Mulai membereskan apa saja yang harus dibawa, suasana kesedihan kembali terasa. Mereka akan pergi besok, dan itu bukan piknik. Selain perjalanan yang berbahaya dan mengancam nyawa, perjalanan itu juga sama saja seperti sedang melakukan iring-iringan pengantin, Nyx tidak suka itu.

"Yeah, itu bagus.. tapi apakah para Astral memang seperduli itu dengan Fashion?" tanya Nyx ketika Luna menanyakan tentang Gaun tambahan yang diberikan Tuan Parker, Pria itu bahkan juga sudah memperbaiki Jaket Nyx. Ia mengantarkan potongan pakaian itu dengan berderai air mata, mengharapkan keselamatan sang Oracle dan kesuksesan pernikahannya.

"Ini Ritual, Nyx. Mereka akan senang jika dihormati dan dihargai dengan pakaian yang cantik dan rapi."

"Gentiana tidak?"

"Dia berbeda." Sanggah Luna sambil mengingat-ingat bagaimana ia melenggang dengan pakaian kasual beberapa waktu ini, "... Meski dia bilang.. err, Ini terlihat aneh untuk ku." Luna menarik Kaos nya.

Nyx memandang Luna sekali lagi, kemudian menggeleng, "bukan aneh sih, Dia hanya tidak terbiasa... "

"kau terbiasa?"

"Ya bisa dibilang begitu, kau terlihat jauh lebih santai dan.. yeah, siap berlari?" Nyx menyatakan pertanyaan dibalik pernyataan.

Luna membuang nafas berat sambil memasukan gaun terakhir kedalam tas. "Aku tak tahu itu pujian atau tidak, yang jelas sepertinya kau berpikir aku terlihat tidak siap berlari selama ini." mendengar itu Nyx entah kenapa memutar beberapa ingatan saat mereka masih di Insomnia, Bahkan saat itu Luna memakai heels yang anehnya dia bisa berlari, melompat dan merayap dengan baik.

"er.. baiklah aku akan menarik kalimat ku.. intinya kau terlihat baik-baik saja dengan itu, tak ada yang aneh."

Luna tak menanggapi, dan membuka tas nya sekali lagi demi memasukan sebuah baju kaos dan celana pendek. Ia telah siap.

Sedangkan Nyx? tak banyak yang ia perlukan. Nyx lebih fokus memastikan bahwa sang Putri tidak meninggalkan apapun kebutuhannya. "Aku benar-benar tak sudi jika tiba-tiba kau meminta ku berhenti untuk membeli 'Girl's Thing'." Nyx mengangkat tangan berusaha mengutip 2 kata terakhirnya.

Luna melempar tas nya pada Nyx, "Kenapa tidak kau buka barang bawaan ku dan mengecek 'Girl's Think' ku sendiri kalau ada yang tertinggal?"

"Wow, Princess... baiklah kau menang." Nyx meletakan Tas Luna keatas sofa. Ia menyerah, "Memang bukan ide bagus berdebat dengan seorang politikus." Pria itu menghela nafas, Sekarang baru pukul 12 siang, masih ada banyak waktu sebelum besok. "Apa ada balasan dari pangeran?"

"Semoga berhasil, Luna." Sahut Luna dengan wajah setengah masam. "tapi aku juga menyuruh Noct melalui jalur agar memastikan kita tidak bertemu."

"Bukankah seharusnya baik kalian bertemu?"

"Raja Regis mengadakan pernikahan di Altissia bukan tanpa alasan, Tempat ini jelas tidak aman.. lagipula, saat sudah berhasil membangunkan The Six maka saat itu Kekaisaran akan tahu bahwa aku masih hidup." Nyx hanya mengangguk-angguk menyetujui tanpa protes. "Kau yakin sudah sehat kan?" tanya Luna.

Glaive itu hanya melompat ke sofa dan menyalakan Televisi. "Ya." tanggapan singkat sebenarnya tidak cukup, melihat reaksi Luna, Nyx buru-buru menambahkan. "Bahkan aku bisa bicara sinis padamu 100 kali sehari sekarang."

Luna ikut meletakan pantat nya di sofa, ia justru mematikan televisi. "Bagaimana kalau kita keluar?"

"Lagi?"

"bukankah ini waktu yang tepat? sebelum orang-orang tahu aku masih hidup?"

Nyx menimbang-nimbang sebelum memutuskan, "Hoodie hitam?"

"Tak masalah."


