Flawless to See The Next 6 Seconds

Disclaimer: Ken Wakui.

Warning: OOC parah terutama kazutora, typo, crossover bukan crossover (?), dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi.


Semua itu bermula dari Chifuyu Matsuno, dan Kazutora Hanemiya yang datang untuk membesuk Baji Keisuke. Hujan masih menjadi pendiam di dalam abu-abu. Yang seolah-olah enggan berpisah, sehingga menahan-nahan diri agar tak menjelma titik-titik air.

Tentu saja itu kabar bagus bagi Chifuyu dan Kazutora. Semangat masa muda mereka terlalu tidak takut diguyur hujan, makanya menolak membawa payung, begitu pun ramalan cuaca yang biasanya menghias pagi. Jadilah napas keduanya sudah terengah-engah, walaupun ibu Baji baru menyambut. Mau bagaimana lagi juga karena jika tak berlari, bisa-bisa malah merepotkan gara-gara kebasahan.

"Baji-san! Kami datang menjengukmu."

Seruan dari Chifuyu langsung menyapa pintu kamar Baji. Ia buka perlahan-lahan yang sedikit demi sedikit, memperlihatkan sosok Baji yang tengah bermain video gim. Tangannya yang patah sebelah masih tampak rapuh. Kazutora agak mengernyit, mendapati Baji memegang joystick dengan yang bagian kiri saja–mobilnya jadi oleng, tuh.

"Yo, Chifuyu, Kazutora. Tunggu sebentar, oke? Sebentar lagi aku menang."

"Yakin? Mobilnya saja miring-miring."

"Mobilnya jadi miring-miring, karena Chifuyu bilang itu miring. Sebaiknya kau ikuti saja Kazutora. Dia menonton dengan serius, soalnya tahu aku bakalan menang." Sesaat Chifuyu memandangi Kazutora. Memang benar sejak Baji ternyata bermain balap mobil, pandangannya terus fokus. Chifuyu pun akhirnya berbisik." Apa kau percaya Baji-san adalah juaranya?"

"Tidak, sih. Hanya penasaran mobilnya bakal terjungkal, meledak, atau menabrak."

Suara Chifuyu benar-benar ketawa. Baji yang mendengar bisikan Kazutora itu, pada akhirnya menabrak mobil lain yang dijalankan oleh komputer. Tulisan game over memenuhi layar. Baji membuang joystick-nya ke sembarang arah, lantas menatap sebal pada Kazutora dan Chifuyu yang memasang wajah tanpa dosa, versi masing-masing.

"Masa kalian begitu? Seharusnya aku didukung untuk menang."

"Maaf, Baji-san. Tetapi Kazutora benar, lebih masuk akal mobilmu terjungkal, menabrak atau meledak. Memegang joystick dengan satu tangan, lalu harus menggerakkannya, pasti sangat sulit, 'kan? Lagi pula kalau Baji-san enggak kalah-kalah, kapan kita menonton anime?"

"Benar juga. Meski perkataanmu tidak membuatku senang, sih, karena aku kalah."

Selain menjenguk Baji yang tengah luka-luka, ketiganya juga sepakat untuk menganggap menyaksikan anime, adalah bagian dari agenda. Baji-lah yang menemukan tontonannya di kala bosan. Adalah animasi yang menceritakan pengguna kekuatan supernatural di Yokohama, humornya cukup penuh, tetapi menurut bocoran di internet tiga episode yang mengawali seri kedua sangat sedih.

"Informasinya memang penting untuk kita ketahui?" tanya Kazutora sesudah dengan seriusnya, Baji menyerukan peringatan. Sejujurnya ia kurang peduli. Kazutora hanya tertarik pada tokoh utamanya yang mana, ia bersimpati terhadapnya dari segi mental–bahwa mereka cukup sama dalam hal tersebut.

"Membuatmu lebih penasaran, bukan? Walaupun yang sebelumnya sudah seru menurutku."

Mungkin Chifuyu tidak sepenuhnya salah. Kazutora ujung-ujungnya ikut menantikan, seperti apakah cara kesedihan menampilkan rupa? Rasa yang bagaimanakah yang ingin ditunjukkan? Selagi menit demi menit bergulir, hujan kini turun membasahi Tokyo. Cukup deras membuat volume televisi bersaing dengan air yang turun, Baji mencoba membesarkan suara, begitu terus hingga mencapai angka maksimal. Hasilnya tetap saja nihil.

