Naruto memeluk tubuh Kushina dari belakang, wanita itu saat ini sedang memasak sebuah sarapan untuk keduanya. Mereka seperti pengantin yang baru saja menikah.

"Kau manja sekali Naruto."

"Hanya padamu aku manja, Kushina."

Naruto menggigit kecil telinga Kushina, membuat wanita itu mendesah saat merasakannya. Kedua tangannya merangsek masuk ke dalam pakaian Kushina hingga menyentuh kedua payudaranya, Naruto meremasnya pelan serta memilin puting susu yang mulai mengeras itu.

Kushina meremas ujung meja dapur yang ada di depannya, tubuhnya terasa begitu panas saat Naruto mulai merangsang dirinya.

Wanita itu terus menahan libidonya agar tidak liar.

"Naruto... Berhenti..."

"Mmmhhh..."

Naruto hanya bergumam saja, dia tak mendengarkan perkataan Kushina yang sudah mulai terangsang. Pria itu terus merangsang tubuh Kushina hingga kedua kaki wanita itu tak kuat untuk berdiri.

Namun, disaat Kushina akan menggerakkan kakinya, dia malah tergelincir pada sebuah genangan air yang ada di lantai. Kushina terdorong kebelakang, bersama dengan Naruto hingga kepala pria itu membentur lantai.

Naruto awal mulanya tak sadarkan diri, dia seolah tertidur di atas lantai, Kushina berusaha membangunkan pria yang dia cintai itu.

Sementara itu, Naruto membuka kedua matanya, dia melihat sosok wanita cantik berambut merah yang terlihat khawatir akan dirinya.

"Syukurlah, maafkan aku ya Naruto. Kau jadi seperti ini." Kushina sendiri mengarahkan tangannya pada gundukan boxer milik pria itu. "Sebagai gantinya kau boleh melakukan morning sex."

Wajah Naruto langsung merona hebat, dia langsung merangkak mundur.

"E-eh ada apa?!"

"A-apa yang kau lakukan kaachan?!"

Kushina mengerutkan dahinya, dia mendengar sebuah perkataan yang seolah terasa familiar di telinganya. "Kenapa memanggilku seperti itu? Aku kan istrimu."

"Is-istri?! Bu-bukan, ka-kau adalah ibuku!" Naruto memegangi kepalanya yang sakit. "Wa-waktu itu kita sedang berada di dalam mobil, lalu... Lalu kecelakaan lalu lintas... Ayah... Tewas..."

"A-ayah??" Kushina memegangi kepalanya. Rentetan memori masuk ke dalam kepalanya, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. "Na-naruto?! So-sochi?!"

Hanya beberapa kata dari Naruto membuat Kushina mengingat semua hal tentang mereka, tentang keluarga Namikaze.

"Tidak mungkin... Ini tidak mungkin..."

"Ka-kaachan..."

"Ja-jangan mendekat!"

Naruto terdiam, benar juga. Mereka berdua menganggap status mereka itu adalah suami istri. "Maafkan aku..."

"..."

"Bi-bisakah kita lupakan semuanya, dan menjalani kehidupan normal ini?"

"Sepertinya tidak bisa Naruto..." Naruto mengerutkan dahinya. "Karena aku... Hamil anakmu..."

...

..

...

"Cut!"

Naruto menghela napas, dia menjulurkan tangannya pada Kushina. "Akting yang bagus sayang."

Wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu tersenyum, dia meraih tangan Naruto. "Fufu, kau juga."

"Habis ini kita makan siang."

"Memangnya makan apa? Ramen?"

"Jika kau mau."

"Sutradara! Kita makan siang dulu!"

Sang sutradara pun melambaikan tangannya, dia memberikan izin pada suami istri tersebut.

Kushina dan Naruto pergi dari tempat syuting untuk berganti pakaian serta mencari tempat untuk merek makan siang.

...

..

.

Naruto by Masashi Kishimoto