Kali pertama Luna menaiki Chocobo, Ternyata ayam itu lebih menimbulkan sensasi naik turun daripada Kuda. Meskipun Luna juga harus mengakui, bahwa Chocobo lebih lincah dan gesit. bahkan bisa melompat lebih tinggi.

"Mobil kita masih pada Cid, dia akan bertanya panjang lebar kalau aku tiba-tiba mengambilnya." jelas Nyx, ia menaiki Chocobo berwarna hitam.

Luna mengelus kepala Chocobo dengan sayang, "Mereka lebih lucu." sahutnya disertai lenguhan Chocobo yang kelihatan senang akan belaian itu.

Nyx tahu yang ia lakukan berbahaya, tapi selain hanya keluar dengan Chocobo dia juga mengajak sang putri berhenti untuk makan siang di Crow's Nest, Fast Food.

seharusnya Sang Putri sudah tak terlalu asing lagi dengan makanan yang di hidangkan dengan cepat, Tapi Nyx langsung tertawa saat Luna bertanya pada Nyx tentang apa yang bisa ia makan di sana. Sang Oracle bahkan dengan terang-terangan mengatakan tak menyukai maskot restoran itu, "Aku lebih suka Chocobo." protesnya membuat tawa Nyx semakin keras.

Nyx memesankan Luna Kenny's Salmon, sedangkan dia sendiri memesan kentang goreng. "Pasti sudah lama Kau tidak makan salmon." Ujar Nyx. "Cid tidak pernah mengisi kulkas kita dengan ikan laut."

Luna tak terlihat terlalu menyukai Salmon dari restoran itu, tapi ia kelihatan sangat tertarik dengan kentang Nyx membuat jatah Glaive itu jadi berkurang. Lucunya, pada akhirnya mereka justru bertukar makanan. "Aku akan punya cerita menarik nanti karena pernah bertukar makanan dengan Sang Ratu."

Luna memasukan kentang goreng ke mulutnya, "Bukan hanya Makanan kan? kita bahkan bertukar tempat tinggal bahkan kasur." sahutan Luna hampir membuat Nyx membekap mulut sang Oracle. "Mereka tidak peduli dan tidak akan mendengarkan kita, Nyx." ujarnya lagi ketika melihat Tingkah Nyx yang langsung siaga kanan kiri.

Benar saja, Orang-orang mungkin hanya mengira mereka sebagai pemburu yang sedang istirahat untuk makan siang. restoran tidak terlalu penuh, tapi restoran itu tetap kelihatan sibuk. Di isi oleh pelanggan lain yang saling berbicara satu sama lain, bertukar cerita dan entah berdiskusi apa. Termasuk Sang Oracle dan Glaive nya.

"Kau tahu.. Saat pertama bertemu, ku pikir kau sangat elegan. Kemudian saat kau bicara dengan Raja, ku pikir kau sangat bijaksana. Selanjutnya saat berlarian di Insomnia, ku pikir kau sangat keras kepala. Di hari pertama kita tinggal bersama, aku jadi berpikir bahwa kau hanya remaja biasa." Nyx tertawa sambil menghabiskan Salmon nya, sebenarnya rasanya tidak buruk sama sekali, mungkin hanya tidak cocok dengan selera Luna.

"Lalu hari ini?"

"Aku jadi percaya kalau semua itu benar.. Kau memang elegan, bijaksana, keras kepala dan juga hanya remaja biasa.. semua sisi itu adalah bagian dari dirimu, hanya saja kau punya waktu dan masanya sendiri." Nyx sudah selesai dengan makan siangnya, meletakkan sendok dan garpu di atas piring kosong. "mungkin agak mirip denganku yang mendadak bicara Formal saat dengan atasan tapi langsung mengesalkan dengan Glaive lain."

"bukannya kau selalu mengesalkan?" Luna hampir menghabiskan kentang gorengnya, "Kau bahkan menolak ku saat mengajakmu berkenalan, padahal kalau dihitung.. bisa dibilang aku adalah atasan mu."

Nyx langsung ber 'ah'. "Aku sibuk saat itu."

"Tidak ada yang pernah berani menolak bicara dengan ku, Nyx."

"begitu?" Luna mengangguk.

"Setelah kita bicara dan kau pergi untuk mengawal Raja, ada entah berapa -- Lusinan orang mengajak ku berbincang." Luna menghela nafas sambil menatap potongan terakhir kentang di piring. "Mulai dari menanyakan kabar, mengatakan selamat atas pernikahan, sampai hal yang sifatnya diplomatis."

