"KONSTATIN MOSKHOVIC!" teriak Naruto saat melihat sesosok pria yang keluar dari panser lapis baja itu.

Mendengar ia berteriak pada seorang pria yang keluar dari Panser itu sontak membuat para Tentara yang mengelilingi Naruto segera mengarahkan ujung laras senapan laras panjang mereka ke arahnya. masing masing jari mereka sudah menempel di picu senapan masing masing. siap menyalak kapan saja jika picu ditekan. sebuah hal yang sebenarnya sangat berbahaya dan tidak professional yang dilakukan oleh seorang Prajurit. namun Naruto hanya bisa berdoa, semoga saja jari dari salah satu prajurit itu tidak ada yang terpeleset saat hendak menekan picu pada senapan mereka masing masing.

"Wah, wah, wah... nampaknya anak buahku sudah menakutimu ya?" pria yang menutupi bagian atas kepalanya dengan mengenakan baret merah itu menghampiri Naruto yang masih tertegun. Konstatin Moskhovic, nama sang pria yang tadi disebut Naruto. senyum misterius perlahan merekah di wajah sangarnya, seakan akan hendak melakukan sesuatu yang tidak tidak pada Kapten Kompi Delta tersebut.

"Maaf ya, jika mereka kurang sopan.. maklum, mereka adalah Milisi lokal. kebanyakan dari Milisi – milisi ini berasal dari desa desa yang terisolir dari kawasan Kota. jadi mereka tidak pernah mengenyam bangku pendidikan tinggi."

"Tidak seperti di Amerika kan, Kapten Michael?"

Konstatin Moskhovic mengambil sebuah korek api gas dari dalam saku mantelnya. memantiknya pada sebatang rokok yang sudah nangkring di bibirnya sejak tadi.

"Apa maumu!?" ucap Naruto dengan nada tegas pada Konstatin Moskhovic.

"Mauku?" ucap Konstatin Moskhovic seolah bertanya pada dirinya sendiri. "Aku hanya ingin jalan jalan keliling kota. awalnya sih, lalu karena sutu hal iring iringan kendaraanku berhenti disini dan tiba tiba secara kebetulan salah seorang Prajuritku melihat mobilmu muncul dari arah utara, dan tentu saja sebagai pemimpin Milisi yang baik dan berbudaya aku memutuskan untuk menyapamu dsini."

"Menyapa? ini terlihat seperti sebuah penghadangan terhadap personil keamanan PBB bagiku" balas Naruto pada pria itu.

"Well...tergantung darimana kau melihatnya, Michael. setiap peristiwa selalu memiliki makna dan pemahaman yang berbeda, tergantung dari sudut pandang mana kita melihatnya bukan?"

"Terserah, sekarang biarkan aku lewat! aku buru buru sekarang. perintahkan para prajuritmu untuk memindahkan Barikade dan Panser ini dari jalan. ini jalanan umum, karena kau tidak berhak menutupnya secara sepihak. mengerti!?"

"Hei, tunggu dulu. kau terlihat buru buru sekali. padahal aku hendak menawarimu tumpangan, sekalian jalan jalan keliling kota sebentar bersamaku, naik panser ini. kau mau?" tawar Konstatin pada Naruto. telunjuk pria itu mengarah pada sebuah panser yang tadi ia naiki.

Naruto mengernyitkan alisnya. kenapa Konstatin tiba tiba menawarinya tumpangan menuju kota bersamanya? padahal Naruto dan Konstatin belum saling mengenal sebelumnya. Naruto merasa ada yang tidak beres. jika ia menerima tawaran itu, bisa saja Konstatin hendak menculiknya lalu menjadikan dirinya sebagai sandera untuk memeras Pemerintah AS agar memberikan uang tebusan sesuai yang Konstatin inginkan. lalu setelah mendapat tebusan, bukannya dikembalikan ke Kesatuannya, Naruto malah disiksa sampai mati lalu mayatnya dibuang ke lembah yang curam agar dirinya tidak bisa ditemukan oleh Pasukan Penyelamat.

Bagus! imajinasi Naruto sudah kemana mana sekarang...

"Tidak, terima kasih banyak atas tawaranmu itu. tapi aku tengah terburu buru sekarang, jadi tolong singkirkan Barikade dan Pansermu. aku mau lewat!" tolak Naruto tegas pada tawaran Konstatin.

"Kalau begitu kau juga tidak boleh melewati jalan ini, Kapten Michael..."

Konstatin menyunggingkan senyum kemenangan setelah mengatakan hal itu pada Naruto. momen itulah yang sudah ia tunggu daritadi. sementara Naruto, sedikit terkejut namun dengan cepat ia dapat mengendalikan emosinya kembali.

