Cindy tak tahu tentang apa saja yang telah terjadi selama ia pergi, Namun keheningan panjang menyelimuti perjalanan mereka menuju Cape Caem.

Nyx tak nampak ingin berniat menatap Luna barang sedikit saja, sedangkan sang putri terus melihat keluar dengan tatapan menerawang.

Cindy hanya bisa menghela nafas karena sepertinya tanpa sengaja ia telah tertarik pada sebuah pertengkaran 'Rumah tangga'.

Mereka telah tiba, Nyx mengeluarkan perlengkapan kemah dan langsung membawanya masuk kedalam. Seolah tak peduli dengan Luna yang masih duduk didalam mobil dengan tatapan melamun. Cindy mengetuk kaca Luna pelan, "Kalian baik-baik saja?" Tanya Cindy.

Luna membuang nafas beratnya sekali, kemudian meraih Grendel pintu dan melenggang keluar. "Tidak." sahut Luna.

Cindy ingin mengintrogasi lebih keras, tapi melihat bagaimana wajah Luna yang tak nampak ingin mendengar celotehan apapun membuat sang Montir hanya bisa kembali masuk ke mobil dan memutar arahnya. Kembali ke Hammerhead.

Luna memasuki Pondok, ia tak bisa melihat Nyx di manapun. Pria itu tak ada diruang utama, dapur maupun Toilet. Membuat Luna bertanya-tanya tentang kemana ia bisa pergi ditempat sekecil itu?

Tak ingin berpikir lebih panjang dan karena merasa kurang enak Badan, Luna memilih masuk ke kamarnya.


Nyx tak tahu alasan kenapa ia berlama-lama di gudang, duduk dilantai dan terus menatap pada perkakas yang terlihat tua dan berkarat. Nyx lagi-lagi membuang nafas dengan kasar, "Aku harap punya Rokok."

Malam telah tiba, Nyx berjalan ke dapur dan tak bisa menemukan Luna. Karena itu sang Glaive berpikir untuk membuat makan malam meskipun mereka telah sepakat tentang pembagian tugas. "Bangsawan memang semaunya." gumam Nyx tertawa pahit sembari membalik telur dadar.

Waktu menunjukkan pukul 9, tapi Luna masih tak kunjung turun untuk makan malam. Meski berat, Nyx akhirnya naik keatas dan mengetuk pintu sang Putri. "Your Highness?" ia memanggil sekali dan tak ada jawaban. "Princess?" Nyx memanggil sekali lagi dan masih hening.

Nyx lalu menggeser Grendel pintu, rupanya dikunci. "Princess ! Princess !" Panggil Nyx lagi, kali ini dengan Nada panik. "Hey, kau didalam? kau baik-baik saja?" masih tak menerima jawaban, Nyx akhirnya mendobrak pintu nya dengan beberapa kali percobaan.

Pintu terbuka.

Nyx langsung berhenti, begitu melihat Luna yang terkulai lemah dibawah selimut yang membungkus hampir seluruh tubuhnya. Ia tak jelas tak terlihat sehat.

Nyx langsung berlutut dan menyentuh kepalanya, Dingin. Ia terasa sangat dingin. "Princess ?" panggil Nyx. Tapi Luna masih menutup matanya seolah sedang bermimpi buruk.

Gadis itu terus merintih dan nampak ketakutan, membuat Nyx semakin tak mengerti tentang apa yang terjadi. Nyx berniat mengambilkan handuk hangat dan selimut extra, namun tangan Luna menahannya dengan memegangi ujung bajunya.

Tangan itu memiliki ukiran bercak hitam yang asing bagi Nyx, bercak spiral yang seolah mengelilingi lengan kurus itu. Luna tak mengatakan apapun, Matanya hanya terbuka sedikit, Nafasnya terengah.

Nyx kembali mendekat, duduk ditepian ranjang dan mengamati tangan Luna. Ketika ia melihatnya lagi, Luna juga memiliki bercak serupa di leher dan sedikit diwajahnya. Nyx tak tahu dengan bagian tubuh yang lainnya karena tertutup selimut, tapi ia yakin bahwa sang Putri terlihat sangat kesakitan.

"Aku harus turun... mengambil selimut dan handuk hangat, hanya sebentar, Oke?" Nyx berusaha melepaskan pegangan Luna. Tapi bukannya melepaskan pegangan itu, Luna justru kini mencengkram tangan Nyx kuat-kuat.

"Jangan tinggalkan aku..."