"Maaf, Princess... tapi Aku memang tak pandai berbasa-basi, Aku tidak menanyakan kabarmu karena aku yakin tak mungkin kau baik-baik saja setelah mendengar pembicaraan mu dengan Raja, dan tentang pernikahan.. bukan berarti aku tak ingin mengatakan selamat, tapi kalian kan memang belum menikah? Bahkan Pengantin Pria dan Pengantin Wanita ini belum bertemu setelah 12 tahun! Aku tak yakin mengatakan selamat adalah hal yang sopan."

"Sopan? kau tidak pernah sopan jika kau lupa."

Nyx hampir menumpahkan minumannya, "woaw.. Haruskah saya kembali berbicara seperti ini, Your Highness?" Nyx nyengir, membuat Luna memutar bola matanya tidak senang.

"Entah seperti apa sebelumnya kau mengawal orang lain." Luna memijat kepalanya.

"Tak banyak, Hanya Pangeran dan Raja kita... Orang-orang lebih suka meminta Crowe untuk itu."

"ah, gadis yang berusaha menjemput ku?" Wajah Luna langsung mendung, Nyx yang menyadari itu langsung berusaha mengubah suasana.

"Oh maksudku, Lihatlah Aku.. aku memang kuat dan Loyal, tapi tidak sopan.. mereka lebih suka mengirim ku ke pertempuran yang mengerikan, penuh darah dan perlu pahlawan."Nyx memberi jeda, "Bisa dibilang misi pengawalan mu adalah pengecualian yang mengejutkan."

"Kenapa kau mengawal ku hari itu?"

Nyx menggaruk kepalanya sambil tersenyum kecil, dia berhasil memindahkan topik dari Crowe. "Entahlah, aku seharusnya menyelesaikan detensi ku dengan berjaga di Citadel, oh hari sebelumnya aku justru berjaga di gerbang... mungkin mempertemukan kita adalah rencana Glauca sialan itu."

Luna langsung ber ah, "itu masuk akal, tapi jika harus menebak alasan mu terkena detensi..." Luna memotong kalimatnya, menyelidik wajah Nyx dari atas sampai bawah, "jelas pasti karena melanggar perintah demi suatu hal yang bersifat 'Pahlawan' atau semacamnya." Nyx tertawa mengkonfirmasi.

"Nyx?" Suara itu membuat Luna dan Nyx langsung menatap kearah yang sama, berdiri seorang Pria dengan perawakan besar di samping mereka, Pria itu menatap dengan wajah kaget separuh berkaca-kaca.

"LIBERTUS!" Nyx langsung berdiri dan Libertus langsung memeluk kawan nya itu sambil melompat-lompat. "Astaga! kemana saja kau, Mate!?" mereka masih berpelukan kayaknya teletabis, beberapa pengunjung resto menatap mereka sebentar kemudian melanjutkan aktifitasnya. 'Oh pasti teman lama.' itulah arti tatapan Mereka.

"aku menyelesaikan beberapa hal." Libertus melirik Luna, ia menyelidik. memastikan bahwa orang dihadapannya benar-benar orang yang ia kira. "Your Highness?"

Luna mendongkak kemudian tersenyum hangat, Nyx sudah lama tak melihat senyum yang dibuat-buat itu. "Senang melihatmu lagi, Libertus."

"Astaga, maafkan ketidak sopanan Saya... Saya sangat senang melihat Hero ini dan tak memperhatikan sekitar... Saya pikir Nyx hanya sedang berkeliaran dan.. mengambil gadis manapun untuk bersenang-senang." mereka sudah berhenti berpelukan, Libertus melirik Nyx penuh arti.

"Lupakan tentang ketidak sopanan, tapi Apa Nyx memang orang seperti itu? maksud ku berkeliaran dan bersenang-senang dengan gadis manapun yang dia temui."

"Aku tidak..."

"Ya, kadang dia begitu." Libertus memotong, "meski terlihat seperti senjata perang, Sebenarnya Pria ini sangat menarik bagi para wanita... Bahkan beberapa Glaive wanita tertarik dan kurasa... "

"Cukup Lib." Nyx menyudahi sambil meremas bahu Libertus. "kita baru bertemu, jangan membahas hal-hal yang tidak penting.. jadi apa yang kau lakukan?"

"oh jadi aku.."

