Nyx tak yakin bagaimana bisa ia selamat, atau bagaimana bisa Sang Oracle duduk di kursi kemudi dan menginjak gas dalam-dalam.

Nyx tak ingat apa saja yang telah terjadi, mana yang nyata dan mana yang hanya halusinasinya.

Si Putri lalu mengintip Sang Glaive yang telah bangun namun tak sepenuhnya bisa dikatakan sadar. Lagi-lagi mobil menabrak dan menggesek pembatas jalan, mengakibatkan guncangan kecil yang membuat Nyx langsung membuka mata lebar-lebar.

"Kenapa Anda menyetir, Your Highness?!"

Luna tertawa kecil, kemudian membanting setir agar kembali kejalur yang benar. bersyukur mereka tidak di ikuti siapapun, karena jika itu terjadi tentu saja Skill menyetir yang buruk itu tak akan mampu menyelamatkan mereka.

"Senang melihatmu sudah mengeluarkan suara yang nyaring, Tuan Ulric." Sahut Luna, Nyx berniat bangkit namun ia baru menyadari bahwa seluruh tubuhnya dipenuhi luka, sebagian besar kulitnya melepuh dan terbakar, bahkan sekarang ia masih bisa merasakan sengatan panas yang mengalir didalam darahnya.

Nyx melihat keluar jendela, Jelas ini sudah pagi- nyaris siang. Tapi kenapa? Kenapa ia masih hidup? Ini tak terasa benar baginya, karena ia yakin betul bahwa para Raja tak sebegitu sukanya dengan nya Hingga meminjamkan kekuatan tanpa bayaran apapun.

"Bukankah seharusnya anda mengambil ujian mengemudi dulu, Your Highness?" Pertanyaan sinis yang tak sesuai kondisi itu membuat Luna terkikik.

"Yeah, memangnya apa yang kau harapkan dari seorang putri yang dikurung selama 12 tahun?" Suara lembut itu membuat Nyx menarik nafas dalam-dalam, bersiap-siap untuk guncangan selanjutnya.

Memang bukan perjalanan yang menyenangkan, namun entah bagaimana kini mereka berdua tiba di Hammerhead. Nyx tak tahu apa yang sang Putri cari disini, namun begitu melihat seorang Pria tua dengan pakaian mekanik menyambut mereka, Nyx jadi tahu maksudnya.

Nyx pernah melihat Pria tua itu sekali dengan Raja Regis. Luna dan Cid memapah Nyx memasuki bengkel, Cid langsung menutup bengkelnya dan merebahkan Nyx di ruangan yang biasa Cindy Gunakan untuk beristirahat.

Cindy membawa kotak obat. "Wow.." ujar Nyx begitu Cindy memberikannya segelas air putih.

"Melihat dari bagaimana dia bereaksi, Seharusnya tak ada masalah yang serius." Ujar Cid sembari tersenyum. "Saya rasa selanjutnya adalah bagian Anda, Your Highness."

Luna mengangguk, Mereka hanya bisa menggunakan obat untuk luka luar dan Luna yakin bahwa luka Nyx bukan hanya sebatas itu. Tangan Luna meraih jaket Glaive yang Nyx pakai, "Ah! Saya bisa sendiri." ujar Nyx, sebenarnya ia tak yakin bahwa pantas baginya melepaskan pakaian dihadapan seorang Tuan Putri yang juga adalah Oracle, anak kesayangan Dewa.Nyx menyisakan kaosnya, Luna meliriknya dalam diam. "Ini juga?" pertanyaan Nyx terkesan membuatnya terdengar tak profesional, "oh tentu, kenapa tidak?" Lanjutnya lagi berusaha terdengar santai.

"Wow.." Justru kini kalimat itu terdengar dari Cindy yang melihat perut Nyx, kemudian si blonde itu tertawa.

Nyx yakin, Gadis itu hanya sedang menggodanya. Melihat para Anak muda yang masih sanggup bermain-main disaat seperti ini Cid menggelengkan kepala. "Cindy, kau bantu aku sebentar." ujarnya mengajak Cindy keluar dari ruangan.

Menyisakan Luna yang berusaha menyembuhkan Luka dalam Nyx dengan sihirnya. Nyx merasa tak nyaman saat Luna menyentuh Dada dan perutnya, menelusuri tubuhnya dengan jemari lentik yang putih dan lembut, tapi ia berusaha bertingkah senormal mungkin karena Luna tak terlihat terganggu dengan itu. Pastinya Luna sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu.

