Disclaimer : Masashi Kishimoto
Summary : Kisah Naruto Uzumaki, seorang anggota pasukan elit Ranger AD Amerika Serikat yang sangat mecintai Negara nya, suatu hari ia ditugaskan ke Ukraina sebagai pasukan perdamaian, disanalah ia bertemu seorang Wanita yang kelak akan mengisi hatinya.
Warning : Military Topic, Konten kekerasan.
.
.
.
.
"KIBA!"
"CHOUJI!"
"HEFRON!"
"DIMANA KALIAN SEMUA?, KOMPI DELTAAAA! DIMANA KALIAAAANNN?" teriak Naruto gusar sambil berlari menyusuri hutan. ia tampak berantakan, seragam tempurnya compang camping, tangan sebelah kirinya sudah putus dan tinggal tersisa bagian lengannya saja. senjata yang seharusnya ia bawa sudah menghilang entah dimana. iris Sapphire nya melihat kesana kemari, beharap menemukan salah satu anggota kompinya itu. namun nihil, hanya deretan pepohonan yang menjulang tinggi keatas dan semak semak lebat sejauh mata memandang, ia kemudian berhenti berlari karena merasa sudah tak sanggup menggerakkan kakinya yang juga terluka karena terkena pecahan peluru artileri. ia memutuskan untuk bersandar dibawah sebuah pohon raksasa yang nampaknya sudah berusia ratusan tahun itu. tangan kanannya yang masih tersisa tampak memegang walkie takie Militernya, berharap panggilan daruratnya direspon oleh pasukannya atau seseorang namun nihil. Walkie Takie tidak menerima sinyal apapun di hutan ini.
Naruto menghembuskan nafasnya cepat. merasakan tempo detak jantungnya makin cepat dan semakin semakin cepat, tak berselang lama ia merasakan kehadiran sesorang di depannya. Kabut tebal membuat ia tak bisa melihat sosok orang itu secara langsung. ia kemudian mengeluarkan pistol M1911 miliknya dari sarungnya. membidikkan pistol itu ke depan. berharap bahwa orang yang mendekati posisinya itu adalah salah satu anggota pasukannya.
"FLASH?" Naruto meneriakkan kode yang menandakan bahwa dia adalah pasukan Amerika, ia menunggu balasan kata THUNDER dari orang itu, namun orang itu tidak membalas perkataannya, membuat Naruto semakin waspada. dirinya mengokang pistol itu dengan satu tangan. bersiap untuk menembak. namun ketika dia melihat siapa orang yang mendekati dirinya itu ia tertegun. ia berulang kali mengerjapkan matanya, siapa tahu yang dia lihat ini merupakan ilusi atau musuh yang mempunyai ciri ciri yang sama. namun ketika dia membuka matanya kembali orang itu sudah berdiri di depannya. menatapnya dengan senyum khas 5 jari miliknya.
"I-ibu?" ucap Naruto tak percaya pada sosok di depannya itu. ya, Kushina Uzumaki, sang ibu kini tengah berjongkok di depannya sambil mengelus surai kuning miliknya dengan sayang. membuat Naruto merasa kehangatan menyelimuti tubuhnya karena elusan sayang sang ibu pada kepalanya itu.
"Naruto, ibu dan ayah rindu padamu nak" ucap Kushina sambil terus tersenyum pada putra semata wayangnya itu.
"Aku juga rindu padamu dan ayah bu. ngomong ngomong kenapa ibu disini, kenapa ibu bisa sampai di Ukraina? apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Naruto bingung. kenapa Kushina bisa ada di tengah medan pertempuran? dan kenapa Kushina hanya mengenakan kaus dan celemek yang biasa ia gunakan di rumah saat memasak. dan apa apaan senyum ibunya itu? sebuah senyum palsu yang Kushina buat tak bisa menipu Naruto.
"Ibu akan membawamu pulang dari sini Naruto. tugasmu disini sudah selesai. kita bisa pulang ke Seattle dan berkumpul kembali bersamaku, ayahmu, dan teman teman satu kompimu" ucap Kushina sambil terus tersenyum pada Naruto. Naruto merasa ada sesuatu yang aneh, kenapa ia tiba tiba harus pulang? tugasnya disini kan belum usai. dan teman teman satu kompinya sudah ada di Seattle? bukankah mereka semua masih bertugas dengannya tadi. hanya saja Naruto terpisah dari kompinya karena serangan artileri di posisi mereka. Naruto yang merasa bahwa tugasnya belum usai dan kompinya masih hilang. ia tidak mau pulang. ia lalu menatap sang ibu yang masih terus tersenyum padanya.
"Maaf bu, aku tidak bisa pulang. aku harus menemukan kompiku yang hilang, lagipula misiku disini belum usai. negara ini masih terlibat pe-" ucapan Naruto berhenti ketika merasakan suatu benda tajam menusuk perutnya. ia membelalakkan matanya tidak percaya dengan apa yang barusan ia lihat. Kushina menusuk perut Naruto dengan sebuah pisau. dengan cepat Kushina menarik kembali pisau itu dari perut Naruto kemudian menusukkannya kembali pada tangan kanan Naruto. membuat pegangannya pada pistol M1911 miliknya terlepas.
"AAARRRRRGGGGHHHHHH" Jerit Naruto kesakitan setelah tangan kanannya yang tersisa ditusuk oleh sang ibu. "I-ibu... kenapa?" lirih Naruto sambil berusaha menggerakkan tangan kanannya yang baru saja ditusuk oleh ibunya sendiri. sang ibu lalu mendekatkan wajahnya pada Naruto. mengecup kening putra semata wayangnya itu dengan sayang, lalu berkata...
"Kau akan segera pulang, Naruto. jemputanmu ke Seattle sudah tiba. kita akan berkumpul lagi. kau, aku, istrimu, anakmu,ayahmu, dan juga sahabat sahabatmu. mereka sudah ada disini sekarang. lihat kesana!" ucap Kushina sambil memegang kepala Naruto. ia mengarahkan kepala Naruto untuk melihat sekumpulan orang yang tampak berdiri melihatnya. dia terkejut karena melihat sang Ayah, Kiba, Chouji, Neji, Lee, Shikamaru dan Jones. dan hal yang membuatnya semakin terkejut adalah karena keberadaan Sakura disana dengan menggandeng seorang anak perempuan berambut pirang dengan iris emerald, tampak sangat mirip denganya. anak kecil itu kemudian mendekati dirinya dan memeluk lengan Naruto yang masih tersisa.
"Papa, Shinachiku kangen sama Papa.." ucap anak kecil itu sambil memeluk lengan Naruto.
"Papa..? Shinachiku..? apa apaan ini...!"
"Dia anakmu Naruto, kau menghamili Sakura sebelum keberangkatanmu ke Ukraina, kau ingat?" ucap sang ibu tenang, seolah tidak terjadi apa apa. Naruto menatap sang ibu tak percaya. anaknya? ia dan Sakura saja belum melakukan apa apa. kenapa dia sampai punya anak? Naruto segera menyadari bahwa ini semua ilusi. mungkin karena ia sudah kehilangan banyak darah sehingga ia terkena ilusi.
"ENYAH KALIAN DARI SINI! KALIAN HANYA ILUSI, KALIAN TIDAK NYATA. PERGI KALIAAAANNNN!" bentak Naruto sambil mendorong tubuh Shinachiku agar menjauh dari tubuhnya. Shinachiku pun terdorong hingga wajahnya menghantam sebuah batu besar. namun tak berselang lama Shinachiku bangkit dari jatuhnya dan menatap Naruto dengan kondisi wajah yang hancur karena menghantam batu besar. membuat Naruto semakin yakin bahwa ini adalah ilusi.
"Tega sekali kau pada anak kita Naruto, tapi tenang saja. setelah kita pulang kita akan memperbaiki wajahnya itu, benar kan Shina?" kini giliran Sakura yang menghampiri Naruto. ia mengelus wajah Naruto dengan lembut sebelum mencium bibirnya dengan ganas. Naruto tak patah arang. ia lalu mengigit bibir Sakura hingga sobek agar Sakura melepaskan ciumannya.
"Kasar sekali, tapi itu yang aku suka darimu Naruto. ayo semuanya kita bawa Naruto pulang. dia pasti sudah tidak sabar ingin pulang ke Seattle" ucap Sakura sambil mengusap darah di bibirnya akibat ulah Naruto tadi. ia juga memberi komando pada yang lain untuk mengangkat tubuh Naruto yang sudah tak berdaya itu. mereka semua kemudia membawa Naruto ke suatu tempat, membuat Naruto meronta ronta minta dilepaskan.
"BRENGSEK LEPASKAN AKU, AKU MASIH HARUS MENCARI KOMPIKU! AKU TIDAK MAU PULANG. LEPASSSKAN AKU!" teriak Naruto sambil meronta ronta. namun mereka tetap membawa Naruto ke suatu tempat yang ia tak tahu dimana lokasinya.
