Perasaan setelah hujan di pagi hari menimbulkan ketenangan yang mematikan, suasana yang tercipta membuat siapapun merasa bahwa merapatkan selimut adalah perbuatan yang paling benar saat ini.
Nyx memegangi lehernya yang terasa sakit dan penat, bagaimana tidak? ia tidur dengan posisi duduk semalaman!
Pria itu tak bisa menemukan Luna di tempat tidur, awalnya merasa panik, tapi langsung lega saat bisa mencium samar-samar aroma sedap dari arah luar.
Nyx buru-buru turun sambil bertanya-tanya apakah Sang Putri telah sehat hingga bangun begitu pagi untuk memasak sarapan. Tapi langkah Nyx terhenti, ia kaku sementara mencoba menyadarkan diri lebih baik jika saja masih bermimpi.
"Aah.." jeritan kecil dari mulut Luna dengan wajah 'Terciduk' membuat suasana menjadi awkward dan aneh sementara.
Pasalnya, Nyx melihat Luna hanya duduk di kursi sambil menonton seorang wanita berambut hitam panjang sedang memasak. Wanita itu berpakaian serba gelap, wajah cantiknya ikut berbalik untuk menatap Nyx.
Luna terduduk kaku dihadapan Nyx, beberapa menu sarapan telah tersedia di meja. Gentiana kemudian menambahkan segelas jus jeruk dan segelas Teh untuk Nyx.
"Jadi kau berbohong tentang memasak?" Nyx memasang wajah menyelidik disertai mengejek. Sebenarnya dia tidak akan protes kalau Luna tidak bisa memasak, Hanya saja sangat lucu karena gadis itu sendiri yang ngotot akan mengurusi masalah makanan.
Luna mengangguk lemah, tak nampak memiliki perlawanan. "Gentiana yang membantu ku."
"Ya, setidaknya kau tidak meminta bantuan Dewa seperti yang aku sebutkan sebelumnya." Nyx tertawa hambar sembari menyesap teh, Sudut matanya juga menangkap sepiring nasi goreng yang Tampilannya cantik dan terlihat menggiurkan.
"Bisakah kau berhenti menyesap Teh mu sebentar, Nyx?"
Nyx masih belum menjauhkan gelas tehnya dari bibir. "Kenapa?"
"Karena kau mungkin akan tersedak."
Nyx menurunkan teh nya, beralih meraih sendok untuk memakan nasi goreng dengan telur dadar favoritnya. "Er.. Jadi, Ini Gentiana dan dia adalah salah satu dari The Six."
Nyx memang tidak tersedak, Tapi tangan yang memegang sendok langsung mendadak keram, ia bahkan tanpa sengaja melepaskannya hingga jatuh kelantai. Nyx buru-buru turun dari kursi dan mengambil sendok nya.
"Senang bertemu dengan Anda, Tuan Ulric." Ujar Gentiana sembari tersenyum, meskipun senyumannya hangat, Nyx entah bagaimana jadi merasa menggigil.
Pria tidak tahu harus berbuat seperti apa atau bertingkah seperti apa. karena itu sang Glaive hanya tersenyum kaku dan menyahut dengan Basic. "Suatu kehormatan bertemu dengan Anda."
"Maaf Lady Lunafreya, Tapi Saya harus pergi sekarang." Gentiana berpamitan dengan Luna, Sang Putri hanya mengangguk.
"Terima kasih atas sarapannya." setelah membalas kalimat Luna barusan dengan anggukan anggun, Gentiana menghilang begitu saja seperti udara.
setelah yakin Gentiana pergi, Nyx langsung membuang bernafas seolah telah menahannya sejak lama. "Woah... bagaimana bisa..."
"Ceritanya panjang, tapi Gentiana itu bisa dibilang adalah pengawas ku... biasanya dia memberiku saran atau menyampaikan beberapa pesan, dia sudah ada di sisiku sejak aku lahir." Jelas Luna sambil mengaduk Nasi goreng nya yang memakai telur mata sapi setengah matang. "... tapi, Sejak aku 'dibangkitkan', Gentiana mendapat wewenang baru dari Bahamut.. yaitu dia boleh menjagaku atau melakukan hal bersifat duniawi untuk ku selama itu bukanlah hal yang bisa mengubah takdir."
Nyx mengerjapkan matanya beberapa kali, "Wow..." ia kehabisan kata, entah sudah berapa kali ia mengatakan seruan itu. Ia hanya Tak menyangka bahwa Luna memiliki hal seperti itu.
"Gentiana dalam Mode The Six biasanya dipanggil Shiva, Goddess of ice."
"Apakah tidak masalah membuatnya memasak sarapan? Bukankah seharusnya dia sibuk?" Luna memainkan jarinya saat Nyx bertanya, berpikir tentang jawaban apa yang paling pas.
"Dia punya beberapa alasan untung tidak membiarkanku memasak." Nyx bisa melihat semburat merah dari wajah sang Oracle.
Pria itu menatap gadis dihadapannya dengan curiga. "Alasan apa itu?"
Luna memalingkan wajahnya ke arah lain. "Aku mencoba memasak beberapa hari lalu... Dan, er.. aku hampir membakar semuanya, gosong.. Gentiana bilang tidak akan membiarkanku mati konyol, tewas karena memasak atau justru tewas karena keracunan makanan sendiri."