"Di animenya juga hujan, ya, kebetulan banget. Apa kalau kita memutar episode yang cuacanya cerah, hujan bakalan berhenti?"

Teori absurd Baji tidak ditanggapi. Lagi pula ia hanya bergumam, dan suara yang terlalu kecil tak akan bernilai apa-apa. Walaupun yang menghibur sebatas gambar demi gambar, mereka malah semakin khusyuk. Napas pun lumayan terhenti saat akhirnya, kesedihan yang Baji maksud menampakkan wajah yang kuat, berarti besar, meskipun semuanya tetap hancur. Luluh lantak pun, dan selalu saja hanya serpihan-lah yang digambarkan tertinggal, tetapi bukan berarti semua yang digenggam menjadi kehampaan–tiada satu pun yang tersisa yang bisa disimpan.

Dalam bisu, mereka pun sepakat untuk menyukai kematian seperti ini. Bahwa perban yang dilepaskan dari sebelah matanya, ia yang menerima segenap pesan agar memihak kebaikan, telah melukiskan sebanyak apa pun yang direnggut darimu, kau tetap dapat menggenggam sesuatu yang bahkan paling nyata, daripada yang sudah pernah

Ia mendekap serpihannya. Meskipun serpihan itu tidak lebih besar, dari berbagai hal yang telah ditemukannya bersama sang sahabat–hanya sekecil ia menyaksikan teman terbaiknya mati, dan bagaimanakah cara terakhirnya menghabiskan waktu dengan dia–hal tersebut lebih berharga untuk digenggam, daripada dianggap mengosongkan. Tekadnya yang terus maju, lalu menjadi detektif di sebuah agensi, mereka bertiga menyukainya secara sederhana tanpa memikirkan yang lain.

"Keren banget, ya, meski sedih. Biarpun banyak yang bilang mati karena balas dendam itu konyol, tetapi aku tetap menghormatinya."

Lantas ketiganya terdiam cukup lama, barusan. Saking lambatnya waktu berjalan pula, Baji yang berada di tengah-tengah yang tiba-tiba merangkul Kazutora serta Chifuyu, benar-benar seperti kejutan.

"Ya. Aku menyukai kata-kata yang ia tinggalkan. Apalagi saat ia bilang, 'Tentu aku mengetahuinya, karena aku adalah temanmu'." Perkataan itu amat mengharukan Chifuyu. Ingusnya sedikit keluar gara-gara ia terharu tanpa tangisan.

"Kemampuan flawless itu keren, bukan? Bisa mengetahui bahaya apa yang terjadi enam detik ke depan."

Televisi yang masih menyala Kazutora matikan, karena Baji sudah mengambil topik. Palingan seperti biasanya ia sekadar mendengarkan, kemudian sesekali menimpali. Kazutora pada dasarnya memang kurang menyukai dirinya yang mengobrol banyak-banyak. Asalkan singkat, padat, dan jelas, menurutnya cukup yang juga memang menggambarkan dirinya sendiri.

"Flawless, ya ... aku sendiri lebih menyukai kemampuan si dokter wanita. Bisa menyembuhkan luka apa pun, meski syaratnya berat juga. Menjadi manusia super selama tidak makan juga keren, tetapi aku lebih suka bertarung sehabis makan. Bagaimana denganmu?"

"Hmmm ... aku?"

"Kemampuan apa yang kau suka?" Sejenak Kazutora berpikir. Sejauh ini menonton lima belas episode, lagi-lagi ia hanya teringat tokoh utamanya. Remaja tanggung berambut perak yang bisa bertransformasi menjadi harimau.

"Menjadi harimau itu keren. Dia benar-benar cepat, tangkas, dan kuat. Dalam melompat pun enggak akan kalah, lalu bisa menyembuhkan diri sendiri." Senyumannya terasa ringan. Chifuyu serta Baji mengangguk-angguk yang tiba-tiba pula, Baji menghidupkan sebuah bohlam imajiner.

