Awful Summer In The Mid of Happiness
Disclaimer: DMM.
Warning: OOC, typo, mengandung unsur surealisme abal2, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi.
Musim panas pada hari itu terdengar memiliki terik yang bagus. Orkestra jangkrik, pohon yang mematut rambutnya di kolam ikan koi, kipas angin berkecepatan sedang–semua itu Shimazaki Touson nikmati dengan es krim air laut, di bawah atap biru dongker favorit burung-burung yang selalu muda
Cara menikmatinya pun berbeda dalam artian, tidak mengikuti cara-cara biasa yang pernah ada. Dibandingkan duduk-duduk menjulurkan kaki, Touson justru berbaring pada paha seorang Tokuda Shuusei. Memberikan hampir seluruh waktunya untuk wajah yang datar itu, bergurat tegas, tetapi dari melihatnya seseorang selalu diingatkan pada kebaikan.
"Shuusei melihat apa dari tadi? Serius amat." Es krim yang tersisa separuh mencolek pipi Shuusei. Pemuda jimi itu tersentak, akibat dikagetkan sensasi dingin yang tiba-tiba mengisengi kulitnya yang agak memerah.
"Shimazaki! Jangan mengagetkanku seperti itu, dong."
"Mau lagi, ah, lucu soalnya."
Es krim yang mendadak beralih fungsi sebagai mainan itu, kini memburu wajah Shuusei yang ketika pemiliknya terkejut, Shuusei justru menjadi warna paling warna yang selalu saja baru pernah dunia lihat, tetapi Touson senantiasa tahu. Touson masih iseng, sampai sisanya terjatuh nelangsa mencium lantai. Tanpa ba-bi-bu Shuusei pum memarahi Touson dengan kata-kata seperti, dia ini buang-buang serta memainkan makanan.
"Tunggu sebentar. Aku mau mengambil lap untuk membersihkannya."
"Habis Shuusei bersihkan, temani aku membeli yang baru, ya. Kalau Shuusei mau, biar kubelikan pakai uangmu."
"Sama saja bohong, dong," jawab Shuusei sembari berkacak pinggang. Touson pun cekikikan atas lagak Shuusei yang semakin menyerupai ibu-ibu. Sementara Touson adalah anaknya yang paling nakal, mengesalkan, tetapi Shuusei tetap sayang dan ia menyukainya, karena semua itu terjadi tanpa Shuusei perlu memikirkan alasannya.
"Kutraktir, deh. Kali ini serius."
"Tidak perlu repot-repot, Shimazaki. Uangnya kausimpan saja untuk membeli yang lain."
Shuusei bergegas ke kamar mandi untuk mengambil lap kumel. Sedikit membasahinya dengan air yang ketika ia kembali, bekas es krim malah menghilang secara gaib. Telunjuknya meraba-raba lantai kayu, tempat sajian dingin itu sempat tergeletak. Tidak ada satu pun rasa lengket yang menempel, selain debu yang merupakan oleh-oleh dari angin. Dahinya pun mengernyit mengindikasikan heran yang sulit dijawab.
"Jorok, ih, Shuusei." Lagi-lagi sengatan listrik seolah-olah menyetrum Shuusei. Jejak debu di telunjuknya spontan ia lampiaskan pada yukata, semakin Touson ejek-ejek, tetapi Shuusei cenderung berpikir sejak kapan kimono-nya menjadi pakaian berbahan tipis ini?
"Aneh ... kapan aku ganti baju?"
"Jangan melamun, Shuusei. Ayo kita pergi ke toko kelontong. Nanti katakan padaku Shuusei mau apa."
Apa yang Shuusei inginkan adalah menaruh lap di tangan kanannya, tetapi bahkan Shuusei seolah-olah tidak pernah mengambil itu. Mereka yang seharusnya pergi ke gerbang depan, karena berada di engawa (sejenis halaman belakang), dengan anehnya jua dapat begitu saja menempuh jalanan yang sepinya tebal. Bisa langsung melihat toko kelontong pula, seakan-akan berada di samping rumah atau seperti, keduanya dihampiri oleh destinasi yang Touson maksud.
"Mau es krim yang mana? Sepertinya rasa kuda atau mawar enak."
Rasa kuda? Mawar? Shuusei menggeleng-geleng ogah menyetujui Touson. Karena ia masih menyayangi lidah serta jiwanya, Shuusei memutuskan ia hanya antara mengambil bungkus berwarna cokelat, dan pink, sedangkan yang hijau, ungu atau kuning mungkin di lain waktu.