"Kau lucu ya, ketika mengumpat seperti itu"
"Hei Naruto setelah kau pulang, akan kuberi kupon khusus ramen seumur hidup di Ichiraku"
"Naruto, kau boleh meminjam peralatan konsol game ku semau mu seumur hidup"
"Naruto, aku berencana mengajak mu dan ibumu untuk mengunjungi kakek Jiraiya di Virginia, kau pasti mau tahu novel porno terbarunya kan?"
"Papa, nanti antar Shina ke sekolah ya? Shina ingin diantar Papa ke sekolah"
Naruto memejamkan matanya, berusaha tidak mendengarkan perkataan perkataan mereka yang berusaha mempengaruhi pikirannya. namun ia sudah lemas. tubuhnya yang tadi meronta ronta minta dilepaskan sekarang sudah tidak lagi ia bisa gerakkan. ia hanya bisa menebak nebak kemana para orang terdekatnya ini akan membawanya. mereka kemudian berhenti di suatu lahan yang luas. Naruto bergidik ngeri ketika melihat lahan itu merupakan kuburan. di sana tersedia satu peti kosong berwarna putih dengan lambang salib di atasnya. mereka lalu meletakkan tubuh Naruto ke dalam peti itu. Naruto benar benar ketakutan sekarang. dirinya menatap orang orang yang sudah mengotongnya itu dengan memelas berharap ini hanya lelucon. namun mereka malah tersenyum dan berkata...
"SELAMAT DATANG DI RUMAH BARUMU NARUTO/PAPA. SEMOGA KAU BETAH DI RUMAH BARUMU INI" kata mereka semua sambil melambaikan tangan pada Naruto.
"TUNGGU, HEI... JANGAN TUTUP PETI INIII, BUKAAAAA" jerit Naruto ketika Kiba dan Chouji mulai menutup peti itu dari luar, tak lupa mereka memasang paku agar Naruto tak bisa keluar. Naruto tak patah semangat, ia berusaha menendang nendang tutup peti itu dengan sekuat tenaga. namun tidak terjadi apa apa. tutup peti itu tetap kokoh di tempatnya.
"HEI, LELUCON INI TIDAK LUCU, TAHU? TOLONG BUKA PETI INI KIBA, CHOUJI, SHIKAMARU. AKU BENAR BENAR KETAKUTAN DISINI" teriak Naruto pada orang orang yang yang tadi menggotongnya ke sini. namun nihil tidak ada balasan dari mereka. tak berselang lama tiba tiba peti yang Naruto tempati mulai kemasukan tanah dari luar peti. nampaknya peti yang ia tempati ini sudah dikubur di dalam tanah. tanah itu makin memenuhi bagian dalam peti membuat Naruto semakin panik. ia terus menggedor gedor peti itu. berharap diselamatkan. namun itu semua sia sia.
"TOOOLLLLONG IBU, AYAAAH TOLONG AKU-HUUUUUMMMPFFFT" ucapan Naruto terhalang oleh tanah yang menutupi wajahnya sekarang. nafasnya mulai berhenti. semuanya mulai gelap. hanya terdengar bunyi patahan kayu penutup peti yang semakin tertekan ke bawah akibat tanah yang menumpuk diatas peti. Naruto memejamkan matanya sambil merapalkan doa. ia benar benar panik sekarang. kematian sudah berada disisinya.
tiba tiba hal yang Naruto takutkan mulai terjadi, nafas Naruto benar benar berhenti, matanya memejam sempurna. mulutnya berhenti merapal doa doa yang tadi ia ucapkan. tubuhnya mendingin. semuanya berhenti. kematian sudah menjemputnya.
namun sebuah suara menyadarkannya...
suara itu adalah...
.
.
.
"Oi Narutoooo sampai kapan kau mau tidur?" teriak Kiba sambil menguncang tubuh Naruto pelan. guncangan keras pesawat C-17 Globemaster yang mereka tumpangi bahkan tidak membangunkan Naruto dari tidur panjangnya. terpaksa Kiba melakukan suatu hal yang tidak pantas dilakukan oleh seorang manusia pada manusia lainnya. ia memasukkan satu jarinya ke belahan pantatnya sendiri kemudia mengarahkan jarinya yang sudah tercampur hal Najis itu ke bawah hidung Naruto.
"HOEK HOEK. HAH, HAH, HAH, HAH..." Naruto tersentak dari tidurnya. ia terbangun karena baru saja mencium sebuah bau laknat yang mirip seperti kotoran manusia. ia lalu menatap tajam Kiba yang kini memandangnya dengan wajah tak berdosa. membuat Naruto tak segan menempeleng kepala anak buahnya di kompi Charlie itu dengan keras.
"Aduh, kenapa kau memukulku?"
"Kau sendiri kenapa usil padaku? untung saja aku tidak muntah disini, bisa bisa peralatanku kena bekas muntahanku tadi"
"Habisnya, kau tidur terus tidak bangun bangun. lagipula kita baru saja mendarat di Bandara Internasional Donetsk Sergey Prokofiev. lihat keadaan Bandara ini dari jendela, kupastikan kau akan terkejut melihatnya"
"Begitukah? memangnya ada apa dengan bandara itu? apa terlalu kecil untuk pesawat kita?" ucap Naruto menimpali perkataan Kiba. ia lalu melongokkan kepala melihat kondisi Bandara yang baru saja didarati oleh pesawat yang ditumpanginya ini. alangkah terkejutnya Naruto ketika melihat kondisi Bandara ini, Landasan pacu yang berlubang, Terminal Bandara yang dalam keadaan rusak berat dan juga belasan bangkai pesawat tempur yang terparkir di area parkir pesawat. benar benar Bandara yang kacau dan berantakan.
"Ini sih parah sekali, apa yang terjadi dengan bandara ini?" tanya Naruto pada Kiba.
"Bandara ini baru saja diserang oleh pihak Russia, 3 hari yang lalu Kapten. karena itu Bandara ini tampak berantakan" bukan Kiba yang membalas perkataan Naruto, tapi seorang Kapten dari Korps Marinir yang duduk tepat didepan Naruto. ia tampak santai dengan sebatang rokok di mulutnya. dari logat bicaranya tampak jelas kalau ia bukan orang asli Amerika namun ia fasih dalam bahasa Inggris.
"Ah, jadi seperti itu ya, Kapten...?" balas Naruto sambil mencoba melihat name tag di seragam militer pria itu, pangkatnya sama seperti Naruto tapi ia bukan dari Angkatan Darat melainkan dari korps Marinir AS.
"Namaku Ivan Konev, tapi kau bisa memanggilku Ivan saja, aku satu satunya orang asli Ukraina yang bertugas di Battalionku" sambar pria bernama Ivan Konev itu cepat sambil mengulurkan tangannya pada Naruto. mengajak ia berkenalan.
"Ah, namaku Uzumaki Michael Naruto, kau bisa memanggilku Naruto, atau Michael jika kau kesulitan mengucapkan nama jepangku" balas Naruto sambil menerima uluran tangan pria itu.
"Uzumaki? kau orang Jepang ya? wah aku panggil kau Michael saja, agak sulit bagi orang Eropa Timur untuk mengucapkan nama orang Asia seperti mu" ucap Ivan pada Naruto, ia lalu menawarkan sebatang rokok pada Naruto, yang langsung ia tolak halus. karena Naruto bukan seorang perokok.
"Yah, begitulah" ucap Naruto sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "ngomong ngomong, kau bialng bahwa kau orang asli Ukraina kan? kenapa kau pindah ke Amerika Serikat dan menjadi tentara? a-ah bukan maksutku merendahkan tapi-..
"Aku pindah ke Amerika Serikat pada tahun 1991, saat itu Uni Soviet baru saja bubar dan Ukraina mendeklarasikan kemerdekaannya" balas Ivan, memotong perkataan Naruto dengan cepat. "saat itu kelompok Front pembebasan Ukraina tengah bersitegang dengan pihak Federasi Russia soal nasib Ukraina kedepannya. apakah Ukraina ikut bergabung dengan Federasi Russia tau mendirikan negara baru. perdebatan itu tidak kunjung menemukan jalan keluar hingga pihak Russia melancarkan serangan ke daerah Donbass untuk menduduki wilayah itu dan mengumumkan adanya negara baru yaitu Republik Rakyat Donetsk. keluargaku yang merupakan keluarga militer di wilayah Donetsk pun mengungsi dari sana untuk menghindari amukan Milisi Republik Rakyat Donetsk dan tentara bayaran Russia yang mengincar para pegawai Negeri dan aparat keamanan Ukraina" sambung Ivan, ia kemudia terdiam sejenak. nampak berusaha menenangkan pikirannya yang ia bawa kembali ke kejadian kelam yang ia alami 28 tahun yang lalu.
