelum Kapten Sobel menyelesaikan kalimatnya, salah satu prajurit musuh terlebih dahulu menembak salah satu anggota kompi mereka hingga ia tumbang, disusul oleh tembakan dari prajurit lain secara gencar.

'DREDEDEDEDEDET' suara puluhan senapan yang ditembakkan secara berkelanjutan ke arah Pasukan Kapten Sobel memecah keheningan Hutan. karena dalam posisi tidak siap dan kelelahan membuat satu persatu anggota Kompi Kapten Sobel tumbang dan berjatuhan. belum lagi tembakan mortir yang memecah konsentrasi mereka.

'DRT,DRT,DRT,DRT,DRT,DRT' kini giliran senapan mesin M249 musuh yang menyalak. menyapu bersih pasukan Kompi Kapten Sobel yang terlihat.

"SEMUANYA BALAS TEMBAKAN! BALAS TEMBAKAN MUSUH. BUAT MEREKA MERUNDUK!" perintah Kapten Sobel pada anak buahnya. namun anak buahnya tidak membalas tembakan dan malah mencari tempat berlindung. hanya kompi senapan M-60 yang membalas tembakan musuh. namun dengan segera kompi senapan M-60 itu dapat dikalahkan dengan mudah. membuat posisi pasukan Kapten Sobel semakin terdesak.

"NEJI! BERAPA ANGGOTA KITA YANG TERSISA?" tanya Kapten Sobel pada Neji yang sesekali menembakkan senapan M4 Carbine miliknya ke arah musuh.

"Hanya tersisa 12 orang pak!" balas Neji sambil mengisi ulang amunisi senapannya yang telah habis.

"Sial!" umpat Kapten Sobel setelah mendegar perkataan Neji. ia kemudian ikut membalas tembakan musuh dengan gencar. baku tembak terjadi selama 30 menit. lalu kejadian aneh terjadi. musuh berhenti menembakkan senjatanya. suasana hutan yang tadinya riuh ramai kembali hening, seolah tidak terjadi apa apa.

"Kenapa mereka berhenti menembak?" ucap Neji dalam hati. namun sebuah suara kembali memecah keheningan hutan.

"KOMPI FOX, MOHON PERHATIAN! KOMPI KALIAN TELAH TERKEPUNG, KALIAN DIMOHON MENYERAH SEKARANG" suara yang berasal dari alat pengeras suara itu mebuat seluruh anggota kompi Fox terkejut. suara itu merupakan suara Uzumaki Michael Naruto, selaku pemimpin Kompi Delta. Neji menggertakkan giginya keras, Naruto berhasil mengalahkan kompinya ternyata. ia lalu segera menoleh ke arah Kapten Sobel, memintanya untuk tidak menyerah.

"Kapten Sobel, kita tidak boleh menye-

"Sudah berakhir, Neji" ucap Kapten Sobel lemah, "BAIKLAH, KAMI MENYERAH!" teriak Kapten Sobel sambil mengacungkan kain berwarna putih pada Naruto, yang kini menyeringai kejam kearahnya. sedangkan Neji terkejut dengan apa yang dilakukan komandan kompinya itu. dengan perasaan kesal dan gondok ia membuang senjatanya ke tanah.

"Brengsek" ucap Neji dalam hati.

.

.

.

"Baiklah, sebutkan nama Kompi, nama Pemimpin, jumlah Anggota dan nomor indukmu" ucap seorang perwira tinggi berpangkat Mayor kepada Kapten Sobel.

"Siap, Kompi Fox dari Batalyon taktis 8th Ranger. pemimpin, aku sendiri Kapten Sobel. anggotaku berjumlah 64 orang. nomor indukku BO54671298" jawab Kapten Sobel dengan muka tertekuk. ia lalu melirik ke arah prajuritnya yang tampak marah dan lelah.

"Kompimu kehilangan lebih dari 90% anggotanya dalam skenario latihan pertempuran tadi. bisa kau memberitahuku alasannya kenapa Kompimu bisa dibantai seperti tadi?" kini Mayor itu bertanya pada Kapten Sobel sambil menyilangkan tangannya. menatap serius sang komandan kompi.

"Itu karena- jawab Kapten Sobel dengan gemetar. –kesalahan komandan peleton 1 pak!" sambung Kapten Sobel sambil melirik ke arah Neji selaku komandan peleton 1. Neji kembali terkejut karena sang Kapten malah menyalahkannya. belum sempat ia menyanggah perkataan Kapten nya itu, Kapten Sobel kembali melanjutkan ucapannya.

"Dia mengarahkan pasukan ke tempat penyergapan, berulang kali salah membaca peta, dan melakukan pembangkangan padaku pak!" lanjut Kapten Sobel pada Mayor Kakashi. yang kini menatapnya dengan intens.

"Begitu ya? jadi ini semua kesalahan Letnan Neji? jadi selama latihan tadi bukan kau yang menentukan rute perjalanan Kompimu? kenapa kau menyerahkan semuanya pada komandan peleton? dimana tanggung jawabmu Sobel?" kini giliran Kakashi yang menggempur Kapten Sobel dengan banyak pertanyaan. membuat Kapten Sobel gelagapan.

"Sudah cukup! aku tak mau mendengar alasan darimu lagi. sudah kuputuskan bahwa Kapten Sobel dan Letnan Neji yang bertanggung jawab atas kalahnya Kompi kalian di Skenario latihan ini. sebagai hukuman, point kalian berkurang masing masing 100 point. sementara yang lain, cepat bersihkan tubuh kalian dari bekas peluru latihan itu dan bersiap untuk makan siang. kalian mengerti?"

"SIAP PAK!" balas seluruh anggota kompi Fox dan kompi Delta serentak. mereka lalu membersihkan seragam dan peralatan tempur mereka dari noda kotoran dan segera pergi kembali ke Markas mereka yang berjarak 3 km dari hutan. sementara itu Naruto mendekati Neji yang masih menunduk kaku di tempatnya, masih syok atas hukuman yang Mayor Kakashi berikan padanya.

"Ayo, kembali ke markas Neji. kerjamu bagus hari ini" hibur Naruto pada Neji. walaupun pada latihan tadi mereka adalah musuh namun di luar itu mereka tetaplah sahabat, meskipun mereka berbeda pangkat. Naruto adalah Kapten sedangkan Neji adalah Letnan.

Neji hanya mengangguk singkat. Naruto kemudian tersenyum dan merangkul pundak sahabatnya itu, mereka kemudia pergi meninggalkan area hutan, menyusul anggota kompinya yang lain menuju Markas. dimana sebentar lagi merek akan makan siang bersama.

.

.

.

.

"Makanan apa ini? rasanya seperti sampah, aku tak sudi memakannya!" gerutu Lee sambil mendorong piringnya ke depan. ia kemudian menyilangkan tangannya ke dada, ia kelihatan kesal dengan menu makan siangnya.

"Hei, hei. jangan seperti itu, makanlah. kau bisa lemas kalau tidak makan" nasehat Shikamaru pada Lee yang masih ngotot tidak ingin memakan makanannya. Shikamaru sendiri sudah menghabiskan setengah piring makanannya.

"Shikamaru benar Lee, bersyukurlah kita bisa makan walaupun rasanya tidak enak tapi kita beruntung karena diluar sana banyak orang yang ingin makan tapi tidak punya uang untuk membelinya" kata Naruto menimpali perkataan Shikamaru. ia kemudian terkekeh kecih melihat kelakuan Lee yang sama sekali tidak berubah semenjak mereka masih bertugas di kesatuan 12th. kini setelah ia, Shikamaru, Shino, Kiba, Chouji, Neji dan Jones masuk ke Battalion Ranger dan juga Lee sekarang menjadi anggota Polisi Militer Ranger pun sifat mereka pun tak berubah banyak, kecuali mereka semua sekarang lebih dewasa dan lebih peka terhadap suasana sekitar.

" Cih, kalian lihat dan rasakan saja menu makan siang ini, coba lihat baik baik!" balas Lee berapi api.

"Tidak ada yang aneh, tidak ada lalat atau hewan lain yang menempel di makananku, rasanya juga tidak terlalu hambar. Spaghetti ini cukup enak kok" terang Kiba sambil menyendokkan helaian Spaghetti itu ke mulutnya. ia nampak sangat menikmati menu makan siang yang tergolong mewah di Battalion nya itu.

