"Misi evakuasi VVIP...?"

Suara Baritone menggema di ruangan Kakashi. ruangan yang merupakan kantor sekaligus rumah keduanya selama ia bertugas memimpin unit Ranger dalam misi perdamaian Ukraina kini ditempati 3 orang termasuk dirinya sebagai pemilik ruangan.

2 orang lain yang hadir di ruangan itu adalah Naruto dan Kiba. kedua orang Perwira Ranger dan anak buah Kakashi itu hadir disana atas perintah atasan mereka tersebut.

"Selamat nak! cerita saat berhadapan dengan pasukan Pemberontak di rapat satuan tadi berhasil membuat Letkol Harold kagum dengan kompimu" Puji Kakashi pada mereka berdua.

Keduanya saling berpandangan dengan tatapan bingung.

"Tapi saya tidak mengerti, kenapa hanya kompi Delta yang dikirim kesana?"

Kakashi beranjak dari kursi dan berjalan ke sebuah rak yang ada di pojok ruangan, mengambil sebuah map dan kemudian kembali ke meja tempat mereka bertiga berdiskusi. secarik kertas ia ambil dari Map dan ia perlihatkan pada 2 orang di depannya itu.

"Tidak mungkin..." Naruto melihat isi kertas itu dengan tatapan tak percaya. "Kau serius?"

Kiba sama terkejutnya dengan Naruto saat melihat isi kertas itu.. bagaimana mereka tidak terkejut? berita mengenai aksi mereka saat berada di desa Pichev muncul di sebuah halaman surat kabar lokal yang Kakashi sekarang tunjukkan, lengkap dengan sebuah foto yang menangkap belasan anggota Ranger sedang mengamankan sebuah perimeter. diantara para Ranger itu ada Naruto yang berdiri di baris paling depan sebagai komandan kompi seraya mengatur anak buahnya.

"Lalu apa hubungannya dengan operasi ini dan aksi kami di Pichev?"

Kakashi menatapnya dengan malas. "Battalion menganggap Kompimu adalah Kompi paling berpengalaman diantara unit-unit tempur AS dan Italia yang lain karena aksimu disana."

"Juga kau berhasil mencegah jatuhnya korban sipil dan Militer saat kejadian itu. Battalion menganggapnya sebuah prestasi untuk ukuran Kompi yang baru pertamakali di terjunkan ke Medan operasi"

"Harusnya kau bersyukur. siapa tahu kau bisa naik pangkat lebih cepat kan? memimpin Battalion di usia muda seperti Ayahmu dulu dan menggusurku dari sini?"

Namun Naruto tak menanggapi candaan penuh satir Kakashi padanya. ia memilih menuntut penjelasan lebih atas misi yang bakal ia emban.

"Misi macam apa ini, Mayor?"

Kakashi kembali bangkit dari kursinya. namun kali ini ia mengajak 2 anak buahnya menuju meja lain yang ada di ruangan itu. meja ini adalah meja tempat ia dan Perwira S-2 ( Inteligen ) melakukan koordinasi terpisah antar satuan dan melakukan Briefing singkat untuk misi-misi independen yang dilakukan satuan Ranger. meja itu penuh dengan dokumen, peta daerah operasi berukuran A1 dan juga beberapa miniatur pasukan sebagai pion atau penanda daerah gerak maju Operasi.

"Sebaiknya kau baca Arsip ini"

Kakashi melempar sebuah arsip dokumen dan sebuah album tebal ke arah Naruto dan Kiba. arsip itu berhasil ditangkap Naruto. namun tidak dengan Album. dengan tangkas dan cermat ia berhasil menundukkan kepalanya agar album itu tak menghantam wajahnya.

Yang kemudian malah menghantam wajah sahabat sekaligus anak buah yang berada di sampingnya.

Setelah memastikan wajah Kiba masih utuh ia segera membuka lembaran arsip itu dengan seksama. membacanya dengan seksama hingga point terakhir. iris Sapphire nya fokus mencerna setiap kata yang terdapat di arsip setebal 4 halaman itu.

"Inikan arsip yang isinya sama persis seperti yang kau terangkan di rapat bersama tadi?" kata Naruto ketika ia menyadari sesuatu yang ganjil pada arsip yang Kakashi berikan padanya. "Arsip ini isinya soal misi kita besok mengangkut pasokan bantuan makanan untuk pengungsi, bukan misi Evakuasi VVIP seperti yang kau bilang.

Kakashi menyunggingkan senyum pada Naruto.

"Justru itulah misi yang sesungguhnya Naruto.."