"Namamu pun mengandung unsur harimau, 'kan? Cocok banget, dah."

"Baji sendiri kenapa menyukai flawless? Kupikir kau akan memilih kemampuan seperti rashomon. Cocok denganmu yang barbar."

"Setuju, setuju. Lagian flawless itu enggak cocok sama Baji-san, deh, asli. Kamu saja orangnya teledor, sedangkan flawless dimiliki dua orang yang sejak awal hati-hati."

Dua minggu lalu ketika seperti biasanya, Baji mengajak Chifuyu dan Kazutora menikmati peyoung yakisoba, mendadak mereka dikepung musuh. Oleh geng berisikan anak SMA yang kepalanya sedang besar-besarnya, mentang-mentang tengah berhasil merekrut banyak anggota. Sebagai yang paling menguasi dunia berandalan untuk saat ini, kejadian seperti itu sebenarnya tak mengherankan. Baji pun malah senang-senang saja, sekalian pemanasan.

Di pertarungan sengit itulah Baji patah tangan. Bahwa dibandingkan bertahan dari pukulan musuh yang cukup kukuh, Baji malah berlari ke arah Chifuyu. Hendak melindunginya dari serangan yang mengincar titik buta Chifuyu, padahal Kazutora telah siaga.

"Begini, lho. Menggunakan flawless, kan, aku jadinya bisa mengetahui, kira-kira enam detik ke depan bahaya apa yang menimpaku. Berkat itu aku pun dapat menghindarinya. Dari situ akhirnya aku pergi menyelamatkan kalian. Makanya aku suka flawless."

"Sudah kubilang enggak cocok. Baji-san itu tetap saja cenderung menyelamatkan orang lain, baru dirimu sendiri. Flawless kurang berguna jika berada di tangan Baji-san," bantah Chifuyu lagi. Lama-kelamaan gara-gara gemas, Baji mencubit pipi Chifuyu hingga memerah.

"Terus siapa, dong, yang paling cocok punya flawless?"

"Mitsuya." Jawaban dari Kazutora lagi-lagi sesuai dengan Chifuyu. Daripada perasaannya yang terharu ini disimpan saja, Chifuyu memutuskan melampiaskannya dengan memeluk Kazutora. Siapa sangka mereka bisa terus-terusan sepemikiran, padahal sebelum dan sewaktu konflik Valhalla berputar, Kazutora adalah sosok paling antagonis di mata Chifuyu.

"Kok malah terkesan kau ini fanboy Mitsuya garis keras, ya? Harusnya, kan, Mikey."

"Jangan sembarangan, Baji. Menurutku Mikey cocoknya punya kemampuan ame ni mo makezu. Setelah menggunakan kekuatan manusia super, Mikey pun makan sampai kenyang. Perasaan puas seperti itu sangat pas untuknya, dan menghangatkan hati juga."

Benang yang diberikan untuk obrolan ini, kini adalah sesuatu di mana secara bergantian ketiganya mengkhayalkan, para anggota Tokyo Manji bagusnya memiliki kemampuan supernatural seperti apa. Mitsuya mungkin menjadi satu-satunya yang cocok dengan flawless, sedangkan Hanagaki Takemichi mempunyai Ningen Shikaku, menilik ia kurang pandai bertarung. Bahkan dalam berbagai hal ia selalu memegang kunci yang tak dapat dilihat siapa pun, bukan?

"Kalau kemampuan yang paling enggak kalian sukai, ada?"

"Flawless." Entahlah ada apa antara Chifuyu dan flawless. Kini Baji menatap iris hijau itu lekat-lekat untuk mengambil ancang-ancang bertanya, atau ia mati penasaran.

"Kenapa dengan flawless, deh?"

"Menyedihkan enggak, sih, kita hanya mengetahui bahaya apa yang terjadi? Terlebih itu untuk diri sendiri saja, dan tidak bisa dipakai untuk orang lain."

"Selain itu, kita tidak bisa melihat kebahagiaan. Kalau terus-terusan hanya mengetahui pertanda buruk, kan, lama-lama lelah juga. Buatku pribadi kita yang diberikan kemampuan lebih dibandingkan orang lain, seharusnya menggunakannya untuk menolong sesama. Makanya aku kurang menyukai flawless yang sekadar berfungsi buat diri sendiri."

