"Habisi mereka semua tanpa terkecuali, ganti..."
Naruto mengenggam erat Alat Komunikasi yang ia pegang. perintah sudah ia luncurkan, prajuritnya sudah siaga, mortir akan ditembakkan, tapi kepada siapa? tentu saja kepada musuh. tapi apakah benar itu musuh? lagipula siapa pihak yang ia anggap musuh? Pemberontak kah, atau Pasukan Pemerintah Ukraina kah? tidak jelas siapa yang menjadi musuh disini. namun ada satu hal lebih penting dari itu semua, yaitu nyawa warga Desa Pichev yang telah diamanatkan pada Kompinya. nyawa anak buahnya juga masuk hitungan. Naruto tidak mau ia dan kompinya pulang ke AS dengan jumlah anggota yang kurang. ia mau semua anak buahnya selamat dan bisa kembali berkumpul bersama keluarganya masing masing.
"Diterima, Peleton Mortir siap menembak. kami minta posisi koordinat musuh berada, ganti..."
"Sersan Rick! tolong pandu Peleton Mortir saat menembakkan mortir ke arah musuh, kau mengerti!?" Perintah Naruto pada anak buahnya dari Peleton 2 itu.
"Siap Pak!"
"Ini Peleton 2 pada Peleton Mortir, mohon tembak ke arah 0-5-2-8-2-1-5, Barat Daya. tembak 2 kali nanti kami revisi, ganti..."
"Diterima, Koordinat 0-5-2-8-2-1-5, Barat Daya. bersiap menembak dalam 5 detik. lindungi kepalamu Peleton 2, karena peluru mortir akan melintas tepat di atas kepala kalian, Peleton Mortir keluar..."
Para Prajurit semakin siaga. mata mereka memandang awas pada keadaan sekitar bersiap jika musuh melakukan serangan lagi. tak berselang lama sebuah lengkingan suara peluru mortir yang terbang di atas mereka terdengar. semua prajurit serentak mendongakkan kepala mereka ke udara, ingin melihat peluru peluru mortir yang ditembakkan oleh kawan mereka di garis belakang.
'Duuuaaarr' Tembakan Mortir pertama mengenai sebuah dinding bebatuan, menghancurkan sebagian ujung atas batu itu, namun tidak menghancurkan bebatuan itu secara keseluruhan.
'Duuaaaaarr' tembakan kedua menghantam telak bebatuan yang tadi sudah terkena tembakan dari peluru mortir pertama menyebabkan bebatuan besar itu menjadi hancur tak bersisa. namun tidak ada tanda tanda keberadaan musuh disana. perkiraan Naruto salah. musuh tidak bersembunyi di balik bebatuan yang sudah mereka hancurkan itu.
"Sial, dimana mereka?" Naruto menggertakkan giginya. iris Sapphire miliknya terus bergerak mencari keberadaan mortir milik musuh yang tadi menembaki desa. namun nihil, tidak ada pergerakan apapun dari musuh. seolah olah mereka adalah hantu yang bisa bersembunyi dari penglihatan manusia.
"Mungkinkah itu ulah Artileri Howitzer pak?" tanya Sersan satu James, seorang Grenadier di Kompi Delta pada Naruto.
"Kalau itu ulah Artileri Howitzer, seharusnya pangkatmu sudah naik menjadi Anumerta sejak tadi, Sersan James..." balas Naruto dongkol. Naruto tahu betul bagaimana dahsyatnya efek tembakan Meriam Artileri Howitzer itu bila ditembakkan ke posisinya saat ini. jika betul musuh menggunakan Howitzer untuk menyerang mereka maka seharusnya mereka sudah jadi tumpukan mayat sekarang.
Naruto merebut alat Komunikasi yang tadi digunakan untuk memandu Peleton Mortir dari Rick, anak buahnya. ia kembali mengamati keadaan sekitar. matanya ia fokuskan untuk mencari pergerakan sekecil apapun dari musuh. saat sedang mengamati perhatian Naruto terfokus pada salah satu gubuk yang terletak terpisahan dari rumah rumah lain di desa. letak gubuk itu memang mencurigakan karena gubuk itu menjadi satu satunya bangunan yang ada di seberang bukit, sementara rumah rumah lain terpusat di Desa Pichev. gubuk itu berukuran kecil dengan lubang menganga lebar di atapnya dan berdinding asbes. cukup untuk menampung setidaknya 5 orang di dalamnya.
"Kiba, kau disana?" Naruto memanggil Kiba dari Walkie Takie nya. posisi Kiba yang berada di arah selatan dari posisinya saat ini tentu membuat Kiba memiliki pandangan yang lebih jelas pada Gubuk yang ia curigai itu.
"Kiba disini, ada apa Kapten, apa ada sesuatu yang mencurigakan disana?"