"Nah itu masalahnya" sambar Lee dengan cepat "ini bukan Spaghetti, ini mie murah yang dikasih saus tomat, sausnya pun seperti muntahan anak bayi, terlalu encer dan mie nya terlalu alot. mereka benar benar tidak becus memasaknya." sambung Lee sambil mengaduk ngaduk piringnya.

"Hah, selera orang yang ahli dalam bidang kuliner memang menyusahkan ya" keluh Jones sambil melirik ke arah Neji yang masih tampak lesu di kursinya. "Ngomong ngomong, kau tidak apa apa Neji-san? kau sakit ya?" kini Jones bertanya pada Neji.

"Aku tidak apa apa kok, terima kasih sudah perhatian padaku, Jones!" balas Neji sambil tersenyum manis, membuat Jones sedikit tersentak. Neji memang pria yang cantik. ia bahkan tidak seperti pria lainnya yang tumbuh kumis dan dan memiliki suara yang berat. Neji memiliki kulit yang putih dan bersih juga suara yang lembut, seperti wanita. tubuhnya juga sedikit gempal, membuatnya terlihat sangat menggemaskan di mata Jones.

"Kelihatannya aku harus berhenti membaca komik Yaoi, aku masih normal-aku masih normal-aku masih normal" ucap Jones dalam hati sambil memalingkan wajahnya ke arah lain, mencoba untuk tidak menatap Neji.

"Kau masih kesal pada Kapten Sobel?" tanya Naruto pada Neji.

"Ah, aku sudah melupakannya, toh aku tidak bisa berbuat apa apa, Naruto. aku anak buahnya. jadi mau tidak mau aku harus mengikuti perintahnya" balas Neji pada Naruto.

"Tapi kudengar ada pergantian komandan kompi di beberapa kompi. mungkin salah satunya adalah Kompi Fox, kompimu Neji. aku mendengarnya dari Mayor Kakashi tadi" celetuk Shikamaru sambil menyesap teh yang barusan ia ambil. ia kemudian mendesah nikmat sambil merasakan cairan hangat itu masuk ke lambungnya.

"Benarkah? kalau begitu syukurlah"

"TET TET TET TET TET TET TET' bunyi bel tanda jam makan siang berakhir. kini semua prajurit dan perwira nampak mulai meninggalkan ruang makan. Latihan tempur sudah selesai mereka lakukan. tampaknya sisa sore ini akan para prajurit itu habiskan untuk nongkrong di Cafe depan markas atau bagi para perwira, inilah waktu yang tepat bagi mereka untuk mengerjakan laporan tugas mengenai keadaan kompi mereka seharian ini. selanjutnya Laporan itu akan diserahkan ke Komandan Batallion.

Tak terkecuali Naruto yang kini tampak sibuk dengan Notebook di ruang kerjanya. sebagai komandan kompi, ia mempunyai fasilitas yang cukup mewah yaitu ruang kerja pribadi yang cukup luas. di ruang kerja Naruto itu tampak beberapa foto keluarganya dan lukisan raksasa Yesus Kristus pemberian sang Ibu yang ia pajang di dinding. di ruangan itu juga ada sebuah akuarium kecil dengan seekor udang hias di dalamnya. tidak lupa ada sofa yang empuk dan nyaman. benar benar surga kecil bagi perwira sepertinya.

'TOK, TOK, TOK'

"Masuk" ucap Naruto sambil terus memeriksa dokumen dokumen penting yang segera ia harus tanda tangani hari ini juga itu.

Pintu terbuka dan menampilkan sosok Kiba yang berjalan menghampiri meja kerja Naruto, ia membawa sebuah kotak bekal berukuran besar berwarna merah muda.

"Kau sombong sekali tidak mau membukakan pintu, Naruto!" ucap Kiba sambil mengambil sebuah kursi dan duduk. ia lalu menaruh kotak bekal tadi di atas meja kerja Naruto.

"Aku sibuk brengsek, ngomong ngomong apa yang kau taruh di meja kerjaku ini?"

"Bento, kelihatannya sih"

"Untukku? dari Ibuku ya?" ucap Naruto sambil mengamati kotak bekal yang Kiba taruh di atas meja kerja nya.

"Bukan dari ibumu, tapi dari Sakura. oh ya Sakura memanggilmu, dia mengajakmu makan siang di taman bawah" balas Kiba sambil mencomot salah satu permen yang tersedia di toples.

"Apa apaan ini? aku tidak mau menerimanya. sekarang kau ambil ini dan kembalikan padanya. cepat! aku sibuk hari ini" ucap Naruto ketus sambil terus memeriksa Dokumen dokumen penting itu.

"Kau harus menemuinya Naruto" balas Kiba "Dia bilang, kalau kau menolak menemuinya, maka ia akan tetap bertahan di pintu gerbang masuk sampai kau datang. dia membuat keributan disana, dan aku yakin kau tidak mau namamu tercoreng karena ulahnya bukan?" sambung Kiba.

"Cih, dasar perempuan merepotkan. baiklah baiklah aku akan menemuinya" ucap Naruto sambil membanting dokumen dokumen penting itu ke meja kerjanya. ia benar benar kesal dengan Sakura. kenapa sih ia selalu datang dan menganggu hidupnya yang tenang. kemarin saat dia pergi ke Gereja bersama ibunya, Sakura tiba tiba muncul dan ikut berdoa bersama padahal ia seorang Agnostik. Sakura juga pernah tiba tiba muncul di ruang kerjanya denagn alasan uuntuk mengajaknya pergi membeli kue untuk suguhan Natal di rumahnya. Sakura nampaknya benar benar ingin mencari perhatiannya.

"Baiklah, hati hati ya. jangan sampai kau khilaf dan membunuhnya" ucap Kiba santai sambil melambaikan tangannya ke arah Naruto.

"Berisik kau" balas Naruto kesal sambil melempar sebuah buku telepon ke arah Kiba yang sukses menghantam wajah pria itu. ia lalu cepat cepat pergi untuk menemui Sakura yang sekarang tengah membuat keributan di gerbang masuk markas.

.

.

.

.

"Nona, mohon singkirkan mobilmu dari gerbang masuk"

"Tidak, tidak, tidak. sebelum Kapten Naruto datang kesini aku tidak mau pergi"

"Sakura, aku mohon. kau membuat keributan disini, tolong singkirkan mobilmu dari gerbang masuk. kau menghalangi kendaraan lain untuk lewat" pinta Lee pada Sakura yang masih ngotot tidak mau menyingkir dari gerbang masuk. ia lalu mengenggam lengan Sakura, hendak membawanya pergi dari gerbang depan. namun Sakura malah menjerit jerit saat Lee hendak membawanya pergi.

"APA APAAN KAU INI! TOLONG TOLONG! AKU MAU DILECEHKAN OLEH POLISI MILITER INI! TOLONG KUMOHON TOLONG" jerit Sakura membuat Lee menjadi pusat perhatian masyarakat sekitar. mereka kemudian berbisik bisik curiga.

"SAKURA, HENTIKAN!" teriak Naruto yang sudah berada di depan pintu gerbang.

"Ah, Naruto tolong kau lepas- belum sempat menyelsaikan kalimatnya, tangan Sakura keburu ditarik oleh Naruto, membawanya untuk menjauh dari area gerbang depan. tak lupa ia segera merampas kunci mobil Sakura lalu melemparkanya pada Lee. agar mobil Sakura bisa dipindahkan dari gerbang masuk pangkalan.

"Naruto kita mau kemana?"

"Ke ruanganku, kita harus berbicara suatu hal" balas Naruto sambil menggandeng tangan Sakura menuju ruang kerjanya. di sepanjang jalan tampak para perwira menatap Naruto yang tengah menggandeng paksa Sakura dengan tatapan penuh tanya, namun Naruto tak peduli dan terus melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya.

'BRAAK' suara pintu ruangan kerja Naruto yang dibuka paksa. ruangan itu tampak sepi, mungkin Kiba sudah sadar dari pingsannya dan keluar dari ruangan itu tadi. Naruto segera mendudukkan Sakura dengan paksa, membuat ia mengaduh kesakitan karena perlakuan kasar Naruto.

"Aduh, jangan kasar dong. sakit tahu" keluh Sakura sambil mengusap tangannya yang memerah karena diseret paksa oleh Naruto.