"Lalu?" tanya Naruto pendek pada Ivan.
Ivan lalu menatap Naruto dengan tajam. tampak sorot kemarahan muncul di iris hitam kelamnya. "Malam itu aku dan keluargaku, Ibu, Ayah, dan adik perempuanku sedang menyusuri jalur evakuasi yang disediakan pemerintah Ukraina bagi para warga yang ingin mengungsi ke wilayah yang dikuasai pemerintah Ukraina. mobil yang kami tumpangi lalu dicegat oleh sebuah panser yang di dalamnya berisi orang orang bertopeng hitam dan mengenakan atribut militer Russia lengkap dengan senjata AKM dan RPG 7. mereka lalu menghentikan mobil kami dan menyuruh ayah ku untuk keluar" Ivan masih terus bercerita pada Naruto, tak peduli bahwa pesawat yang mereka tumpangi sudah berhenti dan mereka ddiperintahkan untuk bersiap keluar. "Mereka tampak berbicara sesuatu dengan ayahku. awalnya biasa saja, sampai salah satu dari mereka merebut dompet milik ayahku dan menemukan kartu tanda Anggota Militer Ukraina milik ayahku di dompet itu. mereka langsung memukul dan menghajar ayahku dengan kejam sebelum akhirnya mereka menembaknya dengan pistol tepat di kepala"
"Hei, nampaknya kita har-...
"Lalu aku dan ibuku juga adikku lari ke Hutan untuk menyelamatkan diri. orang orang yang tadi membunuh ayahku juga ikut mengejar kami. kami berlari berjam jam tak kenal lelah, sementara itu orang orang tadi masih mengejar kami sambil sesekali menembakkan senjatanya ke arah kami. hingga akhirnya kami sampai di ujung sebuah sungai. sungai itu mempunyai arus yang cukup deras" Ivan masih melanjutkan ceritanya, sebatang rokok yang tadi ia pegang sudah berkurang setengah. tempo detak jantungnya makin cepat. ia nampak ingin segera menyelesaikan kisah kelamnya ini pada Naruto. " Aku awalnya memutuskan untuk menyebrangkan ibu dan adikku ke seberang sementara aku melawan orang orang itu untuk mengulur waktu bagi mereka agar bisa melarikan diri. namun ibuku malah mendorongku ke Sungai itu. dan hal yang membuatku sangat sedih adalah..." Ivan tampak berusaha keras melanjutkan Kisah kelamnya itu. "Ibuku.. dia melambaikan tangan dan tersenyum manis untukku, senyum manis untuk yang terakhir kalinya karena setelah itu sebuah peluru bersarang di kepalanya. adikku juga ditembak oleh mereka. sementara aku hanya bisa berteriak murka dan menangis. coba bayangkan, seluruh keluargamu tewas dengan cara yang sangat mengerikan dan tidak manusiawi padahal mereka tidak bersalah. orang orang Russia memang brengsek. aku akan habisi mereka semua bila bertemu denganku" gertak Ivan dengan emosi menggebu gebu.
"Haahhh, maaf kalau aku membuka luka lama di hatimu ya, Ivan. semoga keluargamu diberikan tempat terbaik di sisi Tuhan" ucap Naruto simpatik sambil menepuk pundak Ivan.
"Huh? Tuhan? aku sudah tidak percaya dengan dia. kalau dia memang benar benar ada, seharusnya dia menyelamatkan keluargaku dari orang orang Brengsek itu. bukan hanya diam dan membiarkan itu semua terjadi" sanggah Ivan sambil berdiri dari tempat duduknya, mengambil tas nya dan bersiap untuk keluar dari pesawat berbadan gembrot itu. tak sengaja ia melihat Rosario yang Naruto pakai dan ia pun tersenyum remeh. "Lepas saja kalung bodoh itu. di pertempuran nanti yang kau butuhkan adalah peluru bukan sebuah kalung jimat" ucapnya merendahkan sambil berjalan keluar dari kabin pesawat. meninggalkan Naruto yang menatap nya dengan tatapan bertanya tanya.
"Dasar orang aneh" ucap Naruto kesal. ia lalu melirik ke samping, tidak ada siapapun, Kiba sudah menghilang dari kursinya. pasti ia sudah meninggalkan kabin pesawat itu dari tadi. Naruto pun mengambil tas perlengkapan miliknya. ia lalu keluar meninggalkan kabin pesawat C 17 itu dengan bersemangat. perjalanan barunya akan segera dimulai.
"YOOSSSHH, SEMANGAT" pekik Naruto pelan, ia lalu berlari meninggalkan kabin pesawat itu dengan semangat. tanpa sadar bahwa ada seseorang yang sedari tadi memperhatikannya dengan cermat. orang itu lalu menyunggingkan senyum misterius lalu mulai menghilang dari kabin pesawat itu layaknya seorang hantu.
.
.
.
.
.
"Ini ruang kerja sekaligus kamar anda Kapten Michael, kuharap anda menyukainya. maaf jika tidak besar. ini pangkalan kecil jadi ukuran ruang kerja anda juga disesuaikan dengan ruangan kerja yang lain. sekali lagi saya mohon maaf sebesar besarnya"
"Ah, tidak apa apa kok, lagipula ruang kerja ini udah cukup luas, apalagi ada kamar tidurnya di dalam. benar benar nyaman, terimakasih yah tuan Chevko. kau sudah membantu membereskan ruangan ini" ucap Naruto kepada Chevko, seorang staff kebersihan di Bandara Internasional Donetsk Sergey Prokofiev yang kini telah menjadi pangkalan aju bagi pasukan Amerika Serikat dan juga pasukan PBB dalam misi perdamaian di Ukraina.
"Baiklah, senang kalau anda merasa nyaman di ruangan ini. kalau butuh apa apa tinggal menghubungi nomor yang ada di meja kerja anda Tuan Michael. saya mohon ijin dulu. semoga tidur anda nyenyak malam ini!" balas Chevko sambil menundukkan kepala, ia lalu meninggalkan ruang kerja Naruto, meninggalkan pemuda itu sendirian disana.
"HAAHHHH, capeknya. berbaring di kasur kelihatannya enak nih" ucap Naruto sambil merenggangkan badannya yang pegal pegal. ia lalu merebahkan diri di kasur kamar ruang kerjanya. cukup nyaman dan sejuk. kamar berkura meter itu dilengkapi dengan TV plasma kecil, kulkas, lemari dan juga cermin besar seukuran manusia dewasa. barang barang milik Naruto belum ia keluarkan dari tas. Naruto lebih memilih untuk bersantai terlebih dahulu. duduk 16 jam nonstop di pesawat itu lelahnya bukan main lho.
"Oh iya, aku belum memasang kartu SIM di Handphone baruku" Naruto kemudian memasang sebuah kartu SIM miliknya di Smartphone yang baru saja ia beli kemarin, bukan Smartphone yang biasa ia gunakan di Amerika, tapi perintah atasannya yang tidak memperbolehkan membawa alat alat elektronik pribadi dalam misi perdamaian ini, jadilah Naruto harus membeli Smartphone baru yang agak jadul, tapi masih bisa digunakan untuk chatting dan Video Call saja sudah cukup bagi Naruto.
"Baiklah, aku video call ibu terlebih dahulu saja deh, di Seattle sekarang pasti sudah siang ( di Ukraina sekarang masih jam 4 pagi buta )" Naruto mencari kontak sang ibu di aplikasi chatting miliknya lalu segera ia menekan tombol untuk video call. butuh waktu beberapa saat untuk menyambungkan jaringan dari sini ke Smartphone sang ibu. namun tidak sampai semenit layar Smartphone milik Naruto telah menampilkan wajah seorang wanita berambut merah yang nampak tersenyum lebar ke arahnya.
"WOAAAHHH, NARUTOOOOO, KAU SUDAH SAMPAI DI UKRAINA NAK?"
"Iya bu, aku baru saja sampai, tadinya aku hendak membereskan ruanganku ini, tapi keburu ingat harus telepon Ibu dan Ayah.. Hehehehehehe" balas Naruto sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"Wah sayang sekali ayahmu sudah keburu berangkat tadi, dia buru buru ke Pentagon untuk menghadiri rapat dengan Konggres, rupanya dia hendak dicalonkan jadi anggota Senat tapi ibu melarangnya, hahahahaha..."
"Ayah mau dicalonkan jadi Senat? bagus dong bu... keluarga kita jadi bahan perbincangan media media seperti CNN dan media politik lainnya, keluarga kita jadi terkenal deh..." balas Naruto sambil ikut tertawa membayangkan kalau sang ayah terpilih menjadi anggota Senat seperti yang dikatakan sang ibu tadi.
