Disclaimer: I own nothing. I don't own Inuyasha, I'm just renting them from Rumiko Takahashi, Viz, etc. I will make no money from this fic, I write for my own enjoyment and the enjoyment of my readers.

.

AU : Bersetting di zaman modern dengan eksistensi siluman berwujud manusia yang dipandang sebagai perbedaan ras.

.


"Apa kau gugup?" suara tinggi khas anak kecil memecah keheningan.

Alis milik orang yang diajak berbicara berkumpul di tengah, sedari tadi ia menggigit bibir bawahnya. "Tidak, tentu saja tidak."

Karena perasaan asli ibunya sangat mudah dibaca dari ekspresi yang ditampilkan, lagi-lagi, Shippou bertanya, "Kau yakin?"

Wanita bermakhota legam, bergelombang, sepanjang punggung itu mengangguk mantap. Dengan pernyataan itu, Shippou melepaskan sihirnya. Ekor bulu tebal berwarna khaki nan lembut pun menyembul dari celana jin pendek yang memang di desain secara khusus untuk jenis mereka.

Kesunyian kembali mengisi selama beberapa detik, sebelum pada akhirnya ...

Di balik kemudi yang terlalu erat digenggam, Kagome menghela napas yang tertahan melalui mulut. "Aku tahu, seharusnya akulah yang menenangkanmu, tapi kau itu terlalu cerdas untuk kubohongi. Kau benar, Shippou, aku gugup dengan bagaimana penilaian mereka terhadap kita."

Wanita berumur dua puluh lima tahun itu sudah pasti tidak akan terlalu memikirkan pendapat orang lain seandainya saja ia menjadi orang tua tunggal normal.

"Jika ada yang berkata buruk kepadamu, mereka harus menghadapiku," tukas bocah laki-laki yang secara rupa berumur delapan tahun itu.

Atas kalimat itu, si sulung Higurashi tertawa kecil. Warna lampu lalu lintas berganti, merah membuat laju kendaraan mereka berhenti. Cengkeramannya pada kemudi mengendur, Kagome menoleh untuk menatap sosok yang kini, secara hukum telah resmi menjadi 'anaknya'. Zamrud balik menatap, seketika, semua kegelisahan wanita itu tergantikan. Kagome tidak akan lupa pada niat awalnya mengadopsi bocah siluman rubah sebatang kara yang ia kenal sejak setahun yang lalu. "Aku akan selalu menjagamu, Shippou."

Sebagai tanggapan, siluman rubah kecil itu balas berjanji sembari menganggukkan kepala serta cengiran lebar. "Dan aku akan melindungimu selama-lamanya!"

"Untuk melindungiku, kau harus belajar lebih giat lagi, oke!"

"Tidak ada hubungannya dengan belajar."

"Tentu saja ada hubungannya," ujar Kagome seusai terkekeh, ia ingin menjelaskan lebih panjang lagi, tapi mereka telah tiba di area pemukiman yang menjadi tujuan.

Rumah-rumah mewah berdiri dengan pongah. Keduanya bungkam dan sibuk meneliti sekitar. Untuk ukuran Minggu pagi, jalan di antara dua baris rumah yang saling berhadapan terlihat kosong.

Di lingkungan itu, Kagome berharap, dengan semakin tingginya pendidikan yang diperoleh manusia, akan membuat pikiran mereka semakin berpikiran terbuka dan memiliki kadar toleransi yang lebih tinggi. Jepang memang sudah sangat maju di abad 20 seperti saat itu. Kesetaraan akan siluman dan manusia diteriakkan di seluruh penjuru negeri. Kendati begitu, akan selalu ada orang berpikiran kolot yang menentang keras hubungan apapun antar dua ras tersebut.

"Nomor sepuluh. Apakah,"

"Yap, ini dia!" Kagome mengumumkan lantang. "Rumah baru kita!" terangnya lagi. Semangatnya mendadak membuncah, seakan-akan, ia mampu menghadapi apa saja yang kelak terjadi.