"Kiba, apa kau bisa melihat sebuah Gubuk di arah jam 3 dari posisimu, ganti...?"
"Terlihat jelas Kapten, sebuah gubuk jelek dengan atap berlubang dan berdinding Asbes. aku yakin pemilik gubuk itu tidak pernah diajari orang tuanya tentang sebuah hal yang disebut renovasi rumah, ganti.."
"Bagus, bisa kau sebutkan koordinat lokasi dari Gubuk itu padaku? Gubuk itu sangat mencurigakan bagiku, ganti..."
"Tu-tunggu.. kau akan menembaki gubuk itu dengan Mortir, Kapten...?"
"Kurang lebih seperti itu, musuh kemungkinan berada di dalam gubuk itu. mereka menembakkan mortir dari dalam gubuk itu dengan memanfaatkan atap gubuk yang berlubang agar bisa menembakkan mortir dari sana, ganti..."
"Tapi bagaimana bila ada penduduk yang tinggal disitu? ganti..."
Naruto terdiam sejenak setelah mendengar perkataan Kiba yang baru saja ia dengar. benar juga, bagaimana bila ada penduduk yang masih bertahan disitu? namun Naruto menggelengkan kepalanya. ia sudah mendapat laporan dari Batallion Marinir yang tadi mengabsen kehadiran warga desa, dan mereka bilang bahwa semua warga desa hadir dan sudah dikumpulkan di balai desa dan di sekolah. jadi di gubuk itu sudah dipastikan tidak terdapat warga sipil.
"Negatif, mereka semua sudah dipindahkan ke Balai Desa dan Sekolah. Marinir sudah memastikan itu semua, sekarang cepat berikan koordinatnya padaku Kiba.."
Ada sedikit jeda sebelum Kiba memberi koordinat letak Gubuk itu pada Komandan kompinya itu. "Baik, Target berada di Koordinat 0-5-7-8-8-1-9, aku ulangi, target berada di koordinat 0-5-7-8-8-1-9, ganti..."
"Diterima, tetap awasi gubuk itu Kiba, laporkan bila ada yang mencurigakan dari gubuk itu, Peleton 2 keluar..." Naruto memutuskan komunikasinya dengan Kiba kemudian ia beralih ke alat Komunikasi Radio yang ia gunakan untuk memanggil peleton Mortir.
"Peleton Mortir, konfirmasi tentang target baru. sebuah gubuk kecil di koordinat 0-5-7-8-8-1-9 Barat Laut, ratakan gubuk itu hingga tak tersisa, ganti..."
"Diterima Peleton 2, gubuk kecil di koordinat 0-5-7-8-8-1-9, aku ulangi, gubuk kecil di koordinat 0-5-7-8-8-1-9... target terlihat. bersiap menembak dalam 5 detik, mohon revisi jika ada kesalahan posisi, Peleton Mortir keluar.."
Suara lengkingan keras peluru Mortir kembali terdengar, kali ini peluru Mortir yang ditembakkan oleh Pleton Mortir berjumlah lebih banyak dari sebelumnya. lengkingannya benar benar keras dan mengerikan baik bagi musuh maupun bagi Naruto dan pasukannya. lengkingan keras itu terus terdengar selama beberapa detik di udara sebelum akhirnya digantikan oleh suara dentuman keras tanda bahwa 'paket' peluru mortir sudah sampai di tujuan alias sudah menghantam posisi musuh.
'Duaarrr' tembakan pertama mengenai sisi samping gubuk, menciptakan kawah kecil di tanah karena terkena efek ledakan mortir berjenis High Explosive itu.
'Duaaarr' tembakan kedua justru semakin menjauh ke arah kanan dari Gubuk itu. tembakan mortir itu juga menciptakan kawah kecil di tanah tempat mortir itu meledak.
'DUUUUUAAARRRR, DUAAAAARRRR' kali ini tembakan ketiga menghantam tepat menembus atap gubuk reyot itu dan meledak di dalamnya. namun ledakan di dalam gubuk itu begitu besar dan mengerikan. dentuman ledakan terjadi selama 3 kali. ratusan puing puing dan proyektil amunisi milik musuh yang ditimbun disana ikut meledak hingga terlontar keluar. percikan percikan api dan juga asap hitam tebal menyelimuti gubuk yang sudah rata dengan tanah itu. para prajurit termasuk Naruto sempat terdiam karena menyaksikan kehancuran yang diakibatkan peluru mortir mereka pada gubuk itu.
"KENA! TEMBAKAN MORTIR MENGENAI SASARAN!"
"WOHOOOOO... MAMPUS KALIAN SEMUA BRENGSEK!"
"YEEEEEEEE, HIDUP KOMPI DELTAAAA!"