"Ck, kau ini ada ada saja.. ngomong-ngomong apa kau sudah makan? jangan malas makan lho.. ingat musuh terbesar prajurit adalah dehidrasi dan kelaparan"
"Bu, disini baru jam 4 pagi... lagipula aku sudah makan di pesawat, ibu tak perlu khawatir, disini lumayan nyaman dan bersih kok. soal makan tak perlu ambil pusing kami punya korps Dapur paling professional disini" ucap Naruto sambil mengacungkan jempol ke arah layar Smartphonenya, berharap sang ibu tak khawatir dengan kondisinya saat ini.
"Begitu ya? Ibu khawatir dengan keadaanmu tahu...? eh... tunggu sebentar Naruto, ada tamu yang datang ke rumah..., kau bicara dulu dengan Sakura ya...ibu akan kembali berbicara denganmu setelah menemui tamu"
"Ah, baik baik. aku akan bicara dulu dengan Saku-... UAAPAA? SAKURAAAAAA? kenapa dia bisa ada di rumah ki-
"Haaiii Narutooo... apa kabarmu? kau sehat sehat saja kan?" layar Smartphone milik Naruto kini menampilkan wajah Sakura yang sedang tersenyum manis padanya. namun sapaan Sakura diacuhkan begitu saja oleh Naruto.
"Hoi, kembalikan Handphone ibu ku, aku masih ingin berbicara dengannya..." ucap Naruto ketus pada Sakura.
"Ah, Bibi Kushina sedang menemui tamu, tamunya ibu ibu semua.. kelihatannya mereka adalah teman teman ibumu Naruto" balas Sakura sambil mengarahkan Smartphonenya ke arah luar, tampak beberapa ibu ibu sedang berkunjung ke rumah keluarga Namikaze. mereka tampaknya adalah anggota perkumpulan ibu ibu pengurus Gereja yang diketuai oleh Kushina.
"Oh, begitu? ya sudah tutup saja Video Call nya, biar ku Video Call ibuku nanti. untuk apa juga aku harus berbicara denganmu?" balas Naruto tajam.
"Hihihihi, kau lucu ya kalau lagi jutek gitu. bikin gemes tau.."
"Haha, lucu... cepat matikan Video Callnya bodoh, aku malas bertemu denganmu lagi" kini nada Naruto mulai naik satu oktaf, kesabarannya sedang diuji rupanya.
"Kau kan bisa matikan Video call dari Smartphone mu, toh kau yang awalnya melakukan video call ke Smartphone bibi Kushina kan..?
"Dengar ya... kalau aku yang memutuskan Video Call ini maka aku yang akan kena amuk ibuku, dia akan berpikir kalau aku tega mematikan Video Call nya secara sepihak. kalau kau yang memutuskan Video Call nya yang akan kena amuk adalah dirimu bukan aku." balas Naruto pada Sakura yang masih tersenyum manis padanya.
"Enak saja.. kalau begitu gak jadi kumatikan deh, Video Call ini!"
"Sial.. kau ini benar benar keterla- ucapan Naruto terputus ketika wajahnya bertatapan dengan Sakura. Naruto bisa melihat wajah gadis yang dulu pernah menjadi kekasihnya itu. kulit seputih susu dengan badan yang mungil tapi berisi, juga wajah bulat mempesona dan iris emerald yang menawan, jangan lupakan rambut berwarna soft pink yang menambah kadar kecantikannya itu. Naruto sempat termangu sebentar sebelum akhirnya tersadar dari khayalan liarnya itu.
"Hei, Narutooo... kau tidak apa apa? kenapa kau bengong tadi?"
"Tidak.. tidak ada apa apa, aku hanya mengantuk saja" kilah Naruto dusta sambil memalingkan wajahnya yang memerah. siaaallll... kenapa ia harus melihat wajah Sakura yang sangat manis tadi. padahal ia sudah tidak mencintai Sakura... tapi, kenapa?
"Ohohoho... aku tahu apa yang kau pikirkan, tunggu sebentar..." balas Sakura sambil tersenyum nakal. ia kemudian mendekatkan layar Smartphone milik Kushina ke wajahnya lalu membentuk raut wajah mengerang ( Ahegao Face ) membuat Naruto sempat merasa kehilangan nafas selama beberapa detik karena terkejut dengan perbuatan Sakura.
"Apa yang kau laku-
"Cepat Screenshot wajahku ini, sebelum mereka lihat, Naruto..."
"APA APAAAN KAU INI, DASAR PEREMPUAN JALANG!" bentak Naruto sambil memutus sambungan Video Call nya dengan Sakura. ia lalu melempar Smartphone miliknya itu ke kasur. sial.. apa sih yang sebenarnya ia rasakan? kenapa ketika ia melihat wajah Sakura justru ia merasa nafsu? memang Naruto sudah tidak lagi mencintai Sakura tapi Sakura terlalu menggoda baginya. tubuh mungilnya, wajah ayunya... ARRGGGHHH, Naruto mengacak rambutnya kesal. kesal karena dengan mudahnya malah bernafsu pada Sakura yang ia benci.
"Cih, kenapa aku memikirkan wanita jalang itu? lebih baik aku jalan jalan keluar saja ah.. cari angin" ucap Naruto pada dirinya sendiri. ia lalu mengambil jaket Militernya yang ia gantung di lemari dan melangkahkan kakinya keluar ruangan. pergi kemana saja asal tidak terus memikirkan Sakura... ah sial Sakura lagi kan yang ia pikirkan.
"Hoi, Narutoooo" panggilan seseorang mengalihkan perhatian Naruto yang tengah berjalan tanpa tujuan di sekitar Pangkalan. orang yang memanggilnya tampak sedang mengendarai sebuah Humvee berwarna hijau dengan corak hitam. orang itu menlongokkan kepalanya keluar untuk menyapa teman sekaligus Komandan kompinya itu. membuat Naruto menoleh ke arahnya.
"Hm... ada apa Kiba? apa ada masalah dengan kompi Delta?" tanya Naruto membalas sapaan anak buahnya itu.
"Aaahhh... mereka sudah beristirahat di barak sekarang. sebenarnya aku ingin mengajakmu jalan jalan sekaligus mengecek situasi sekitar, bagaimana?"
"Wah, itu ide bagus Kiba.. kebetulan aku sedang suntuk, bagaimana kalau kita mencari bar saja. aku ingin minum sedikit" balas Naruto menyetujui usul Kiba.
"Tunggu.. bukannya, bibi Kushina melarangmu untuk minum minum?"
"Yaahh sesekali tidak apa apa, hanya sedikit kok, Ayo kita pergi!" ucap Naruto sambil menaiki Humvee yang dikendarai Kiba. dengan seenak jidatnya Naruto menaikkan kedua kakinya ke Dashboard mobil, membuat Kiba harus ikut mencium bau laknat dari kaus kaki Naruto yang belum ia ganti selama seharian.
"Brengsek, ya sudah kita jalan sekarang!" ucap Kiba kesal sambil menyalakan kembali mesin Humvee yang ia dan Naruto naiki kemudia mengemudikannya keluar dari Pangkalan operasi Gabungan. tak lupa ia menyerahkan kartu identitasnya dan melaporkan keberangkatannya pada komandan pasukan Polisi Militer. agar jika terjadi apa apa maka Pasukan yang lain dapat mengetahui keberadaan mereka.
Humvee itu kembali bergerak kini menyusuri jalan raya menuju kota terdekat yaitu kota Spartak. Kiba masih asyik mengemudikan Humvee itu sambil sesekali memakan kacang yang ia bawa. sementara Naruto hanya diam. bayangan Sakura terus muncul di dalam pikirannya. apakah ia menyukai Sakura? setelah semua yang Sakura lakukan padanya? menyakiti hati Naruto dan mencampakkannya dengan pria lain. Naruto sudah gila jika ia masih mencintai Sakura.
"Cih, bangsat..."
.
.
.
'DUAARRRR'
"YESUS KRISTUS!" teriak Naruto kaget ketika Humvee yang ia dan Kiba tumpangi tiba tiba terpental ke atas. ia buru buru melindungi tubuhnya dari serpihan kaca Humvee yang ikut pecah karena efek ledakan yang cukup kuat tadi. sedangkan Kiba langsung melindungi wajahnya karena kepalanya sudah dilindungi oleh Helm tempur miliknya
"CEPAT KELUAR BRENGSEK, AMBIL SENAPANMU!" bentak Naruto pada Kiba yang masih tertegun karena peristiwa tadi. ia dan Kiba segera turun dari Humvee sambil membawa senjata M27 milik mereka. sambil mengambil posisi berlindung, Naruto melongokkan kepalanya mencari keberadaan musuh yang mungkin telah bertanggung jawab atas ledakan tadi. namun nihil.. tak ada siapa siapa kecuali mereka berdua di sini.