"Seharusnya Kau langsung pergi dengan Libertus." Celetuk Nyx.

"Dan meninggalkan mu sendirian?" Luna menyahut nyaris seperti gumaman, ia kelihatannya sangat fokus sambil terus mengucapkan kalimat-kalimat yang terasa asing bagi Nyx, 'mungkin itu bahasa Tenebrae' Pikirnya. "Kau tidak akan selamat jika kami tidak kembali."

Mungkin Nyx harus mengakui kalimat itu, hanya saja... Ia merasa menjadi penghambat saat ini. Kondisi mereka tentu tidak bagus, bagaimana kalau ada seseorang yang melihat Luna?

"Ngomong-ngomong... dimana Libertus?"

"Dia bilang dia akan tinggal... hanya sebentar, ada hal yang harus dia urus di Insomnia." Nyx benar-benar tak punya imajinasi untuk memikirkan apa alasan Libertus tetap tinggal dan tidak ikut mereka. Ya, setidaknya kalau Libertus ikut mereka, maka perjalanan barusan tidak akan memberikan terlalu banyak goresan pada Mobil.

Luna mengangkat tangannya, Menyentuh lengan Kanan Nyx yang nyaris putus dan penuh luka bakar. "Ini akan sedikit sakit."

Nyx tertawa, "Kau mungkin tidak tahu, tapi aku ini He..." belum selesai kalimat Nyx, ia sendiri langsung menjerit karena kesakitan. Itu mirip seperti perasaan luka yang disiram air garam dan perasan lemon. Seolah tulang-tulang nya dipaksa untuk kembali tersambung, kulitnya serta dagingnya yang terasa berdenyut memaksakan diri untuk saling menyatukan diri, Nyx tidak tahu sensasi apa itu tapi itu benar-benar menyakitkan "Itu.. tidak sedikit." komentar Nyx saat Luna mengangkat tangannya, Pemulihannya selesai.

"Hanya itu yang bisa kita lakukan hari ini." Ujar Luna, tentu ia tak bisa menyembuhkan Luka Nyx dalam sekali pengobatan. Luka-luka yang sangat banyak dan membekas di seluruh tubuhnya termasuk wajah. "Kau istirahatlah, Aku Harus bicara dengan Tuan Sophiar."


Setelahnya, Nyx dan Luna di antar menggunakan mobil bengkel kesebuah pondok kecil di wilayah Cape Caem. "tak banyak yang bisa Saya bantu, tapi seharusnya ini cukup untuk anda beristirahat." ujar Cid, ia melirik Nyx yang kesulitan berjalan.

"terima kasih." Ujar Luna yang menyambut Nyx dan memapahnya.

"Sebenarnya, Kau bisa tinggal bersama ku, Tuan Ulric." Sela Cid yang sepertinya tak nyaman meninggalkan Luna hanya dengan seorang anak lelaki.

menyadari kekhawatiran Pria tua itu, Nyx buka suara. "Anda tak seharusnya menganggap saya Pria, Sir."

Luna juga langsung menambahkan kalimat Nyx, "Ya, dan sejujurnya Saya lebih ingin Tuan Ulric bersama Saya, Saya merasa terlindungi."

Cid menggaruk kepalanya seolah bingung bagaimana menjelaskan situasi. "Masalahnya, di sana hanya ada 1 kamar."

"Oh, kami bisa tidur bersama." Sahut Luna enteng membuat Cid dan Nyx langsung tersedak.

Ya, Nyx memang bilang bahwa tak seharusnya membedakan Pria dan Wanita disaat seperti ini, tapi kalimat polos Luna tentu memicu kekhawatiran tersendiri bagi Cid.

Melihat reaksi yang aneh dari 2 pria itu, Luna langsung mengoreksi, "... Atau mungkin tidak."

"Bagaimana bisa, Kepolosan bersembunyi dibalik wajah bijak dan cerdas yang seolah mengetahui segala hal itu?"

"kalian punya sofa kan?" Cid mengangguk. "Itu sudah cukup.." Lanjut Nyx.

"Aku akan kembali lagi besok dan membawakan setidaknya matras atau apapun..." Cid naik ke mobilnya, kemudian melambai pada kedua orang itu. "Aku tahu kau sedang terluka, tapi jaga Ratu kita baik-baik, Glaive."

Nyx mengangguk ragu, ia bahkan tak yakin bisa menjaga dirinya sendiri sekarang. Tapi jika hal buruk datang, ia rela menyerahkan ke 2 kaki dan ke 2 tangannya jika itu bisa melindungi Gadis yang sedang berdiri disampingnya.

