Disclaimer : Masashi Kishimoto

Summary : Kisah Naruto Uzumaki, seorang anggota pasukan elit Ranger AD Amerika Serikat yang sangat mecintai Negara nya, suatu hari ia ditugaskan ke Ukraina sebagai pasukan perdamaian, disanalah ia bertemu seorang Wanita yang kelak akan mengisi hatinya.

Warning : Military Topic, Konten kekerasan.

.

.

.

.

"Battalion 2, kalian maju ke Selatan, jaga pintu masuk ke Desa!"

"Ini Easy 6... seluruh personil sudah dikerahkan, mohon instruksi lebih lanjut,, ganti...

"Hei, hati-hati dengan semua kotak kayu itu, Sersan!"

"Semua warga sudah dikumpulkan di dalam Aula di balai Desa, ganti..."

Ramai, bising, dan porak poranda. itulah 3 hal yang bisa Naruto jabarkan ketika datang ke kampung atau lebih tepatnya di sebut Desa Pichev, sebuah desa yang menjadi kawasan Bebas Militer di antara kubu Milisi pro Russia dengan Militer Ukraina. Desa yang sudah tercabik cabik perang yang sudah berlangsung selama 19 tahun lebih, dihitung dari merdekanya Ukraina dari bekas negara induknya, Uni Soviet. di desa itulah tempat Naruto dan anggota kompi Charlie lain akan melaksanakan misi atau tugas pertama mereka di Ukraina.

"Jadi, dari kontingen AD Amerika Serikat, hanya kompi kita yang diterjunkan ke desa ini, Kapten?"

"Kau benar Kiba, hanya kompi Delta yang diterjunkan Angkatan Darat di desa ini" ucap Naruto membalas pertanyaan anak buahnya itu, dirinya terus mengawasi keadaan sekitar desa itu dari jendela MRAP (Mine-Resistant Ambush Protected ) yang ia dan sebagian anggota kompinya tumpangi saat ini, sedangkan sisanya naik truk di belakang MRAP.

"Cih, sebenarnya aku benci ditugaskan dengan para Marinir bangsat itu, kau tahu? mereka selalu berbuat seenaknya dan menganggap korps mereka adalah yang terbaik di antara Angkatan yang lain." keluh Heffron sambil membersihkan lubang kunci senapan M 27 miliknya itu dengan teliti.

"Hei,kulihat kau selalu berpikiran buruk dengan Marinir Heffron..., sebenarnya kenapa sih kau begitu membenci mereka? mereka kan tidak salah apa apa..." tanya Kiba dengan nada penasaran, Heffron yang mendengar itu langsung berdiri dari kursi penumpang yang ia duduki tadi dan menatap Kiba dengan tatapan nyalang.

"Kau mau tahu kenapa Kiba? KARENA MEREKA MEMBUNUH KAKAK KU DI IRAK, MEREKA HANYA KOBOI LIAR TAK BERADAB YANG KEBETULAN SEKARANG MENJADI BAGIAN DARI MILITER AMERIKA SERIKAT, DAN JANGAN SOK MEMBELA MEREKA, KAU BRENGSEK!" ucap Heffron dengan nada meluap luap pada Kiba, bahkan ia menarik kerah seragam Kiba dengan kasar, membuat Kiba merasa tak terima diperlakukan seperti itu oleh Heffron.

"HEI! KENAPA KAU MEMBENTAK KU? KAU MAU BERKELAHI!?" tantang Kiba sambil membentak Heffron. ia ikut menarik kerah seragam Heffron, ia tampak murka sekarang.

"AYO BERKELAHI, BAJINGAN TENGIK!" bentak Heffron balik pada Kiba, ia lalu mengayunkan kepalan tangannya, bersiap menjotos wajah Kiba, namun sebelum itu terjadi, sebuah teriakan berhasil menginterupsi acara berkelahi mereka.

*DUAAKK

"KALIAN BERDUA HENTIKAN!" bentak Naruto setelah memukul kepala Heffron dan Kiba dengan keras. kilat kemarahan tampak di matanya yang beriris Sapphire. membuat Kiba dan Heffron pun langsung terdiam. mereka masih sayang nyawa rupanya, karena jika Naruto sudah membentak dan memukul mereka.. maka artinya nyawa mereka sudah diujung tanduk.

"SIAP, MAAFKAN KAMI KAPTEN!"

"Dasar bodoh kalian berdua. yang harusnya kalian musuhi dan hadapi itu musuh, bukannya sesama kawan sendiri. bikin malu saja kalian berdua..., sekarang kalian harus bersalaman sebagai tanda perdamaian, CEPAT LAKUKAN!" perintah Naruto pada Heffron dan Kiba.

Kiba dan Heffron pun bersalaman... tentu saja dengan hati jengkel dan perasaan tak ikhlas. namun daripada Naruto mengamuk mending mereka melakukan gencatan senjata terlebih dahulu. baru jika situasi sudah aman mereka bisa melanjutkan perkelahian tadi.

"Kapten, kita sudah sampai. kau bisa menurunkan anak buahmu sekarang" ucapan Kapten Mc Strucker sang komandan kendaraan MRAP tersebut pada Naruto, membuat Naruto segera sadar akan tujuannya dan pasukannya dikirimkan ke Desa ini. setelah turun dari kendaraan MRAP yang ia dan perwira lain tumpangi, ia pun segera memerintahkan para perwira di kompinya untuk mengatur regu dan peleton mereka masing masing sesuai tugas yang sudah diinstruksikan oleh Naruto di hari sebelumnya.

"Baiklah, Peleton 1.. kalian akan bertugas untuk mengamankan area sekolah umum bersamaku, paham?" teriak Naruto pada anggota peleton 1 yang dipimpin oleh Kiba.