"Cokelat, eh? Membosankan seperti Shuusei, ya."
"Kau sendiri yakin mau membeli rasa kuda? Jika tidak enak jangan oper kepadaku, lho." Tatkala Shuusei menengok ke belakang, ia baru menyadari ternyata bagian kasirnya kosong melompong Shuusei pun meneriakkan kata permisi berulang-ulang, tetapi sejak tadi lagi-lagi hanya Touson yang merespons Shuusei. Mengajaknya keluar dari toko kelontong yang janggal.
"Kita belum bayar, Shimazaki. Kalau disangka mencuri bagaimana?"
"Enggak akan, kok. Lebih baik Shuusei mendengarkan komentarku mengenai rasa es krim kuda."
Bungkusnya yang merah bata Touson buka perlahan. Warna es krimnya pucat yang agak membuat Shuusei meringis, lebih-lebih sewaktu dengan yakinnya Touson memasukkannya ke mulut. Sejenak Touson terdiam. Kepanikan Shuusei tahu-tahu sudah membujuk Touson saja, agar ia memuntahkannya daripada memaksakan diri, lalu mungkin berakhir sakit perut.
"Enak, kok. Rasanya unik makanya aku diam cukup lama."
"Serius?" tanya Shuusei masih skeptis. Es krimnya langsung Touson sodorkan, agar Shuusei mencari tahu sendiri daripada mati penasaran.
"Coba saja. Jika Shuusei mau menghabiskannya pun, silakan. Tinggal beli lagi dari toko kelontong."
Ucapan kelewat enteng itu membuat Shuusei menjitak pelan kepala Touson. Lagi pula selama Shuusei ada, dan walaupun misalnya Shuusei lupa membawa dompet, ia tidak akan membiarkan Touson berutang. Sang kasir atau sekalian saja pemilik toko kelontongnya, pasti Shuusei temukan setelah ia meladeni Touson–benar-benar mencicip es krim daging kuda yang Touson tawarkan.
"Bagaimana? Enak, kan?"
"Hmmm rasanya kayak ... natto? Kok jadi natto, sih?"
Sebuah bau menyengat tiba-tiba menguasai hidung Shuusei. Ia batuk-batuk gara-gara telanjur melahapnya, nyaris menjatuhkan es krim, tetapi untung tidak jadi–Shuusei mau mengeceknya sepuas mungkin, soalnya. Namun, yang ditangkap oleh matanya justru adalah tulisan yang mengatakan, ini rasa melon. Shuusei pun mencicipinya lagi tetapi anehnya, ia malah merasai soy sauce dan mengunyah potongan gurita.
"Ada apa, Shuusei? Wajahmu mendadak pucat."
Bagaimana mungkin tidak pucat? Dari kuda mentah menjadi natto, tiba-tiba melon, tetapi Shuusei malah mencoba es krim gurita. Bukankah wajar saja Shuusei jadi ditemani sebongkah rasa pusing?
"Maaf, Shimazaki. Kayaknya aku sakit. Dari tadi aku merasa terus-menerus berkhayal, soalnya." Padahal kepala Shuusei tidak berkunang-kunang. Tubuhnya bahkan cukup percaya diri dapat berjalan jauh, atau berenang di laut pun ia tak masalah. Tetapi ... entahlah. Shuusei mendadak frustrasi tanpa alasan jelas.
"Pasti karena Shuusei memaksakan diri. Sekarang kita pulang saja."
"Es krimnya belum dibayar. Pergi artinya melepaskan tanggung jawab, dong."
"Uangnya sudah kutinggalkan di meja kasir. Kalau enggak percaya, lihat saja sendiri."
Beberapa uang logam memang Touson sudah tinggalkan. Tangan Touson yang terulur akhirnya Shuusei raih, dan ia bersyukur tidak terlambat–seolah-olah jika Shuusei satu kali saja tak menemukan Touson, sahabatnya itu hanya tahu-tahu pergi sangat jauh. Kejanggalan pun sebenarnya tengah berlangsung lagi. Namun, ketika Touson menggenggam tangannya seperti sekarang, Shuusei memutuskan berhenti memikirkan apa pun. Membiarkan, entahlah sekadar khayalan atau memang tersesat.
"Beristirahatlah yang cukup, Shuusei. Nanti malam kita pasti bisa ke festival."
