Cindy kebingungan setengah mati saat melihat sang Putri berpakaian serba kasual dihadapannya.
Luna memakai Jean pendek dengan kaos dan jaket hitam dengan Hoodie, Ia memang ingat meninggalkan pakaian 'biasa' untuk Luna. Namun ia tak menyangka pakaian itu bisa menjadi begitu modis dan terlihat sempurna!
"Aku justru heran kenapa Cid protes tentang ini." Urai Cindy sambil mengagumi Fashion Itu.
Nyx menggaruk kepalanya, "Padahal aku ingin dia terlihat lebih biasa."
"Memang sulit menyembunyikan kilau berlian." tambah Cindy.
"apa menurutmu ini akan berhasil?" Nyx bertanya dengan Ragu.
Cindy melihat Luna sekeliling, "Yeah, memang terlihat luar biasa.. tapi hanya itu, tak akan ada yang menyangka Gadis ini adalah Lady Lunafreya yang selalu bersama gaun putih sopan nya."
Mendengar itu Nyx agak lega, "Percayalah, Cid akan memecat ku jika tahu ini." Ujar Cindy sambil naik ke mobil nya.
Nyx tahu, bahwa yang mereka lakukan kali ini tentu akan beresiko. Membawa sang Putri berkeliling di pasar yang ramai dan padat untuk berbelanja, Tapi Luna memaksa untuk ikut dan berkata bahwa ia juga ingin membeli beberapa barang pribadi yang tak bisa i katakan pada Nyx.
Entah seberapa Pribadi itu, karena Nyx memilih untuk tidak bertanya lebih dalam lagi.
Perjalanan mereka tak terlalu jauh, Tapi perjalanan dekat itupun terus membuat Nyx berdebar-debar karena takut jika saja ada penjagaan dari kekaisaran.
Bersyukur mereka bisa sampai di pasar dengan selamat. Cindy terus menggandeng Luna kemana-mana karena takut Sang Putri terpisah atau menghilang.
Sedangkan Nyx hanya mengikuti dan mengawasi 2 gadis itu dari belakang, tentunya dengan membawa banyak sekali belanjaan. Nyx jadi bertanya-tanya tentang berapa banyak uang yang Cid keluarkan hanya untuk menghidupi dirinya dan si Putri.
"Cid juga memintaku untuk membelikan Anda beberapa gaun." ujar Cindy pada Luna.
"Hmm, yeah.. ku rasa aku akan membutuhkan 1 atau 2 gaun untuk ritual." jelas Luna, tentu ia masih menyembunyikan wajah dan rambutnya dibalik Hoodie.
Cindy kemudian menarik Luna memasuki sebuah toko yang menjual pakaian wanita.
"Woah Cindy! apa akhirnya kau memutuskan untuk memakai gaun?" sambut seorang Pria dengan kepala plontos dengan meteran pakaian mengalungi lehernya
Cindy menggeleng, "tidak.. untuk teman ku." Sahutnya sambil tertawa.
Pria itu nampak kecewa dan beralih pada Luna. "Kenapa aku merasa familiar?" gumamnya.
Cindy tertawa garing, "Haha.. hanya perasaan mu saja, Pilihlah apapun yang kau sukai, Tuan Parker akan membantumu.. dan Nyx, aku lupa membeli sabun mandi.. aku akan kembali."
Cindy meninggalkan Nyx begitu saja, sedangkan Luna nampak sibuk melihat-lihat gaun yang ada di etalase. "Nyx, coba lihat ini." panggil Luna sembari mengangkat sebuah gaun dan membandingkannya dengan tubuhnya.
"Itu bagus.." komentar Nyx, "tapi jika untuk Ritual, tidak kah Kau ingin sesuatu yang lebih sederhana?" Ya, maksud Nyx adalah mungkin saja mereka harus lari karena amukan para Astral atau mungkin kekaisaran.
"Aku suka yang ini, dan aku yakin para Astral juga akan menyukainya." entah darimana keyakinan diri itu, Tapi Luna akhirnya mencoba gaun barusan. Begitu keluar dari ruang ganti, rahang Tuan Parker hampir saja jatuh.