Setelah memasuki Pondok, diluar dugaan rupanya tempatnya sangat bagus dan lumayan besar. Walau dari tatapan kecewa Luna, Jelas ia mengharapkan sesuatu yang lebih luar biasa. Memang mustahil seorang Tuan Putri menganggap tempat seperti itu istimewa.

Cid bilang Cindy telah menyiapkan segala sesuatunya, dan benar saja... Ada cukup persediaan makanan selama beberapa hari dan beberapa lembar pakaian bersih.

Luna berjalan ke kamar mandi lebih dulu, sepertinya ia sudah tak tahan dengan semua kotoran yang menempel di gaun dan tubuhnya. Walau Nyx langsung menaikan alis begitu melihat Luna keluar dari kar mandi ia memakai celana pendek dan selembar baju kaos. "Err.. kau terlihat..."

Luna pun nampaknya tak biasa dengan pakaian itu, hingga ia terus bercermin dan sama seperti Nyx yang berusaha mencari kalimat yang tepat. "... Biasa?" lanjut Luna.

"Seperti orang biasa.." tambah Nyx, bohong jika bilang Ia terlihat Biasa dengan itu, Karena Luna tetap terlihat cantik. Hanya saja terlihat lebih kasual. "Remaja pada umumnya."

"Jadi maksud mu aku tidak seperti remaja pada umum nya, Tuan Ulric?"

Nyx tidak mengelak pada kalimat itu. "Tak ada remaja biasa yang menjadi lambang perdamaian, Your Highness." yeah, Dan tentu saja tak ada remaja biasa yang mengambil begitu banyak beban tentang Dewa, Raja atau hal semacamnya. Menjadi Oracle termuda yang pernah ada tentu bukanlah hal mudah.

"Aku tidak pernah menggunakan celana sebelumnya." Lanjut Luna masih sambil bercermin.

Nyx menggelengkan kepalanya, padahal baru saja ia berpikir bahwa Luna bukanlah Remaja biasa, namun melirik bagaimana gadis itu melihat penampilan tak biasanya di cermin dengan tatapan polos membuat Nyx sadar, Meski bukanlah remaja biasa, Lunafreya tetaplah pantas untuk bertingkah sebagai Remaja biasa.

Saat melihat bagaimana cara Luna berbicara dan bertingkah laku dihadapan Raja Regis, Nyx berpikir bahwa itu luar biasa dan wajar karena ia adalah seorang Putri. Ia berbicara dengan lemah lembut dan penuh keyakinan, ia tak tercekat dan seolah tak berpikir namun tetap penuh kehati-hatian.

Tapi setelah semuanya, Setelah melihat bagaimana ekspresi Luna yang sekilas terlihat marah saat Nyx menyindir tentang 'Berpura-pura menjadi Putri pemberani', atau bagaimana Luna bercermin sekarang. Nyx tak bisa menahan diri untuk tersenyum dan merasa sedih disaat yang bersamaan.

Nyx tak yakin Luna pernah pergi keluar sana bermain dengan teman-teman hanya untuk sekedar nongkrong atau makan es krim. Nyx juga tak yakin, bahwa Luna menghadiri sekolah biasa yang memiliki 15-20 siswa per kelasnya. Nyx tak yakin, apakah Luna pernah meniup gelembung sabun, berlarian dengan layangan, bermain hujan dan hal-hal kekanakan lainnya saat ia seharusnya melakukannya.

"Princess... " Nyx memanggil nama itu, Membuat Luna otomatis berbalik. "Haruskah saya memberitahu Cindy untuk membawakan anda Gaun?"

Tapi Luna menggeleng, "Tidak perlu."

Jawaban itu membuat Nyx tersenyum.

karena itu persis seperti jawaban yang ia harapkan.


"Tuan Ulric, Bagaimana caranya menyalakan kompor?" tanya Luna memanggil Nyx yang sedang merebahkan diri di sofa.

Nyx tentu tidak heran kalau Gadis itu tidak tahu bagaimana cara menyalakan kompor, karena itu dengan hati-hati ia bangkit dari Sofa untuk menunjukkan pada Luna. Melihat bungkus mi instan yang terbuka, Nyx mengangkat alisnya. ia tak merasa mi instan cocok untuk Luna dan tentu tak mungkin cocok dengan seleranya.