Mereka memang lewat pintu depan kali ini, tetapi seharusnya tetap saja aneh, apabila tiba-tiba pintu kamar langsung menyambut ditemani futon. Touson membaringkan Shuusei dengan hati-hati. Senyuman mungil sedikit tumbuh di bibir Shuusei, yang airnya adalah keinginan Touson untuk menikmati festival khas musim panas.
"Ya. Nanti sore bangunkan saja aku, dan kita ke festival."
Anggukan kecil Touson berikan. Perlahan-lahan Shuusei pun memejamkan mata, dan ia melihat mimpi (di mana Touson membisikkan perasaannya yang menantikannya, membuka shoji, lalu ditutup rapat sesudah turut menyertakan kalimat, "Sepertinya isengku keterlaluan, ya.")
Festival diadakan pada sebuah kuil dengan torii merah yang bagi Shuusei, entah mengapa justru meniupkan perasaan yang asing. Mereka sendiri berangkat sejak pukul tujuh malam dimulai. Memakai kimono polos tanpa warna-warna terlampau mencolok, asalkan nyaman dipakai serta menyejukkan kulit.
Sesekali Shuusei pun tampak menguap lebar. Sejujurnya pula malah baru sekarang ini kepala Shuusei sungguh-sungguh pusing, mungkin gara-gara tidur terlalu lama. Atau perasaan-perasaan aneh yang tiba-tiba mengepung semua sisinya-lah yang membuat Shuusei begitu resah, berat, juga sangat lelah.
"Pertama-tama bagaimana kalau kita mencoba takoyaki?" Stan yang Touson maksud ia tunjuk dengan ringan. Kepala Shuusei yang tertunduk agak terlambat, sewaktu naik lagi dan mengangguknya pun terlihat patah-patah.
"Boleh."
"Shuusei mau makan apa? Katakan saja padaku."
"Kakigori kurasa enggak buruk, tetapi pertama-tama kita makan apa pun yang kauinginkan."
Sebenarnya sepengetahuan Shuusei, seorang Shimazaki Touson bukanlah sosok yang gembulnya juara. Namun, ketika dengan semangatnya Touson memakan takoyaki, yakisoba, choco banana, okonomiyaki, ringo ame, bahkan menemani Shuusei menyantap kakigori ... tentu saja Shuusei terkejut. Malahan di sini Shuusei-lah yang kekurangan antusiasme, rasanya.
"Ada apa, Shuusei? Kok melamun?"
"A-ah ... ya ... aku hanya kaget, ternyata makanmu banyak. Sejak kapan Shimazaki begitu?" Shuusei berusaha mencairkan suasana dengan bertanya. Sekaligus juga mengabaikan cara festival ini merangkaian suasana. Ketika netra obsidiannya berusaha fokus pada sepasang hijau daun, Shuusei bahkan merasa ia mati-matian. Kepalanya benar-benar sulit menahan diri, agar berhenti memperhatikan sekumpulan stan yang berpendar-pendar.
Entah kenapa, tetapi stan demi stan yang berjejer itu penampilannya selalu samar-samar. Tetap buram walaupun Shuusei sudah berdiri tepat di depannya, lalu sosok yang menyiapkan kakigori seolah-olah ditutupi kabut tebal. Bahwa tahu-tahu hanya terlihat sebuah tangan yang menyodorkan pesanan Shuusei, hilang bak ditelan bumi, rasa kakigori-nya pun hambar padahal sirupnya melimpah ruah.
Akan tetapi Shuusei mual. Perutnya bergejolak hebat, sangat ingin muntah, yang anehnya di satu sisi Shuusei merasa pencernaannya kosong. Seolah-olah Shuusei hanya menciptakan omongan kosong, kemudian memasukkan kakigori, ringo ame, atau yakisoba ke dalam kehampaan yang rakus itu–makan dan makan yang justru demi tak merasa kenyang; inginnya membangsat semata–sebab ia tiada dapat menikmati yang sungguhan.
Sejak kapan semuanya malah terasa menyedihkan? Ataukah sendu itu sudah ada sejak awal, sebenarnya? Tetapi biru bersembunyi di balik kejelasan tersebut.
"Hmmm, ya ... mau tahu saja, atau mau tahu banget? Pilih mana?"
"Memang, sih, aku mau tahu. Namun, aku tidak bisa memaksamu bercerita. Selama Shimazaki menikmatinya aku baik-baik saja, kok."
