Seolah ada yang menggaruk pintu, Nyx berjalan ke depan dan mengintip melalui jendela guna memastikan bahwa yang ada dihadapannya bukanlah ancaman atau bahaya. "Seekor Anjing?" Nyx nampak berpikir sebelum tanpa basa-basi Luna membuka pintu dan bergerak dengan gembira.
"Umbra!"
Si Hitam langsung melenggang masuk dan melingkar di Kaki Luna. Anjing itu juga membawa sesuatu dilehernya. "Ini anjing ku." Ujar Luna menjelaskan sembari mengambil buku berwarna maroon yang dibawa oleh Umbra.
Nyx menutup dan mengunci pintu dengan rapat, "Bagaimana bisa dia menemukan mu?"
"Dia bukan Anjing biasa, dia bisa menemukan ku di manapun aku berada. Pengirim pesan."
Nyx yang Penasaran, mendekati Umbra. Anjing itu nampak tak menyukai Nyx dan langsung mengeram. "Oh Baiklah, nak! aku tidak akan menyentuh mu!" Perkataan Nyx membuat Umbra masih menatapnya curiga dan sembunyi dibelakang Luna.
Luna mengelus anjingnya dengan sayang, "Dia orang baik yang menjagaku.. kau tidak boleh kasar, Oke?"
Entah dia Anjing pengantar pesan atau apapun, Nyx jadi yakin bahwa anjing itu bisa mengerti kalimat Luna. karena secara instan Umbra mulai berhenti menatap Nyx dengan tatapan permusuhan. "good boy." Puji Nyx sambil mengelus Umbra. "benarkan dia jantan?"
Luna mengangguk sambil membuka bukunya, sedangkan Nyx menggendong Umbra sembari mengingat-ingat betapa ia ingin memelihara anjing saat masih anak-anak.
Luna terlihat lega seketika, "Syukurlah, Noct baik-baik saja." jelasnya.
Seperti yang Nyx duga, Tentu dari Pangeran. "Yeah, itu bagus." Nyx berjalan ke dapur dan melihat-lihat jika ia punya sesuatu untuk Umbra. "Aku tidak tahu anjing mu ini makhluk apa, tapi apa dia bisa minum susu?"
Luna tertawa, "Ya.. dia bisa makan apapun." memberi jeda, Luna kemudian angkat suara lagi. "Noct bilang dia belum bisa ke Altissia karena terjadi beberapa masalah.".
"Itu juga bagus, mengingat kita yang juga belum bisa pergi." Nyx mengeluarkan mangkuk kecil dari rak dan mengisinya dengan susu. Umbra mengendus beberapa kali sebelum akhirnya meminumnya.
"Mereka kehilangan Regalia dan Sekarang sedang berusaha merebutnya kembali." Jelas Luna lagi.
"Regalia? perempuan?"
Luna tertawa geli, "Mobil Raja Regis."
Nyx langsung menampar kepalanya, "Serius? Regalia?" Dan Pria itu tertawa. "Raja kita memang punya selera yang unik."
tiba-tiba Nyx merasa ada aliran panas di tubuhnya, ia menggeram tanpa sengaja. Luna langsung melepaskan bukunya dan berlari pada Nyx, "Apa ada sesuatu yang salah?"
"Panas." hanya itu kalimat Nyx, membuat Luna langsung menuntun Pria itu ke sofa dan mencoba mengobatinya.
Hanya dengan sentuhan kecil, Panas itu segera mereda. Luna membacakan entah do'a atau mantra dengan bahasa yang Nyx dengar sebelumnya. Nyx menahan nafas saat Luna beralih pada lehernya, kemudian memegang rahangnya. Gadis itu menggerakkan jemarinya di atas setiap Luka Nyx, menciptakan perasaan geli dan sejuk disaat yang bersamaan.
Luna mengangkat tangannya. "berbalik."
Nyx hanya berbalik dan memunggungi Luna.
"apakah sering terjadi?"