Kiba menggaruk belakang kepalanya. ia masih tidak paham maksut dan arah pembicaraan antara Mayor Kakashi dengan Naruto.

Kakashi menggelengkan kepala. sudah sepatutnya ia tidak mempersulit pemahaman Kiba dan Naruto pada misi ini dengan bahasa berbelit-belit.

"Arsip yang kau baca itu adalah misi pengalihan yang Markas buat untuk disuguhkan pada para Wartawan dan dunia Internasional.."

"Dengan kata lain, misi mengantar Pasokan makanan hanya alibi agar misi kita yang sesungguhnya tidak ketahuan"

Naruto mengangguk paham tanda mengerti. lalu Kakashi melemparkan sebuah dokumen lagi pada Naruto yang langsung ia tangkap dengan tangan kanan.

"Detail misi sesungguhnya yang akan kau lakukan ada di Dokumen itu..."

"Baca dengan baik dan lakukan Briefing pada anak buahmu, kalian akan langsung berangkat besok malam"

Naruto tersenyum lebar sambil memegang Dokumen di tangannya. ia menoleh pada Kiba dan menunjukkan Dokumen itu. yang kemudian dibalas Kiba dengan tatapan girang.

"Akhirnya kau mempercayakan misi penting padaku, Paman.."

Kakashi berjalan mendekati Naruto. Surai pirang Pria itu ia acak perlahan. mata sayu nya menatap pria yang sudah ia anggap anaknya sendiri itu dengan bangga.

Seperti Dejavu. ia seperti melihat sosok komandan kompinya dulu pada diri Naruto.

"Jangan buat aku menyesal memberikan misi ini padamu.." ucap Kakashi penuh penekanan. kedua tangannya memegang bahu Naruto. menatap kedua iris Sapphire itu tegas.

"Jangan buat dirimu terbunuh, kau tahu apa yang akan Ibumu lakukan padaku jika kau sampai mati disini kan?"

Kiba dan Naruto tertawa pelan.

"Tentu saja..." Naruto balik menatap Kakashi dengan sorot mata penuh keyakinan. tangannya mengepalkan tinju keatas. "Aku akan menyelesaikan misi ini dengan baik dan sempurna!!"

Keduanya lalu memberikan hormat pada Kakashi dan meminta ijin undur diri dari ruangan.

Kakashi mengangguk dan membalas hormat mereka. kedua pria itu kemudian berjalan keluar sambil bersorak kegirangan, membuat Kakashi tak bisa menyembunyikan ekspresi geli saat melihatnya.

Pintu tertutup. meninggalkan Kakashi sendirian disana. ia lalu kembali duduk di kursi kantornya dan mengadahkan kepala keatas. mengambil nafas dan memejamkan mata.

"Anak anda sudah besar, Kolonel.." gumamnya pelan.

Dan malam itu ia habiskan untuk menyiapkan persiapan operasi besok malam. sekaligus menyusun laporan pada Pentagon, bahwa personel militer AS sudah siap untuk melaksanakan misi penjemputan sandera.

"Pak, bangun.."

Teguran seseorang yang berada di sampingnya membangunkan Naruto dari tidur singkatnya yang lelap. matanya yang sayu ia kerjap kerjapkan agar penglihatannya bisa kembali membaik setelah sempat kabur karena terlalu lama terlelap dalam tidur. ia lalu menoleh memperhatikan orang yang membangunkannya barusan.

Orang itu mengenakan seragam tempur dan membawa tas serta senapan yang ia kalungkan di pundak. Naruto mengenal orang itu, namanya Prajurit Satu Twombly. anggota Kompi satu seksi senapan mesin di bawah komando tempurnya.

"Kita sudah hampir sampai, 5 menit lagi menuju Landing Zone..!!" sebuah suara lain terdengar oleh indera pendengarnya. suara itu berasal dari Gunner senapan mesin Helikopter pada para anggota Ranger. meminta mereka untuk segera bersiap karena Helikopter akan tiba sebentar lagi.

Naruto tak membuang waktu. ia segera menyusun tasnya yang sedikit berantakan. Senapan yang ia taruh di samping kursi selama tidur ia kalungkan pada pundaknya. Alat komunikasi jarak jauh yang terpasang di pundaknya ia sambungkan lagi. tak lupa ia memakai Helm tempur di kepalanya sebagai perlindungan tambahan sekaligus penyambung nyawa di medan pertempuran.

Gemuruh suara rotor Helikopter yang saling bertabrakan dengan udara terdengar dari luar. Naruto melonggokan kepala pada sebuah Jendela di dekatnya. dari situ ia bisa melihat pemandangan kota di bawah sana.