Cid bilang, Cindy menyiapkan semuanya secepat mungkin karena itu mungkin beberapa hal menjadi Seadanya. Tapi apa mungkin membiarkan seorang Putri memakan mi instan di tengah malam?

"Jangan memandang ku begitu, Aku juga ingin mencobanya." Kalimat itu langsung menyahut isi pikiran Nyx.

Mendengar hal itu, yasudah. Nyx tak akan protes apapun."Saya akan memasaknya untuk anda." Nyx menggulung lengan bajunya, Tapi Luna langsung menatapnya.

"Kau tidak berpikir aku putri manja yang tidak bisa apa-apa kan?"

"yeah, sebenarnya itulah yang saya pikirkan tentang anda, Your Highness." Nyx melihat bungkus Mi yang sudah Luna buka tadi, "Ini agak pedas, apa anda tak masalah?"

"Apa sangat pedas?"

"tidak, hanya sedikit."

"kalau begitu tidak masalah." Luna merebut Mi nya dan mengambil panci kecil, memasukan 2 gelas air kedalamnya. Nyx maju beberapa langkah dan memberi contoh cara menyalakan kompor.

"Anda harus menekan ini, lalu memutar ini... dan menyala.."

Luna memandang hal itu seolah yang baru Nyx lakukan adalah sebuah sihir. Matanya berbinar, "apa Cara mematikannya juga sama?"

"ya.. putar kearah sebaliknya." Nyx memberi contoh, "mau coba?" Nyx menggeser tubuhnya, membiarkan Luna menyalakan kompornya sendiri.

Luna tersenyum puas saat apinya menyala. "Woah ternyata mudah." ujarnya sambil tertawa kecil. "Maria selalu bilang bahwa aku mungkin melukai diriku jika memasak, jadi tak ada yang memperbolehkan ku berada didekat dapur."

Nyx tak tahu siapa Maria, tapi pasti salah satu pelayan Luna atau semacamnya. "Maaf merusak suasana, tapi membuat instan bahkan tak bisa dikatakan memasak."

Wajah Luna langsung memerah, "Masak kok! masak mie instan!"

"sepertinya Menggoda tuan Putri akan menjadi salah satu agenda harian yang paling aku sukai."

tak lama kemudian, Air mendidih dan Luna memasukkan Mi nya. Ia terus membaca panduan dibalik kemasan guna memastikan bahwa langkahnya benar. setelah direbus tepat 3 menit, semangkuk Mi telah siap di meja. "kau tidak mau?" tanya Luna pada Nyx.

"Tidak... Saya bisa mengurus diri saya sendiri."

Bukan berarti Nyx tidak lapar, tapi ia mengantuk dan lelah. Hingga pria itu kembali ke sofa dan merebahkan diri dengan tenang.

Luna juga demikian, alih-alih makan di meja makan ia justru membawa mangkuknya menuju ruang utama. Luna meletakkan Mangkuk di meja dan duduk dilantai karena Nyx sedang di sofa.

"Your Highness?"

"ya?"

"Anda tidak sedang berusaha membuat saya terkena hukuman pancung kan?" tanya Nyx, tentu bukan hal normal saat pelayan rebahan di Sofa dan tuannya malah duduk dilantai, padahal masih ada sofa lain disisi lain.

Luna menyalakan Tv, "Aku pernah melihat orang melakukan ini, Mereka duduk dilantai meski punya Sofa dan mereka makan sambil menonton televisi."

Itu bukan hal luar biasa bagi Nyx, karena ia biasa melakukannya di keseharian. hanya saja... "Ini Lunafreya Loh!"

Luna mulai memakan Mi nya, dan Air mata keluar begitu saja. "Princess?"

"Ini pedas..." Wajah Luna mendadak merah.

Nyx hampir tertawa, karena itu hanya level 2 dari 10. "Bukankah saya sudah peringatkan?" ujar Nyx sambil duduk dan menuangkan segelas air.

"Tapi ini enak." Luna langsung meminum airnya, kemudian kembali memakan mie nya dengan kalimat bercucuran.

Nyx tahu, tak seharusnya mereka bisa sesantai ini. Insomnia hancur, Raja mereka mati, Pangeran mereka entah ada dimana. Namun, semua orang memerlukan waktu untuk beristirahat, termasuk ia dan sang Putri.

meski tak terlihat, Luna pasti sedang banyak pikiran. Buktinya ia terus mengganti Channel satu ke Channel lain untuk mendengar berita yang bahkan menginfokan bahwa ia dan Noctis juga mati di Insomnia.