Pekik kemenangan terdengar di antara para prajurit kompi Delta. mereka sontak berteriak teriak untuk meluapkan rasa lega mereka karena sedari tadi terus waspada dan tertekan karena tembakan mortir musuh yang bisa saja sewaktu waktu mencabut nyawa mereka. untung saja mortir musuh berhasil dihancurkan oleh mortir mereka. mortir melawan mortir. cukup unik memang.
"Homerun, pak!" sorak sorai juga terdengar dari sambungan Radio milik Peleton Mortir. mereka berhasil mencetak Homerun dengan menghabisi unit mortir musuh.
"Tepat sasaran, kerja bagus Peleton Mortir!" ucap Naruto melalui alat komunikasi miliknya pada Peleton Mortir. dirinya turut bernapas lega. ancaman musuh sudah berhasil ia netralisir. situasi sudah terkendali. semuanya aman pikirnya. Kiba yang daritadi sibuk mengatur pertahanan peleton 1 pun datang menghampiri Naruto. sekedar mengucapkan selamat bagi komandan kompinya itu atas keberhasilannya menghancurkan posisi musuh.
"Kill pertama dalam sejarah hidupmu heh..? selamat, kau sudah membunuh anak orang hari ini, Kapten.." ucap Kiba sarkastik sambil menepuk bahu komandannya itu.
"Ucapkan omong kosong mu itu pada Peleton Mortir, bodoh!" balas Naruto sambil menempeleng kepala anak buahnya itu menggunakan botol minum miliknya. dirinya hendak duduk selonjor, mengistirahatkan diri dari adrenalin yang memacu pikiran dan tubuhnya untuk bekerja lebih keras.
"Kapten, ada sebuah mobil datang dari arah jam 1. SUV warna hitam, tidak memiliki plat nomer, mohon izin untuk menindak!" teriak sersan James pada Naruto sambil mengacungkan jarinya pada sebuah kendaraan SUV berwarna hitam yang tengah melaju dengan kecepatan tinggi ke arah perimeter pertahanan yang dibuat oleh kompi Delta. membuat Naruto mau tidak mau harus merelakan posisi tidurnya yang nyaman dan harus bangkit berdiri lagi untuk melihat target yang dilaporkan oleh anak buahnya itu.
"SEMUA SIAGA! JANGAN ADA YANG MENEMBAK. KALIAN BARU BOLEH MENEMBAK KETIKA ADA PERINTAH MENEMBAK, PAHAM!?" instruksi Naruto pada pasukannya untuk kembali bersiaga.
"SIAP, PAHAM!"
SUV warna hitam itu berhenti tepat pada jarak 200 meter di depan Perimeter Pertahanan Naruto. sontak saja Para prajurit kompi Delta membidikkan senjatanya ke arah mobil itu. pintu SUV terbuka dan munculah 2 orang pria berseragam militer namun tidak bersenjata. seorang diantara mereka mengenakan penutup wajah berwarna hijau yang menutupi seluruh area wajah kecuali bagian mata dengan membawa sebuah Handycam di tangannya sedangkan yang satu lagi memakai baret berwarna merah dan membawa sebuah bendera putih. mereka berjalan perlahan ke arah perimeter pertahanan kompi Delta sambil mengibarkan bendera putih dan merekam melalui Handycam.
"PERINGATAN!, INI ADALAH POS PERTAHANAN MILIK PASUKAN PBB. SETIAP INDIVIDU ATAU PIHAK DI LUAR KOMISIONER PBB DILARANG MEMASUKI WILAYAH INI MOHON BERHENTI DAN LEPAS SEMUA ATRIBUT MILITER YANG KALIAN KENAKAN UNTUK PEMERIKSAAN LEBIH LANJUT!" peringatan yang diucapkan oleh Kiba melalui pengeras suara yang ia bawa tidak diindahkan oleh kedua orang itu. mereka terus berjalan mendekat ke arah perimeter pertahanan Kompi Delta dengan santai, seolah olah hendak memasuki loket pasar minggu.
"HEI, MUNDUR KALIAN, TOLONG MENJAUH DARI AREA INI ATAU KALIAN AKAN DITEMBAK DI TEMPAT. AKU ULANGI, TOLONG MENJAUH DARI AREA INI ATAU KALIAN AKAN DITEMBAK DI TEMPAT... TOLONG PATUHI PERINTAH!" Kiba kembali berteriak melalui pengeras suara yang ia pegang namun orang orang itu masih saja mendekat hingga posisi mereka tinggal 100 meter saja dari perimeter pertahanan. Naruto memandang kedua orang itu dengan tatapan tajam. ia segera mengokang senapan M27 miliknya, mengacungkan laras senapannya ke atas dan kemudian meletuskan tembakan peringatan ke udara. mendengar tembakan peringatan yang dilepaskan oleh Naruto membuat kedua orang itu akhirnya berhenti dan menoleh kepadanya, kini jarak mereka hanya 5 meter dari tempat Naruto berdiri sekarang.