"Apa kau bilang? aku tidak bisa mendengarnya dengan baik. bisa tolong ulangi perkataanmu?"

"K-A-U T-I-D-A-K B-O-L-E-H L-E-W-A-T, Kapten Michael" ucap Konstatin mengulang kembali perkataannya tadi.

"HAH!? kenapa bisa begitu!?"

"Ya terserahku dong, aku yang mendirikan pos ini. jadi segala peraturan dibuat atas persetujuanku"

Konstatin melipat tangannya di depan. menantang beradu argumen dari Naruto.

"Oh begitukah.. tapi biar kuingatkan lagi tuan Konstatin, karena menurut yurisdiksi PBB no 78 ; Pihak pihak yang bertikai di dalam wilayah Penyangga Keamanan yang telah ditetapkan dan dikontrol oleh pasukan PBB tidak diperbolehkan membangun pos pemeriksaan maupun Barikade dalam bentuk apapun. dan bila melanggar maka pihak tersebut akan dikenai sanksi tegas berupa catatan Kriminal HAM pada data dirinya dan akan mendapat blacklist oleh Interpol maupun Pemerintah Negara di seluruh Dunia"

"dan kau! disini, masih berada di zona penyangga keamanan di PBB"

Kini Naruto yang menyunggingkan senyum kemengan pada Konstatin. jangan kira Naruto tak punya senjata untuk membalas. ia sudah membaca seluruh isi Yurisdiksi PBB yang terkait dengan pengendalian keamanan. jadi Naruto punya dasar hukum yang pasti dalam kegiatan menegakkan peraturan keamanan dan ketertiban di wilayah Penyangga keamanan yang dibangun PBB.

Mendengar ucapan Naruto membuat Konstatin terdiam. untuk beberapa saat ia hanya menatap Naruto dengan datar. senyuman yang tadi terlihat di bibirnya telah hilang. ia lalu berbicara dengan salah satu anak buahnya- nampaknya seorang Perwira rendah yang sedari tadi setia berada di sisinya. hanya sebentar mereka berbicara. setelah selesai berbicara dengan anak buahnya tersebut Konstatin nampak mengambil sesuatu dari tangan anak buahnya tersebut.,sebuah gulungan kertas berukuran sedang.

"Ada sesuatu hal yang mau kau katakan lagi, Tuan Konstatin?" ucap Naruto sembari tersenyum mengejek pada Konstatin.

"Tidak, aku hanya ingin meluruskan perkataanmu saja, jadi..kau bilang aku tidak boleh membangun Barikade atau pos pengawasan Militer dalam bentuk apapun kan?"

"Yup"

"Dan Wilayah yang tidak diperbolehkan membangun pos pengawasan atau barikade itu harus harus berada dalam wilayah peyangga keamanan PBB. benar begitu?"

"Tepat sekali tuan Konstatin!"

"Kalau begitu maaf sekali Kapten Michael. tampaknya kau telah berhenti di Wilayah yang salah" Konstatin membuka gulungan kertas yang ternyata merupakan sebuah peta, Konstatin menunjukkan peta itu ke arah Naruto sembari megarahkan jari telunjuknya pada salah satu bagian di Peta tersebut. Naruto menatap Konstatin dengan penuh tanda tanya. dengan segera ia melangkah maju dan melihat secara lebih jelas arah telunjuk jari Konstatin pada peta yang ia tunjukkan itu.

"Aku tidak mengerti apa maksudmu, kenapa kau memperlihatkan peta ini padaku?"

"Liat arah jari telunjukku, Kapten. karena disitulah posisimu berada saat ini"

Naruto kembali memperhatikan arah jari telunjuk Konstatin pada peta itu, tentu dengan lebih teliti dari seblumnya. tak butuh waktu lama sebelum ia menyadari sesuatu. suatu kesalahan fatal yang telah ia buat sendiri. matanya memandang tak percaya pada Konstatin. orang ini benar benar cerdik, ia bahkan bisa mengelabuhi Naruto. padahal Naruto sudah berkali kali memeriksa peta daerah operasi tempurnya, memperhatikan rambu peringatan dan sebagainya. tapi kali ini ia kecolongan...

"I-ini tidak mungkin.."

"Huh, apa ada yang salah Kapten? kau terlihat panik sekali..."

Naruto menggelengkan Kepalanya lalu menatap Konstatin dengan tatapan Horor "Tidak, tidak mungkin, mana mungkin aku bisa seceroboh itu dengan menerobos Zona Demiliterisasi PBB dan mengemudi menuju ke Wilayah kekuasaan kalian!?"