"Kata-kata itu khas Shuusei banget, ya." Kakigori stroberi berhenti dilahap. Spontan Shuusei ikut-ikutan yang kali ini, setidaknya ia menatap Touson dengan lebih santai.
"Semua orang juga bisa mengatakan hal-hal seperti itu, Shimazaki."
"Tetapi yang berkata begitu, padahal dia sendiri sedang tak karuan, menurutku hanya Shuusei yang bisa melakukannya dengan baik. Baik dalam artian kau benar-benar tetap senang karena aku bersemangat. Bukan Shuusei bisa melakukannya secara sempurna, karena sekarang saja kau langsung ketahuan."
"Habis ini mau main tangkap ikan? Setelah makan sampai kenyang, melakukan sesuatu yang menantang kurasa enggak buruk."
Shuusei takut menghadapinya sebagai kata-kata yang sedih, makanya ide tersebut tercetus begitu saja. Bentuk stan yang menjual kesenangan menangkap ikan itu, berusaha Shuusei abaikan. Meskipun pemiliknya yang setinggi dua meter, hitam dari ujung kepala hingga kaki, dan ketika menyoraki Shuusei suaranya sumbang, ujung-ujungnya tetap menggelisahkan Shuusei. Terlebih ia menatap Shuusei lekat-lekat yang apabila ditilik, matanya berlubang dan kosong.
"Su-susah, ya ... Dari tadi enggak dapat-dapat aku." Gerakan ikannya pun kaku. Tangan Shuusei kian gemetar karena embusan angin dingin di belakangnya, ternyata berasal dari lalu-lalang makhluk aneh seperti pemilik stan. Mereka tiba-tiba membludak seolah-olah menciptakan lautan hitam, akan menelan, bahkan melumat habis. Lalu kenangan menjadi sesuatu yang sengaja dikunyah berkali-kali, agar Shuusei dapat melihatnya luluh lantak tanpa usai.
"Bagaimana denganmu, Shimazaki? Kau–"
Bahkan Touson tidak sekali pun mencoba menyendok ikan. Mendadak Shuusei menggenggam jaring kertas di tangannya erat-erat, ketika untuk pertama kalinya Shuusei meyakinkan diri sendiri. Menegaskan bahwa pada akhirnya Touson pun melihat yang Shuusei tangkap selama ini.
"Menunggu kesempatan emas itu perlu kesabaran ekstra, Shuusei. Uangku sudah habis juga, makanya hanya bisa mencoba sekali dan aku semakin merasa harus–"
Pergelangan tangannya Shuusei pegang tanpa permisi. Satu-satunya jaring kertas yang Touson miliki tenggelam ke kolam ikan. Sempat Touson protes, tetapi ketika iramanya Shuusei hanya tahu berlari tanpa apa pun lagi, Touson bungkam. Membiarkan Shuusei melindunginya dari lautan hitam yang berlalu-lalang, seakan-akan menikmati festival jua, padahal bak pasir isap yang ingin meluruhkan segalanya.
"Tenang saja, Shimazaki. Aku tidak akan pernah melepaskannya."
Walaupun sekarang ini langkahnya sudah sangat berat, lelah sekali, tiba-tiba putus asa, Shuusei tetap berlari. Maju untuk menepis sesak yang tahu-tahu, telah bertakhta memenuhi dadanya. Rasa sesak tersebut entah mengapa pula, mengingatkannya pada kelahiran. Mungkin karena setiap bayi sebatas diberikan tangisan, ataukah benar apa-apa saja yang terjadi, bagaimanakah cara seseorang mati, siapa yang meninggalkan juga yang ia tinggalkan, sedang diingat-ingat untuk terakhir kalinya ketika manusia tiba di dunia?
Apakah mungkin Shuusei yang pada saat itu masih bayi, juga melihat momen ini? Kejadian di mana kehangatan yang ia peluk bersama Touson, hanya membuatnya kian tak dapat berpisah dengan perpisahan, ketimbang Touson dan Shuusei semakin erat, di mana apabila benar begitu ...
Kenapa Shuusei memutuskan bahwa ia sanggup hidup, ya?
