Aku, Kita, dan Musim Panas

Hypnosis Mic belong to King Records

Didedikasikan untuk kemenangan Fling Posse dalam 2nd D.R.B. tanggal 15 Mei kemarin (meski nggak ada hubungannya kalo dalam fic ini, tapi yha (。ŏvŏ)a

Happy reading, and congrats, our Posse!

~o~

1.

"Aku baru tahu kamu punya lonceng angin, Ramuda."

Ada satu lonceng angin digantung di ujung kanopi butik sekaligus studio milik Ramuda, itu kali pertama Gentarou melihatnya—ia belum pernah melihat benda itu di tempat ini sebelumnya, ditambah jarang sekali ada orang memasang lonceng angin di tengah-tengah distrik yang ramainya seolah tak pernah berakhir.

Dice ada di sofa—duduk di sebelah Ramuda yang menggambar sesuatu di atas papan penjepit kertas miliknya. Karena Ramuda masih fokus maka ia yang menjawab, "Itu dariku~"

Gentarou mengerutkan dahi. "Darimu ...?"

"Dice menang undian, hadiahnya lonceng angin tadi." Kali ini Ramuda yang menjawab, namun pandangan pemuda itu masih pada papan penjepit kertas dalam genggamannya.

"Aku nggak tahu mau diapakan, jadi kubawa kemari saja." Dice nyengir.

Gentarou mangut-mangut. "Hee ..."

"Warnanya kuning, sama kayak divisi kita. Keren gak?" Dice berujar lagi. Dan dari sama Gentarou terdiam sejenak.

Benar juga. Lonceng angin yang tadi ia lihat dihiasi oleh kuning yang cerah—apabila latarnya langit biru tanpa awan di atas sana, barangkali akan terlihat indah sekali. Gentarou mangut-mangut untuk ke sekian kali.

"Tapi suaranya nggak kedengaran kalau dari sini." Gentarou beranjak. "Aku ke depan sebentar, mau lihat lagi."

"Ikut!" Dice berdiri, sontak menyusul Gentarou.

Sadar ditinggal sendirian, Ramuda menoleh. Papan penjepit miliknya langsung ia letakan di atas meja.

"Hei, tunggu! Aku mau ikut jugaaa!!"

~o~

2.

"Uwaaah, Gentarou bawa es krim! Hei, Ramuda, ke sini! Lihat Gentarou bawa apa!"

Gentarou hanya tersenyum kecil melihat ekspresi antusias Dice dan raut penasaran Ramuda yang mengalihkan perhatiannya sejenak dari desain pakaian baru yang tengah ia kerjakan. Awal bulan Juli masihlah panas dan es krim kedengaran seperti ide bagus—karena sempat lewat di dekat konbini Gentarou memutuskan untuk membeli, sebelum pergi kemari untuk menemui Ramuda (dan Dice yang syukurlah sedang ada di sini, hingga ia tidak perlu repot mencari karena suatu alasan).

"Gentarou baik banget!!" Ramuda berteriak kegirangan. "Makasih, Gentarou!"

"Iya, iya." Gentarou terkekeh. Setelah mengambil satu bungkus es krim miliknya, ia menyodorkan plastik berisi sisanya pada kedua temannya. "Ambil punya kalian, gih, satu-satu."

"Asik, es krim gratis!" Celetukan Dice hanya mengundang senyum.

Dari sana mereka memutuskan untuk duduk bertiga—Ramuda mengambil jeda sejenak dari pekerjaannya karena takut lelehan es krimnya bisa menodai kertas yang ia miliki. Karena ruang santai dalam studio Ramuda yang terpisah dari butik dan selalu sepi itu, mereka bertiga bisa istirahat sepuasnya.

"Omong-omong, Gentarou," panggil Dice tiba-tiba. Tangannya menjauhkan sebentar es krim rasa soda itu dari mulutnya, sementara netranya melirik orang yang barusan ia panggil.

Gentarou balas melirik. "Hmm?"

"Es krimnya kamu beli empat, ya? Satunya buat siapa?"

"Eh, bener!" Ramuda langsung menyahut. Masih ada satu es krim dalam plastik yang Gentarou bawa setelah ia dan Dice mengambil jatah masing-masing, membuatnya sedikit bingung namun memilih diam—setidaknya sampai Dice bertanya dengan rasa bingung yang sama.

Gentarou mengerjap. "Oh ..." gumamnya. "Buatku, hehe."

Dice dan Ramuda sama-sama menegakkan punggung setelah itu. "Eeh?!"

"Loh, yang beli kan aku?"

Dice diam. Ramuda juga diam.