"Sial Kapten! ini adalah IED anti personil. rupanya Humvee kita tak sengaja melindasnya tadi" ucap Kiba setelah memeriksa bagian depan Humvee yang mereka tumpangi tadi. benar benar hancur, untung saja ledakan tadi tak ikut menghancurkan mereka berdua. Naruto menyederkan punggungnya ke badan Humvee dengan perasaan lega bercampur takut. apa mungkin ini sebuah penyergapan? bagaimana jika musuh mengepung mereka? mereka Cuma berdua dan hanya bersenjatakan M27 dengan 120 amunisi.
"Ah, Syukurlah kita tidak apa apa, aku akan panggil markas pusat sekarang, meminta bantuan"
Namun suara derapan kaki mengagetkan mereka berdua. suara itu berasal dari ujung jalan. hari masih gelap, mereka tidak tau siapa orang yang mendekati mereka sekarang. yang pasti jika ia musuh maka mereka harus bertempur mati matian. Naruto mengisyaratkan Kiba untuk sembunyi di batu besar di dekat jalan, agar musuh atau siapapun itu mengira bahwa mereka bedua sudah mati atau telah melarikan diri. ia membidikkan senapan miliknya itu ke ujung jalan. sekilas ia melihat siluet manusia, tapi kok...
"Cuma satu orang?" ucap Naruto kebingungan
"Apa ini jebakan kapten?" tanya Kiba
"Aku tidak tahu Kiba, tapi kita harus tetap waspada"
Orang itu semakin mendekati Humvee yang sudah ringsek itu. sosoknya pun semakin jelas kelihatan. orang itu berambut panjang dan mengenakan setelan Piyama tidur berwarna biru tua dan juga membawa tas selempang dengan simbol medis di bagian samping, ia tampak kebingungan dan juga khawatir sambil sesekali ia menengok ke dalam Humvee yang ia dan Kiba tinggalkan tampak seperti mencari sesuatu.
"Dia seorang wanita, Kapten.. apa yang harus kita lakukan?" ucap Kiba setelah menyadari bahwa orang yang mereka curigai itu adalah seorang Wanita.
"Baiklah, aku punya rencana. kita hampiri dia, tapi kau buat pengalihan terlebih dulu. lemparkan batu ke arah kiri wanita itu, setelah itu aku akan menyergapnya dari belakang. mengerti?" terang Naruto pada Kiba disambut dengan anggukan kepala tanda mengerti dari Kiba.
Secara perlahan lahan Naruto keluar dari balik batu besar itu dan mendekati Wanita yang mereka curigai sebagai musuh itu dari belakang secara perlahan lahan. sementara Kiba masih menunggu aba aba dari Naruto sambil menggenggam sebuah batu yang akan ia gunakan untuk mengalihkan perhatian Wanita itu. setelah Naruto merasa sudah cukup dekat dengan Wanita itu, ia lalu mengkode Kiba untuk melakukan rencananya. Kiba yang menerima kode dari Naruto langsung melemparkan batu ke arah samping Wanita itu.
'DUK' Suara dari batu yang dilempar Kiba sukses membuat Wanita itu mengalihkan perhatiannya ke sumber suara berisik yang ditimbulkan oleh batu yang tadi dilempar Kiba. Naruto yang melihat kesempatan emas ini langsung menerjang tubuh Wanita itu dan membekap mulutnya agar ia tidak teriak. Naruto langsung menyeret tubuh wanita itu ke balik batu besar tempat ia dan Kiba bersembunyi tadi untuk menginterogasinya.
"Oh jadi ini orangnya? cantik juga." ucap Kiba kagum, ia lalu menodongkan pistolnya ke kepala Wanita itu untuk menakut nakutinya.
"To-tolong tuan, aku tidak bermaksut mengganggu kalian, tolong lepaskan aku. aku pengurus anak anak dan lansia dari Gereja, to-tolong jangan perkosa aku huuuuuuuu..." Wanita itu menangis sesenggukkan sambil mengenggam erat tak selempang yang ia bawa. ia tampak begitu ketakutan setelah melihat sosok Kiba dan Naruto yang bertubuh besar dan menyeramkan.
"Dia bicara apa? aku tidak mengerti bahasanya.." Naruto bingung ketika Wanita itu mengucapkan beberapa kata dalam bahasa Ukraina, yang pasti wanita ini sedang ketakutan, ia menyuruh Kiba untuk menghentikan todongan pistolnya ke kepala Wanita itu agar ia tidak semakin takut. Naruto berjongkok di depan Wanita itu dan menggeggam tangannya dengan lembut, meyakinkan wanita itu bahwa ia dan Kiba adalah Tentara perdamaian dari AS bukan orang jahat atau pelaku pencabulan.
"Hei, nona.. kau bisa bahasa Inggris? tolong tenang ya, kami adalah tentara AS yang dikirim ke Ukraina untuk misi perdamaian. kami bukan orang jahat kok. jadi jangan menagis terus.. ok? ucap Naruto sambil mengusap air mata wanita itu dengan sapu tangan miliknya.
"Hiks..hiks...hiks.. Tentara... Penjaga Perdamaian?" balas wanita terbata bata itu sambil menatap wajah Naruto dengan tatapan berbinar, ia lega jika kedua orang ini bukan orang jahat yang berniat melakukan hal yang tidak tidak padanya.
"Yah.. benar kami tentara penjaga perdamaian... We are PeacekeeperForce"
"Syukurlah... kupikir kalian orang jahat tadi" wanita itu mengelus elus dadanya sebagai bentuk rasa syukurnya, tangisnya tadi sudah reda dan diganti dengan senyum lembut bak putri bangsawan. Naruto ikut tersenyum lega ketika Wanita itu bisa berbicara bahasa Inggris, namun aksen bahasa Inggris Wanita ini tampak familiar. seperti aksen bahasa Inggris khas orang Asia Timur. mungkinkah wanita itu berasal dari Jepang, sama seperti sang ibu, Kushina..?
"Siapa namamu, Nona?" tanya Naruto pada wanita itu.
"Ah, aku lupa memperkenalkan diri!" pekik Wanita itu lalu menggeggam tangan Naruto erat. "Namaku Hinata Hyuuga, aku seorang pengurus Gereja Katolik Santa Maria, Gereja Katholik satu satunya di daerah ini, salam kenal!" Wanita itu memperkenalkan diri sambil menyunggingkan senyum manis miliknya. membuat Naruto dan Kiba sedikit merasa sesak karena senyuman manis Wanita itu.
"Ah, namaku Uzumaki Michael Naruto. kau bisa memanggilku Michael saja bila kesulitan memanggil nama Jepang ku. dan ini anak buahku, namanya Harisson Kiba. panggil saja dia Kiba"
"Uzumaki? kau dari Jepang ya?" tanya Hinata dengan ekspresi penasaran pada Naruto.
"Aaaahh, aku lahir di Seattle, Amerika Serikat, ibuku orang Jepang sedangkan ayahku orang Amerika" terang Naruto pada Hinata.
"Kapten! aku sudah menghubungi markas, mereka akan menjemput kita 1 jam lagi. untuk sementara mereka memerintahkan kita untuk menunggu di dalam bangunan agar tidak terekspos oleh musuh" teriak Kiba sambil mematikan Radio komunikasi di Humvee mereka yang sudah rusak parah itu. untung saja Radionya tidak ikut rusak jadi mereka masih bisa menghubungi markas mereka.
"Tunggu, bagaimana kalau kalian sembunyi di Gereja saja? kebetulan disana adalah tempat menampung anak anak dan orang tua korban perang. kalian bisa berlindung disana juga" tawar Hinata pada mereka berdua.
"Eh, itu tawaran yang menarik! terimakasih nona, kau benar benar baik sekali pada kami..." balas Kiba dengan senyum sumringah pada Wanita itu, sedangkan Naruto hanya memandang Hinata dengan tatapan tajam dan menyelidik. kenapa Hinata begitu baik pada mereka yang statusnya masih orang asing? apa ada maksut lain di balik sikap baiknya ini?"
"Kenapa kau tiba tiba baik sekali sampai menawarkan tempat perlindungan kepada kami, Nona Hyuuga?" ucap Naruto penuh penekanan sambil menatap Hinata dengan penuh kecurigaan. ia lalu mengarahkan senapan milkinya ke arah Hinata, membuat Hinata sedikit tersentak. "Kau tidak berniat menjebak kami kan, hm?" sambungnya lagi sambil mendekatkan tubuhnya ke tubuh Hinata. membuat Hinata merasa terintimidasi dengan perbuatan Naruto.
"Ti-tidak, aku hanya ingin membantu kalian.. kalian tampak kesusahan disini, dan sudah tugasaku untuk membantu orang membutuhkan pertolongan, apa aku salah?"