Bukankah itu lebih menyerupai kebohongan? Karena sesungguhnya mana mungkin Shuusei bisa. Lalu Touson pun, kira-kira mengapa ia memilih hidup dibandingkan langsung gugur di rahim ibu? Padahal sudah diberikan bocoran bahwa persahabatan mereka sekadar pantas diakhiri sebagai bukan apa-apa–di mana-mana hanya ada menyakitkan sekali.
Semua perasaan sesak itu, kemudian turut mengaliri kehidupan yang Shuusei jalani selama 71 tahun? Seperti bagaimana dirinya menjadi penulis, nama semacam Ozaki Kouyou yang merupakan gurunya, ia yang justru berdiri di seberang genre pop fiksi, anak-anak naturalis, mati akibat kanker, tergabung dalam Shitenno sebelum akhirnya bereinkarnasi sebagai–
"Re-in-kar-na-si?"
Nada tidak percaya mengeja satu kata tersebut. Mendadak Shuusei berhenti untuk mengecek kondisi di belakang punggung. Makhluk hitam aneh yang semula berbentuk abstrak, kini menjelma monster yang sebenar-benarnya monster. Semua tentang festival pun lambat laun hilang, ditelan kegelapan abadi.
"Lari, Shuusei! Akan kuciptakan dunia yang baru lagi nanti."
Kali ini giliran Touson yang membawa Shuusei pergi dengan angin. Menggunakan sesuatu yang sulit dinalar sehatnya akal, entah bagaimana Touson dapat menciptakan jalan berbatu. Stan-stan festival pun berdiri lagi kendatipun tanpa pedagang, barang dagangan, ataupun pembeli. Shuusei tentu takjub bukan main meski di satu sisi, genggaman mereka mulai terasa mengebaskan Shuusei; terus-terusan meresahkan ia.
"Apa yang kau lakukan, Shimazaki?"
"Nanti ..." Awalnya Touson ingin bilang, ia akan menjelaskan. Namun, kata-kata yang sudah jelas justru ia telan lagi. Menggeleng lemah yang sekiranya untuk menutupi ketidakrelaannya, Touson menciptakan alasan seperti lebih baik begitu, "Nanti kita mengobrol, terus kau pulang, oke?"
"Ba-baiklah ... Lakukan sesukamu, Shimazaki. Ada yang ingin kubicarkan juga soalnya."
Hutan di belakang kuil menjadi destinasi yang Touson pilih. Mereka langsung duduk di atas kursi batu guna mengatur napas, dan dengan sembarangannya Touson malah menarik kepala Shuusei. Menyuruhnya merebahkan kepalanya pada bahu Touson yang alih-alih menenangkan campur aduknya badai, Shuusei justru tegang bercampur panik.
"Mana bisa kita bersantai-santai, bukan?! Sekarang aku ingat, Shimazaki. Monster-monster hitam itu adalah shinshokusha. Tujuan mereka yaitu melenyapkan literasi, dan kita harus melawannya sebagai reinkarnasi penulis. Jika kita diam saja, nanti buku yang telah dinodai bakalan hilang."
"Kita tidak perlu lagi melakukannya, Shuusei."
"Maksudmu apa berkata begitu?! Kau tidak lagi peduli pada teman kita yang lain, kah? Atau mungkin ... kau mau mengabaikan dirimu sendiri?"
"Bukunya sudah tidak bisa diselamatkan, dan ini adalah pilihanku. Jangan menangis, Shuusei. Sebentar lagi aku akan memulangkanmu, setelah menanyakan ini." Shuusei menggeleng-geleng. Air mata yang bahkan tidak menyadari siapakah dia ini, tahu-tahu menampakkan wujudnya yang rapuh. Amat menggambarkan betapa Shuusei semakin tak habis pikir, di manakah kenyataannya? Yang manakah yang hanya khayalannya?
Apakah Shuusei pun tidak boleh memilih, manakah yang menjadi kenyataan dan ilusi semata? Senyuman Touson bahkan melampaui sendu, soalnya. Padahal se-hancur apa pun kenyataan yang bersembunyi, Shuusei tetap berharap Touson menyukai yang mereka lewati di festival dengan kebahagiaan.
"Sebenarnya apa yang kita lakukan?"
"Soal itu ... nanti biarkan Katai dan Kunikida yang–", "Bukankah kita hanya ingin menikmati festival? Bersenang-senang sambil menikmati diri sendiri? Kenapa semuanya jadi begini, Shimazaki? Apa kita salah karena malah bersantai-santai? Atau akulah yang salah, sebab sempat meragukan yang kita lihat?"