"... B-bener juga ..." Dice baru ingat lagi tentang hal itu. Baiklah, yang barusan terlalu kekanakan untuk didebatkan. Setidaknya Gentarou sudah berbaik hati mau membelikan es krim buat mereka berdua, maka ia harus berterima kasih lagi nanti.

Namun setelah itu Gentarou tertawa. "Bohong, sih," katanya.

Ramuda menatapnya, tidak paham. "Hah ...?"

"Itu buat Dice, sebenarnya."

Dice langsung menoleh. "HAH?! BOHONG?!"

"Nggak, kali ini." Gentarou terkekeh geli. "Buat Dice, soalnya hari ini kamu ulang tahun—aku kasih es krim lebih aja buat hadiahnya."

Dice belum sempat memproses apa yang baru saja dia dengar, namun Ramuda lebih dulu berteriak.

"Eh, bener juga! Ini tujuh Juli!!" serunya, kemudian berdiri. "Aku lupa, tapi gimana kalo kita rayain? Ada yang punya rekomendasi tempat makan bagus? Ah, iya, Dice juga habiskan dulu es krimmu!"

"Eh, tunggu, kalian—"

Gentarou terkekeh di tempatnya, menyaksikan Ramuda yang mendadak bersemangat dan Dice yang salah tingkah. Teman-teman yang menarik. Apabila punya kesempatan, mungkin ia akan menuangkan suasana ini pada tulisannya suatu hari nanti.

~o~

3.

"Aku tahu tentang kisah yang satu ini."

"E-eh? Kisah?"

Kala ia mengucapkan kalimat pertama dalam cerita yang dikarangnya, Gentarou tidak merasakan apa-apa.

"Oleh karena ia tertinggal kereta terakhir karena bekerja sampai larut, seorang pria terpaksa memesan taksi untuk bisa pulang ke rumah. Orang ini tinggal di Shinjuku, dan selama perjalanan ia tertidur karena kelelahan."

Melihat wajah ketakutan Ramuda dan Dice yang mendengarkannya membuat rasa ingin menjahili milik Gentarou terus membuncah—menarik sekali, kapan lagi bisa melihat seorang Amemura Ramuda dan Arisugawa Dice ketakutan begitu. Oleh karena itu ia terus bercerita, menuntaskan kalimat demi kalimat yang terpatri dalam kepalanya hingga Ramuda dan Dice sama-sama berteriak ketakutan.

"HUAAAA! BERHENTI, BERHENTI, BERHENTI! HENTIKAN TAKSINYA!"

Taksi yang mereka naiki berhenti sesuai permintaan sang penumpang. Di sanalah ketiganya menyadari bahwa mereka berhenti di sebuah tempat yang belum mereka ketahui. Pinggiran kota Shibuya yang akhir-akhir ini jarang disabangi oleh publik.

"Eh, d-di mana ini ...?"

Gentarou mempertahankan raut datarnya. "Pemakaman Aoyama."

"GYAAAH!!" Dice dan Ramuda melompat keluar dari taksi bersamaan, meninggalkan Gentarou yang diam-diam hanya menggumam, "Bohong, kok."

"Cerita yang menarik."

Gentarou menoleh kala mendengar suara dari depan. Itu suara dari sang supir yang sejak mereka naik tadi tidak mengucapkan sepatah katapun. Suaranya agak serak, membuat Gentarou sedikit mengernyit.

"Saya rasa setelah Anda pulang, sebaiknya Anda minum, Tuan." Gentarou menyarankan.

Sang supir tidak menjawab. Gentarou juga tidak begitu peduli, hingga memilih keluar dari taksi untuk menyusul teman-temannya—omong-omong ke mana mereka pergi tadi?

"Kamu tahu? Ketika kamu bercerita atau membahas soal mereka yang sudah mati, mereka akan tertarik dan ikut mendengarkanmu, lho."

Seseorang pernah berkata seperti itu pada Gentarou. Entah kenapa ia teringat pada kalimat itu, dan secara refleks Gentarou menoleh ke belakang.

Taksi yang mereka tumpangi sudah lenyap, tanpa suara, tanpa bayangan sama sekali. Untuk sesaat Gentarou terdiam di tempatnya, iris sewarna daunnya mengerjap-ngerjap.

"... Wah ..."

~o~

4.

"Omong-omong ... ini akhir Juli, ya?"

Itu sore di mana Ramuda dan kedua kawannya iseng jalan-jalan di sekitar Shibuya, melepas penat sehabis melawan beberapa preman nakal yang belakangan hobi merusuh di dekat butik milik Ramuda. Pertanyaan Dice yang barusan terlontar menarik perhatian yang lain. Gentarou mengangguk-angguk, sementara Ramuda mengecek penanggalan pada ponselnya.