"Anda baik-baik saja?" Tanya Nyx.

"Yeah..." mi nya sudah habis tanpa sisa, Luna berbalik memandang Nyx. "Kita semua lelah.. mari beristirahat sejenak." Gadis itu tersenyum hangat membawa mangkuk sisanya ke dapur. Entah ia bisa mencucinya atau tidak.

"kau yakin tidak mau tidur di kamar, Tuan Ulric?" tawar Luna.

"Dengan mu?" Nyx balik bertanya.

"Entahlah, tapi aku tidak keberatan."

Nyx tertawa, "Tapi aku yang keberatan, Silahkan Nikmati waktu Pribadi mu, Your Highness... dan Aku juga akan menikmati milik ku."

Luna hanya mengangguk pada penolakan itu dan berlalu ke kamarnya. "Selamat malam, Nyx Ulric."

"hm.. Selamat malam."


"Wow.. wow... Mari Hentikan ini, Princess.."

"kenapa?"

"Maksud ku, Membangunkan para Astral, The Six? bagaimana bisa? kupikir itu tugas Pangeran." ujar Nyx sambil geleng-geleng kepala.

"Tugas Noctis memang mendapatkan kepercayaan mereka, Tapi Oracle lah yang punya kemampuan berkomunikasi dengan para Dewa Eos."

Nyx memijat kepalanya, "Aku mengatakan ini karena tentu semakin banyak tugas ku, juga akan menambah daftar tugas mu, Tuan Ulric."

"Jika itu perintah, maka aku tentu tak punya pilihan lain." Nyx tertawa kecil, "Aku harap Raja kita bisa menjalankan misinya dengan baik."

"Aku percaya pada Noctis."

Jawaban Luna membuat wajah Nyx berubah Kecut, "Kapan terakhir kali kau bertemu dengan Pangeran Noctis?"

"12 tahun yang lalu?"

singkatnya, Kalimat barusan membuat Nyx tak tahu lagi harus berkomentar apa. "Serius? 12 tahun yang lalu? saat itu Pangeran baru... 8 tahun? dan Kau..." Nyx menggantung kalimatnya.

"12..."

"Yeah, 12 tahun." Nyx tak yakin keromantisan macam apa yang bisa dibagikan oleh anak berumur 8 dan 12 tahun hingga mereka memutuskan menikah 12 tahun setelahnya.

"Ini perjodohan kalah kau lupa, Tuan Ulric.. jadi berhenti menatapku seolah ilegal menyukai anak lelaki yang lebih muda."

"maaf." meski setelah perkataan maaf itu, Nyx lanjut tertawa. "Yah, aku hanya akan memberikan mu beberapa referensi tentang Calon Suami mu yang sekarang berusia 20 tahun." Nyx menatap Luna yang duduk di Sofa seberangnya.

"Kau kenal Noctis?"

"Yeah, Semua orang kenal."

Luna mengeram, Nyx nampak senang dengan reaksi itu. "Bukan berarti kami dekat seperti minum bersama atau semacamnya. Pangeran punya circle nya sendiri, tapi Aku pernah mengawalnya beberapa kali."

Luna nampak menunggu lanjutan kalimat Nyx, "... Dia tampan jika itu kalimat yang kau tunggu." Potong Nyx membuat wajah Luna otomatis memerah.

"Aku tak mengatakan apapun, tapi itu melegakan." Nyx terkikik melihat ekspresi dan jawaban Luna, sudah menyangka bahwa Good looking juga merupakan tipenya."Tapi jujur, Bukan berarti aku membenci Pangeran tapi dia hanya agak kekanakan... dia keras kepala dan susah diatur, kadang dia kabur membawa Mobil Raja Regis hanya untuk bermain-main dengan temannya.. kadang dia berlatih menggunakan pedang sambil berjalan di lorong istana, tentu hal itu membuat para pelayan takut." Nyx berhenti sebentar sambil melihat reaksi Luna, ".. Dia selalu menyisihkan sayurannya bahkan meskipun itu makan malam formal, Dia juga punya Style yang mencolok untuk ukuran anak seorang Raja."

"Woah.." Komentar Luna membuat Nyx jadi berpikir, apakah kalimatnya barusan terlalu membuatnya Syok. "Rupanya dia belum dewasa."

"Yeah, dia memang masih muda... Normalnya mungkin memang begitu."

"Apa yang kau lakukan saat umur mu 20 tahun?" tanya Luna membalik pertanyaan.