"Tidak, tapi kau sedikit mecurigakan bagiku" ucap Naruto sambil terus menatap wajah Hinata denagn tajam. "Baiklah, sekarang tujukkan dimana gereja nya. awas kalau kau sampai bohong pada kami!" gertak Naruto sambil menyuruh Hinata untuk menunjukkan letak Gereja yang Hinata maksud padanya.
"A-aku bisa mengantar kalian, kebetulan aku juga tinggal disana. ayo kita jalan, letaknya hanya diujung jalan kok" balas Hinata sambil melangkahkan kakinya menuju Gereja Santa Maria diikuti Naruto dan Kiba di belakang. Naruto masih merasa curiga dan was was terhadap Hinata sedangkan Kiba terlihat santai santai saja. Kiba memang orang yang kurang peka, jadi jangan salahkan dia kalau dia tidak merasa curiga pada Hinata.
"Kita sudah sampai!" ucap Hinata pada Kiba dan Naruto sambil menunjuk sebuah bangunan Gereja Kuno yang tampaknya sudah sangat berumur itu, mengingatkannya pada Katedral Notre Damme di Prancis. namun bedanya bila Katedral Notre Damme di Prancis terlihat indah dan menawan karena arsitekturnya, berbeda dengan Gereja ini, Gereja ini dari luar tampak terlihat cukup berantakan. lubang bekas mortir dan bom Pesawat di sekitar halaman Gereja, atap Gereja yang sudah ambrol dan jangan lupakan soal Dinding pagar Gereja yang berlubang terkena tembakan peluru. benar benar Gereja yang sangat 'Veteran' dan 'Kombatan' perang.
'TOK, TOK, TOK' Hinata mengetuk pintu Gereja itu dengan cukup kuat. tak berselang lama seorang Pastur dan seorang Biarawati membukakan pintu bagi Hinata. Biarawati itu langsung menyongsong maju ke depan untuk memeluk Hinata, sontak saja membuat Naruto dan Kiba agak terkejut dan segera menodongkan senjata ke arah Biarawati itu.
"Ya Tuhan, Syukurlah Hinata, kau pulang dengan selamat. sudah kubilang jangan pernah berurusan dengan Milisi atau Militer kan? kau membuat kami khawatir saja!" ucap Biarawati itu dengan nada Khawatir sambil terus memeluk tubuh Hinata erat.
"Ahahaha, mereka bukan Milisi atau Militer suster Anna, mereka adalah pasukan PBB yang ditugaskan disini" terang Hinata sambil menunjuk Naruto dan Kiba yang sudah menurunkan todongan senjatanya.
"Tetap saja mereka bersenjata, mereka bisa saja membunuhmu disana"
"Tidak, mereka orang baik kok, oh ya.. Naruto, Kiba.. perkenalkan ini Ssuster Anna dan Pastur Vladimir mereka adalah pengurus sekaligus pemimpin Gereja ini!" Hinata memperkenalkan Suster Anna dan Pastur Vladimir pada Naruto dan Kiba.
"Ah selamat datang di Gereja tua ini, terima kasih sudah mengantar Hinata pulang kesini" ucap pastur Vladimir dengan nada tegas. wajahnya yang sangat garang dan berwibawa membuat Naruto dan Kiba sempat mengkeret.
"Ah harusnya kami yang berterima kasih karena Hinata sudah mengijinkan kami untuk tinggal disini sebentar sampai bantuan kami tiba" balas Kiba sambil membungkuk ke arah Pastur itu.
"Tinggal..? kau mengijinkan mereka untuk tinggal disini Hinata?" tanya Suster Anna pada Hinata.
"Hanya satu jam sebelum mereka dijemput oleh kawan kawan mereka kok Suster.. mobil mereka meledak karena terkena ranjau tadi untung aku langsung datang, toh mereka butuh pertolongan, kita harus membantu kan?" terang Hinata pada Suster Anna yang masih menatap tidak suka pada Naruto dan Kiba, jujur saja Suster Anna sama sekali tidak suka dengan yang namanya Militer. menurut Suster Anna mereka semua sama saja, sama sama memegang senjata untuk membunuh orang tak bersalah.
"Tapi..."
"Sudah, ayo kita semua masuk, tidak baik bila terus diluar dengan udara dingin seperti ini" perkataan Pastur Vladimir menghentikan argumen Suster Anna. merekapun langsung masuk ke dalam Gereja walaupun di hati Suster Anna masih terbesit rasa tidak ikhlas, tapi kalau Pastur sudah memperbolehkan, ya apa boleh buat.
"Wow bagian dalam Gereja ini luas sekali. bisa digunakan untuk main bola nih" ucap Kiba kagum setelah melihat bagian dalam Gereja yang memilki ukiran dari budaya Slavia yang kental, terdapat juga patung Bunda Maria yang sedang menggendong Yesus kecil di pangkuannya. benar benar sebuah Gereja yang sangat indah di tengah tengah perang yang berkecamuk saat ini.
"Tentu saja, bangunan Gereja ini didirikan tahun 1678, saat itu masih jaman kekaisaran Russia, aslinya Gereja ini jauh lebih luas lagi jika kau menambahkan area pemakaman sebagai bagian dari lingkungan Gereja, Gereja ini selalu mendapat banyak tantangan mulai dari zaman Tsar, era pendudukan Nazi, hingga era Soviet khususnya zaman Stalin berkuasa. banyak yang ingin menghancurkan Gereja ini. tapi mereka tidak bisa, Tuhan memang humoris, dia tidak membiarkan kami mati, tapi dia membiarkan kami menderita dan jatuh bangun dalam menghadapi kehidupan." ucap Pastur Vladimir sarkastik. Naruto hanya menatap datar Pastur berusia 50 tahun itu, banyak sekali beban yang ia tanggung. Naruto yakin sekali bahwa Pastur itu pernah merasakan yang namanya kegelapan, membunuh orang misalnya. itu termasuk kegelapan dalam hati manusia.
"Kalian bisa menunggu teman teman kalian di sini, ada banyak bangku. kalian boleh tidur disini semau kalian" kini giliran suster Anna yang berbicara dengan mereka berdua. "Kalau mau kopi atau teh bilang saja padaku atau pada Hinata, tapi jangan buat repot dia ya!" sambung Suster Anna sebelum pergi meninggalkan mereka bertiga di ruang Misa.
"Haaaahhhh, aku mau tidur sebentar ah. aku tidur dulu Kapten!" ucap Kiba yang langsung terlelap setelah mengatakan hal itu. meninggalkan Naruto dan Hinata yang masih terjaga dan masih belum takluk pada yang namanya rasa kantuk.
"Cih, seenaknya saja tidur. mana aku Cuma aku sama Hinata lagi yang masih sadar di ruangan ini. Kiba brengsek..."maki Naruto dalam hati. sebenarnya dia suka suka saja bisa duduk berdua sama Hinata di ruangan ini. toh dia cantik dan lembut. siapa pria tolol yang gak mau duduk sama dia di momen begini? kalau ada cowok yang gak mau Cuma ada 2 kemungkinan ; yang pertama tu cowok gay, yang kedua tu cowok dah mati alias Cuma jadi arwah doank.
"Naruto-kun mau dibuatkan teh?" tawar Hinata pada Naruto.
"Ah.. tidak usah repot repot, tunggu dulu...-kun? kau ini orang Jepang juga?" Naruto cukup terkejut ketika Hinata menambahkan sulfix –kuncketika memanggilnya. sial... suara Hinata benar benar imut ketika memanggil namanya dengan sulfix –kun.
"Hehehehe, sebenarnya aku ini orang Prefektur Kanagawa, aku dulu tinggal di Yokohama sebelum akhirnya memutuskan untuk mengabdi di Gereja ini" balas Hinata sambil tersenyum kecil.
"Naruto-kun orang Katholik ya?" Hinata balik bertanya pada Naruto.
"Ya, aku ini orang Katholik, kelihatan dari Rosario yang kukenakan ini ya?"
"Hihihi... benar, selain itu kau kelihatan kaku, sama seperti orang Katholik pada umumnya" balas Hinata sambil sesekali terkikik pelan.
"Aku ini kelihatan kaku ya? memang sudah sifatku dari dulu" ucap Naruto pendek dengan wajah datar. namun diam diam dia tersenyum menanggapi lawakan Hinata walau garing.
"Oh ya, boleh kita bertukar nomer Handphone, ehm... Hinata?" ucap Naruto terbata bata, sudah lama ia tak bertukar nomer dengan perempuan seumurannya ( kalau sama ibunya sih sering ) Naruto masih menunggu jawaban Hinata, namun jawaban yang ia terima adalah...