Kemampuan untuk melihat kebahagiaan orang lain, pasti hanya dipandang sebelah mata. Mungkin pula Chifuyu dianggap naif, atau benar demikian, karena jika memilih kekuatan supernatural seperti itu berhak dianggap nyata, ia takkan memanfaatkannya untuk menggapai bakat terbaik. Betul-betul sekadar mengandalkan kepiawaian fisiknya yang padahal, Chifuyu tentu sadar tinjunya tidak sehebat Draken. Tendangannya saja boro-boro menyaingi Mikey.

Seorang Chifuyu Matsuno juga kalah dari Baji dan Kazutora. Selaku pendiri Tokyo Manji itu sendiri, mereka berdua kuat, jago, sekaligus bersinar. Benar-benar berbeda dibandingkan anggota Toman yang lain.

Namun, tetap saja dengan jernihnya Chifuyu ingin menyatakan–bukan sekadar kata-kata berkata-kata begini, begitu–ia masih lebih menyukai flawless yang dapat melihat kebahagiaan. Atau setidaknya mengirimkan pertanda buruk yang akan menjatuhkan orang lain, supaya tak seolah-olah hanya diri sendirilah yang pantas diselamatkan.

Misalnya apabila di tengah-tengah pertarungan, Chifuyu dapat melihat dalam enam detik ke depan Baji tersenyum kepadanya, dan mengajak ia memakan peyoung yakisoba, Chifuyu tentu akan lebih bersemangat untuk mengalahkan musuh. Justru ia adalah yang terkuat ketika selain terbakar merah, Chifuyu selalu menjaga dirinya sendiri agar ia berhak memiliki kebahagiaan Baji juga.

Kazutora yang memiliki kelainan mental pun, jika Chifuyu tahu Kazutora akan menyelesaikan suatu duka, setelah perjuangannya itu segan melangkah, berhenti pun tetapi tak mau, ia bisa menyemangati Kazutora dengan pantas. Hati yang baik tidaklah sekadar tahu, ia berkata-kata penuh optimisme begini karena dari dulu, begitulah caranya menjadi kebaikan. Melainkan ia turut memahami segalanya membutuhkan kepastian, agar kebahagiaan tiada lagi terkalahkan.

Kepalan tangan, dan tendangan dari diri sendiri yang tidak dicampuri oleh hal-hal berbau supernatural, adalah yang terbaik.

Chifuyu akan selalu percaya, dan Baji maupun Kazutora pun senantiasa menyukai mata Chifuyu yang disinari keyakinan itu.

"Alasan yang bagus. Aku sendiri tidak membenci kemampuan apa pun. Semuanya keren dengan kehebatannya masing-masing."

Di dalam dunianya Baji, tidak pernah ada kata serumit benci, atau karena begini karena begitu. Jika seseorang adalah yang terlemah, dan ia berjuang untuk gelar terkuat, Baji menyukainya. Apabila ada lagi yang payah, lalu ia berjuang semata-mata demi bertahan, Baji pun suka. Ia mencintai apa pun asalkan di sekitar jiwa-raga itu terdapat perjuangan.

"Khas Baji-san banget, ya. Kazutora bagaimana?"

Entahlah, tetapi ketika Chifuyu-lah yang lagi-lagi menanyai Kazutora, sekarang ini hal sesederhana itu mendadak spesial. Kazutora kembali berpikir. Baji yang dengan lucunya memajukan kepala akibat penasaran, hampir saja membuat Kazutora tertawa tanpa alasan.

"Bisa dibilang aku juga kurang menyukai flawless. Menurutku dibandingkan melihat masa depan, apalagi isinya hanya keburukan, lebih baik kita berfokus untuk masa sekarang. Agar yang ada pada saat ini dapat menjadi berharga."

Sembari mengucapkannya, Kazutora menatap Baji dan Chifuyu bergantian. Mereka sama-sama tersenyum yang sejurus kemudian, garis lengkung ketiganya turut memekarkan pelukan yang hangat. Hujan memang masih turun. Namun, tidak ada satu pun hal yang bisa datang untuk membuat segala-galanya ini menggigil, kecuali mungkin sesuatu yang diawali dengan "Sampai jumpa."