"SIAP PAK..!" ucap Anggota pelton 1 serentak seraya mengikuti langkah Naruto menuju area Sekolah yang dimaksut.

Naruto dan para anggota peleton 1 pun bergegas menyusuri jalan menuju ke bangunan berwarna putih dengan halaman yang cukup luas. bangunan itu awalnya merupakan Pos pengamatan Militer Ukraina sebelum akhirnya dialihfungsikan sebagai Sekolah setelah mundurnya pasukan Ukraina dari desa Pichev dan hadirnya pasukan PBB di desa itu. Sekolah itu nampak sangat memprihatinkan, terlihat dari kondisi bangunan sekolah yang sudah berlubang dan rapuh karena terkena ledakan atau rentetan tembakan.

"Hoi, Kapten Michael!" panggil seseorang dari kejauhan pada Naruto. orang itu mengenakan seragam Marinir lengkap dengan senjata M4 Carbine di tangannya.

"Oooo, Kapten Ivan... kau ditugaskan disini juga?"

"Yah, markas ingin aku memeriksa keadaan desa terkutuk ini, namun setelah mereka menurunkan dan membongkar seluruh bantuan dan alat alat kesehatan bagi para warga di desa inI, aku dan para Marinir akan meninggalkan desa ini. jadi hanya kau dan kompimu, juga para relawan sipil dari Gereja, PBB dan Mahasiswa Kiev saja yang akan mengurus para warga di desa." terang Kapten Ivan sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari kantung celananya, mengacungkannya pada Naruto, berniat menawari rokok itu. namun Naruto menggelengkan kepalanya sebagai tanda penolakan halus.

"Baiklah, aku harus pergi sekarang. jaga dirimu dan kompimu baik baik, Michael.. jangan sampai kau harus menulis surat kematian untuk ibu mereka di Kampung halaman.. tapi dilihat dari tampang para pasukanmu, aku pikir kau harus segera memikirkan soal surat kematian mereka, Muahahahahaha..." tawa Ivan dengan nada mengejek. ia pun segera meninggalkan Naruto dan kompinya yang kini tengah merasa jengkel karena dihina secara tidak langsung oleh perkataan Kapten Ivan tadi.

"Jangan pikirkan perkataannya... ingat,kita adalah Ranger, kita jauh lebih professional dari mereka semua. PAHAM?" teriak Naruto berusaha menaikkan moril para anak buahnya itu.

"SIAP, KITA JAUH LEBIH HEBAT DAN LEBIH BERADAB DARI MEREKA PAK!" balas para anggota kompinya itu dengan semangat membara dan suara lantang. tak peduli dengan para anggota Marinir yang berada di sekeliling mereka menatap dengan tatapan remeh dan tatapan tajam. jika saja Naruto tidak ada disini, pasti para Marinir itu sudah mengeroyok para anggota kompi Delta karena hinaan mereka pada korps Marinir, namun mengingat keganasan Naruto membuat nyali mereka ciut dan memilih mengintimidasi para anak buah Naruto saja.

Tak terasa Naruto dan para anggota kompinya dari peleton 1 sudah tiba di Sekolah umum desa Pichev. Naruto pun segera menginstruksikan para anak buahnya untuk mengangkut barang barang keperluan Sekolah seperti buku dan alat alat tulis ke dalam ruang Aula tempat para anak anak dan orang tua mereka dikumpulkan untuk acara edukasi sekaligus penyuluhan. sebelum memasuki ruang Aula, Naruto dikejutkan dengan kedatangan seorang perempuan berambut hitam pendek dengan seragam medis berwarna Hijau disertai sebuah kain dengan logo palang merah yang diikat lengannya. perempuan itu nampak lega dan senang karena telah berhasil bertemu dengan Naruto.

"Permisi tuan... apa anda adalah Kapten Naruto, dari Kompi Delta angkatan darat Amerika Serikat?"

"Ya, itu aku, ngomong ngomong... anda siapa?"

"Ah, akhirnya anda datang juga, Kapten Naruto..., perkenalkan, namaku Shizune dari Relawan korps Palang merah PBB dari Republik Rakyat China. aku mohon kerjasamanya dalam acara penyuluhan dan edukasi masyarakat ini..." ucap Shizune sambil membungkukkan badannya di depan Naruto.

"Oh, jadi anda adalah relawan disini ya, nona... Susune?"

"Shizune, namaku Shizune, tolong jangan diplesetkan ya... tuan Naruto" sanggah Shizune sambil tersenyum keki. kesal karena namanya diplesetkan menjadi kalimat yang berkonotasi negatif.

"Tu-tunggu dulu.. maaf, aku tidak bermaksut begitu. itu karena namamu sedikit sulit diingat, sekali lagi aku minta maaf, hehehe..." balas Naruto pada Shizune sambil menundukkan kepalanya. sial.. kenapa dia malah salah menyebut nama Shizune menjadi Susune. pasti Shizune bakal mengaggapnya sebagai laki laki mesum dan mata keranjang yang tidak menghargai seorang wanita.

"Tidak apa apa, saya tahu anda tidak sengaja, mari saya antar ke ruang kelas. disana sudah banyak anak anak dan para orang tua yang sudah menunggu" ucap Shizune sambil tersenyum tipis, ia lalu mengarahkan Naruto beserta beberapa anak buahnya ke dalam ruang kelas yang Shizune katakan tadi. Naruto memerintahkan anggota pasukannya untuk menyebar ke sekeliling bangunan itu untuk melakukan pengamanan, jadi hanya ia dan Kiba serta 2 orang prajurit bersenjata lengkap saja yang akan ikut mendampingi para murid serta orang tua dalam kegiatan penyuluhan dan edukasi bagi masyarakat.