"Ya Tuhan... Anda adalah Lady Lunafreya!" ia hampir menjerit dan langsung berlutut. "Suatu.. kehormatan bisa melayani Anda di toko kecil ini." ujarnya.
"Bangunlah Tuan Parker, Kau memiliki banyak gaun cantik yang membuat mataku senang."
Tuan Parker nampak berbinar, ia melirik keluar jendela dan segera menutup toko nya. "Saya yakin keberadaan Anda adalah rahasia." tuturnya hati-hati. Ia melihat Luna seolah melihat harapan yang menyala-nyala. "... Saya sangat senang... Anda masih hidup." Tuan Parker menitikkan air mata bahagia, sekali lagi berlutut dihadapan Luna. "Saya akan.. memberikan gaun terbaik saya." lanjutnya.
Nyx meletakan belanjaan kelantai dan merenggangkan otot-ototnya, belanjaanya memang tidak berat, namun terlalu banyak.
Tuan Parker mengeluarkan banyak koleksinya, Kebanyakan yang ia sarankan adalah warna putih karena memang permintaan Luna. Dia bilang warna putih memang identik dengan Tenebrae dan Oracle.
Selagi menunggu Luna memakai koleksi lain, Tuan Parker pergi kebelakang untuk menyiapkan minuman dan cemilan. Saat itulah Luna memanggil Nyx, "Nyx." bisik nya dari balik bilik.
"ada apa, Princess?"
Luna membuka pintunya sedikit, "bisa kau menolongku?" ujarnya sambil menunjuk resleting dibelakang lehernya, Nyx mengangguk dan gadis itu berbalik.
"putih..." hanya itu yang ada di kepala Nyx sembari menarik resletingnya secepat mungkin.
Tak ada adegan Drama atau hal nya, tak ada slow motion atau puisi-puisi yang mewakili perasaan Nyx saat itu.
"Terima Kasih." ujar Luna sambil berjalan keluar dan berdiri didepan cermin. "Ini juga cantik." Komentarnya. "Bagaimana menurut mu, Nyx?"
Nyx memandang Luna dari ujung kepala hingga kaki, "Ya.. cantik." sahutnya apa adanya.
Tuan Parker keluar membawa beberapa gelas teh dan sepiring biskuit, "Saya tak punya terlalu banyak." ujarnya sembari meletakkan nampan di meja. "Maaf, aku tak punya koleksi baju pria." lanjut sembari menatap Nyx.
"Oh sebenarnya, daripada itu.. apakah barangkali kau bisa memperbaiki jaket ku?"
"Jaket? itu pasti jaket yang berharga."
"Yeah, itu sangat berharga.. Aku akan kembali nanti dan membawanya." Tuan Parker mengangguk pada Nyx.
Luna tahu betul, bahwa itu pastilah jaket Glaive nya yang sudah sobek dimana-mana. Jaket yang menemani pertempuran sengitnya dan menjadi saksi bisu bagaimana Nyx melawan Jendral Glauca dengan kekuatan Old Wall.
"Sudah memutuskan pilihan Anda, Your Highness ?" Tanya Nyx.
"Ya, aku ingin ini dan yang pertama tadi." Luna menunjuk Gaun yang ia pakai dan satu gaun Lain yang tergantung di rak.
"Anda yakin hanya itu? Saya bisa memberikan lebih banyak." Tuan Parker nampak khawatir karena Luna tak memilih banyak gaun.
"Semuanya sangat cantik, sebenarnya sulit memutuskan... tapi aku hanya memerlukan 1 2 lembar saja untuk saat ini."
Mendengar itu, Tuan Parker kemudian membungkus gaun yang dimaksud kedalam tas kertas. Lagi-lagi Luna memanggil Nyx ke bilik ganti untuk membukakan resletingnya.
"Jika jadi kau, setidaknya aku akan memilih 5 gaun."
"Aku tak ingin membuat Tuan Parker bangkrut.."
Resleting sudah diturunkan, "Apa anda sudah selesai, Your High..." Tuan Parker yang berniat membungkus baju itupun langsung berhenti berjalan menyadari bahwa Luna rupanya belum selesai melepaskan bajunya.