"biasanya panasnya hanya agak menggelitik." Nyx tidak menampik bahwa itu sering terjadi, hanya saja tidak sepanas hari ini.
punggung Nyx dipenuhi banyak luka, meski beberapa juga adalah luka lama. Namun luka baru karena membangkitkan old wall seolah membuat tubuh pria itu retak, Luka bakar yang menyala menjalari seluruh tubuhnya seolah ingin merobeknya menjadi beberapa bagian.
Luna menelusuri setiap luka yang seolah memiliki nyala api itu. Ia tak bisa menyembuhkannya secara total, tapi setidaknya ia bisa mengurangi sedikit rasa sakitnya.
Setelah selesai, Nyx menurunkan pakaiannya. "lebih baik?"
"Jauh lebih baik."
Pikiran Luna melayang tentang bagaimana rapuhnya tubuh Nyx sekarang namun ia masih berusaha melawan semua itu, Nyx adalah prajurit yang terluka namun masih memperlakukannya layaknya tuan Putri.
Bodohnya Luna karena tak menganggap luka yang tak terlihat sebagai luka. Nyx selalu menutupi tubuhnya dengan baik, memasak dengan lezat dan tidur si sofa dengan nyenyak. Ada perasaan bersalah di sana, karena sebenarnya Luna berniat untuk mengajak Nyx memulai misi mereka dalam waktu dekat.
Luna menulis di buku catatan nya untuk diberikan pada Noctis.
Untuk Noctis
Saya juga sedang merawat seorang Glaive yang terluka. Sama seperti Regalia, saya tak berpikir untuk meninggalkannya.
Saya ingin merawat Glaive pemberani yang telah melindungi saya selama di Insomnia ini dengan baik dan memperkenalkannya dengan Anda saat di Altissia nanti.
Do'a Saya bersama Anda, Noct.
Umbra menerima buku itu, Namun sebelum pergi Umbra berhenti pada Nyx untuk menjilati wajahnya. "Woahh, Boy! rupanya kau sangat menyukai ku." Nyx tertawa renyah. "Saat kita bertemu lagi, akan ku pastikan aku memiliki makanan anjing." Umbra menggonggong sekali dan pergi.
"Sebenarnya Umbra tidak perlu makanan duniawi."
mendengar hal itu, Nyx tak nampak peduli. "Tapi bagiku dia tetap seekor anjing, tak ada salahnya kan memperlakukannya seperti itu?"
Luna tertawa mendengar jawaban Nyx. Pria itu sangat jujur dengan apa yang ia pikirkan, ia tak nampak terlalu peduli pada hal-hal yang sulit untuk dimengerti. Misalnya saja tentang keberadaan Umbra.
"Mulai sekarang biarkan aku yang memasak." Kalimat Luna tak terdengar seperti rencana bagus bagi Nyx.
"Orang yang bahkan tak tahu cara menyalakan kompor?"
Luna berusaha tak peduli dengan sindir itu, "Aku mungkin tidak tahu bagaimana cara menyalakan kompor, tapi kau sudah mengajariku dan itu cukup, aku tahu bagaimana cara memotong sayuran dan memasukannya ke penggorengan."
Nyx menggaruk kepalanya, sebenarnya ia tak yakin dan tak percaya dengan kepercayaan diri yang gak berdasar itu. Seperti kata Luna, ia bahkan tak diizinkan mendekati dapur, lantas bagaimana mungkin ia bisa memasak?
Nyx melotot melihat set makan malam lengkap telah tertata di meja. Ia menatap Luna curiga, "Kau tidak memesan Delivery Food kan?"
Luna balas memandang Nyx dengan percaya diri, "akan ku anggap itu pujian."
Luna menarik kursinya yang ada dihadapan Nyx. "Makanlah." Luna mempersilahkan.
"Ok Nyx, tampilan menggiurkan belum tentu terasa lezat." pikir Nyx sambil menyuap sepotong ayam. Tapi matanya langsung membulat, "Ini enak."
Luna nampak lega, "Syukurlah kau menyukainya."
"Kau tidak meminta bantuan dewa atau semacamnya kan?" Nyx memandang Luna dengan tatapan menyelidik.