.

.

.

.

"-Jadi begitulah sejarah kota ini, Kapten Michael. dengan tekad kuat dan keberanian pendahulu kami Kota ini dapat berdiri megah. tapi para Kapitalis Brengsek di Kiev itu menghancurkan semuanya. benar benar kurang ajar...!"

Naruto memandang Konstatin dengan tatapan datar. sesekali ia menguap saat Konstatin bercerita kepadanya tentang sejarah Kota Donestk mulai dari zaman Uni Soviet sampai Negara Ukraina berdiri hingga jadi wilayah sengketa ia ceritakan dengan semangat menggebu gebu pada Naruto. walaupun Naruto sendiri tidak minat mendengarkan cerita Konstatin, namun ia memaksakan telinganya untuk tetap mendengarkannya.

"Apa kita sudah sampai?" tanya Naruto pada Konstatin di sela sela ceritanya. sudah 2 jam ia diajak "nebeng" oleh sang komandan Milisi itu menuju kota Pisky dengan mengendarai Panser Lapis baja milik milisi pimpinan Konstatin.

Yah.. Naruto terpaksa ikut nebeng bersamanya karena ia terbukti telah menerobos zona demiliterisasi, maka ia harus menuruti syarat yang diajukan oleh Konstatin bila ia ingin menuju kota Pisky- kota tujuan Naruto, ia harus naik Panser milik Milisi pimpinan Konstatin yang akan mengantarnya menuju Kota Pisky sedangkan Humvee dinas milik Naruto yang ia kendarai sebelumnya mengikut Panser yang ia tumpangi dari belakang dengan dikendarai oleh salah satu anak buah Konstatin.

"Brengsek! bisa bisanya aku seceroboh itu, menerobos zona demiliterisasi sehingga membuatku terjebak bersama orang orang ini. benar benar suatu kebetulan yang menyebalkan."

Konstatin menghisap batang rokoknya perlahan lalu menghebuskan asapnya perlahan. "Oh ayolah, bersabarlah sediki, lagipula ceritaku belum selesai tahu. kau harusnya mendengarkan ceritaku sampai akhir, Kapten..!"

"Well.. Aku hanya ingin cepat sampai ke Kota Pisky dan segera keluar dari dalam Panser bututmu ini. Demi Tuhan, aku berani bertaruh jikanHumvee milikku jauh lebih bagus dan lebih bersih daripada panser milikmu ini"

"Kau mengejekku..!?" merasa tersinggung dengan ucapan Naruto, Konstatin membuang puntung rokoknya ke tempat sampah disamping tempat duduknya. "Kau tidak lihat betapa mewahnya interior dan fasilitas Panserku ini, HAH!? ada Speaker, ada TV, ada Aquarium, Kulkas, dan persediaan Wine yang tak ada habisnya! memang Humvee mu punya semua barang ini? aku bahkan yakin kalau fasilitas kantormu di Amerika tidak semewah fasilitas yang tersedia di Panserku ini"

Naruto hanya diam. memtuskan tak membalas perkataan Konstatin. ia hanya melirik jam tangannya sedari tadi. sudah jam 9 pagi dan ia harus kembali ke markas maksimal jam 3 siang. jika Konstatin terus membuang waktunya disini maka waktu cuti sehari miliknya yang berharga akan terbuang sia sia. jika itu terjadi maka yang Naruto bisa lakukan hanyalah mengucapkan selamat tinggal pada cuti liburan setengah hari miliknya yang indah...

"Ngomong ngomong..." Konstatin kembali menatap Naruto dengan tatapan penasaran. kedua bola matanya memperhatikan Naruto mulai dari bagian ujung atas Kepala hingga ujung kaki dengan penasaran. membuat Naruto sedikit risih dibuatnya. " Kau ini blasteran ya? wajahmu seperti orang Asia tapi penampilan fisikmu seperti para 'Yankee' pada umumnya. apa orang tuamu berbeda ras dan suku?" sambung Konstatin lagi- sembari masih menatap Naruto dengan penasaran.

"Kenapa kau bertanya seperti itu? memang ada masalah jika aku blasteran?"

"Tidak, aku hanya penasaran saja... jarang jarang aku melihat orang Amerika dengan wajah khas orang Asia. eehhhmmm... oke, biar kutebak, Ibumu pasti orang China kan?" tebak Konstatin.

"Salah"

"Kalau begitu... orang Korea!"

"Salah..."

"Oh, aku tahu, pasti... orang Filipina!"

"Salaaaahhhh..."