"привітання!" salah seorang di antara mereka mengucapkan salam menggunakan bahasa Ukraina yang Prajurit Kompi Delta serta Naruto tidak ketahui artinya. Naruto kemudian menghampiri kedua pria itu yang masih dengan santainya berjalan menghampiri para anggota kompi Delta yang bertugas.
"Permisi, apa kau bisa menjauh dari area ini Tuan? aku Michael, dari Kompi Delta, Pasukan Perdamaian PBB. kusarankan agar kau segera pergi dari area ini atau kami akan menindak tegas anda dan teman anda yang sudah melanggar ketentuan batas wilayah Militer!" terang Naruto deangan menggunakan bahasa Inggris pada pria dengan baret merah yang tadi menyapa mereka dengan bahasa Ukraina. pria itu kemudian tersenyum sambil mengambil sebuah benda dari dalam saku celananya. sontak perbuatannya itu membuat para prajurit Kompi Delta serentak membidikkan senapan mereka pada sosok pria berbaret merah itu. berjaga jaga bila ia mengeluarkan senjata yang dapat mengancam nyawa mereka maupun komandannya.
"ти хочеш сигарету?" ucap pria berbaret merah itu sambil mengacungkan sebungkus rokok pada Naruto. sesudah ia mengambil sebatang lintingan tembakau itu terlebih dahulu dari bungkusnya kemudian membakarnya dengan korek lalu menyesapnya perlahan , membiarkan rasa manis dari tembakau dan nikotin itu memasuki paru parunya.
"No, thanks.." balas Naruto pendek sambil menjauhkan bungkus rokok itu dari hadapannya. ia benar benar bingung sekarang. ia baru ingat bahwa kompinya tidak memiliki seorang penerjemah dan bagaimana cara ia menginterogasi dan memeriksa orang orang ini bila ia tidak mengerti bahasa yang mereka ucapkan?
"Ви не розумієте, про що я говорю?" pria itu kembali mengucapkan suatu kalimat dengan bahasa Ukraina sambil tersenyum misterius. sedangkan pria yang lain masih setia merekam segala kejadian di depannya termasuk merekam Naruto dengan handycam miliknya. Naruto tidak membalas perkataan orang itu, ia masih berpikir keras tentang cara ia dapat berkomunikasi lintas bahasa dengan orang itu, sebelum akhirnya sebuah ide muncul di kepalanya. ia lalu memanggil Kiba untuk menjalankan suatu perintah.
"Kiba, kemari!"
"Siap Kapten, ada apa?"
"Panggilkan Hinata kemari, cepat!"
"Hinata? untuk apa Kapten memanggilnya..?"
"Aku ingin dia jadi penerjemah darurat kita. sudah cepat laksanakan!"
"Siap, laksanakan" Kiba kemudian berlari menuju ke arah gedung sekolah untuk memanggil Hinata. sementara Naruto masih berkutat dengan pria di depannya ini. sedangkan pria itu masih terus merokok tanpa peduli dengan tatapan tajam dari Naruto maupun dari para prajurit anggota Kompi Delta. sedangkan pria yang satu lagi sudah berhenti merekam menggunakan handycam dan kini tampaknya tengah memeriksa hasil rekamannya di Handycam itu.
"Maaf, bisa kulihat rekaman video mu?" tanya Naruto sembari berusaha mengambil handycam dari tangan pria yang mengenakan penutup wajah itu. namun pria itu dengan sigap langsung menarik tangannya ke belakang agar Naruto tak bisa mengambil handycam nya itu.
"No, no, no, you can't take this stuff okay?" ucap pria berpenutup wajah itu sambil berangsur angsur mundur menjauhi Naruto dengan tangan menggenggam erat handycam miliknya.
"Alright, i will not take your handycam. but you must promise to me, you will not filming our activity or our face again, got it?" balas Naruto tegas pada pria itu.
"Sure, i'll try it but don't blame me if this record will spread into Social Media and now People in around the world can see how cruel PeacekeeperForce is it" pria itu tak kalah ngotot. ia bahkan mengancam akan menyebarkan video yang tadi ia rekam ke sosial media sebagai bukti bahwa tentara PBB adalah tentara yang kejam dan tak manusiawi.
"Wait... what are you talking about our Cruelty?" tanya Naruto heran. namun sebelum sempat ia bertanya Kiba sudah terlebih dahulu memanggilnya. terlihat juga Hinata tengah berlari kecil di belakang Kiba. wajah ayunya tampak lelah. surai ungu tuanya masih nampak terawat dan indah walau sedikit kotor karena terkena debu bekas puing bangunan yang runtuh akibat serangan mortir tadi. Hinata kemudian pergi menghampiri Naruto, meninggalkan Kiba yang kini mengistirahatkan dirinya di bawah pohon kecil di dekat perimeter pertahanan karena kelelahan.