"Baiklah ini ruangannya. tolong ketika masuk ke dalam, tuan tuan bisa menunjukkan pada mereka senyum yang lebar. senyuman dan hal hal yang menggembirakan semacam itu bisa membangkitkan mental dan suasana hati mereka yang sedang berduka dan bersedih akhir akhir ini" ucap Shizune pada Naruto dan yang lainnya setelah mereka sampai di depan ruang kelas tempat para anak anak dan orang tua mereka berkumpul. Naruto mengangguk tanda mengerti. tak mengambil waktu lama Shizune mendahului mereka masuk ke dalam ruangan. diikuti oleh Naruto dan yang lain.

"SELAMAT PAGI ANAK ANAAAAKKKK" segera setelah masuk ke dalam kelas teriakan Shizune menggema di ruangan kelas itu. namun tak ada yang membalas salamnya, hanya para orang tua yang menyunggingkan senyum sebagai balasan salam padanya. sedangkan para anak anak masih sibuk bermain dengan seseorang yang tengah memakai kostum kelinci di depan. penampilan orang yang tengah mengenakan kostum kelinci itu membuat para anak anak terhibur dan lebih memperhatikan orang itu daripada Shizune

"Kok, gak jawab sih... SELAMAT PAGI ANAK ANAK KU YANG MANIS DAN IMUUUTTT" teriak Shizune lagi berusaha mengalihkan perhatian anak anak itu. namun mereka tidak menggubris panggilan Shizune dan masih saja ingin terus bermain dengan orang yang menegenakan kostum kelinci raksasa itu.

"Nah ibu guru sudah datang tuh anak anak baik, kalian sekarang dengarkan guru Shizune dulu ya... Tuan kelinci harus pergi dulu ke suatu tempat, nanti aku akan bermain lagi bersama kalian. kalian mengerti kan?" kata orang yang memakai kostum kelinci itu pada anak anak kecil di depannya itu. kasihan juga Shizune bila anak anak tidak mau mendengarnya dan malah asyik bermain dengannya.

"Yaaaaah... kok pergi sih..."

"Jangan pergi dong tuan kelinciiiii..."

"Kami masih ingin maiiinn..."

Anak anak itu tampak kecewa ketika orang yang mengenakan kostum kelinci itu pergi meninggalkan mereka. Naruto menghela napas panjang. nampaknya anak anak itu sangat membutuhkan pendampingan dan penghiburan saat ini. hal ini terbukti ketika ia melihat betapa kecewanya anak anak kecil itu saat orang yang mereka sebut tuan kelinci itu pergi meninggalkan mereka.

"Lhoooo aku kan disini... tenang saja aku sama lucunya kok sama tuan Kelinci..." ucap Shizune berusaha menghibur anak anak kecil itu.

"Huuuuhhh gara gara bu Shizune nih tuan kelinci pergi..."

"Iya nih, bu Shizune gak asik.."

"Harusnya tuan Kelinci saja yang jadi guru kita, benar gak teman teman?

"Betul, betul betul..."

Mendengar keluhan para murid tentangnya membuat Shizune sweatdropped. memang sebegitu gak menariknya kah dia di mata para anak anak itu? kurang apalagi dia? sudah cantik, lulusan S2, menjadi relawan PBB, humoris lagi. namun sebelum para anak anak itu semakin ribut karena tidak terima 'Tuan Kelinci' kesayangan mereka harus ia suruh pergi sejenak, ia memutuskan untuk memperkenalkan Naruto dan para anak buahnya pada anak anak dan orang tua mereka di ruangan itu.

"Mohon perhatiannya bapak ibu dan anak anak ku yang aku sayangi!" teriak Shizune pada anak anak beserta orang tua mereka agar mendengarkan perkataanya. "Ibu telah membawa seorang tamu yang sangat spesial. mereka bukan tamu sembarangan lhooo... mereka adalah tamu yang sudah kalian tunggu tunggu. merekalah para Aktor dari negeri paman Sam yang terkenal, yaituuuuuu... Uzumaki Michael Naruto beserta kawan kawannya! MARI KITA BERI TEPUK TANGAN YANG MERIAH UNTUK MEREKA SEMUA...!" sambung Shizune lagi seraya menyuruh para anak anak dan para orang tua mereka untuk bertepuk tangan untuk Naruto dan anak buahnya.

'PROK, PROK, PROK, PROK...' suara tepuk tangan bergemuruh di dalam ruang kelas itu. nampak para anak anak beserta orang tua mereka nampak senang dan bergembira ketika Shizune mengatakan bahwa Naruto dan anak buahnya merupakan aktor dari Amerika.

"Hah...? Aktor...? maksut dia apa Kapten?" tanya Kiba pada Naruto. kenapa mereka malah diperkenalkan oleh Shizune sebagai aktor dari Amerika? tugas mereka kan disini sebagai tentara PBB adalah untuk mendampingi kegiatan penyuluhan di Desa Pichev. kenapa malah disuruh jadi Aktor?

"Baiklah, sekarang tuan Michael dan kawan kawannya akan menyuguhkan suatu pertunjukkan drama singkat bagi kita semua. tapi kalian harus tunggu sebentar ya! ehm... tolong tuan Mchael berserta yang lain bisa mohon bersiap siap di belakang panggung untuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk drama ini" ucap Shizune, setelah itu ia langsung berlari dan menggenggam erat lengan Naruto dan Kiba lalu menyeretnya ke belakang panggung yang sudah disiapkan. tentu saja itu membuat Naruto dan Kiba merasa risih karena Shizune tiba tiba menarik mereka ke belakang panggung tanpa permisi.