"Bisa kau berhenti Sakura?" ucap Naruto berat, ia tampak benar benar emosi saat ini. "Bisakah kau berhenti melakukan ini semua? mencari perhatianku, aku sudah muak dengan tingkah lakumu selama ini! asal kau tahu saja, hatiku sudah tertutup untukmu Sakura. aku sudah tidak mencintaimu lagi, JADI BERHENTI MENDEKATIKU, KAU MENGERTI?" sambungnya dengan nada membentak pada Sakura.

"Hihihihihih, kau ini benar benar lucu saat marah, Naruto!" balas Sakura sambil terkikik geli. "Tapi maaf, Naruto. aku benar benar mencintaimu sekarang. aku ingin kau menjadi milikku, bagaimanapun caranya" sambung Sakura sambil berdiri dari kursi tempat duduknya dan mendekati Naruto. membuat Naruto bergidik ngeri melihat tingkah Sakura.

"Kau-

"Aku bahkan tak segan menyerahkan tubuhku untukmu, Narutooh~" ucap Sakura sensual sambil melepas Jaket yang ia kenakan. betapa terkejutnya Naruto saat ia menyadari bahwa Sakura tidak mengenakan apa apa di balik jaket itu, alias ia telanjang dada dan hanya mengenakan jaket untuk menutupi tubuh bagian atasnya. Sakura semakin berani, ia kemudian mengelus celana Naruto. membuat yang bersangkutan semakin terkejut. namun Naruto segera sadar dan menepis tangan Sakura dari celananya kemudia menatapnya dengan nyalang.

"Dasar wanita jalang! pergi kau dari sini. SEKARANG!" bentak Naruto pada Sakura. namun bukannya takut atau menuruti perintah Naruto, Sakura malah memeluk tubuh Naruto erat. membuat Naruto semakin salah tingkah.

"Benar benar hangat~" desah Sakura sambil mengelus punggung Naruto pelan.

"SIALAN KAU, MENJAUH DARI KU!" bentak Naruto sambil mendorong tubuh Sakura darinya, membuat Sakura terjatuh dan menghantam meja tamu di ruangan itu. Naruto pun segera menghubungi Korps Polisi Militer untuk membawa Sakura pergi dari ruangannya. tak berselang lama dua anggota Polisi Militer datang dan langsung menyeret Sakura keluar dari ruangan itu.

"KAU AKAN MENYESAL TELAH MELAKUKAN INI PADAKU, NARUTO! LIHAT SAJA, KAU AKAN BERTEKUK LUTUT DI HADAPANKU, AKU AKAN MEMBUATMU JATUH CINTA PADAKU. LIHAT SAJA NANTIII!" jerit Sakura pada Naruto. kini ia tengah diseret paksa oleh 2 anggota Polisi Militer Wanita untuk menjauh dari ruangan Naruto.

"Cepat bawa pergi perempuan gila ini dari Markas, kalian mengerti?"

"Siap, mengerti pak!" balas kedua anggota Polisi Militer itu sambil terus menyeret Sakura yang meronta ronta minta dilepaskan. tak lama kemudian mereka sudah menghilang dari ruangan itu, meninggalkan Naruto yang tengah duduk di kursi ruang kerjanya itu dengan lesu. hari ini cukup berat untuknya, ditambah dengan pekerjaanya yang belum rampung sukses menambah beban di kepalanya itu.

'TOK,TOK,TOK,TOK'

"Masuk!" ucap Naruto ketus, mempersilahkan orang yang mengetuk pintu ruang kerjanya itu untuk masuk. pintu terbuka dan masuklah seorang Prajurit yang nampaknya membawa pesan untuk Naruto.

"Siap, anda dipanggil Mayor Kakashi ke ruangannya pak!"

"Cih, ada apa lagi sekarang? apa karena masalahku dengan Sakura tadi? sial, semua jadi runyam sekarang" ucap Naruto dalam hatinya jengkel. "Baik, aku segera kesana" sambung Naruto pada Prajurit itu. Prajurit itu mengangguk kemudia ia memberi hormat pada Naruto sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu.

"Kuharap bukan sesuatu yang merepotkan" ucap Naruto pelan. ia kemudia berdiri dari kursinya dan bergegas menuju ruangan Mayor Kakashi selaku pemimpin Batallion taktis 8th Ranger.

.

.

.

.

"Kudengar ada masalah di gerbang masuk Markas ini tadi, dan masalah itu disebabkan oleh seorang perempuan yang mengaku dekat denganmu. apa itu benar, Kapten Naruto?" tanya Kakashi setelah mempersilahkan Naruto duduk di kursi ruang kerjanya.

"Siap, benar pak. tapi perempuan itu bukan siapa siapaku, dia hanya-

"Mantan pacarmu dulu kan? Guru Minato sudah bercerita banyak soal itu" ucap Kakashi memotong perkataan Naruto. ia sudah tau perihal hubungan Naruto dan gadis musim semi itu dari Minato, selaku komandan Brigade ke 10 dan juga gurunya waktu di Akademi Militer dulu.

"Ah iya, soal itu aku benar benar minta maaf pak! aku tidak tahu kalau ia akan berbuat senekat itu, sekali lagi aku minta maaf!" ucap Naruto sambil menundukkan kepalanya di hadapan Mayor Kakashi.

"Hn, tidak usah minta maaf, toh ini bukan salahmu. sebenarnya aku memanggilmu kesini bukan karena itu, Naruto" kata Mayor Kakashi sambil mengambil sesuatu dari dalam laci meja kerjanya. ia lalu menyerahkan sebuah amplop putih pada Naruto. "Ini, bukalah dan baca. itu tujuanku memanggilmu kesini" sambung Kakashi.

"Apa ini?" ucap Naruto setelah menerima surat dari Mayor Kakashi, ia lalu membuka amplop itu lalu mengambil surat di dalamnya dan mulai membaca isi surat itu dengan seksama. sedetik kemudian matanya melotot setelah membaca isi surat itu. tangannya bergetar, ekspresi wajahnya benar benar terkejut dan terperangah setelah melihat isi surat itu. ia lalu menatap Mayor Kakashi yang tampak sibuk membaca sebuah Novel dewasa yang selalu ia bawa kemana man.

"Apa i-ini benar? Ukraina? Ranger? misi perdamaian? apa anda serius soal ini?" gempuran pertanyaan segera Naruto tujukan pada Kakashi yang kini menatapnya dengan serius. Novel yang tadi ia baca sudah ia taruh kembali di lacinya.

"Itu benar, Naruto. Pentagon baru saja mengumumkannya tadi siang" kata Kakashi sambil melipat kedua tangannya di dada. "berdasarkan hasil rapat Konggres maka Pemerintah sudah memutuskan untuk mengirim pasukan Ranger dan Marinir AS untuk bergabung dengan pasukan multinasional lain di bawah bendera PBB ke Ukraina sebagai upaya untuk meredam konflik dan gesekan politik antara Pemerintah Ukraina dengan pemberontak pro Russia. kita, pasukan Ranger, akan dikirim pertama kali ke sana pada hari Jumat pukul 22.00 atau bisa dibilang besok kita akan berangkat ke Ukraina. Ranger akan mengirim 5 dari 11 kompi ke Ukraina. yaitu kompi Delta, kompi Fox, Kompi Charlie, kompi Able, dan kompi Zulu. kau mengerti, Naruto!" sambung Kakashi menjelaskan tentang misi perdamaian di Ukraina pada Naruto.

"A-aku mengerti. aku akan pergi sekarang untuk memberikan Briefing pada anak buahku pak" ucap Naruto setelah mendengar penjelasan Kakashi. ia pun hendak pergi dari ruangan itu sebelum Kakashi mencegahnya.

"Jangan beritahu anak buahmu sekarang, Naruto! karena besok mereka semua beserta kompi lain akan di briefing langsung oleh ayahmu, yang tak lain tak bukan Kolonel Minato di Aula markas"

"Begitu ya? tunggu dulu.. anda bilang Kolonel Minato? sejak kapan ayahku jadi Kolonel?" sanggah Naruto setelah mendengar pangkat Ayahnya yang tadi disebutkan Mayor Kakashi.

"Dia baru saja naik pangkat setelah rapat itu selesai. nampaknya karir ayahmu terus melejit, Naruto. mungkin suatu saat dia bisa jadi presiden. hahahahaha" tawa Kakashi memecah suasana canggung di antara mereka. mau tidak mau Naruto juga ikut tertawa untuk menghargai Kakashi.

