Ingin kusangkal bahwa orang yang selalu memberiku payung adalah orang yang harus kulindungi.
Bukankah aku muncul di hadapannya untuk mengawasi? Bukankah aku datang padanya untuk dibenci? Mengapa aku selalu saja dipayungi tanpa alasan pasti?
Dapat kuingat ketika mahkota cokelat tua miliknya bergerak mengikuti angin. Ketika ia menyelipkan helai rambutnya ke belakang telinga. Saat kakinya bergerak dan berbalik badan menghadapku, mengulas senyuman lebar dan menunjuk diriku … mengatakan bahwa ia telah menemukanku.
Bukan … bukan dia yang menemukanku, tapi aku—
—yang menemukannya.
Seorang gadis mungil yang ingin kulindungi.