Suaranya bergetar hebat, hampir tidak dapat lagi meninggalkan apa pun, dan untuk pertama kalinya pula Kazutora Hanemiya melihat kenangan menelan seseorang. Melahapnya perlahan-lahan ketika sebentar lagi, Baji Keisuke akan menjadi kenangan agar ia tak menghilang.

Tepat di sampingnya Chifuyu Matsuno menggenggam tangan Baji. Pemuda mungil itu tidak sekali pun tampak terisak, ataupun ingin mengeluarkan beberapa air mata. Mungkin karena Baji masih tersenyum, atau sebelum Baji meninggalkan Chifuyu–hanya Chifuyu seorang, dan beginilah yang benar–ia sudah lebih dahulu hilang

"Ingat ... enggak, pas kita menonton anime berdua? Debat soal Flawless?"

"Tentu aku ingat, Baji-san. Kamu ingin memilikinya, sedangkan aku malah membenci kemampuan tersebut."

Flawless dapat membuat seseorang melihat marabahaya yang mengintainya, dalam enam detik ke depan. Kazutora tentu saja tahu, tetapi bukan karena ia menontonnya bersama Baji serta Chifuyu, melainkan Kazutora mencobanya sendiri. Mengenai mereka bertiga yang menyaksikan, sampai mengobrolkannya bersama-sama, pada akhirnya harus Kazutora akui sebagai khayalannya. Jadi, inilah yang benar. Selalu hanya ada Baji juga Chifuyu di mana pun itu, sementara Kazutora bukanlah siapa-siapa atau apa pun.

"Kupikir-pikir ... aku memang sangat menyukai kemampuan yang satu itu."

"Aku juga, Baji-san. Jika kamu memilikinya, pasti bisa menghindar saat akan ditusuk." Kesamaan tersebut membuat Baji ingin melebarkan senyuman, tetapi ia tidak sanggup. Tubuhnya mulai berhenti mengakui Baji sebagai tuannya, dan ia yakin waktunya kurang dari dua menit. Namun, Baji setidaknya tetap percaya, ia masih dapat membuat Chifuyu tersenyum sebelum pergi.

"Kalau aku memilikinya, Kazutora tidak akan menjadi pembunuh. Karena ... meski aku sudah menusukkan pisau ke diriku sendiri juga, pasti kalian tetap menganggapnya pembunuh, ya ..."

Tadinya Kazutora ingin bilang Baji tidak perlu memikirkannya, tetapi sewaktu Baji sungguh-sungguh tersemyum ke arah Kazutora, dan Chifuyu masih di samping Baji, mendadak ia tak bisa. Kazutora pun mengutuk dirinya sendiri yang masih sempat-sempatnya berterima kasih, sebab mereka begitu baik padahal Kazutora hanya memiliki air tuba di dalam dirinya.

Baji tidak membencinya, setelah dengan bangsatnya Kazutora menusuk perut Baji.

Sementara Chifuyu hanya terus mengisi bagian samping milik Baji. Tidak sekali pun memikirkan untuk memarahi, menyumpahi, dan mengutuk Kazutora habis-habisan, walaupun Chifuyu sangat boleh melakukannya. Mungkin karenanya-lah di dalam angan-angan yang menyedihkan tersebut, Kazutora turut membayangkan Chifuyu menemaninya. Sebab Chifuyu terlalu baik yang sudah pasti, Chifuyu adalah sosok yang berharga–tanpa sadar siapa pun pasti menyukainya, bukan?

"Nanti kita makan peyoung yakisoba lagi. Bagi dua."

"Iya, Baji-san. Akan kubagi padamu sebanyak apa pun yang kamu inginkan."

Di mata Kazutora, pemandangan tersebut bukan lagi tentang mempunyai flawess ataukah tidak, melainkan ia teringat kepada dirinya sendiri yang bersimpati terhadap pemeran utama. Mereka mana mungkin mirip, jelas. Maksud Kazutora adalah, ternyata selama ini dia keliru. Seharusnya empatinya diberikan untuk seorang tokoh sampingan yang walaupun ia bukan yang terpenting, dialah yang paling menyerupai Kazutora.