"Baiklah, sekarang kau pulanglah ke rumah. istirahat untuk besok. aku tak ingin bibi Kushina memukulku dengan sendok sup legendarisnya itu karena memperbudak putra kesayangannya ini dengan berkas berkas setinggi gunung itu. biar perwira lain yang menyelesaikan dokumen dokumen itu. kau mengerti?" ucap Kakashi menyuruh Naruto untuk pulang lebih awal.

"Ah, terima kasih banyak. Mayor Kakashi" balas Naruto pada Mayor Kakashi. ia lalu memberi Hormat padanya sebelum keluar dari ruangan kerja Kakashi. hatinya masih belum tenang setelah mengetahui kalau besok ia akan dan kompinya dikirim ke Ukraina. bisa dibilang ini misi tempur sesungguhnya bagi Naruto sebagai seorang Ranger AD. inilah waktu yang tepat untuk membuktikan bahwa ia bisa menjadi seorang prajurit yang handal dan dapat mengemban tanggung jawab dari negaranya. terlebih lagi misi nya ke Ukraina ini juga memberikan kontribusi bagi perdamaian di dunia dibawah bendera PBB.

"Ah, aku jadi tidak sabar untuk pulang" guman Naruto sambil mempercepat langkahnya untuk segera kembali ke ruangannya untuk berkemas dan pulang ke rumah orang tuanya.

.

.

.

.

Naruto tiba di rumah orang tuanya dengan perasaan campur aduk, antara bahagia, gugup, dan takut karena mungkin ini akan menjadi hari terakhir ia bisa menghabiskan waktu dengan kedua orang tuanya itu. setelah memarkirkan mobilnya di Garasi, Naruto pun segera masuk ke dalam rumah. tidak usah ketuk pintu, toh orang tuanya pasti sudah mendengar suara mobilnya. mereka pasti tau kalau Naruto lah yang datang. baru saja ia melangkah menuju ruang keluarga, dan ia mendengar suara suara aneh dari ruang makan. tampaknya itu suara ibu dan ayahnya.

"Minato, jangan disini ah"

"Sudahlah Kushina, kau juga menikmatinya kan?"

"Tapi Naruto sudah pulang, bagaimana kalau ia melihat kita?"

"Sudahlah, Naruto tidak akan lihat, toh ia masih polos dan tidak tahu apa yang sedang kita lakukan sekarang ini Kushina-chan"

Apa apaan itu? sebenarnya apa sih yang dilakukan oleh kedua orang tuanya itu di ruang makan? kenapa dari percakapan kedua orang tuanya itu, mereka seperti hendak melakukan kegiatan 'itu'. Naruto yang kepo pun segera menuju ruang makan. dan tepat dugaannya, ia sekarang tengah melihat ayahnya tengah memangku ibunya di kursi ruang makan, Minato tampak tanpa memakai celana, sedangkan sang ibu tampak pasrah di pangkuan Minato. parahnya lagi, Kushina saat ini tidak mengenakan baju alias telanjang bulat. Naruto melongo melihat apa yang barusan ia lihat ,sebelum akhirnya ia berteriak.

"APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN!"

.

.

.

"Mau tambah nasinya lagi?" tawar Kushina pada Naruto yang sedang melahap daging BBQ itu dengan lahap.

"Tidak bu, tawarkan saja pada ayah, nampaknya ayah masih kelaparan tuh" balas Naruto sambil menatap jahil pada Minato yang kondisinya benar benar memprihatinkan. di kepalanya muncul 2 benjolan besar dan juga wajahnya yang lebam lebam setelah dihajar Kushina yang shock akibat kegiatan intim mereka dilihat oleh Naruto. awalnya Kushina hendak mengadakan makan malam special untuk merayakan kenaikan pangkat Minato, namun entah setan darimana yang merasuki Minato membuatnya mengajak Kushina untuk bersetubuh di ruang makan. sialnya Naruto melihat mereka dan berteriak histeris. membuat Kushina segera sadar dari rasa nikmatnya dan menghajar Minato habis habisan yang ia anggap sebagai pemicu masalah utama.

"Hei mesum, mau tambah nasi atau tidak?" tawar Kushina sadis sambil memukul kepala Minato dengan sumpit.

"Adududuh, Kushina, jangan pukul aku dengan sumpit itu dong, kepalaku masih sakit nih"

"Salahmu sendiri memperkosaku di ruang makan. untung saja Naruto yang lihat, coba kalau orang tuaku yang tiba tiba datang kesini lalu melihat kejadian tadi. bisa dipotong habis *****mu itu lalu dibuang di sungai Okinawa" balas Kushina sadis.

"Hiiiii seram deh" ucap Naruto sambil membayangkan ***** sang ayah dipotong lalu dijadikan makanan ikan, membuatnya ngilu saja.

"Kau ini" ucap Minato sambil mengelus pelan kepalanya yang masih benjol, ia lalu menatap Naruto yang masih sibuk dengan makanannya. "Hei Naruto, kau sudah siap nak?" sambung Minato sambil mengelus surai kuning putranya itu.

"Sudah ayah" balas Naruto setelah mengetahui arah pembicaraan sang ayah, pasti soal pengirimannya ke sedetik kemudian ekspresi wajah Naruto berubah. ia tampak gugup dan Khawatir, wajar karena sebentar lagi dia akan ditugaskan di negeri yang jaraknya ribuan mil dari Seattle, dan dengan taruhan nyawa pula.

"Kau gugup Naruto" kini gilran sang ibu yang menimpali perkataanya, Kushina lalu mengenggam erat tangan putranya itu, memberikannya ketenangan. "Kalau kau gugup, selalu ingat untuk berdoa dan menarik napas panjang sebelum melakukan sesuatu, ok?" sambung Kushina sambil tersenyum 5 jari padanya. senyum yang kini diwariskan padanya, senyum yang sudah jarang ia tunjukkan pada orang lain.

"Terima kasih ayah, ibu. aku sayang kalian berdua " ucap Naruto penuh haru sambil memeluk kedua orang tuanya. ia sungguh merasa beruntung mempunyai orang tua seperti Minato dan Kushina. orang tua yang selalu mendukungnya, orang tua yang selalu ada di sisinya, orang tua yang bahkan memaafkan dirinya walaupun ia pernah menyakiti hati dan fisik kedua orang tuanya itu dulu. ia bahkan bersumpah tidak akan pernah mengecewakan orang tuanya lagi.

"Hah kau benar benar anak kebanggaan kami Naruto, kau benar benar membuat kami bahagia. sungguh" ucap Kushina sambil mengelus kepala Naruto sayang.

"Kau kelihatan lelah sekali, sekarang cepat tidur agar besok kau bisa bagun pagi dengan segar dan dapat memimpin kompimu dengan lebih baik lagi" ucap Minato sambil tersenyum mesum. ia tampak memberikan suatu kode yang Naruto langsung tangkap maksutnya.

"Baiklah, lagipula aku juga sudah ngantuk dan lelah. aku pergi tidur duluan ya, Ayah, Ibu. selamat bersenang senang malam ini" ucap Naruto sambil mengedipkan matanya ke arah Minato. ia lalu segera menuju kamarnya untuk tidur. membuat Kushina kesal karena Naruto tiba tiba meninggalkan ia dan Minato sendirian di ruang makan.

"Ah dasar anak itu, dan apa maksutnya bersenang senang? aku tidak menger- KYAAA" ucapan Kushina terputus saat Minato tiba tiba menggendongnya dengan gaya Bridal. Minato lalu langsung membawa Kushina menuju kamar mereka. senyum mesum mengembang di wajah tampannya.

"MINATO, LEPAS!"

"Aku mau menikmati hadiah kenaikan pangkatku sekarang Kushina, sekalian aku mau memberikan Naruto seorang adik kecil, ia pasti akan suka" balas Minato sambil mengecup pipi Kushina lembut.

"AH TAPI JANGAN SEKA- TOLONG JANGAN SEKARANG, KYAAAA" jeritan Kushina akhirnya terputus sesaat setelah Minato menutup dan mengunci kamar mereka rapat rapat dari dalam.

Akhirnya malam itu benar benar menjadi malam yang indah bagi Naruto dan juga menjadi malam yang benar benar berat bagi Kushina karena ia harus bertempur(?) dengan sang suami di ranjang.