Cahaya lampu perkotaan terlihat dari atas Helikopter yang mereka tumpangi. memang Cahaya yang terlihat tidak seterang cahaya di kota Seattle apalagi New York. tapi untuk pasukan tempur elit seperti dia yang ditugaskan menyusup ke sebuah kota yang ada di dalam wilayah musuh tetap saja kota itu ia rasa terlalu ramai.

Sudah 2 menit berlalu. Helikopter yang mereka tumpangi semakin menurunkan ketinggian hingga beberapa puluh meter. beberapa Prajurit menatap ngeri pada deretan pepohonan yang jaraknya hanya sepersekian kaki dari tubuh Helikopter. turun sedikit lagi saja maka Helikopter mereka akan menabrak dahan dahan dan batang pohon raksasa itu.

"Ya Tuhan..!!"

"Jangan takut! kami pernah melakukan hal yang lebih gila dari ini!!" seolah membaca pikiran para prajurit yang ketakutan. seorang Gunner senapan mesin di pintu samping Helikopter memberi semangat pada para anggota Ranger.

Naruto tertawa kencang. membuat para anak buahnya dan kru Helikopter memandangnya heran.

"Kalian dengar tadi?" Naruto mengulangi ucapan kru Gunner yang tadi menyemangati mereka. "Dia yang setiap hari berada di atas sini saja tidak takut. kenapa kita yang baru pertamakali kesini harus takut??!!!"

Beberapa Prajurit terdiam. beberapa diantaranya menundukkan kepala.

Benar, kenapa mereka harus takut? jika seorang Kru Helikopter yang tidak dilatih untuk menyerang musuh secara langsung dan bertempur di darat saja tidak merasa takut pada musuh. kenapa mereka, Ranger. harus takut pada pepohonan yang bahkan tidak bisa menyerang mereka?

"1 MENIT!!"

Helikopter angkut itu mulai menurunkan ketinggian hingga tersisa beberapa puluh meter dari tanah. para prajurit Ranger di dalam sudah berdiri dari seat mereka. seluruh perlengkapan dan Senapan yang mereka bawa sudah tersusun dan terkokang. mereka menghadap ke Ramp Door Helikopter agar bisa langsung keluar dari kabin ketika sudah mendarat sempurna di darat.

"Papa Foxtrot 6, landing in.""Smooth Touchdown..."

Kedua roda belakang Helikopter telah menyentuh tanah. kemudian Ramp Door dibuka. belasan Prajurit Ranger dengan seragam telah disamarkan turun secepat kilat. mereka lalu membentuk formasi pertahanan dan membongkar peralatan berat. Helikopter kedua mendarat agak jauh dari Helikopter pertama. sedangkan Helikopter tempur Apache berputar melindungi pendaratan kami.

"Kapten, Peleton pertama telah siap!"

Sersan Harley muncul dengan senapan M-16A4 miliknya. tugas bongkar muat perlengkapan telah selesai. Naruto memberi tanda ke Kru Helikopter bahwa para Ranger beserta semua perlengkapan telah turun. Salah seorang Kru mengacungkan jempol dan memberitahu Pilot untuk lepas landas.

Ketiga Helikopter melayang perlahan sebelum kemudian terbang meninggalkan para Ranger di daratan kota Makiivka. debu dan tanah menghambur ke segala arah termasuk wajah dan ke dalam seragam. Naruto berjalan di depan diikuti pasukan Peleton Pertama.

"Misi dimulai prajurit!"

Segera mereka berpindah posisi untuk bergabung bersama Peleton kedua dan ketiga. Kompi Delta harus bergerak cepat untuk menghindari pantauan musuh yang mungkin melihat Helikopter tadi terbang membawa mereka kesini. tempat berkumpul kompi Fox bersandi Nest. jaraknya sekitar 1,5 kilometer dari lokasi pendaratan. setiap peleton harus menjaga jarak agar tidak memancing keributan.

Peleton Pertama yang dipimpin Naruto tiba terlebih dahulu. dengan cekatan dibantu beberapa Perwira, Naruto mengatur posisi para Anggotanya. mereka diatur untuk memberi perlindungan dari seluruh sisi. tak lupa beberapa pengawas ditempatkan. berjaga jaga jika Musuh atau Peleton Kedua datang ke lokasi berkumpul mereka.

"Bravo, kau dimana?"

"Tunggu sebentar Alpha, kami sudah lihat bukitnya. hati-hati, pasukan akan datang dari Utara."

"Diterima, tetap waspada!"

"Dicopy, Bravo keluar."