"Aa-aahh... apa Naruto-kun memanggilku?"
"Yah benar Hinata. aku memanggilmu karena aku ingin kau menerjemahkan ucapan kalimat yang dikatakan pria ini padaku. ia tampaknya merupakan komandan pasukan yang tadi menembaki desa ini dengan mortir. maaf jika merepotkan lho Hinata, aku benar benar tidak mengerti hal apa yang ia ucapkan.."
"ah tidak kok, tidak merepotkan. kebetulan bahasa Ukraina sudah cukup fasih aku ucapkan dan ku kuasai jadi bukan masalah besar untukku, Naruto-kun!" ucap Hinata sambil tersenyum. ia kemudian ikut menatap pria berbaret merah yang disebut sebagai komandan musuh oleh Naruto tadi. dirinya menghembuskan nafas pelan, berusaha menghilangkan grogi. pria berbaret merah itu ikut balik menatap Hinata.
"привіт міс ( Halo Nona! )" pria berbaret merah itu menyapa Hinata. pria berbaret merah itu menghentikan aktivitas merokoknya dan membuang puntung rokok miliknya ke tanah.
"привіт теж сер, як справи? ( Halo juga tuan, bagaimana kabarmu )" balas Hinata sambil mengulurkan tangannya ke arah pria itu, hendak mengajak bersalaman. pria itu kemudian menjabat tangan Hinata erat. dengan tatapan sendu pria itu mencium tangan Hinata. membuat seluruh prajurit kompi Delta ( kecuali Kiba karena ia sedang tidur ) dan Naruto terkejut. mereka langsung menatap pria berbaret merah itu dengan tatapan membunuh. enak saja mencium tangan gadis secantik Hinata secara sembarangan, mereka kan juga pengen...-eh?
"штрафу ( baik )" jawab pria itu kembali menyunggingkan senyumnya pada Hinata. Hinata balas menatap pria itu dengan senyum juga. hati Naruto mendadak panas, kenapa Hinata sudi tersenyum pada pria kurang ajar itu. padahal pria itu tadi hendak membahayakan nyawa para penduduk desa Pichev beserta staff PBB dan pasukan perdamaian dengan serangan mortir sialan milik mereka. tapi sebelum Naruto hendak melakukan protes Hinata sudah terlebih dahulu mengatakan sesuatu pada pria berbaret merah itu.
"ти можеш залишити тут? ваше існування лише загрожує життю односельчан, яким ви колись нашкодили (bisakah kau pergi dari sini? keberadaanmu hanya akan mengancam nyawa para penduduk desa yang dulu pernah kausakiti )" ucap Hinata dengan nada tegas. sorot matanya datar. dia menatap pria berbaret merah itu seolah olah mereka sudah pernah bertemu bahkan berhubungan sebelumnnya. pria berbaret merah itu kembali tersenyum pada Hinata. ia melepas baret merah yang ia kenakan. menampilkan surai putih perak kebanggaan miliknya. pria itu lalu hendak membalas perkataan Hinata sambil melepas baret miliknya itu.
" Я просто хотів сказати американському командувачу, щоб не возитися з нами, Українською визвольною армією. тож він знає, хто в цій галузі відає, ви розумієте ...?" ( Aku hanya ingin bilang ke komandan Amerika itu agar jangan macam macam dengan kami, Milisi Pembebas Ukraina. biar dia tahu siapa yang berkuasa di daerah ini, kau paham...? )
"Я розумію, тепер іди! Я перешлю вам ваше повідомлення. але будь ласка, ніколи більше не травмуйте жителів села ..." (aku paham, sekarang pergilah! aku akan menyampaikan pesanmu padanya. tapi tolong, jangan pernah sakiti penduduk desa lagi... ) balas Hinata sambil menatap tajam pria berbaret merah itu. tangan Hinata mengepal erat dan bergetar, menahan emosinya yang sudah meluap luap. lagi-lagi pria itu kembali tersenyum sebelum akhirnya beranjak pergi dari posisinya meninggalkan Hinata. pria berbaret merah itu sempat memandang wajah Naruto sejenak, hendak mengingat rupa sang Komandan Kompi Delta tersebut sebelum akhirnya bersama temannya yang memakai penutup wajah pergi meninggalkan pos pertahanan pasukan Kompi Delta itu menggunakan SUV warna Hitam menuju ke arah Utara desa.
"Wow, nona Hinata memang hebat, dia mampu mengusir para bajingan itu dalam waktu 10 menit" ucap Sersan satu Ryan sambil mengawasi laju SUV hitam itu menggunakan teropong miliknya.
Naruto memandang Hinata dengan tatapan penuh tanya. ia hendak menagih soal perbincangan Hinata dengan pria berbaret merah itu. namun Hinata hanya menundukkan kepalanya. tangannya masih mengepal erat, nafas nya masih terengah engah. emosinya masih belum stabil nampaknya.
