Luna baru tahu, bahwa rupanya bermain pasir di pantai tidak akan membuat kulitnya gatal-gatal.
Luna baru tahu, bahwa rupanya ia bisa menerbangkan layangan begitu mudah jika bersedia berlari sedikit lebih kencang.
Luna baru tahu, bahwa rupanya terjun ke laut melalui lereng bukit tidak se berbahaya itu.
Seluruh tubuhnya basah karena air laut, pasir putih juga menempel dimana-mana. Tidak hanya pada pakaian tapi juga di wajah bahkan rambut.
Nyx tertawa, "Bagaimana Putri? kau senang?"
Luna mengangguk sambil memakan es krim yang mulai mencair. Suatu kejutan Nyx tiba-tiba meraih kepala dan mengacak rambutnya seperti anak kecil. Sang Oracle diam sebentar, seperti mencoba mencerna apa yang barusan terjadi. Nyx yang baru sadar, langsung menghentikan kelakuan tidak sopan nya. "Astaga... maaf." tak tahu harus bereaksi bagaimana, Nyx justru berusaha merapikan rambut Luna yang sudah ia buat makin berantakan.
"Bagus Nyx... bagaimana bisa kau memperlakukan Ratu masa depan seperti anak anjing?"
Mengabaikan permintaan maaf Nyx, Luna justru menjinjit kemudian balas mengacak rambut pria itu. "Err... Princess?" Nyx memanggil.
"Terima Kasih, Nyx."
Kalimat singkat itu entah bagaimana membuat Nyx merasa jauh lebih baik. Seluruh tubuhnya mendadak merasa ringan dan santai. Entah itu karena kekuatan Oracle Luna atau apa, Nyx sedikit menunduk lagi mempersilahkan Luna mengacak-acak rambutnya lebih banyak.
Luna terkikik melihat kelakuan Glaive nya yang sekarang persis terlihat seperti bayi besar. "Ini nyaman?"
"Yeah... kau tahu? seperti pusing dan pegal-pegal ku langsung hilang." Sahut Nyx seadanya. "Seharusnya kau bilang lebih awal kalau bisa melakukan hal seperti ini.. lebih ampuh dari obat sakit kepala."
Bersyukur tak ada hal besar terjadi hari itu. Dalam artian tak ada Anggota kekaisaran yang mengejar atau mungkin orang-orang yang mengenali mereka.
Seolah seluruh Eos sudah benar-benar menganggap bahwa Oracle mereka sudah benar-benar mati. Entah rumor itu menjadi hal baik atau hal buruk.
Nyx masih ingat bagaimana wajah Tuan Parker saat tahu bahwa pelanggan tokonya adalah Lunafreya, Ekspresinya berubah cerah dan penuh kebahagiaan. Ia terlihat lega hanya dengan tahu bahwa Putri dari Tenebrae itu masih hidup dan sangat sehat.
"Kapan kau berencana menunjukan pada Dunia bahwa kau masih hidup?" tanya Nyx saat Luna sudah selesai mandi dan meminum coklat panasnya.
Luna meletakan mug di atas meja, "Aku akan melakukanya sambil membangunkan The Six, Kita bisa berjalan perlahan dan melakukan pengobatan."
"Tapi kau kan.."
"Itu tidak lantas menghentikan ku dari kewajiban." Luna tersenyum kecil. "Aku Oracle... Aku adalah anak kesayangan para Dewa." Sang Putri terkikik atas kalimatnya sendiri.
Tapi Nyx sedang tak berniat bercanda dan mengabaikannya kesombongan tanpa arri itu. "Tepatnya anak yang paling dimanfaatkan Dewa."
Luna tertawa, "yeah.." dia tak menolak kalimat Nyx.
"bukankah The Six itu lucu?" Nyx meletakan tangan menopang kepala, "Mereka mengawasi para penghuni Eos, memberikan tugas tentang True King atau Oracle untuk menerangi jalan manusia... padahal jika mereka sungguh-sungguh peduli, yang harus mereka lakukan hanyalah memberikan hidup kita lebih banyak kemudahan, misalnya tanpa Daemon atau masalah."
"Ku rasa itu akan menimbulkan kekacauan." Luna kembali meminum coklat panas nya, "Katakanlah begini, Sebuah negara sebenarnya bisa saja memproduksi banyak uang untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya, tapi niat baik itu akan membuat kekacauan, dalam beberapa tahun setelahnya mungkin akan terjadi kekurangan bahan makanan, meningkatnya tingkat kelahiran yang membuat dunia semakin sesak, dan tingkat kriminalitas tentu akan naik. Masalahnya bukan lagi terletak pada ekonomi, tapi orang-orang akan berebut untuk hidup seperti binatang buas, dan itu lebih mengerikan."