Naruto menaruh alat komunikasi kebawah. iris setajam elang tak henti henti menatap sekitar, memastikan tak ada bahaya. pasukan lain juga berkonsentrasi pada alam di sekeliling mereka. tak ada suara kecuali gesekan antara seragam atau senjata dengan ranting pohon. semua diam seribu bahasa.

"Peleton kedua telah datang Kapten!" sebuah suara dari prajurit pengawas terdengar dari peralatan komunikasi peleton pertama.

Beberapa menit kemudian rombongan Peleton dua tiba di lokasi berkumpul. mereka ikut menyebar bersama pasukan Peleton pertama sedangkan Kiba dan Chouji sebagai Komandan dan Wakil komandan Peleton mendatangi Naruto untuk melapor.

"Peleton kedua siap beraksi, semua utuh tak ada kurang satu apapun." lapor Chouji. dibalas anggukan mengerti oleh Naruto.

"Kiba, dimana senapan mu?"

Naruto menyadari jika anak buah dan teman nya itu tidak membawa senapan sejak tiba. ia hanya menggenggam sepucuk pistol FN. tentu ia merasa heran sekaligus penasaran.

"Rusak." jawab Kiba singkat.

Sebelum Naruto lanjut bertanya Kiba telah memotong terlebih dulu. "Saat berada di dekat jalan menuju bukit seorang anak buahku terpleset dan hampir menggelinding kebawah karena hilang keseimbangan. aku reflek menahannya dan ikut terjatuh, senapan ku tertimpa badan dan peralatan yang kubawa sampai Laras nya pecah."

Kiba mengambil senapan M27 IAR miliknya yang kini telah rusak dari seorang punggung Prajurit.

"Bagus, sekarang kau akan bertempur hanya dengan sepucuk pistol?" sindir Naruto.

"Aku berencana mengambil senapan milik musuh jika kita berhasil membunuh seorang dari mereka. tapi ya, selama itu belum terjadi aku akan tetap memakai pistol."

Tak mengindahkan Kiba, Naruto meraih alat komunikasi dan menghubungi satu peleton yang tersisa, yaitu Peleton ketiga pimpinan Heffron. sedikit khawatir karena Peleton ketiga belum juga datang walau waktu telah menunjuk angka 11 lebih 20 menit.

"Hei, apa Heffron tadi tidak bersama kalian?"

"Awalnya memang bersama, lalu ia mengambil jalan lain sesuai instruksi. namun harusnya tidak terlalu jauh dan masih satu jalur dengan kami." terang Chouji.

Petugas Radio berusaha menghubungi Peleton ketiga. namun tak ada jawaban. peralatan komunikasi satelit juga digunakan namun tetap tak ada respon. para prajurit mulai gelisah tak terkecuali Naruto, Chouji dan Kiba. sudah terlalu banyak waktu terbuang untuk menunggu sedangkan jarak kota Makiivka cukup jauh. butuh 3 jam perjalanan jalan kaki belum harus mencari gedung target dan menghindari pasukan Pemberontak.

Kiba memberi tatapan penuh tanya.

Naruto bangkit dari duduk. sang komandan kompi Delta memerintahkan para pasukan untuk berkemas dan bersiap pergi tanpa menyinggung keberadaan Peleton ketiga.

"Hei Kapten, lalu Heffron—

"Aku sudah mengirim pesan bersandi untuknya. aku harap dia atau siapapun dari anggota peleton itu masih hidup untuk bisa membaca isinya."

Chouji dan Kiba terdiam. mereka tahu maksud dibalik ucapan Naruto. kini hanya tersisa 2 Peleton dengan anggapan Peleton 3 telah menghilang entah kemana. dan mau tak mau pasukan harus mengutamakan misi dan pergi ke kota lalu menjalankan tugas yang telah diberikan. tak ada waktu untuk mencari anggota yang lenyap.

Pasukan Peleton kedua dan ketiga beranjak maju, meninggalkan titik kumpul menuruni bukit menuju arah kota Makiivka.

Langit malam menyamarkan gerak 40 orang pasukan Ranger. tidak ada pembicaraan, yang ada hanya suara sepatu lars yang menginjak tanah dan ilalang. setiap orang diwajibkan memberi jarak satu sama lain untuk memudahkan manuver.

Regu senapan mesin berada di tengah, seorang *Panah mengendap-endap jauh dari induk pasukan. mereka bertugas mengosongkan jalan dan menilai keadaan. sementara beberapa prajurit yang membawa senjata berat berada di belakang bersama paramedis. Naruto dan anak buahnya yang lain mengelilingi mereka.