Sang Oracle tertawa hambar. "Mana mungkin, haha."
Cid mengunjungi Nyx Dan Luna di sore hari, Ia terkejut melihat Luna yang berpakaian kasual. "Maafkan saya, Your Highness... Saya pikir Cindy melakukan kesalahan." Cid nampak gugup dan merasa bersalah karena tidak mengecek mereka lebih awal lagi. Pria tua itu menunduk dalam-dalam.
"Tidak masalah, Tuan Sophiar... Pakaian ini terasa nyaman." Sahut Luna.
"Tapi anda tak bisa memamerkan tubuh anda seperti itu pada sembarang orang." Cid melirik Nyx yang langsung menghela nafas.
Luna memang memakai Celana pendek yang memamerkan paha nya, tapi sejauh ini hanya Cindy, Cid dan Nyx yang melihat pemandangan itu.
"Saya pernah punya adik perempuan yang kadang berkeliling rumah dengan pakaian dalam.. jadi ini bukan apa-apa jika 'sembarang orang' yang anda maksud itu adalah saya." Nyx menegaskan dengan nada bicara malas.
Cid tak nampak percaya dengan alasan tipis itu, "Tapi dia adik mu."
"kenapa? Adik ku juga cantik."
"Kita sedang membicarakan tentang Lady Lunafreya, sang Oracle! Putri Tenebrae yang akan menikahi Raja kita!"
"Apa bedanya? Princess juga hanyalah seorang remaja yang ingin berpakaian nyaman di rumah." Jawaban Nyx membuat Cid terdiam sebentar, "Saya tak masalah Anda memakai gaun putih panjang yang mudah kotor dan tersangkut dimana-mana itu pada pertemuan formal, tapi Anda harus menjadi nyaman di waktu-waktu anda bisa membuat diri Anda menjadi nyaman." Nyx memberi saran membuat Luna terperangah.
"Yeah, Saran yang menarik, Tuan Ulric." Luna beralih pada Cid, "Sebenarnya aku setuju dengan pendapat Tuan Ulric.. lagi pula Nyx bukan sembarang orang."
Pada akhirnya Cid menyerah dan membiarkan semuanya sesuai keinginan sang putri.
"Bisa kita bicara Nyx?" ujar Cid memanggil Nyx untuk mengikutinya keluar sebentar. Agaknya Nyx tahu kearah mana Cid akan membawa pembicaraan mereka. "Ini tentang Lady Lunafreya..."
"Ya, tentu saja.. siapa lagi?" Pikir Nyx sembari tertawa dalam hati.
"Aku tak masalah pada pertemanan Pangeran Noctis dengan para pengawalnya, karena.. mereka semua Pria dan kenal dalam waktu yang sangat lama.. Tapi aku keberatan jika kau mendekatkan dirimu sama seperti itu pada Lady Lunafreya."
Nyx memutar bola matanya, "Karena aku sembarang orang?"
Cid menggeleng, "Maaf tentang itu, tapi bukan itu maksud ku." Pria itu nampak merangkai katanya, "Ini juga demi kebaikan mu, Hanya lakukan tugas mu.. membawa Lady Lunafreya ke Altissia, tidak lebih dan tidak kurang, itu yang terbaik untuk kita semua." Cid meletakkan tangan nya dipundak kiri Nyx.
"Aku sangat berterima kasih atas saran mu, tapi percayalah Cid... Tak ada apa-apa yang perlu kau khawatirkan, Aku tak pernah menargetkan atau berniat menargetkan sang Putri."
"Ketegangan diantara kalian menunjukkan semuanya."
"Maaf?"
Cid memandang Nyx iba, "Aku juga pernah muda, nak. Kadang kau melakukannya sebelum menyadarinya."
Nyx masih tak mengerti dan menatap Pria itu tajam meminta penjelasan. "Tatapan mata kalian berbeda... kalian memiliki tatapan yang penuh Affection."
Nyx hampir tertawa mendengar kalimat itu. "Aku tak mengerti maksud mu, tapi kau benar-benar salah paham."