"kita bisa membahas hal-hal penting di rumah nanti." Kini Luna yang memotong, "Jadi Wanita seperti apa yang biasa bermain dengan Nyx?"

Libertus memandang Nyx lalu Luna bergantian. "Oh.. sebentar mari Saya ingat.. ah ada seorang Wanita bernama Foe, Dia tinggi, cantik, rambutnya coklat pendek, sangat gagah, dia pasukan Elite, pengintai kan?" Libertus melirik Nyx, Sebagai gantinya Nyx menatap kawannya tidak percaya.

"Kami hanya makan malam sekali."

Libertus tersenyum nakal mendengar Nyx, ia nampaknya masih berniat menggoda temannya itu lebih jauh. "Dan dia menginap di tempatmu setelahnya."

"Astaga, Lib! itu karena hujan!" Nyx beralih pada Luna, Sang Putri tak terlihat senang, Kini Nyx menatap Libertus tak habis pikir.

"Ayo pulang." Luna Berdiri lebih dulu menuju Chocobo nya.

"Eh, sudah?" tanya Nyx.

"Aku yakin kita punya hal penting untuk dibicarakan di rumah." ia sudah pergi, Nyx menggaruk kepalanya.

Libertus lagi-lagi menatap Nyx dengan tatapan jahil. "jadi.. apa saja yang sudah terjadi Antara kau Dan Princess selama aku tidak ada?"

"Sekali lagi bicara, akan ku tendang kau kembali ke Insomnia."


Suasana mendadak agak aneh, tapi Luna bisa bertahan dengan terus menanggapi Libertus dan mengabaikan Nyx.

"jadi kau berburu para teroris itu?"

"Ya.. hanya itu yang bisa Saya lakukan, Saya.. sejujurnya merasa sangat bersalah karena membocorkan informasi penting pada mereka, jika saya tidak melakukannya.. mungkin saja.." Libertus menunduk, Nyx memukul punggungnya keras.

"Kau hanya tersesat, syukurlah sudah kembali."

"apa yang kau lakukan pada mereka?" tanya Luna penasaran.

Libertus berpikir sebentar, "Saya bicara pada mereka, dan mengatakan kebenaran yang harus mereka percayai, tapi itu tidak mudah.. mereka pemberontak, ingat? jadi Saya juga menghabisi beberapa."

Luna tak berkomentar, Ia tak pernah menyukai pilihan itu. Tapi ia tak bisa menjadi naif dalam perang.

Nyx menghabiskan banyak waktu mengobrol dengan Libertus malam itu, menceritakan kondisi nya dan rencana esok hari. "Wow, Nyx! bagaimana bisa kau masih bisa memiliki sihir?"

"itu juga pertanyaan ku.." Nyx tak berani menceritakan pada Libertus tentang kondisi Luna, biarlah nanti itu terungkap sendiri atau Luna yang menceritakannya dengan sukarela pada Libertus.

Libertus tidur dengan nyenyak di atas matras tambahan yang di bawakan Cid beberapa hari lalu. Sedangkan Nyx memilih merebahkan diri di sofa ruang tamu, Luna melintasinya begitu saja menuju dapur.

"Mencari sesuatu?" tanya Nyx yang buru-buru menyusul Luna.

Gadis itu menggeleng, dan mengambil air dari keran memasukannya ke gelas. Awalnya Nyx ragu tentang 'apa tak masalah Seorang Putri minum air keran?', tapi Luna bersikeras kalau air keran disini lebih segar dan enak daripada air dalam kemasan.

Luna berniat membawa airnya ke kamar, tapi Nyx menghalanginya. "Tentang Foe.. " Pria itu menggantung kalimatnya. "Libertus tidak menceritakan lengkapnya, dia hanya sedang bercanda.. memang benar Foe menginap di tempat ku malam itu, tapi Aku menginap di tempat Libertus yang tepat ada di sebelah."

Luna menatap Nyx, wajahnya sontak memerah. Mengundang Nyx untuk Langsung tertawa. "A..aku tidak bertanya!" lalu Luna langsung berlari ke kamarnya di lantai atas, tapi sebelum masuk ia melirik Nyx yang masih memperhatikannya.

Pintu ditutup agak kencang, kemudian Luna kembali membukanya. menyembulkan kepala untuk melihat Nyx, "Tadi hanya kelepasan!" lalu pintu kembali ditutup, kali ini dengan pelan.

"Yeah, itu bukan cara yang buruk untuk berbaikan."