Langkah kaki saling susul menyusul. Chouji mengatur setiap anggota agar tetap bergerak teratur sesuai Peleton. namun cukup sulit karena gerak maju mereka terlalu cepat. Naruto juga tidak mengindahkan sarannya untuk bergerak lebih lambat, ditambah pencahayaan minim membuat jarak pandang terbatas.

"Hei, apa kau anggota Peleton 1?"

"Peleton 1 ada di kiri bodoh, kembali sana."

Kiba menggeram saat seorang prajurit memanggilnya bodoh. segera sebuah tempeleng mesra mendarat di helm si prajurit. mengaduh kesakitan, ia akhirnya meminta maaf ketika kawannya memberitahu jika Kiba lah yang tadi bertanya.

"Berhenti!"

Prajurit paling depan mengangkat tangan kanan. sontak yang lain menghentikan langkah dan berlutut. beberapa orang tidak melihat sinyal dan menabrak tubuh prajurit di depan mereka.

"Ada apa?" tanya Naruto, setelah menghampiri si Prajurit.

"Di depan kita adalah gerbang masuk kota Makiivka pak!"

Setelah setengah jam perjalanan yang cukup tergesa-gesa akhirnya pasukan telah sampai di perbatasan kota Makiivka. Naruto memberi aba aba pasukan untuk menyebar. Sesuai rencana, Peleton 2 pimpinan Kiba akan membentuk beberapa pos dan barikade pertahanan. Sementara Peleton 1 yang melakukan penyerbuan.

Angin malam terasa begitu sesak di hidung mereka semua. Nafas adrenalin begitu terangsang dalam setiap langkah. Peleton 1 terus bergerak, mereka sekarang hampir setengah perjalanan menuju gedung target. Iris Sapphire Naruto melirik kesana-kemari mencari kemungkinan keberadaan musuh. Namun nihil, tak ada satupun musuh di sepanjang jalanan kota.

"Sepi sekali ya Tuhan." Ucapnya dalam hati.

Tiba-tiba panggilan dari Kiba melalui Walkie Takie berbunyi.

"Rantis BTR, arah jam 1. Dekat persimpangan!"

Anggota regu paling depan mengangkat tangan tanda berhenti. Seluruh pergerakan peleton berhenti dalam senyap. Mereka semua serasa tercekat, ada sesuatu yang menghalangi pergerakan misi. Musuh kah? Naruto berusaha memastikan kekhawatiran anak buahnya dengan menyusul prajurit di barisan terdepan.

"Panser itu menghalangi jalan kita pak."

Prajurit tersebut menunjuk sebuah Panser lapis baja yang sedang parkir di dekat persimpangan menuju gedung target. Tak ada tanda-tanda prajurit musuh di sekitar, hanya Panser itu sendiri, tanpa awak.

Naruto memutar kembali otaknya. Ia tidak bisa sembarang mengambil keputusan untuk melanjutkan perjalanan walau panser tersebut nampak kosong tak berpenghuni.

"Aku akan memeriksanya, lindungi aku."

"Roger sir."

Naruto melepas tas perbekalan yang ia bawa hingga menyisakan peralatan tempur seperti helm, rompi juga senjata saja. Tarikan nafas dalam ia ambil sebagai persiapan. Seluruh anggota peleton menatap tegang sang Komandan yang hendak mempertaruhkan nyawa untuk melanjutkan misi.

"Sekarang pak!"

Naruto berlari kencang begitu aba aba dari anak buahnya menggema pelan. Ia terus berlari sekencang-kencangnya menuju salah satu dinding dekat dengan posisi panser berada. Matanya menatap tajam ke arah panser itu, berjaga bila ia ketahuan dan jadi sasaran empuk senjata yang dibawa oleh Panser musuh. Tak sampai semenit ia telah sampai di dinding perlindungan.

Terengah-engah, ia masih sempat memberi acungan jempol pada para prajuritnya. berusaha memberitahu situasi terkendali.

Sersan Harley tersenyum. Ia memberi instruksi agar sang Komandan kembali ke posisi.

"Semua aman pak!" Ucapnya singkat.

Naruto mengangguk.

Namun baru saja ia melangkahkan satu kaki ke depan. Suara mesin diesel terdengar nyaring dari arah persimpangan. Keringat dingin menuruni wajah sang pria berambut kuning begitu mendengar suara itu. para prajurit ikut menatap horor. waktu seakan berhenti pada saat itu.

Suara mesin yang mereka dengar barusan adalah suara dari Panser yang sedang parkir dan kini menyorotkan kedua lampu penerangan pada Naruto, di tengah malam, pada wilayah musuh...

Sial!