"Ish, kalau begitu darimana ya? AH...! pasti kali ini aku benar, Ibumu pasti... orang Vietnam kan!? betul ti-

"SALAAAAAHHHHH, IBUKU ITU ORANG JEPANG, BRENGSEK..! PUAS KAUUU...!? SEKARANG BERHENTI BERTANYA SOAL DIRIKU, IBUKU, ATAU HAL HAL ABSURD LAINNYA DAN SEGERA ANTARKAN AKU KE KOTA PISKY, APA KAU MENGERTIIII!?"

Bentakan Naruto sukses membuat Konstatin terdiam. Kabin Panser yang awalnya sempat ramai tiba tiba senyap tanpa suara. kali ini emosi Naruto benar benar sudah sampai batasnya. ia sangat jengkel dengan Konstatin yang mempermainkannya dengan syarat syarat aneh agar ia bisa lewat menuju kota Pisky, hingga menanyakan hal hal yang sangat tidak nyambung dan tidak penting seperti keturunan, hobi, Orang tua dan hal hal tidak penting lainnya padanya.

Hening beberapa saat. Konstatin tidak lagi bertanya maupun berbicara pada Naruto. ia sekarang sibuk menghabiskan batang rokok miliknya yang sedari tadi ia hisap. keheningan itu berlangsung cukup lama. Naruto menghembuskan nafasnya pelan, Konstatin tidak lagi bertanya atau mengobrol lagi dengannya dan sudah 2 jam perjalanan namun mereka belum sampai juga ke Kota Pisky. Bosan, itu yang Naruto rasakan sekarang. hal yang Naruto bisa lakukan saat ini untuk mengusir kebosanan adalah melihat pemandangan di luar panser melalui kaca jendela anti peluru yang terletak persis di samping kanan kepalanya.

Reruntuhan bangunan, jalan yang rusak, bangkai kendaraan dan juga aspal sepanjang jalan raya yang telah berlubang dan rusak menjadi pemandangan utama yang ia lihat di sepanjang jalan raya menuju kota Pisky. ironisnya pemandangan seperti itu tidak hanya ia lihat di satu wilayah saja, namun hampir di semua wilayah yang sudah ia kunjungi selama seminggu berdinas di Ukraina. kota Donestk mungkin adalah yang terparah baginya karena disana masih sering terjadi kontak senjata maupun jual beli tembakan Artileri di sepanjang garis demarkasi kedua belah pihak baik dari pihak Militer Ukraina maupun Pemberontak.

"Haaaahhhh... sayang sekali, tidak ada hal menarik untuk yang bisa dilihat disekitar sini" Naruto hendak berhenti melihat pemandangan di luar sebelum iris Sapphire miliknya melihat suatu bangunan aneh yang sangan berbeda dari bangunan lain di sekitarnya. bangunan itu seperti sebuah gedung raksasa, uniknya gedung itu memiliki atap berbentuk setengah lingkaran layaknya stadion sepak bola hanya saja menutup dengan sempurna. di sekitar gedung 'aneh' juga terdapat beberapa menara pengawas yang berdiri mengelilingi sekitar gedung raksasa tersebut. nampak seperti sebuah kompleks atau area bangunan tertentu dengan barisan rapat dari pepohonan pinus yang menutupi bagian pinggir area bangunan hingga jalan raya sehingga pemandangan kompleks bangunan tersebut hampir tidak terlihat dari arah jalan raya dimana Naruto berada. kecuali puncak bangunannya saja. selain itu letak bangunan yang berada di daerah perbukitan dan tertutup kabut juga membuat Naruto kesulitan mengetahui bentuk dari bangunan itu secara spesifik.

"What the hell.. bangunan apa itu?" ucap Naruto pelan, bertanya pada dirinya sendiri.

"MISTSE PROKLYATTYA ( Tempat kutukan) ..." jawab Konstatin tiba tiba padahal ucapan Naruto cukup peln dan hanya dapat didengar olehnya sendiri.

"Apa?"

"Tempat itu, Bangunan yang sedari tadi kau perhatikan bernama mistse proklyattya- yang berarti tempat terkutuk. penduduk daerah di sekitar sinilah yang memberi nama tadi pada wilayah di sekitar bangunan yang sekarang kau lihat itu." balas Konstatin singkat pada Naruto.

Secara kebetulan Panser yang mereka tumpangi bergerak melewati jalan raya yang mendekat ke arah bangunan yang dimaksut. sekarang Naruto bisa sedikit melihat lebih jelas wujud bangunan yang tampak seperti sebuah pabrik besar tersebut

"Bangunan apa itu? dan.. kenapa penduduk daerah sini menyebut bangunan itu dengan sebutan tempat terkutuk?' tanya Naruto.