"Hei nona! kenapa kau dengan seenak jidatmu sendiri bilang pada anak anak itu bahwa kami adalah aktor? kami adalah tentara PBB bukan Aktor dari Amerika!" ucap Kiba kesal pada Shizune saat ia sampai di belakang panggung.

"A-ah.. itu... aku mohon maaf. aku hanya ingin agar anak anak itu bisa merasa senang dan nyaman disini. jadi aku akan menyuguhkan seluruh hiburan yang bisa aku tampilkan bagi mereka semua agar mereka bisa terhibur dan melupakan rasa Trauma mereka akibat perang yang sudah terjadi selama ini di wilayah mereka" jelas Shizune panjang lebar pada Naruto dan Kiba. Shizune sebenarnya sudah kehabisan ide untuk menghibur anak anak itu, namun saat mendengar bahwa Naruto dan Kiba sudah datang maka ia punya rencana untuk mengadakan sebuah drama saja untuk menghibur anak anak itu.

"Kiba benar nona Shizune. kau tidak bisa seenaknya..., kami punya tugas disini. kami harus menjaga keamanan desa Pichev selama acara penyuluhan ini. dan kau harus ingat bahwa kita hanya sendirian disini. para Marinir sudah kembali ke markas mereka. kami hanya berjumlah 34 orang, tentu sangat beresiko untuk mendapatkan serangan dari para pemberontak atau pihak pihak tak bertanggung jawab lain." balas Naruto pada Shizune. ia dan Kiba berniat pergi meninggalkan ruang kelas itu untuk mengkoordinasikan strategi pengamanan bersama pasukannya yang ada di luar, meninggalkan Shizune sendirian di belakang panggung itu.

"Ta-tapi..."

"TUNGGU DULU, JANGAN PERGI NARUTO-kun! KUMOHON..., JANGAN KECEWAKAN ANAK ANAK INI" sebuah suara mengalihkan perhatian Naruto, Kib serta Shizune. nampak seorang wanita berambut berambut biru tua dan beriris lavender mendekati mereka bertiga. penampilannya benar benar berantakan, ia bahkan masih memakai kostum kelinci yang tadi ia gunakan, hanya saja bagian kepalanya sudah dia lepas.

"Hi-Hinata? keanapa kau ada disini? dan kenapa kau memakai kostum kelinci itu?" tanya Naruto terkejut ketika melihat siapa orang yang berada di balik kostum 'Tuan Kelinci' yang disukai anak anak itu.

"Akan kujelaskan nanti Naruto-kun, tapi sekarang kita harus menghibur anak anak itu. kasihan mereka bila harus menunggu lebih lama lagi. mereka begitu mengharapkan kedatangan kalian disini.." ucap Hinata sambil memohon pada Naruto. ia takut anak anak mulai tidak sabar karena menunggu drama yang akan mereka tampilkan sebentar lagi.

"Tidak bisa Hinata, tugasku disini bukan sebagai tenaga pengajar. aku hanya bertugas mengamankan desa dan kegiatan ini saja. ngomong ngomong kami harus pergi sekarang, bila ada yang mencurigakan tolong segera lapor padaku" balas Naruto datar pada Hinata, ia lalu melangkahkan kakinya hendak pergi darti ruangan kelas itu sebelum sepasang tangan mungil mengapit lengannya erat. mencegahnya untuk pergi.

"Kumohon jangan pergiii... aku mohon..., apa kalian tidak kasihan pada anak anak kecil yang manis dan baik itu? mereka sudah cukup merasakan penderitaan karena perang yang sudah melanda negara mereka selama bertahun tahun. kenapa kalian tega meninggalkan mereka? Huuuuu...hiks, hiks... kalian bukan pasukan Perdamaian, kalian sama saja seperti para Milisi dan Tentara yang kejam itu, hiks..hiks..hiks.." tangis Hinata pecah di lengan Naruto. ia begitu sedih ketika mendengar jawaban Naruto yang terkesan apatis dan cuek ketika dimintai tolong untuk menghibur anak anak dalam sebuah pertunjukkan drama. bukankah mereka pasukan penjaga perdamaian? menghibur anak anak adalah salah satu tugas mereka bukan? pikir Hinata dalam hati.

Naruto menghentikan langkahnya saat Hinata memeluk lengannya. ingatannya kembali ke kejadian 3 tahun yang lalu, dimana ia juga dipeluk dalam posisi yang sama seperti saat ini, dulu ibunya lah yang memeluknya karena mencegahnya untuk pergi saat Naruto ketahuan mencuri uang orang tua nya untuk membelikan Sakura hadiah ulang tahun. begitu jelas di ingatannya dimana sang ibu juga menangis saat mencegahnya pergi dari rumah. dan Naruto dengan bodohnya malah mendorong sang ibu hingga sang ibu pingsan karena kepalanya menghantam dinding rumahnya.

"Kumohon... jangan pergi Naruto, ibu mohon jangan pergiii"

"Kumohon.. jangan pergi Naruto-kun, aku mohon jangan pergi!"

"Aaaaarrgghhhh, baik baiklah. aku dan Kiba akan ikut drama bodoh kalian ini. tapi ingat! jangan beri aku peran yang aneh aneh. mengerti tidak!?" ucap Naruto galak pada Hinata.

"Benarkah? kau mau ikut Drama ini?" tanya Hinata dengan wajah berseri seri. air mata dan raut wajah sedih yang tadi ia tadi ia tampakkan di wajahnya sekarang sudah hilang tanpa jejak. membuat Naruto sedikit heran, jangan jangan Hinata ini orang yang berkepribadian ganda.