"Hinata..." panggil Naruto pada gadis bersurai indigo itu. "Apa yang pria berbaret merah itu katakan padamu? apa dia mengancammu? dan sebenarnya siapakah dia? kulihat kalian sudah pernah berkenalan atau bertemu sebelumnya. kalian tampak akrab sekali tadi" sambung Naruto sambil menepuk pelan pundak Hinata. berusaha menenangkan sang gadis relawan PBB itu.
"Namanya adalah Konstatin Moskhovic... Naruto-kun, namun dia lebih sering dipanggil 'Vedmid' oleh masyarakat Ukraina dan Pasukannya maupun oleh Pasukan Pemerintah. dia merupakan Komandan Divisi Militer 17 yang merupakan sayap Militer dari Front Pembebasan Nasional Ukraina Utara. ia dan pasukannya lah yang bertanggung jawab atas Insiden 12 Januari, Insiden itu terjadi karena ia dan Pasukannya melancarkan serangan membabi buta ke desa Pichev tepat setahun yang lalu. serangan itu membunuh 198 warga desa dan 12 tentara yang bertugas menjaga desa ini. sisa warga desa yang selamat lalu mengungsi ke desa sebelah selama beberapa bulan sebelum akhirnya mereka dapat kembali ke desa ini setelah adanya gencatan senjata..." terang Hinata dengan wajah sendu, memorinya kembali ke peristiwa setahun yang lalu. peristiwa yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya. peristiwa kejam yang membuat ia mulai membenci yang namanya perang dan politik.
Naruto hanya diam, tak ada niatan untuk bertanya lebih lanjut pada Hinata. ia tahu kalau cerita Hinata tentang si Konstatin ini belum selesai. Hinata tak mungkin seemosional ini jika ia tak pernah bertemu langsung dengan pria yang ia panggil Konstatin itu sebelumnya. jadi Naruto memutuskan untuk menunggu lanjutan cerita dari Hinata sembari mengusap usap pundak gadis itu perlahan, agar dia tenang dan dapat melanjutkan ceritanya yang terpotong tadi.
"Saat kejadian itu terjadi..." Hinata kembali bersuara setelah jeda hening selama beberapa menit. " aku bertugas sebagai pengajar di sekolah umum, sama seperti hari ini. aku mengajar 90 anak didk bersama 12 orang dari staf Kementrian Pendidikan Ukraina dan lembaga Sekolah Dasar. awalnya kami mendengar suara tembakan, namun saat itu kami menganggap bahwa tembakan itu berasal dari latihan menembak dari markas Peleton Pasukan Ukraina yang memang ditempatkan di Desa Pichev. namun kemudian bunyi tembakan mulai terdengar lebih keras dan lebih ramai dari sebelumnya. orang orang desa juga berlarian keluar rumah, para Tentara Ukraina yang jumlahnya hanya 34 orang mulai menyongsong maju ke arah gerbang masuk desa hendak melawan para pemberontak yang telah menyerang desa. saat itu aku baru sadar jika desa Pichev telah diserang. namun bodohnya aku hanya diam membeku saat teman teman staf ku dan anak anak didikku mulai menyelamatkan diri dari gedung Sekolah. aku ini aneh kan.., Naruto-kun? saat yang lain berlari menyelamatkan diri aku malah diam, tak bisa bergerak padahal para pemberontak bisa saja membunuhku jika aku tak cepat cepat lari" ucap Hinata parau.
"Kau tahu apa yang membuatku sadar dari sikap diam membeku ku saat itu Naruto-kun?" Hinata bertanya sambil menolehkan wajahnya pada Naruto. "ketika para staf pengajar dan anak anak didikku hendak keluar dari gedung sekolah umum melalui pintu utama mereka langsung diberondong tembakan gencar oleh para pemberontak dari luar gedung sekolah, dengan mata kepalaku sendiri, aku melihat tubuh mungil para anak anak malang itu jatuh bergelimpangan satu persatu dihantam timah panas. yang tidak terkena tembakan pun ada yang mati karena terinjak teman teman mereka atau ada yang tertimpa reruntuhan bangunan. para staf pendidik juga tak luput dari serangan mereka. mereka semua tewas. percikan darah dan potongan tubuh manusia berserakan di depan pintu masuk dan keluar sekolah saat itu. beberapa menit kemudian sekumpulan orang bersenjata lengkap yang memakai seragam militer bercorak hijau pun masuk ke gedung Sekolah. mereka memergokiku dan mengacungkan senjata laras panjang mereka ke arahku. aku pun hanya diam sambil mengangkat tanganku ke atas. menangis, ya hanya menangis lah yang bisa kulakukan saat itu untuk meluapkan shock dan trauma yang kurasakan setelah melihat seluruh anak didikku beserta staf pengajar mati dibunuh oleh mereka"
Naruto mendengarkan setiap penjelasan Hinata dengan cermat. berarti Hinata sudah lebih dari setahun bertugas sebagai tenaga pengajar di desa ini. dan sialnya ia saat tugas sebelumnya di desa ini ia mengalami dan menyaksikan peristiwa tragis yang merenggut nyawa banyak orang. kenapa Markas tak pernah memberitahu dirinya soal insiden 12 Januari yang diceritakan Hinata ini ya?