"Ah maaf, aku tidak punya Handphone Naruto-kun, kalau kau mau aku bisa berikan nomer telepon Gereja ini. apa kau mau?" jawaban Hinata membuat Naruto nyesek pangkat sejuta. ya Tuhan kenapa engkau memberikan cobaan seperti ini pada hambamu yang ganteng dan pinter iniiii?
"Hah baiklah boleh boleh... "
"Baiklah akan kucatatkan nomer telepon Gereja ini. tunggu sebentar ya Naruto-kun..." ucap Hinta, kemudia ia berlari menuju ke suatu ruangan, nampaknya itu adalah ruangan administrasi. meninggalkan Naruto yang masih bersemu di ruang Misa itu.
"Perempuan aneh.. untung dia manis. Sial- kenapa sih pikiranku hari sering dipenuhi dengan hal yang manis manis? mulai dari Sakura, hingga Hinata.. apa mungkin efek menjomblo selama 3 tahun membuatku begini? cih... benar benar konyol!" ucap Naruto dengan nada kesal. ia hendak menyusul Kiba untuk tidur sebelum Radio Humvee yang ia bawa berbunyi. mungkin saja itu dari markas besar.
"Kapten Michael, Letnan Kiba. ini Uniform 64, apa kalian masih disana ganti?"
"Ya, Michael disini, tolong kabari situasi lebih lanjut, ganti.."
"Kapten. aku Kapten Jackson pemimpin kompi Fox... kami dan Konvoi akan tiba di sana dalam waktu 10 menit. kami butuh lokasi pasti di bangunan mana anda dan Letnan Kiba bersembunyi, Ganti...?"
"Aku berada di sebuah Gereja dengan dinding berwarna Cokelat Tua dan ada lonceng besar di atasnya. jaraknya hanya 100 meter dari tempat Humvee yang kutumpangi terkena ranjau, ganti..." balas Naruto. ia mengerenyit heran. bukankah pemimpin kompi Fox itu Kapten Sobel? kenapa malah Kapten Jackson yang memimpin kompi itu? setahunya Kapten Jackson itu pemimpin kompi Omega, kompi Omega tidak diikutkan dalam misi ke Ukraina.
"Baiklah, kami akan segera datang, bertahanlah sebentar lagi Kapten Michael, Uniform 64 keluar..." bersamaan dengan itu Radio itu berhenti berbunyi. sambungannya sudah diputus secara sepihak oleh Kapten Jackson.
"Hoi Kiba bangun.. konvoi akan segera tiba menjemput kita" Naruto menggetok kepala Kiba menggunakan ujung senapan miliknya. cukup keras untuk membuat Kiba terbangun dari tidurnya.
"Heehhh, baiklah baiklah, padahal aku sedang mimpi begituan dengan Tamaki di hotel, cih kau mengganggu saja Kapten" balas Kiba kesal sambil memijit kepalanya yang terasa nyeri karena digetok menggunakan ujung senapan milik Naruto.
"Kau bilang apa tadi, hm?"
"Ti-tidak, aku hanya bilang.. siap Kapten" balas Kiba ketakutan, walau ia dan Naruto bersahabat dan sering bertindak kurang ajar. tapi rasa trauma pernah disakiti oleh Naruto tetap ada di dalam diri Kiba. kalau Naruto sudah marah, beuuhh hanya bibi Kushina dan Tuhan saja yang dapat menghentikannya.
"Lho kalian mau kemana? aku sudah buatkan kopi lho! sekalian ini nomor telepon Gereja yang kauminta Naruto-kun... kalau mau ada perlu denganku tinggal telepon ke nomor ini saja" Hinata tiba tiba muncul sambil membawa nampan berisi 2 cangkir kopi dan secarik kertas berisi nomor telepon Gereja yang sudah Hinata tulis disitu.
"Ah kami mau pulang ke Pangkalan, kami sebentar lagi akan dijemput oleh kawan kawan kami, terima kasih banyak ya Hinata atas suguhannya" ucap Naruto sambil mengambir kertas dari nampan yang dibawa Hinata lalu memasukkannya ke dalam kantong bajunya.
'BRAAKK'
"Hinata! ini gawat.. ada iring iringan mobil Militer bersenjata sedang menuju daerah ini. tampaknya mereka sedang mencari sesuatu. kita harus bersembunyi dan melindungi anak anak" Suster Anna dan Pastur Vladimir tiba tiba merangsek masuk ke dalam ruang Misa itu dengan panik.
"Tuan Naruto, Tuan Kiba, mungkinkah itu adalah kawan kawan anda?" tanya Pastur Vladimir dengan napas tersenggal senggal.
"Mungkin saja" balas Naruto pendek. ia kemudia meraih Radio komunikasi miliknya dan menghubungi Konvoi pimpinan Kapten Jackson yang akan menjemputnya itu.
"Uniform 64, kalian sudah sampai?"
"Sudah, kami sudah melihat gereja nya, Gereja berwarna coklat tua dengan lonceng besar di atasnya. keluarlah agar kami bisa melihatmu"
"Baiklah, aku dan Kiba akan keluar, tolong jangan buat keributan. ada anak anak disini, ganti..."
"Siap, Uniform 64 keluar..."
Naruto memutus hubungan komunikasi dengan Kapten Jackson di Radio itu, ia kemudia menatap 4 orang itu denagn senyum cerah. "Benar, itu kawan kawan kami. kalau begitu kami pamit dulu. terimakasih atas segala kebaikan kalian pada kami, Suster Anna, Pastur Vladimir dan juga kau... Hinata Hyuuga. sekali lagi terima kasih banyak.." ucap Naruto sambil membungkukkan kepalanya pada ketiga orang yang tadi sudah ia sebutkan sebagai bentuk rasa hormat dan terimakasih.
"Huuummffff, kalau begitu kau harus habiskan Kopi dan kue ini terlebih dahulu baru boleh pulang" sanggah Hinata sambil menggembungkan kedua pipinya kesal. membuat Naruto sedikit tersentak karena wajah imut Hinata.
"Maaf, kami buru buru jadi-
"Baiklah, kalau kalian buru buru. kubungkuskan saja Kopi dan kue kue ini.! tunggu sebentar ok? jangan pulang dulu!" potong Hinata cepat, ia kemudian membawa nampan berisi Kue dan Kopi itu ke dapur untuk membungkusnya dengan setengah berlari. sesekali hampir oleng karena Hinata terlalu terburu buru.
"Hinata memang begitu orangnya, dia ramah dan suka berteman dengan orang yang baru ia kenal, jadi maklumi saja" ucap Suster Anna sambil menepuk punggung Naruto pelan.
"Begitu ya? baiklah aku dan Kiba pergi dulu. selamat tinggal Suster, Pastur..." ucap Naruto sambil melambaikan tangannya ke arah Suster Anna dan Pastur Vladimir, sedangkan Kiba hanya diam saja dari tadi karena masih mengantuk. lambaian tangan Naruto dibalas oleh mereka berdua dengan senyum kecil.
Ketika Naruto dan Kiba sudah keluar dari halaman Gereja, mereka seger disambut oleh iring iringan Panser M113 dan Humvee yang sudah menunggu mereka di luar, dari dalam Humvee paling depan keluar seorang pria berambut orange cerah dengan iris hijau tua dan mengenakan seragam Ranger lengkap. dialah Kapten Jackson, pemimpin Kompi Fox dan komandan Konnvoi ini, mendatangi Naruto dan Kiba.
"Kapten Jackson, terima kasih sudah menjemput kami disini" ucap Naruto sambil menjabat tangan Kapten Jackson dengan erat.
"Tidak masalah, Kapten Michael. sudah tugas kita untuk saling membantu anggota Ranger yang butuh pertolongan" balas Kapten Jackson sambil tersenyum lebar. "Oh ya, Humvee mu yang ringsek itu sudah ditarik menggunakan derek divisi Mekanis, jadi kau dan anak buahmu bisa menumpang di Humvee ku untuk sementara" sambungnya lagi sambil melepaskan jabatan tangannya dengan Naruto.
"Terima kasih banyak soal itu" ucap Naruto. "Ngomong ngomong, kau komandan kompi Fox yang baru, menggantikan Kapten Sobel, huh?" kini giliran Naruto yang bertanya pada Kapten Jackson.
"Kau benar Kapten Michael, sebenarnya Mayor Kakashi memerintahkan Kapten Sobel untuk menggantikan posisiku sebagai komandan kompi Omega, dan aku diperintahkan untuk memimpin kompinya yaitu kompi Fox, selama misi perdamaian ini. mungkin karena aku terlalu jenius, hahahahaha" balas Kapten Jackson dengan Pede.
"Hahhahaha, lucu sekali" ucap Naruto dengan hati dongkol. sombong sekali orang ini, ingin rasanya ia menampol muka Kapten Jackson yang sangat menyebalkan itu. huuuhhh sabar...