"Iya, daripada kau terus merengek dan menangis disini, bikin repot aku saja. sudah cepat siapkan peralatan dan kostumnya. jangan lama lama, tugasku masih banyak!" balas Naruto ketus.

"YEEEE! TERIMAKASIH BANYAK NARUTO-kun, KIBA-san, kami berhutang budi pada kalian, kalian memang orang orang baik!" pekik Hinata gembira, ia lalu memeluk tubuh Naruto sebagai ungkapan rasa senang dan terima kasih. namun karena pada dasarnya Hinata itu bertubuh pendek dan Naruto bertubuh tinggi, maka saat Hinata memeluk Naruto otomatis dada Hinata menempel di perut atletis Naruto. membuat perasaan Naruto semakin tak karuan. bayangkan saja 2 buah bongkahan gunung serta sebuah wajah imut dan cantik memeluk erat tubuhmu layaknya lem super.

"To-tolong... lepas, Hinata... segera siapkan saja keperluan untuk drama kita nanti" ucap Naruto gugup. sial, jangan sampai Hinata tau bahwa bagian privasi tubuhnya mulai menegang karena sentuhan tubuh Hinata di tubuhnya.

"BAIK, Ayo Nona Shizune, kita siapkan keperluan untuk drama kita! kita harus tampil maksimal di depan anak anak dan orang tua mereka. KITA BUAT PANGGUNG BERGETAR DAN BERGUNCANG KARENA DRAMA SPEKTAKULER KITAAAA. AYO SEMUA KITA SEMANGAAAAATTTTT!" jerit Hinata penuh semangat, tak sadar bahwa dirinya menjadi mendapat tatapan aneh dari Kiba dan Shizune, sedangkan Naruto hanya bisa menepuk jidat. kelihatannya drama ini bakal merepotkan jika Hinata yang mengatur segalanya termasuk soal peran dan kostumnya.

"Sial, wanita yang merepotkan, untung saja wajahnya manis. eh... kenapa aku terus kepikiran wajah Hinata sih, cih bodoh.." umpat Naruto dalam hati. wajahnya sedikit memerah saat mengingat wajah Hinata yang sempat memeluknya tadi. kenapa perasaanya aneh ya ketika melihat wajah Hinata. seperti ada yang mengganjal di hatinya. apakah ini yang namanya... Jatuh cinta?

"Hahahahaha, tidak, tidak mungkin, sudah cukup Sakura saja yang menyakitiku, aku tidak mau jatuh ke lubang yang sama lagi" ucap Naruto pelan, namun Hinata yang berada di dekatnya mendengar dengan jelas semua ucapan Naruto. namun saat ia hendak bertanya, Naruto sudah terlebih dahulu menghilang entah kemana.

"Apa yang Naruto-kun tadi bicarakan ya? dan siapa itu Sakura?"tanya Hinata dalam hati. ia lalu segera menghampiri Shizune untuk membantu menyiapkan segala peralatan untuk Drama, mengesampingkan ucapan Naruto yang tidak sengaja ia dengar tadi.

.

.

.

.

"UAAAHHHHHH, capeknya...!" kata Kiba sambil merenggangkan otot otot tubuhnya yang kaku sehabis bermain drama tadi. kostum naga yang bersarnya melebihi ukuran tubuhnya yang ia kenakan tadi sudah ia lepas. rasanya benar benar melelahkan melakukan adegan drama yang berdurasi 20 menit tadi. untung saja para anak anak itu senang dengan tampilan drama sederhana mereka. tawa dan pekik riang mereka sudah jadi bayaran yang setimpal bagi Kiba, Naruto, Shizune dan Hinata.

"Untung saja penampilan kita cukup bagus tadi. aku sudah lama tidak bermain pertujukan drama. aku sudah khawatir akan demam panggung tadi, hahahahahaha..." kata Shizune sambil tertawa.

"Uhm! aku juga tadi sempat akan terjatuh di atas panggung, untung saja Naruto-kun menahan tubuhku tadi. terima kasih ya, Naruto-kun!" ucap Hinata sembari membenarkan ikat rambutnya pada Naruto.

"Hm, sama sama.." balas Naruto singkat sambil terus memperhatikan denah area desa Pichev yang ia terima dari markas pusat. Desa Pichev adalah desa yang berada di dataran rendah dan dikelilingi oleh perbukitan di sekelilingnya. Naruto sedikit khawatir soal letak geografis desa Pichev yang menurutnya sangat rawan baik rawan longsor maupun rawan diserang oleh pihak musuh. memang Naruto sudah menyebar beberapa pasukannya untuk membentuk pos pertahanan di beberapa lokasi strategis. namun tetap saja ia khawatir, pasukannya adalah pasukan yang baru pertama kali dikirim ke area konflik militer, mereka masih naif dan tidak jarang melakukan kesalahan yang tidak perlu, itulah yang membuat Naruto khawatir.

"Ada apa Kapten? apa ada masalah?" tanya Kiba setelah melihat ekspresi Naruto yang terlihat serius mengamati kertas berisi denah area desa Pichev.

"Tidak, aku hanya sedikit khawatir soal pertahanan di desa ini. desa berada di tengah tengah perbukitan. artinya posisi kita ini secara teknis terisolasi dari dunia luar. musuh bisa dengan mudah menutup akses jalan satu satunya ke desa ini dan membuat kita terperangkap" terang Naruto pada Kiba.

"Apa kalian tidak punya solusinya? kalian kan pasukan PBB, bukankah pengaruh kalian lebih besar dari Milisi milisi pemberontak itu?" tanya Shizune ikut menimbrung percakapan Naruto dan Kiba. wajah ayunya tampak penasaran dengan topik pembicaraan Naruto dan Kiba itu.