.

.

.

.

Aula Markas Battalion Ranger tampak ramai dipenuhi oleh ratusan anprajurit dari berbagai kompi. mereka sedang duduk di kursi yang sudah disediakan. beberapa dari mereka sedang menbak nebak apa yang membuat seluruh anggota dari 11 kompi Ranger harus dikumpulkan secara mendadak siang ini? apa New York baru saja diserang Godzilla? pikiran mereka mulai berfantasi liar.

"Apa kau tahu kenapa kita dikumpulkan secara mendadak ke sini, Kapten?" tanya Kiba sopan pada Naruto, ya iyalah tak mungkin ia bersikap kurang ajar seperti biasanya di tempat ini. bisa bisa ia digelandang Polisi Militer.

"Kau akan tahu sendiri Kiba, sabar dan dengarkan penjelasan Kolonel Minato sebentar lagi" balas Naruto pada Kiba yang tengah cemberut Naruto tidak mau memberitahunya alasan sebenarnya kenapa mereka sekarang dikumpulkan kesini.

Beberapa saat kemudia pintu Aula terbuka dan nampaklah seorang pria berambut kuning dengan setelan seragam Green Forest dengan digital Camo dan baret coklat di kepalanya. ia adalah Minato. selaku komandan Brigade ke 10 Angkatan Darat AS.

"SIAP, GRAK" perintah Mayor Kakashi pada seluruh prajurit di aula itu. mereka pun segera berdiri dari tempat duduknya, dan memberikan hormat pada Minato.

"Hn, silahkan duduk prajurit!" ucap Minato dengan tegas. para Prajurit itu pun segera duduk kembali di kursinya, mereka tampak terkejut dan penasaran karena komandan Brigade ke 10 itu datang ke markas Battalion mereka. ada apa gerangan?

"Bagaimana kabar kalian semua? apa semua sehat?" tanya Minato pada mereka semua.

"SIAP, BAIK DAN SEHAT PAK!"

"Bagus, baiklah dengarkan! aku punya 2 berita untuk kalian, 1 berita baik dan 1 berita buruk. berita mana yang ingin kalian dengar terlebih dahulu?" kini Minato kembali bertanya pada seluruh prajurit itu.

"SIAP, BERITA BAIK TERLEBIH DAHULU PAK!" balas mereka kompak dengan suara lantang. sudah menjadi kebiasaan di kalangan Ranger untuk menerima berita baik dulu kemudian baru menerima berita buruk. Naruto menghembuskan nafasnya pelan, ia sudah tahu apa berita buruk yang akan disampaikan sang ayah nanti.

"Baiklah, berita baiknya adalah... ucap Minato menggantung. sengaja agar para prajuritnya itu penasaran. –Latihan operasi tempur pegunungan selama seminggu ini akan dibatalkan" sambung Minato sambil tersenyum. para Prajurit yang mendengar hal itu langsung bersorak sorai. mereka benar benar senang karena Latihan yang benar benar menguras tenaga itu telah dibatalkan.

"WOHOOO, kau dengar itu Kapten? latihan bak neraka itu telah dibatalkan, akhirnya aku bisa ngapel dengan Tamaki di Mall Center Seattle besok. benar benar kabar baik." ucap Kiba kegirangan. namun Naruto masih memasang wajah datar. itu bukan kabar baik sama sekali. karena kabar buruk yang akan Minato sampaikan bakal menghancurkan seluruh kabar baik itu.

"Baiklah, mohon tenang, sekarang aku akan memberitahu berita buruknya.. ucap Minato dengan lantang. ekspresi wajahnya berubah menjadi serius. para prajurit itu langsung diam dan mendegar dengan seksama, berita buruk yang akan Minato sampaikan. "Beberapa Kompi Ranger akan diberangkatkan menuju Ukraina, lebih tepatnya di wilayah Pisky yang merupakan zone pembatas antara Tentara Ukraina dengan Milisi pro Russia. disana, tugas kalian adalah menghindari adanya konflik bersenjata dan mempetahankan garis Netral di kota itu" sambung Minato.

para Prajurit yang awalnya senang dan gembira itu pun langsung terdiam. jadi itu berita buruknya? kalau begitu sih mending mereka latihan di pegunungan selama seminggu penuh daripada harus diberangkatkan ke Ukraina yang sedang tercabik cabik karena perang sipil.

"Baiklah sekarang aku akan menyebutkan nama nama kompi yang akan diberangkatkan menuju Ukraina malam ini" kini giliran Mayor Kakashi yang bicara. ia lalu mengambil sebuah kertas dimana terdapat nama nama kompi yang akan diberangkatkan malam ini. "kompi Delta, kompi Fox, Kompi Charlie, kompi Able, dan kompi Zulu persiapkan diri kalian, karena kalian akan dikirim ke Ukraina malam ini juga" sambung Kakashi. suasana di Aula itu menjadi riuh, ada yang bersyukur karena kompinya tidak ikut ke Ukraina. ada yang kecewa karena kompinya diterjunkan ke Ukraina. ada juga yang heboh karena tidak sabar untuk berperang melawan musuh, padahal ini kan misi perdamaian.

"Baiklah, semuanya tenang. anggota dari kompi yang disebutkan tadi beserta perwiranya tetap berada disini untuk menerima briefing. kompi lain yang tidak disebutkan namanya di daftar silahkan keluar dan bersiap untuk Latihan tempur pegunungan. cepat!" perintah Mayor Kakashi membuat para anggota kompi lain mendesah kecewa. katanya tidak ada latihan tempur pegunungan, kok sekarang perintahnya lain.

Setelah anggota kompi lain keluar, kini hanya tampak 325 orang dari 1000 lebih Prajurit yang tadi memenuhi Aula tadi. kini mereka bersiap menerima briefing dari Mayor Kakashi dan Kolonel Minato mengenai penugasan mereka di Ukraina. mereka masih memasang ekspresi kecewa, jujur mereka benar benar tidak siap secara mental. apalagi mereka berangkat pada malam hari nanti. benar benar sebuah berita yang mendadak.

"Cih sial, apa yang aku harus katakan pada Tamaki nanti? padahal rencananya besok aku akan menginap di Apartemennya dan bercinta dengannya sampai pagi setelah aku mengajaknya ke Mall Center Seattle, benar benar brengsek!" keluh Kiba sambil memijit kepalanya pusing. sedangkan Naruto hanya diam. ia lalu mulai mempehatikan Mayor Kakashi yang memberi briefing di depan dengan layar besar. ia sedang menjelaskan situasi kota Pisky yang porak poranda akibat perang. tugas yang mereka emban tampak semakin sulit sekarang.

"Semoga Tuhan memberkati kalian di misi ini" ucapan Kolonel Minato segera menyadarkan para Prajurit itu dari khayalan liar mereka. kata kata itu sukses membuat semangat mereka pulih kembali. para Prajurit itu pun menatap Minato dengan tegas dan percaya diri sebelum mereka berteriak.

"SIAP, PAK!"

.

.

.

.

"Naruto, ibu sudah siapkan celana dalam kodokmu di sini. jangan lupa mencucinya seminggu sekali ya" ucap Kushina sambil memasukkan sebuah celana dalam bermotif kodok ke tas besar milik Naruto.

"Kok Celana dalam sih bu? aku kan pakai kolor selama ini!" sanggah Naruto sambil memasukkan baju bajunya yang lain ke dalam tas. ia dan ibunya sedang menyiapkan barang barang keperluan Naruto selama ia berdinas di Ukraina. Baju, Celana, Seragam, Sepatu, Obat obatan dan tetek bengek lainnya mereka sudah masukkan ke dalam tas.

"Ini agar tititmu tidak lecet ketika terjadi pertempuran nanti. tenang saja, Ayahmu juga pakai celana dalam kok waktu bertugas di Afghanistan dan Panama. ibu bahkan menjahitkannya celana dalam buatan sendiri. ibu kasih nama ibu di celana dalam ayahmu agar dia selalu ingat denganku jika ia ingin main dengan wanita lain" balas Kushina pada Naruto.

"Ayah pasti menderita sekali" ucap Naruto, ia kemudian melirik jam di dinding kamarnya. sudah jam 8 malam. 2 jam lagi ia akan berangkat dari Seattle Air Force Base menuju Ukraina. terbang Marathon selama 18 jam. dan para Prajurit yang ditugaskan ke Ukraina hanya diberi waktu 3 jam untuk mempersiapkan diri dan bertemu dengan keluarganya untuk terakhir kali dalam jangka waktu yang lama. benar benar mendadak dan terkesan buru buru.

