Orang-orang berkata bahwa aku adalah manusia secerah matahari. Namun, kupikir aku hanyalah awan hitam yang singgah dan pergi tanpa permisi, datang tanpa diundang, pula membuat orang-orang tak suka.

Mereka bilang netraku secerah sang surya, nyatanya indera penglihatan yang mereka lihat hanyalah semu—cerah tetapi tak nyata.

Sosok yang menurutku benar-benar cocok disebut mentari adalah dirinya. Perempuan berambut cokelat sebahu yang menemaniku sekian lama. Perempuan yang tidak kenal lelah, pemberani, cerdas, juga kuat seperti matahari. Apa pun yang menimpa, dia pantang menyerah. Membela apa yang menurutnya benar, membenarkan apa yang menurutnya salah, berhenti mengikuti jika tidak sesuai dengan pandangannya.

Ia adalah gadis yang selalu ada di sampingku.

Walau aku akan menduga, ia yang kusebut mentariku, akan sangat membenciku saat tahu kebenaran yang tak pernah kusebut di hadapannya.