Nyx mengerutkan dahinya, "Mencoba menjadi lebih dekat, Princess?" meski menyindir dulu, tapi Nyx akhirnya memulai cerita baru. Kali ini bukan tentang Pangeran, tapi tentang dirinya. "Saat itu aku dan Libertus bekerja di Bar, kami biasanya pulang larut malam, atau kadang bolos untuk bermain-main di tempat lain.. Galahd lumayan berat, kadang kami berlarian dan mencuri, kadang berkelahi dan dipukuli." Nyx tertawa kecil mengingat hari-hari itu.

"Maaf mendengar nya."

"Tidak, itu menyenangkan."

"..."

Nyx tidak berharap Luna dapat mengerti maksudnya, karena itu setelah keheningan panjang diantara mereka, Nyx tidak kunjung mengangkat topik untuk menjelaskannya maksudnya.

"Apa yang anda inginkan untuk makan malam? Ku harap kita punya daging atau setidaknya ayam." Nyx bertanya sambil berdiri dan berniat untuk mengecek apa saja isi kulkas mereka.

"Ini membingungkan."

"hm?"

"Kau kadang bicara formal dan informal disatu waktu."

Nyx menggaruk kepalanya, "Apa Anda ingin saya hanya bicara Formal, Your Highness?"

"tidak.. bukan itu maksud ku.. kau bisa bicara Informal dengan ku, lagipula aku lebih muda."

Status tentu tak bergantung pada umur, dan Status Luna jauh diatas Nyx sendiri. "Dan orang-orang akan memandang Saya kurang ajar."

"kalau begitu Informal saat tak ada orang lain, dan Formal saat Publik?"

Nyx mengangguk tanda kak keberatan. "Bagaimana kalau 'Nyx' disaat seperti ini, dan 'Tuan Ulric' di publik?" Pria itu memberikan penawaran.

"Baiklah, Nyx.." Sahut Luna. "Luna, Ok?"

tapi Nyx langsung menggeleng, "Tidak.. Aku lebih suka memanggil mu Princess."

Ya, setidaknya Luna tidak harus mendengar Nyx memanggil Your Highness sepanjang waktu.

"Jadi apa yang anda inginkan untuk makan malam?" tanya Nyx lagi kini ia sudah berada didepan kulkas.

"Apa saja, asalkan jangan sesuatu yang 'sedikit pedas'."

"Tentu, Princess." Nyx tertawa kecil sambil mengeluarkan sepaket Ayam dari kulkas. Ia memang tidak mahir memasak, tapi setidaknya Nyx tahu kalau ia lebih baik daripada Luna yang turut ikut kedapur dan menatapnya. "Hari yang tenang bukan?" tanya Nyx.

Luna mengangguk setuju, "Ya.. sangat tenang."

Nyx sangat menyayangkan bahwa ketenangan itu tidak akan bertahan lama, apalagi mengingat bagaimana misi berbicara dengan The six yang baru Luna beberkan. "Apakah ada suatu bayaran untuk para Dewa ketika kau membangunkan mereka?" Nyx berujar sambil memotong Ayam nya menjadi sebesar satu suapan.

Luna menggeleng, "Tidak... tidak ada." sang Putri hanga mengintip dari punggung Nyx, mencoba melihat apa yang sang Glaive sedang lakukan.

Nyx tidak bertanya tanpa alasan, Ia tahu hal-hal seperti itu tentu tak akan mudah dan mereka sangat pamrih. Sama seperti kekuatan Old wall yang ia pinjam, mereka menginginkan nyawanya, yang anehnya Sekarangkan masih bisa menyatu dengan raga untuk membuat Ayam goreng.

"Baguslah."

Malam yang cerah bersama bulan, Nyx tak berniat tidur lebih cepat meskipun Luna sudah merangkak naik ke kamarnya dan mengatakan selamat tidur setelah makan malam.

Nyx memandang pada langit dari jendela yang ia buka setengahnya. Pria itu menghela nafas sembari melemaskan otot-otot lengannya. Tubuh serta Tangan kanannya semakin membaik hari demi hari, membuat Nyx merasa gugup dan agak takut disaat yang bersamaan.

Ia tak ingin kehilangan waktu tenang seperti ini. Masa dimana ia bisa tertawa dan hanya melakukan misi pengawasan ringan. Tanpa pertaruhan nyawa, tanpa pertarungan.


"Yeah, I'd rather be a lover than a fighter

'Cause all my life, I've been fighting"