"Sudah semua, barang barang mu? tidak ada yang tertinggal?"

"Siap boss, tidak ada yang tertinggal!" ucap Naruto sambil memberi hormat pada sang ibu.

"Bagus, ayo kita ke ruang doa sekarang, ibu ingin mendoakanmu sebentar disana" ucap Kushina sambil menarik tangan Naruto mengajaknya menuju ruang doa yang terletak di lantai satu rumahnya. sesampainya disana Kushina menyuruh Naruto untuk duduk bersila. sementara Kushina menyalakan lilin di altar kecil.

Naruto cukup takjub dengan keadaan ruang doa itu. sudah lama ia tak kesini. terakhir kali ia masuk dan berdoa di ruangan ini waktu ia lulus SMA. waktu itu ia ingin sekali masuk Militer dan sering berdoa disini agar keinginannya itu dikabulkan. kini ruang doa itu tampak semakin bagus saja. di dinding ruang doa itu terpajang 14 foto yang menggambarkan jalan sengsara Yesus Kristus saat hendak disalib. dan juga patung Bunda Maria seukuran orang Dewasa yang ibunya letakkan di ujung ruangan. terdapat juga Altar kecil dengan Salib dan lilin lilin diatasnya seperti yang ada di Gereja pada umumnya. namun ada satu hal yang Naruto kurang suka dari ruang doa ini, yaitu lantainya yang beralaskan kayu Jati. karena tidak ada kursi maka ia dan ibunya harus bersila atau berlutut. dan berlutut di lantai kayu itu benar benar menyakitkan. tidak ada karpet yang empuk untuk melindungi lutut dan kakinya.

"Sikap berdoa tidak seperti itu, Naruto!" ucap sang Ibu tegas sambil berlutut dan menyatukan kedua tangannya, membentuk sikap berdoa yang baik dan benar. ia lalu mulai memejamkan matanya diikuti oleh Naruto.

"Tuhan, Allah Bapa di Surga... ucap Kushina mulai merangkai kata kata dalam bentuk sebuah doa. "terima kasih atas segala rahmat dan pertolongan yang engkau haturkan pada kami hari ini. semoga engkau terus memberikan rahmat kasihmu untuk keluarga kecil kami untuk selama lamanya"

"Am-" ucapan Amin Naruto tertahan saat sang ibu kembali melanjutkan doa.

"Tuhan, aku ingin meminta rahmat perlindungan untuk putra ku dan suamiku, Uzumaki Michael Naruto, yang beberapa jam lagi akan ditugaskan dalam misi kemanusiaan di Ukraina" sambung Kushina dengan tubuh sedikit bergetar. "Aku mohon berikan rahmat penyertaanmu agar dia bisa menjalankan tugas mulia itu dengan ba-baik dan dapat kembali dengan se- hiks.. selamat dan berkumpul lagi denganku dan Minato" Kushina mulai terisak, tubuhnya mulai bergetar hebat karena menahan tangis.

"Ibu"

"Dia orang yang ceroboh dan malas pergi ke Gereja tapi aku mohon Tuhan..." sambung Kushina. "AKU MOHON LINDUNGI DIA, AKU RELA BERPUASA DAN MENDERITA UNTUKNYA, TAPI AKU MOHON LINDUNGI DIA, BAWA DIA KEMBALI DENGAN SELAMAT" ucap Kushina dengan lantang, emosinya benar benar sedang campur aduk. air mata segera memenuhi kedua pasang mata beriris violetnya itu. namun posisi doa nya tetap ia pertahankan. mencoba untuk tegar dan terus memohon pada Tuhan untuk keselamatan putranya.

"Ibu, tenanglah" kini Naruto benar benar iba melihat sang ibu yang tengah menangis dalam doanya. namun entah kenapa tubuh Naruto kaku, ia tetap berada di posisi berdoa. berlutut dan menyatukan kedua tangannya. ia benar benar tak bisa bergerak.

"Amin" ucap Kushina, kemudia ia melanjutkan dengan doa Bapa Kami dan Salam Maria masing masing sebanyak 3 kali. Naruto mengikuti doa sang ibu dengan Khusuk, air matanya juga merembes keluar walaupun ia sudah menahannya. cinta kasih sang ibu padanya benar benar besar dan tulus. membautnya ikut terharu dan meneteskan air mata dalam doa itu.

Tepat setelah doa Salam Maria terakhir usai, Naruto langsung memeluk erat sang ibu, menenggelamkan kepalanya ke lutut sang ibu yang masih bersimpuh di depan Altar. tangisnya pecah di lutut sang ibu. Kushina juga ikut menangis sambil mengelus rambut Naruto dengan sayang. ia rela melakukan apa saja agar sang anak Bahagia dan dapat pulang dengan selamat dari tugasnya di Ukraina.

"Hiks.. hiks aku sayang ibu, kumohon jangan berhenti doakan aku, doakan agar aku bisa pulang dengan selamat, bu. hiks hiks"

"Hiks Ibu selalu berdoa untukmu nak, ibu selalu berdoa untukmu, tenang saja. sekarang fokuskan dirimu untuk tugas ini, kau paham? jangan pernah mabuk mabukan dan seringlah ke Gereja. cari Gereja mana saja asal kau berdoa pada Allah Bapa. dan jangan pernah main perempuan, tolonglah orang yang membutuhkan bantuan walaupun ia orang miskin. itu saja permintaan ibu padamu. cukup sulit tapi harus kau jalankan. mengerti Naruto?" ucap sang Ibu sambil menatap Naruto dengan sendu. pelukannya pada Naruto semakin erat.

"Aku mengerti bu, akan kucoba untuk melakukannya" balas Naruto sambil mengusap air matanya yang merembes keluar. namun tiba tiba tangan lain ikut memeluknya dan sang ibu dari belakang. Ayahnya tiba tiba muncul dan mengeratkan dirinya diantara tubuh Naruto dan Kushina.

"Curaaaanng... kenapa aku gak diajak?" ucap Minato dengan nada menggelikan sambil menggesek gesekkan wajahnya diantara wajah Naruto dan Kushina. membuat mereka merasa geli karena Brewok Minato yang kasar menyentuh permukaan kulit wajah mereka.

"Ayo Naruto kita periksa kembali barang barangmu, siapa tahu ada yang ketinggalan" ucap Kushina datar sambil mendorong tubuh Minato sampai terjungkal dan menghantam lantai kayu itu dengan cukup keras. sementara Naruto terkikik geli melihat perlakuan sang ibu pada sang ayah. Minato kemudian bangkit lalu menatap Kushina dengan gemas sebelum akhirnya berteriak.

"AWAS SAJA KAU MALAM INI, KUSHINA-chan. KUPASTIKAN BULAN DEPAN KAU AKAN HAMIL ANAK KEDUAKU, MUAHAHAHA" teriak Minato sambil tersenyum mesum. yang segera direspon oleh Kushina dengan melempar sebuah kamus bahasa inggris setebal 20cm ke kepala Minato. membuat ia kembali terjungkal dan pingsan.

Perpisahan macam apa ini, ya Tuhan!

.

.

.

.

"Baiklah ini tas yang terakhir" ucap Naruto pada Lee yang tengah membantunya mengemasi barang barangnya ke mobil sang ayah. ia sudah siap untuk pergi ke Seattle Air Force bersama sang ibu dan sang ayah yang akan mengantarnya.

"Terima kasih banyak, Lee" ucap Minato sambil mengelus kepala anggota Polisi Militer yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri ini. membuat Lee tersipu malu.

"Ah tidak apa apa Pak! aku hanya ingin membantu sahabatku, itu saja" balas Lee sambil tersenyum lebar. "Ah kalau begitu aku mohon ijin untuk kembali ke Posku Pak! Letnan Graham pasti akan marah kalau aku terlambat tiba di pos penjagaan" sambung Lee sambil memberi hormat pada Minato.

"Baiklah, sekali terima kasih Lee. karena sudah membantu kami" ucap Minato mengizinkan Lee untuk pergi.

"Jaga dirimu baik baik alis tebal!" kini giliran Naruto yang berbicara dengan Lee.