Konstatin diam sejenak, menyesap rokok terakhir yang nyalakan kemudian menaruhnya di asbak yang ada di atas meja sebelum melanjutkan penjelasannya. "Sampai sekarang, kami masih belum tahu fungsi dan siapa sebenarnya pemilik bangunan-bangunan itu..., tapi untuk sebutan 'tempat terkutuk' dari penduduk setempat untuk bangunan tersebut, tentu ada kisah dan penjelasannya tersendiri"

Naruto membenarkan posisi duduknya. ia menatap Konstatin dengan serius. sementara Konstatin sempat terkekeh kecil melihat perubahan ekspresi Naruto tadi. namun ia juga memasang ekspresi serius berhubung karena ia akan menceritakan sejarah dan cerita mengenai bangunan yang sedikit misterius dan 'menakutkan' itu bagi Konstatin sendiri.

"Yaahh, ini semua berawal pada tahun 1972" ucap Konstatin "Waktu itu daerah ini belum masuk bagian dari kota Pisky, melainkan menjadi semacam daerah unit otonomi khusus Desa karena dulunya daerah ini menjadi daerah penghasil gandum terbesar di Ukraina. sehingga pemerintah memperbolehkan desa ini memiliki sistem administrasi keuangan dan hukum sendiri asal tidak menyalahi Undang Undang yang ditetapkan oleh Moskow saat itu"

"Tempat itu sendiri mulai dibangun pertama kali pada tahun 1973, lalu rampung pada tahun 1979. awalnya pihak kontraktor dan Pemerintah Soviet bilang bahwa bangunan itu merupakan pabrik pengolahan gandum yang sengaja dibangun disitu untuk memudahkan akses produksi sereal dan biskuit gandum nasional, yang mana 60% produksi gandum untuk bahan baku pembuatan biskuit dan sereal di negara bagian Republik Sosialis Soviet Ukraina berasal dari desa ini"

Naruto mendengarkan dengan serius cerita soal tempat 'terkutuk itu' walau tadi ia ogah ogahan mendengarkan cerita konstatin namun kali ini berbeda. karena cerita yang konstatin ceritakan kali ini tampaknya lebih menarik karena dibalut dengan misteri dan konspirasi- entahlah itu benar atau Naruto tak peduli.

"Masyarakat tentu senang, karena jika pabrik itu memang merupakan pabrik gandum maka masyarakat tidak perlu lagi mendistribusikan hasil panenannya ke kota. dan tentu saja ini menaikkan taraf ekonomi masyarakat karena akan semakin menghemat biaya distribusi dan hasil panen dapat diperbanyak" lanjut Konstatin lagi.

"Bisa kau ceritakan intinya langsung?" Naruto menyela cerita Konstatin. membuat yang bersangkutan menampilkan ekspresi wajah kesal karena ceritanya diinterupsi.

"Ya-ya.. dasar tidak sabaran" keluh Konstatin. " aku lanjutkan, pada malam hari lebih tepatnya 23 November 1979-seminggu setelah bangunan itu dinyatakan operasional. beberapa orang Petani dari desa ini mencoba mengirimkan hasil panenannya ke pabrik itu. mereka sengaja mengrimkannya pada malam hari karena esok ada parade Budaya tahunan di Kota Pisky yang mana juga merupakan hari libur Nasional. jadilah mereka berangkat ke pabrik dengan mengendarai truk penuh berisi gandum"

"Namun mereka tidak pernah kembali" entah kenapa nada Suara Konstatin berubah menjadi berat ketika menceritakan bagian ini. "Warga desa menunggu kepulangan mereka selama 2 hari, 3 hari, 4 hari bahkan seminggu. namun mereka tidak kunjung kembali ke desa. kami lalu melaporkan ke Polisi Daerah bahwa para petani itu menghilang. esoknya 7 anggota Kepolisian Daerah lalu datang dan menanyakan kemana para petani terakhir terlihat atau terakhir pergi, warga desa lalu menjawab jika para petani itu terakhir terlihat pergi ke pabrik gandum untuk menyetorkan hasil panen mereka"

"Apa mereka berhasil menemukan petani petani malang itu" tanya Naruto pada Konstatin.