Nyx yang berdiri di ambang pintu langsung pasang badan dengan tegap agar Tuan Parker tak melihat apa yang bisa ia lihat. "Ma..Maafkan Saya." Tuan Parker menunduk sekali kemudian langsung pergi menjauh.
"Maafkan saya.." Lagi-lagi Tuan Parker meminta maaf.
"Tidak apa-apa..." sahut Luna, "Salahku membiarkan pintunya terbuka." Gadis itu kini telah kembali dengan Hoodie nya.
Tuan Parker lalu menatap Nyx sebentar, lalu kembali beralih pada Luna. "Anda mungkin bosan mendengar ini, tapi saya sangat bersyukur anda masih hidup dan disini bersama kami." Tuan Parker lagi-lagi menampakkan ekspresi penuh haru. "... Saya harap anda bisa segera bertemu Pangeran Noctis."
Luna mengangguk, sebelum akhirnya mereka berpamitan dan pergi keluar Toko. "Ok, dimana Cindy?" Nyx melirik jam nya, hampir satu jam Cindy tak kunjung kembali.
"apa mungkin di mobil?"
hanya itu satu-satunya kemungkinan, "yeah, kalau dia tidak mobil, sebaiknya kita kembali ke toko Parker dan menunggu di sana." Luna hanya mengangguk setuju, Nyx mengulurkan tangannya pada Luna. "Kau tidak berniat untuk terpisah atau semacamnya kan?"
Luna tertawa kecil, Ia jadi teringat bagaimana pertemuan pertamanya dengan Nyx. Saat itu juga Nyx mengulurkan tangannya. "Tapi saat itu jauh lebih sopan." Celetuk Luna sambil menyambut tangan Nyx.
"hm?"
"Saat pertama bertemu, kau juga mengulurkan tangan mu padaku.. "
Nyx langsung memutar memori itu di kepalanya, ia masih ingat betapa ia terpesona dengan kecantikan... tidak bukan kecantikan, tapi keindahan luar biasa itu.
Rambut blondenya yang di ikat rapi terlihat bercahaya, polesan make up tipis yang membuatnya berseri, balutan gaun putih yang anggun, sepasang hills hitam yang tak terlalu tinggi, itulah keindahan Tenebrae yang bisa membuat siapa saja menjadi gila.
"Bukankah aku sudah mengulurkan tangan ku pada banyak kesempatan lain?" Kini kalimat Nyx yang membuat Luna langsung menjelajahi masa lalu.
tentang berapa kali Nyx menangkapnya saat jatuh, menyelamatkannya dari amukan Gurita raksasa. Sang Putri tertawa kecil, "Bisa dibilang itu karena kewajiban."
Nyx mengangkat tangan mereka yang saling bertautan, "bukankah yang ini juga kewajiban?"
Luna belum sempat menjawab saat itu, Karena mereka berpapasan dengan Cindy yang selain membawa sabun mandi juga membawa beberapa kantung lain. "Perlengkapan kemah, huh?" Nyx menatap heran.
"Yeah, Kalian mungkin akan memerlukannya nanti."
Nyx melirik sang Putri yang masih tak melepaskan genggamannya. "Kenapa?"
"Pegang Cindy saja sana." Perintah Nyx membuat Luna cemberut kemudian memasang ekspresi mengejek.
"Aku merasa kau lebih kokoh dan bisa melindungi, Tuan Ulric."
Cindy hanya mendehem, "Mencoba membuat skandal, Princess?"
Luna menggeleng, "Ini hanya kewajiban seorang Glaive."
"Apa yang kita lakukan di Duscae?" Nyx bertanya pada Cindy yang sedang menyetir disebelahnya.
"Aku yang memintanya." Sahut Luna memotong dari kursi belakang.
"Maaf?"
"Disc of Cauthess..." Gumam Luna, "Salah satu tempat dari Para Astra, Archaean... The God of earth, atau beberapa juga memanggilnya Titan."
"Princess bilang ingin melihat tempat ini sebelum pulang." Ujar Cindy sambil menghentikan mobilnya.