Ibu dan anak itu turun dari mobil, menatap lama rumah dua lantai bercat kuning yang terbilang amat mungil bila dibandingkan dengan bangunan lainnya di sekitar situ. Kurva lega tercipta pada roman keduanya.

Kagome menggenggam tangan sang anak dan menuntunnya ke dalam kediaman baru mereka. Sambil menunggu perusahaan pindahan yang akan membawa dan merapikan barang-barang mereka nantinya, keduanya melakukan tur ke tiap ruang yang ada.

Belasan menit berlalu, mereka berada di kamar Shippou yang ada di lantai atas. Ibu dan anak itu sempat tertegun di depan jendela kala menatap rumah yang ada di sebelah kiri. "Besar sekali!" ujar keduanya berbarengan.

Rumah bergaya era victoria itu terasa berbeda untuk Kagome. "Sedikit menakutkan."

"Apa yang kau bayangkan ada di sana, Kagome? Vampir?"

Seusai menggeleng sambil berdekah-dekah, yang ditanya menjawab, "Tidak ada, hanya terlalu besar dan arsitekturnya saja yang membuatku tidak merasa nyaman." Intonasinya ringan kala melanjutkan, "Membersihkan rumah sebesar itu pasti akan sangat melelahkan."

Momen berselang, tak lama wanita itu menegaskan, "Ne, Shippou, karena mulai sekarang kau adalah tanggung jawabku, bisakah kau meminta izinku terlebih dahulu sebelum keluar rumah?"

"Siap, Kagome!"

Tanggapan itu membuat Kagome lega. Menjadi orang tua angkat di mata negara, tidak mengharuskan hubungan mereka berubah. Ia sudah cukup puas bisa menjadi teman sekaligus orang terdekat yang bisa Shippou percayai. Pemilik sepasang manik unik itu tiba-tiba berseru, "Oh, iya, ada satu bagian lagi yang ingin kutunjukkan padamu. Kau akan senang bermain di sana."

Sekejap, keduanya tiba di tempat yang dimaksud. Taman belakang rumah itu cukup luas, berpagar tanaman boxwood kurang dari dua meter, dihiasi perdu, dan beratap langit biru.

Kagome yang kala itu mengenakan celana jin biru dan kaos putih polos duduk di lantai teras, dua botol minuman isotonik berada di antara ia dan Shippou. Sambil menunjuk, ia menjelaskan rencananya, "Aku akan menempatkan meja dan bangku taman di sudut ini. Dan ayunan untukmu di pojok sana." Baru saja Kagome menyelesaikan kalimatnya, suara gemeresak terdengar dari balik semak.

Kewaspadaan ibu dan anak meningkat. Meski pemukiman itu adalah hunian khusus manusia, tapi bahaya dari seseorang yang berniat jahat akan selalu ada di mana saja.

Sedetik berikutnya, muncullah seorang gadis kecil berambut cokelat mengenakan gaun selutut berwarna ungu dari balik pagar hidup.

"Eh?"

Di tengah keterkejutan, ketiganya saling pandang bergantian.

Degup jantung Kagome melonjak, untuk pertama kalinya, Shippou akan terekspos oleh orang lain di lingkungan ini. Salah satu kerisauan terbesarnya adalah, bagaimana tanggapan anak manusia lain melihat Shippou, apakah mereka akan takut? Atau malah meledek dan tidak mau berteman dengannya?

Kecemasan itu pun tidak akan melonjak jika saja mereka memilih rumah di pemukiman khusus siluman maupun khusus manusia. Kendati demikian, Kagome dan Shippou sendiri adalah keluarga antarras yang langka. Sejatinya, tidak ada tempat khusus untuk kasus mereka. Merekalah yang harus menciptakan tempat untuk mereka sendiri.

Di luar dari skenario terburuk yang merajalela di pikiran Kagome, bocah perempuan itu malah mendekati mereka berdua dengan wajah ceria.

Rambut sebahu gadis kecil itu terombang-ambing atas langkah cepat setengah melompat yang diambilnya. "Halo, aku Rin, salam kenal," ia membungkuk setelah memberi salam.