Konstatin menghembuskan nafasnya pelan. "Sayangnya tidak, ironisnya para anggota polisi dan beberapa warga yang ikut pergi ke pabrik gandum untuk mencari para petani itu justru ikut menghilang juga. kejadian itu membuat masyarakat waktu itu panik sekali. saking paniknya kamipun sampai melaporkan hal ini pada pihak Militer setempat. dan besoknya mereka merespon dengan mengirimkan 1 kompi tentara bersenjata lengkap dengan 2 unit panser untuk pergi ke pabrik gandum itu"

"Lalu?" tanya Naruto lagi. ia merasa bahwa Militer pasti bisa menangani masalah yang terjadi di pabrik gandum itu. secara mereka militer dan mereka yang pegang senjata. masalah itu pasti beres di tangan mereka.

Konstatin tersenyum getir pada Naruto " sialnya para Tentara itu juga ikut menghilang. namun sebelum mereka menghilang atau dinyatakan hilang. kami sempat mendengar rentetan tembakan dari arah pabrik gandum itu. entah siapa yang menembak namun kami yakin bahwa telah terjadi sesuatu disana. anehnya beberapa perwira Militer datang ke desa kami pada esok harinya dan meminta kami untuk tidak pernah mendekat ke pabrik gandum itu lagi- mereka bilang bahwa telah terjadi pemberontakan di pabrik itu dan pihak Militer tengah menanganinya. mereka menyuruh kami untuk tetap di rumah dan berjaga jaga. namun sampai sekarang belum ada kabar jelas mengenai orang orang yang hilang di tempat itu.

Naruto mengernyitkan dahi. bahkan anggota Militer juga ikut menghilang? apa apaan itu!? apakah pemberontak di komplek pabrik itu memang terlampau kuat sehingga Polisi dan 2 kompi anggota tentara Soviet mampu mereka kalahkan. dan kalau memang cerita Konstatin ini benar berarti memang tempat itu pantas dinamakan tempat terkutuk- karena setiap orang yang berusaha menerobos area pabrik itu semenjak diresmikan akan menghilang, bahkan pihak militer sekalipun.

"Kita hampir sampai.." ucap Konstatin seraya menunjuk salah satu papan penunjuk arah yang menunjukkan jalur menuju kota Pisky dan kota Spartak.

"Syukurlah.." ucap Naruto sembar mengelus dadanya. ia melihat ke arah luar panser melalui kaca jendela. dilihatnya sebuah gapura besar dengan Tulisan Ukraina besar di atasnya. kalau tidak salah arti tulisan itu adalah 'SELAMAT DATANG DI KOTA PISKY/UKRAINA' .

"Kau mau turun dimana Michael? apa kau mau turun disini?" tanya Konstatin pada Naruto. Panser yang mereka tumpangi mulai bergerak perlahan menyusuri kota. suasana kota cukup ramai karena ini masih jam 10 pagi, namun tidak terlalu ramai untuk ukuran sebuah kota. lalulintas kendaraan juga tidak terlalu padat sehingga panser yang mereka tumpangi masih bisa meliak liuk di jalanan dengan lancar tanpa hambatan.

"Ah.." Naruto termangu sejenak memikirkan dimana ia akan turun dan melanjutkan perjalanan menggunakan Humvee. sempat terpikir akan turun di alun alun kota, namun seorang anggota Militer turun di pusat keramaian di daerah konflik agaknya bukan keputusan yang bijaksana. tapi dimana tempat yang cocok untuk ia turun ya?

"Ah, apa kau tahu Gereja Katholik Santa Maria?" tanya Naruto pada Konstatin yang tengah menyesap sebatang rokok miliknya.

Orang ini memang perokok akut, entah sudah berapa batang rokok yang ia habiskan dalam tempo waktu 2 jam saja. Naruto jadi kasihan sama kesehatan paru paru orang ini.

"Tahu, kau mau turun disana?"

"Ya" jawab Naruto pendek.

Panser kembali bergerak. kali ini menuju Gereja Santa Maria sesuai permintaan Naruto. karena Naruto tidak tahu jalan menuju kesana maka ia memasrahkannya pada Konstatin. ia sudah bisa mulai percaya pada orang ini walaupun sedikit. setidaknya Konstatin tidak berniat mencelakakannya walupun cara yang ia gunakan untuk mengajaknya naik panser bersama terkesan Kurang ajar.

Omong omong soal Gereja Santa Maria, Naruto sendiri tidak punya alasan khusus ketika memutuskan untuk meminta diturunkan di Gereja itu. selain karena ia pernah ke Gereja itu saat Humvee mengenai ranjau sebelumnya dan menjadi momen pertama kali ia mengenal dan bertemu Hinata. gadis cantik itulah yang menolongnya dan Kiba saat mereka membutuhkan tempat perlindungan di Gereja tersebut sebelum mereka dijemput oleh pasukan bantuan. rasanya Naruto dan Kiba punya hutang budi ke Hinata namun mereka belum bisa membalasnya.