Nyx tertawa terbahak-bahak, membuat wajah Luna semakin merah. "J..jangan tertawa!" Baru kali ini Luna meninggikan suaranya, Tapi Nyx tidak peduli.
Siapa sangka, Perkelahian kecil mereka kemarin rupanya bukanlah apa-apa. Takdir yang terpelintir, kenyataan yang sulit dan sengit, segala topik krusial yang menguras otak tadi malam terlupakan begitu saja.
Nyx memandang Luna, Wajah yang selalu bersinar seperti bulan itu lagi-lagi mencuri perhatiannya. Sekarang kilauan nya telah kembali, tak ada bercak-bercak hitam yang mengelilingi tubuhnya, Wajahnya berhenti pucat digantikan dengan rona merah karena malu.
"Aku akan menjaga mu..." Kalimat Nyx langsung membuat ekspresi Luna berubah, tergantikan dengan senyuman tipis.
Luna mengangguk kecil, "Aku tahu."
Setelah membicarakan banyak topik tidak penting disela sarapan, Seolah baru mengingat sesuatu Luna kemudian angkat bicara. "Rupanya kau benar."
Nyx masih menunggu lanjutan kalimat Luna, hendak menyesap teh yang rupanya sudah kosong. "Rupanya Noct memang masih anak-anak."
Nyx tersenyum sombong yang seolah berkata 'apa-ku-bilang'. Luna meletakan sendok di piring kosongnya, ia sebenarnya juga sudah selesai beberapa menit yang lalu. "Aku meminta Gentiana untuk memeriksa Noct beberapa hari ini, dan yeah...Dia kelihatannya bersenang-senang." Luna menertawakan dirinya, "...Dia berkeliling kota, memancing, berkemah dan bermain dengan teman-teman nya."
Nyx memang pernah mengatakan pada Luna bahwa Sang Pangeran belum dewasa, tapi bukan maksudnya untuk memberikan kekhawatiran. "Dia mungkin hanya perlu waktu, banyak hal buruk terjadi.. Dia akan siap saat sudah waktunya."
Luna mengangguk masih dengan tatapan menerawang, "Aku percaya itu, hanya saja aku merasa agak iri." Kini Luna menatap Nyx, sedang sang Glaive terdiam tak mengerti. "...Kebebasan, Noct tetap memiliki kebebasan meskipun ia juga menggendong banyak beban. Aku terkurung dalam waktu yang lama didalam kastil, kehilangan banyak hal, tidak punya teman, tak tahu apa yang ada diluar sana. "
Tapi dia memiliki semua itu, berlarian ke sana kemari, menghadiri sekolah, memiliki teman, belajar bertarung, mengunjungi banyak tempat.. Bagaimana mungkin dia bisa bebas meskipun dipundaknya ada begitu banyak kewajiban?"
Nyx mengulurkan tangannya untuk menepuk pundak Luna. "Itu karena dia memilih bebas, Princess... Dia menyimpan kewajiban itu untuk nanti, menyelesaikan bebannya di esok hari, aku tak bilang itu hal yang baik, tapi aku tak bisa bilang itu adalah hal yang buruk.. Bahkan meskipun resikonya besar, tapi setidaknya sehari atau dua hari dengan kebebasan lebih baik daripada hidup ribuan tahun didalam sangkar emas."
Luna mengigit bibir bawahnya, "Aku.. juga ingin bebas."
'Bebas' sebuah kata ambigu yang sebenarnya tak jelas baik atau tidak. Karena kebebasan itu tak berbatas, ketika seseorang memutuskan untuk menjadi 'bebas' melepaskan segala atribut menyusahkan, masalah, beban dan kewajiban, lantas apa yang akan terjadi dikemudian hari?
Nyx tersenyum lembut. Tapi untuk apa memikirkan hari esok? Ketika kepala mu terasa mau pecah, teriakan mu tak bisa keluar, stress, depresi, ketika semua rasa sakit itu terus mencekik dan mencoba membunuhmu hari ini. Sekali lagi aku bertanya, Lantas untuk apa memikirkan hari esok?
Mungkin beberapa orang tak menduganya, dan mungkin beberapa orang sudah berhasil menebaknya. Nyx menarik tangan Luna, membawanya keluar dari dapur dan menyeretnya keluar pondok. Berlari dibawah sinar matahari pagi yang lembut dan hangat, tanpa menutupi kepalanya dengan Hoodie, membiarkan rambut pirang yang terurai diterpa angin.
Jika saja ada pesawat Kekaisaran yang kebetulan lewat dan menembak mereka saat itu, maka semuanya mungkin akan berakhir. Seluruh Eos akan menjadi porak poranda akan kegelapan, tak akan ada lagi cahaya, tak akan ada lagi kebahagiaan."Lalu apa?" pertanyaan egois itu mencetus dari hati sang Oracle, mungkin para dewa yang tengah mengawasinya sedang menatap sambil meringis dan mengerutkan alis. Tapi hari ini saja.. ia tidak peduli.
Ia tidak ingin peduli. Gadis itu menatap punggung Nyx yang lebar, menuntunnya pergi entah kemana. Pergi tanpa tujuan, Pergi tanpa persiapan, dan rupanya semua itu tak terlalu buruk juga.