"Kau juga, Naruto. oh ya, jangan lupa bawakan aku oleh oleh khas Ukraina ya! kalau bisa seperti patung atau kaligrafi juga tidak apa apa"

"Yeee, enak saja" ucap Naruto sambil tertawa, Lee kemudian segera pergi dari halaman rumah orang tua Naruto untuk kembali ke pos penjagaanya. meninggalkan Naruto dan Minato yang tengah duduk di kursi depan di dalam mobil dengan Minato sebagai pengemudi.

"Ibu lama sekali"

"Hn, kau benar juga. Ayah keluarkan dulu mobilnya dari halaman agar kita dapat segera berangkat" balas Minato. ia pun segera menyalakan mobil dan mengemudikannya keluar dari halaman rumahnya. namun betapa terkejutnya mereka saat seorang perempuan berambut pink dengan nekatnya tiba tiba muncul di depan mobil Minato. untung saja Minato dengan sigap mengerem mobilnya sebelum menabrak perempuan itu.

"Sial, untung aku mengerem tepat waktu"

"Sakura?" Naruto menyadari bahwa perempuan berambut pink yang menghadang mobil ayahnya itu adalah Sakura. ia pun segera turun dari mobilnya dan mendekati Sakura yang tampak senang mengetahui kalau Naruto belum berangkat ke Seattle Air Force Base. ia datang tepat waktu rupanya.

"Narutooo, akhirnya aku bertemu denganmu lagi. kupikir kau sudah berang-. sebelum Sakura menyelesaikan kalimatnya, Naruto terlebih dahulu mencengkram kerah baju Sakura dengan kasar. membuat Sakura merasa tercekik. tak hanya itu ia juga mendorong tubuh mungil Sakura hingga menabrak pohon besar di halaman rumahnya itu dengan keras, membuat Sakura memekik kesakitan.

"MAU APA KAU KESINI, JALANG? SUDAH KUBILANG UNTUK ENYAH DARI KEHIDUPANKU TAPI KAU MASIH MEMBANTAH. KAU INGIN MATI YA?" ancam Naruto sambil mengeratkan cengkramannya pada leher Sakura. membuat Sakura kesulitan bernafas dan mulai menangis.

"Ya Tuhan, Naruto hentikan!" Kushina tiba tiba datang dan melepaskan cengkraman tangan Naruto dari leher Sakura. ia lalu memeluk Sakura yang mulai menangis di pelukannya.

"Hiks, aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal dan memelukmu untuk terakhir kali Naruto! apa itu salah? huhuhuhuhuhu" isak Sakura sambil memeluk Kushina erat.

"WOOOWW, KAU SEMAKIN PINTAR BERSANDIWARA YA JALANG? MEMANG HEBAT SEKALI AKTINGMU AKHIR AKHIR INI" balas Naruto sambil tersenyum menghina Sakura.

"Sekali lagi kau menghina Sakura dengan sebutan jalang, ibu tak akan memaafkanmu, Naruto" ancam Kushina pada Naruto yang membuatnya langsung terdiam.

"Baiklah, baiklah. apa maumu Ja-, maksutku Sakura" tanya Naruto dengan nada malas pada Sakura.

"Aku hanya ingin memelukmu saja sebelum kau pergi dan mengucapkan selamat tinggal. aku dengar dari Ino kalau kompimu akan diberangkatkan ke Ukraina. jadi aku buru buru kesini, kupikir kau sudah berangkat. dan ternyata kau masih disini, terima kasih Tuhan!" ucap Sakura pada Naruto. "Aku hanya memelukmu saja, aku tidak minta yang lain. aku janji ini akan menjadi permintaanku yang terakhir padamu. kumohon" sambung Sakura dengan nada memelas.

"Memelukku? jangan harap Sakura, kaupikir aku tak tahu rencana licikmu? berpura pura datang ke sini untuk perpisahan denganku lagi. dasar wanita murahan" hina Naruto pada Sakura.

"NARUTO!" bentak Kushina "kau ini kasar sekali, itu keinginan terakhir Sakura. dia bahkan janji untuk tidak lagi menganggumu setelah ia kau perbolehkan untuk memelukmu. apa salahnya sih memeluk Sakura, toh kau tidak mencintainya lagi kan?" sambung Kushina mencoba menenangkan Sakura yang masih menangis di pelukannya.

"Ibumu benar Naruto, sekarang cepat lakukan sebelum kau terlambat berangkat ke Ukraina, waktu kita tinggal satu jam lagi. cepatlah!" ucap Minato sambil melirik ke arah jam tangannya. jika terus terusan begini bisa bisa Naruto ketinggalan pesawat menuju Ukraina.

"Cih apa boleh buat, baiklah kau boleh memelukku, tapi awas kalau sampai cari kesempatan untuk berbuat macam macam ya!" ancam Naruto. Sakura yang mendengar hal itu langsung tersenyum dan memeluk erat tubuh Naruto. menenggelamkan kepalanya ke dada didang milik Naruto. seakan tak rela kalau pria yang sangat dicintainya itu harus pergi ke negara antah berantah yang bahkan ia tidak tahu letaknya dimana.

"Hei, ini sudah cu-

"Kembalilah dengan selamat, Naruto-kun. berusahalah dengan sekuat tenaga. jangan paksakan dirimu jika tak sanggup melakukan sesuatu" ucap Sakura sambil terus memeluk erat Naruto. memberikan kehangatan bagi mereka berdua, sementara Naruto hanya diam. sesuatu terasa aneh di hatinya. kenapa Sakura yang dulu hanya memperalatnya sekarang malah jatuh cinta padanya? mungkinkah cinta Sakura pada Naruto benar benar tulus sekarang? namun ia segera menghapus pikiran itu dari kepalanya. ia sudah menutup hatinya untuk Sakura. jadi jangan harap ia akan jatuh cinta daan mengulangi kesalahan yang dulu pernah ia lakukan saat berhubungan dengan Sakura.

"Baik, cukup." ucap Naruto sambil melepas pelukan Sakura dari tubuhnya. Sakura tampak kecewa karena pelukannya pada tubuh Naruto harus berhenti. namun ia maklum, toh ia sudah berjanji untuk memeluknya saja, tidak lebih.

"Nah ayo kita berangkat. kan tidak lucu klau Naruto sampai ketinggalan pesawat" ajak Minato dari dalam mobil pada mereka bertiga.

"Kau mau ikut Sakura? kita naik mobil bersama sama mengantar Naruto ke bandara" tawar Kushina pada Sakura sambil mengunci pagar rumah. namun Sakura menggeleng lemah pada Kushina, tanda ia menolak tawaran Kushina itu.

"Terima kasih bi, tapi aku sudah janji untuk tidak menganggu Naruto lagi. kalau begitu aku pulang saja. terima kasih atas pertolongan bibi tadi" balas Sakura sambil tersenyum tipis. ia lalu berjalan ke arah mobilnya dan segera mengemudikannya menjauh dari rumah keluarga Namikaze.

Kushina menatap mobil Honda Civic milik Sakura yang semakin menjauh dari komplek perumahan Militer itu dengan tatapan sedih. ia tahu bahwa Sakura sekarang benar benar mencintai Naruto, namun apa lacur. Sakura yang pertama kali mengkhianati Naruto. tak salah bila Naruto tidak percaya lagi pada gadis berambut musim semi itu. rasa bencinya pada Sakura benar benar mendalam. bahkan Naruto pernah bersumpah untuk tidak pernah lagi bertemu atau mempunyai hubungan dengan perempuan bernama Sakura.

"Kenapa ibu melamun? ayo cepat masuk ke dalam mobil, nanti aku bisa terlambat lhoo" ucapan Naruto memecah lamunan Kushina. ia lalu segera masuk ke dalam mobil.

dan Mobil SUV milik keluarga Namikaze itu segera melaju menembus keheningan malam menuju Seattle Air Force Base. bandara milik US Air Force yang menjadi tempat keberangkatan Naruto beserta prajurit dan perwira dari 5 kompi lainnya menuju Ukraina.

.

.

.

.

Minato menghentikan laju SUV miliknya di area parkir VVIP Seattle Air Force Base. sebagai seorang Kolonel ia mempunyai hak istimewa untuk bisa parkir di dekat landasan utama. sedangkan orang tua lain hanya bisa melihat anaknya dari balik pagar pembatas antara ladasan dan terminal keberangkatan.