"Naruto-kun, Kiba-san, ini kopi dan kue kue nya, sudah aku bungkus di plastik. kalian bisa ngemil di perjalanan dengan makan kue kue ini" Hinata lagi lagi mengejutkan mereka dengan kedatangannya yang tiba tiba, dirinya kini menyerahkan sebuah kantong plastik berukuran besar yang berisi 2 cup plastik kopi dan aneka kue kue seperti biskuit dan sebagainya.
"Wah wah.. siapa ini? hei nona, apa kau pacarnya Kapten Michael? sialan kau Kapten, baru sampai disini sudah dapat cewek seimut dan sesexy dia" ucap Kapten Jackson dengan nada menggoda pada Naruto.
"Eh... bukan, aku bukan pacarnya... aku sebenarnya hanya-
"Terima kasih banyak Hinata-chan! nah ayo Kiba, Kapten Jackson.. kita pulang ke Markas" Naruto memotong pembicaraan Hinata dengan Kapten Jackson dengan segera, ia lalu segera naik ke Humvee paling depan, disusul oleh Kapten Jackson dan terakhir oleh Kiba. Naruto menatap Hinata yang tampak tersenyum gembira ketika Naruto menerima pemberian Kue dan Kopi miliknya. rombongan Konvoi itu mulai bergerak maju untuk kembali ke pangkalan mereka yang berjarak 1 jam dari sini.
"Sampai Jumpa lagi Naruto-kun!" teriakan Hinata mengalihkan perhatian Naruto, ia melongokkan kepalanya ke luar jendela untuk melihat Hinata yang kini tengah melambaikan tangannya pada Naruto. Naruto pun membalas lambaian tangan Hinata sambil mengeluarkan senyum khas 5 jarinya sampai akhirnya sosok Hinata tidak lagi terlihat, terhalang oleh jarak antara Humvee yang ia kendarai dengan posisi Hinata sekarang.
"Haaahhhh, cinta pada pandangan pertama ya?"
"Berisik kau Kiba, lanjutkan saja tidur mu itu..." balas Naruto ketus sambil mengambil satu keping biskuit dari kantung plastik yang tadi Hinata berikan, tak lupa ia juga mengambil satu cup kopi yang Hinata juga berikan. gigitan pertama pada biskuit itu disusul tegukan kopi Hitam manis buatan Hinata sudah cukup untuk memberikan kenikmatan kecil bagi Naruto setelah kesialan yang ia dan Kiba alami tadi. Hinata pintar juga dalam membuat Kopi dan Biskuit. seperti buatan Toko Roti terkenal saja.
"Kapten, aku mau dong biskuitnya"
"Hei aku juga mau, anggap saja kau membalas kebaikanku karena telah menjemput kalian berdua"
"Tidak, mimpi saja kalian berdua!" Naruto segera mencengkram bungkus Biskuit dan Kopi cup itu dengan kuat, mencegah 2 begundal bajingan di depannya ini untuk mencuri atau mengambil biskuit dan Kopiyang sudah Hinata buatkan untuknya.
"PELIT!" teriak Kiba dan Kapten Jackson bersamaan, sedangkan Naruto hanya tersenyum kemenangan ketika melihat dua orang predator Biskuit di depannya sudah menyerah mencoba mengambil biskuitnya.
Dan perjalanan kembali ke Pangkalan Gabungan dilalui Naruto dengan gembira dan perut kenyang, sementara Kiba dan Kapten Jackson berserta supir Humvee yang mereka tumpangi hanya bisa menjerit kelaparan karena ingin ikut mencicipi Biskuit lezat buatan Hinata itu. ternyata Biskuit Hinata mampu membuat para Ranger AD itu tergoda rupanya...
.
.
.
.
"Haaahhhhhhh, kau ini membuatku khawatir saja, Naruto" ucap seorang pria berambut perak berumur 39 tahun itu pada Naruto- yang kini berdiri tegak di di ruangan komandan Batalyon nya itu.
"Siap, kesalahan seperti itu tidak akan saya lakukan lagi, Pak!" balas Naruto sambil terus memasang sikap tegak dan hormat pada atasannya itu.
"Well, aku tidak terlalu mempermasalahkannya lagi, toh itu bukan kesalahanmu. Divisi Pemusnah ranjau gagal mengamankan area itu, padahal area itu meruapakan jalan akses satu satunya ke kota Spartak. untung saja kejadian ini tidak menimpa prajurit lain, atau lebih buruk bahkan warga sipil" ucap Kakashi sambil menyederkan kepalanya ke belakang kursi empuknya. hari pertama di Ukraina saja sudah ada 1 kejadian serius yang menimpa anak buahnya, bagaimana hari hari selanjutnya ya...? pikir Kakashi dalam hati.
"Siap, Mengerti!"
"Oh iya, aku punya tugas untukmu dan Kompimu, Naruto" kini Kakashi kembali menegakkan tubuhnya menatap Naruto dengan serius, sebuah foto telah Kakashi pegang di tangannya. Kakashi lalu memeprlihatkan foto itu pada Naruto sembari menjelaskan tugas yang harus diembannya.
"Kompi Delta akan bertugas selama seharian besok di Kampung Pichev dekat kota Pisky, kampung itu adalah salah satu kampung yang paling dekat dengan zona dermakasi antara Militer Ukraina dengan Milisi pro Russia" Kakashi menunjukkan foto lain yang menampilkan foto kampung Pichev beserta lokasinya. " Tugasmu dan kompimu di sana adalah menjaga dan juga mengedukasi masyarakat agar tidak terpengaruh oleh hasutan dari pihak pihak yang ingin memperkeruh suasana di sana." sambung Kakashi lagi.
"Ah, berarti hanya kompiku saja yang dikerahkan?"
"Tidak, ada bantuan dari pihak Gereja dan tenaga pendidik dari Kiev yang akan membantumu mengedukasi Masyarakat di sana" ucap Kakashi membalas pertanyaan Naruto.
"Baik, aku mengerti Pak!" ucap Naruto dengan mantap sembari menerima dokumen mengenai detail misi itu lebih lanjut dari Kakashi.
"Baiklah kau boleh kembali ke ruanganmu, persiapkan dirimu besok, Briefing kompimu siang ini agar mereka dapat berlatih sebentar untuk kesiapan misi esok hari"
"Siap, saya permisi dulu pak" Naruto lalu memberi hormat pada Kakashi sebelum akhirnya melangkahkan kakinya ke pintu masuk ruangan Kakashi, namun sebelum ia keluar dari ruangan itu Kakashi kembali berkata padanya...
"Jangan remehkan misi ini Naruto, bawa seluruh anggota kompimu hidup hidup dari sana" ucap Kakashi datar dan misterius, Naruto membalasnya dengan anggukan kecil sebelum akhirnya ia benar benar keluar dari ruangan Mayor Kakashi itu.
"Misi pertama ya?" Yoosshhh aku harus semangat..." ucap Naruto dalam hati. ia lalu mempercepat langkah kakinya menuju ruang kerjanya untuk membaca setiap detail dari misi yang akan ia dan kompinya akan emban besok.
"BAIKLAH, MISI PERTAMA AKAN KUSELESAIKAN DENGAN BAIK DAN SEMPURNAAA!" pekik Naruto semangat sebelum ia memasuki ruang kerjanya. ia sudah benar benar tidak sabar memulai msi pertamanya besok.
Namun tanpa ia sadari ada satu orang yang sedari tadi mengawasinya dari tadi, orang itu tampak tersenyum kejam ketika melihat Naruto yang mulai memasuki ruang kerjanya itu. tak lama kemudian orang itu mulai menghilang dari tempat ia mengawasi Naruto tadi baik ditelan angin.
Apakah misi ini akan berjalan lancar? yah mungkin saja...
.
.
.
.
TBC
Pojok Author
YOOO BALIK LAGI AMA LEOPARD2RI, AUTHOR YANG UDAH KALIAN NANTI NANTIKAN BERSAMA FICTNYA YANG PALING MUSINGIN KEPALA, PEACEKEEPERFORCE! ( Tepuk tangan wajah berseri )
Yaaahhh mungkinupdate kali ini bener bener keterlaluan sih, butuh waktu 2 minggu untuk Recovery dari segala macam maslah yang menimpa sebelum akhirnya niat nulis lagi.
Nah chapter depan bakal berisi lebih banyak konten Militer nih, dan kira kira kalian bisa menebak gak siapa orang yang terus mengawasi Naruto dari awal sampai ke Ukraina hingga ke ruangan Kakashi? sedikit clue, orang itu adalah Tentara AD Amerika, sama seperti Naruto. terus tujuannya mengintip Naruto? masih rahasia... ? tunggu di Chapter depan, oke...?
Mohon Kritik dan Saran Tulis di kolom komentar ya!
Salam hangat
Author : Leopard2RI