"Ya, sebenarnya kami tidak punya pilihan lain selain menebar pasukan di beberapa posisi atau tempat yang cukup tinggi untuk mengamankan desa ini. ada sih solusi terbaik yang bisa kami lakukan, yaitu memindahkan seluruh warga sipil dari desa ini ke kota atau tempat tempat lain dan membangun pangkalan Militer disini. tapi pastinya hal itu akan ditolak oleh komisioner PBB karena itu melanggar ketentuan Perjanjian Garis Batas Daerah Militer ( PGBDM)" jelas Naruto pada Shizune.

"Haahhhh... Politik memang terlalu keji. bahkan PBB tega menempatkan warga sipil di garis depan peperangan, karena itu aku tidak suka dengan Sekjen PBB kita yang baru. dia terlalu lembek dalam menghadapi persoalan dan tidak memberi keputusan yang sesuai dengan realitas yang kita hadapi sehari hari di lapangan" ucap Shizune sambil menyadarkan kepalanya ke tembok. berusaha menikmati semilir angin yang menerpa tubuh penuh keringatnya.

"Dia orang Norwegia nona Shizune, pantas saja bila keputusan yang ia buat selalu menemui kegagalan" balas Kiba pada Shizune.

"AAARRRGHHHH, pembicaraan kalian membuatku pusing... Pertahanan, Pangkalan Militer, Evakuasi, Komisioner PBB. kita bicara yang ringan ringan saja bisa tidak?" ucap Hinata sambil menggaruk kepalanya yang pening karena mendengar pembicaraan Naruto, Kiba dan Shizune yang menurutnya cukup berat untuk diterima olehnya. Hinata bukan orang yang suka dengan pembicaraan Politik maupun Militer. ia lebih suka berbicara tentang anak anak dan hal hal soal perempuan.

"Hahahahahaha, kami memang suka topik yang berhubungan dengan Politik seperti ini. jadi maaf saja kalau kau merasa tidak nyaman, Putri Hinata...hahahahahaha" ledek Kiba sambil menjulurkan lidah nya ke arah Hinata.

"Kiba-san jahaaaat..., ne~ Naruto-kun, Kiba-san meledek ku... kumohon tolong pukul dia agar dia mendapat balasan yang setimpal.." rengek Hinata sambil menggoyang goyangkan lengan Naruto. sedangkan yang dimaksut hanya diam. ia tampak fokus pada sesuatu yang terasa familiar di telinganya.

"Cie.. beraninya ngadu doank, si Hinata beraninya Cuma mengadu saja. Hinata pengadu.., Hinata pengadu.., Hinata pengadu.., nanti tidak ada yang mau berteman denganmu lho~~, muahahahahahaha" ucap Kiba sambil terus menggoda Hinata. Hinata menggembungkan pipinya. wajahnya memerah padam menahan malu dan jengkel karena ledekan Kiba. ia bangkit berdiri lalu mengambil sebuah majalah yang ada di sampingnya kemudian menggulungnya untuk digunakan sebagai pemukul untuk memukul Kiba yang masih tertawa terbahak bahak karena berhasil meledek Hinata.

"AKU BUKAN PENGADU!" teriak Hinata, tak terima dia diledek oleh Kiba sebagai pengadu. tangannya sudah memegang erat gulungan majalah yang ia ambil tadi. bersiap untuk memukul Kiba.

"Sekali pengadu tetap pengadu. Hinata pengadu..., Hinata pengadu..., Hinata pengadu.., Huuuuuu Hinata cemen Cuma bisa ngadu" ledek Kiba sambil melakukan pose menangis untuk memanas manasi Hinata.

"KIBA-san JAHAAATTT, AKU BENCI, AKU BENCI, AKU BENCIIIII.., RASAKAN INIIII..!" pekik Hinata sambil memukul kepala Kiba secara brutal menggunakan gulungan majalah yang ia pegang. sementara Kiba masih terus tertawa sambil melindungi kepalanya dari pukulan brutal Hinata.

"Ssssttt, kalian berdua diam!" ucap Naruto pada Kiba dan Hinata, menyuruh mereka untuk diam. ia baru saja mendengar suatu suara dari luar gedung Sekolah darurat itu. namun ucapan Naruto tidak didengar oleh Hinata.

"KIBA-san HARUS MINTA MAAF PADAKUUUU, AYO MINTA MAAF! CEPAT MINTA MAAAFFF...!" Hinata masih terus menjerit seperti orang sinting sambil terus memukuli Kiba. sementara Kiba yang mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh pun segera meminta Hinata untuk diam. namun Hinata tidak peduli dan terus memukul kepala Kiba menggunakan gulungan majalah yang tadi ia pegang.

"KALIAN INI BISA DIAM TI-

'DUAAAARRRR' suara ledakan pertama terdengar, namun suaranya tidak terlalu keras karena masih jauh dari posisi mereka. Naruto dan yang lain langsung terdiam. Hinata sudah berhenti menjerit. mereka semua terdiam seakan fokus pada suara ledakan yang barusan mereka dengar.

"Apa yang-

'DUAAAAARRR' kali ini suara ledakan kedua terdengar dari dekat gedung Sekolah. insting militer Naruto mulai bereaksi. ia secara reflek langsung menerjang tubuh Hinata yang berada paling dekat dengannya untuk melindungi tubuh Hinata dari reruntuhan bangunan Sekolah yang tampaknya juga ikut terkena efek ledakan.

"KYAAAAAA!" jerit Hinata saat tiba tiba Naruto menerjang tubuhnya dan menjadikan dirinya sebagai tameng bagi Hinata.