"Lalu salah satu dari mereka menghampiriku..." lanjut Hinata. "Ia seorang pria berambut perak, mempunyai iris hitam legam dengan rokok yang selalu menempel di mulutnya. senjata laras pendek miliknya selalu terpasang di bagian samping rompi anti pelurunya. aku sudah ketakutan setengah mati saat dia mendekatiku sambil mengacungkan pistolnya ke arahku, kupikir aku akan mati setelah ini. namun dia hanya tersenyum sambil mengarahkanku ke arah pintu keluar gedung sekolah. aku benar benar bingung saat itu kenapa dia malah menyuruhku untuk pergi dan bukannya membunuhku, namun aku lebih memilih untuk segera berlari meninggalkan gedung sekolah seblum orang orang itu berubah pikiran. sebelum aku keluar dari gedung sekolah itulah pria berambut perak itu memberitahukan namanya padaku sambil berteriak "AKU KONSTATIN MOSKHOVIC, SEBARKAN NAMAKU PADA ORANG ORANG UKRAINA DI LUAR SANA DAN BERITAHU SOAL KEJADIAN YANG SUDAH KAU ALAMI SAAT INI PADA MEREKA SEMUA!" sejak itulah aku mengenal dia dan kekejaman yang ia lakukan. setelah itu aku pergi ke desa sebelah dan melaporkan apa yang terjadi di desa dan siapa yang menyerang desa pada Militer Ukraina. namun konyolnya aku malah dipenjara oleh mereka selama seminggu karena dicurigai sebagai mata mata musuh hingga akhirnya aku dibebaskan dengan jaminan oleh Pastur Vladimir dan Asosiasi Gereja Katholik Jepang. kalau dipikir pikir aku ini beruntung sekali ya, Naruto-kun... hiks...hiks...hiks..." Hinata secara tiba tiba memeluk Naruto, tangisnya pecah di dada bidang pria berambut kuning cerah itu.
Naruto sedikit terkejut dengan tindakan Hinata yang tiba tiba memeluknya, wajahnya memerah dan degup jantungnya berdetak 2 kali lebih cepat saat Hinata memeluknya. namun setelah beberapa detik dengan gugup ia memberanikan diri untuk balik memeluk Hinata dengan lembut, tangan besarnya mengusap usap surai Indigo Hinata untuk menenangkannya. isak tangis Hinata masih terus berlanjut. sebuah memori kelam yang harusnya Hinata sudah lupakan kembali terbuka setelah bertemu Konstatin, seorang pria yang tega membantai anak anak dan para warga desa Pichev dengan kejam.
"Hiks... aku benar benar takut ia akan melakukan hal yang sama seperti yang pernah ia perbuat sebelumnya pada warga desa ini, Naruto-kun. hiks...hiks...hiks..." Hinata menangis tersedu sedu. air matanya membasahi seragam tempur Naruto. tangannya memegang erat ujung seragam Naruto. menjadi pelampiasan emosinya.
"Tenang saja, Hinata... kami ada disini, kami akan melindungimu dan segenap warga Ukraina yang membutuhkan perlindungan kami. kau tidak usah takut dan menangis lagi, ok?" ucap Naruto pelan sambil terus berusaha menenangkan Hinata. Hinata tidak membalas, ia masih terisak di pelukan Naruto.
"Ya, tenang saja... aku berjanji akan terus melindungimu , Hinata..." ucap Naruto dalam hati. pelukannya pada sang gadis Indigo semakin mengerat, tak peduli dengan tatapan iri dari para prajurit dan teman teman satu kompinya yang juga ingin dipeluk oleh Hinata.
"Hiks... apa kau janji, Naruto-kun...?"
"Iya... sekarang berhenti menangis, oke?"
Kini setelah ia berjanji pada Hinata untuk melindunginya dan seluruh masyarakat Ukraina yang membutuhkan bantuan maka otomatis satu pertanyaan muncul di otaknya, ditujukan untuk Naruto sendiri tentunya..
Apakah janjinya pada Hinata bisa ia laksanakan?
.
.
.
.
"Uniform 64... status kalian aman untuk melanjutkan perjalanan, silahkan maju melanjutkan perjalanan, atur kecepatan konvoi, dan selalu waspada dengan IED dan para serigala berpakaian domba, ganti...