"mari kita lihat siapa yang salah paham kepada siapa." Cid membalas.
"Aku benar-benar tak melakukan apapun." Nyx kali menjelaskan dengan frustasi. ia sungguh tak merasa telah melakukan atau menatap sang putri seperti yang Cid tuturkan. Nyx tahu tempatnya, Nyx tahu ia hanya bisa berdiri dibelakangnya, Nyx tahu bahwa ia hanya satu dari sekian banyak pengawal yang pernah menjaga Luna.
"Bagaimana kalau Sang Putri yang memulainya?"
"Mustahil." kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Nyx bersamaan dengan cuitan burung yang sedang menuju tempat pulang.
Senja telah datang sesuai jadwalnya. Ini adalah kali pertama Nyx keluar setelah sekian hari. "Itu dia yang ku takutkan, Karena aku yakin.. jika itu yang terjadi bahkan seorang Pahlawan berhati baja seperti mu pun akan bertekuk lutut padanya."
"Aku memang selalu bertekuk lutut padanya." Nyx tertawa kecil. "Tapi terima kasih, Cid.. aku akan mengingat saran-saran mu yang meski ku yakini akan tak berguna." Glaive itu tersenyum dengan percaya diri, sedangkan Cid hanya tersenyum kecil sambil memijat dadanya.
Memang tak mudah bicara dengan orang yang keras kepala.
"Apa yang kau dan Cid bicarakan?" Tanya Luna sambil duduk di kursi untuk menonton Nyx mencuci piring, sekarang mereka membagi tugas rumah tangga dengan baik.
Tugas Luna adalah memasak dan merapikan pondok, sedangkan Nyx bertugas untuk mencuci piring, pakaian dan membersihkan toilet.
"Hanya beberapa hal."
Luna menghela nafas, "Apa makna dari beberapa hal itu?"
Nyx mengangkat piring-piring nya kemudian mengeringkannya dengan handuk sebelum menyusun di rak. Nyx mengintip Luna dari punggungnya, kemudian berbalik dan sedikit membungkuk untuk menatap sepasang mata berwarna biru terang itu dari dekat. "Err.. Nyx?" Luna memanggil Glaive nya dengan ragu.
Nyx kemudian menegakan tubuhnya masih sambil menatap Luna. "Aku tak mengerti tentang tatapan apa yang Cid maksud."
"hm?"
Nyx kemudian menggeleng dan mengeringkan tangannya dengan handuk bersih. "Tidak apa-apa, ini sudah larut.. Naiklah dan cepat tidur."
Luna tak tahu harus protes tentang apa, tapi Nyx benar, ia sudah mengantuk.
Pagi yang lain telah datang, Luna membuka matanya ragu-ragu saat mendengar suara Nyx dari depan pintu. Ini adalah kali pertama Pria itu membangunkan tidurnya, ia tak mengetuk dengan kencang dan suaranya tetap rendah. Membuat Luna bangkit dan hanya membuka pintunya sedikit.
"Hari ini Cindy akan berbelanja beberapa kebutuhan untuk kita, Aku hanya berpikir untuk menemaninya karena harusnya belanjaannya akan menjadi cukup banyak.." Nyx memulai, "apakah kau tak masalah ku tinggal beberapa jam?"
"Berapa tepatnya dari beberapa jam itu?"
Nyx memutar kepalanya untuk berpikir, "Secepatnya."
"Apa kau yakin meninggalkan ku sendiri disini hanya untuk belanja?" Tanya Luna.
Nyx terdiam, "Kalau begitu... Aku akan turun dan mengatakan pada Cindy bahwa aku tidak bisa membantunya."
"Maaf, Princess.." Nyx berbalik sambil menyadari kebodohannya, misi utamanya adalah menjaga Luna, bagaimana bisa ia pergi keluar begitu saja?
"Tunggu sebentar, aku punya ide.."
Dan siapa sangka ide yang keluar dari mulut sang Oracle justru membuat cerita panjang dihari yang seharusnya tenang itu.