Berbicara mengenai Hinata membuat ia semakin penasaran tentang gadis bermanik lavender itu. apa hobinya, makanan kesukaannya atau apakah ia sudah punya pacar? ah, sial kenapa Naruto jadi berpikiran seperti itu. lagipula apa haknya mengetahui kehidupan pribadi Hinata. toh ia bukan siapa siapanya Hinata. teman saja bukan. hubungan mereka hanya sebatas partner kerja. Naruto adalah tentara sedangkan Hinata merupakan tenaga pengajar. tugas Naruto adalah mengawal Hinata saat kegiatan pendidikan berlangsung. itupun saat mereka berdua bertugas bersama sama di desa yang sama yaitu desa Pichev.

"Aaahhh, Hinata..." ucap Naruto dalam hati

"Hei, kita sudah sampai. maaf kami tak bisa mengantarmu sampai ke depan Gereja karena kami juga sedang buru buru" ucapan Konstatin membuyarkan lamunan Naruto tentang Hinata.

"Wah, sudah sampai ya?" Naruto melogokkan kepalanya untuk menengok ke arah luar. benar, puncak gereja nya juga sudah terlihat. Naruto segera bangkit dari tempat duduknya hendak keluar dari panser yang ia tumpangi ini. namun sebelum ia keluar Konstatin memegang tangan Naruto erat, mencegahnya untuk keluar dari panser itu.

"Hei, apa apaan sih, lepaskan tanganku!?"

"Bayar dulu dong, kau pikir naik panseritu gratis, HAH!" ucap Konstatin pada Naruto sembari memegang erat pergelangan tangan pemuda pirang itu.

"Ogah, kan kau yang mengajakku naik panser ini. itu berarti aku tidak perlu bayar" balas Naruto tak kalah sengit.

"Pemikiran darimana itu? yang jelas kau harus bayar karena sudah kuantar ke kota Pisky naik panserku!" Konstatin masih ngotot dengan pendiriannya kalau Naruto harus bayar ongkos naik panser miliknya.

"Astaga orang ini, memang berapa jumlah ongkos yang harus kubayar padamu, ha?"

"1000$ saja deh, itu saja sudah discount lho. sekarang cepat bayar!"

"Dasar gila, kau mau merampok ku ya!? enak saja menyuruhku bayar 1000 dollar Cuma karena nebeng ke kota naik panser bututmu ini. tak sudi aku membayarmu"

"HAHAHAHA, bercanda bercanda. kau ini orangnya serius sekali sih! tidak usah bayar. justru aku yang harusnya berterimakasih padamu karena kau mau ikut bersamaku naik panser ini ke kota Pisky. sekalian berkenalan lebih dekat denganmu" Konstatin tertawa lepas menaggapi protes dari Naruto. wajahnya menampakkan senyum lebar karena tertawa lepas. senyum yang agak kontras dengan perawakan wajahnya yang seram.

"Cih, bercandaanmu tidak lucu"

Setelah berpamitan dengan Konstatin, Naruto segera turun dari panser yang ia tumpangi tadi dan bergegas menuju Humvee miliknya yang sedari awal mengekor dibelakang panser yang ia tumpangi. salah seorang anak buah Konstatin sudah bersiap disamping Humvee untuk menyerahkan kunci kendaraan perintis itu pada Naruto.

"Thank you, Private" ucap Naruto pada prajurit itu sebagai ucapan terimakasih. prajurit hanya mengangguk kemudian pergi masuk ke dalam Panser yang Naruto tumpangi tadi. meninggalkan Naruto sendirian bersama Humveenya.

"Hoi, Michael!" teriak Konstatin memanggil Naruto. kepalanya ia julurkan keluar dari jendela panser agar bisa melihat Naruto.

"Ada apa!?"

"Ingat pesanku ini ; Jangan pernah percaya pada pihak manapun yang mengatasnamakan rakyat di perang ini! kau paham!?" jelas Konstatin pada Naruto dengan suara lantang

Naruto hanya menatap Konstatin dengan tatapan heran. namun ia mengacungkan jempolnya sebagai tanda mengerti. Konstatin menyunggingkan senyumnya ketika melihat acungan jempol Naruto padanya dan segera meninggalkan tempat itu dengan menaiki panser miliknya. Panser itu sempat mebunyikan klakson nya 2 kali sebagai ucapan perpisahan pada Naruto sebelum pergi meninggalkan tempat itu.

"Apa maksut perkataannya tadi ya?" tanya Naruto pada dirinya sendiri.