"Diterima, Mike Hotel Quebec... ETA dalam waktu 15 menit, Uniform 64 keluar..."
"Yankee 3 melapor pada Uniform 64, minta kondisi visual bukit arah jam 3, kami tak bisa melihat sisi kanan dengan jelas, ganti..."
Hiruk pikuk nampak terlihat di dalam kendaraan MRAP baris pertama yang mengangkut para pasukan kompi Delta kembali ke Pangkalan Operasi Gabungan pasukan PBB. para awak kendaraan MRAP nampak sibuk berkoordinasi dengan kendaraan MRAP lain yang tergabung dalam satu konvoi. sedangkan para prajurit yang numpang di bagian kabin kendaraan anti ranjau itu nampak sibuk dengan kegiatan masing masing, ada yang bermain kartu, ada yang tidur karena kelelahan ada juga yang melamun entah memikirkan apa. yang jelas beban mereka sudah berkurang karena misi mereka di desa Pichev untuk hari ini sudah selesai. walau diwarnai insiden penyerangan mortir oleh pasukan tak dikenal namun mereka bersyukur karena tak ada korban luka maupun jiwa dalam insiden itu.
Diatara para pasukan dan perwira muda itu ada sang komandan Kompi Delta, Naruto yang sedang tenggelam dalam lamunannya, serangan yang terjadi pada ia dan kompinya tadi menyadarkan suatu hal bagi dirinya, bahwa misi yang ia dan kompinya emban di Ukraina saat ini akan menjadi lebih sulit dan lebih rumit lagi dari hari ke hari. janjinya pada Hinata juga membuat beban yang ia pikul bertambah berat. kini ia tak hanya harus melindungi Anggota Pasukan Kompi Delta yang ia pimpin dan warga sipil saja, namun ada Hinata yang sesuai janjinya harus ia lindungi nyawanya. Naruto mengusap rambutnya kasar. setelah pulang ia hanya ingin mengobrol dengan kedua orangtuanya, hendak curhat. nampak seperti anak kecil memang, namun hanya Tuhan dan orangtuanya lah yang bisa ia ajak curhat secara pribadi sekarang.
Ngomong ngomong soal Tuhan membuat Naruto melirik ke kalung Rosario yang melingkari lehernya saat ini. Rosario berwarna cokelat muda dengan Ukiran gambar Yesus Kristus di maniknya yang sudah pernah menemani sang ayah memenangkan banyak pertempuran di beberapa medan perang yang berbeda-beda itu kini diturunkan padanya. Naruto memang bukan seorang Katholik yang taat dan sefanatik sang ibu, Kushina. namun ia percaya bahwa Rosario itu memiliki kekuatan tersendiri. bukan sihir, namun kekuatan kasih untuk melindungi satu sama lain. itu yang Naruto yakini dalam hatinya.
"Lindungilah aku Tuhan..." ucap Naruto sambil mencium ujung salib di rosario itu. ia kemudian memasukkan ujung salib itu ke dalam bajunya. pandangannya kembali fokus ke luar jendela MRAP yang ia tumpangi. cuaca sedang cerah namun dibalik cuaca cerah itu telah menunggu ratusan rintangan, halangan, cobaaan dan musuh musuh besar yang akan menghalangi perjuangan Naruto dan teman temannya dalam mewujudkan kedamaian di kawasan Ukraina yang sedang bergejolak karena perang. Naruto akan membuktikan bahwa kehadiran Kompi Delta dan Kompi – kompi lain dari kesatuan pasukan Ranger Angkatan Darat AS akan berhasil menyelesaikan misi perdamaian yang PBB mandatkan pada mereka dalam satu kesatuan tempur pasukan PBB yaitu...
PEACEKEEPERFORCE!
.
.
.
.
^Pojok Author
Shit man, aku gak tau lagi harus berapa kali ucapin rasa terima kasihku pada Readers yang masih setia nungguin ni Fanfic yang terancam mangkrak karena kesibukan Authornya. saya ucap beribu ribu terima kasih pada kalian semua para Followers dan Readers semua, ARIGATOOOUUUU!
Untuk Cerita selanjutnya bakal lebih berpusat ke hubungan Hinata dan Naruto yang semakin dekat karena Naruto sudah berjanji pada Hinata untuk selalu melindunginya kapanpun, dimanapun dalm keadaan apapun. *Cieeeeeee.
Nah bagi kalian yang mau kasih saran jangan sungkan untuk review atau PM karena ide kalian yang bagus bisa saja kutampung dan kutambahklan di ceritaku siapa tahu Fanfic ku ini bisa lebih menarik karena sumbangan ide dari kalian kan? hehehehehe...
Mohon Kritik dan Saran Tulis di kolom komentar ya!
Salam hangat
Author : Leopard2RI