Nyx masih tak tahu bagaimana cara menyambungkan cerita itu dengan para Dewa, tapi ia mengerti konsep yang ingin sang Putri sampaikan dengan sangat mudah. "Otak kecil ku mungkin tidak cukup untuk teori itu, tapi aku paham maksud mu."
Mereka hanya makan malam dengan Mi instan karena Nyx tidak ingin merepotkan Gentiana malam itu, dan ia sedang terlalu malas untuk memasak. Karena Luna juga tak terlihat masalah, jadilah Mi cup.
Luna awalnya kelihatan bingung dengan bungkus yang berbeda. "jadi ini seperti beli mi sekalian mangkuk nya?" tanya nya.
Nyx menimbang-nimbang sebelum mengiyakan. Iya tak ingin mengedukasi sang Putri dengan pengetahuan yang salah. "bahkan langsung ada garpu nya." Nyx mengeluarkan garpu lipat yang ada didalam bungkus. "ini lebih mudah dari yang kau buat waktu ini, mi cup hanya perlu air panas." sang Glaive menjelaskan sambil menuangkan air panas ke batas Mi cup.
Luna memperhatikan dengan sungguh-sungguh, "kita tutup, lalu diamkan selama 2-3 menit.. dan selesai."
"Woah, ini hebat sekali untuk ukuran makanan dengan harga murah. Maksud ku, Kau sudah dapat mangkuk dan garpu, hanya perlu air panas dan sudah dapat mi dengan banyak rasa."
Nyx menertawakan Kepolosan itu, Mereka makan mi cup sambil duduk di balkon, menatap langit..
Pria itu awalnya berniat mengambilkan kursi, tapi Luna bilang dia ingin duduk dilantai dan jadilah mereka hanya menyilakan kaki sambil menikmati mi yang hangat.
"Aku tidak akan melupakan malam ini." Luna menggumam sambil melihat kearah Bintang. "kira-kira, takdir seperti apa yang sebenarnya tertulis di bintang ku?" tanya Luna. "Takdir seperti apa yang Bahamut maksud?"
Nyx memberi jeda untuk mengunyah makan malamnya, "Aku tak yakin ada bintang yang bisa menulis takdir untuk bulan."
Masih memperhatikan Langit malam yang gelap, Luna menyeka rambutnya yang tertiup angin. "Begitu pula dengan Langit Malam.. tak ada bintang yang bisa menulis takdir untuk Nyx, rumah para bintang dan Bulan."
Nyx ragu-ragu tersenyum, ia tak berpikir pantas langsung menyetujui kalimat itu. Itu terlalu luar biasa baginya. "Mungkin justru malam lah yang mengikuti bulan."
Untuk Noctis
Bagaimana kabar mu? Aku harap kalian baik-baik saja.
Aku dan Glaive ku akan mulai bergerak pada Hari Kamis, 2 hari lagi jika dihitung dari saat aku menulis surat ini.
Aku akan menemui para Dewa untuk membantumu, Jagalah kesehatan kalian dan doaku selalu menyertai mu.
"Apa kah tidak bosan menulis 'Do'a ku menyertai mu' ?" tanya Nyx.
Luna menghela nafas sambil memberikan bukunya pada Umbra. "Aku memang selalu mendo'a kan siapapun yang berada dijalan kebaikan."
"meskipun dia memancing?" Nyx tertawa menyindir.
"yeah, meskipun dia memancing dan sering menyindir."
"mana mungkin Pangeran berani..." Nyx langsung berhenti saat sadar bahwa yang Luna maksud adalah dirinya. "Hey, Princess.. siapa yang mengajarimu berbicara tajam seperti itu?"
Luna menunjuk Pria itu dengan pulpen ditangannya. Umbra menggonggong pada Nyx, Pria itu lalu menggendongnya. "Hey, Good Boy! cepatlah kembali saat misi mu selesai, Ok?" Umbra menjawab dengan gonggongan kecil dan menjilati wajahnya. "Padahal aku mulai menyukai tempat ini." Nyx memandangi sekeliling pondok mereka.