"KIBA! CEPAT PERGI KE POS MU UNTUK MENGATUR PASUKANMU SEKARANG! NONA SHIZUNE DAN HINATA, CEPAT KALIAN BAWA ANAK ANAK DAN PARA ORANG TUA KE AULA SEKOLAH SEKARANG. SURUH STAF YANG LAIN UNTUK MEMBAWA ANAK ANAK DARI KELAS MEREKA MASING MASING UNTUK BERKUMPUL DI AULA SEKOLAH. DISANA ADALAH TEMPAT YANG PALING AMAN. KALIAN MENGERTI!?" teriak Naruto seraya bangkit berdiri setelah menjadikan tubuhnya sebagai tameng bagi Hinata. ia dengan segera menyambar senjata M27 miliknya dan segera bergegas keluar dari gedung sekolah menuju pos pertahanan terdekat yang baru saja anak buahnya bangun.

"HEI RYAN! DARIMANA SUARA LEDAKAN ITU BERASAL!?" teriak Naruto pada anak buahnya sesampainya di pos pertahanan terdekat yang ia datangi.

"AKU TIDAK TAHU KAPTEN! TAPI KEMUNGKINAN BESAR INI ADALAH SERANGAN MORTIR 81mm, PELETON 2 MASIH TERUS MENCARI SUMBER SERANGAN PAK!" balas anak buahnya yang bernama Ryan itu pada Naruto. "APA AKU BOLEH MEMBALAS TEMBAKAN PAK!?" sambung Ryan lagi sambil membidikkan senapan M249 miliknya ke arah perbukitan tempat diduga serangan Mortir itu berasal.

"NEGATIF! KITA BELUM BISA MEMASTIKAN ITU MUSUH ATAU BUKAN. JANGAN MENEMBAK SEBELUM AKU MEMBERI ABA ABA UNTUK MEMBALAS TEMBAKAN, KAU MENGERTI!?"

"SIAP PAK!"

Naruto kemudian berlari meninggalkan pos yang dijaga Ryan untuk berpindah ke Pos pertahanan di dekat Tandon air, disana sudah ada Kiba dan juga anggota peleton 2 beserta prajurit Radio. Kiba masih sibuk dengan teropongnya, berusaha mencari arah tembakan mortir itu berasal sedangkan prajurit yang lain masih sibuk dengan tugasnya masing masing.

"KIBA! LAPORKAN KEADAANNYA, APAKAH KAU SUDAH MENGETAHUI DARIMANA ASAL TEMABAKAN MORTIR ITU!?"

"ASAL SERANGAN MORTIR BERASAL DARI AREA PERBUKITAN DI SISI KIRI ARAH 82 BARAT DAYA PAK! KEMUNGKINAN BESAR TERDAPAT 2 UNIT MORTIR MUSUH YANG MENEMBAKI KITA DARI SANA, MOHON INSTRUKSI SELANJUTNYA!" balas Kiba sambil mengacungkan tangannya pada arah perbukitan yang di penuhi dengan deretan bebatuan besar di sebelah kiri desa. namun tidak terlihat apa apa disana, hanya bebatuan besar dan beberapa pohon yang menjulang tinggi disana.

Naruto memperhatikan tempat yang tadi ditunjuk oleh Kiba. tempat diduga musuh melancarkan serangan mortir ke desa Pichev. tempat yang ditunjuk Kiba berada di wilayah Pemberontak. ia tidak bisa seenaknya membalas tembakan ke daerah itu karena sama saja seperti mendeklarasikan perang pada pihak pemberontak, apalagi dengan Kapasitasnya sebagai seorang Tentara Perdamaian ia tidak diperkenankan untuk membalas tembakan kecuali berada dalam keadaan darurat atau diperintahkan secara langsung oleh Markas Pusat. ia berpikir sejenak setelah mengamati keadaan sekitar tempat itu sebelum akhirnya mengambil keputusan...

"KIBA, SURUH PELETON MORTIR AGAR MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK MENEMBAKI DAERAH YANG KAU TUNJUK TADI. TAPI JANGAN ADA YANG MENEMBAKKAN MORTIR MEREKA SEBELUM KUPERINTAHKAN. DAN JUGA PERINTAHAKAN PADA SETIAP KOMANDAN REGU AGAR TIDAK MEMERINTAHKAN PASUKANNYA UNTUK MENEMBAK SEBELUM ADA INSTRUKSI LEBIH LANJUT!" perintah Naruto pada Kiba.

"Siap laksanakan Kapten, Moris kau ikut aku!" balas Kiba. ia lalu segera berlari bersama seorang anak buahnya untuk melaksanakan perintah yang Naruto ucapkan padanya tadi.

"Sambungkan aku pada Markas Pusat, Sersan!" kata Naruto pada Petugas Radio peleton 2. Petugas Radio itu langsung menghubungi Markas Pusat dan menyerahkan alat komunikasi di Radionya itu pada Naruto agar ia dapat berkomunikasi dengan Markas Pusat.

"Halo.. ini Delta 1 pada Markas Pusat. aku ingin melaporkan bahwa terjadi serangan Mortir di Area tempat aku bertugas, ganti..."

"Delta 1, ini Markas Pusat. bagaimana keadaanmu sekarang, ganti...?"

"Masih bisa aku tangani, belum ada korban terluka. aku ingin segera adanya konfirmasi soal pihak yang menyerangku sekarang, aku tidak ingin terjadi kejadian Blue on Blue. ganti..."

"Diterima, Berapa titik koordinatmu Delta 1, kami akan mengirim sebuah UCAV ke posisimu untuk mengawasi situasi disana, ganti..."