"apa tidak apa-apa?" Nyx nampak ragu, kini mereka berada di dataran yang lumayan tinggi, tepat dimana mereka bisa melihat Disc Of Cauthess dari atas.
Mereka bertiga keluar dan berdiri didepan mobil untuk memandangi dengan takjub.
Tempat itu sangat indah dan di lindungi dengan kristal yang runcing, Pantulan senja membuat kecantikan tempat itu bertambah puluhan kali lipat. "ia memiliki rumah yang bagus." celetuk Nyx sembari bersandar didepan mobil Cindy.
Mereka kemudian langsung pergi karena sudah hampir gelap, bisa-bisa ada Daemon yang menyerang mereka dijalan.
Cindy menambah kecepatan mereka, "Kita pasti akan sampai sebelum gelap, tenang saja.." Ujar Cindy dengan percaya diri yang entah bagaimana detik berikutnya mobil mereka berhenti berjalan. "Oo.. oo."
"apa maksud Oo.. oo.. itu?" tanya Nyx sudah menduga apa yang sedang terjadi.
Cindy keluar dari mobil, dan yeah.. Mogok.
"bukankah ini buruk?" ujar Luna.
"ya, tentu saja buruk." sahut Nyx dalam hati sembari berkacak pinggang didepan mobil yang berasap. "Kau membawa peralatan mu?" Tanya Nyx pada Cindy.
"Sayangnya tidak, aku sengaja mengeluarkan mereka dari bagasi agar kita bisa memasukkan belanjaan, maaf.. my bad." Nyx hanya bisa menggaruk kepalanya, ini bukan saatnya menyalahkan siapapun.
"Sebaiknya kita menelpon Cid." Cindy nampak ragu-ragu mendengar itu, karena ia yakin bahwa Cid pasti akan marah besar.
Pertama, Ia membawa sang Putri.
Kedua, mereka pergi terlalu jauh.
"Dia akan marah besar." Ujar Cid dengan wajah takut, "Aku mungkin akan dipecat."
"hmm.. sebenarnya aku punya ide." Ujar Luna sembari berjalan keluar dari mobil.
Dan yeah, kapanpun sang Putri mengeluarkan ide artinya akan ada lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
Nyx dan Luna berjalan menelusuri jalur kecil di tepian hutan. Mereka sedang mencari Havens terdekat untuk mereka tinggali malam ini. Jadi rencana cerdik Luna adalah membiarkan Cindy dijemput Cid dengan mobil derek, dan mengatakan bahwa ia hanya pergi sendiri.
Tentu Cid heran tentang apa yang Cindy lakukan di Duscae sendiri, namun Cindy beralasan untuk menemui seorang teman lama. Dan itu berhasil.
"Ah... itu Dia." Nyx menunjuk sebuah batu besar dengan nyala biru mengelilinginya. Ia membantu Luna naik keatas bebatuan itu dan di sanalah mereka dengan sepaket peralatan camping. "Aku harap dia tidak akan lupa menjemput kita besok." Ujar Nyx sembari mendirikan tenda.
Luna memandangi Havens dengan mata berbinar, ini kali pertama ia melihatnya secara langsung. Ia sering mendengar cerita tentang Ibu nya yang memberkati beberapa titik dengan kekuatan Oracle untuk menghalau Daemon. Ibu nya melakukan itu dengan tujuan membantu para Hunter yang mungkin secara kebetulan tidak bisa pulang sebelum gelap.
Tenda sudah berdiri, Nyx menyalakan api dan mengeluarkan Mi instan. "Aku sudah memberitahu Cindy untuk tidak membelikan yang pedas lagi." Ujar Nyx.
Mereka makan sambil memandangi langit yang bertaburan bintang. Angin dingin bertiup lembut, Api unggun sesekali meletik dan memberikan suara menenangkan, Luna tak tahu bahwa ia bisa sebebas ini setalah sekian lama.
Sebuah gelas besi diberikan ke tangannya, "Teh." jelas Nyx. Luna menerima teh itu sembari menggenggam muk nya erat.
"Hangat." komentarnya.