"Aku juga." Luna menyahut dengan pandangan sedih, Mereka akan pergi 2 hari lagi. "Jika kita kembali, mari bertemu lagi disini." tawaran Luna membuat Nyx mendecak kecil.
menertawakan tawaran itu, "Jika kita kebetulan selamat, dan berhasil pulang dari Altissia... artinya kau sudah menikah, Princess...atau mungkin aku harus memanggil mu Queen saat itu."
Luna menatap mata pria itu tajam, mata yang menampilkan banyak cerita dan mata yang telah melihat banyak perang, kehilangan, Rekan dan ambisi. "Lalu apa?"
Jawaban Gadis Blonde itu membuat Nyx melongo beberapa waktu. "Memangnya kenapa?" ulang Luna lagi. "Aku hanya ingin melihatmu, kita tidak melakukan hal yang salah."
Jantung Nyx rasanya berhenti beberapa saat, berdenyut tiba-tiba dan terasa sakit. Tapi Luna benar, 'Lalu apa? Memangnya kenapa?' Dada Nyx terasa berat dan sesak sesaat, bahkan muncul perasaan asing yang membuatnya tidak nyaman. "Jika saja kau tidak menikah, maka mungkin..." Nyx menghentikan pemikirannya, menggeleng cepat.
"Ya mari bertemu lagi, Saat itupun aku akan tetap melindungi mu."
"Boleh Aku memeluk mu, Nyx?"
Nyx membuka tangannya dengan lebar dan merengkuh tubuh kecil sang Oracle. Terasa hangat dan rapuh. Nyx juga bisa merasakan sesuatu yang basah di dada nya. "semuanya akan baik-baik saja." Nyx menepuk-nepuk pundak Luna pelan, memberikan semangat.
Tapi gadis itu hanya mempererat pelukannya, menangis lebih erat. "Aku ingin pergi.."
"ya, kita akan pergi 2 hari lagi."
Luna menggigit bibir bawahnya, Menggumam dengan suara rendah. "Melarikan diri."
Nyx tidak tahu apa yang membuat Luna demikian sentimen. Pria itu kembali menepuk pundak Luna, sesekali memainkan rambut blonde itu dan melilitkannya dijari. "Aku akan membawamu kemanapun kau mau, bahkan meskipun itu melarikan diri."
"sungguh?"
"Tentu... Aku Glaive mu, Princess." Nyx memberi jeda sebentar, "tapi apa sungguh itu yang kah inginkan?"
Luna diam, "Kau hanya lelah, Tidurlah yang nyenyak malam ini. Kita bicarakan besok lagi." lanjut Nyx.
"Aku tidur dengan nyenyak saat kau menemaniku seperti waktu itu."
Nyx melepaskan pelukannya, menunduk sedikit untuk melihat wajah Luna yang sembab. "Kau sedang menggoda ku, Princess."
"No! I mean... just sleep.." Luna sedikit berteriak dengan suara parau. Nyx mendekatkan dirinya ke telinga Luna.
"As your wish, Princess.."
Bisikan itu memberikan persetujuan.
Sang Glaive berakhir di ranjang Putrinya, tapi hanya itu. Tidur dengan pikiran yang lebih tenang dibandingkan saat mereka terpisah tembok, Luna yang merasa terlindungi, Nyx yang merasa sudah cukup dekat untuk melindungi.
Malam yang dingin berubah hangat, suasana hening diantara suara binatang malam dan Daemon yang mengamuk. Biarlah rahasia tetap menjadi rahasia, karena siapapun yang tahu tentang mereka jelas akan menganggap itu sebuah skandal besar.
Melabuhkan perasaan pada orang yang tak seharusnya juga merupakan sebuah perselingkuhan. Perselingkuhan dalam diam tanpa tindakan, terasa pasif tapi mencekam dan memabukkan.
Kadang tercium busuknya, tapi kadang juga terkecap menyedihkan. Tak ada pilihan, tak ada yang bisa memilih siapa orangnya. Bahkan kebanyakan manusia memang mencintai orang yang salah.
Orang yang tak seharusnya...
Nyx membuka matanya, menatap Luna yang sudah terlelap. Sang Ratu masa depan sedang tidur nyenyak di hadapannya, terlalu lelah akan kehidupan yang terus mempermainkan
nya.
"Sleep tight, Princess.." Nyx menyeka Poni Luna dari wajahnya, membuat wajah itu tersenyum kecil.
Malam yang begitu gelap membuat bulan bersinar lebih terang. Nyx tersenyum kemudian memejamkan mata.
Sayangnya tak ada orang yang bisa menulis ulang bintang-bintang.