Entah Luna sedang mengigau atau memang bermaksud seperti itu, Nyx juga tak mengerti. Tapi Pria itu memilih untuk balas menggenggam tangan Luna, mengelusnya perlahan berharap bisa menenangkannya.

Setelah Luna tenang, Nyx pelan-pelan melepaskan Luna dan turun untuk mencarikan apapun yang mungkin bisa menghangatkan sang Putri. Nyx bahkan memasak sup dengan sangat cepat, Meski tak yakin dengan rasanya, tapi setidaknya itu lebih baik daripada tidak.

Nyx lalu berusaha membangunkan Luna, "Kau harus makan, Princess.." panggil Nyx.

"kenapa?" sahut suara lemah itu dengan mata setengah terbuka.

"kenapa? sama sekali bukan pertanyaan yang ku ekspektasi kan." pikir Nyx, "Kau belum makan malam, dan kau harus minum obat."

"kenapa aku harus minum obat?" lagi-lagi pertanyaan yang sulit dijawab.

"agar kau sembuh."

"Tapi aku tidak ingin sembuh." jawaban Luna membuat Nyx terdiam dan tak tahu harus berkomentar apa. "Aku hanya ingin tidur sejak senja hingga kembali senja."

Nyx tak mengerti maksudnya, Tapi ia kembali mengecek suhu tubuh Luna. Masih sangat dingin, "Kau harus sembuh untuk ku.. Karena kau sakit itu sangat menyusahkan."

Mendengar itu Luna tak menjawab, Nyx mengambil kesempatan itu untuk menarik Luna sedikit agar ia duduk. Karena tak protes jadi Pria itu berpikir bahwa Luna sudah tak masalah untuk makan. "Buka mulut mu." Luna menatap Nyx sebentar hingga akhirnya membuka mulutnya.

"Hangat..." komentarnya pelan dengan suara parau.

karena Luna sudah bangun, kini Nyx bisa melihat lebih banyak bercak di bagian tubuh lain. Meskipun Luna entah bagaimana menarik selimutnya lagi berusaha menyembunyikan mereka. "Jelek sekali yah." ujarnya dengan nada yang menerawang.

Nyx kembali menyodorkan sup nya dan memaksa Luna memakan lebih banyak. Nyx awalnya tak ingin berkomentar, Hingga Luna menatapnya dengan tatapan sedih. "Maafkan aku."

"Kenapa kau meminta maaf?"

"Karena telah menjadi seperti ini."

"Bagi Ku kau masih Lunafreya yang biasa, tak ada yang berubah, masih Keras kepala, sulit dimengerti dan tetap Indah." Nyx sendiri bahkan tak tahu kenapa ia mengatakan kalimat terakhir, Namun ia sedang jujur. Bahkan dengan semua bercak itu, Luna masih terlihat begitu indah.

Luna memalingkan kepalanya kemudian tertawa kecil. Sang Putri memainkan jarinya dengan gugup, Nyx berhenti menyuapinya sesaat. "Waktu itu, Saat Aku kembali ke Insomnia.. Kau sudah tidak bernafas." Sang Oracle memulai, "... Aku kemudian memakai cincin Lucii setidaknya untuk memohon dan berbicara pada para Raja."

"K..kau..?" Nyx tidak bisa melanjutkan kalimatnya, Luna bahkan tak berani menatap wajah kebingungan Nyx.

"Para Raja mengatakan bahwa sebenarnya kau memiliki penawaran, Siapa yang akan kau korbankan antara Aku atau Libertus... Tapi kau memilih dirimu sendiri." Luna memberi Jeda sekali lagi. "... itu aneh, Padahal aku bisa mengerti jika kau mau mengorbankan ku demi menyelamatkan teman mu dan Insomnia."

Nyx tak bisa berhenti menatap Luna, tutur katanya saat ini sangat buruk. "Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu?" Nyx tentu tak habis pikir.

Luna balas menatap Nyx, kemudian kembali menunduk "kita hanya kenal beberapa hari dan hanya memiliki sedikit percakapan ringan.. seharusnya tak sulit mengorbankan seorang putri yang hampir tak kau kenal." Cerita Luna belum selesai sampai di sana, "Karena itu... aku membuat kesepakatan lain dengan para Raja, yaitu aku menukar jiwa ku agar kau bisa hidup, dan mereka menerimanya.. Aku mati saat itu."

Nyx memandang Luna tak percaya, ia tak habis pikir dan tak menyangka tentang kejadian itu. "Saat itulah dia datang, Bahamut."