Ibu dan anak itu balas memperkenalkan diri dengan sopan. "Halo, aku Higurashi Kagome, dan ini anakku, Higurashi Shippou."

"Senang bertemu denganmu, Rin," sambar Shippou.

Bocah perempuan itu mendekat dan kian mendekati Shippou. Ketika jarak mereka tinggal selangkah, ia berhenti. Tanpa disangka-sangka yang lainnya, dengan antusias ia meminta izin, "Bolehkah aku menyentuh ekormu, Higurashi-kun?"

Suara deham seorang pria terdengar. Tak lama kemudian, suara baritone dari balik perdu di samping kiri rumah menginterupsi mereka, "Rin!"

"Ayah!" ucap Rin.

'Ayah? Oh, mereka adalah penghuni rumah besar itu!' gema batin Kagome.

Lantas saja, Kagome berdiri dan mendekati asal suara. Ia sudah siap menerima reaksi seorang ayah manusia yang marah mengetahui anaknya berdekatan dengan bocah siluman. Puncak kepala berwarna putih itu sepintas terlihat.

'Eh? Putih?'

Mereka sudah berhadapan. Kendati demikian, tanaman boxwood tebal yang menjadi pagar itu sedikit lebih tinggi dari Kagome yang hanya 157 cm. Oleh karena itu, ia berjinjit dengan kedua tangan yang bertumpu pada tanaman itu. Sayangnya, tanaman itu ternyata tidak lebih kuat untuk menahan seluruh bobot tubuhnya. Kagome kehilangan keseimbangan, ia terjerembap ke depan, badannya menerobos daun dan ranting boxwood.

Refleks, Kagome memejamkan mata, ia berpikir bahwa ia akan terjatuh dengan keras ke rerumputan. Namun, beruntung, kedua tangan kokoh menahan lengannya.

Dengan rambut acak-acakan yang tertempel daun dan ranting di sana-sini, Kagome membuka mata dan mengangkat kepala. Berbeda drastis dengan imaji yang membuat ngeri, sejengkal di depannya adalah seorang pria muda berparas dingin dengan iris emas yang menawan. Untuk beberapa detik, ia menatap ujung telinga runcing, dua garis magenta di kanan dan kiri pipi, serta lambang bulan di dahi.

'Siluman?'

Sadar karena telah memandang sedikit lebih lama dari batas kesopanan. Wanita berusia dua puluh lima tahun itu segera menegakkan tubuh, "Ma-maaf, dan terima kasih." Otaknya langsung sibuk mencerna informasi yang diterima. Beberapa detik ke depan, ia terpana dengan fakta yang ada di depan mata.

Demi kuil tempatnya dibesarkan, dan demi reiki yang sampai saat itu mengalir dalam dirinya, Kagome bersumpah bahwa gadis kecil barusan adalah murni manusia, tidak ada setetes pun youki yang terdeteksi. Dan sebaliknya, laki-laki yang setapak darinya adalah siluman sepenuhnya!

Kasus mereka sama, tapi tidak serupa. Jika ia yang manusia mengadopsi bocah siluman, pria ini yang notabenenya siluman telah mengadopsi seorang anak manusia.

Kagome terurai dari renungan tatkala tangan kecil menggenggam miliknya. Shippou sudah ada di sampingnya. Begitu pun Rin yang mengambil tempat di sisi ayahnya.

Wanita yang berprofesi sebagai guru TK itu melisankan hal yang sepatutnya, "Perkenalkan, aku Higurashi Kagome. Aku dan anakku, Shippou, akan mulai pindah hari ini. Mohon bantuannya." Ibu dan anak itu membungkuk sopan.

Laki-laki yang memadankan kemeja abu-abu dengan celana bahan pendek warna putih itu pun balas memberi hormat sesuai tradisi. Setelah kembali tegak, ia berucap, "Aku, Taisho Sesshoumaru, dan ini anakku, Rin."

Nada suara Kagome memelan, "Ehm, maaf atas perkenalan diri yang kurang layak, seharusnya aku datang dengan membawa buah tangan untuk keluargamu setelah barang-barang kami sudah rapi."