"Sudah sampai!" ucap Minato pada Naruto dan Kushina. mereka bertiga langsung turun dari mobil dan bergegas menuju area parkir pesawat dimana Naruto dan pasukan yang lain akan diterbangkan ke Ukraina menggunakan pesawat C 17 Globemaster II.

"Baiklah, mungkin ayah dan ibu hanya bisa mengantarku sampai disini saja" ucap Naruto sambil menatap wajah kedua orang tuanya dengan sendu. ia lalu memeluk kedua orang tuanya dengan erat sebelum pergi meninggalkan mereka "Ayah dan ibu terus akur ya di rumah! jangan sering bertengkar. untuk ayah kalau mau ambil majalah porno ada di lemariku bagian atas" pesan Naruto pada orang tuanya.

"Hahahaha, tenang saja. justru aku dan ibumu akan menjalankan program pembuatan ba- uhuk" ucapan Minato terpotong setelah Kushina menyikut perutnya.

"Jangan khawatir, ingat selalu pesan yang tadi ibu sampaikan ya! oh iya ibu hampir lupa" ucap Kushina sambil merogoh sesuatu dari tasnya. "Ini Rosario milik ayahmu dulu. Rosario inilah yang menemani tidurnya di Panama dan Afghanistan saat ia dikirim ke negara itu, jaga baik baik ya nak!" sambung Kushina sambil mengalungkan Rosario itu di leher Naruto.

"Siap, Jenderal hehehehe" balas Naruto sambil memberi hormat pada kedua orang tuanya itu. "Baiklah aku pergi dulu! sampai jumpa bulan depan, Ayah, Ibu!" Naruto kini mulai berlari menuju tempat berkumpulnya pasukan pasukan kompi Ranger sambil melambaikan tangannya ke arah kedua orang tuanya, mengucapkan selamat tinggal.

"DADAH NARUTOOO!" teriak Kushina pada putra semata wayangnya itu. ia juga ikut melambaikan tangannya sampai bayangan tubuh Naruto menghilang dari pandangannya.

"Anak kita sudah besar dan dewasa ya, Kushina?"

"Kau benar, Minato. haaahh aku akan merindukan dia di rumah. merindukan wajah imutnya saat ia bangun tidur. aaahhh kita jadi kesepian deh selama Naruto pergi" keluh Kushina sambil mengerucutkan bibirnya. membuat Minato tak tahan dan langsung mencium bibir istrinya itu.

"Huuummmmmppppfff, Minato"

"Kita tidak akan kesepian lagi setelah kau hamil lagi sayang, aku ingin punya anak kembar perempuan. nampaknya akan sangat menyenangkan punya anak perempuan" ucap Minato sambil memejamkan matanya, siap menerima pukulan Kushina yang mungkin akan marah setelah dia berbicara mesum seperti itu. namun yang terjadi sebaliknya. Kushina malah melingkarkan tangannya di leher Minato dan memberikan kissmarks di lehernya.

"Aku juga ingin anak kembar, satunya berambut kuning dan satunya berambut akan lucu dan menggemaskan. ayo kita segera buat anak kembar Minatooohh~~" ucap Kushina sensual sambil mengelus area selangkangan Minato. membuat Minato kalap dan segera memasukkan Kushina kedalam mobil dan membawanya pergi dari area bandara dan menuju rumah, dimana mereka akan melakukan hal yang tidak tidak atau iya iya dalam tanda kutip negatif.

Semetara itu Naruto masih sibuk mencari kompinya. setelah mengambil peralatan tempurnya di bagian Logistik dan bagian perlatan, ia kini tengah berada di antara kumpulan ratusan prajurit yang bersiap menaiki 3 unit pesawat C 17 Globemaster II. ia sesekali berteriak memanggil nama Kompinya, berharap ada yang membalas panggilannya. ia baru bisa bernafas lega saat melihat Kiba bersama anggota kompi Delta yang lain tampak kebingungan mencari komandan kompinya yang tak lain tak bukan adalah Naruto sendiri.

"Kompi Delta bersiap masuk pesawat!" perintah Naruto setelah ia bergabung kembali dengan kompinya. sedangkan Kiba menatapnya kesal karena Naruto malah terlambat.

"Kau terlambat, apa yang terjadi?"

"Ceritanya panjang Kiba, lebih baik kita masukkan anggota kompi kita kedalam pesawat terlebih dahulu" ucap Naruto sambil memerintahkan pasukannya untuk masuk ke dalam pesawat berbadan besar itu. ia pun segera mencari tempat duduk yang nyaman di area kabin pesawat itu. karena C 17 Globemaster sejatinya merupakan pesawat angkut Militer jadi kabin pesawat itu terasa luas dan mampu menampung lebih dari 100 prajurit beserta perlengkapan tempur mereka.

Naruto kini tengah mengambil posisi duduk yang nyaman. perlengkapan tempurnya sudah ia bawa. ia duduk di sebelah Kiba yang nampaknya tidur karena kelelahan. Naruto lalu melihat pemandangan di luar dari kaca pesawat itu. pesawat mereka belum take off. masih mengantri di Run Way landasan terbang. ia lalu melepas Rosario yang ia kenakan dan mengamatinya dengan seksama. jadi ini Rosario yang berkali kali menyelamatkan nyawa ayahnya di medan perang? ia kemudian tersenyum lalu mencium Salib di Rosario itu dan mengenakannya kembali di lehernya. tak berapa lama guncangan keras mengguncang pesawat yang ia tumpangi. nampaknya pesawat yang ia tumpangi baru saja Take Off dari landasan pacu.

"Kita sudah Take Off, Kapten?" tanya Kiba yang terbangun dari tidurnya karena guncangan tadi.

"Ya, baru saja. tidurlah Kiba, kau nampak lelah" ucap Naruto pada Kiba sambil tersenyum. Kiba lalu mengangguk dan melanjutkan tidurnya yang tadi terganggu. meninggalkan Naruto yang sedang menatap pemandangan malam kota Seattle dari kaca jendela pesawat. pemandangan yang akan ia rindukan selama berada di Ukraina.

"Aku akan kembali ke Seattle hidup hidup, Ayah, ibu"

Tanpa sadar Naruto memejamkan matanya. gocangan pada pesawat membuat ia merasa mengantuk. ia lalu menyederkan kepalanya kesamping atau lebih tepatnya ke arah Kiba. menjadikan pundak temannya itu sebagai bantal bagi kepalanya. ia lalu mulai masuk ke alam mimpi. tidur panjang selama 13 jam kelihatannya tidak buruk.

Dan mulai detik inilah petualangan Naruto dan kompinya di Ukraina sebagai unit Elite Ranger dan Pasukan Penjaga Perdamaian atau PeaceKeeper Force dimulai.

.

.

.

.

TBC

^Pojok Author

YOOOOO AKHIRNYA PETUALANGAN NARUTO DI UKRAINA SEBAGAI PASUKAN PERDAMAIAN AKHIRNYA DIMULAI, YOOOOOO ( terlalu semangat nih Authornya )

Dan ini juga menandai bumbu bumbu Action akan mulai masuk di Fanfiction ini. tentu action yang ditampilkan sangat identik dengan sebutan sebutan di Militer tapi tenang aja, saya akan menjelaskan beberapa istilah dalam Militer yang disebutkan di cerita tadi di bagian pojok Author.

Grenadier : adalah prajurit yang yang bersenjatakan senjata yang berhubungan dengan Roket atau peluncur Granat. setiap kompi biasanya memiliki beberapa Grenadier tergantung dari jumlah peleton yang dimiliki oleh kompi itu. misalnya kompi Delta punya 6 peleton. maka komp itu punya 6 Grenadier yang tersebar 1 anggota di masing masing peleton.

Runner : adalah Prajurit yang memilki kemampuan berlari paling cepat di suatu kompi. ia biasanya ditugaskan untuk mengantar pesan atau mengantar amunisi bagi kawan kawannya.

Untuk Chapter selanjutnya. akan ada seorang karakter Wanita baru yang akan kumasukkan ke dalam cerita ini. dialah salah satu karakter utama yang akhirnya bisa meluluhkan hati Naruto setelah dicampakkan dari Sakura. mau tahu siapa dia? tunggu di Chapter depan, oke?

Mohon Kritik dan Saran Tulis di kolom komentar ya!

Salam hangat

Author : Leopard2RI