"Tenang. Palingan hanya aku yang salah di sini. Sekarang jawablah pertanyaanku, Shuusei, apakah kau lebih memilih tidak bertemu denganku sehingga tak tersakiti, atau kita tetap bertemu dan berpisah dua kali seperti sekarang?"
"... Kurasa apa pun yang terjadi, itu adalah yang kedua. Bagaimana denganmu?"
"Setelah tahu semuanya jadi begini, aku lebih memilih yang pertama."
Yang mengisi hidup Shuusei bukanlah Touson seorang. Mungkin ada ratusan ribu orang yang mengenali Shuusei dari karya-karyanya. Ratusan yang lalu-lalang melintasi kehidupan Shuusei. Puluhan yang Shuusei anggap sebagai teman. Hanya segelintir yang Shuusei sebut sahabat sejati. Ada begitu banyak yang singgah pada alur seorang Tokuda Shuusei, bukan? Lukanya pun pasti melimpah ruah semakin Shuusei percaya, ia bahagia telah bertemu dengan mereka terutama yang namanya Shuusei ingat.
Di mana salah satu yang nama yang paling Shuusei ingat itu, ialah Shimazaki Touson. Mana bisa pula Touson membayangkan, sudah seberapa banyak sekaligus menumpuknya luka yang Touson taruh pada Shuusei. Lebih-lebih mereka bahkan kian bermekaran, semenjak sang alkemis mempertemukan keduanya di perpustakaan ajaib.
Apabila Shuusei tidak mengenali Touson, setidaknya Shuusei akan kehilangan satu luka. Walaupun nanti hati baik Shuusei berkata, siapa pun yang ia temui pasti adakalanya menyakitinya, Touson bakalan membantah. Menyanggahnya dengan meminta Shuusei harus merasa berhak, untuk hanya mempertahankan yang paling banyak memberikan Shuusei kebahagiaan, sedikit perih pedih. Sementara Touson bukan lagi sosok yang demikian.
Dengan semua nyaman yang ternyata palsu ini, Touson telah menjadi seorang yang paling menumbuhkan luka di atas Shuusei, bahkan menumbuhkan lagi rasa sakit di atas rasa sakit. Semua memang salahnya yang malah mewujudkan skenario shinshokusha. Penawaran yang jika Touson menjadi bagian dari kemisteriusan mereka, ia masih bisa bersama Shuusei selama Shuusei melupakan, siapakah dirinya yang sesungguhnya. Karena Katai serta Kunikida terlalu sulit diselamatkan.
Jadilah Touson menghapus ingatan Shuusei, mengenai shinshokusha beserta para sastrawan. Menciptakan dunia baru untuk mereka berdua yang mana sebelum ke toko kelontong, Touson sudah mengajak Shuusei ke laut, mendaki gunung hingga mengoleksi serangga. Bahwasanya telah lama sekali ia menahan Shuusei, dan tololnya setiap kali Touson mengganti tempat; mengisi stoples kenangan dengan rupa yang berbeda, Shuusei pasti lupa.
Jadi untuk apa dunia ini Touson ciptakan, selain menyia-nyiakan Shuusei, omong-omong? Padahal jika Touson ikhlas, Shuusei sangat bisa menerima kenang-kenangan yang nyata. Langkahnya dapat semakin kukuh, usai untuk pertama kalinya Shuusei gagal memurnikan sebuah buku–
"Pada akhirnya kita bertemu agar kau bisa berpisah denganku. Supaya selama-lamanya kau takkan kesakitan lagi, Shuusei." Kedua tangan Touson menangkup wajah Shuusei. Kening itu Touson cium lembut sebagai pengganti yang lebih melekat dibandingkan selamat tinggal, semoga.
"Tetapi Shimazaki, meski demikian aku tetap yakin, aku lebih menyukai yang kedua. Kita tetap bertemu, berpisah, karena walaupun sangat menyakitkan dan rasanya aku enggak sanggup ... memang lebih baik kau tetap ada di kehidupanku, dan kita menciptakan banyak kenangan."
"Ternyata bisa memiliki sahabat sehebat dirimu yang meskipun mengesalkan, tetapi aku masih suka, adalah sesuatu yang sangat disayangkan apabila tak pernah kuketahui, bukan?"