"Bodo ah, lebih baik aku segera pergi ke Gereja sebelum Hinata pergi." Naruto menaiki Humvee dinasnya dan segera melaju menuju Gereja Santa Maria yang berjarak 100 meter dari tempat ia turun tadi.

Sesampainya disana ia segera memarkirkan Humvee nya di halaman depan Gereja. lalu segera dengan langkah mantap melangkah menuju pintu masuk menuju Gereja. tentu saja mengetuk pintu terlebih dahulu meminta ijin untuk masuk. ia bukan tipe manusia yang seenaknya masuk ke rumah atau bangunan milik orang lain tanpa izin. ibunya sudah cukup banyak memberi Naruto pendidikan sopan santun khas orang Asia, karena ibunya orang Asia tentu saja.

'DOK, DOK, DOK..'

"Permisii... apa ada orang?" panggil Naruto dengan nada suara agak tinggi agar bisa didengar oleh orang yang ada di dalam Gereja. namun sudah 2 menit ia menunggu. belum ada satupun orang yang keluar untuk membukakan pintu.

"Apa tidak ada orang ya?" ucap Naruto entah pada siapa. namun cukup aneh bila pagi pagi begini (Naruto orang Amerika, jadi wajar kalau dia bilang jam 10 itu masih masuk pagi pagi) tidak ada orang sama sekali. bukankah ada Hinata, Pastor Vladimir dan Suster Anna juga anak anak asuh yang tinggal disini? apa mereka semua pergi jalan jalan ke suatu tempat ya?

"Sudah 10 menit berlalu, tak ada jawaban, lebih baik aku pergi saja. besok aku datang lagi. mungkin mereka memang sedang pergi jalan jalan bersama"

Naruto mengeluarkan kunci Humvee nya. hendak pergi meninggalkan area Gereja. ia sudah pergi beberapa langkah menjauh dari pintu Gereja.

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHH...!"

"Suara apa itu?" Naruto menolehkan kepalanya ke arah pintu Gereja. ia bersumpah mendengar teriakan dari dalam Gereja. namun ia tidak bisa memastikan suara teriakan siapa itu.

"KYAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHH...!"

"Tunggu, itukan suara-

"HINATA!" Dengan sigap Naruto berbalik berlari menuju pintu Gereja. dan dengan brutal menggedor pintu Gereja agar Hinata bisa mendengar suaranya.

"HINATA, HINATA.. BUKA PINTUNYAA! APA YANG TELAH TERJADI DI DALAM!?"

Nihil, tak ada jawaban dari Hinata maupun orang lain dari dalam Gereja.

"Sial" umpat Naruto. ia memutuskan untuk mendobrak pintu Gereja itu. dengan segera ia menedang pintu Gereja itu dengan sekuat tenaga hingga pintu yang terbuat dari kayu Oak itu rubuh.

"HINATA! KAU DIMANA!?" Naruto mengeluarkan Pistol Beretta M9 milknya dari sarung pistolnya dan segera masuk kedalam Gereja. matanya dengan jeli memperhatikan sekeliling ruangan. mengantisipasi serangan mendadak dari musuh dan menari Hinata. ruang Misa sudah aman. ruang Tamu sudah aman. namun ada satu ruangan dekat ruang tamu yang belum Naruto periksa. yaitu dapur.

"Hinata, kau disitu?"teriak Naruto memanggil Hinata sambil mengarahkan pistolnya ke arah dapur yang terlihat kosong. namun ia tidak menyerah begitu saja. dengan hati hati sembari mengacungkan Pistol milikna ke depan. ia lalu memeriksa seluruh bagian dapur itu dengan teliti. termasuk kolong meja dan sebagainya namun tidak ada siapa siapa. termasuk Hinata.

"Dimana dia? aku yakin teriakan itu adalah teriakan Hinata"

'SREK, SREK, SREK' suara dari Lemari di pojok dapur.

"Kenapa lemari itu nampak bergerak ?"

Perhatian Naruto tertuju pada lemari berukuran besar yang terletak di pojok dapur. ia sempat melihat lemari itu bergerak gerak. seperti ada orang di dalamnya. Naruto mengokang pistolnya perlahan. dengan langkah senyap ia mendekati lemari besar itu. tangannya sudah memegang pegangan pintu lemari itu. pistol sudah ia arahkan. jika itu musuh tinggal buka dan tembak saja.

"Ok, tenang Naruto kendalikan dirimu,ayo buka dalam hitungan 1..

"2...

"3...

"BRAAAAAKKKKK..."

"JANGAN BERGERAK!"

.

.

.

.

TBC