Yang kemudian tanpa disangka, Sebuah peluru melesat. Nyx langsung berlari dan memasang badannya didepan Luna. "Mereka datang." Tanpa Ragu Nyx menarik Kukri nya dan mulai menyerang para Magitek itu satu persatu sebelum mereka sempat mengenali Luna dan melapor.
Totalnya ada 5 Magitek, Nyx melakukan warp ke sana kemari, dan menyerang mereka secepat mungkin.
Nyx langsung terduduk begitu selesai, Ia bahkan agak terkejut karena rupanya masih bisa menggunakan sihir. Namun meski begitu, ia tak bisa menyangkal bahwa sihir ini membuatnya menjadi lebih lelah dari biasanya.
Luna mengejar Nyx, berusaha kembali membawanya ke Havens. Namun Red Giant datang dihadapan mereka sembari meraung buas, Melihat itu. Nyx sekali lagi berusaha berdiri untuk bertarung. "Aku masih bisa bertarung." Nyx berujar meskipun ia bisa merasakan perasaan terbakar didalam tubuhnya. Pria itu bahkan kesulitan berdiri, bagaimana bisa Luna percaya bahwa ia masih bisa bertarung.
Masih Sambil memegangi Nyx agar tak pergi kemanapun. "Aku bisa!" Teriak Nyx. Tapi Luna menggeleng pelan.
Gadis itu berdiri dengan tegak, mengulurkan tangannya ke udara hampa dan detik berikutnya Sang Daemon besar itu menjerit, Kegelapan dari sang Daemon perlahan berpindah ke tubuh Luna seolah di hisap, Ia terus melakukannya hingga tubuhnya sendiri kadang menampilkan bercak-bercak hitam.
"Hey! Apa yang kau lakukan!?" Nyx menjerit.
"Ku mohon.. Jangan lihat aku." Itu adalah kalimat terakhir yang bisa Nyx dengar sebelum ia kehilangan kesadarannya.
Nyx langsung melompat begitu kesadaran nya telah datang, Ia terduduk dan menyadari bahwa selama ini telah tidur dipangkuan Luna. Sang Oracle juga perlahan membuka matanya, Nampak ketegangan menyelimuti mereka berdua. Nyx masih mencoba menjadi benar-benar sadar, dan memilah-milah kejadian apa saja yang telah terjadi semalam.
"Kau.. menghisap Miasma." Gumam Nyx.
Luna memandang kearah lain, "Itu sudah biasa, sebagai Oracle aku.."
belum selesai kalimat Nyx, "Tidak.. Oracle menyembuhkan dan seharusnya menghilangkan Miasma, bukan memakannya." Nyx masih ingat bagaimana bercak-bercak hitam memenuhi tubuh Luna semalam saat ia menghisap Miasma sang Daemon. "Jelaskan pada saya, Your Highness." Nyx menekan suaranya, ia mendesis tak mengerti.
Luna memainkan jari-jarinya sendiri, terus menunduk dalam-dalam.
"Princess?" Nyx memanggil sekali lagi karena Luna masih kebingungan merangkai kata-katanya.
"YUHUU~" Suar keras Cindy membuyarkan segalanya. Cindy yang tanpa permisi membuka tenda pun langsung takjub akan keheningan dan ketegangan yang ada. "Apa yang..." ia menggantungkan kalimatnya.
"Aku perlu udara segar." Ujar Nyx langsung berjalan keluar, Kini yang tertinggal hanya Luna yang masih terlihat berpikir keras.
"Apakah ini seperti yang Saya Pikirkan?" Tanya Cindy pada Luna, yang hanya di tanggapi dengan gelengan kepala.
Note
Jadi, Gw bukan ahli dari FFXV, jadi kalau ada kesalahan istilah atau hal-hal lainnya mohon dimaklumin yah :)
soalnya, ya kalian taulah FFXV ini universe nya udah luas banget, cerita nya sambung sana sambung sini, ke DLC ini DLC Itu, Ke Kingsglaive, ke anime, ke novel...
yg mana tentu pengetahuan gw tentang mereka masih kurang banyak
tapi yah.. gw cuman mau have fun bikin FF Lunxy, jadi yg mau baca silahkan enjoy, dan yg keberatan gausah baca wkwk
sekian... See Ya!