"Dua puluh empat Juli!" Si pemilik helaian senada gulali berseru seolah melapor. Dice bertanya lagi, "Ini Sabtu? Sabtu terakhir?"

"Aku rasa begitu." Kali ini Gentarou yang menjawab.

"Kenapa, Dice?" Ramuda memiringkan kepalanya.

Dice menggeleng. "Tiba-tiba aku keinget sesuatu ..."

"Oh, kamu mau bayar utangmu?" Pertanyaan Gentarou dijawab dengan gelengan tidak enak dari yang bersangkutan, disertai gumaman, "Nanti kubayar, kok. Nanti, hehe.", yang rasa-rasanya mustahil jadi kenyataan semenjak Gentarou sendiri tidak ingat jelas kapan Dice membayar utang.

"Jadi apa?"

"Biasanya di akhir bulan Juli kayak begini, bakal ada festival kembang api, 'kan?" Dice menjelaskan apa yang ia ingat.

Gentarou dan Ramuda sama-sama mengerjap-ngerjap, sebelum Gentarou menjentikkan jari. "Ah, maksudmu festival kembang api di dekat Sungai Sumida, bukan?" tanyanya balik.

"Bener!"

"Sungai Sumida ... berarti Asakusa?" Ramuda ikut mengingat-ingat. "Hoo, Dice mau lihat festivalnya?"

Namun Dice mengangkat bahu. "Entahlah," balasnya. "Cuman tiba-tiba keinget aja, hehe."

Ada satu waktu di mana Dice pergi ke festival kembang api Sumidagawa, melihat puluhan bunga-bunga api berwarna-warni meledak dan menghiasi langit musim panas Asakusa. Seseorang yang membawanya ke sana waktu itu, namun orang itu bukanlah Ramuda ataupun Gentarou, bukan juga Riou yang tak sengaja ia kenal berbulan lalu di dekat jalanan Yokohama.

Dice tidak sadar Ramuda dan Gentarou sedang berbisik-bisik di depan sana, merencanakan sesuatu. Tak lama kemudian, Ramuda memanggilnya. "Nee, Dice."

Dice menoleh, lamunannya terbuyar. "Hmm?"

"Malem ini sibuk, nggak?"

Yang ditanya diam sebentar. "Nggak, sih." Orang yang tidak punya kerjaan lain selain berjudi seperti dirinya jelas punya waktu luang yang begitu banyak. Ramuda mangut-mangut, kemudian melirik Gentarou.

"Gentarou juga nggak sibuk, 'kan~"

"Aah, aku punya tulisan yang harus kuselesaikan, sayang sekali~"

"Iih, Gentarou, ikutin rencananya, dong!"

"Bohong, kok. Bab cerita yang kutulis sudah selesai, aku punya banyak waktu luang." Gentarou terkekeh kecil.

Dice mengerjap-ngerjap. "Emang mau ngapain ...?"

"Dari sini ke Asakusa cuman setengah jam, sekarang masih jam enam." Ramuda tersenyum. "Ayo, kita nonton kembang api di Asakusa!"

~o~

5.

Ramuda jarang memotret sesuatu selain yang berhubungan dengan pekerjaannya lewat kamera ponselnya.

Saking jarangnya, pemuda itu jadi agak kaget kala menemukan sebuah foto dengan tiga manusia sebagai objeknya dalam rerimbunan foto-foto refrensi dalam galeri. Sebuah wefie berlatarkan pantai di daerah Kanagawa. Ramuda ingat yang satu ini. Satu dari sekian hari-hari musim panas yang suhunya agak tinggi, namun cocok apabila ingin main-main ke pantai.

"Lihat, Ramuda, aku dapat kelomang! Ayo foto!"

"Uwaah, cantik! Sebentar, sebentar, kuambil dulu ponselku—Gentarou juga sini ikutan foto!"

"Hee, aku juga ...?"

"... Uwah ..." Untuk sesaat Ramuda terpana. Rupanya bukan pilihan yang buruk untuk mengambil gambar kala itu. Masa-masa menyenangkan semacam ini pantas untuk diabadikan.

Baiklah, ingatkan Ramuda untuk membawa ponselnya ke tempat percetakan foto besok siang, apabila tidak ada kendala di luar rencananya.


IYA AK TAU INI UDAH NGARET NYARIS TIGA BULAN TAPI JSKHSJHSJSH AK MASIH INGAT /woi Vir

Gimana ya ... ak ga punya pembelaan buat keterlambatan yang ga kaleng2 ini (MANA FINAL D.R.B UDAH DIUMUMIN WOI LAMA BANGET TELATNYA), jadi silakan hujat aku sepuasnya ;v;)b

(btw iya, ultah Daisu udah lama lewat, tapi biarkan ak mngetik ini, anggep aja kado yang telat /digebuk)