"Posisiku berada di koordinat 4°52'73"S 102°98'7"E, mohon diterima, ganti..."

"Posisi diterima Delta 1, UCAV akan datang dalm waktu 10 menit Delta 1, Tuhan memberkati kalian... Markas keluar..."

"Baik, Delta 1 keluar..."

Naruto menutup sambungan komunikasinya dengan Markas Pusat. ia masih terus mengawasi area yang dicurigai sebagai tempat serangan mortir itu berasal. serangan mortir sudah tidak seramai tadi, mungkin benar kata Kiba hanya ada 2 unit Mortir musuh yang menyerang Desa. salah satu dari unit Mortir itu harus didinginkan, sedangkan yang satunya masih terus menembak walaupun dengan ritme yang lebih lambat dari yang tadi. pasti Amunisi mortir milik musuh sudah menipis sehingga mereka melambatkan ritme tembakan mortirnya.

"Ini Peleton Mortir pada Peleton 2, masuk Peleton 2..."

"Masuk Peleton Mortir, laporkan statusmu, ganti..." ucap Naruto membalas panggilan Peleton Mortir.

"Kami sudah siap mencetak Homerun pada lawan, mohon instruksi lebih lanjut, ganti..."

Ragu, itu yang Naruto rasakan setelah menerima laporan dari Peleton Mortir bahwa mereka siap menembakkan mortir mereka ke arah musuh. Naruto belum menerima konfirmasi dari Markas Pusat tentang siapa yang menyerang desa Pichev. yang kedua, pasukannya tidak melihat musuh secara visual. laporan tentang musuh pun masih terhambat karena sulitnya akses ke daerah desa Pichev. dan yang paling penting, jika ia menembak ke arah musuh, maka ia sama saja melanggar perjanjian gencatan senjata yang sudah disetujui oleh pihak Ukraina dan pihak Pemberontak. Naruto menjadi bimbang, apakah ia akan membalas tembakan musuh atau hanya berdiam diri menunggu konfirmasi dari anak buahnya atau Markas Pusat? tapi jika ia tidak segera membalas tembakan maka nyawa para anak anak, warga desa dan juga staff PBB berlindung di Gedng Sekolah akan menjadi taruhannya. tembakan mortir makin mengarah ke Gedung Sekolah itu. Naruto kembali berpikir. mempertimbangkan keputusan apa yang selanjutnya akan ia ambil...

"Pak! panggilan dari Peleton Mortir untuk anda!" ucap Petugas Radio sembari menyerahkan alat komunikasi miliknya pada Naruto. Naruto kemudian menerimanya dengan tangan bergetar. seolah olah ia akan menerima telepon dari Malaikat maut.

"Ini Peleton 2, masuk Peleton Mortir..."

"Peleton Mortir pada Peleton 2, mohon instruksi selanjutnya, ganti..."

'DUAAARRR tembakan Mortir mulai mengenai bagian samping Gedung Sekolah membuat bekas lubang menganga yang cukup besar disana. para pasukan Ranger pimpinan Naruto mulai memasuki lubang pertahanan yang mereka buat dan membidikkan senapan mereka ke arah perbukitan tempat serangan Mortir itu berasal.

Naruto membuka matanya kembali setelah berpikir selama beberapa detik. Keputusan sudah ada di tangannya. keputusan yang mungkin akan memicu sederetan kecaman dan juga kejadian serius yang dapat mengancam perdamaian di Ukraina. namun Naruto sudah mengambil keputusan yang beresiko itu. ia lalu mengambil alat komunikasi miliknya dan kemudian menjawab pertanyaan dari Peleton Mortir tentang apa yang harus mereka lakukan setelah ini.

"Peleton 2 pada Peleton Mortir. sudah kuputuskan, ganti..."

"Apa keputusan anda, ganti...?"

Naruto menghembuskan nafasnya pelan. mencoba mengatur ritme emosinya yang mulai bergejolak. setelah itu ia berkata dengan suara datar dan tegas pada Peleton Mortir itu.

.

"Habisi mereka semua tanpa terkecuali, ganti..."

.

.

.

.

TBC

^POJOK AUTHOR

YOOO, KEMBALI LAGI BERSAMA AUTHOR LEOPARD2RI BERSAMA FANFIC GAJE NYA, PEACEKEEPERFORCE YEEEEE ( TEPUK TANGAN KEK ORANG GILA )

MAAF NIH KALAU UDAH LAMA GAK UPDATE, KEGIATAN DAN PEKERJAAN MEMAKSA KU UNTUK MENINGGALKAN FANFIC INI SEJENAK. HARSNYA UPDATE MINGGU LALU TAPI SAYA MERASA ADA BAGIAN CERITA YANG KURANG, JADI NIATNYA SAYA PERBAIKI DULU. EH MALAH MOLOR SAMPAI 1 MINGGU. MUAHAHAHAHAHA

( Ditembak Mortir sama pemberontak Ukraina )

OK mungkin itu aja pesan yang bisa saya sampaikan. oh ya mungkin ada beberapa istilah yang mungkin kalian belum tahu jadi Author jelasin dulu ya!

MRAP : Sejenis kendaraan tempur yang di desain untuk bisa bertahan menghadapi Ranjau dan juga anti peluru

Blue on Blue : Friendly Fire, atau menembak kawan sendiri

Homerun : bahasa slank untuk tembakan mortir di beberapa kesatuan militer di beberapa negara.

Baiklah, terima kasih udah baca Fanfictionku ini jangan lupa nantikan update Chapter terbaru dari Fanfiction PeacekeeperForce kawan kawan!

Mohon Kritik dan Saran Tulis di kolom komentar ya!

Salam hangat

Author : Leopard2RI