"Seharusnya kami yang meminta maaf karena memasuki area rumah orang lain tanpa seizin si pemilik. Bukankah begitu, Rin?"

Sang anak mengangguk patuh. Dengan penyesalan yang tertera di suaranya, ia menyampaikan permohonan maaf. "Maafkan aku karena telah lancang memasuki halaman rumahmu, Higurashi-san."

"Sungguh, tidak masalah." Kagome menggeleng. Senyumnya tulus. Ia berjongkok, agar tatapan matanya setara dengan Rin. "Sejujurnya, aku akan sangat bersyukur jika kau mau bermain dengan Shippou." Wajah gadis kecil itu kian cerah. Kagome mengangkat pandangan dari tempatnya, ia menatap Sesshoumaru, "Itu pun jika kau memperbolehkannya, Taisho-san?"

Bagi Kagome, reaksi lelaki itu hanyalah gumaman singkat yang tidak mengungkapkan perasaan maupun persetujuan.

Walaupun begitu, sang anak yang paham langsung bersorak girang, "Yatta!"

'Apakah itu berarti boleh? Mm, mungkin, sepertinya.'

Gadis kecil itu membersihkan ranting dan daun kecil yang tersangkut di rambut Kagome. "Mulai sekarang, Rin ini akan berteman baik dengan Shippou!"

Tawa kecil terurai dari mulut si ibu tunggal. Tingkah Rin yang menyebut dirinya sendiri dengan sudut pandang orang ketiga sungguh imut menurutnya. "Terima kasih, Rin-chan."

"Shippou, ayo main!" Kedua bocah itu berpegangan tangan dan mulai berlarian di taman rumah keluarga Taisho.

Shippou pun tak bisa menyembunyikan kesenangannya menemukan teman di hari pertama dalam hidup barunya.

Memperhatikan kedua anak itu, bibir berbentuk busur milik Kagome melengkung indah. Tak peduli dengan sisa penghuni lain di sana. Asalkan Shippou sudah memiliki satu teman seperti Rin saja sudah lebih dari cukup baginya.

Sedangkan, di pihak Sesshoumaru, kilatan netra emasnya menyatakan setitik kelegaan.

"Belum apa-apa aku sudah menyukainya." Setelah ia memperoleh atensi dari tetangga barunya itu, Kagome berkata dengan sungguh-sungguh, "Rin adalah anak yang sopan dan ceria, kau pasti sangat bangga padanya, Taisho-san."

Kali kedua, pria itu mengeluarkan jawaban yang sama, "Hn."

"Dan Shippou, meski memiliki trauma dan sering usil, ia adalah anak yang baik. Aku harap kau tidak perlu risau, ia tidak akan membawa pengaruh maupun hal buruk pada Rin, aku jamin itu."

"Sesshoumaru ini mendengarmu, Miko," sahutnya bijak.

Kelopak mata wanita itu sedikit melebar, senyumnya kembali terkembang. Tawa kecil terancam meluncur jika tak ia tahan. Bukan karena siluman tampan itu mampu mengetahui reiki yang dimilikinya sebagai miko, tapi bagaimana pria bernama Sesshoumaru itu menyebut dirinya sendiri juga dari sudut pandang orang ketiga.

Lelaki itu memutar kepala untuk menatap wanita itu lebih dalam.

Mengerti dengan pertanyaan yang tak dilisankan, Kagome menerangkan dengan air muka berseri-seri, "Tidak ada apa-apa, hanya firasatku mengatakan, kedepannya, kita semua akan berteman baik."

Tiada penyangkalan ataupun mengiakan. Sesshoumaru hanya diam dan kembali memperhatikan anak gadisnya yang tersayang.

.

Apa yang kedua orang dewasa itu inginkan hanyalah hari penuh sukacita pada anak yang mereka rawat layaknya darah daging mereka sendiri.

Tanpa Sesshoumaru dan Kagome ketahui, sifat penyayang yang mereka miliki akan menggiring mereka pada kebahagiaan yang hakiki. Sebab, terbukti, takdir selalu mempunyai rencana tersembunyi.

~Fin~


Stay safe and keep healthy.

10/08/2021