Tokoh pendukung itu bernama Sakaguchi Ango. Apabila diibaratkan kira-kira Chifuyu adalah Dazai Osamu, sedangkan Baji memerankan Oda Sakunosuke. Dalam animenya Ango mengkhianati Oda termasuk Dazai. Sama seperti Kazutora yang dengan kejinya, menikam Baji dari belakang.

Seharusnya pula, Baji memperlakukan Kazutora seperti Oda memperlakukan Ango. Hanya menganggap Chifuyu sebagai sahabat terbaiknya, macam Oda yang sekadar memercayai Dazai. Membuang Ango yang dalam hal ini, sudah sepatutnya Baji pun menepikan Kazutora jauh-jauh.

Kenapa Baji yang sudah baik sejak lahir, harus bertemu orang seperti Kazutora? Jadinya Baji pun harus bersikap baik kepada yang se-brengsek Kazutora.

Untuk masa depan, Kazutora tidak tahu-menahu. Namun, entah bagaimana ia memiliki firasat, Chifuyu takkan meninggalkannya. Pasti mengerikan sekali apabila Chifuyu benar-benar memperlakukan Kazutora, seperti hal yang berharga yang ditinggalkan oleh Baji. Oleh karena itu Chifuyu pun menjaga Kazutora menggantikan Baji, dan Kazutora enggan. Mengap ia harus dianggap spesial yang jika ini merupakan hukumannya ...

Tolong berikan Kazutora hukuman yang sama seperti Ango, di mana ia tak akan pernah lagi melihat maaf. Setiap hari dihantui penyesalan yang dilarang sembuh, Chifuyu memusuhinya seperti Dazai membenci Ango, lalu sekalian saja Kazutora tidak perlu menyaksikan bagaimanakah cara Baji meninggal; Chifuyu yang mulai detik ini hanya menggenggam serpihan.

Baji yang mati dengan caranya sendiri itu, dan tetap menjadi Baji Keisuke yang dibandingkan memikirkan nasibnya, ia malah bercanda agar Chifuyu tersenyum, untuk Kazutora terlalu menyakitkan. Sepertinya Ango beruntung ketika ia entah di mana sewaktu kematian Oda, karena Ango tak secara langsung mengetahui bahwa Oda hanya menganggap Dazai. Sekadar berspekulasi mereka membenci dirinya, tepat sasaran, selesai.

"Kadang aku berpikir ... lebih mudah apabila semua orang jahat, daripada masih ada yang baik apalagi kepadaku."

Tentang penyakit mentalnya, masa lalu yang mewajibkan Kazutora memilih antara ayah dan ibu, ia tidak peduli. Ia hanya ingin lebih menyukai dirinya dengan tak menyaksikan kematian Baji, menebak-nebak sendiri bahwa Baji membenci Kazutora yang usai menusuknya, bahkan kabur, meskipun kesimpulan sepihak Kazutora salah total.

"Kazutora ..."

Helaan napas dari seseorang terbang membelai wajah Kazutora yang tertidur. Chifuyu Matsuno memang tidak tahu, Kazutora dua kali memimpikan apa hingga kebahagiaan menjadi gugur bunga, dan digantikan duri kesedihan yang tajamnya mendalam. Namun, apabila yang ketiga harus ada, maka biarlah itu membawanya kepada kenyataan. Realitas di mana sekarang ini Chifuyu mengizinkan Kazutora menginap. Lalu mengecup kening Kazutora agar gemuruhnya segera tenang.

"Sekarang sudah tidak apa-apa, Kazutora ... tak ada yang menyalahkanmu atau apa pun."

Untuk beberapa saat Chifuyu masih terjaga. Berulang-ulang mencoba menghapus air mata Kazutora, tetapi semakin Chifuyu seka Kazutora justru kian deras–seolah-olah ia tak ingin menerimanya.


Tamat.


A/N: Entahlah. cuma pengen aja bikin kazutora, baji, dan chifuyu membicarakan flawless. kayak langsung ngerasa, "bakalan cocok sih ini", dan jadilah fic ini yang harusnya udah ku-publish dari kapan tau, tetapi mager mengalahkan segalanya.

Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. mari bertemu di fanfic selanjutnya (yang mungkin bakal bener2 crossover)~