Mungkin pula bayi itu menerima kehidupan, dan reinkarnasi sebagai Tokuda Shuusei, sebab Tokuda Shuusei akan menganggap luka seperti ini; adalah juga sebuah sosok selayaknya manusia. Ia pun menangis ketika dilahirkan. Umur dari hidupnya dihabiskan untuk berduka yang bukankan pula menyedihkan, saat kebanyakan luka menjadi bahagia sebab ia dihilangkan; dilupakan? Jarang sekali yang menghargainya dengan membiarkannya sembuh?
Luka adalah bukti dari manusia paling manusia, dan karena Touson-lah yang memberikannya kendatipun ia tak bermaksud, maka Shuusei ingin menerimanya. Menghargai berbagai macam Shimazaki Touson yang datang kepadanya itu sebagai rasa sakit, lalu ia rawat supaya Shimazaki Touson yang sama dengan kepedihan ini, dapat bahagia tanpa perlu menghilang. Shuusei yang mengenangnya menggunakan bunyi, "Aku terluka untuk sembuh."
"Apakah kau akan mengingat semua yang kita lakukan?" tanya Shuusei untuk mengisi terakhir kalinya ini. Gelengan lesu Touson beri sebagai jawaban, membuat senyuman keduanya sama-sama kecut.
"Jiwa-ragaku lama-kelamaan akan digerogoti, dan aku menjadi shinshokusha seutuhnya. Suatu hari nanti Shuusei harus membunuhku."
"Nasibku bagaimana kira-kira?"
"Pasti Shuusei melupakanku, termasuk sastrawan di perpustakaan. Setidaknya kau pulang dengan selamat, sih."
"Sayang sekali saat membunuhmu nanti, aku tidak akan tahu kau adalah Shimazaki Touson, sahabat baikku. Seenggaknya kalau aku sadar, aku bisa bilang rindu dan mengenangmu lebih lama lagi."
Aneh sekali, memang, ketika Touson saja berpikir padahal sudah baik Shuusei tak perlu mengingat siapakah Touson, atau membunuh Touson pada masa depan menjadi amat memedihkan. Kursi batu yang semula mereka duduki, kini menghilang ditelan putih bersama Shuusei. Lalu segalanya berubah hitam barulah lama-kelamaan, Shuusei bisa melihat sesuatu yang lain.
"Shuusei ...?"
Entahlah suara siapa, tetapi itu bergetar. Pandangan Shuusei sendiri masih buram, tatkala ia merasakan tubuhnya yang mati lemas dipeluk seseorang.
"Ih. Ya ampun! Kami pikir kau mati bersama Kunikida-kun, serta Tayama-kun. Untunglah Shuusei masih selamat, ya ..."
"... Kume?" Pemuda serba ungu itu sampai menangis haru. Shuusei lantas merasai sebuah tangan turut mengelus-elus punggungnya, dan dia adalah Akutagawa Ryuunosuke. Ada pula anggota Shinshicho lainnya menyebabkan ruangan delving ramai.
"Bagaimana caranya Shuusei-san bisa selamat? Karena, maaf, kau terjebak di buku selama berbulan-bulan."
"Soal itu ... aku lupa. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, Akutagawa-san. Yang pasti dia adalah orang yang baik. Kuharap dirinya selamat."
Satu sastrawan pulang. Dua pergi. Satunya lagi pergi dan dilupakan. Buku yang semula berjudul Yoakemae itu kini sepenuhnya luruh. Tiada siapa pun jua yang mengingat, siapakah pengarangnya? Lebih-lebih isinya, tetapi mereka menyukainya sebab hilang dalam serpihan-serpihan yang hangat. Seolah-olah menghilang pun tak apa, asalkan ia berhasil memulangkan seseorang.
Tamat.
A/N: Sebenernya ini udah kubikin dari jauh2 hari, tapi karena mager publish makanya baru publish sekarang. aku mulai jarang nulis fic karena selain kekurangan ide, aku juga sibuk kerjain komisi. seneng banget bisa balik ke sini dengan pair shuutou pula. favoritku sampai kapan pun~
Ide dasar dari fic ini cuma tentang, "lebih baik bertemu dan berpisah, atau enggak bertemu sama sekali?". dari situ aku pun mengembangkannya dengan touson yang sebenernya jadi taint, demi menolong shuusei. touson yang jadi taint itu selalu ide favoritku sih, meski di sini kubikin berbeda (jadi taint bukan karena ingin, tapi kepaksa juga).
Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. aku bakal tetap nulis buat fandom BTA kok~