Nyx mencoba memutar ilmu pengetahuannya, Bahamut adalah salah satu dari The Six Yang tidak tidur demi menjaga Eos. Bisa di bilang Bahamut adalah yang terkuat diantara mereka. "Ia memberikan ku kesempatan lain, karena ia bilang kematian ku saat itu adalah kematian yang tak tertulis pada bintang." Luna mengambil nafas berat, "Tapi ia juga ingin menghukum ku sedikit karena telah menyalahi takdir yang ia ciptakan.. Dan Bahamut memberi ku kekuatan itu, menghisap Miasma."

"Tapi kau.. Oracle? harusnya kau bisa menetralisir Miasma."

Luna mengangguk, "itulah yang menyebabkan ku masih berbentuk seperti manusia sekarang... Bisa dibilang Obat dan Racun sedang berperang didalam diriku."

"Lalu kenapa kau memakan Miasma itu? kau bisa hanya... menghindarinya kan?"

Luna menatap Nyx dengan tatapan yang sulit dipahami, "sayangnya tidak semudah itu, aku juga... memerlukan Miasma untuk hidup dan memulihkan tenaga ku, tidak kah kah sadar bahwa aku tak memiliki luka apapun setelah peperangan di Insomnia? bahkan masih bisa menyatukan lengan mu yang hampir terpisah?"

Nyx terdiam, itu benar. Glaive itu ingat betul bahwa sang Putri juga mendapat beberapa tembakan dan setidaknya telah mematahkan satu atau tulangnya. Tapi saat mengemudi, ia kelihatan segar bugar tanpa lecet apapun.

Meletakkan mangkuk yang isinya yang masih tersisa setengah, Nyx nampak menerawang. Oracle didengarkan oleh para The Six karena dipandang sebagai manusia suci, tapi bagaimana kalau sang Oracle itu justru memakan dan memerlukan Miasma?

"Maaf.." Itu adalah kalimat Nyx yang paling tidak ingin Luna dengar. Makanya ia berniat merahasiakan itu semua selama yang ia bisa, Luna meraih Nyx dan mengangkat wajahnya.

"Kau tak salah apapun.. Justru aku yang seharusnya berterima kasih atas semua pengorbanan dan perjuangan mu." Luna menjelaskan dengan sungguh-sungguh, tangannya sudah tak terlalu dingin namun wajahnya masih pucat seperti tembok. "Kita impas, Nyx."

Nyx masih tak merasakan dimana impas yang dimaksud Luna. Karena melindungi Luna memang adalah tugasnya demi masa depan seluruh Eos. Ia tak merasa bahwa pilihannya untuk mengorbankan jiwanya demi menyelamatkan Luna adalah hal yang patut di terima kasih kan.

Karena Luna memang harus selamat, harus dilindungi demi keberlangsungan hidup semua orang. "Aku tidak Pantas.. aku hanyalah satu diantara ratusan Glaive yang rela mati untuk mu, Princess."

Nyx masih ingat tentang berapa banyak rekannya yang gugur pada misi yang ia pimpin, Misi bodoh yang ia putuskan sendiri tanpa pikir panjang saat menyadari Sang Putri mungkin dalam bahaya. Ya, dia hanyalah satu diantara ratusan Glaive yang kebetulan bertemu Sang Putri setelah Pelna.

Bahkan, Jika bukan dirinya. Nyx percaya bahwa Glaive itu juga pasti akan melakukan hal serupa, Menyelamatkan sang putri. "Tapi diantara ratusan Glaive, Aku percaya bahwa hanya Nyx Ulric lah yang akan memakai cincin Lucii demi menyelamatkan ku dan Insomnia." Luna tersenyum tulus, Membuat Pria itu sudah tak dapat berkata-kata.

Penjelasan yang Nyx tunggu telah ia dapat, rupanya benar.. bahwa 'Ketidaktahuan itu adalah anugrah.' kini setelah mengerti situasi, Nyx justru merasa jauh lebih depresi.

Nyx memandang pada Luna yang kini telah tidur dengan nyenyak, sepertinya mimpi buruknya telah pergi. Ia terlihat nyaman dan tenang. Bercak ditubuhnya pun nampak perlahan terus memudar, Nyx menyeka anak rambut yang jatuh ke wajah sang Putri, membuat Pria itu tersenyum pahit.

Nyx memutuskan untuk meletakan kepalanya di kasur, sembari menatap wajah Putrinya. "Selamat malam, Princess."